haloo~ yak, lama banget ya gak update, sibuk nih. hehe :D

maaf kalau ada kekurangan :D

Enjoy bro~


Rahang Ichigo mengeras saking marahnya, dia harus berusaha keras supaya tidak membentak-bentak Rukia lagi. Tanganya terlipat didepan dada.

"Jadi, yang masih tak bisa kumengerti kenapa kau mau tidur dengan mereka––maksudku kenapa kau cuma pakai pakaian sepert itu!" tambah Ichigo berang saat Rukia membuka mulut unutk protes.

"Sudah kubilang Jinta yang minta! Lagipula, t-tak ada pakaian lain kan. Ingat Ichigo, aku Cuma tak mau merepotkan," jawab Rukia. Wajahnya merona merah, tapi dia juga tampak terganggu dengan datangnya Ichigo di tengah malam.

Kini mereka di kamar itu, dengan duduk. Renji telah sukses menyembunyikan darah yang keluar dari hidungnya dengan menyumpal tisu. Mereka semua terduduk, dan Ichigo yang duduk paling tidak nyaman. Berusaha menahan gejolak keinginan untuk tidak menculik Rukia dan menyembunyikanya di lemari agar tak dekat-dekat dengan ketiga laki-laki di depanya.

"Haishh! Kau pulang saja! Mau apa sih kau kesini!" tanya Renji akhirnya sambil melotot pada Ichigo. Ichigo balas melotot padanya lama sekali.

"Hey! Aku tidak menunggu mata kalian copot baru bisa tidur! Pulanglah Kurosaki, sudah kami bilang kalau tadi kamu hanya berusaha menutupi tubuh Kuchiki-san, itu tidak baik untuk nama keluarganya kan," sela Hisagi tiba-tiba sambil menjauhkan wajah Renji dan Ichigo yang sudah sedekat itu.

Ugh! Ichigo melirik Thousiro, dia tampak tak apa-apa, yah pastinya matanya sering dicuci oleh Rangiku. Cih, wajahnya yang polos tak akan bisa menutupi kalau dia juga ingin dekat-dekat Rukia.

Saat Ichigo menoleh dari Thousiro, matanya terbelalak memandang Rukia yang entah sejak kapan sudah ada tepat di depanya. Dia duduk dengan kedua kaki di sampingkan, maka tak ada halangan untuk mata Ichigo menatap puas-puas kaki Rukia selagi bisa.

"Kau ini kenapa sih kemari?" tanyanya polos.

Glek! Mau jawab apa nih? Mana mungkin Ichigo menjawab seadanya, dia tak sejujur itu kan. Dia tak siap menahan malu kalau mereka semua tahu.

Tiba-tiba pintu digeser, dan terpampanglah Ururu dan Jinta. Mereka tampak kaget dan bingung melihat Ichigo. Ururu masih mendekap bantalnya yang besar.

"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Jinta curiga.

Ichigo tak punya pilihan selain berbohong demi harga dirinya, "aku cuma mau memberi tahu kalau ayahku pergi entah kemana––tapi…pemandangan yang bagus sekali saat aku datang. Kau sengaja ya membuat mereka satu kamar?" tanya Ichigo dengan nada sinis.

Ururu berwajah merah, tapi Jinta tampak setengah geli setengah tak peduli. "Apa pedulimu? Yah, kalau sudah kan kau bisa pulang–––hei!"

Ichigo mengambil paksa bantal yang dipegang Ururu, lalu kembali duduk dan langsung merebahkan diri disamping Rukia.

"Aku tidur disini!"

Renji sudah seperti akan melemparkan sesuatu padanya, mereka langsung memarahi Ichigo, tapi dia tak begitu memperhatikan. Lalu setelah hampir satu jam mereka bertengkar, diakhiri dengan kemenangan Ichigo, mereka memutuskan mematikan lampu dan kembali tidur dengan saling memunggungi.

"Baik, Rukia tidur disampingku!" teriak Renji keras kepala.

"Jangan seenaknya menentukan Abarai."

"Yeah! aku yang tidur disamping Rukia, kau kan ganas!" cemooh Ichigo.

Lalu dia dan Renji saling pukul menggunakan bantal sebelum akhirnya Rukia menendang mereka semua. Sambil marah, dia langsung berbaring ke futon.

Hisagi paling pojok, lalu Thousiro, Rukia, Ichigo lalu Renji. Setelah lampu dipadamkan, otak Ichigo serasa padam juga. Setelah melamun hampir lima belas menit, dia mendengar dengkuran keras Renji. Dia menoleh, semua sudah tertidur, dia yakin karena tak ada kerutan di dahi Thousiro.

Ichigo menelan ludah, pelan tapi pasti dia memiringkan tubuhnya hingga mengahap Rukia. Dalam kegelapan dia masih bisa melihat wajah Rukia yang tertidur polos, Ichigo tersenyum dan tanpa sadar mendekatkan tubuhnya ginga menempel pada tubuh Rukia.

Rukia merasa tak nyaman, lalu bergerak ke samping. Wajahnya tepat di depan leher Ichigo, napasnya yang berat terasa sekali di lehernya membuat wajah Ichigo terasa panas. Ichigo menunduk sedikit, wajah Rukia tampak sangat lelah. Pastilah dia sangat lelah dan terpukul, Ichigo semakin mendekatkan wajahnya supaya bisa melihat wajah Rukia dengan jelas. Saat itulah mata Rukia yang tertutup berair, dan sebelum sempat menetes Ichigo sudah menghapusnya, membelai matanya. Ichigo sudah bisa merasakan napas Rukia yang panas menyentuh kulit wajahnya, dia tidak bisa mengelak kalau jantungnya berdegup tak karuan. Dan akhirnya Ichigo tidak tahan, dia menjilat bibirnya sendiri lalu menciumnya. Rasanya basah. Haha, menggelikan, tidak benar, tapi menyenangkan.

Saat Ichigo berusaha membuka mulut Rukia, Rukia membelalakan matanya kaget. Dia akan bicara, tapi Ichigo langsung mengunci mulutnya lagi. Setelah beberapa detik, dia membiarkan Rukia bernapas dengan wajah merah padam.

Rukia memegang bibirnya dengan ling-lung, "kau…kau tidak–––"

"Ya, aku iya."

Oke, itu adalah hal tercanggung yang pernah mereka alami. Ichigo tak tahu apa yang dipikirkan gadis didepanya, jelas dia akan mengira Ichigo kerasukan hollow atau apa, argh!

Duuaarr!

Ichigo sempat mengira akan serangan jantung mendengar petir yang tak sesuai waktu kedatanganya. Dia merasakan Renji menelangkupkan kakinya yang bau ke pinggang Ichigo, dia menyingkirkan kaki itu sampai Renji bergeser jauh. Saat dia menoleh pada Rukia lagi, urat kepalanya langsung berkedut.

"Shit!" pekiknya, tangan Thousiro memeluk erat dada Rukia! Diap pikir dia anak kecil peluk-peluk segala mendengar suara petir!

Ichigo hampir saja akan menggigit tangan Thousiro sampai putus kalau Rukia tak menghentikanya, "biar aku saja, supaya dia tidak bangun," kata Rukia walaupun wajahnya merah padam sampai ke telinga.

Dia membelai lembut tangan Thousiro, lalu perlahan dilepaskanya satu persatu jari kecil menjiikan itu. Ichigo sudah membeku menahan keinginan untuk membunuh mereka berdua. Bisa-bisanya mesra-mesraan didepan matanya persis!

"Berisik banget sih!" pekik Hisagi tiba-tiba bangun. Dia langsung mendelik melihat Rukia sedang memegang tangan Thousiro dan Ichigo yang luar biasa dekat dengan Rukia.

"Cu-curang!" raungnya dia memukulkan bantal keras sekali pada kepala Thousiro.

Thousiro gelagapan bangun, di dalam kegelapan urat kepalanya yang berkedut tercetak jelas. "Apa? Dimana––"

Blush

Wajahnya merah padam seperti anak ingusan kena demam, dia sadar kalau tanganya di genggam Rukia. Rukia dengan salah tingkah melepaskanya sambil bilang maaf pada Thousiro yang masih memasang tampang bloon.

Rukia terduduk, sambil berusaha menutupi pahanya dengan ujung kemeja dan menggigit telunjuknya dia berkata lirih "M-maaf, Hitsugaya taichou."

Oh my god! Manisnya.

"Ma-manisnyaa," kata suara pelan di belakang Ichigo. Renji ternyata ikut bangun, dan sudah hampir ngiler melihat pemandangan yang begitu menggairahkan itu.

"Ahh, jangan begitu Kuchiki-san. Kesinikan tanganmu," kata Hisagi tiba-tiba. Dan dia meraih tangan Rukia mengelapnya pelan sambil merangkul Rukia. Seperti baru saja tangan itu menyentuh lendir menjijikan.

Thousiro tambah marah, tanganya terkepal kuat-kuat dan menarik Rukia ke dadanya––walaupun wajahnya merah. "Jangan pegang-pegang Kuchiki, Hisagi."

"Oi! Kau yang jangan pegang-pegang cewek!"

Ichigo menoleh dan menggeram, ternyata Renji bicara persisi seperti yang diucapkanya. "Jangan ikut-ikut deh!" kata Renji

"Kau yang menirukan kata-kataku, kau seperti Asano saja!"

"Aku tak kenal dia!"

"Oh, tentu saja kau kenal, dia sama bodohnya denganmu," balas Ichigo.

Renji sudah menendang Ichigo tepat di dagu, Ichigo balas menonjok hidungnya sampai berdarah. Lalu mereka jambak-jambakan dan saling gigit, kekanak-kanakan memang. Tapi walaupun Ichigo menggeram dan berkelahi dengan mereka, sebenarnya dia sangat senang. Bahagia sekali lho bsa seperti ini lagi dengan teman-teman shinigaminya, teman-teman yang sudah sangat lama tidak bisa bertemu.

"Dasar bokong merah monyet!"

"Landak jingga!"

"Congkelah bokongmu, Renji."

"Oke banci mesum–––"

"H-hisagi-kun!" pekik Rukia menghentian perdebatan mereka.

Ichigo menoleh, dan langsung ingin membunuh Hisagi saat melihat Rukia sudah ada di gendongan Hisagi. Hisagi yang setengah topless dan Rukia yang berpakaian minim bukanlah pemandangan yang mengenakan.

"Hey! Turunkan dia!" pekik Ichigo, Renji, dan Thousiro bersamaan. Mereka kaget dan saling melempar pandangan mencemooh.

Renji melancarkan tendangan mautnya ke kaki Hisagi keras, sampai-sampai Hisagi kehilangan peganganya dan tak sengaja menjatuhkan Rukia.

"Auu––eh?" kata Rukia. Bukan pemandangan yang bagus lagi, Rukia jatuh menimpa Renji. Dan bisa dipastikan betapa mimisanya Renji saat dada Rukia tepat dihadapanya.

"Cukup sudah!" geram Thousiro tiba-tiba. Dia mengangkat Rukia dan melemparnya––super halus, keluar kamar.

"Kau jangan tidur di kamar ini, Kuchiki!" kata Thousiro lagi, ngosh-ngoshan, dengan wajah merah.

Blaam!

Pintu sudah ditutup, mereka tak ada yang mau repot-repot memersihkan darah yang menggenang disekitar Renji. Ichigo membalikan badanya marah, sisi baiknya, hanya dia yang berhasil mencium Rukia daripada mereka. Yes! Sambil tersenyum, detik berikutnya kesenangan saat membayangkan bibir Rukia leyap oleh kegelapan.


Hari ini Rukia yakini sebagai hari bebas, tidak mungkin Urahara pulang hari ini, dan mereka juga tak mungkin kembali ke Seireitei dengan tangan kosong. Makanya Rukia terus berusaha menenangkan diri, mempersiapkan mental yang kuat sampai mereka berperang.

Saat Rukia melewati kaca, dia berhenti mendadak. Kancing di perutnya lepas, saat akan mengancingkanya, tiba-tiba

"EH?"

Ini tidak terjadi. Tidaaak! Kancing bajunya lepas! Demi Tuhan, Rukia memeriksa perutnya, apa ini yang dinamakan mendadak gemuk! Tunggu, sejak kapan Rukia mencemaskan lemak di tubuhnya?

"Ini Rukia-chan, semangkanya," kata Ururu yang paling padi bangunya. Rukia mengangguk terimakasih dan memakanya.

Dia sedang menonton TV jam enam pagi, karena dia tidak bisa tidur nyenyak malam itu. Bukan sekedar karena tidur di depan TV, juga karena…Ichigo. Ugh, wajahnya mulai merah lagi memikirkan orang itu. Sejak kembali ke dunia nyata, hanya satu pertanyaan di kepalanya 'kenapa Ichigo menciumnya?'. Dia tidak tahu, apa Ichigo kerasukan atau cuma mempermainkan Rukia. Benarkan? Yang semalam Ichigo memberikan ciuman? Itu ciumankan namanya? Tanpa sadar Rukia memegang bibirnya lagi.

"Kenapa dengan bibirmu, Kuchiki-san?" tanya suara cowok tiba-tiba di belakangnya. Rukia kaget dan mendapati Hisagi tepat di belakangnya, masih setengah telanjang, memamerkan otot badanya yang benar-benar kekar.

"Hoaam, aku tidak bisa tidur nyenyak nih," katanya lagi sambil mengacak-acak rambutnya yang berantakan setelah bangun tidur. Jujur, ini baru pertama kalinya Rukia melihat cowok bagun dipagi hari. Apalagi Hisagi, dia––eh tampak hot.

"Maaf ya yang tadi malam, aku membuat kalian tak bisa tidur nyenyak," kata Rukia nyengir sambil menggaruk rambutnya. Ah, Rukia juga sudah berjanji akan menggunakan kemeja ini terus selama di dunia manusia, demi tidak merepotkan orang lain lagi.

"Bukan karena kau kami tidak bisa tidur, tapi karena sesuatu yang terpendam dalam tubuh kami para lelaki, Kuchiki-san," tiba-tiba saja tangan Rukia tergerak sendiri menyentuh dada bidang Hisagi.

"Apa ada masalah dengan tubuh kalian?" tanya Rukia tidak mengerti.

Hisagi kaget, lalu terbahak-bahak, dan dia menekan tangan Rukia ke dadanya lebih keras. Rukia jadi tambah bingung saat Hisagi merengkuhnya hingga ke dadanya persis, ah! Ini memalukan!

"Bagaimana Byakuya bisa tahan dengan cewek polos sepertimu, Kuchiki-san?" tanya Hisagi pelan dan betapa merahnya wajah Rukia napas Hisagi menyapu telinganya.

Duuk!

"Itu cukup, Suuhei."

Hitsugaya memukul kepala Hisagi keras, Hisagi mendengus dan melepaskan Rukia. Kemudian mereka muncul satu persatu. Renji berpenampilan luar biasa aneh, dia menggunakan kemeja dan memakai handuk untuk menutupi bagian bawahnya. Hisagi, Ururu dan Rukia langsung tertawa, mata Rukia sampai berair melihatnya.

Lalu Renji duduk dan ikut menoton TV, sesekali mencuri mata ke arah Rukia yang masih cekikikan. Hitsugaya mengangkat alisnya heran, "Apa itu?" tanyanya sambil menunjuk pakaian Renji.

"Hey hey, kalau dilihat mata orang biasa aku akan tampak bodoh––"

"Memang."

"Tapi apa kalian tahu? Di dunia mausia, ini dinamakan fasyoniska. Yah, u-untuk menarik perhatian cewek, kalian tahu," katanya yang tiba-tiba bertambah tidak jelas, dia melirik Rukia. Rukia tertawa, lalu mendekati Renji dan menepuk-nepuk pipinya. Sambil mengacungkan dua jempol Rukia berkata, "Kau tampak luar biasa! Hehe!"

"Ha ha haha, s-sudah kuduga!" Renji tertawa dengan suara yang bukan suaranya. Dia memegang pipinya yang luar biasa merah.

"Kau tampak menjijikan."

Ichigo sudah masuk, rambutnya acak-acakan, matanya sayu tapi selebihnya dia tampak––err tampan sekali.

Matanya bertemu dnegan mata Ichigo, cepat-cepat dia menutupi kancingnya yang lepas. Jangan sampai deh, mereka lihat seberapa lemak melipat di perutnya.

"Ada apa denganmu?" tanya Ichigo yang ternyata peka juga, dia mendekati Rukia. Rukia segera meringkuk kuat-kuat menutupi perutnya.

"Hey," Ichigo menepuk bahunya.

"Jangan!"

Plaak!

Wah, ternyata Rukia terlalu menggunakan tenaga lebih menepis tangan Ichigo, dia sampai terpental dengan wajah syok yang kecewa berat. Teman-temanya pun kaget, "Wah, bagaimana ini. Kuchiki-san sudah terlalu jauh cinta padaku hingga tak mau disentuh orang lain," ucap Hisagi yang entah kenapa terpancar aura bintang-bintang.

"Darimana kepercayaan diri itu datang," gumam Hitsugaya menyipitkan matanya melirik Hisagi.

Hening, tiba-tiba Ururu seperti mendapat pencerahan. "Ahh! Apa yang terjadi semalam? Apa Rukia-chan sedang kasmaran!"

"H-hah!" pekik Rukia dengan wajah merah padam. Apa kasmaran itu artinya kegemukan? Oh tidak! Ururu mengetahuinya, dan sekarang mereka semua tahu betapa tak muatnya kemeja yang dipakai Rukia. Kenapa Rukia jadi memikirkan hal ini? Ini tak sebanding dengan perang, dan Rukia tak bisa berhenti untuk malu.

Hening.

"R-rukia, kau tidak–––" tangan Ichigo hampir menggapai Rukia.

"M-maaf!" pekik Rukia tiba-tiba berdiri membuat Ichigo terjengkak untuk kedua kalinya pagi itu. Rukia langsung berlari keluar rumah.


Ichigo ingin menebas Renji melihatnya mondar mandir dengan kemeja dan handuk. Mungkin itu dimaksudkan menarik perhatian Rukia, kemeja couple? Dan sentuhan handuk untuk ke seksi-anya? No way.

"Itu menjijikan! Pergilah cari baju yang lain dong!" teriak Ichigo tak sabar.

Renji melempar pandangan kau-tak-mengerti-fashion, atau sebenarnya pandangan aku-tak-punya-uang. Ichgio mendengus kesal, matahari sudah terbit dan Rukia tak tahu dimana. Ichigo tak yakin mana yang lebih dicemaskanya, perang, Rukia, atau Renji karena dia sekarang bersikap aneh. Dia mulai makan pisang mentah.

"Oke! Akan kubelikan kalian baju untuk suvenir, bagaimana?" kata Ichigo akhirnya menyerah. Karena dari tadi Hisagi masih topless dan Thousiro menggunakan baju oblong bergambar beruang imut milik Jinta dulu.

"Tak usah repot-repot Kurosaki, lagipula apa artinya hidup tanpa beberapa anak beruang kan?" ujar Hisagi setengah terkekeh melirik Thousiro yang sudah menguap setengah mati dari tadi.

"Nah! Bagaimana kalau kalian disini dulu, menikmati angin sejuk dan mencabuti rumput di halaman toko ini. Sedangkan aku membelikan baju untuk kalian? Jangan lupa kalau ada hollow disekitar sini." kata Ichigo, dia sudah berdiri.

"Aku ingin ikut!" teriak Renji.

Satu glare dari Ichigo saja sudah cukup untuk membungkan mulutnya, akhirnya Ichigo pergi dari teras depan yang masih ramai.

Setelah membeli pakaian seadanya untuk mereka, dia berhenti mendadak di pakain-pakaian wanita yang seksi-seksi. Dia coba membayangkan Rukia, tapi yang ada wajahnya malah merah. Dia juga tak yakin ada yang sesuai dengan dada ratanya Rukia. Tapi saat akan melangkah pergi, dia merasa bukan laki-laki kalau tak memberikan pakaian untuk wanita. Akhirnya Ichigo membeli baju yang direkomendasikan penjaga toko saat Ichigo bilang seperti apa Rukia.

Ichigo menghirup napas dalam, rasanya dia kembali berpetualang. Sesekali menikmati dunia ini, dan dia sangat bergairah saat membayangkan ada perang menantinya. Ichigo berjalan pelan melewati kerumunan orang yang menyeberang jalan raya. Saat dia menoleh, tak sengaja matanya menangkap sosok Inoue.

"Inoue!" sapa Ichigo menghampiri gadis itu yang sepertinya baru habis belanja. Inoue menoleh kebingungan sebelum akhirnya sadar kalau Ichigo yang memanggilnya. Dia langsung merah padam.

"Kurosaki-kun! Apa yang sedang dilakukan disini?" tanyanya.

"Awas!"

Bruum

"Hampir saja, kau ini ceroboh sekali sih!" bentak Ichigo. Tadi hampir saja Inoue tertabrak mobil karena berdirinya masih belum sampai trotoar.

"E-e-ehh, m-maaf~" kata Inoue yang tubuhnya bergetar saking merahnya. Ichigo buru-buru melepas dekapanya.

Ichigo sebenarnya tidak apa-apa, tapi melihat wajah Inoue yang merah luar biasa, dia jadi ikutan malu. "Ehm, er. Kau ini–––"

"Orihime!" pekik seseorang dari seberang jalan. Mereka menoleh, dan ada seseorang yang Ichigo yakin teman cewek sekelasnya, tapi dia lupa namanya.

"Iya tunggu sebentar! Eh, ano, Kurosaki-kun…ak-aku harus buru-buru pergi, nanti aku akan mampir ke toko Urahara ya!" kata Inoue malu-malu dan membungkuk pada Ichigo. Ichigo tersenyum, lalu mengamati Inoue menyeberang jalan ke arah temanya. Saat kembali menoleh, dia baru saja sadar. Dia melihat sosok kecil, pastilah Rukia sedang berlari.

Ichigo mengejarnya, dia tidak tahu kenapa dia bisa sampai pantai yang sangat sepi. Mungkin masih terlalu pagi. Tapi pantai itu benar-benar sepi, dan damai. Dia hanya mengikuti Rukia sampai kemari.

"Hoi Rukia!" teriak ichigo ngosh-ngoshan. Dia melihat Rukia sedang berjalan di sepanjang bibir pantai.

Dia menoleh saat Ichigo sudah berlari menghampirinya. Rukia langsung kaget dan tiba-tiba menyilangkan tanganya didepan perut. Ehh, apa dia pikir Ichigo orang mesum?

"Ngapain disini sih?" tanya Ichigo.

"Pergi pergi! Hush! J-jangan lihat aku," katanya dan wajahnya kembali merah.

"Apa yang kesembunyikan di perutmu? Jangan-jangan kau mencuri makanan ya! Sini!" Ichigo memaksa Rukia melepas tanganya. Rukia meronta dan hasilnya mereka malah terjatuh.

Blush

Ingatan akan waktu di kolan air panas kembali menyodok perutnya, hingga Ichigo ingin mimisan. Posisi Ichigo di atas Rukia, dan Rukia, dia perutnya terbuka. Ya Tuhan, Ichigo ingin menangis saking bahagianya.

"K-kau melihatnya! Tertawa saja kalau kau mau!"

Tidak Rukia, sebenarnya aku ingin mimisan. Tapi yang keluar dari mulutnya malah "Kenapa aku harus tertawa?"

Rukia mengalihkan matanya ke pantai, sambil mengerucutkan bibir "Kau sudah lihat ku gemuk kan! Kancing kemejanya lepas! Dan Ururu tahu aku sedang gemuk!"

Ini membingungkan, tapi akhirnya Ichigo mengerti setelah berpikir beberapa saat. "Hahahahaha! Ya Tuhan kau telmi banget sih! Kau idiot atau apa? Ya ampun, haha. Sia-sia deh, aku khawatir kau kasmaran. Ternyata kasmaran saja tak mengerti artinya," Ichigo tertawa sambil berguling di pasir.

"Lho? Memangnya kasmaran itu apa?"

Ichigo berhenti tertawa, sambil sedikit terkekeh, dia duduk bersila. Rukia berjongkok tepat didepanya dengan wajah bingung.

"Artinya…jatuh cinta."

Mereka saling bertatapan lekat, suara ombak menggaung di telinga Ichigo. Tapi sepertinya dunianya teralihakan ke mata violet itu. Kenapa Ichigo menempelkan tanganya ke pipi Rukia? Mata mereka bertemu, mata violet Rukia yang paling indah. Dan tangan Ichigo tak bisa digerakan dari pipi gadis itu, Ichigo tak peduli wajahnya sudah merah menjijikan, bahkan dia tak berusaha menutupinya. Biarlah, biar Rukia yang bodoh bisa mengerti. Perlahan, Ichigo menarik pipi Rukia dan wajah mereka sudah sama merahnya. Haha, Ichigo rasa Rukia sudah mengerti.

Zrasssh!

"H-hujan!" pekik Rukia kaget, dia langsung berdiri. Bagus, Ichigo mengutuk hujan ini. Hujan tak pernah baik baginya.

Ichigo langsung menggaet tangan Rukia. Dan mereka berlindung di dalam karang putih yang super besar.

Kemeja Rukia yang putih sangat kontras dengan wajahnya merah dan manis. Ichigo tak bisa berhenti menatap Rukia yang murung terkena hujan. Setelah agak lama, Rukia marah-marah karena Ichigo memperhatikanya terus. Ichigo menyodorkan satu bungkusan berisi baju yang tadi dibelinya untuk Rukia. Setelah mereka berdebat lama bagaimana Rukia bisa ganti baju, akhirnya Ichigo memojok menatap karang memunggungi Rukia. Dan belum sampai 5 detik, Rukia sudah bangga memamerkan bagaimana penampilanya. Sungguh, Ichigo baru sadar betapa manisnya orang itu mengenakan pakaian selain pakaian shinigami.

"Hey lihat! Hujanya sudah reda, sudah gerimis tuh," kata Rukia. Dia keluar karang dengan cepat, dia tersenyum. Menikmati gerimis kecil yang mengenai wajahnya yang tampak benar-benar tenang.

Anehnya, hujan kali ini bercampur sinar matahari. Hujan Rubah, kata orang-orang. Di pantai yang disiram hujan dengan ditimpa sinar matahari, suara debur ombak, dan Rukia Kuchiki ditengah-tengahnya adalah pemandangan terindah yang pernah Ichigo lihat. Ichigo melangkah keluar karang, Rukia masih berjalan dengan senangnya di sepanjang pantai. Ichigo bergerak sendiri, dia merengkuh Rukia kepelukanya dari belakang. Punggung Rukia membentur dadanya.

"Apa yang kau lakukan? Mencoba melakukan apa yang kau lakukan pada Inoue?" tanya Rukia dengan suara lirih dan tajam.

Ichigo benar-benar kaget, ah "Jadi kau melihatku tadi menyelamatkan Inoue ya?"

"Tidak juga," kata Rukia kedengaran semakin pelan.

Ichigo tidak tahu kenapa dia malah tertawa, "Kau cemburu?"

Rukia menoleh padanya kaget dan luar biasa marah, "Hah!"

Kini wajah Rukia terlihat jelas merahnya, ditimpa sinar matahari, wajah Rukia begitu manis. Ichigo menelan ludah, dia mengangkat dagu Rukia.

"Kau tahu, wajahmu yang jelek seperti itu. Cuma boleh ditunjukan padaku lho," kata Ichigo. Dan dia mencium Rukia, lagi.

Ichigo melepas bibirnya, mata Rukia membulat menatapnya. "kenapa…kenapa kau menciumku lagi?"

"Apa kau idiot? Aku sedang kasmaran padam––––"

Duaarr!

Mereka begerak gesit bersamaan. "Apa! Musuh––lho?"

Di atas batu karang yang tadi mereka masuki, berdirilah seseorang dan di bahunya bertengger boneka singa yang hampir terbakar marah, memancarkan glare luar biasa ganas dan hitam. Dia menaikan kacamatanya, tanganya baru saja memegang busur dan panah. "Bisa-bisanya kalian malah begini!" teriak Ishida dan Kon berang.

TBC

hehe, gaje yah. RnR?