Warning : OOC, abal, gaje, typo, dll.

Disclaimer: MK

Rate: semi M

Pair: Naruto X...

.

.

Don't Like Don't Read!

.

.

Naruto berjalan tenang menuju rumahnya. Naruto terus memikirkan rencananya untuk menghancurkan Uchiha. Dia lalu menyeringai jahat entah pada siapa. Dia pun terus melanjutkan perjalanan pulang ke rumahnya dengan santai seolah tidak terjadi apa apa. Tak dihiraukannya suara orang orang yang berlarian menuju sekolahnya dan beberapa pemadam kebakaran yang melaju kencang ke tempat kejadian.

...

...

...

Naruto lalu masuk ke rumahnya. "Tadaimaa..." salam Naruto ketika masuk dan meletakkan sepatunya di rak yang sudah tersedia. Naruto lalu berjalan pelan menuju ruang tamu dan menghempaskan tubuhnya di sofa. "Okaeri Naruto-kun. Apa kau lapar? Aku sudah menyiapkan makanan untukmu" Sakura lalu duduk di dekat Naruto dan mengamati wajah kelelahan Naruto.

Naruto pun tersenyum kecil kepada Sakura. "Baiklah ayo kita makan aku sudah sangat lapar karena tugas ku yang menumpuk" ajak Naruto seraya meninggalkan Sakura. Sakura pun lantas mengekor di belakang Naruto dengan senyum bahagianya.

Mereka pun makan dengan tenang dan penuh khidmat. "Wah Sakura-chan masakanmu sangat enak. Tak salah jika kau menjadi istriku" tutur Naruto tanpa sadar. Tak tau kah kau Naruto kalau saat ini wajah Sakura sudah merah seperti ingin meledak. Sakura yang sempat merona karena pernyataan Naruto tadi lalu melanjutkan makannya dengan wajah yang masih merona.

Maka berlanjutlah acara makan itu dengan Naruto yang terus menggoda Sakura. Jangan tanya dengan kondisi Sakura saat ini, karena sungguh kalau saja dia itu adalah sebuah bom maka dia akan meledak berkali kali akibat pujian pujian yang Naruto lontarkan untuknya.

...

...

...

"Jadi mari bersiap siap" ajak Naruto setelah selesai makan. Sedangkan sang empu yang di tanya hanya menatap heran pria di depannya. "Maksudmu bersiap siap untuk apa Naruto-kun?" Sakura memiringkan kepalanya heran. "Tentu saja menemui orang tua ku untuk mengkonfirmasi perkataan mu waktu itu" Naruto lalu beranjak pergi ke kamarnya untuk bersiap siap.

'Sebegitu tidak percayanya kah kau kepadaku Naruto-kun?' Batin Sakura miris. Dia pun cepat cepat menggelengkan kepalanya guna mengenyahkan pikiran pikiran negatif yang merasukinya. 'Jangan salahkan Naruto-kun Sakura,,,,tentu saja dia belum percaya kepadamu yang tiba tiba saja mengatakan bahwa kau dan Naruto sudah di jodohkan. Tentu saja dia harus mengkonfirmasi pernyataan mu' inner Sakura mulai berbicara untuk menyemangati Sakura. Sakura pun lalu juga bersiap siap untuk menemui kedua orang tua Naruto.

Setelah mereka berdua selesai bersiap siap mereka pun segera berangkat Menemui orangtua Naruto yang berada di Tokyo dengan mengendarai bis. Dan kenapa Naruto tidak memilih kendaraan yang mahal nan mewah? Dia kan anak dari seorang CEO Namikaze's Corp yang bergerak di bidang otomotif yang kekayaannya jangan ditanya lagi, jadi jika hanya membeli sebuah mobil paling mahal sekalipun hanya hal kecil adalah Naruto tidak mau menambah polusi yang sudah banyak terjadi di mana mana, kira kira begitulah alasannya.

...

...

...

Saat ini mereka berdua sedang berada di sebuah gerbang yang menjulang tinggi mengelilingi apa pun yang berada di dalamnya. Saat Naruto menekan bel yang terletak di samping pintu gerbang tersebut maka terbukalah gerbang itu dan menampakkan sebuah rumah bak istana yang sangat megah yang diketahui merupakan Namikaze's mansion.

"Nah,,,ayo kita masuk" ajak Naruto kepada Sakura.

Mereka berdua pun masuk dan langsung di sambut oleh para maid yang berada di sana. Saat hendak mengetuk pintu, tiba tiba pintu itu terbuka dan menampakkan seorang wanita paruh baya dengan rambut lurus berwarna merah menyala yang masih kelihatan cantik yang sedang memeluk Naruto erat.

"I-ibu...sudahlah tidak usah berlebihan seperti ini" uppss! Sepertinya Naruto salah ..ralat sangat salah berucap pada wanita yang di ketahui adalah ibu Naruto. Ya, dia adalah Uzumaki Kushina yang saat ini berganti marga menjadi Namikaze Kushina.

"BERLEBIHAN KAU BILANG!" Oow sepertinya telinga Naruto akan panas saat ini. Naruto kemudian merutuki dirinya sendiri 'Baka Naruto. Kenapa kau membangunkan singa kelaparan yang sedang tidur. Dasar kau benar benar bodoh Naruto' rutuk Naruto dengan menyamakan ibunya dengan singa kelaparan (dasar anak durhaka# di lempar Naruto)

"Kau pergi dari rumah lalu tidak memberi kabar. Kau juga tidak pernah mengunjungi orang tua mu disini. Dan sekarang kau bilang ibu BERLEBIHAN" Kushina mulai mengamuk sambil menangis tersedu sedu. Hati Naruto bagai tersayat sayat melihat ibunya menangis karena dirinya.

Naruto pun lalu memeluk ibunya dengan penuh kasih sayang. "Maafkan aku ibu. Sungguh aku menyesal" sesal Naruto.

Kushina pun mulai menyeka air matanya dan secara tidak sengaja penglihatannya menemukan seorang gadis yang terbengong karena menyaksikan adegan ibu dan anak itu.

"Siapa dia Naruto?" Kushina menatap heran pada Naruto. Naruto lalu memperkenalkan Sakura.

"Dia Haruno Sakura" Naruto memperkenalkan Sakura dengan singkat. Sakura pun lalu membungkuk memberi hormat kepada Kushina "selamat siang bibi. Aku Haruno Sakura, anak dari Haruno kizashi dan Haruno Mebuki. Selamat siang" salam Sakura seraya membungkuk kan badan.

Kushina pun menatap bengong ke arah Sakura. "Haruno...Kizashi...Mebuki.." gumam Kushina serta memasang wajah seperti sedang mengingat ingat sesuatu. Dan kemudian dia pun tersentak.

"Ahhh...Sakura akhirnya bibi ingat. Kau anak yang telah di jodohkan dengan Naruto" Kushina lalu memeluk Sakura erat. "Senangnya melihatmu di sini. Wahh kau tambah cantik saja Sakura-chan" ucap Kushina kagum lalu dia melepaskan pelukannya dari Sakura.

"Baiklah kalian,,,ayo masuk" ajak Kushina memasuki rumah itu dan diikuti oleh Naruto dan Sakura.

...

...

...

"Jadi apa benar aku sudah di jodohkan oleh Sakura sejak kecil ayah, ibu ?" Tanya Naruto to the point kepada ayah dan ibunya.

Pria yang berperawakan tinggi berambut pirang seperti Naruto namun agak panjang dan mata biru seperti samudera bernama Namikaze Minato-ayah Naruto.

"Ya,,,itu benar Naruto. Ayah memang menjodohkanmu dengan Sakura sewaktu kecil" Minato menghembuskan nafas kecil "karena pada saat itu perusahaan kita mengalami krisis yang bisa membangkrutkan perusahaan kita. Maka dari itu ayah meminta bantuan dari Haruno Kizashi yang merupakan ayah dari Sakura dengan persyaratan harus menjodohkan kalian" lanjut Minato panjang x lebar.

Naruto yang mendengar pernyataan dari ayahnya lalu menundukkan kepala.

"Ta-tapi mengapa ayah tidak memberitahu aku perihal perjodohan ini?" Tanya Naruto berusaha bersikap tenang.

"Kami tidak ingin kau menolak perjodohan ini Naruto. Karena itu kami merahasiakannya agar kau bisa menerimanya sendiri" kali ini Kushina lah yang menjawab pertanyaan Naruto-anak semata wayangnya.

Sedangkan Sakura yang saat ini sedang di bicarakan sedang menunduk dalam dalam dengan menahan tangisnya. 'Apa Naruto-kun akan menolak perjodohan ini, dan meninggalkan ku' batin Sakura miris.

"Sekarang apa kau akan menolak perjodohan ini Naruto?" Tanya ayah Naruto was was dengan jawaban yang akan di berikan oleh Naruto.

Naruto lalu menatap wajah ayahnya lekat lekat. Lalu dengan tiba tiba dia merangkul pundak Sakura yang berada di sampingnya.

"Apa ayah bercanda,,,aku tidak akan menyia nyiakan wanita seperti dia" jawab Naruto sambil tersenyum lima jari.

Sukses membuat suasana yang tadinya tegang tersebut perlahan mencair.

Sakura memandang tak percaya Naruto. Ternyata apa yang di pikirkannya selama ini melenceng jauh dari yang di perkirakan.

Sakura lalu memeluk Naruto erat dengan membenamkan kepalanya di dada bidang milik Naruto.

"Terima kasih Naruto-kun...terima kasih banyak" ucapnya sambil menangis haru.

Kedua orangtua Naruto pun memandang mereka bahagia dan terharu. Bahkan Kushina sampai menangis.

"Baiklah sudah di putus kan. Pernikahan kalian akan di adakan satu bulan lagi" ucap Minato sambil tersenyum penuh arti.

Naruto pun mengelus punggung Sakura yang masih menangis di dekapannya.

"Kau dengar,,,kita akan menikah dan memiliki anak anak yang akan menemani kita hingga tua" bisik Naruto di telinga Sakura. Sakura pun mengangkat wajahnya untuk memandang Naruto.

Naruto menemukan sebuah kebahagiaan yang tak terkira di wajah Sakura.

...

...

...

Di lain tempat.

Saat ini Hinata berjalan menunduk sambil memikirkan nasibnya. Jujur, Hinata tidak pernah ingin memiliki takdir seperti ini tapi apa boleh buat, tuhanlah yang mengatur semua ini.

'hah..mengapa hubungan ku dan Naruto-kun harus seperti ini? Aku sungguh benar benar mencintainya tapi, aku juga tidak bisa meninggalkan Sasuke-kun' batin Hinata sedih. Tiba tiba ponselnya berbunyi. Ketika Hinata melihat nama yang tertera di ponselnya matanya membulat sempurna.

'Me-mengapa...tuan Uchiha menghubungi ku? Pasti ada hal besar yang terjadi' batin Hinata ketakutan. Pasalnya majikannya itu tidak pernah mau berbicara padanya kecuali ada hal yang benar benar gawat.

Cepat cepat Hinata menjawab panggilan dari tuan Uchiha yang merupakan majikannya tersbeut.

"Moshi moshi" panggil Hinata cepat.

"Ada apa tuan menelpon saya?" Lanjutnya.

"ADA APA KAU BILANG,,,kau tau Sasuke di mana?" Jawab suara di seberang sana dengan berteriak marah.

"Sa-Sasuke-kun tadi Se-sedang berada di se-sekolah,,,un-untuk mengerjakan tugasnya" jawab Hinata tergagap karena takut.

"Dan kau meninggalkannya sendirian!. Apa kau tau bahwa sekolah itu terbakar dan dan di temukannya mayat Sasuke!." Pernyataan pria di seberang sana membuat Hinata membatu seketika. 'A-apa...Sa-Sasuke-kun meninggal!' Batin Hinata sangat shock mendengar pernyataan barusan.

"DASAR KAU WANITA JALANG,,,,kenapa kau meninggalkannya sendirian. Kau akan menerima akibatnya nanti" setelah mengucapkan kata kata barusan, sambungan ponselnya pun terputus.

'Apa yang harus kulakukan?' Tanyanya pada dirinya sendiri.

.

.

.

Bagaimana kelanjutannya?

.

.

.

.

See you next chapter :-)

Hai minna. Maaf ya kalo updatenya lama banget. Soalnya otak saya lagi buntu dan masalah di dunia nyata numpuk banget.

Ok seperti biasa

.

.

.

RnR PLEASE :-)