"Mengertilah.." melangkahkan kaki untuk menjauhi ruangan yang mungkin saja bisa membuat keputusannya goyah. Bukan.. bukan ruangan yang ia takuti melainkan seseorang yang ada di dalam ruangan tersebut.

"Tidak.." Sakura berlari mengejar langkah kaki Sasuke. Dengan sedikit tertatih akhirnya Sakura bisa menggapai pergelangan tangan suaminya itu. "Aku tidak mengerti dengan apa yang kau katakan dan aku tidak mau mengerti!" dengan kasar Sasuke menghempaskan tangan Sakura. "Pergi.. menjauhlah dariku! Menjauhlah sejauh mungkin sebelum kau semakin tersakiti." Sorot tajam yang terpencar di kedua onyx Sasuke sama sekali tidak terbaca. Sasuke kembali melangkah.

"Aku tidak peduli dengan apa yang akan terjadi padaku! Itu tidak masalah asalkan kau tetap berada di sampingku. Itu sudah cukup.." Emerald itu semakin deras mengalirkan airmata-nya ketika Sakura berhasil menubruk dan memeluk tubuh Sasuke dari belakang. "Kumohon.. tetaplah di sampingku.." sekali lagi, dengan kasar pria keturunan darah Uchiha ini menghempaskan tangan Sakura yang melingkar di badannya seraya membalikkan badannya hingga kini berhadapan dengan Sakura.

"Dengar—" Sasuke mencengkram kasar pundak Sakura dengan kedua tangan kekarnya. "—Kau tidak tahu seberapa licik wanita bernama Shion itu! Ia bisa saja kembali melakukan hal buruk padamu jika kau terus berada di sampingku! Menabrak, menculik, nanti apa lagi? Dia itu gila! Bisa saja dia membunuhmu—" "Oleh karena itu tetaplah di sampingku.." Sasuke mendecih. Ia berjalan pergi meninggalkan Sakura yang kini tengah berteriak meneriaki namanya disertai dengan isak tangis yang memilukan. "Jangan pergi.. SASUKE-KUN!"

.

.

.

NARUTO BY MASASHI KISHIMOTO

TRAPPED ALONE BY MerisChintya97

.

.

SasuSaku Fanfiction

.

Sumarry: Sasuke mulai bergerak untuk beraksi. "Apa kau pikir aku akan diam saja?" Seorang Uchiha Sasuke akan melakukan apa saja untuk membalasnya. Dengan segala kelebihan yang dimilikinya Sasuke berhasil mengumpulkan bukti yang cukup untuk menjebloskan Shion dkk kedalam jeruji besi. "Jika kau melakukannya, mantan istrimu akan mati!" Mantan?

PART IX

.

.

FLASHBACK

Sasuke mengemudikan mobil sport merah milik Sasori dengan kecepatan di atas rata-rata. Onyx-nya fokus kedepan. Berulang kali umpatan "Kuso" keluar dari mulutnya. Bisa dilihat bagaimana kacaunya seorang Uchiha Sasuke sekarang.

CKIIIIIIT—

Sasuke menghentikan laju mobilnya ketika ia hampir saja bertabrakan dengan pengendara mobil yang lain. Sekilas memori yang sama seperti dulu terlintas di kepalanya. Sang pengendara mobil yang lain keluar dari dalam mobilnya, berniat untuk melabrak Sasuke. Namun dengan cepat Sasuke kembali menjalankan mobilnya tidak menghiraukan pengendara yang mulai mengeluarkan sumpah serapahnya. Yang ada di kepalanya sekarang hanya satu. Keselamatan istrinya.

.

.

.

GPS yang terhubung dengan ponsel Sakura berhenti tepat di lokasi peristirahatan. Perjalanan Tokyo-Aamouri seharusnya memerlukan rentang waktu selama 3 jam, namun Sasuke menempuhnya hanya dalam 1 jam setengah. Sasuke keluar dari dalam mobil sport merah tersebut, onyx-nya mencari kesana kemari dengan ponsel yang mengaktifkan GPS berada di tangannya. Memeriksa satu persatu mobil yang ada di tempat parkiran lokasi peristirahatan, berharap Sakura berada di dalam salah satu mobil-mobil tersebut. Dan harapan Sasuke terkabul karena kini onyx-nya telah menangkap sosok seorang perempuan yang tidak sadarkan diri ada di samping tempat duduk pengemudi. Sasuke berlari untuk mendekat. "Sakura! Sakura.. Sakura!..." Sasuke menggedor kaca pintu mobil tersebut namun Sakura tidak kunjung sadar dari tidurnya. Sasuke mengepalkan tangannya dan hendak menghempaskan kepalan tangannya pada kaca mobil tersebut sebelum onyx-nya melihat emerald di dalam sana terbuka. "Sasuke.. kun?" Sasuke tersenyum. Tangan mungil Sakura terangkat untuk membuka pintu mobil. Sakura mulai panik ketika menyadari jika pintunya terkunci.

"Sasuke?"

Sasuke membalikan badannya saat telinganya menangkap ada suara lain memanggilnya. "Obito-nii?" Keduanya terlihat bingung sekaligus kaget. "Apa yang kau lakukan disini?" selidik Sasuke. Obito melipat kedua lengannya di dada. "Aku sedang berlibur.. sekaligus menjalankan misi.." Sasuke menaikan sebelah alisnya "Misi? Apa maksudmu?" Obito menggerakan dagu-nya menuju arah mobil tepat di mana Sakura berada sekarang. "Hu'um.. adikku memintaku untuk menyingkirkan perempuan itu dan dengan begitu dia akan memanggilku 'Niisan' sebagai imbalannya. Haha—" "Apa kau bilang? Siapa yang menyuruhmu, hah? Dan.. sejak kapan kau punya adik?" Sasuke mencengkram erat kerah baju Obito membuat Obito gelagapan. Ada apa dengan sepupunya ini? Kenapa ia begitu marah? Pikir Obito. "Kau itu kenapa Sasuke? Memangnya dia siapamu?" dan kali ini Obito benar-benar berhasil membuat emosi Sasuke memuncak. "Kenapa? KENAPA KAU BILANG, HAH? MEMANGNYA KAU AKAN BERSIKAP BAGAIMANA JIKA ISTRIMU DICULIK ORANG?" Obito ternganga. "Istrimu? Haa?"

.

.

.

Flashback End

Rasa nyeri di kepalanya kembali terasa, pandangannya pun sedikit mengabur dan kembali normal. Sasuke menonjok kaca yang ada di depannya. Bisa dilihat, wajah yang selalu tertutupi topeng dingin tidak manusiawi itu kini telah dibukanya. Raut wajah Sasuke benar-benar kacau, mata hitam onyx yang biasa memencarkan tatapan sinis serta merendahkan itu kini terlihat begitu terluka. Dari arah pantulan cermin yang kini remuk di bagian depan karena ulah kepalan tangannya, Sasuke dengan begitu cepat merubah kembali mimik wajahnya menjadi lebih lebih dingin dan menyeramkan dari sebelumnya. Aura hitam mulai keluar dari dalam dirinya. "Aku akan membunuhmu!"

.

.

Sasuke mengangkat ponsel hitamnya dan dengan lancar menekan beberapa angka yang sudah di kenalnya.

"Yoo Sasuke.. What's up bro?"

"Lakukan rencana yang telah disusun sekarang juga!"

"Haa? Tapi.. baiklah.."

Klik. Sasuke memutus sambungan teleponnya terlebih dulu, ia kembali mengangkat ponselnya sekedar untuk melihat seseorang yang terpampang dengan jelas di layar ponselnya sebagai wallpaper.

Maafkan aku.. Sakura..

.

.

.

-o0o-

"Tambah lagi .." Sang bartender kembali menatap khawatir orang yang ada di depannya ketika seseorang yang ada di depannya itu kembali menegak habis gelas berisi wine yang memiliki alkohol kadar tinggi. Obito mengabaikan sang bartender, ia terus menegak minumannya. Sebenarnya Obito tidaklah benar-benar mabuk ia hanya marah. Marah karena merasa ditipu dan dimanfaatkan. "Kuso! Kuso! Kuso! Sialan kau—!" Racaunya.

.

.

Sementara itu di tempat lain..

"Apa kau sudah memastikannya?" Duo kembar dengan kilatan tajam di kedua bola matanya itu hanya bisa mengangguk mengiyakan. "Ha'I kami sudah memastikan jika tidak ada bukti sama sekali di lokasi kejadian. CCTV yang biasa di gunakan di jalanan-pun kami sudah membereskannya." Shion mengangguk mengerti. Ia menyodorkan amplop berisi uang kepada mereka. "Baiklah.. ini bayaran untuk kalian, aku sudah menambahkan beberapa tips di dalamnya. Kuharap itu sudah lebih dari cukup. Sekarang pergilah.." Duo kembar saling pandang, menganggukan kepala serta menyeringai dan berlari pergi. Shion mengambil ponselnya dan menekan beberapa tombol serta mengangkatnya kedekat telinga.

"Tayuya.. aku butuh hasil penyelidikanmu.."

.

.

.

-o0o-

Dengan langkah gontai Sakura memasuki kembali kediamannya. Ia meletakan sepasang sepatu di rak dekat pintu masuk ruang utama.

Seperti sebelumnya suasana masih tetap sama. Sepi.. itulah yang Sakura rasakan. Ia memasuki kamarnya, sesuatu berwarna cokelat yang tersimpan dengan rapi di atas kasur membuat Sakura penasaran. Tangan mungil Sakura berhasil memegang benda yang ternyata sebuah map dan membukanya. "A-apa ini .." Mata emerald Sakura memanas.

"Kurasa kau tidak bodoh dan bisa membaca dengan jelas." Sakura membalikan badannya. Di sana, Sasuke berdiri menyandarkan punggungnya ke pintu masuk kamar Sakura. Sasuke berjalan mendekati Sakura. "Bukankah itu yang selama ini kau inginkan, hm? Fine! Aku mengabulkannya." Cairan bening mulai terkumpul di kedua emerald Sakura. Dengan sekuat tenaga ia menahannya.

"Ta-tapi.. Aku tidak mau menerimanya!" Sakura melempar map yang tak lain berisi surat penceraian itu kedepan wajah Sasuke. Air mata yang sejak tadi mengenang sekarang entah pergi kemana. Emerald dan onxy saling memencarkan kilatan tajam. Rahang Sasuke mengeras. "Bagaimanapun kau sudah menandatanganinya terlebih dulu dan aku sudah menandatanganinya. Sekarang kita bukan—"

Sret sret sret ..

Dengan cepat Sakura mengambil map tersebut dan menyobeknya dengan kesal. Onyx Sasuke membulat. "See? Sebaiknya kau membuat kembali surat penceraian dan memaksaku untuk menandatanganinnya." Sakura melempar sobekan kertas tersebut kedepan wajah Sasuke dan berlalu pergi.

.

.

.

Sakura pov

Air mata yang sedari tadi aku tahan agar tidak keluar akhirnya mengalir juga. Aku tahu aku memang bodoh dan cengeng. Bisanya hanya menangis. Lalu aku harus bagaimana lagi? Aku.. aku ingin mempertahankan segalanya. Kini aku hanya bisa duduk menangis termenung seorang diri di taman yang tidak terlalu ramai, malahan sepi. Aku kembali memegangi dadaku yang terasa sesak. Mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu benar-benar mengiris hati dan juga perasaanku. Bagaimana tidak? Ia membentakku dengan begitu keras dan juga memakiku. Apakah aku salah jika aku begitu senang ketika tahu jika ia mengirimkan orang untuk menjemputku agar menemuinya? Dan dengan bodohnya aku percaya saja jika orang tersebut memang suruhannya Sasuke padahal ia berniat untuk menculikku.

Aku kembali menyusahkannya..

Tunggu! Beberapa waktu lalu Sasuke mengatakan Shion yang menabrakku? Ia.. mengetahuinya?

.

.

"Ini—" Seseorang menyodorkan sapu tangan putihnya padaku ketika aku sedang tenggelam dalam imajinasiku sendiri. Aku menegandahkan kepalaku, untuk sekedar melihat siapa orang tersebut.

"Gaara-kun?" aku tidak menyangka akan bertemu kembali dengannya dalam keadaan seperti ini. Gaara tersenyum manis padaku seraya kembali menyodorkan sapu tangannya. "Kau menangis?" aku menggelengkan kepalaku. "Tidak kok!" telunjuk Gaara menunjuk kedua bolamataku. "Benarkah? Lalu kenapa matamu merah serta berair?" aku tersenyum getir. "Hanya meneteskan air mata.." Aku mengaduh kesakitan karena Gaara menjitak kepalaku cukup keras. "Itu sama saja, bodoh!"

"Hei! Jangan memanggilku bodoh, anak pintar!"

.

.

Normal pov

Tanpa ada yang menyadari, seseorang yang melintas di seberang jalan sana dengan mobil sport merahnya menatap shock pemandangan yang tertangkap oleh retina matanya. "Gaara? Sakura? Mereka—"

.

.

.

Pemberitahuan lewat emal yang masuk menyadarkan Sasuke dari lamunannya. Ia kembali berkutat dengan komputernya serta beberapa alat komunikasi lainnya.

Hacking success

Sasuke menyeringai. Ia kembali menjelajahi dunia internet sekedar untuk mencari informasi lebih dalam. Sesuatu ingatan tiba-tiba melintas di kepalanya. Sasuke menghentikan aktivitasnya. "Hu'um.. adikku memintaku untuk menyingkirkan perempuan itu dan dengan begitu dia akan memanggilku 'Niisan' sebagai imbalannya" Adik? Sasuke mengambil ponselnya, menekan beberapa huruf sehingga memunculkan beberapa nama. Memilih salahsatunya serta menekan tombol hijau di layar tourch-nya.

"Itachi-nii kau ada waktu? Bisakah kita bertemu?"

"Heh, memangnya kenapa?"

"Ada yang ingin aku tanyakan."

"Penting tidak?"

"Di kafe biasa. Aku tunggu sekarang juga."

Klik.

Seperti biasa Sasuke mengakhiri sambungan telepon terlebih dahulu.

"Shion.. sebenarnya apa tujuanmu, heh?"

Sementara itu..

"Dasar Otouto tidak tahu sopan santun! Mahluk es! Tidak tahu caranya basa-basi. Arghh! Gara-gara si otouto sialan kue-ku kembali gosong!" Itachi hanya bisa mengumpat sendiri di dalam dapurnya. Padahal niatnya ia mengambil cuti dua hari itu untuk menghabiskan waktunya dengan membuat kue. Tetapi nyatanya Kami-sama tidak mengizinkan Itachi untuk melakukannya karena kini ia harus bersiap-siap untuk bertemu dengan adiknya. Itachi melepas celemek yang dipakainya dan dengan malas meninggalkan dapur dengan perasaan kesal yang masih melandanya.

.

.

-o0o-

BRAK!

Kepala merah Gaara terangkat seketika. Ia memandang horror seseorang yang kini tiba-tiba datang keruangannya dan menganggu aktivitas tidurnya. Namun sepertinya seseorang di depannya itu tidak menghiraukan tatapan horror sepupunya itu. Sasori dengan cepat masuk kedalam. "Bisakah kau ketuk pintu terlebih dahulu?" Sasori mendecih, tidak menghiraukan perkataan sepupunya itu. "Apa hubunganmu dengan Sakura, hah? Sudah berapa sering kau bertemu dengannya?" Gaara membulatkan matanya. Merasa kaget dengan pertanyaan Sasori yang terkesan begitu tiba-tiba. "Memangnya kenapa? Apa pedulimu?" Sasori mengepalkan tangannya begitu mendengar jawaban yang terlontar dari mulut Gaara. "Apa pedulimu? Kau tanya apa peduliku? Kau tahu dia sudah bersuami! Kenapa kau mendekatinya, hah?" Gaara menghempaskan tubuhnya kembali kekursi kerjanya dan menyandarkan kepalanya dengan santai ke sandaran kursi. Sasori emosi melihat Gaara yang bersikap seolah-olah tidak peduli ataupun menganggap enteng pertanyaan darinya. "Aku tidak munafik sepertimu. Asal kau tahu saja!" Kalimat sederhana keluar dari mulut Gaara. "Apa maksudmu?" Sasori berjalan mendekati meja kerja Gaara. "Aku menyukainya—tidak! Aku mencintainya. Dan aku tidak akan membiarkan orang yang kucintai hidup dengan penuh kesedihan dengan orang yang tidak jelas apakah ia mencintainya atau tidak. Aku akan merebut Sakura—"

Brak

"Apa kau bilang? Kau tahu, Sakura begitu mencintai suaminya! Kau hanya akan menjadi penganggu dalam rumah tangganya!" Sasori menggebrak meja, dan emosi Gaara-pun akhirnya tersulut.

"Dan aku juga mencintainya! Seiring berjalannya waktu jika aku terus berada didekatnya, ia pasti akan mulai memiliki rasa hingga akhirnya bisa membalas cintaku!" Sasori mencengkram erat kerah kemeja merah dibalik blazer putihnya Gaara. Mata caramel yang biasa memancarkan ketenangan nan kedamaian itu kini telah berubah. Tatapannya begitu tajam. "Jangan pernah menganggu rumah tangganya! Jangan pernah mengganggu hubungan Sakura dan Sasuke! Atau—"

"Atau apa, heh? Hahaha… ternyata seorang Akasuna Sasori memang tidak pernah berubah.. Munafik! Aku tahu kau juga mencintainya. Kau tahu jika Sakura selalu menahan kesedihannya seorang diri karena ulah yang diperbuat suami tercintanya itu! Tapi apa yang bisa kau lakukan, hah? Kau membiarkannya terus-menerus hidup seperti itu dengannya! Aku tidak munafik sepertimu. Aku akan melindunginya." Gaara mendorong tubuh Sasori cukup kasar menyebabkan Sasori terdorong beberapa langkah kebelakang.

"Sasuke.. dia juga mencintainya. Mungkin dulu ia sering membuatnya terluka. Aku tidak tahu apa alasan ia melakukan semua itu terhadap istrinya. Hanya saja, itu dulu! Sekarang ia tidak seperti itu." Gaara mendecih mendengar kata yang terucap dari bibir Sasori. "Tidak seperti itu? Ia menginformasikannya padamu jika dirinya telah berubah? Begitu? Hahaha.. konyol sekali." Gaara melonggarkan dasi yang tergantung di lehernya. Berjalan melewati Sasori begitu saja, mungkin berniat untuk meninggalkannya.

"Percaya atau tidak, Sasuke sekarang sedang sakit parah. Ia bahkan tidak memperdulikan kesehatannya ketika mengetahui istrinya menghilang—tidak lebih tepatnya diculik orang. Dalam kondisi seperti itu ia bahkan rela pergi keluar kota hanya untuk menyelamatkan Sakura, padahal ia dalam kondisi sangat buruk." Gaara menghentikan langkahnya. Membalikan badannya seraya menatap tajam Sasori. "Kau bercanda! Sakura pernah diculik? Sasuke sakit parah?" Gaara menahan tawa. Mungkin ia menganggap apa yang dikatakan Sasori itu hanya candaan semata. Sasori mengusap wajahnya frustasi karena sepupunya ini begitu sulit untuk diberi tahu.

"Apakah ada alasan yang logis untukku mengada-ngada semua itu padamu?" Gaara diam. Ia menunggu kelanjutan kata yang akan terucap dari mulut Sasori. "Ya.. Sakura memang pernah di culik. Tepatnya dua hari yang lalu. Dan Sasuke.. ia memang sakit parah.." Gaara kembali menatap tajam mata Sasori, mencoba mencari kebohongan yang terpencar dari pancaran matanya. Namun tidak ada kebohongan sedikitpun yang terpencar dari mata caramel indah itu. Sasori menarik napas. Ia kembali melanjutkan kalimatnya.

"Psycomatrymous.. Sasuke mengidap penyakit berupa gangguan pada sel-sel otak yang terjadi akibat benturan keras sehingga pada akhirnya dapat menyebabkan kematian secara perlahan. Ku yakin kau pernah mendengarnya, bukan? Dulu, ketika tahun 1964 seorang pemuda meninggal dalam keadaan tragis karena mengidap penyakit Psycomatrymous."

"Nani? Bukankah penyakit tersebut hanyalah mitos belaka?" Sasori menyeringai. "Tidak! Karena begitu langkanya penyakit tersebut, orang-orang menganggapnya hanya mitos. Persentase kesembuhannya 50% jika ia mau melakukan operasi dalam waktu dekat sebelum penyakit tersebut semakin menggerogotinya—"

"P-psycomatrymous?" Sasori menghentikan kata-katanya ketika mendengar suara lain masuk kedalam pembicaraan.

"Sakura?" Gaara menatap tidak percaya pada sosok seorang perempuan yang kini berada diambang pintu masuk.

.

.

.

TOBECONTINUE

A/N :

Awal kata yang akan saya ucapkan, "Minnal aidin wal faidzin .. mohon maaf lahir dan batin.." tidak terasa ya, 5 hari lagi lebaran.. Hoho belum punya baju baru #curhat :p

Dalam seminggu akhirnya aku bisa mengupdate kembali part IX-nya :D … Psycomatrymous, itu hanya nama penyakit karangan author saja.. Hihihi xD ..
Terimakasih untuk yang sudah memberikan review-nya :D terimakasih buat yang masih bersedia mengikuti alur ceritanya sampai part IX terimakasih buat dukungannya. Untuk sekarang, aku tidak ingin banyak bercuap-cuap gaje hehe :D

OK,, Sampai jumpa di next chap ..
Next? Review ya..

Salam Hangat

MerisChintya97