Kalau tidak salah Hinata sudah duduk disini selama 15 menit. Dan ia tidak mendapat atensi apapun dari pemuda pirang disebelahnya.

Sudah berkali-kali ekor matanya melirik ke arah sang pemuda. Tapi–Naruto–masih saja anteng dengan headphonenya. Padahal pemuda ini yang mengajaknya ke taman belakang. Katanya sih akan mendiskusikan lagu untuk duet. Tapi ini apa! Dia malah asyik sendiri!

Bibir mungilnya mengerucut. Lalu, kaki yang menggantung tidak menyentuh tanah ia goyangkan–akibat duduk di bangku yang tinggi.

"Namikaze-san sedang apa sih?" Gumamnya.

Hidup hari demi hari, melawan dalam dunia ini ketika sesuatu menjadi lebih berat.

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Love Is Feeling © RiuDarkBlue

Warning: AU, OOC (cool Naruto), typo sana-sini, asem, garing, maaf jika ide pasaran, alur kecepetan, yang nggak suka harap tekan back. Saya tekankan kembali! Bahwa ini adalah inspirasi saya! Nggak ngejiplak siapapun kecuali karakternya!

"Percakapan."

'Bicara dalam hati.'

Naruto Namikaze x Hinata Hyuuga

DLDR

.

.

.

Manik lavender Hinata membulat. "Su-suara ini?" Dengan patah-patah Hinata menoleh.

Sapphire dan lavender bertemu. Lalu Naruto tersenyum tipis. "Ini lagu yang akan kita nyanyikan."

Hinata berkedip. 'Na-Namikaze-san bisa tersenyum?'

"La-lagu?"

"Mau dengar?"

Hinata mengangguk.

"Sini."

Gadis berpipi tembam itu menggeser duduknya, menjadi merapat ke arah Naruto. "Pakai." Pemuda pirang itu, memakaikan headphone hitamnya di kepala indigo Hinata.

Badan mungil itu sedikit condong ke samping, mendekat ke tubuh tegap Naruto. Guna melihat video–yang di putar dari youtube–di ponsel Naruto.

Naruto sempat menahan nafas. Aroma lavender yang ia hirup dari rambut indigo Hinata benar-benar menenangkan, sampai membuat jantungnya berdebar, hatinya menghangat dan juga terasa tenang. 'Ada apa dengan ku? Jantung ini, selalu bedetak ketika dekat dengannya.'

"Lagunya enak." Hinata melepaskan headphone yang melingkar di kepala indigonya. Ia memiringkan kepala. "Kenapa lagu Korea?"

"Kau suka, kan?"

Pipi Hinata menggembung. Lalu kepala indigo itu mengangguk lucu. "Iya, aku suka."

"Pipi mu makin mirip bakpao saja."

Hinata menoleh. "Huh? Ja-jangan bilang begitu."

"Kenapa?" Naruto tersenyum miring.

"Ti-tidak enak di dengar orang lain."

"Tsch, terserah."

Hinata menatap Naruto tepat di manik sapphirenya. "Ja-jadi... Lagunya yang itu?"

"Ku kira kau sangat suka Oppa-Oppa ganteng."

Hinata cemberut, yang membuat Naruto tersenyum tipis. "Bu-bukan begitu, aku hanya fans s-saja."

"Hn. Hapalkan dulu lagunya, baru kita latihan."

Srettt

Naruto beranjak dari duduknya.

"Ke-kemana?"

"Pergi."

'Padahal tinggal seminggu lagi, duetnya.'

.

.

"Dari mana?"

Naruto menghela nafas. Sapphirenya menatap Sai. "Taman belakang."

Kiba tersenyum jahil. "Habis kencan, kan?"

Tatapan tajam Naruto berikan. "Aku habis menentukan lagu."

"Dapat?"

Naruto mengangguk.

Kiba menghela nafas. "Lagu ya? Kau sudah dapat Sai?"

"Biar gadis berisik itu yang mencarinya, aku bosan mendengar dia membicarakan fashion. Sesekali, dia harus berpikir tentang tugas."

Kiba mengangguk. "Setuju! Para gadis itu emang bikin repot! Kau gimana Sasuke?"

Sasuke menoleh. "Sama seperti Sai."

"Isss kau ini." Kiba terdiam. "Oh, ya–" Ia menggantungkan kalimatnya, lalu menatap Shikamaru dengan pandangan takut. "Shika, kau sekelompok dengan gadis galak yang suka bawa kipas, kan?"

Pemuda berambut nanas itu mengubah posisi tidurnya–yang tadinya menghadap tembok, sekarang membelakangi tembok menghadap sahabatnya. Ia menguap, membuka sedikit matanya. "Maksud mu Tamari?"

Sai berkedip, bibirnya kemudian menarik sebuah garis–tersenyum aneh–"Bukankah namanya Temari?"

Shikamaru berdecak. "Ck, Tamari lebih cocok karena ia galak."

Kiba manggut-manggut sok tahu. "Lalu, kesan mu bagaimana?"

"Pastinya dia betah."

"Ya, ya, pasti kau betah Shika." Kiba membenarkan perkataan Sasuke. "Kau kan belum pernah pacaran."

"Seperti kau yang pernah saja Inu-chan."

"Urusai Kitsune!"

"Andaikan kita sekelompok dengan Hinata-san."

Kiba menyeringai ke arah Sai yang di balas senyum palsu. "Aku juga begitu, ahhh... Pasti manis sekali..."

Naruto berdecak. "Urusai!"

"Apa? Kau mau apa?" Tantang Kiba dengan menatap nyalang Naruto. "Kau cemburu, eh?"

"Kau!_"

Kiba menatap datar Naruto. "Kau mau apa, hah?"

"Cemburu? Cemburu apa? Jangan gila." Naruto tak kalah menatap Kiba datar.

Kiba menghela nafas. "Tcsh, kau benar-benar menyebalkan Kitsune! Aku akan menemui Hinata-san."

"Aku juga!" Kepala pirang Naruto kemudian menoleh ke arah Sai.

"Tsch, terserah."

Blam!

"Kalau saja dia sehat." Sai menatap pintu yang di banting Naruto.

"Jika dia sehat, sudah dipastikan kalian berdua akan dihajarnya karena mati cemburu." Sasuke menatap malas Kiba dan Sai.

Shikamaru mengangguk. "Jika begini aku yakin dia akan sembuh."

"Tentu! Mana mungkin Kitsune kalah dengan mati rasa." Kiba tersenyum lebar.

"Satu lagi_"

"Pasti alexithymianya akan kambuh karena kalian berdua membuatnya kesal."

"Ya, kau benar Shika." Pemuda berkulit pucat tersenyum aneh.

.

.

Hatinya panas dan berdesir. Sungguh Naruto tidak tahu perasaan apa ini. Jika ia normal, ia ingin sekali marah pada Kiba dan Sai yang seenak jidatnya bicara.

"Ck." Decakan sebal keluar dari bibirnya.

"Kuso..." Keluhan itu terdengar, makin ingin mengekspresikan kekesalannya, Naruto makin sakit kepala.

"Ugghh..." Diremaslah ranjang UKS yang berseprai putih. Seperti biasa, jika ia kambuh, Naruto selalu pergi ke UKS. Memang mau kemana lagi? Jika ia ke taman belakang, sudah dipastikan akan banyak orang, atau ke kantin? Ck, Naruto itu sakit bukannya lapar. Atap sekolah? Tidak, karena disanalah rasa sakit ini berasal. Pulang? Nanti Ibunya akan khawatir.

Ceklek–

"Na-Namikaze-san?" Manik lavender Hinata menatap Naruto yang sedang terduduk di ranjang, kakinya dibiarkan menggantung, tangan tannya menjambak surai pirang yang sudah berantakan, manik sapphirenya tersembunyi di balik kelopak matanya. Dan, sepertinya saking sakitnya, Naruto tidak sadar bahwa ada yang masuk ke UKS.

Tap... Tap... Tap...

"Na-Namikaze-san?" Kaki mungil Hinata melangkah medekat ke arah Naruto, tepatnya berdiri di samping sang pemuda.

'Suara ini...' Suara yang selalu membuatnya tenang, aroma lavender yang sangat Naruto sukai.

"K-kau kenapa?"

Naruto masih tak menjawab, ia sibuk memegangi kepalanya juga mengatur nafasnya yang memburu. Gangguan psikosomatis ini memang merepotkan!

Alis Hinata mengernyit heran, jujur dalam benaknya ia khawatir terhadap pemuda pirang dihadapannya. 'Se-sebenarnya Namikaze-san sakit apa?' Ini sudah yang ke tiga kalinya Hinata melihat Naruto sakit kepala. "Tu-tunggu aku ambilkan o-obat."

"..."

Sret

Bruk

Grep

Manik lavender Hinata berkedip. Ia kini berada...

"Jangan pergi..."

Di..

"Ku mohon, tetaplah begini..."

Pelukan Naruto dengan posisi terduduk.

Wajah Hinata masih memancarkan ekspresi kaget. Sungguh badannya bergetar, hatinya menghangat, jantungnya juga berdetak cepat, dan Hinata tidak tahu perasaan apa ini.

Ia mencoba mengingat kejadian 10 menit yang lalu. Setelah pertemuannya dengan Naruto—mendiskusikan lagu–di taman belakang, Hinata meninggalkan taman dan berjalan menuju kelas. Sampai di koridor Hinata bertemu Shizune. Hinata menyapanya, dan tanpa di duga, Sensei UKS yang memegang kotak P3K berisi plester dan obat merah itu menyerahkan tugas untuk mengantar kotak P3K kepadanya, 'Maaf ya Hinata, Sensei menyuruh karena ada urusan mendadak.' Itu kata Shizune, dan Hinata masih ingat.

Nafas memburu Naruto dilehernya membuat Hinata tersadar dari lamunanya. Tubuh mungil Hinata masih bergetar, ini memang pertama kalinya Hinata di peluk seorang pria, ia hanya pernah di peluk Neji dan Hiashi–ayahnya–"Na-Namikaze-san kenapa?"

"..." Nafas Naruto masih saja memburu, manik sapphirenya terpejam.

"Ma-mau ku pijat? A-atau aku ambilkan o-obat?" Mati-matian Hinata menahan rasa gugupnya.

"Tidak." Suara Naruto terdengar lirih, dan ini untuk pertama kalinya Hinata mendengar suara itu. Biasanya suara pemuda pirang ini sangat datar dan dingin, tapi ini–"5 menit saja, tetaplah dalam posisi ini."

"..." Hinata menurut. Ia diam merasakan sensasi aneh saat berada dalam pelukan Naruto. Tangannya bergetar, ia angkat untuk mengusap helaian pirang sang pemuda.

Berbeda dengan Hinata yang merasa gugup. Naruto malah merasa nyaman. Sensai ini memang baru pertama kalinya ia rasakan, bahkan saat Ibunya memeluk atau mengusap helaian pirangnya, seperti yang Hinata lakukan, Naruto tak pernah merasa senyaman ini. Apa lagi aroma lavender yang sangat lembut ini sangat membuat Naruto terasa nyaman.

Kepalanya ia miringkan ke arah leher jenjang Hinata. Naruto sadar, tubuh mungil gadis dipelukannya begetar. "Hyuuga."

Hinata berkedip. "Ha-hai."

"Arigatou..."

Gadis Hyuuga itu terdiam. Menurut gosip dari sahabatnya; Ino, Sakura, dan Tenten. Naruto Namikaze itu tidak pernah berterima kasih, nah! Ini! "Ya, do-doita na, Namikaze-san."

Naruto masih belum melepaskan pelukannya. Memang, rasa pusingnya sudah berkurang, bahkan lebih cepat pemulihannya daripada biasanya. 'Apa hubungannya kau dengan penyakit ku?' Tangannya semakin erat memeluk pinggang Hinata.

"A-ano_"

"Hn?"

"Apa masih sa-sakit."

"Hn?"

"Na-Namikaze-san?"

"Hm..." Masih di jawab dengan gumaman.

"A-apa mau ku pijat?"

"Kau cerewet juga, ya?" Meski masih agak pening, Naruto berusaha mengangkat kepala pirangnya.

"Bu-bukan beg_"

Naruto tersenyum miring. "Jika di lihat dari dekat, pipi mu makin mirip bakpao saja."

Hinata berkedip. 'Dia... Kembali jadi Namikaze-san yang menyebalkan.' Pipi Hinata menggembung. "Ba-bakpao apa? Aku kan tanya apa masih sakit?" Pipinya merona saat menyadari jarak wajahnya dan Naruto.

"Tuh, apa lagi jika menggembung begini."

"Huh? Na-Namikaze-san menjauhlah..."Pipi Hinata merona, saat wajah Naruto mendekat.

'Hangat. Perasaan apa ini? Meski jantung ini berdetak, tapi aku menyukainya.'

"Hn? Menjauh kemana?"

Pipi Naruto menyentuh pipinya.

"A-ano_"

"Hn. Ayo ke kelas." Pemuda pirang itu beranjak dari duduknya.

"Ha-hai." Dengan jantung yang tak karuan Hinata mengikuti Naruto. 'Kenapa... Dengan ku?'

.

.

"Hahaha.. Yang benar Lee, lemparan mu kurang bagus!"

"Urusai Kiba! Lihat! Aku akan melemparnya ke arah mu! Hyahh..." Dengan semangat, Lee melempar bola kertas yang entah kenapa saat dilemparnya ke arah Kiba selalu saja meleset.

Ceklek–

Dukh

Hening.

"Kau!"

Suara baritone yang lebih mirip geraman itu menjadikan suasana hening.

"A-ano_" Dengan dibanjiri keringat dingin Lee buka suara. "Na-Naruto, a-ano_" Ternyata yang kena lemparan bola kertas yang berukuran sedang itu adalah Naruto Namikaze, orang yang baru saja datang dari UKS tanpa sepengetahuan semua orang begitupun dengan sahabatnya—X5–kecuali Hinata Hyuuga.

Kiba juga berkeringat dingin, mengingat ia tadi membuat Naruto marah kalau saja sahabatnya itu normal.

Glek–

Susah payah ia menelan ludahnya. Saat sapphire biru Naruto menatapnya. "O-oi Naruto. Dari mana?"

Bukannya menjawab. Sapphire biru Naruto menatap tajam Kiba, jika saja tatapan bisa membunuh sudah dipastikan Kiba akan mati saat ini.

"A-ano, pe-permisi."

Suara lembut dari belakang tubuh tegap Naruto mengalihkan pandangan semua orang di dalam kelas. Pandangan yang tadinya tegang sekarang berubah menjadi pandangan heran, semua mata sekarang menatap tubuh mungil yang baru saja menyembul dari belakang tubuh tegap Naruto yang menghalangi pintu.

Hinata berkedip. Sekarang semua mata menatap heran ia dan Naruto.

Glek–

Gadis Hyuuga itu susah payah menelan ludahnya. Ia memang terlambat, tapi itu hanya terlambat 5 menit dari bel masuk, dan lagi, belum ada Sensei yang datang.

'Apa ka-karena aku dan Namikaze-san datang bersamaan?' Sedikit merutuki dirinya yang entah kenapa malah memilih datang ke kelas bersama Naruto.

Kiba berkedip. Lalu pandangan takutnya berubah menjadi pandangan 'wow' mengingat sahabat Kitsunenya datang dengan seorang gadis, apa lagi gadis itu Hinata Hyuuga. Gadis manis yang selalu ia dan sahabatnya jadikan alat memancing perasaan Naruto.

"Oi... Naruto... Mari ke bangku." Seakan melupakan ketegangan 120 detik yang lalu, Kiba dengan santainya merangkul bahu Naruto menuju ke arah bangku pojok; tempat dimana X5 berkumpul di kelas. Tentunya ia mengabaikan tatapan tajam dari sapphire biru Naruto.

...

"Aku yakin Naruto dari UKS." Sasuke menatap ke arah Naruto dan gadis disampingnya dengan pandangan datar. Tapi, jika di lihat lebih detail lagi, onyx hitamnya menyiratkan sedikit keherannan.

Sai mengangguk. "Jika sudah kita desak tentang perasaannya, pasti Naruto akan mengalami gangguan psikosomatis_"

"Maksud mu alexithymia?" Shikamaru menguap. Kemudian matanya menatap ke depan kelas.

Sai mengangguk. "Lalu, kenapa Naruto bisa bersama dengan Hinata-san?"

"Entahlah, Sai. Ada dua kemungkinan. Pertama mereka tak sengaja bertemu, dan ke dua, mereka memang bersama."

"Aku lebih setuju, kemungkinan pertama." Sasuke lebih memilih kesimpulan pertama, karena mana mungkin sahabatnya itu bersama seorang gadis. Secara, Naruto itu cuek, jutek, dan dingin, jangan lupakan masa lalu Naruto dan Shion.

"Aku suka kemungkinan ke dua." Bibir pucat Sai tersenyum palsu.

Mereka terdiam, saat melihat Kiba dengan cengiran lebarnya merangkul Naruto yang bermuka datar, lengkap dengan tatapan tajamnya.

"Yo, kalian!" Sapa Kiba setelah sampai di bangku pojokkan.

"Yo, Kiba!" Sai tersenyum aneh. "Kalian cocok."

Kiba mengernyit. "Apa?"

"Itu?" Telunjuk Sai mengarah pada lengan Kiba yang masih merangkul mesra Naruto.

Mata bertemu mata. Lalu, mata Naruto dan Kiba membulat. "Aku normal!" Seru keduanya sambil menjauhkan tubuh masing-masing.

Sai mengendikkan bahu. "Aku harap Sasuke tidak cemburu, ya kan, Sasuke?"

"Ck, kau saja Zombie yang cemburu!" Onyxnya menatap tajam pemuda pucat yang selalu tersenyum palsu.

"Mungkin."

"Astaga!" Pekik Kiba, sampai Naruto yang disebelahnya menutup telinga.

"Urusai! Inu!"

Tanpa mengindahkan semburan Naruto. Kiba duduk di sebelah Sai. Dengan tak sabaran,Ia menyentuh bahu Sai, lalu memutarnya sehingga berhadapan dengannya. "Ternyata yang gay bukan hanya Sasuke dan Naruto saja."

"Inu!" Onyx dan sapphire menatap tajam sang penyuka anjing. Tentunya dihiraukan.

"Kau juga gay, Sai! Astaga! Kami-sama... Hanya kita saja Shika yang normal!" Kepalanya menoleh ke arah Shikamaru yang sedang menatapnya malas.

"Kau lebih aneh. Kiba."

"Hah? Aku?" Telunjuknya menunjuk hidung mancungnya. "Apa sih maksud mu Shika?"

"Gay masih mending menurut ku."

Kiba kembali memekik. "Astaga! Shika, kau jug_"

"Daripada kau yang mencintai Akamaru mu itu." Shikamaru, Sasuke, Naruto, dan Sai menyeringai. Melihat ekspresi Kiba yang nampak menyedihkan.

"Eh? Kitsune?"

Semua menghela nafas. Memang Kiba tipe pelupa masalah yang hebat, pikir mereka.

"Hn?" Pemuda yang di panggil Kitsune itu duduk di bangku sebelah Sasuke.

"Habis dari mana?" Kepala pirangnya menoleh ke arah Sai.

"Bukan urusan mu." Suaranya terdengar ketus.

Shikamaru menghela nafas. Bukan, bukan karena keadaan kelas yang bising akibat belum hadirnya Kurenai guru kimia kelas 2-1. Tapi karena sifat dan sikap sahabat pirangnya ini. "Kau dari UKS?" Tanyanya.

"..."

"Bertemu dengan gadis itu dimana?" Sekarang kepala pirangnya menoleh ke arah sahabat ravennya.

"Aku bertemu dengannya di jalan."

"..."

"..."

"..."

"..."

"Apa?" Jujur saja, Naruto risih dipandangi dengan delapan mata sekaligus.

"Ck, kau nggak asyik" Celetuk Kiba.

Sai mengangguk, lalu tersenyum aneh. "Apa susahnya sih, bilang habis kencan."

"Urusai! Zombie!"

"Kalau begitu, aku juga mau berkencan dengan Hinata-san."

"Urusai Inu! Atau ku bunuh Akamaru mu itu!"

...

Lain di pihak Naruto, lain di pihak Hinata. Sesudah kejadian pandangan heran seluruh warga kelas terhadap kedatangannya dengan pangeran Konoha Gakuen. Dengan kepala tertunduk, Hinata berjalan menuju bangku barunya dengan Naruto. Ya, bangku empat dekat jendela.

"Hinata-chan?!" Baru saja ia duduk manis dikursinya, ke tiga sahabatnya; Ino, Sakura, dan Tenten datang menghampiri.

"Eh? Sakura-chan? Tenten-chan? Ino-chan?"

"Iya, Hinata-chan." Hinata mengernyit, saat melihat Ino sahabatnya, tersenyum jahil.

"I-Ino-chan kenapa?"

Bukannya menjawab, Ino malah duduk di samping Hinata. "Hinata-chan dari mana?" Tanyanya dengan seringai jahil.

"Iya, pake bareng Namikaze-san segala?" Sekarang Tenten juga menampilkan seringai jahil.

"A-ano_"

"Ayo cerita Hinata-chan?!" Kepalanya menoleh ke arah Sakura yang duduk di bangku depan menghadapnya bersama Tenten. "Ayolah..." Emerald hijau Sakura menatap memelas lavender Hinata.

"I-itu_"

"Ya, ya, ya... Itu apa?" Jujur saja, Ino itu makin penasaran apa lagi ia itu Ratu Gosip Konoha Gakuen. Tentunya Ino harus mendapat informasi ini! Ya, harus!

"A-aku bertemu dengannya di jalan." Dengan ragu, Hinata mengucapkan sebuah kebohongan, yang sama diucapkan oleh pemuda yang memeluknya.

'Kami-sama, maafkan aku.' Dalam hati, Hinata terus meramalkan do'a-do'a, agar sahabatnya tidak menyadari kebohongannya.

Bisa gawat jika Hinata bilang yang sebenarnya, tentang sakit Naruto, Naruto yang memeluknya, Naruto yang mengucapkan kata langka; terima kasih. Jika sahabatnya tahu, sudah pasti ini akan jadi trending topik, dan Hinata tidak tahu apa yang akan dilakukan Naruto kepadanya, sebab ia memberitahukan soal Naruto yang sakit pada sahabatnya, meski Hinata sendiri tidak tahu pemuda pirang itu sakit apa.

"Yahhh..." Sakura adalah orang pertama yang menunjukan kekecewaannya. "Ku kira Hinata-chan kencan."

Di jawab anggukkan Ino dan Tenten.

"Sa-Sakura-chan!" Pekik Hinata dengan wajah memerah.

"Eh?" Semua menoleh ke arah Ino. "Tapi Hinata-chan hebat lho.."

"Huh?"

"Bisa jalan berdua dengan Namikaze-san."

"Ma-maksud Ino-chan?"

"Pig benar! Namikaze-san kan_"

Ceklek_

"Konnichiwa minna."

"Kurenai-sensei! Hinata-chan, kita kembali ke bangku dulu!" Ke tiga gadis berbeda warna rambut itu berlalu kebangkunya masing-masing.

'Namikaze-san kenapa?' Batinnya.

...

"Perubahan dentalpi (ΔH) positif menunjukkan bahwa dalam perubahan terdapat penyerapan kalor atau pelepasan kalor. Reaksi kimia yang melepaskan atau mengeluarkan kalor disebut reaksi eksoterm , sedangkan reaksi kimia yang menyerap kalor disebut reaksi_"

Tettt... Tettt...

"Yokatta..." Itu kata para murid yang merasa lega.

Kurenai menatap jam di pergelangan tangannya. Ia menghela nafas, melihat waktu menunjukan pukul 15:00. Sudah waktunya pulang, kan? "Ya, minna. Mungkin hanya itu yang dapat Sensei sampaikan hari ini. Sampai bertemu minggu depan!" Kurenai pergi setelah membereskan alat-alat yang dibawanya.

"Yess.. Pulang juga."

"Ah, sudah ini aku mau tidur."

"Akamaru... Aku datang..."

Kira-kira itulah kata sebagian murid kelas 2-1.

Hinata menghela nafas. Ia bangkit dari duduknya, setelah membereskan peralatan sekolahnya.

"Hyuuga?"

Hinata menoleh ke samping, ke arah pemuda pirang yang tadi siang memeluknya. Ah, Hinata yakin pipinya merona. Ia menggeleng untuk melupakan moment itu. Kembali lavendernya terfokus pada pemuda pirang yang sedang menatap datar ke depan.

"Ha-hai?"

Naruto menoleh, kepalanya mendongkak karena Hinata sudah berdiri. "Ku harap kau tak menceritakan tentang aku yang sakit di UKS."

Hinata terdiam, sebenarnya ia sangat ingin menanyakan sakit apa pada pemuda pirang ini.

"Hyuuga?" Panggilnya kembali saat tak mendapat respon untuk pertanyaannya.

"Ha-hai, hanya aku yang tahu."

"Bagus." Tubuh tegap pemuda pirang itu beranjak dari duduknya. Sehingga tingginya yang jauh dari Hinata membuat sang gadis harus mendongkak.

"Hai."

"Satu lagi."

"Huh?"

"Aku minta nomor ponsel mu."

.

.

.

.

To Be Continued

A/N

Tadaaaa... Akhirnya saya up lagi, setelah menyelesaikan A Beautiful Morning;), nah flashbacknya kan udah selesai, jadi saya ngejelasin tentang NaruHina. Semoga nggak gaje sama nggak bosen ya:(, oh ya, masih ada adegan-adegan yang belum saya publish, jadi saya nggak tahu fic ini akan tamat di chapter berapa... Semoga reader nggak bosen ya, dan semoga ini nggak bikin nyesel bacanya.

Gomen kalo nggak seru:(, soalnya saya lagi datar-datarnya ni inspirasi–_–, makasih sama yang udah kasih saran, kalo yang kepake nanti saya juga terapin arigatou*bungkuk-bungkuk* XD

Gomen kalo banyak typo:(.. Soalnya ngetik langsung publish..

Arigatou sama yang udah review, fav, follow, sama silent reader.

Saatnya balas review:

161200-chan: XD, iya sabar yaaa nanti juga bakalan kok:)

guest58946324: iya ini juga saya udah update:)

HimeNara-kun: yeyyyy! Makasih HimeNara-san:)...hidup NaruHina!

KrulciferAkitsukii: iya:) disini banyak:) semoga nggak bosen... Makasih

bebek kuning: jugaa;) makasih... Iya alexithymia emang gangguan psikolog, do'ain aja Narunya supa cepet sembuh#plakXD iya ini udah chap 9 semoga puas... Makasih sarannya..

pengagumlavender26: aminnnnnn:) semoga do'anya saya kabulin#plakbercanda, iya aminnnn do'ain aja ya:);):)

TOMBHIB12: seperti yang TOMBHIB-san harapkan, ini udah lanjut..:)

Indra223: :)... Penasaran ya? Iya ini saya udah lanjut, semoga rasa penasarannya terobati:)

Neng275: iya, ini juga udah lanjut;)

dindra510: makasih udah nunggu:), iya ini juga udah lanjut:)

agungYAK123: kalo maju terus nanti saya nggak bisa pulang:(... But makasih agung-san;)

Baenah231: iya:)... Ini juga udah lanjut;)

ashary: iya akhirnya saya lanjut juga:).. Makasih:) udah nunggu... Yoshhh ganbatte

nawaha: makasih udah nunggu:).. Semoga rasa penasarannya terbayar:)... Iya ini ada adegan NH.. Yoshhh ganbatte

Hamura: :) do'ain aja ya supaya mereka pacaran:).. Belum tahu ada berapa chapter masih ada adegan-adegan yang belum saya masukin soalnya

ulleehime: makasih juga udah baca+review:) aminnnn... Iya nanti kapan-kapan saya bikin:)

Rasyah Asyara: iya, salam kenal juga;)... Makasih udah suka;)... Waw? Tahu EXO Growl ya? Uhhhh senengnya saya... Bisa nemu sama yang suka EXO alias kpopers:)

Guest: iya ini saya udah lanjut:)

waty salam: makasih:)

dhacil: makasih:)... Iya saya juga udah lanjut...

Rael577: hahaha:v emang bener kata Rael-san, hanya Kiba yang bisa senyum:v

Cecep713: iya, apa ini termasuk nggak lama?:), makasih udah nunggu;)

fendy: yoshhhh ganbatte;)... Makasih semangatnya, akan saya kenang selalu.

rikarika: iya ini saya udah lanjut, makasih udah nunggu:).. Aduh, masih bingung ya? Gimana ngejelasinnya ya? Gini aja, Naruto itu mati rasa, dan dia itu susah sekali berekspresi, tepatnya ia bingung mengenai perasaan dirinya dan orang lain, apabila ia berekspresi, Naruto akan mengalami gangguan psikosomatis atau sakit kepala, sakit perut, dan muka memerah. Apa sudah mengerti? Atau masih bingung? Jadi benci Shion nih:(... Abis gara-gara saya sih:)

Isabella: iya sama-sama:) makasih juga udah baca+review.. Iya nggak papa:) udah baca ama review saja saya senang... Makasih and yes I've continued my story:)

megahinata: iya Naruto ama Hinata emang duduk sebangku;), aminnnn moga mereka berdua pacaran;)

Deandra: iya ini saya udah lanjut:), saya ini udah nambah moment NHnya moga puas:)... Yoshhh ganbatte..

Guest: makasih:)... Iya nanti saya panjangin..

salsal hime: iya nggak papa telat juga:) iya Naru emang diboongin:(.. Iya love sejati:).. Makasih juga udah baca+review

Guest: makasih:) iya ini saya dah lanjut, iya kapan-kapan saya panjangin

Isabella: iya nanti saya tambahin:), makasih sarannya;) kalo kepake nanti saga terapin arigatou

armymey: makasih:) iya ini saya dah lanjut

ryuuki Kuroichi: makasih:)).. Ini saya update ngaret:(

Hyuuzu Avery: iya ini saya atos lanjut XD

Rico273: yoshhhh semangat:)

ayaa: iya, ini saya udah lanjut:)

Guest: iya, ini saya udah lanjut:)

Arigatou minna-san

~Peluk cium RiuDarkBlue~

.

.

.

17 April 2017