Chap 9
" Aku pulang.."
"Ah! Niisan! Okaerinasai!"
Sasuke tersenyum melihat wanita di depannya. Ia jatuhkan tas berisikan file-file perusahaan yang lumayan berta itu dan langsung memeluk Hinata dengan eratnya.
"Loh? Niisan kenapa?" tanya Hinata membalas pelukan Sasuke dengan sedikit tersenyum.
"Aku kangen.."
Hinata mengerutkan dahinya. "Kangen? Aku cuman ditinggal olehmu 8 jam kok?"
"Hanya? Itu lama sekali Himeku!" Jawab Sasuke mengeratkan pelukannya sambil menggoyangkan tubuhnya seperti anak kecil yang berpelukan.
"Aduh.."
"Hah? Kenapa sayang? Pelukannya terlalu erat ya?"
"Pelukannya kurang erat Niisan!"
Sasuke tersenyum lalu mencium bibir mungil istrinya yang juga berbadan mungil namun berbentuk indah.
"Ih! Di bilangin pelukannya yang kurang kenceng malah di cium!" Gerutu Hinata.
"Apa? Ciumannya kurang lama?" Sasuke lalu mencium lagi bibir manis Hinata, kali ini ciumannya agak menuntut namun Hinata melawan kei nginan suami mesumnya tersebut.
"Niisan, kau agak tuli ya? Kok malah dicium sih?" Hinata kali ini jengkel namun selain jengkel sebenarnya ia senang dengan perlakuan suaminya.
"Karena aku cinta… Aku hanya dan selalu mencintai Hinata, istriku yang tersayang selama-lamanya." Bisik Sasuke di telinganya. Mendengar hal itu Hinata mengeluarkan rona merah khasnya dan menatap Sasuke sesaat dan kemudian menarik kepala suaminya itu dan menciumi bibirnya.
Setelah ciuman yang bisa dibilang panas itu, Sasuke lalu menggendong Hinata ala Bride style. Yah seperti yang dilakukan pengantin-pengantin itu loh. Lalu Sasuke membawa masuk Hinata kedalam Kamarnya dan menaruh atau tepatnya menidurkan Hinata diatas kasurnya. Sasuke lalu segera membuka kemejanya namun..
"Niisan mau apa?"
"Hah? Yah melakukan hal yang biasa kita lakukan dimalam hari."
"Ooh! Aku kan sudah bilang.."
"Bilang apa Toh?" tanya Sasuke pura-pura innocent.
"Sebelum Niisan makan yang namanya Tahu atau apapun yang berbahan dasar KEDELAI, maka kita tidak akan MELAKUKANNYA!"
"A..a..aku kira kamu lupa."
"Niisan..kalo ga makan kedelai..nanti..bisa-bisa…"
"Bisa..bisa apa?"
"Ga punya Bebi.."
"Hi..Hinata, kamu pengen anak?"
Hinata mengangguk sambil menggembungkan kedua pipinya yang chubby.
Hari Ini adalah hari yang menyenangkan, sekaligus melelahkan untuk Hinata. Tadi siang layaknya anak muda jaman sekarang, Hinata bermain bersama Ino dan teman-temannya. Tentu saja Sasuke mengijinkannya, walaupun ada sedikit rasa khawatir juga cemburu karena ia tahu Hinata akan selalu berteman dengan bocah yang bernama Chouji. Sepulang bermain dengan teman-temannya Hinata mendapati lampu teras yang sudah menyala, menandakan hadirnya seseorang di dalam rumahnya. Tanpa ragu ia segera masuk kedalam rumahnya dan kembali menutup pintu rumahnya.
"Aku pulang."
" Oh Hinata, sudah pulang."
Hinata membulatkan matanya saat ia mendapati Sasuke yang kini sudah lebih dulu berada di rumah dibandingkan dia sendiri.
"Loh Nii-san kok sudah pulang?"
"Hn? Iya hari ini aku gak lembur. Kau sudah makan?"
" Sudah, barusan sama Ino dan yang lainnya."
"Oh."
"Nii-san sudah makan? " Tanya Hinata sambil menatap suaminya dengan matanya yang bulat.
"Hn, aku sudah makan tadi."
"Oh ya, Ada yang ingin kubicarakan."
"Mandilah dulu." Jawab Sasuke.
" Iya."
" Aku ingin membuat pengakuan."
"Pengakuan apa?" tanya Sasuke sambil merangkul pelan pundak istrinya yang kini terduduk kaku di sofa.
"Nii-san ingat tidak temanku yang berambut merah itu?"
"Hn, rambut merah? Yang cowok?"
"I..iya."
"Oh dia, memangnya kenapa?"
"Seb..sebenarnya dia itu…"
"Hn? Kenapa Hinata?" Sasuke mengernyitkan dahinya saat ia melihat raut wajah Hinata yang tidak seperti biasanya.
"Anu, dia itu.. M..mantan..ku."
"Hah?!"
"I..itu dulu! Sekarang sih bukan." Jawab Hinata.
"J..jadi dia itu mantan pacarmu?" Teriak Sasuke memecah keadaannya yang tadinya sunyi.
"Kau jangan bertemu lagi dengannya." Ucap Sasuke penuh penekanan.
"Tidak bisa, soalnya dia temanku."
"Kalau begitu setiap kau bertemu dengannya harus ada aku mengerti?"
"K..karena itu nii-san, besok lusa ada acara atas kelulusannya dan aku diundang. Emm.. Nii-san mau kan menemani aku ke pesta?"
"Aku malas." Sasuke mengalihkan pandangannya dari Hinata dan melipat kedua tangannya di depan dada. Hinata mengerucutkan bibirnya. Ia merasa kesal karena suaminya menolaknya, lali ia ingat akan rasa cemburu yang sering suaminya tunjukan dan Hinata pun tersenyum sinis.
" Ya sudah kalau tidak mau ya tidak apa-apa. Ah ya, besok pasti ada dansa, hmm.. aku akan berdansa dengan siapa ya?"
" Acara kelulusan aja pakai dansa-dansa-an segala! Anak jaman sekarang maunya aneh-aneh aja!" Teriak Sasuke frustasi.
"Apa sih marah-marah? Huh!"
" Aku ikut! Kau Cuma boleh berdansa denganku!" Jawab Sasuke menarik tangan Hinata dan menggenggamnya dengan erat . Ia tarik pinggang Hinata mendekati tubuhnya, mendekati wajahnya dan memiringkan wajahnya. Saat bibirnya hampir bertemu dengan bibir istrinya, Hinata segera menutup mulut Sasuke dengan tangannya.
"Kenapa?" Tanya Sasuke heran.
" Tidak makan kedelai tidak ada perlakuan yang aneh-aneh." Jawab Hinata dengan wajah yang datar.
" Aneh bagaimana? Ini kebiasaan wajar yang dilakukan suami-istri kan?"
" Tidak makan kedelai berarti cuti dari status suami-istri!" Hinata lalu melepaskan tangan Sasuke dari pinggangnya dan pergi meninggalkan Sasuke yang masih membuka mulutnya dengan lebar.
Silau, itulah yang dirasakan oleh mata Sasuke saat ini. Sebuah cahaya yang begitu terang memancarkan sinarnya tepat ke mata onixnya. Sambil menyipitkan matanya terdengar sebuah tawa yang begitu khas yang tentu saja ia kenali yaitu tawa Hinata. Tanpa pikir panjang ia mencari dari mana sumber suara tersebut dan setelah memastikan asal suara yang ternyata berasal dari dalam cahaya terang itu Sasuke tanpa pikir panjang memasuki cahaya itu. Seorang wanita muda berambut indigo memeluk seorang pria yang tidak terlihat wajahnya. Tubuh pria itu memunggungi Sasuke. Sasuke mendekati kedua makhluk yang saat ini sedang berpelukan mesra.
"Siapa itu? Kenapa kepalanya botak?" Gumam Sasuke saat dirinya mendekati pria yang masih terus berpelukan dengan wanita indigo di depannya.
"H..Hinata?" Sasuke mengintip dari arah belakang pria tanpa rambut tersebut dan benar ternyata apa yang Sasuke duga, wanita itu adalah Istrinya.
Dengan panik Hinata melepas pelukannya dari pria tanpa rambut tersebut sambil meneguk ludahnya.
"Niisan, aku.."
"S..siapa dia Hinata?!"
"Aku minta cerai!"
Sasuke membulatkan matanya, Ia menggeram hingga gigi taringnya yang rapih muncul dari mulutnya yang sedikit terbuka. Tanpa ragu ia segera menarik tangan pria tadi berpelukan dengan istrinya hingga badan pria iu berputar menghadap tubuh Sasuke dan..
"Kedelai?" Ucap Sasuke melebarkan matanya.
"Ni..Niisan, kenalkan dia calon suamiku setelah kita bercerai nanti.. dia tuan Kedelai.
Sasuke membuka mulutnya lebar-lebar seolah-olah tak percaya, lalu dia segera menarik Hinata dan menggenggam erat pundaknya.
"Kenapa kamu mau sama pria tanpa muka seperti dia? Dan kau tahu, dia bukan manusia?! Dia.."
"Kedelai. Aku tau dia bukan manusia. Sudah aku bilang kan, kalau aku ingin memiliki seorang anak.."
"Kalau anak, kan aku bisa.."
" Kau tidak bisa.. karena kau… tidak makan kedelai."
Sasuke menjatuhkan tangannya yang lemas, dan tidak terasa air mata jatuh ke pipinya yang mulus dan bersih. Dia tidak menyangka, dirinya yang dipuja oleh banyak wanita kini kalah oleh sebuah kacang kedelai.
"Selama tinggal Niisan." Hinata pergi meninggalkan Sasuke sambil merangkul mesra pria kedelai disampingnya, dan perlahan mereka menghilang.
"Tidaaaaak!"
Sasuke membelalakan matanya, ia melihat sekeliling kamarnya yang gelap dan hanya bercahayakan cahaya bulan yang masuk dari celah gorden kamarnya. keringat membasahi pelipisnya. Kesadarannya kian penuh saat tangan kecil merengkuhnya. Ia segera menoleh kearah samping kanannya dan menemukan wanita yang ia cintai menatapnya dengan cemas.
"Mimpi buruk?" tanya Hinata sambil menggenggam erat tangan suaminya.
Sasuke menghela napasnya sambil menunjukan wajah memelasnya. Kemudian ia segera memeluk wanita yang ia cintai dan menenggelamkan wajahnya di tengkuk istrinya.
"Jangan tinggalkan aku."
Hinata tersentak sesaat. Kemudian ia mengelus pelan punggung lebar suaminya dengan lembut.
" Aku disini, aku tidak akan meninggalkan Niisan."
"Janji?" tanya Sasuke masih dalam keheningan.
"Iya."
"Meski pria itu adalah sebuah kacang kedelai?"
Hinata kaget. Ia kemudian tertawa kecil dan melepaskan pelukan Sasuke pada tubuhnya.
"Kedelai? Kau mimpi apa sih?"
"K..kedelai.."
"Hah?Coba ceritakan."
"Di mimpiku kamu minta cerai dan malah ingin menikah dengan pria kedelai karena kau.. ingin anak.."
Hinata menutup mulutnya dengan tangan kanannya. Ia menahan tawanya dikarenakan tampang Sasuke yang begitu polosnya.
"Hahahahaha! Aku akan menikah dengan kedelai?! Hahahaha! Niisan ada-ada saja!" Teriak Hinata sambil mendorong kasar pundak Sasuke hingga pria itu terlentang kebelakang.
" T..tapi mimpinya memang begitu!" Jawab Sasuke setelah ia menegapkan badannya kembali dan memasang tampang sebal.
"Humph.. Makanya.. karena itu.. Niisan harus.."
"H..harus apa?" Tanya Sasuke.
"Makan Tahu!"
Sasuke membelalakan matanya sebentar lalu menunduk. Sesaat membuat Hinata bingung namun ketika istrinya itu mellihat sebuah seringaian kecil samar dari wajah tampan suaminya, ia meneguk ludahnya sendiri.
"Daripada aku makan tahu, lebih baik aku makan saja dirimu.."
Sasuke lalu mencondongkan wajahnya mendekati wajah istrinya.
" Bukk" sebuah bantal mendarat tepat di wajah Sasuke. Hinata mendecih sebal atas sikap suaminya yang mesum itu. Kemudian menarik selimutnya dan kembali tidur membelakangi Sasuke.
Hinata berkaca di depan cermin, ia merapikan rambutnya yang sudah ia tata, memakai anting berwarna merah muda di telinganya membuat dirinya tambah cantik. Setelah memakai parfum yang bisa dibilang mahal karena dipaksa Sasuke untuk membelinya lalu ia segera memakai sepatu putih yang berhiaskan beberapa mutiara dan pita. Dan lagi-lagi itu pemberian Sasuke.
Tidak lama Sasuke masuk dan melihat penampilan Hinata. Riasan yang tidak menghilangkan kecantikan alami wajah istrinya, terlebih ia kini memakai gaun merah muda pendek yang memperlihatkan kaki jenjangnya yang indah.
"A..apa lihat-lihat." Tanya Hinata.
"Hn? Tidak.." Jawab Sasuke malu-malu.
Hinata mengira dirinya akan dipuji oleh sang suami, namun pujian itu tidak diucapkannya. Seketika itu pula semburat merah dari pipinya menghilang, dan Hinata malah mengerucutkan bibirnya.
"Aku tahu kenapa Niisan melihatku seperti itu.."
"Kenapa coba?" Tanya Sasuke.
" Biar aku tebak.." Ucap Hinata sambil berjalan mengelilingi Sasuke.
"Kau itu, kepengen nyobain pakai baju ini kan?"
"Hah?"
"Ah Niisan, bilang dong kalau kau ingin dirias lagi.."
"Enak saja! Mana mau aku pakai rok pendek begitu!"
"Terus kenapa lihat-lihat?"
Sasuke menarik pinggangnya hingga Hinata menabrak tubuhnya. Sasuke lalu memegang dagu wajah mungil tersebut dan membisikannya sesuatu.
"Kau cantik Hinata."
"B..Bohong." Jawab Hinata malu.
Sasuke menatap dalam mata istrinya dan menggeleng pelan. Ia tarik tangan hinata dan ia tempel tangan kanan Hinata ke dada kirinya.
"Terasa kan detak jantungku? Ini lah yang aku rasakan setiap aku melihatmu."
"N..Niisan kan…"
"Hn?"
"Niisan kan punya penyakit, waktu dulu juga dadamu ini sakit."
"Hah? i..itu kan.."
"Kau sepertinya harus ke dokter deh." Jawab Hinata enteng kemudian melepaskan tangannya dari dada Sasuke.
"Hinata! Kamu kok gak peka sih!"
"Sudah cepat! Acaranya sebentar lagi dimulai.. "
Sesampainya di sebuah gedung mewah bertingkat, Hinata takjub dengan suasana pesta di malam itu. Orang-orang berpakaian mewah yang sudah pasti isi dalam dompetnya tidak ada uang receh atau kertas alias kartu kredit semua itu kini mondar-mandir di depannya. Apalagi setelah melihat beberapa kudapan yang sudah pasti menggoyang lidah membuat Hinata segera berlari untuk menyantapnya. Sasuke yang melihat istrinya seperti anak kecil itu hanya bisa tersenyum tipis.
"Dasar kau, malu-maluin tau gak?" Sasuke tertawa kecil sambil menepuk pelan kepala Hinata yang dengan sibuk mengunyah-ngunyah makanan mewah tersebut.
"Nyam-nyam, ini enak sekali Niisan!"
"Kau itu, ucap salam dulu sanah sama teman merahmu itu."
"Hm? Oh iya!" Hinata menyerahkan piring yang ia pegang kepada Sasuke dan segera mengelap mulutnya. Kemudian ia mencari-cari Gaara yang entah ada di mana saat ini. Setelah sekian lama mengitari gedung, barulah ia mendapatkan Gaara yang sedang bercakap-cakap dengan teman sebayanya.
Sesaat kemudian, ketika Sasuke menatap Hinata yang sedang mencari-cari Gaara, Sebuah tangan menyentuh telapak tangannya dengan lembut dari belakang. Sasuke terkejut dan menoleh kebelakang dan seketika itu pula matanya terbelalak.
"Karin?!"
"Sudah kuduga, kau pasti datang Sasuke."
Sasuke menyipitkan matanya, kemudian mengeluarkan seringaiannya. Ia kemudian menepis kasar tangan Karin yang masih menggenggamnya.
"Pantas saja aku merasa tidak asing dengan wajahnya." Ucap Sasuke.
"Siapa?" Tanya Karin.
"Bocah merah itu. Dia.. adikmu kan?"
Karin tersenyum tipis lalu mendekati Sasuke dengan perlahan, membuat pria itu mengalihkan pandangannya.
" Sasuke, terima kasih kau mau datang ke acara-ku."
"Acara-mu? Sayang sekali tetapi aku kemari untuk menemani Istriku..Istri tercintaku."
Karin tersenyum sinis setelah mendengar ucapan Sasuke. Kemudian ia mendekatkan bibirnya menuju telinga Sasuke sambil berbisik.
"Kau mungkin mencintainya, tapi bagaimana kalau dia tidak mencintaimu?" Bisik Karin sambil menyentuh wajah Sasuke di sampingnya, namun Sasuke segera menangkap tangan itu dan mencengkram pergelangannya hingga Karin meringis kesakitan.
"Apa maksudmu Karin?"
"Kau tahu kalau dia mantan kekasih Gaara?"
"Hn."
"Oh kau sudah tahu rupanya." Jawab Karin santai.
"Hn."
"Oh~"
Hening. Sasuke dan Karin hanya saling bertatap muka dengan wajah angkuh masing-masing beberapa saat. Sasuke terus mempertahankan ekspresi wajahnya ketika ia melihat Karin mengangguk-anggukan kepalanya seakan mengetahui sesuatu. Namun tiba-tiba kepala merah itu terangkat dan menampilkan wajah terkejut Karin yang sebenarnya membuat pria Uchiha tersebut hampir tertawa.
"Apa?! Kau Tahu?!"
"Hn."
"Hah?!"
"Kenapa kau terkejut Karin?" Tanya Sasuke santai.
"T-tentu saja! I-itu kan.. E-emh bukan urusanmu!"
"Hn."
"S-Sialan! Ternyata dia sudah tahu? Padahal rencananya aku ingin membuat Sasuke terkejut dan akhirnya dia tidak percaya sepenuhnya pada bocah kampungan itu! Sialan Kau Hinata! Gaara.. Dimana pula anak itu! Aku harus mengganti strategi!" Gumam Karin dalam hati.
Sasuke yang melihat tingkah aneh Karin di depannya, akhirnya memutuskan untuk mencari Hinata. Karena ia tidak menemukan Hinata di dalam gedung, maka ia memutuskan untuk mencarinya di teras atau Balkon. Namun saat ia sampai di Balkon ia menemukan Hinata kini tengah berdansa dengan pria berambut merah.
"H-Hinata!" Teriak Sasuke.
Hinata terkejut dan menoleh kea rah belakang dan mendapati Suaminya dengan tanjam menatapnya. Ia lalu segera menjauhi Gaara di depannya dan segera mendekati Pria itu.
"Sasuke-Nii!" Sapa Hinata dengan ceria.
"Kau sedang apa bersama dia hah?!"
"Ah, aku Cuma latihan dansa sama Gaara-senpai, Iya kan senpai?"
Gaara tersenyum dengan pelan dan mengangguk. " Hinata bilang ia ingin bisa berdansa, sehingga ia memintaku untuk mengajarinya." Jawab pria merah tersebut.
"Hh. Hinata, Aku lebih pintar berdansa di banding dia kau tahu?"
"Masa?"
Sasuke semakin emosi. Nafasnya kembali sesak akibat rasa cemburu di dadanya. Hinata kembali mengernyitkan dahinya dan segera mengelus dada Sasuke, karena ia berpikir Sasuke benar-benar sedang sakit.
"Kau ngapain Hinata?!"
" Dadamu sakit lagi kan Niisan?" Jawab Hinata polos.
"K-Kau itu.."
"Sudah, bagaimana kalau kita pulang?" Tanya Hinata.
"Tidak!"
"Hah?"
"Hei kau bocah merah."
"Ada apa?" Jawab Gaara dengan wajah tanpa ekspresi sambil berjalan mendekati Sasuke.
"Sekarang Juga, ayo kita bertanding."
"Hah? Maksud anda?" Tanya Gaara heran. Hinata juga heran.
"Maksudku.." Sasuke berjalan menjauhi Hinata dan mendekati Gaara sambil berbisik di telinganya. " Bagaimana kalau kita bertanding agar kita tahu siapa yang di pilih Hinata."
Gaara terdiam. Namun tidak lama kemudian seulas senyuman tipis ia tunjukan di hadapan pria Uchiha tersebut.
"Menarik.."
TBC
Udah lama ya? 1 taon lebih.. hahaha.. maaf banget reader, tapi yang penting masih saya lanjut kan? Banyak halangan soalnya. Kecapean gara-gara tugas yang banyak sekaleee. makin garing! Humonya makin gak ada! HELP MEEEEH! Mohon repiew ya hihi
Salam Hangat Nao-shi
