PROTOTYPE OF THE EMPEROR
Original character : Akashi Seijuurou and Kise Ryouta by Fujimaki Tadatoshi
Akihiko Takao, Kado Masaru, Yuuki, Kimiko Miyuki, Suuhai, and Tomoe by Kohikaru (Evilyoung)
Original story by Kohikaru (Evilyoung)
"Miyuki-chan... telah membunuh tiga orang pengawalnya saat berumur 8 tahun."
"Kejadian sepuluh tahun lalu itu benar. Sebenarnya, ada banyak masyarakat yang mengalami luka yang sangat parah. Tercatat ada sekitar 29 orang luka ringan, 15 orang luka parah dan 2 orang meninggal dunia."
"Perjanjian itu masih berpengaruh pada Kimiko-Hime-sama. Apalagi, beliau sebenarnya adalah manusia yang seharusnya tidak pernah ada di dunia ini."
"Akhir-akhir ini Ryouta-sama bersama beberapa prajurit elit menyelidiki tentang penyerangan bawahan Yamato-sama ke Kerajaan Meiyo."
"Tanda itu semakin menyebar di tubuhku."
x-x-x-x-x
"Jaa~ Matta ne!" seru Toushiro pada kedua orang yang telah dia rawat satu malam itu.
Seijuurou dan Shikon tersenyum dari kejauhan pada anak laki-laki itu. Shikon menyempatkan diri membalas lambaian tangan Toushiro. Tak lama, Seijuurou pun membalikkan tubuhnya dan berkata, "Ikimasho."
"Hn." Shikon mengangguk dan mengikuti langkah Seijuurou.
Saat itu matahari belum terlihat. Kabut tebal masih menyelimuti jalan. Udara pun masih begitu menusuk. Namun, kedua remaja itu tetap pergi tepat setelah hujan reda. Dengan berbekal makanan yang dibuat oleh Toushiro dan katana milik Seijuurou, mereka berjalan menuju tempat dimana mereka jatuh.
"Apa kau yakin kudamu masih menunggumu?" tanya Seijuurou setelah sampai di bawah jurang.
"Hai." Jawab Shikon dengan lantang.
"Mungkin saja dia sudah dibawa oleh petugas patroli." Asumsi Seijuurou.
"Kudaku bukan kuda yang gampang dijinakkan. Hanya pada orang-orang tertentu saja yang bisa menungganginya." Sahut Shikon menepis asumsi Seijuurou.
"Souka. Aku harap dia tidak mati karena kedinginan." Ujar Seijuurou.
"Kh… itu yang ku takutkan." Gumam Shikon.
Ketika sedang beradu argumen, manik crimson Seijuurou menemukan anak tangga tak jauh dari tempat mereka berdiri. Pemuda itu pun berjalan menuju anak tangga tersebut. Shikon yang menyadari Seijuurou telah pergi dari tempatnya, dia pun menyusul pemuda itu.
"Doushita? Kau menemukan sesuatu?" tanya Shikon.
"Anak tangga." Jawab Seijuurou singkat.
Shikon pun memandang anak tangga yang menuju ke atas itu. Kabut telah menghilangkan anak tangga yang paling atas.
"Kita harus segera mengecek keadaan di atas sana. Mungkin sebentar lagi para prajurit Kerajaan Renkan akan kemari dan memeriksa tempat ini." ucap Seijuurou sambil menaiki anak tangga di hadapannya.
Tanpa menyahut, Shikon mengikuti pemuda crimson tersebut. Anak tangga yang mereka naiki ada banyak sekali dan cukup kecil untuk ukuran kaki mereka. Ditambah hujan sudah membuat anak tangga tersebut cukup licin untuk dipijak. Mereka begitu hati-hati dalam melangkah agar tidak terpeleset.
Beberapa menit kemudian, Seijuurou yang berada di depan dapat melihat anak tangga terakhir. Namun, dia segera menunduk dan terdiam. Shikon yang kebingungan hanya mengikutinya saja.
"Ada yang datang." Bisik Seijuurou pada Shikon. Shikon pun membulatkan mulutnya.
"Sepertinya kita berpatroli terlalu pagi. Kabut di sini masih sangat tebal." ujar seseorang berpakaian prajurit sambil membawa lentera.
"Hem.. Kau benar. Sepertinya kita kembali ke pos. percuma saja kita mencari Ken-wakaimasuta di saat seperti ini." sahut seorang prajurit dengan pakaian yang sedikit berbeda dari yang lainnya. Sepertinya dia adalah ketua dari kelompok patrol itu.
"Chotto Keicho!" seru prajurit yang lain.
"Doushita?" tanya si Keicho yang belum membalikkan tubuhnya.
"Aku melihat sesuatu di bawah sana." Jawab prajurit itu.
Mendengar jawaban tersebut, Shikon terhentak. Dia menoleh ke Seijuurou yang ada di depannya. Kedua bola berwarna biru keunguan itu melihat wajah tenang milik Seijuurou. Lalu, dia menunduk.
"Hem? Coka kau periksa." Perintah si Keicho pada prajurit itu.
"Hai, Keicho!" sahut si prajurit. Prajurit itu pun berjalan mendekati jurang. Langkah kakinya yang menginjak ranting-ranting pohon yang ada di tanah membuat suara yang cukup membuat yang sedang bersembunyi segera bersiaga.
Ketika prajurit itu ingin mlihat ke bawah muncullah beberapa ekor burung gagak dari bawah dan membuat para prajurit terkejut. Bahkan si prajurit yang ada di dekat jurang pun berjalan mundur dan jatuh terduduk. Para gagagk itu pun hinggap di dahan pepohonan secara acak.
"Burung gagak?" bingung si Keicho.
"A-ah, sepertinya yang tadi saya lihat hanya burung gagak, Keicho." Ujar si prajurit yang masih terbawa suasana kaget.
"Kalau begitu, kita kembali ke pos." kata Keicho memerintahkan pasukannya kembali ke tempat mereka.
Setelah semua hilang dimakan kabut, Seijuurou dan Shikon meneruskan perjalanan mereka menuju puncak anak tangga. Mereka menghembuskan napas panjang setelah sampai di atas.
"Aku pikir kita akan ketahuan." Ujar Seijuurou sambil tersenyum tipis.
" Cih, aku tidak percaya dengan omonganmu." Celetuk Shikon setelah mengingat wajah tenang Seijuurou.
"Nande?" tanya Seijuurou bingung.
"Iie. Lupakan." Jawab Shikon malas. Dia pun berjalan menuju sebuah benda yang terlihat seperti kereta kencana yang tak jauh dari mereka. Samar-samar dia melihat bayangan di samping benda tersebut. Semakin dekat, matanya semakin melihat dengan jelas.
Shikon menghentikan langkahnya sesaat. Hal itu membuat Seijuurou yang ada di belakangnya terheran.
"Shikon, Dou–" perkataan Seijuurou terputus ketika Shikon tiba-tiba berlari kea rah bayangan itu.
"Hiro!" seru Shikon sambil memeluk bayanagn tersebut.
Seijuurou mengerjapkan kedua matanya. Lalu, pemuda itu mendekati Shikon dan si bayangan. Dia berjalan dengan santai. Setelah dia tahu apa yang dipeluk oleh Shikon, dia menghentikan langkahnya dan berkata, "Hiro itu… kuda?" dengan ekspresi datar.
"Yokatta, kamu baik-baik saja, Hiro!" ucap Shikon sambil mengelus kepala kuda berwarna cokelat dengan lembut. Sang kuda yang sedang berdiri dengan gagah itu terlihat menikmati elusan sang pemiliknya.
"Hem?" bingung Shikon. Dia berhenti mengelus Hiro dan memandangi telapat tangannya, "Kamu tidak basah.." Hiro hanya memandang Shikon.
"Shikon, kuda yang membawa kereta kencanaku juga tidak basah." Ujar Seijuurou yang juga mengelus kuda berwarna putih yang sedang duduk.
"Eh?" kaget Shikon.
"Apa yang membuat mereka tidak kebasahan? Padahal kemarin hujan begitu deras." Seijuurou memautkan kedua alisnya. Didongakkan kepalanya ke atas, memandang langit yang dibingkai oleh pepohonan, "Untuk menghindari hujan pun cukup sulit walaupun di sini banyak pohon yang tinggi besar."
Shikon ikut memandang ke atas, "Hem.. aku benar." Tak lama setelah itu, Shikon melihat ke sekelilingnya. Dia melihat sebuah kertas di atas tanah. Karena penasaran, dia pun mencoba untuk memungutnya.
Belum sempat menyentuh kertas tersebut, sebuah anak panah menusuk kertasnya. Reflek, Shikon menoleh ke arah panah itu datang. Begitu pula dengan Seijuurou. Mereka mematung sesaat melihat sekumpulan pria bertubuh kekar yang siap menyerang dengan pedang mereka. Terpancarkan rasa ingin memangsa dari manik hitam mereka.
Shikon membenarkan posisi berdirinya. Seijuurou maupun Shikon memandangi gerombolan harimau yang kelaparan itu.
"Oi, apa yang kalian lakukan di sini? Kalian mengganggu jalan kami." Ujar seorang dari orang-orang berwatak berandalan itu dengan berteriak.
"Cepat kalian berikan harta berharga kalian dan pergi dari sini, atau kalian akan merasakan tajamnya pedang kami!" ancam salah satu dari mereka sambil menyeringai. Lalu, mereka tertawa dengan sangat keras.
"Suara kalian mengganggu sekali." Celetuk Shikon datar. Membuat tawa orang-orang yang tak begitu jauh darinya itu terhenti.
"Hoi, teme, apa yang barusan kau bilang?" tanya orang yang berdiri paling depan. Dia memberikan tatapan tajam pada Shikon.
"Jangan tertawa terlalu keras di dalam hutan. Suara kalian membuat telingaku terganggu." Jawab Shikon yang membalas tatapan tajam itu dengan tatapan datar.
"Shikon, kamu sudah gila ya? Mereka menatapmu." bisik Seijuurou yang memandang Shikon dengan bingung.
"Sumimasen, wakaimasuta, sebenarnya aku sudah tidak bisa melihat dengan jelas semenjak tanda di leherku menyebar." Sahut Shikon. Lalu dia menoleh pada Seijuurou, "Tapi aku masih bisa melihatmu dengan jelas di jarak 5 meter." Sambung Shikon dengan sebelah alisnya yang terangkat.
"Omae…" Seijuurou mengerutkan keningnya.
"Anak kecil tak tahu diri! Kau ingin mati, huh?" orang yang berdiri paling depan itu meludahi daun kering yang tak berdosa di atas tanah tepat di samping kaki kirinya.
Pria dengan luka baret di keningnya pun membuang putung rokoknya dan menginjaknya hingga api pada rokoknya padam, "Mereka punya nyali juga." Katanya.
"Waka, kau siap untuk berolahraga?" tanya Shikon.
Seijuurou melirik si pemilik rambur berwarna biru keunguan itu lalu tersenyum penuh percaya diri. Pemuda itu kembali melihat sekumpulan criminal yang sedang meracau. Dia pun menyahut, "Aa.. sudah lama aku tidak melakukannya. Ini bagus untuk pemanasan."
"Walaupun ini masih terlalu pagi untuk melihat bunga melati berubah menjadi bunga mawar." Ungkap Shikon.
"Shikon.."panggil Seijuurou.
"Hem?" dehem Shikon.
"Tolong jaga bagian belakang." Ucap Seijuurou yang membuat Shikon menoleh kaget padanya.
"Kau mengerti?" tanya Seijuurou.
Shikon mengangguk, "Aku akan menjagamu dari belakang."
"Bos, mereka hanya berdua dan tidak bersenjata. Mereka pasti dengan mudah dapat kita kalahkan."
"Kita tangkap saja mereka, bos. Lalu, kita jual mereka agar menjadi budak."
"Atau tidak, kita jual saja pada Yamato-sama. Mereka pasti bisa menguntungkan kita."
Shikon mengepal kedua tangannya kencang.
"Lihat, mereka memiliki wajah dan tubuh yang bagus untuk dijual pada bangsawan-bangsawan bodoh itu."
"Hai, hai, kita bisa cepat kaya raya, bo–"
Sebuah tendangan keras tepat mengenai pelipis pria berkulit kecokelatan yang membuatnya berhenti berbicara. Pria itu pun terlempar cukup jauh dan menabrak sebuah batang pohon yang besar.
"Taro!" seru segerombolan teman si pria yang sudah tak sadarkan diri. Cairan merah pun keluar dari pelipis dan hidungnya.
"Kusso!" seru seorang pria yang siap menancapkan pedangnya pada punggung Seijuurou. Dia berlari dengan penuh amarah.
Namun, sebuah tangan tiba-tiba muncul dari samping dan menepuk kedua pergelagan tangan pria itu. Membuat tangan pria itu tanpa sengaja terangkat. Masih dalam keadaan melangkah, kakinya di selengkat. Pria itu pun terjatuh. Shikon memukul tengkuk si pria itu menggunakan bagian pinggir telapak tangannya dengan kencang dan kuat.
"Gomen ne, aku disuruh menjaga di bagian belakang." Ucap Shikon dengan kedua alisnya terangkat. Setelah itu, ekspresinya mendatar dan menatap dengan tatapan mengintimidasi, "Jadi, jangan mendekatinya."
Melihat dua rekannya yang tergeletak menyedihkan di atas tanah membuat amarah mereka memuncak. Orang-orang yang tersisa itu pun menyerang Seijuurou serta Shikon secara bersamaan. Sepertinya, dua anak muda itu membuat kelaparan kelaparan mengamuk. Tetapi, harimau-harimau itu tidak tahu, bahwa mereka masuk ke kandang singa.
"Hyaaaaaaa!" teriak para harimau itu.
Ketiga burung gagak yang sedari tadi hinggap di dahan pepohonan pun terbang dengan cepat keluar dari tempat yang begitu rusuh di pagi buta.
Seorang pemuda bersurai putih memandang langit yang mulai keunguan. Manik heterocrome miliknya menajam. Telinganya mendengar suara hiruk pikuk dari arah yang dituju olehnya. Pemuda itu pun bangkit dari duduknya dan memasang sebuah masker. Sesaat setelahnya, dia pun berubah menjadi manusia setengah ookami.
"Doushita, Kado?" tanya pemuda lainnya yang sedang duduk di samping seorang gadis berambut panjang yang masih terlelap.
"Suuhai, tolong jaga Tomoe." Pinta Kado sebelum dia akhirnya menghilang dari pandangan pemuda itu.
"O-oi!" seru Suuhai, "Kita baru saja bertemu kembali, sekarang dia pergi lagi?"
Suuhai menatap langit. Dia pun berdecih kesal.
Pemuda crimson itu menarik pedangnya yang menembus perut pria di hadapannya. Sesaat setelah benda berwarna silver itu terlepas, pria itu terjatuh. Darah keluar dari luka-lukanya. Sijuurou hanya menatap kosong padanya. Lalu, dia menebas udara untuk menghilangkan darah yang melekat pada katananya.
BRUG!
Seijuurou menoleh pada asal suara yang cukup keras itu. Kedua manik crimsonnya membulat ketika melihat Shikon terbaring menghadap kiri sembari meremas pakaiannya di bagian dada. Tanpa berpikir panjang, Seijuurou berlari mendekati Shikon.
"Shikon!" seru Seijuurou dengan wajah yang panik.
Tiba-tiba saja, seorang berpakaian serba hitam melompat dari dahan sebuah pohon dan mendarat tepat di samping Shikon. Orang itu menghentikan pergerakan Seijuurou.
"Dia milikku." Ucap orang itu yang membuat Seijuurou mengangkat sebelah alisnya. Orang berpakaian serba hitam itu mengeluarkan busur dan tiga anak panah. Orang itu dengan cepat memanah Seijuurou yang berada 10 meter di depannya.
Seijuurou memotong ketiga anak panah tersebut secara reflex. Orang itu kembali memanah Seijuurou terus menerus. Pemuda crimson itu berusaha menghindar dari senjata jarak jauh tersebut. Namun sayang, sebuah anak panah menancap pada lengan kanan Seijuurou. Seketika itu pula, pemuda itu merasa lumpuh pada tangan kanannya.
"Kh… Ken-kun!" seru Shikon yang menahan rasa sakitnya.
Seijuurou mencabut anak panah tersebut dan melemparnya jauh-jauh. Sepersekian detik kemudian, orang berpakaian serba hitam itu menebas punggung Seijuurou. Sambil menahan perih lukanya, Seijuurou menggunakan tangan kirinya untuk menahan serangan selanjutnya.
"Kau bukan orang yang kidal, tapi aku salut tangan kirimu bisa menahannya." Ujar orang itu. Lalu, orang itu menendang perut Seijuurou. Pemuda itu terlempar ke batang pohon yang cukup besar di belakangnya. Darah segarpun keluar dari mulut Seijuurou.
"Tapi, tanpa tangan kanan kau begitu lemah." Lanjut orang itu. Orang itu mendekati Seijuurou dan kembali menendangnya. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Tangan kiri Seijuurou menangkap pergelangan kaki orang di depannya.
"Cukup." Kata Seijuurou dengan nada rendah, "Apa maumu?"
"Apa aku harus menjawabnya?'
Seijuurou tak menjawab pertanyaan yang diajukan oleh orang itu. Dia menendang tulang kering orang itu dengan keras. Orang berpakaian serba hitam tersebut merintih kesakitan dan duduk untuk memegangi tulang keringnya.
"Teme!" seru orang itu yang siap meninju wajah Seijuurou yang hampir berlumuran darah itu. Namun, tinju orang itu meleset karena Seijuurou menghindar. Seijuurou menendang dada pria itu hingga membuatnya terjungkal ke belakang.
"Shikon!" panggil Seijuurou yang segera bangkit dari duduknya dan menghampiri tubuh anak bersurai biru keunguan itu yang bergetar hebat. Tanda di tubuhnya pun mulai menyebar kembali.
Tapi, Seijuurou kembali mendapat serangan dari belakang. Orang itu kembali menancapkan anak panah pada betis kanan serta lengan kiri Seijuurou. Pemuda crimson itu terjatuh menelungkup. Ketika dia ingin berdiri, tangan kiri serta kaki kanannya tidak bisa menopang tubuhnya. Dia kembali terjatuh.
"Ken…" gumam Shikon dengan suara seraknya.
Orang itu mendekati Shikon dan menggendongnya. Seijuurou yang tidak bisa kemana-mana hanya menatap tajam pada orang itu dan berkata, "Jangan menyentuhnya! Turunkan dia!"
Orang itu hanya melihat Siejuurou dengan tatapan iba. Itu membuat Seijuurou marah. Shikon yang melemah tidak bisa melakukan apa pun.
"Tidurlah dengan tenang." Ucap orang itu. Seijuurou yang merasa tubuhnya tidak bisa bergerak, dia hanya mengeraskan rahangnya. Dan orang itu membawa Shikon pergi.
"Haah… Aku pikir hari ini bisa santai. Ternyata, tuanku membuat orang lain susah. Kau memang gadis yang merepotkan, Hime-sama." Ujar pemuda bersurai putih dengan mata heterocrome yang duduk di atas dahan sebuah pohon.
"Aku akan mengejar orang itu. Tolong jaga Seijuurou-sama." Ucap pemuda lainnya yang berdiri ke arah orang berpakaian serba hitam yang sednag membawa Shikon pergi entah kemana.
"Hai, Nii-sama." Sahut pemuda bersurai putih itu.
.
.
.
.
"Ken-sama!"
"Ouji-sama!"
"Nii-sama!"
"Sadarlah! Ken-sama!"
Kedua kelopak mata itu terbuka secara perlahan. Memperlihatkan kedua manik crimson yang cukup redup. Ketiga orang yang mengelilingi pandangan pemuda yang sedang berbaring itu tersenyum bahagia ketika pemuda itu membuka matanya.
"Dia sudah sadar!" seru Suuhai.
"Yokatta!" sambung Toushiro gembira.
"Ogenki desu ka, Ouji-sama?" tanya Tomoe.
Pemuda bersurai putih sedang memberi makan empat ekor kucing di halaman rumah Toushiro. Dia tersenyum melihat kucing-kucing tersebut melahap makanan pemberiannya dengan nikmat. Pemuda yang memakai kimono putih serta hakama merah itu berjonkok di hadapan keempat kucing itu.
"Ah, aku bahagia!" ucap Kado dengan wajah damainya.
DUG!
Sebuah mangkuk kayu melesat tepat di pelipis kiri Kado dengan cukup cepat dan keras. Kado menoleh pelan pada seseorang yang melempar mangkuk tersebut.
"Ittai! Teme! Jangan membuang mangkuk sup sembarangan! Kau pikir aku ini tempat sampah, huh?" kesal Kado.
"Apa yang kau bicarakan? Tempat sampah lebih bagus dari pada kau." Sahut Seijuurou yang menarik kerah kimono putih Kado.
"Kenapa kau menghiraukan omonganku tadi? Selain itu, kedatanganmu membuat kucing-kucing itu lari." bingung Kado
"Teme, Apa yang kau lakukan di sini? Bagaimana dengan Miyuki?" tanya Seijuurou dengan nada rendah.
"Yah, aku hanya melakukan sebuah pekerjaan yang dipinta anak kecil itu. Lagi pula, pekerjaanku jadi berantakan karena kedatanganmu. Ah, kemana mereka pergi?"
Seijuurou berdecih. Dia berdiri dan melangkah meninggalkan Kado.
"Oi, doko iku no?" tanya Kado yang melihat langkah Seijuurou melenceng dari pintu depan rumah Toushiro.
"Istirahatlah. Kau tidak akan menang melawannya disaat tubuhmu penuh luka seperti itu." Ucap Kado yang berdiri. Perkataannya itu membuat langkah Seijuurou terhenti.
"Lebih baik kau mencari kucing-kucing itu." Balas Seijuurou.
"Orang berpakaian serba hitam itu adalah Yamato-Ousama. Sepertinya dia yang memerintahkan orang-orang bertubuh kekar itu menyerang kalian. Di saat itu, dia hanya melihat bagaiaman caramu bertarung dan membuatmu kelelahan. Dia juga yang sengaja membuat Hime-sama harus menolong seorang anak kecil yang hampir terkena anak panah darinya." Jelas Kado.
"Anak kecil?" tanya Seijuurou bingung.
"Dia sudah tahu cara bertarungmu. Menyerahlah untuk menyelamatkan Hime-sama. Biar kami yang menyelesaikannya." Sambung Kado.
Seijuurou hanya memandang kosong pada Kado. Wajahnya pun terlihat datar.
"Jika kau mendekati sarangnya, kau belum tentu selamat. Apalagi wilayah ini adalah wilayah kekuasaannya."
"Yamato-sama, Yuki-hime telah tiba." panggil kedua youkai yang sedang berlutut di belakang seorang pemuda yang berdiri di samping sebuah ranjang besar.
"Biarkan dia masuk." Sahut Yamato dengan kedua manik matanya yang terpaku pada pemilik wajah yang tampak lelah itu.
Tak lama kemudian, seorang gadis yang amat cantik masuk ke dalam ruangan mewah tersebut. Dia mendekati Yamato yang masih mematung di sana. Dengan perlahan tapi pasti, dia melirik wajah Yamato. Dia tersenyum tipis dan bertanya, "Kamu sudah mendapatkannya, bukan?"
"Hem.." dehem Yamato rendah. Pemuda itu duduk di pinggir ranjang dan masih menatap lekat pada gadis yang sedang tertidur pulas itu.
"Jangan sampai kehilangan dia, ne! Miyuki-chan adalah aset berharga yang dapat membuatmu menjadi Kaisar." Pesan Yuki-hime dengan nada berbisik.
Yamato mengusap pipi Miyuki dengan lembut. Senyum tipis namun menenangkan terlihat di wajah karismatik seorang raja muda. Yuki pamit keluar dari ruangan tersebut. Tanpa diberi perintah, kedua youkai yang juga adalah pengawal setianya pun ikut keluar.
"Ne Miyuki, kenapa kamu memotong rambutmu? Aku lebih suka rambut panjangmu." Tanya Yamato pada gadis yang tidak mungkin mendengarkan omongannya itu.
"Oh, bukankah kamu dilarang untuk memegang senjata oleh Ousama? Kenapa kamu tetap memegang senjata? Lihat, tubuhmu dipenuhi oleh luka." Sambungnya.
Yamato mendekatkan wajahnya pada Miyuki, "Demo, nande? Kamu masih terlihat cantik walaupun tubuhmu hampir seluruhnya ditutupi perban?"
"Ken…"
Yamato menghentikan pergerakannya. Dia memundurkan kepalanya dan menatap wajah Miyuki lagi.
"Ken…"
Dari bibir kecil itu, keluarlah kata yang paling dibenci oleh si raja muda itu. Tanpa pikir panjang, Yamato menyambar bibir kecil itu dan membuat si empunya membuka matanya. Betapa terkejutnya gadis itu ketika seorang pemuda berpakaian sutra itu membuat dirinya membeku sesaat.
Yamato menjauhkan wajahnya kembali dan tersenyum manis pada Miyuki yang masih belum sadar dengan apa yang terjadi padanya. Kedua tangan Miyuki mengepal. Dari air mukanya, tergambarkan bahwa gadis itu begitu takut pada pemuda itu.
"Konichiwa, Ouhime-sama. Apa tidurmu nyenyak?" sapa Yamato dengan lembut.
"Kenapa kau ada di sini?" tanya Miyuki.
"Kenapa? Hee… apa kamu tahu? Ini adalah kerajaanku."
.
.
.
.
To Be Continue
