N A U G H T Y

By Hanluxx1220

Main cast: Xi Luhan-Oh Sehun

Pairing: HunHan

DLDR! Siders? Bengkak~

Disclaimer: All cast milik TYME dan orangtua masing-masing. Semua ide cerita milik author dan author hanya meminjam namanya saja.

.

.

Summary:Wajah si manis ini menipu sekali. Berbanding terbalik dengan sifat nakal yang dimilikinya. "Astaga, bocah ini. Bisakah kau berhenti?"-Sehun. "Seh-, maksudku sunbae tampan! Tunggu aku!"-Luhan.

.

Entah berapa puluh tenda yang sudah siap di atas pasir pantai Jeongdongjin ini. Walaupun ada banyak tenda, tapi tidak mengganggu aktivitas pengunjung dan tidak membuat sempit dan berdesakan. Anak-anak ini pandai mengatur semuanya.

Langit sudah mulai menggelap. Dan saat ini mereka semua sedang makan kimbab dengan duduk melingkar dengan api unggun di tengah-tengahnya. Tadi Anak-anak kelas XI-II yang membuat api unggunnya.

"Sehun, kau bawa kamera?"

"Ya."

"Aku mau pinjam."

"Untuk apa? Nanti rusak."

"Kau ini pelit sekali. Aku hanya akan memotret pantainya saja. Boleh, ya?"

"Hm. Kameranya ada di tendaku. Tapi selesaikan makanmu dulu!"

"Yeay! Gomawo!" Luhan segera menghabiskan kimbabnya. Kemudian ia pergi ke tenda Sehun dan mengambil kamera. Satu tenda untuk 15 orang. Sehun satu tenda dengan Kris, Chanyeol, Kai, Suho, Jin, Daehyun, Namjoon, Sejun, Mark Tuan, Jinyoung, Taecyeon, Seungcheol dan Mino. Sedang Luhan satu kamar dengan Baekhyun, Lay, Kyungsoo, Minhyuk, Myungsoo, Jungkook, Jaehyun, Wonwoo, BamBam, Yugyeom, Yuta, Ren, Minhyun dan Ryeowook. Baiklah, Luhan dan Minhyuk satu tenda.

Ckrek!

"Ha?" Sehun terkejut saat Luhan tiba-tiba dafang dari belakang dan mengambil foto mereka berdua.

"Haha! Wajahmu lucu, Sehun."

"Hapus!"

"Jangan! Ini bagus!"

"Terserah kau saja."

"KALIAN BEBAS MELAKUKAN APAPUN DISINI! ASAL JANGAN ADA YANG SAMPAI TENGGELAM! HATI-HATI KALAU BERMAIN DI AIR! MENGERTI?" Tanya Choi seonsaengnim.

"MENGERTI!"

Luhan tertawa senang dan menghampiri Baekhyun.

"Aku harap memori kameraku masih ada yang kosong walau hanya sedikit." Gumam Sehun miris.

"Kris!"

"Hm?"

"Adikmu... Apa... Dia punya kekasih?" Tanya Sehun.

"Sepertinya tidak. Kalau dia punya, dia pasti akan memberitahuku. Wae? Kau menyukainya? Tenang saja. Aku merestui kalian." Kekeh Kris.

"Tidak! B-bukan seperti itu!"

"Lalu?"

"A-ada temanku yang menyukai Luhan. Aku hanya disuruh bertanya!"

"Oh ya? Siapa temanmu? Dan tumben sekali kau mau disuruh-suruh."

"Aku lupa!" Sehun langsung meninggalkan Kris yang tertawa tidak jelas.

.

.

Hap

Luhan menangkap syal hitam yang tiba-tiba saja terlempar ke arahnya.

"Pakai itu. Sekarang sudah malam. Nanti kau kedinginan." Ujar Sehun tanpa menatap Luhan.

"G-goma–"

"Jangan salah paham! Itu punya Kris! Kris yang menyuruhku memberi syal itu padamu." Potong Sehun. Luhan yang mendengarnya langsung mengerucutkan bibirnya lucu.

"Baiklah! Ini kameramu. Gomawo." Usai mengembalikan kamera Sehun, Luhan langsung pergi masuk ke tendanya.

"Bagus sekali. Memoriku penuh." Gumam Sehun yang melihat semua foto Luhan, Baekhyun dan Lay. Sebenarnya Sehun hanya melihat wajah Luhan saja. Sehun duduk di atas pasir pantai yang berwarna putih. Sesekali ia terkekeh kecil jika wajah Luhan teracak atau wajah Luhan yang terlihat menggemaskan. Namun senyum dan kekehannya luntur seketika saat wajah Minhyuk terlihat di layar kameranya. Bukannya apa. Minhyuk merangkul pundak Luhan yang tertawa lebar dan memandang satu sama lain. Tidak, tidak. Sehun tidak cemburu ataupun marah. Ia hanya sedikit kesal karena foto Luhan dan Minhyuk memenuhi kameranya.

Padahal foto Minhyuk dan Luhan hanya 2. Kenapa bisa penuh? Tanyakan saja pada Tuan Oh Sehun.

Puk!

"HWAhmm!" Sehun refleks menutup mulutnya menggunakan tangan saat ia berteriak. Bagaimana ia tidak terkejut? Tiba-tiba saja ada orang yang menyandarkan kepala di pundaknya dan setahunya semua siswa siswi sudah berada di tenda masing-masing.

"Xi Luhan! Bisakah kau tidak mengejutkanku?!" Ujar Sehun yang langsung menyembunyikan kameranya.

"Ish.. Mana aku tau kalau kau akan terkejut." Ujar Luhan yang sekarang sudah memeluk lengan kiri Sehun.

"Y-yya! Lepaskan tanganmu dan menjauh dariku! Nanti ada yang melihat." Ujar Sehun gugup. Luhan malah mengeratkan rangkulannya pada lengan Sehun dan masih menyandarkan kepalanya di pundak Sehun.

"Tidak ada yang melihat."

"Kenapa kau disini? Ini sudah tengah malam."

"Aku tidak bisa tidur." Keluh Luhan. Nada bicara Luhan yang terdengar benar-benar lelah membuat Sehun merasa sedikit kasihan dan membiarkan Luhan bersamanya sementara. Hanya 'sedikit' kasihan.

"Sehun, telingamu memerah." Ujar Luhan yang Sedikit mendongakkan kepalanya.

"I-itu hanya karena aku kedinginan. Ya, kedinginan."

"Kalau begitu pakai syal ini saja. Aku tidak merasa kedinginan."

"Tidak perlu. Aku sudah tidak dingin."

"Hmm." Aroma mint yang menguar dari tubuh Sehun membuat Luhan mengantuk seketika. Tak lama kemudian, terdengan dengkuran halus dari bibir mungil Luhan. Pelukan Luhan pada tangan Sehun melemas. Sehun melirik Luhan yang sudah memejamkan matanya. Ia menyukai gaya rambut yang sekarang. Sekarang Luhan memiliki poni yang terlihat pas di wajahnya. Angin yang berhembus agak kencang membuat poni Luhan bergerak ke sana kemari. Pantulan cahaya rembulan yang menyinari wajah Luhan membuat wajah Luhan tampak sempurna. Sehun mengakuinya. Ia mengakui jika wajah Luhan memang sangat manis dan mempesona.

Hey, ia hanya mengakui tentang wajah Luhan. Bukan yang lain. Sehun menghela nafasnya pelan. Sepertinya ia harus mengangkat Luhan masuk ke dalam tenda. Jika mereka berdua disini sampai pagi, selain Luhan bisa deman, orang lain bisa mengira yang tidak-tidak tentang mereka.

Sehun mengangkat kepala Luhan pelan-pelan agar Luhan tidak terbangun. Kemudian ia mengangkat tubuh Luhan yang ternyata lumayan berat walaupun ia terlihat sangat kurus.

"Sepertinya kau harus mengurangi jatah cemilanmu." Gumam Sehun.

.

.

.

.

.

.

.

"Hoaaaammm!" Luhan mengusak matanya lucu. Rasanya ia sedang menanggung beban di atas perutnya sekarang.

"Yya! Baekie! Singkirkan kakimu dari atas perutku!" Luhan mendorong kuat kaki Baekhyun sehingga si pemilik kaki yang tidak lebih panjang dari kaki Luhan itu terbangun.

"Jangan bangunkan aku, eomma. Ini masih pagi." Racau Baekhyun. Luhan hanya mendengus malas dan melihat ke sekelilingnya. Ternyata sudah banyak yang bangun dan keluar dari tenda. Di luar pun sudah berisik oleh suara siswa-siswi SIS.

"Lay sudah keluar, ya? Aku juga mau keluar." Luhan menyisir rambutnya asal, kemudian memakai syal hitam yang diberi Sehun semalam. Lebih tepatnya diberi oleh Kris. Ia jadi ingat yang semalam. Pasti Sehun yang membawanya ke tenda. Kalau bukan Sehun siapa lagi?

Baru saja kepalanya yang keluar, Hidung Luhan sudah dimanjakan dengan aroma-aroma makanan yang sedang dimasak senior dari kelas XI. Yang lain ada bermain voli pantai, ada yang bermain air, ada yang sedang membelah kelapa muda, dan banyak lagi.

Mata Luhan melirik kanan kiri depan belakang mencari Sehun yang tidak terlihat batang hidungnya. Namun ketika mendapati dimana Sehun berada, bibir Luhan langsung maju beberapa centi. Pasalnya, Sehun dan Irene sedang bermain pasir pantai. Lebih tepatnya Irene. Sehun hanya memandang malas pada pasir-pasir yang sedang dibentuk Irene.

Luhan menghampiri Sehun dan duduk di sebelahnya.

"Sehun, bibirku kering."

"Lalu?"

"Basahkan."

"Astaga." Sehun memukul pelan kepala Luhan karena mungkin otak Luhan yang baru bangun tidur memang sedikit geser. Dan Sehun berniat untuk memperbaikinya.

"Aw! Sakit sekali! Tolong! Huaa!" Ujar Luhan sambil memegang kepalanya.

"Jangan berlebihan! Aku hanya memukulmu. Bukan mengambil keperawananmu."

"Yang itu boleh juga." Kekeh Luhan.

"Otak kotormu kembali lagi."

"Iya, dia sudah pulang ke tempat yang seharusnya."

"Yya! Minggir! Aku mau duduk disitu!" Irene mendorong Luhan menjauh dan ia duduk di sebelah Sehun. Wajah Luhan memerah kesal karenanya.

"Yya! Apakah kau tidak ada kerjaan lain selain mengusirku?!"

"Tidak ada!"

"Jangan berisik!" Irene dan Luhan langsung diam dengan wajah murung.

"H-hey, kalau kita mau mandi... Dimana kamar mandinya?" Tanya Luhan.

"Mandi saja di kamar mandi pengunjung. Kita juga pengunjungkan? Jadi, tidak masalah." Jawab Irene.

"Oh... Kalau begitu aku mau mandi dulu."

.

.

.

.

.

Usai mandi, Luhan mengenakan kaos pantai berwarna putih dengan tiga garis panjang berwarna hitam di tengahnya dengan kacamata hitam yang menggantung di bajunya. Celana pendek selutut yang berwarna hitam, dan sendal santai berwarna kayu. Terlihat sangat santai dan sangat indah jika Luhan yang memakainya.

Luhan mendapati Sehun yang sedang duduk di bangku panjang yang ada di pinggir jalan yang biasa orang lewati jika ingin ke kamar mandi ataupun ke stasiun dari pantai.

"Sehun!" Luhan melambaikan tangannya saat Sehun menoleh.

"Sehun, kau tidak ingin mencari sesuatu?"

"Apa?"

"Seperti oleh-oleh khas Gangneung dan Jeongdongjin, mungkin?"

"Aku tidak tau."

"Kalau begitu pergi bersamaku saja. Aku ingin mencari sesuatu sekarang. Kan sayang kalau tidak membawa apa-apa dari tempat sekeren ini."

"Bawa saja kerang yang ada di pinggir pantai ke rumahmu."

"Ish! Ayolah... Kau ini malas sekali."

"Ck! Baiklah!"

"Yeay! Tapi lepas dulu jaketmu. Apa kau tidak panas?" Ujar Luhan. Sehun mendengus dan melepas jaket hitamnya malas-malasan.

"Sudah. Lalu mau diletakkan dimana?"

"Pegang saja." Kekeh Luhan. Luhan menggenggam tangan Sehun dan menariknya berjalan lebih cepat. Sehun hanya diam dan mengikuti kemana Luhan pergi. Tanpa sadar, Sehun pun membalas genggaman tangan Luhan sehingga mereka saling menggenggam sekarang.

"Sepertinya di sana bagus-bagus. Ayo kesana." Tunjuk Luhan. Sehun hanya mengangguk dan masuk ke dalam toko bersama Luhan.

"Wow... Keren..." Luhan mengambil jam tangan hitam dengan logo Jeongdongjin di tengahnya. Jam tangan itu sangat elegan.

"Kau tidak cocok dengan jam tangan itu." Uhar Sehun.

"Kenapa?"

"Kau cocoknya pakai yang ini." Sehun memberikan jam tangan berwarna pink-putih dengan pasir pantai dan kerang-kerabg kecil di tengahnya pada Luhan.

"Yya! Kau saja yang pakai itu!" Sehun hanya tertawa melihatnya. Sepertinya melihat Luhan yang kesaladalah kebahagiaan tersendiri bagi Oh Sehun.

"Eh?" Luhan menahan nafasnya saatnya Sehun memakainkan topi berbulu putih padanya.

"Pakai saja. Terlihat lucu di wajahmu." Kekeh Sehun. Luhan hanya tersenyum canggung dan mengipasi wajahnya.

Selesai membeli barang-barang khas Jeongdongjin, Sehun dan Luhan berjalan kembali ke tempat anak-anak SIS.

"Sehun, aku lelah." Keluh Luhan. Jarak tenda-tenda dengan toko-toko memang lumayan jauh. Jelas saja Luhan lelah.

"Siapa yang suruh kesini?"

"Tapi kan..."

"Hhh... Pegang ini." Sehun memberikan belanjaannya pada Luhan. Ia menghela nafas dan membungkukkan badannya.

"Naiklah. Jangan berat-berat!"

"Bolehkah? Jinjja?" Tanya Luhan antusias.

"Iya. Cepat atau aku berubah pikiran."

"Oke, oke!" Luhan naik ke punggung Sehun dan memeluk leher Sehun.

"Jangan berat-berat. Ringankan badanmu!"

"Bagaimana caranya?"

"Cari tau sendiri." Sehun berdiri dengan satu kali hentakan.

"Kau ini pakai sabun dan shampo apa kalau mandi?" Tanya Sehun.

"Aku pakai Clear Clear."

"Bohong. Kau pasti pakai shampo bayi." Luhan hanya tertawa mendengar ucapan Sehun yang sepenuhnya benar.

"Tercium sekali, ya?"

"Hm."

"Apa kau tidak suka baunya?"

"Menurutku sangat harum."

"Eii... Kau suka, ya?" Goda Luhan.

"Biasa saja."

"Aku percaya."

Saat sampai di tempat siswa-siswi SIS, semua orang menatap Sehun dan Luhan bergantian. Banyak yang mengatakan jika mereka berdua seperti sepasang kekasih. Sehun tidak mempedulikan semua orang. Sedangkan Luhan menenggelamkan wajahnya di leher Sehun sok malu. Padahal dia tidak punya rasa malu. Punya, tapi hanya sedikit.

"Turunlah."

"Hm."

"LUHAAAANNN!!!"

"Hai Baek."

"KENAPA KAU MENINGGALKANKU HAH?! DARIMANA SAJA KAU?!"

"Jangan berlebihan Baek. Lagi pula kau tadi masih tidur. Aku tidak tega membangunkanmu."

"Aaahh... Luhan kesayanganku." Ujar Baekhyun yang memeluk Luhan.

"Hmm, ini topimu?" Tanya Baekhyun yang sudah melepas pelukannya.

"Iya. Tadi aku dan Sehun jalan-jalan ke toko pernak-pernik. Dan Sehun membelikanku topi ini." Jelas Luhan. Baekhyun membuka mulutnya bingung.

"Benarkah? Sudah banyak perkembangan rupanya." Luhan tertawa mendengarnya.

"Aku tidak tau. Aku tidak memperhatikan apapun. Aku menyukai Sehun. Tapi aku tidak akan memaksa Sehun untuk menyukaiku. Kalau dia menyukaiku, berarti takdirku baik. Kalau tidak, ya... Berarti belum jodoh." Kekeh Luhan.

"Apakah karena topi ini?"

"Apanya?"

"Otakmu jadi waras. Apa karena topinya?"

"Ish!"

"LUHAN! BAEKHYUN! KEMARILAH! KITA AKAN BERMAIN SESUATU!" Teriak Minhyuk dan Minhyun.

"OKE!"

Luhan dan Baekhyun pergi ke arah rombongan. Mereka berdua duduk di sebelah Kris dan Minhyuk yang sedang memegang microphone.

"Syalmu baru?" Tanya Kris pada Luhan.

"Bukankah kau yang memberi ini?"

"Hah? Kapan? Jangan berbicara yang tidak-tidak." Luhan terdiam mendengar ucapan Kris. Berarti Sehun berbohong?

"KITA AKAN BERMAIN PEPERO GAMES! YEAY!" Ujar Minhyuk lewat microphonenya. Luhan yang mendengarnya langsung menatap Sehun. Jelas saja ia ingin dipasangkan dengan Sehun.

"PASANGANNYA HARUS DENGAN TEMAN SEKELAS, YA! BAIK. KITA MULAI DARI KELAS SENIOR DULU. KELAS XI-1. OH SEHUN SUNBAE DENGAN BAE SUJI SUNBAE." Harapan Luhan musnah sudah.

"Aku tidak mau." Ujar Sehun.

"TIDAK SUNBAE, POKONYA HARUS!" Paksa Minhyuk. Sehun mendengus malas dan maju ke tengah-tengah lingkaran siswa. Setidaknya ia hanya akan menggigit ujung pepero dan langsung kalah.

Bae Suji atau yang biasa dipanggil Suzy sudah menggigit ujung peperonya. Dan Sehun juga sudah menggigit ujungnya. Sementara Luhan menutup matanya sambil menggigit kuat boneka bambi mininya karena kesal.

"AH! KENAPA CEPAT SEKALI KALAH? BAIKLAH, GANTI PEMAIN."

"Eh?" Luhan menatap heran pada Sehun dan Suzy yang bahkan belum ada 5 detik langsung kalah.

"SEKARANG GILIRANKU YA? SIAPA PASANGANKU?" Tanya Minhyuk pada Minhyun.

"Kau dengan Luhan."

"LUHAN! KAU BERPASANGAN DENGANKU! MINHYUN, KAU YANG PEGANG MIC-NYA!" Ujar Minhyuk dengan tersenyum lebar. Kini giliran Sehun yang memasang wajah masam.

Minhyuk dan Luhan menggigit ujung pepero mereka dan mulai memasukkan peperonya lebih dalam. Sehun meringis saat melihat Minhyuk yang langsung menyisakan 2.5 cm pepero. Sedikit lagi...

"Hmmmpp..." Mata Luhan melebar saat Sehun datang tiba-tiba.

"Sehuhmmpp!"

"S-sunbae!" Teriak Minhyuk.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Luhan mendorong Sehun yang membekap mulutnya sampai terjatuh.

"A-ah! Sehun, maafkan aku. Tapi salahmu juga! Kenapa datang dan tiba-tiba menutup mulutku menggunakan dasimu?!"

"Ah itu..." Sehun menggaruk leher belakangnya yang tidak gatal.

"Tadi... K-kalian hampir... Itu... Ish! Pokonya tadi Kris yang menyuruhku menutup mulutmu!" Ujar Sehun.

"KENAPA JADI AKU?" Tanya Kris yang merampas mic dari Minhyun. Sehun menatap Kris dengan pandangan 'Diam saja kalau kau temanku!'.

"Bukankah tadi kau menyuruhku menutup mulut adikmu agar Minhyuk tidak menciumnya?" Ujar Sehun dengan senyum yang sangat amat dipaksakan. Sedangkan Kris hanya memasang wajah bodohnya.

"Dari tadi aku kan hanya makan snacknya Luhan." Gumam Kris.

.

.

.

.

.

TBC

Next or No?

Review Juseyo...

Wkwkwk... Chap ini gaje banget anjirrr XD. Sokin lah review biar dd semangat :") Typo itu seni, ga jelas itu budaya. Dd minta maap kalo tempatnya gak sesuai dan gak sama persis. Namanya juga fanfiction kan? Ngarang tuh sabeb :")

.

Thanks ya... Infonya. Kalo gak ngelanggar hukum, syukur deh. Tenang hati dd :")

.

Siyu~

17.25 WIB

19 Juli 2017