Huaaa! Gomen, gomen! Selama bulan Agustus ini, saya sibuk banget, mulai dari nyiapin Pemilihan ketua OSIS, Lurah dan Gubernur jawa Timur. Ditambah lagi saya juga mengurus kegiatan gerak jalan dan karnaval. Oh, iya kalau ada readers yang tiggal diBanyuwangi atau sekitarnya, jangan lupa nonton B.E.C. ya? Tanggal 9 Agustus OK?

Dan tanpa Basa-basin nih, chapter 9! Selamat menikmati!

Disclaimer : Vocaloid punya Yamaha dan Crypton Future Media, fine?


Di stasiun

Rin tengah duduk di ruang tunggu stasiun, dengan Len yang berdiri disebelah kirinya (mungkin bisulan XD). Len tengah menerawang tentang kejadian kemarin dimana saat Rei, memilihnya sebagai ketua klan yang baru.


flashback

"APAAA!" Teriak Len kaget.

"Len, kenapa kau jadi seperti aktor sinetron 4L4Y?" tanya Rin sinis.

"hehe, gomen. Tapi kenapa aku yang kau pilih, Rei?" tanya Len penasaran.

"aku sudah terlalu tua, Len. Sudah saatnya aku mencari penggantiku, dan kenapa aku memilihmu, karena di klan rubah, kau lah yang paling kuat." terang Rei, Len terlihat tengah berfikir untuk mengambil keputusan.

"kalau kuat saja, apa tidak apa-apa?" tanya Rin. yah! orang yang kuat belum tentu bertanggung jawab, bukan?

"memang ada kriteria lain?" tanya Rei.

"yah, misalnya yang bertanggung jawab, pekerja keras dan cerdik." tegas Rin, pemimpin idaman, bukan?

"hahaha, itu semua adalah sifat dasar dari para rubah. Tenang saja, rubah itu hewan yang hidup berkelompok, rasa tanggung jawab mereka terhadap anggota sangatlah besar. Beda dengan manusia." ucap Rei bangga, tentu saja Rin yang mendengarnya hanya mendengus kesal.

"baiklah aku terima! tapi, aku ingin hak, agar aku tetap disini!" ucap Len menyelesaikan pemikirannya.

"tentu saja! sekarang bersiaplah!" ucap Rei pada Len, dan dibalas anggukan oleh Len. Rei kemudian berdiri dari shofa, diikuti oleh Len. Dari tangan kanan Rei, muncul api berbeda warna disetiap ujung jarinya. "kau siap?" tanya Rei memastikan.

"umm!" balas Len sambil mengangguk mantap. Kemudian memejamkan matanya.

"Devil seal : fox master sign!"
api ditangan kanan Rei semakin membara, sekuat tenaga, Rei mendorong tangannya ke dada kiri Len.

"ARRGGHH! PA-PANAAS!" Len berteriak kencang menahan rasa sakit yang seakan merobek tubuhnya jadi dua bagian, Rin yang melihatnya, hanya memandang Rei dengan tatapan 'apakah tidak apa-apa?'. Dan dibalas dengan tatapan yang seolah bicara 'jangan ganggu dulu!', akhirnya Rin memilih memejamkan mata, tidak tega melihat Len yang terlihat sangat menderita. Akibatnya, telinga rubah dan kesembilan ekor Len keluar, juga pakaian casualnya kini tergantikan oleh pakaian pendeta saat pertama kali bertemu dengan Rin. Cahaya semakin terang didada kiri Len, dan semakin lama semakin redup hingga tak ada cahaya sama sekali.

"Sudah selesai." ucap Rei yang nampak menghela nafas kelelahan, mengijinkan Rin membuka matanya, dan melihat Len yang jadi agak berbeda dari sebelum dia menutup matanya.

pakaian pendeta Len, kini terlihat longgar pada bagian depannya, memperlihatkan tato rubah berwarna hitam di dada kirinya yang saat ini terdapat sebuah simbol bahwa ia adalah pemimpin baru klan rubah, juga ditelinga kanannya terdapat sebuah anting logam entah kenapa, menurut Rin, kini Len terlihat, sexy? Membuat Rin jadi blushing berat, apalagi kini pandangan Len jadi meredup dan nafas tersengal akibat kelelahan, menambah kesan 'mature' pada diri Len.

"Rin, kemarilah! mendekatlah padaku!" ucap Len pada Rin pelan. Rin pun mengikuti perintah Len, kemudian duduk disamping Len.

Tiba-tiba, Len 'mengecup' bibir Rin, hanya kecupan singkat, sekitar lima detik. Rin yang baru saja direnggut kesucian bibirnya hanya bengong seolah kehilangan kewarasannya, sementara Len hanya nyengir gaje, lalu telinga, ekor dan pakaiannya kembali semula seperti saat sebelum proses ritual gaje itu dimulai.

"ke-kenapa?" tanya Rin masih shock dengan yang barusan menimpanya.

"syarat utama menjadi pemimpin klan, adalah membuat kontrak dengan manusia. Dan beginilah cara yokai no kitsune, membuat kontrak dengan manusia." jawab Rei menjelaskan, tapi sepertinya ada misscomunication, antara maksud pertanyaan Rin dengan jawaban Rei.

"kenapa?" tanya Rin sekali lagi.

"ketua klan, memiliki kekuatan yang diwariskan oleh pendahulunya, karena terlalu kuat itulah, tubuh kami para yokai bisa hancur. Dan oleh sebab itu, sebagai gantinya, kami menitipkan sebagian kekuatan kami pada pemegang kontrak manusia, karena tubuh manusia itu sangat kuat walaupun menerima kekuatan segini besar sekalipun." terang Len, sepertinya dia jadi segar kembali setelah mencium Rin(:D) "maksudku, kenapa aku bakakitsune, itu firstkissku tau?" bentak Rin.

"hehehe, go-gomen Rin. Itu juga firstkissku juga kok, jadi kita impas ya?" tawar Len.

"tidak bisa, cepat kembalikan, kalau tidak. Aku akan-" belum sempat ucapan Rin selesai segara dipotong oleh Len, "i-iya, sini kuambil lagi ciumanku." ucap Len, kemudian mengecup 'lagi' bibir Rin. "tuh sudah kuambil, jangan ngambek, ya?" ucap Len.

"BAKAA! KAU MALAH MENCIUMKU DUA KALI, BODOOH!" Bentak Rin, diikuti dengan serangkaian tendangan pada Len yang mengakibatkan patahnya beberapa tulang rusuk Len. Sekarang Rei tau, kenapa yokai terdahulu ingin makan manusia.


flasback off

mengingat kemarin, sungguh membuat Len merinding, untung Rin sudah memaafkan Len, meskipun Rin meminta syarat mengCrossdresnya, kapanpun Rin ingin.

"Rin, kita ngapain sih disini?" tanya Len karena sudah capek berdiri terus sambil menunggu sesuatu yang gak jelas hampir satu jam. "menunggu sepupuku. katanya, kedua orang tuanya pergi keluar negeri, jadinya tou-chan dan kaa-chan diminta untuk menjaganya untuk sementara." terang Rin.

"orang tua, ya? Apa aku juga punya?" desah Len pelan, kemudian sebuah kereta berhenti, beberapa penumpang kemudian turun, tapi Rin sepertinya belum menemukan orang yang dia cari. Terlihat karena Rin masih celingukan mencari sepupunya.

Hingga munculah seorang laki-laki pendek berwajah unyu (hoex xp,#gampared) memakai jubah(?) biru dan topi putih, sebagian wajahnya tertutup dengan perban, menutupi mata kiri, sebagian dahi dan pipinya. Dia tengah tersenyum kepada Rin sambil melambaikan tangan kanannya, sementara tangan kirinya membawa sebuah koper.

"Oliveer!" panggil Rin, yang dipanggil lalu berlari menghampiri Rin.

"Rin-kun!" balas anak yang bernama Oliver itu, langsung di lariat oleh Rin.

"aku ini perempuan, baka!" ucap Rin menatap Oliver yang tengah 'tidur siang' dilantai stasiun dengan tatapan dingin.

"oh, iya Len! kenalkan, ini Oliver, dia sepupuku!" ucap Rin memperkenalkan Oliver pada Len, kemudian Oliver bangkit untuk mengulurkan tangan tangan pada Len.

"aku Oliver, jadi kau Len yang diceritakan Lenka'nee-sama dan Rinto-ji, ya?" kata Oliver, lalu disambut dengan jabatan tangan oleh Len, "umm, Jadi namamu Oliver,ya?" ucap Len tersenyum.

'dia ini, mahluk apa?' batin Len, karena Len bisa mencium bau darah yokai dan manusia disaat bersamaan pada tubuh Oliver.

"aku manusia, Len! tidak perlu meragukanku." ucap Oliver seolah bisa membaca pikiran Len.

"bagaimana kau tau?" tanya Len yang penasaran.

"dia itu bisa membaca pikiran, Len. Memang itu adalah bakatnya, aku juga kaget pertama kali." jelas Rin, membuat oliver tersenyum malu sambil menggaruk belakang kepalanya. "ooh begitu!"balas Len.

"nah, ayo pulang dan makan siang, aku sangat lapar." ajak Rin, kemudian diikuti Oliver dibelakangnya. saat Oliver berada tepat disamping Len, dia membisikan sesuatu. "kau tidak salah, Len. tidak salah." ucap Oliver pelan sambil menyeringai, membuat Len yang mendengarnya sedikit tersentak, kemudian mengikuti Rin dan Oliver dari belakang untuk pulang.


di kediaman Kagamine

Setibanya di rumah Rin, Oliver langsung berteriak kegirangan, sampai melemparkan kopernya tepat di wajah Len, yang pasti membuat Len sangat geram sambil mengeluarkan katana apinya, tapi ditahan oleh Rin. Lalu dia berlari menuju ruang tamu dan berjingkrak-jingkrak diatas sofa sambil teriak-teriak gaje.

"AHAHAHAHA! ayo Rin, Len! kita main!" ucap Oliver masih 'pecicilan' dirumah orang.

'Autish.' pikir Rin dan Len sweatdrop melihat orang itu. Lalu datanglah sang kepala keluarga Kagamine a.k.a Bokapnya Rin alias Rinto Kagamine.

"Oliver, kau sudah datang?" tanya Rinto gak nyambung, jelas-jelas orangnya ada disini, tapi juga dibalas anggukan oleh Oliver. "Kalau begitu cepat makan, kalian bertiga belum makan'kan?" Kemudian mereka bertiga berlari sambil berteriak gaje. "YEEEYY! MAKANN!".. 'Autish' batin Rinto, lalu menyusul mereka ke meja makan.

.

.

.

.

o0-O-0o

.

.

.

.

'heh, Lenka! cepatlah pulang, aku tidak sanggup menghadapi tiga anak ini.' batin Rinto sambil duduk dengan frustasi melihat dua orang(satu yokai) yang tengah berebut sepotong ayam goreng, pake acara tarik-tarikan pula.

"Ini punyaku!"

"kau sudah makan jatahmu, Len!"

"tidak baik makan banyak untuk seorang gadis, Rin!"

"Oliver, hentikan!"

"aku masih lapar!"

"Rin, jangan gigit tanganku!"

"itu karena kau memakan ayamku, Len!"

"Hahaha, Geli, hentikan, stop! haha, stop!"

"Oliver, berhentilah menjilat tangan Len!"

"Rin, Kau makan piring saja sana!"

"iya, Makan piring sana!"

Kepala Rinto serasa mau meledak, seharusnya dia tidak menyuruh mereka makan siang, biar saja mereka bertiga tepar karena kelaparan. Ini benar-benar melelahkan mentalnya.

"ini punya-"

"DIAAAAM!" Bentak Rinto, seketika ketiga anak itu langsung berhenti berebut ayam goreng dan kemudian memandang Rinto dengan ekspresi yang sulit ditafsirkan dengan kata-kata. "kalian ini. Ayam goreng cuma satu dibuat rebutan." ucap Rinto lalu mengambil ayam goreng si biang keributan dari tangan mereka, kemudian memakannya.

"Nahmmm, bweghini khan, lwebhih hwadil." ucap Rinto sambil mengunyah ayam goreng dan mendapat tatapan menusuk dari Rin, Len dan Oliver.

"ORAANG TUA MACAM APA KAU INI?!" Teriak mereka bertiga pada Rinto dan dibalas meminta maaf sambil ketawa gaje.

Lunch at Kagamine's house arc : complete!

.

.

.

.
o0-O-0o

.

.

.

.

setelah selesai makan siang kemudian dilanjutkan dengan ngobrol-ngobrol seputar kehidupan Oliver.

"Oliver, kenapa dengan mata kirimu?" tanya Len. Membuat Oliver gelagapan, begitu pula dengan Rinto. "eeh, a-ano, eto..."gumam Oliver panik.

"itu karena kecelakaan saat Oliver masih kecil, Len." jawab Rin yang memotong sambil mewakili jawaban Oliver. "benarkah?" tanya Len dengan nada curiga. "i-iya benar, ini kecelakaan, kok! hahaha." balas Oliver grogi. 'sial, apa yang harus kukatakan lagi, untuk meyakinkan yokai kepo ini?' pikirnya. "hmm. tapi kok, aku mencium bau yokai dari tubuhmu?" tanya Len lagi. Karena dari awal bertemu Oliver, dia sudah sangat penasaran, bagaimana mungkin bisa tercium bau yokai dan manusia sekaligus didalam sebuah tubuh manusia.

Oliver yang ditanyai seperti itu, kemudian menatap Rinto dan dibalas oleh Rinto dengan kode kedipan mata.

"aah, sepertinya aku harus pergi. Rin, jaga mereka dengan baik, ya? dan kalian bertiga harus akur, ya?" ucap Rinto kemudian beranjak dari kursinya. Lalu mengeluarkan mobilnya dari garasi dan pergi kearah Crypton academy.

Saat Oliver yakin bahwa Rinto sudah pergi jauh, dia pun berdiri dari tempat duduknya, lalu menyeringai. Dengan cepat, dia sudah membekap Rin, Rin yang kaget hanya bisa berteriak tertahan sambil meronta, tapi apa daya. Meskipun dia lebih tinggi daripada Oliver, fakta bahwa dia perempuan yang notabene lebih lemah dari Oliver yang laki-laki, tak bisa dipungkiri.

"Hmmph...hmmph!"

"Oliver, apa yang kau lakukan, ha?!" tanya Len setengah membentak, karena takut terjadi apa-apa pada Rin.

"kalau kau mau tahu semua jawabannya, tangkaplah aku!" ucap Oliver. Kemudian dia berlari keluar rumah sambil menggendong Rin dengan bridal style, yang diikuti oleh Len yang berlari mengejar mereka.

Saat sudah sampai dihalaman depan, Oliver mengambil ancang-ancang seperti mau melompat.

Dan benar saja sedetik kemudian dia melompat dengan dahsyat sampai keatap bangunan toko yang jaraknya 100m dari pertama dia melompat, bahkan tanah yang tadi dipijaknya sampai menimbulkan bekas retakan. Rin yang serasa naik Roller coasterpun berteriak histeris, dan perutnya serasa mual.

"Oliver, apa yang kau lakukan, lepaskan aku!" ucap Rin panik sambil memukul-mukul bahu Oliver.

"tenanglah, Rin! ini perintah dari Rinto-ji akan kuberitahu kau, jadi beraktinglah sebaik mungkin!" tegas Oliver yang dibalas oleh Rin dengan tatapan 'apa-maksudmu?' sambil menaikan sebelah alisnya.


Len PoV

Sial, apa yang dipikirkan anak itu?! tiba-tiba saja membawa Rin kabur, aku pun mengejar Oliver yang berlari sambil membawa Rin. Saat sudah sampai dihalaman aku sangat terkejut, karena dari bekas lompatan Oliver, meninggalkan bekas retakan.

"Ma-mahluk apa dia itu sebenarnya?" ucapku terkejut. Aku kemudian merubah diriku menjadi Beast-form yaitu rubah berekor Sembilan sebesar srigala, lalu berlari diatap bangungan, mengejar Oliver yang melompat dengan kekuatan gaje.

Sepertinya ada yang aneh, kenapa anak itu bergerak ke arah Crypton Academy? AARGH! Aku tak peduli, prioritasku saat ini adalah Rin. Rin tunggulah aku!
.

.

.

.

.

.

.

.

.
Dia, terlalu cepat! aku tak akan sanggup mengejarnya kalau begini. Lalu aku membuat beberapa bola api dimulut rubahku, kemudian menembakan kearahnya dengan kecepatan tinggi dan sangat kecil kemungkinan untuk menghindarinya. Tapi, entah kenapa dia berhasil menghindarinya. Aku menembakan 26 buah bola api lagi, dan semuanya berhasil dihindarinya seolah dia mengetahui pikiranku dan kemana aku menembakan bola api itu.

'LEEEN!, TOLONG AKUU!' Dari kejauhan aku mendengar suara Rin yang meminta pertolonganku. Aku yang mendengarnya jadi kalut, Akupun berhenti sejenak, lalu aku gumamkan beberapa kata.

"Master Form : Fox Master Release!" ucapku. Kemudian tubuh rubahku kembali kebentuk manusia, lengkap dengan sembilan buah ekor dan sepasang telinga juga dengan celana merah dan kimono putih yang longgar bagian depannya, memperlihatkan dadaku yang terdapat lambang ketua klan berbentuk rubah berwarna hitam dibagian kiri tubuhku. Lalu kimono putihku dilapisi dengan jubah merah dengan lengan sebahu dan terbuka dibagian depan. Tubuhku juga jadi semakin tinggi, rambutku yang kubuat ponytail sekarang jadi sepinggang. Mata ku berubah jadi merah, dan dibawah mata kiriku terdapat simbol-simbol kanji berukuran kecil. Entah, tapi rasanya sekarang, tubuhku jadi terasa sangat ringan.

"Kau akan menyesal, karena membuat kesal ketua klan rubah, nak!"


End of Len PoV

Dengan kecepatan gaje, Len berhasil menyusul Oliver. tapi bukannya panik, Oliver justru tersenyum. Saat ini mereka telah berada diatap Crypton Academy.

"Kau sudah membuatku kesal, nak!" ucap Len dengan nada dingin.

"Le-Len? kau kah itu?" kata Rin kaget, karena melihat perubahan fisik Len. "Rin, kau tenang saja, ya! Akan segera kuakhiri ini." kata Len lembut, membuat Rin jadi merona, karena melihat Len yang terlihat errr...Dewasa?

"tak kusangka, untuk mengejarku, kau bahkan sampai mengeluarkan wujud ini!" ucap Oliver. "Baiklah, aku juga akan berhenti bermain-main." ucap Oliver, kemudian membuka perban di wajahnya.

Len dan Rin yang melihatnya menjadi sangat terkejut. Karena bukan luka yang terdapat di wajah Oliver, melainkan dua buah mata berwarna merah gelap, satu di bagian mata kiri dan satu lagi didahi.

"Terkejut, ya? hahaha. inilah wajahku yang sebenarnya." ucap Oliver tersenyum ceria. Hanya satu dipikiran Len saat ini 'Hanyou'.. "yap, tepat sekali, Len! seperti yang kau pikirkan, aku adalah Hanyou!" ucap Oliver dengan senyum palsu. "mahluk yang menyalahi takdir antara Manusia dan Yokai sepertiku, tidak sepatutnya lahir, bukan?" ucap Oliver dengan nada putus asa. "tapi bukan masalah buatku! hehehe" ucapnya diakhiri ketawa gaje.

"Oliver, kau ini Hanyou dari yokai apa?" tanya Rin yang diam dari tadi.

"Mitsutsume no Usagi." ucap Len singkat. Lalu munculah sepasang telinga panjang berwarna hitam di puncak kepala Oliver.

"yup, tepat sekali! aku adalah kelinci. dengan mata ini, aku bisa melihat, Masa lalu, masa depan, masa sekarang, bahkan warna celana dalammu, Rin." ucap Oliver dengan nada jahil.

"Baiklah! akan kuakhiri!" ucap Oliver. kemudian maju sambil menyingsingkan lengan bajunya dan hanya ditanggapi Len dengan malas."haah...Majulah!" ucapnya.


2 Menit kemudian

"Ampuni aku, Len! Aku cuma bercanda." ucap Oliver, yang kini tengah babak belur diwajahnya sambil menatap Len dengan wajah mengiba. "OoH~" ucap Len meremehkan, Kemudian berubah kembali kewujud Len yang shota.

"sebenarnya, ini adalah perintah dari Rinto-ji. Dia menyuruhku membawa kalian kemari sebagai ujian masuk AYT untukku. Maafkan aku, ya? hehehe. Sekarang ayo kita masuk ke Kibougamine Gakuen." ujar Oliver, kemudian menuju Liposa dan pergi keruang bawah tanah, membuat Len dan Rin terpaksa mengikutinya
.

.

.
o0-O-0o

.

.

.

"Oliver, benar kau bisa melihat masa depan dan masa lalu?" tanya Rin, kini mereka tengah berjalan menuju kantor kepala sekolah.

"umm, Jika Len mampu mendengar dan mencium apapun dengan telinga dan hidung rubahnya, maka aku bisa melihat apapun dengan mata ketigaku ini." ujar Oliver sambil menunjuk dahinya yang kini tertutup kembali dengan perban.

"Hey,kita kita sudah hampir sampai nih." kata Len.

"jadi kau ingin jadi anggota AYT ya, Oliver?" Tanya Len dan diberi anggukan kepala dengan semangat oleh si Hanyou. "aku juga mau jadi anggota AYT! Tapi aku tak punya kekuatan apapun" kata Rin.

"tidak juga, kok. Lihat bahu kirimu!" suruh Len, Rin lalu menyingsingkan lengan kirinya. "Apa ini?" tanya Rin bingung, karena di bahu kanannya terdapat tanda yang sama pada dada kiri Len, hanya saja warnanya coklat pudar.

"itu adalah tanda pemegang kontrak dengan yokai no kitsune." jelas Len.

"Memang, apa fungsinya buatku, Len?"

"dengan itu, kau bisa memanggil para rubah siluman dari klanku. Kau juga bisa memanggilku dengan itu seandainya kita berada pada jarak yang jauh." terang Len, Rin yang mendengarnya mulai paham.

"lalu? bagaimana cara menggunakanya?" tanya Rin.

"cukup beri setetes darah, lalu tapakkan tanganmu ketanah, maka aku ataupun anak buahku akan muncul."

"boleh kucoba?" tanya Rin dan dijawab dengan anggukan oleh Len. Rin kemudian menonjok wajah Len hingga keluar darah dari hidungnya. Oliver yang melihatnya terkikik geli.

"Rin, kenapa memukulku?" tanya Len kesal. Rin tidak menjawab, tapi mencolek darah dihidung Len menggunakan jari telunjuknya. Kemudian mengoles darah tersebut di bahu kirinya. "Setetes darah'kan?" ucap Rin sambil tersenyum, membuat Len menghela nafas pasrah, lalu menapakkan tangan kirinya ke tanah."Kuchiyose no jutsu!" ucap Rin semangat, lalu muncul simbol-simbol rumit yang melingkar.

TAP!

Booft!

Munculah seekor rubah putih seukuran kucing ditengah simbol-simbol gaje itu.

"KAWAII...!" Ucap Rin dan Oliver, lalu berebut memeluk rubah kecil itu. Membuat Len tersenyum melihat tingkah Rin. "oh iya! bagaimana cara menghilangkanya, Len?" tanya Rin sambil mempertahankan pelukannya pada rubah putih kecil hasil kuchiyosenya.

"kalau terluka atau hampir mati juga bakal hilang sendiri,kok!" ucap Len. Rin pun mengangguk paham, kemudian melemparkan rubah kecil itu, tepat diwajah Len.

BLETAAK!

Booft!

Rubah kecil yang malang itu menghilang dan menyisakan sebuah benjolan di kepala kuning sang ketua klan rubah. "Aku melakukan apa sih, Rin? akhir-akhir ini kau sering memukulku." ucap Len sambil mengelus benjolan kepalanya.. "Tidak ada." Rin tersenyum kemudian bersenandung kecil, membuat Len mendengus kesal.

Beberapa menit kemudian mereka sampai diruang kepala sekolah, Oliver berusaha mengetuk (mendobrak) pintu, karena tak ada jawaban, maka Oliver berniat menggunakan kaki supernya untuk menendang Pintu. Tapi langsung diberi obat bius oleh Rin karena alau hal itu benar-benar dilakukan, maka seluruh ruangan bawah tanah dan bangunan diatasnya, bisa roboh.

"Len gunakan kepalamu!" kata Rin yang membaringkan Oliver yang tengah tepar. "Iya, ini aku sedang cari cara untuk mendobraknya!" Len berpikir keras.. "maksudku, pakai kepalamu untuk mendobrak pintu itu." .. "A_apa?" Ucap Len, kemudian kepalanya segera didorong oleh Rin dengan kekuatan maksimum.

BRAAK!

"Ke-kepalaku!" ucap Len meratapi nasib kepalanya, kemudian melihat Rin yang tersenyum tak berdosa ke arah Len. membuat Len jadi jengkel.. "setidaknya, pintunya sudah terbuka,kan?" ucap Rin memberi dukungan mental pada Len.

"to-tolong aku!"

mereka berdua kemudian melihat ke arah suara, dan mendapati Rinto tengah terkulai tak berdaya didekat meja kerjanya. "TOU-CHAAN!"


Tbc