AeriaCatZ:" Halo halo hai, minna-san! Terima kasih sudah membuka dan membaca penpik yang aneh dan gajelas ini.
Jae: *sigh*
AeriaCatZ: "Kok lesu sih, Jae? Semangat dikit donk! Keluarkan api masa mudamu! Hiyaaattt! *berapi-api mirip Guy*
Jae: " Tidak ada kok."
AeriaCatZ:"Ahh.. Kamu bohong. Kasih tau lah.. Ya? Ya? Ya?"
Jae: "No!"
AeriaCatZ:"Ayolah kasih tau... Ja- *KLONTANG* *digebuk Jae pake panci dan langsung tepar*.
Jae: "Baiklah, karena authornya lagi tepar, jadi aku yang menggantikan. Untuk hannavali795 : Terima kasih sudah mendaftar, OC kamu sudah kami terima, tapi, yang naksir sama hinata itu kami hilangkan ya. Soalnya kemungkinan kecil Hinata bisa muncul di penpik ini atau disebut jarang. Soal kemunculannya dichapter ini. Terus soal cerita NaruIno itu masih belum bisa dipastikan kapan. Jadi saya mewakili author benar-benar minta maaf, tapi tenang saja, pasti bakal muncul kok."
Hinata: *pundung di pojokan sambil nyolek-nyolek lantai*
Aadara: "Kok kamu bisa tau Jae?"
Jae: "Soalnya tadi aku liat author lagi stress karena gak dapet ide mau bikin NaruIno kayak gimana."
Naruto & Ino: "Fiuhhh.. Syukurlah.
Jae: "Hahh.. Sudahlah berikutnya dari ItaIzu's Lover: Terima kasih atas masukannya, tapi sayangnya authornya nggak kenal sama dia, tapi mungkin bisa dijadiin tokoh satu kali lewat.
Pein: "Segitu doank? *tiba-tiba nongol*"
Jae: "Iya kayaknya *buka-buka kolom reviews*. Tak apalah, ini masih lebih baik daripada sama sekali tidak dapat. Sebagai manusia kita harus pandai bersyukur."
...
Jae: "Subahanallah! Sejak kapan loe disini? *kaget sambil mental*."
Pein: "Sudah, lupakan saja! Ayo buka penpiknya!"
Jae: "Hahh~ Iya-iya! Oh iya, satu lagi! Sesuai dengan chapter kemarin, pendaftaran OCpun ditutup. Baiklah selamat membaca semua.."
.
.
.
.
.
Memories in The School
Story by: AeriaCatZ
Warning inside!
Happy Reading! Minna-san!
.
.
.
.
Chapter 09: Ekstrakurikuler
"Sensei sudah melihat hasil karya seni patung kalian, hasilnya bagus-bagus sekali. Untuk Sakurami, rapi-rapi sedikit ya!"
"Baik, Yamato-sensei!" Jawab Aadara dengan muka sedikit lemas. Meskipun Aadara berbakat dalam menggambar kartun, ia sangat kurang dalam prakarya dan seni rupa.
"Dan untuk Deidara, sensei benar-benar memuji karyamu. Bentuknya sangat sempurna, rapi, dan berbentuk. Bila diwarnai dengan indah, mungkin karyamu akan terlihat sangat nyata. Kau mendapatkan nilai tertinggi." Puji Yamato.
"Wah.. Deidara-san hebat sekali ya?"
"Iya benar-benar."
"Meskipun ia bodoh tapi ternyata ia cukup berbakat ya?"
36 dari 38 murid memuji-muji Deidara. Deidara hanya menjawab "Ah biasa saja kok." Padahal di lubuk hatinya ia memasang muka sombong, tapi sedikit kesal karena ada murid yang bilang ia bodoh barusan.
Hanya satu murid yang tidak memujinya, ia bukanya tidak peduli. Melainkan ia malah menatap Deidara dengan mata penuh keirian. Mata yang bewarna merah itu melototi Deidara yang duduk di samping mejanya. Dengan hati yang iri, ia berguman-guman tidak jelas menyupahi Deidara. Ia masih saja menatap Deidara dengan iri sambil mengatupkan giginya rapat-rapat sambil mengeluarkan aura seram, marah, iri yang bercampur aduk menjadi satu. Tentu saja hal itu membuat teman sebangkunya memcoba tidak menatapnya karena ketakutan.
'Mulai hari ini, kau adalah rivalku, Deidara!'
.
.
.
.
.
"Eh? Eskul? Esktrakurikuler?"
"Iya! Murid-murid disini belum ada yang memberitahu kalian ya?" tanya Aadara.
"Belum. Emangnya eskul itu apa ya?" tanya Itachi, Hidan, Konan, Deidara dan Sasori serempak.
"Eskul itu ialah kegiatan ekstra yang dilakukan saat jam pulang sekolah." Jelas Aadara.
"Maksudmu?" tanya Konan dengan muka polos.
"Maksudku itu-"
.
.
.
.
"Ohh.. Begitu ya? Malas ah." Balas Hidan
"Jangan gitu donk!"
"Jangankan ikut eskul. Belajar disini selama 30 menit aja udah menguras tenaga gue sampai habis."
"Tapi loe sama sekali tidak merhatikan guru, ya kan Hidan?" ejek Jae yang langsung ingin dipukul Hidan tapi langsung dicegah Itachi.
"Tapi sih, menurutku lebih baik kita ikut saja. Soalnya kita pulangpun tidak ada yang bisa kita lakukan kan?" ujar Konan yang disertai anggukan oleh yang lain kecuali Hidan.
"Ehh? Kok gitu sih? Sasori, Itachi kalian ikut?" tanya Hidan panik dan dijawab dengan anggukkan dari Sasori dan Itachi.
"Kalo gitu, De-"
"Gue juga ikut, Dan. Bener kata Konan. Kita pulangpun tidak ada yang bisa kita lakukan.
"Ck! Yasudahlah kalo gitu. Gue juga ikut." Pasrah Hidan disertai senyuman kemenangan oleh Aadara.
"Yasudah, ngomong-ngomong ada eskul apa aja, Dar?"
"Ngg.. Kalo gak salah ada lebih dari sepuluh. Ada sanggar seni, cheers, dance, band, rohis, pramuka, PMR, catur, karate, basket, futsal, paskib, akutansi, chemestry, english, matematika, jepang, KIR, OSIS, perangko, seni patung, mading, sisanya aku lupa."
"Ternyata banyak banget ya. Kamu ikut apa? Jae? Aadara?"
"Kalo aku sih jepang, soalnya disana ada bidang gambar." Jawab Aadara sambil menaikkan matanya.
"Gue sih ikut basket." Jawab Jae singkat.
"Kayaknya aku milih band ajah deh." Ujar Konan mikir-mikir.
"Kalo gue seni patung." Udah tau kan ini ucapan siapa?
"Kalo aku matematika deh." Ujar Itachi.
"Aku sih basket aja." Ujar Sasori.
"Buahahahah.. Badan pendek gitu mau ikut basket?" ejek Hidan terngakak-ngakak dan sukses mendapatkan pukulan telak dari Sasori.
"Sudahlah! Aku ikut chemestry saja!" ujar Sasori marah-marah campur ngambek.
"Jangan ngambek Sasori, kamu sendiri apa Hidan?" tanya Konan.
"Mungkin, gue akan ikut rohis." Jawab Hidan sambil mikir.
"APAA?!" Konan, Deidara, Sasori, dan Jae tersentak. Hidan yang badung dan kasar ini ingin ikut eskul religius?
"Wahahahahah... Kamu ingin ikut rohis? Yang benar saja! Sebelum ikut, kusaranin mendingan kamu rubah dulu sikap liarmu itu sebelum ikut rohis daripada malu-maluin. Hihihihihi..." Ejek mereka tertawa-tawa. Sedangkan, Itachi dan Aadara hanya terkekeh-kekeh kegelian. Urat marah Hidan menonjol dikepalanya dan mengeluarkan aura pekat dari tubuhnya.
"GRRR... DIAM KALIAN!" Amuk Hidan kesal.
Hening...
"Oh iya, ngomong-ngomong teman kalian yang di IPS 3 belum dikasih tau, kan?" ujar Aadara mencoba membuat suasana lain.
"Benar juga ya. Ayo kita ke kelas mereka sekarang." Ujar Konan sambil bangkit dari bangkunya dan langsung menuju kelas XI IPS 3 disertai teman-temannya yang mengikutinya dari belakang.
.
.
.
.
Scene: Kelas XI IPS 3
"Jadi gimana? Kalian mau ikut?"
"Yah, menurutku boleh juga sih. Toh, setelah pulang sekolah dimarkas kami kagak ngapa-ngapain. Gue ikut eskul band aja deh. Biar bisa sama Konan lagi. Khe khe khe khe." Ujar Pein sambil tertawa-tawa dan diikuti tatapan jijik oleh yang lainnya.
"Karena gue suka uang, gue ikut akutansi." Yup, Readers pasti udah tau siapa yang bilang ini.
"Aku ikut basket saja deh, mumpung badanku tinggi." Ujar Kisame.
"Kalo Tobi, Tobi mau ikut perangko aja. Soalnya Tobi suka perangko." Ujar Tobi riang.
"Gue mau ikut KIR saja." Ujar Zetsu Hitam.
"Tidak! Menurutku kita lebih baik ikut paskib saja." Balas Zetsu putih.
"Apaan sih? Pokoknya KIR!" sewot Zetsu hitam.
"TIDAK AKU INGIN PASKIB!"
"UNTUK APA IKUT PASKIB? KERJANYA CUMA BARIS-BARIS DOANK!"
"UNTUK APA IKUT KIR? KERJANYA CUMA BUAT-BUAT TULISAN GAK JELAS!"
"KIR!"
"PASKIB!"
"KIR!"
"PASKIB!"
"KIR!"
"PASKIB!"
"DARI AWAL AKU SUDAH MUAK DENGANMU!" Marah Zetsu putih
"LOE KIRA GUE BAHAGIA MENEMPEL DENGANMU? SEJAK AWAL GUE SELALU INGIN BERPISAH DARI LOE!" Balas Zetsu Hitam
"JANGAN SALAHKAN AKU! SALAHKAN MADARA TUANMU YANG TERCINTA ITU KARENA TELAH MEMBUAT KITA BEGINI!"
"JANGAN BAWA-BAWA MADARA!"
"MEMANGNYA KENAPA? DASAR ITEM!"
"LOE HARUSNYA YANG DIAM DASAR PUTIH JELEK!"
"HITAM!"
"JELEK!"
"HITAM!"
"JELEK!"
"HITAM!"
"JELEK!"
"HITAM!"
"JELEK!"
"HITAM!"
"JELEK!"
"HITAM!"
"JELEK!"
"HITAM!"
"JELEK!"
"HITAM!"
"JELEK!"
"HITAM!"
"JELEK!"
"HITAM!"
"JELEK!"
"HITAM!"
"JELEK!"
"HITAM!"
"JELEK!"
"HITAM!"
"JELEK!"
"HITAM!"
"JELEK!"
"HITAM!"
"JELEK!"
Akatsuki minus Zetsu dan murid XI IPS 3, hanya bisa melihat perdebatan kedua siluman jejadian itu. Akhirnya perdebatanpun diselesaikan dengan cara mereka tidak usah ikut eskul.
"Akhirnya tenang juga. Ngomong-ngomong kalian ikut eskul apa?" tanya Pein.
"Aku matematika, Sasori chemestry, Deidara seni patung, Jae basket, Aadara jepang, sedangkan Hidan rohis." Jawab Itachi.
"APA HIDAN ROHIS? Khik- buikikik.. Hhehehhee.. GYAAHAHAHAHAHA.." Zetsu, Pein dan Kisamepun tertawa dengan lantangnya membuat Hidan menggeram kesal dan mereka bertigapun diberi tatapan seolah berkata 'Mereka gila ya?' dari murid-murid yang melihatnya.
"Mememangnya kenapa kalo aku ikut rohis?" bentak Hidan.
"Nggak. Soalnya aneh aja, cowok badung kayak kamu bisa ikut eskul religius."
"Cih, sialan!"
"Hahahh.. Sudahlah kami kembali ke kelas dulu ya soalnya ini jam istirahat udah mau abis." Pamit Konan.
"Iya. Ya sudah makasih ya. Udah ngasih tau."
"Ok. Byee.."
"Bye."
.
.
.
.
.
Jam sekolahpun telah datang, murid-murid sudah pada berkemas-kemas untuk pulang. Tapi, ada juga sedang pergi ke tempat perkumpulan eskul mereka. Kira-kira gimana keadaan Akatsuki ya? Intipin satu-satu yok!
.
.
.
.
"Jadi disini ya? Tempat kumpulan eskul matematika." Itachi memandangi pintu kelas yang diatasnya ada tulisan X IPA 2. Ia pun mendorong pintu itu masuk dan memasuki ruangan tersebut.
"Ah.. Siapa? Anggota baru ya?" tanya murid yang seangkat dengannya yang sedang berdiri di depan kelas sambil menerangi pelajaran trigonometri ke adik-adik kelasnya. Murid itu seorang lelaki bermuka feminim rambut pirang pucat dan bermata yang warnanya hampir sama seperti Hidan, cuma lebih terang.
"Eh i-iya, namaku Uchiha Itachi."
"Wah.. Senangnya ada murid yang masuk ke eskul ini. Soalnya eskul ini sepi, karena kakak kelasnya pada pemalas." Murid itu langsung tersenyum ria melihat kedatangan Itachi.
"Begitukah?" Tanya Itachi ragu-ragu.
"Iya! Ayo masuk perkenalkan dirimu ke semua orang." Murid itu langsung menyeret-nyeret Itachi ke depan kelas. Seluruh siswi langsung terpesona oleh Itachi, termasuk murid kelas XI, tapi tidak bagi Miwa. Ia sepertinya masih kesal dengan Itachi karena ucapannya kemarin.
'Cih! Kenapa si keriputan itu malah bisa di sini sih?' batinnya dalam hati.
"Ayo Itachi-san perkenalkan dirimu!"
"Iya. Namaku Uchiha Itachi. Senang bisa bertemu kalian semua."
"I-iyaaa.."
"Kyaaa ganteng banget!"
"Baiklah, Itachi-san. Perkenalkan aku Mashiro Michael, yang berambut biru itu Sakamoto Mamoru, dan yang itu Sakamoto Miwa."
"Doozo Yoroshiku, Itachi-san!" ujar Mamoru dan Miwa.
'Ternyata sedikit sekali kakak kelas yang aktif di eskul ini. Dan Miwa? Terdengar tidak asing.' Batin Itachi.
"Hahaha maaf ya kalo sedikit, aku harap kau bisa aktif disini tidak seperti yang lainnya." Ujar Michael sambil tertawa kaku seakan-akan ia bisa membaca pikiran Itachi.
"Ternyata kau ikut eskul ini juga, Itachi?" ujar Mamoru.
"Heh, kau kenal dia Mamoru?" tanya Miwa sedikit terkejut.
"Tentu sajalah, ia murid baru yang sekelas denganku." Balas Mamoru.
"Ohhh... Begitukah?" Miwa hanya ber-oh ria.
"..."
"Yasudah kalo gitu, Michael-kun aku duluan ya!" Miwa langsung mengambil tasnya dan pamit ke Michael.
"Eh, tunggu dulu! Kita kan baru sebentar, kok main pulang aja?"
"Maaf. Sudah ya! Permi- Kyaaa!" Miwa terpeleset akibat kakinya sendiri, didepannya tepat ada Itachi. Itachi pun secara sigap menangkap Miwa. Kurang beruntungnya, karena Itachi belum siap jadi ia pun juga terjatuh dan ia ditimpa Miwa. Juga..
GUBRAAKKK!
"!"
"Miwa! Kau baik-baik sa-"
"EH?"
Deg.. Deg.. Deg..
Semua orang yang terbelalak melihat pemandangan didepan mereka. Ya, Itachi dan Miwa bersentuhan bibir *Jae: "Mesum nih authornya"*.
"HIEEEEEEE?!
Miwa dan Itachipun langsung terbelalak kaget, Miwa cepat-cepat langsung berdiri dan meninggalkan ruangan tersebut. Ia memilih untuk lari karena ia tidak ingin memperlihatkan muka merahnya, meskipun ia sangat ingin melempar Itachi dari jendela.
Itachi memegangi bibirnya yang baru saja bersentuhan dengan bibirnya Miwa.
"ITACHIIII! APA YANG KAU LAKUKAN?!" Aura pekat muncul dari Mamoru, ia benar-benar tidak terima adiknya disentuh seperti itu oleh orang yang baru saja ia kenal.
"Tu-tunggu. Itu sebuah ketidaksengajaan." Itachi mencoba mengelak. Terlambat, Mamoru telah menarik Itachi dan melemparnya keluar jendela.
PRANGGGG..
Jendela itupun pecah, beruntung karena kelas itu di lantai dasar jadi Itachi hanya terkena ringan. Sedangkan Mamoru? Ia sukses menerima undangan menuju ke ruang BP atau BK karena ia sudah merusak properti sekolah dan melakukan tindakan kekerasan terhadap siswa. Mengapa bisa? Karena kebetulan Kushina-sensei sang guru BK killer kebetulan lewat melihatnya. Mamorupun juga diminta untuk memanggil orang tuanya dan mengganti kaca yang pecah. Sejak itu, kepala sekolah yaitu Senju Tsunade, memutuskan untu meberi trali pada pintu dan jendela pada seluruh ruangan. (Jae: "Bener-bener sadis.")
Sementara itu Miwa, ia berjalan dengan langkah cepat menuju gerbang sekolah. Mukanya termerah semerah rambut Sasori, ia memikirkan Itachi. Cowok yang sudah merebut first kissnya. Perasaan suka, benci tercampur menjadi satu di dalam hatinya, tapi perasaan sukalah yang paling banyak. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya mencoba menghilangkan pikiran itu dari kepalanya, dan sedikit berharap untuk tidak bertemu dengan Itachi lagi.
.
.
.
.
Kita intip Hidan yuk!
Hidan menjejaki kakinya malas didepan pintu kelas X IPA 4, dalam lubuk hatinya ia benar-benar tidak ikhlas ikut eskul. Tapi jika ia tidak ikut, ia hanya akan terduduk sendirian di markas yang gelap nan horror itu sambil ditemani Zetsu. Tentu saja ia sama sekali hal itu menimpa dirinya.
"Hahh.. Jadi di sini ya, tempat anggota eskul rohis berkumpul?" Hidan menghela nafas, ia kemudian masuk kedalam kelas itu. Seketika makhluk-makhluk didalamnya langsung menatap Hidan.
"Ah, ada apa ya?" tanya salah satu murid kelas XI.
"Begini aku ingin bergabung dengan eskul ini." Jawab Hidan.
"Ho.. Apa kau benar-benar ingin masuk rohis? Soalnya tampangmu.." Ujar orang itu sambil memandangi dada Hidan yang terbuka.
"Ada apa dengan tampangku?" jawab Hidan garang sambil mengangkat kerah baju orang itu.
"Ti-ti-ti-ti-ti-tidak ada kok. Silakan perkenalkan diri! Anda sudah resmi masuk ke eskul." Jawabnya ketakutan.
"Baiklah! Saya Hidan, salam kenal!"
Heninggg...
"Ini orang beneran masuk rohis, tapi tampang-"
"Iya, ya. Kayak preman pasar." Bisik anggota eskul tersebut yang masih kelas sepuluh. Hal itupun membuat Hidan tak enak hati.
Krieettt...
Seorang lelaki masuk ke kelas, dengan rupanya yang tampan seperti orang korea, berpakaian berantakan dan bermandikan keringat karena habis bermain basket.
"Ahh.. Jae-senpai!"
"Hng?" Jae melihat sosok Hidan yang berdiri di depan kelas. Mereka saling bertatapan dengan perasaan benci.
"Ngapain loe disini?" tanya Jae ketus.
"Harusnya gue yang bertanya, kenapa loe disini bukannya kamu ikut eskul basket?" tanya Hidan balik.
"Kok lu malah nanya balik sih? Jawab dulu donk pertanyaan gue!" Balas Jae.
"LOE DULU!"
"POKOKNYA ELU DULU! KAN GUE YANG PERTAMA KALI NANYA!"
"LOE!"
"ELU!"
"LOE!"
"ELU!"
"LOE!"
"ELU!"
"LOE!"
"ELU!"
"LOE!"
"ELU!"
"LOE!"
"ELU!"
"LOE!"
"ELU!"
"LOE!"
"ELU!"
"LOE!"
"ELU!"
"LOE!"
"ELU!"
"LOE!"
"ELU!"
"LOE!"
"ELU!"
"LOE!"
"ELU!"
"LOE!"
"ELU!"
"LOE!"
"ELU!"
"LOE!"
"MUKA LO BUSUK!"
"BAU LU BUSUK SEPERTI E'EK KUCING!"
"GUE BENAR-BENAR TIDAK SUKA DENGANMU!"
"GUE BENAR-BENAR BENCI DENGANMU!"
"LEBIH BAIK LO PERGI DARI SINI!"
"LEBIH BAIK LU MATI!"
"ORANG PIRANG JELEK!"
"PENGANUT SESAT!"
"SETIAP BERTEMU DENGAN LO RASANYA GUE INGIN MATI!"
"GUE JUGA!"
BUAK.. BUAK..
"MATI LOE NJENG!"
"HARUSNYA LOE YANG MATI!"
CIAT.. CIAT.. DESH... BLETAK.. BLETAK.. DUING..
Para anggota rohis itu hanya bisa terdiam melihat pertengkaran mereka berdua. Ya, benar-benar mesra (Jae&Hidan: "APA LO BILANG?"). Pertengkaran itupun berhasil diceraikan setelah guru BK killer selain Kushina-sesei alias Mitarashi Anko. Akhirnya merekapun diseret ke ruang BK dan mendapat ceramah rohani dan disuruh membersikan WC cowok yang super bau. Masih belum bisa diketahui kapan pasangan ini bisa damai.
Saatnya kita intip Kisame!
Para anggota eskul basket dari kelas 10 sampai 11 sedang berkumpul dilapangan untuk latihan.
"Lihat-lihat! Siluman jejadian main basket!" Bisik Ino yang termasuk anggota eskul basket.
"Badannya sih, emang tinggi, tapi aku gak yakin kalo dia bisa main basket." Remeh Karin sambil tersenyum remeh.
"Cih mereka meremehkanku! Lihat saja nanti!" Guman Kisame sambil tersenyum miring.
"Baiklah kita mulai!"
Priiitt..
Pelatih meniupkan peluitnya menandakan bahwa latihan telah dimulai. Secara sigap, Sasuke langsung mendrable bola dan bermaksud melemparnya ke Naruto, sayangnya bola langung direbut oleh Naoyuki Yanagi (OC), dan melemparnya ke arah Kisame.
"Kisame! Tangkap!" Secara cekatan Kisame langsung menangkap bolanya dan berniat untuk memasukinya kedalam ring. Kiba mencoba merebut bola dari Kisame, sayangnya Kisame terlalu tinggi sehingga Kiba tidak bisa meraih bola yang ada di tangan Kisame.
Syut... Brak..
Kisame langsung melempar bola basket itu ke arah ring, meskipun jaraknya cukup jauh namun, bola itu masuk ke dalam ring secara mulus.
Cewek-cewek yang meremehkan Kisame tadi terbelalak melihatnya. "Ah paling Cuma kebetulan." Bisik mereka lagi.
"Prittt! 3-0!"
"Nice Shoot, Kisame!" puji Suigetsu
Pritt..
Peluit milik pelatih berbunyi kembali, menandakan bahwa latihan kembali dilaksanakan.
"Kali ini kita tidak boleh kalah dari siluman itu, paham?"
"Paham!" ujar Tim Shiro serempak.
"Baiklah bubar!"
Suigetsu berhasil merebut bola dari Tim Shiro. "Hahahaha! Dasar tim pa-" Suigetsu menabrak Choji dan langsung tepar. Chojipun langsung mengambil bola basket itu dan membawa kemudian mengopernya ke Omoi. Omoi langsung saja melemparnya ke dalam ring.
TAP!
Bola yang dilempar langsung ditangkap secara indah oleh Kisame, iapun langsung mengopernya ke Yanagi dan Yanagi kempali mengopernya ke arah Lee.
"LEMPARAN PAGI!"
BRAK..
Bola menembus lagi di ring musuh, Tim Akai-pun bertambah satu poin.
"Pritt... 5-0"
"Pa-pasti hanya kebetulan lagi!"
"Iya benar!"
Priiitt..
Pertandinganpun kembali dimulai.
7-0
7-2
10-2
"Ti-Tim Shiro.. Kalah telak?"
"Berkat kau kita menang Kisame!" ujar Suigetsu sambil merangkul Kisame.
"Hahaha, masa sih?" tanya Kisame agak merandah diri.
"Betul kok! Kau memang hebat Kisame-san!" puji Rock Lee.
"Kyyaaa Kisame-senpai! Kau hebat sekali barusan! Lain kali ajari aku main basket donk!"
"Aku juga!"
"Kisame-senpai keren bangett!" Secara ajaib para siswi-siswi langsung mengerubungi Kisame. Ketenara Kisame bahkan melebihi Sasuke, tentu saja hal ini pertama kalinya bagi Kisame. Akhirnya ia merasakan rasanya dikerebungi perempuan. Hal itu membuat Naruto cemburu karena Ino juga ikut-ikutan mengagumi Kisame.
Haha =) *sweatdrop*, sudahlah ayo kita intipin yang lain.
Kakuzu merasa tak nyaman berada di dalam eskul Akutansi itu, disekelilingnya hanya ada bendahara-bendahara dari kelas-kelas lain. Sifatnya? Yup, 11-12 lah dengan Kakuzu. Kenapa Kakuzu bisa tau bahwa mereka bendahara? Karena waktu itu pernah ada panggilan untuk seluruh bendahara, karena Arisa waktu itu sakit. Dan yang lainnya Arisa terus bersandar sambil memeluk tangannya, tentu saja hal itu membuatnya tambah nyaman. Ditambah lagi bendahara eskul itupun super kikir. Bahkan uang kas eskulnya 15 ribu rupiah seminggu (Jae: "Ebusyet mahal amat!").
"Hahh..." Kakuzu mendesah, ia benar-benar menyesal bisa masuk eskul ini. Ditambah lagi Arisa yang selau menempel dengannya.
"Kaju-kun.. Aku mau pipis temenin donk!" melas Arisa sambil menggoyang-goyangkan lengan Kakuzu.
"Pergi sendiri, lah! Aku lagi capek!" Jawab Kakuzu cuek.
"Hueeee... Kuju-kun jahat! Ayolahhh.."
"Tidak!"
"Ayolah!"
"Tidak! Pergi saja sendiri!" Kakuzu langsung menendang Arisa dan membuatnya mendarat tepat didepan pintu kelas.
"Hueeee.. Kuju-kun jahat!" Tangis Arisa, seketika Orang-orang sekitar Kakuzupun langsung merumpiin Kakuzu. Sedangkan Kakuzu? Dia cuek-cuek aja. Ck, ck, ck. Dasar cuek.
Disaat bersamaan..
Para anggota eskul band sibuk latihan, tiba-tiba Pein bergidik dan langsung mengangkat tangannya.
"Ada apa Pein?" Tanya Tayuya ke Pein yang tiba-tiba mengangkat tangannya.
"Aku ingin ke toilet bentar, boleh?" tanya Pein sambil memegangi selangkangannya dengan satu tangannya.
"Ehh? Gak boleh! Kita lagi sibuk latihan." Tolak Tayuya.
"Tapi aku udah kebelet!"
"Tahan dikit lagi!"
"Gak bisa!"
"Kalo gitu kencing aja disini!"
"Ya sudah aku kencing disini." Jawab Pein polos dan langsung mencoba membuka resliting celananya tapi langsung dihentikan Konan.
"Hentikan Pein! Jangan malu-maluin! Di depan kita ini banyak orang tauk!" bisik Konan, sedangkan adik-adik kelas yang lain hanya cengok melihat kelakuan Pein barusan.
"Tapi-"
"Sudah-sudah! Kuizinkan! Cepat kembali ya Pein!" Tayuya mengizinkan Pein.
"Okeee!" Pein langsung keluar dari ruangan itu dan menuju toilet dengan kecepatan penuh. Konan, Tayuya dan yang lainnyapun sweatdrop.
Pada saat itulah..
Arisa berjalan di koridor sambil sedikit terisak, kemudian ia melihat Pein yang ada didepannya yang sambil berjalan menuju ke kamar mandi. Ia menatap Pein kemudian matanya berbinar-binar melihatnya. Ia langsung menghampiri Pein dengan berlari dan...
"!"
Apa yang akan terjadi pada Pein? Tunggu saja di chapter selanjutnya.
~-Bersambung-~
Jae: "Hoi! Bangun! Kita udah mau penutupan nih!"
AeriaCatZ: *masih molor dengan tenang*
Jae: "Hei! Heii! Bangun! *goyang-goyangin badan authornya*"
Jae: "Tidak ada cara lain lagi aku harus.."
Jae: "AHHH ADA OROCHIMARU!"
AeriaCatZ: "APA OROCHIMARU? DIMANA? *panik*"
Jae: "Gak ada kok, sudah cepet tutup penpiknya."
AeriaCatZ: "Haizz.. Iya-iya! Baiklah untuk para pembaca terima kasih sudah membaca sampai habis. CatZ gak nyangka kalo chapter ini bisa sampe 3000+ kata termasuk curcol. Senang sekali rasanya bisa melihat jumlah fav dan follow bertambah, padahal ni penpik gaje betul. "
Jae: "Ia benar, penpik ini memang gaje."
AeriaCatZ: "Diam kau! Ngomong-ngomong bagi kalian yang penasaran dengan kelanjutannya silakan tunggu sekitar minggu depan. Oh iya, author minta maaf atas keterlabatan update, soalnya author kena WB.
AeriaCatZ: " Oh iya maaf ya, bagian Tobi, Deidara, Sasori, tidak dimunculkan. Soalnya author gak punya ide. Kalo dipaksain nanti malah jadi gak bisa update. Baiklah demikian dari yang bisa author sampaikan, terima kasih telah membaca! Jangan lupa like, follow, dan reviews ya! *langsung digebukin lagi oleh Jae pake panci*
Jae: "Jangan maksa woy!"
.
.
.
.
.
.
Thank you very much for your fav, follow, and reviews
Could you give us a reviews, please?
