Sinta Malfoy : ini dia, jawaban dari review anda. Happy reading :)
.
.
.
Disclaimer : jika Harry Potter punya saya, Voldie akan saya jadikan ganteng dan gak buruk rupa kayak gitu. #plak
Summary : After All this Time?
A/N : Sambil dengerin lagunya Brian Adams – Heaven asik loh :D
.
.
.
Poppy keluar dari ruanganya menuju ketempat dimana Severus berada. Poppy berharap-harap cemas jika Severus keadaannya semakin memburuk. "Bangunlah Severus, kami semua mengkhawatirkanmu." Batin Poppy. Ia berjalan sambil membawa perkamen dan ramuan yang harus diberikan kepada Severus.
"Demi Janggut Merlin! Severus!" Poppy sangat kaget dengan apa yang sedang dilihatnya sehingga perkamen dan ramuan untuk Severus terjatuh bergelontangan di lantai. Argus Flich kebetulan yang baru saja melintas langsung menghampiri sumber suara yang bisa memecahkan gendang telinga itu. "Argus, kebetulan kau disini. tolong beritahu Albus dan yang lainnya. Cepat." Perintah Poppy.
Argus mendesah malas. "gr, baiklah Poppy." Ucap Argus yang langsung melesat dari pandangan.
Poppy menghampiri Severus yang sudah bangun dari komanya. Matron itu memeriksa bekas luka dan bagian yang lainnya guna memastikan tak ada lagi yang harus dikhawatirkan. "Poppy? Dimana mereka?" suara berat nan lembut keluar dari mulut pria yang sedang berusaha untuk bangun itu.
"Oh Severus, kau belum boleh terlalu banyak bergerak. Istirahatlah dulu ini masih malam." Ucap Poppy. Sisi ke-ibuanya membuat siapa saja merasa nyaman, termasuk Severus.
"Tidak, aku baik baik saja Poppy." Ucapnya dingin dan masih berusaha bangun. "Baik baik saja katamu? Kau koma selama hampir seminggu Severus!" ucap Poppy sambil memandang mata hitam Severus lekat-lekat.
Severus diam sejuta kata mendengar kata Poppy barusan, ia mencoba mengingat ingat ingat apa yang terjadi padanya sampai-sampai dia menjadi seperti ini. "Poppy, ini punya mu?" tanya Severus sambil mengambil gelang yang berada di sisi tempat tidur.
"bukan, mungkin milik Co Healer baru kita." Ucap Poppy. "Co Healer baru? Siapa?" tanya Severus ingin tau.
"Sherina Tristy. Dia juga yang membawamu kesini." Jelas Poppy.
"Sherina?" Tanya pria paruh baya ini getir.
"Ya Severus." Jawab Poppy.
"Severus, bagaimana keadaanmu?" tiba-tiba suara pria berjanggut perak berkaca mata bulan separoh mengagetkan mereka.
"Never better, Albus." Jawab Severus dingin seperti biasa. Sepertinya, keadaan apapun tidak membuat pria ini bias melupakan sifat dinginnya sejenak.
"Syukurlah. Kau koma berhari-hari, Nak. Untung saja staf baru kita membawamu ke penginapannya lalu menghubungiku sehingga aku bias membawamu kemari." Jelas Albus sembari menatap tajam pria kepercayaannya itu.
Dibelakang Albus, Rovine terlihat lega karena Severus sudah sadar dari komanya. Jujur saja, dia sangat khawatir dan panik saat Severus terbaring koma seperti kemarin. Ia mencoba untuk tidak menunjukan kekhawatirannya yang mendalam itu kepada orang-orang disekitarnya, terutama Severus.
Sekeras apapun ia berusaha melupakan Severus, semakin dalam rasa cintanya. Rovine selalu berharap jika Severus bisa terbebas dari tugas beratnya sebagai agen ganda. Dan bisa hidup bebas seperti orang lain pada umumnya.
Poppy menyerahkan segelas ramuan penyembuh untuknya agar bisa pulih esok hari. "Minum ini Severus, agar kau bisa pulih besok. Ini buatanmu sendiri yang kau berikan padaku beberapa minggu sebelum kau koma ." Ucap Poppy.
Snape mengambil ramuan itu dan meneguknya perlahan. Pahit, masam dan getir bercampur menjadi satu. Ia memejamkan matanya sejenak untuk menahan rasa yang menggelikan itu.
"Well, sepertinya kita harus meninggalkan Pangeran kita ini." Goda Albus sambil menyeringai jahil. Severus tak berkata apa-apa, ia hanya menggeram kepada orang yang sudah dianggapnya ayah itu.
"Aku ada diruanganku Severus. Istirahatlah!" ucap Poppy. "Ya baiklah." Oke, kali ini Snape benar-benar merasa seperti anak kecil yang sedang diawasi ketat oleh orang tuanya. Ckckckc..
.
-Esok Harinya.-
Severus terbangun tepat pukul tujuh pagi, cahaya mentari yang menembus jendela raksasa Hospital Wings secara tak langsung membangunkannya. Membuka matanya, dan mencoba bangkit dari ranjangnya. Kali ini ia berhasil bangun, ia merasa sudah pulih seutuhnya. Walaupun luka-luka itu masih belum menutup sempurna.
Ia berjalan menuju ruangannya, Prince sepertinya merindukan ruang bawah tanahnya itu dan ramuan-ramuan yang berada didalam tentunya. Di perjalanan menuju ruang bawah tanahnya, ia tak sengaja bertemu dengan Sherina.
"Severus! Kau sudah bangun!" ucap Sherina terkaget. Baru ia akan mengunjungi Hospital Wings untuk menjenguk Severus, tetapi ia sudah bertemu dengannya disini.
Severus memutar matanya. "Yah seperti yang kau -' belum selesai ia berbicara, Sherina memeluk ayahnya itu dengan spontan.
"Aku merindukanmu, ayah." Sherina bergumam kecil, dan mungkin Severus tak medengarnya. Semoga.
Severus hanya diam membeku seperti tidak terjadi apa-apa, seperti sedang berfikir. Apakah ia memeluknya kembali atau tidak. Begitu seterusnya.
Namun sedetik kemudian ia berdehem. Sherina melepaskan pelukannya dari Severus. "Eh, maaf Severus, aku tak bermaksud apa-apa. Sungguh, maafkan aku." Sherina tak berani menatap lawan bicaranya.
Severus memang sedikit terkejut, namun batinnya, ia merasa ada sebuah ikatan khusus antara dia dan Sherina. Ia mendengus, "Ti..tidak apa-apa. Kau mau mampir keruanganku?" tawarnya ramah(?) mungkin jika siswa lain yang memperlakukan Snape seperti itu akan dikenai detensi berbulan bulan. *Severus menjadi ramah? Oh tidak Author mulai ngaco [didemo masa])
"Tentu, jika kau tidak keberatan." Balas Sherina sambil menyunggingkan senyum dari wajah cantiknya.
"Tentu tidak." Ucap Severus. Sherina berjalam mengikuti Severus menuju ruangannya yang gelap dan dingin itu.
"Oh pantas saja Harry dan Draco menyebut Severus sebagai Kelelawar-Bawah-Tanah. Ternyata ini alasannya." Batinnya. Ia terkekeh sendiri.
Mereka sampai didepan sebuah pintu kayu yang besar dan sepertinya berat. Severus membukakan pintu untuk Sherina.
Saat sampai didalam, ia terkejut. Betapa banyak sekali kumpulan ramuan-ramuan dan bahan bahan yang berada didalam ruangan Severus. "Ini semua milikmu?" Tanya Sherina kagum.
"Semuanya? Kurasa Ya, semua milikku." Jawab pria dengan rambut berminyak itu.
"Keren!" ucapnya menggunakan bahasa Indonesia.
"apa?" Tanya Snape.
"Keren = Cool or Awesome. Bahasa Indonesia." Jawabnya.
"Ah, I see." Balasnya.
Sherina tidak duduk karena asik memandang bahan-bahan yang ada didalam botol kaca. "Silakan duduk." Ucap Severus ramah. (A/N : Ya Ampun, Author ini kok buat Severus jadi OOC gini? Jangan hajar saya ya?!)
Sherina duduk di sofa yang berada disampingnya. Ruangan Snape memang tidak sebesar ruangan staf-staf lain tetapi menurut Severus tempat ini nyaman dan tentram untuknya. Yah, dia kan memang anti social.
"Mau minum apa?" tawarnya.
"Apa saja boleh." Balas Sherina. Ia merasa tak enak jika harus menolaknya.
Severus berbalik menuju lemari persediaannya dan mengambil sebotol jus labu yang sudah diberikan mantra anti-kadaluarsa.
"Jadi, kudengar kau sudah resmi menjadi staf disini, ya?" Tanya Severus sambil menuangkan jus itu kedalam gelas.
"Ya, seperti yang kau lihat. Dumb-maksudku Profesor Dumbledore mengajakku bekerja disini. Aku terima saja karena kupikir aku juga butuh pekerjaan." Jawabnya Spontan.
"Ah, semoga kau nyaman di Hogwarts. Kudengar kau yang menyelamatkanku dengan melakukan aksi heroik saat penyerangan itu?" Tanya Severus.
"Ah tidak, mereka hanya melebih-lebihkan saja." Ucap Sherina tersipu malu. "Aku menyelamatkan semua sebisa mungkin." Ucap Sherina merendah.
"Tetap saja sama. Terima kasih untuk itu, mungkin jika kau tidak menyelamatkan aku saat itu, aku sudah menjadi gila karena kutukan itu." Ucapnya. Tunggu, Severus berterima kasih? Wow sebuah hal yang fantastis pemirsa.
Sherina tersenyum. "Kau juga menyelamatkanku dari Lucius dan temannya bukan? Terima kasih juga sudah menyelamatkan aku." Ucap Sherina.
Mereka mengobrol banyak tentang Sherina, sampai pada akhirnya suara ketukan pintu menghentikan percakapan mereka.
"Itu pasti Albus." Ucap Severus pelan.
Benar saja! Ternyata yang mengetuk pintu adalah Albus dan Minerva dan juga Poppy.
"Severus my boy! Kau sudah disini rupanya. Kau pergi tanpa memberitahu Poppy!" ucap Albus agak tinggi. Diikuti Minerva dan Poppy menggeleng seperti melihat anak yang terkena detensi.
"Kau belum sepenuhnya pulih. Luka mu belum menutup sempurna." Ucap Poppy yang sisi keibuannya muncul lagi.
"Aku baik-baik saja Poppy." Bantah Severus malas.
"Oh lihat, Selamat Pagi Sherina. Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Albus.
"Pagi Profesor. Aku berkunjung kesini. Sebenarnya tadi aku mau ke Hospital Wings untuk menjenguk Sev—Profesor Snape, tapi aku berjumpa dengannya dikoridor dan beliau mengajakku kemari." Jelas Sherina.
Albus, Poppy dan Minerva saling memandang satu sama lain dengan tatapan heran. Seolah ingin mengatakan 'kau dengar apa yang ia katakan?'
"Well well.. sebaiknya kalian segera ke Aula jika tidak ingin ketinggalan sarapan." Ucap Albus.
Albus dan yang lainnya berbalik menuju aula.
"Kau punya pikiran antara Severus dan Healer baru kita Albus?" Tanya Minerva setengah berbisik.
"Tidak. Tapi aku rasa ini adalah awal yang bagus untuk Severus." Jawabnya singkat.
Di aula besar, Severus disambut oleh puluhan atau mungkin ratusan siswa dengan suka cita. Termasuk Draco dan Harry.
"Paman! Senang melihat anda sembuh." Ucap Draco.
"Tentu Malfoy." Ucap Severus.
"Errr, Sir, Senang melihat anda bisa pulih seperti semula. Kami semua khawatir dengan anda." Ucap Potter.
"Kau melebih-lebihkan Potter. Aku tak selemah itu" gerutu Snape.
Mereka berdua terkekeh mendengarnya.
"Perhatian semua, Profesor kita, Profesor Snape kini telah sehat dan bisa kembali mengajar besok." Ucap Albus. Sekejap sorak sorai murid-murid membuat suasana aula menjadi ramai.
"Banyak Penggemar eh, Paman?" goda Draco.
"Shut up Malfoy." Snape menyeringai kejam. Draco hanya meringis sendiri melihat pamannya kesal.
-3 hari kemudian-
Severus sudah pulih benar, walaupun hanya tinggal lukanya saja, tetapi itu bukan halangan yang besar untuk seorang Snape. Severus merogoh saku jubahnya, sebenarnya ia akan mengambil tongkat sihirnya tetapi tangannya malah tak sengaja menyentuh gelang yang ia temukan disamping ranjangnya kemarin.
Ia mengamati gelang itu dengan seksama, ia melihat ukiran STP di bawahnya. "Sherina Tristy Purnama. Tidak salah lagi, ini miliknya" Ucapnya dengan lancar menyebut nama anaknya.
-Snape PoV-
"Tunggu, saat malam itu, saat mereka berkunjung. Aku mendengar Sherina mengucapkan sesuatu.
Memejamkan mata segenap agar lebih konsen untuk mengingat. "Cepat sembuh ya? Aku akan menunggumu disini, Ayah.."
Ah iya. Tidak salah lagi. Itu yang ia katakan. Kenapa ia memanggilku ayah? Dan saat pagi tadi ia memelukku dan mengucapkan kata 'aku merindukanmu ayah.'
Kenapa ia berfikir jika aku adalah ayahnya? Kurasa aku tidak pernah –'
Ya Tuhan! Malam itu!
-Normal PoV-
Severus teringat malam itu. Tujuh belas tahun yang lalu bersama Rovine. Apakah Sherina ini anaknya? Tapi kenapa Blade tidak pernah sedikitpun memberitahunya tentang ini semua.
"Aku harus keruangan Blade sekarang." Ucapnya.
Baru ia membuka pintu, ia sudah mendapati Blade berada didepannya. "Oh kebetulan Severus. Aku ingin berbicara kepadamu penting sekali." Ucap Rovine.
"Kebetulan aku juga demikian." Ucap Severus.
"Ayo masuklah." Ucap Severus.
Mereka duduk di sofa. "Severus, aku ingin berbicara kepadamu. Ini penting!" ucap Rovine sambil meremas-remas jubahnya.
"Silakan katakan." Ucap Severus dingin. Walaupun matanya juga berkilat.
"Malam itu Severus, dimana kau dan aku—' belum selesai Rovine mengatakan itu. Severus memotong perkataannya.
"Tolong, jangan katakana itu." Ucapnya seperti menahan sakit.
"Tidak, dengar. Aku tak pernah menganggap malam itu sebuah bencana dalam hidupku. Itu adalah malam terindah." Rovine terhenti. "dan aku menyadari sesuatu dari Sherina." Ucapnya.
"Apa itu?" Tanya Severus. Ia sepertinya tau kemana arah tujuan pembicaraan mereka.
"Seminggu lalu, saat kau koma. Ia berkunjung kesini, dan aku menyuruhnya mampir keruanganku. Aku menanyai banyak pertanyaa." Ucapnya terhenti.
-Flashback-
-Rovine PoV-
"Hai Mrs Blade. Senang melihatmu lagi." Ucap Sherina ramah.
"Oh Hai Sherina. Aku juga demikian. Ayo mampir keruanganku." Ucapku kepada gadis itu.
"tentu saja. Dengan senang hati Mrs."
Saat sampai diruanganku, aku mengajaknya minum the bersama sambil mengobrol sebentar.
"Siapa nama lengkapmu? Aku lupa." Aku sengaja berbohong untuk memastikan lagi jika namanya benar-benar nama anakku yang aku adopsikan ke orang lain dulu.
"Sherina Tristy Purnama, Mrs." Ucapnya.
"Ah, nama yang cantik. Sepertinya kau berasal dari Indonesia kan?" tanyaku.
"Yah memang, anda pasti menebaknya dari nama belakang saya kan." Ia terkekeh.
"hahaha, iya itu marga dari jawa kan?" Tanyaku lagi.
"Ya, tentu. Bagaimana Anda tau?" tanyanya penasaran.
"Aku juga punya teman dari jawa." Ucapku berbohong.
"Oh.."
"Ngomong-ngomong, kenapa kau bisa berada di London?" Tanya ku sambil memancing informasi darinya.
"Ceritanya panjang." Terdengar nada sedih dari suaranya.
"Aku punya waktu untuk mendengarkan." Ucapku.
"Berawal dari ulang tahunku yang ke tujuh belas 30 April lalu. Aku ssangat senang karena itu hari ulang tahunku. Aku saat itu menuruni tangga untuk menemui orang tuaku. Awalnya aku sangat senang dengan apa yang mereka berikan kepadaku ssebagai hadiah ulang tahun. Tetapi,-' ia terhenti.
Aku masih menunggunya dengan sabar.
"Orang tuaku memberitahuku jika aku adalah anak angkat mereka." Air mata mulai turun dari matanya.
"Mereka bilang, jika orang tuaku adalah penyihir dari Inggris. Tetapi kedua orang tuaku tidak mengingat nama orang tua kandungku. Orangtua angkatku memberikanku kalung ini." Ucap nya sambil menunjukan kalung bentuk G berwarna hijau.
"Mereka bilang, kalung ini adalah satu-satunya peninggalan orang tua kandungku. Malamnya, aku meminta ijin kepada kedua orang tua angkatku untuk mencari orang tuaku di Inggris, dan mereka mengijinkanku untuk pergi. Lalu, saat aku berada dipessawat, aku bertemu dengan penyihir paruh baya yang memberi tahuku jika kalung ini adalah kunci Gringgot." Ia terhenti untuk menghapus air matanya.
"sesampainya di London, aku bertemu dengan Draco, dia yang mengantarkanku ke Gringgot. Betapa terkejutnya aku saat tau isi dari brangkas pemberian orang tuaku, berisi bergunung-gunung emas."
"Saat ini, aku betul-betul berharap jika aku bisa menemukan kedua orang tua kandungku." Ucapnya.
"Aku ikut sedih mendengar ceritamu, aku hanya bisa membantumu melalui doa semoga kau menemukan orang tua kandungmu." Kali ini aku berbohong lagi.
"Terima kasih Mrs. Anda baik sekali." Ucapnya.
"tentu, dear."
Aku benar-benar sedih mendengarnya. Ternyata gadis yang ada didepanku ini adalah anakku yang aku adopsikan kepada orang Indonesia.
-End of Flashback-
-Normal PoV
"jadi, dia adalah?" Tanya severus.
"Ya Severus. Dia Anak kita." Ucap Blade sambil menggenggam kan tangannya sendiri.
"Bl—Rovine, maafkan aku." Ucap Severus penat.
"Tidak Severus. Kau tidak salah. Kita mabuk saat itu." Ucap Rovine.
"Kita harus memberitahu ia secepatnya. Ini penting sekali." Ucap Rovine lagi.
"Kita akan memberitahunya, tapi tidak sekarang. Kita akan memberitahunya jika Dark Queen sudah mati. Aku tak mau ia-anak kita dalam bahaya besar." Ucap Severus.
"Kau benar. Dan kurasa kita harus memberi tahu Albus soal ini." Ucap Rovine.
"Aku akan memberitahu Albus secepat mungkin." Jawab Severus.
"Bagus."
"Apakah kau mau menerimaku atas semua kesalahan dan perbuatanku kepadamu?" ucap Severus.
"Apa maksudmu?" Tanya Rovine tak faham.
Severus menghela nafas, mencari kata-kata yang tepat untuk diluncurkan. Severus menatap Rovine dengan tajam. "Rovine dengar, aku.. aku ingin kau tau ini." Ucap Severus hati-hati.
"Aku.. Aku.. Um,,,Aku,,Aku mencintaimu." Ucap Severus terbata-bata.
Rovine kaget setengah mati mendengar kata-kata Severus barusan. "Apa? Kenapa baru sekarang kau mengatakannya? Kenapa kau tidak mengatakannya dulu, sehingga anak kita tidak harus bernasib seperti itu." Batin Rovine. Air matanya kembali turun kewajahnya.
"Aku tahu jika aku adalah pengecut. Aku adalah manusia bodoh, aku telah menyia-nyiakan cintamu yang tulus dan malah memperdulikan seseorang yang tidak mencintaiku. Aku sudah mencintaimu sejak tahun keempatmu. Kau ingat bukan peristiwa itu?" ucap Snape.
"Severus, aku tak pernah menganggapmu pengecut ataupun bodoh. Tidak sedikitpun, sampai saat ini perasaan cintaku padamu tak pernah berubah. Tak luntur sedikitpun, bahkan semakin hari semakin bertambah. Aku tak pernah bisa melupakanmu. Aku tak pernah sedikitpun menyalahkanmu soal ini. Aku masih menunggu sampai hatimu terbuka, sampai saat ini Severus."
Severus tak mampu berkata-kata lagi. Ia menyesal telah tidak menyatakan cintanya sejak dulu.
"Aku tahu Severus, kau masih mencintai Lily. Aku tak pernah mempermasalahkan soal itu. Aku mencintaimu Severus. Aku hanya ingin kau tau itu, kau adalah pria terhebat yang pernah kutemui, kau pria paling berani yang pernah aku temui, kau tak pernah pamrih dalam melakukan sesuatu. Aku mengagumi itu dari dirimu." Ucap Rovine lagi.
"Aku merasa tak pantas untuk siapapun. Tidak untuk Lily, ataupun untukmu. aku tak pantas untuk siapapun." Ucap Severus penat.
"Jangan katakan itu lagi, aku menerima apa adanya dirimu. Aku menerima siapapun dan apapun statusmu Severus. Tidakkah kau sadari itu?" ucap Rovine.
"Maafkan aku Rovine, aku telah menyia-nyiakan mu hamper 20 tahun. Cintamu begitu tulus, kumohon, maafkan aku." Ucap Severus. Ia langsung memeluk Rovine, matanya basah karena air matanya menetes di pundak Rovine.
"Severus, kau tak pernah salah. Aku mencintaimu dan aku memaafkanmu oke?" ucap Rovine yang memeluk Severus balik.
"Jadi, apakah kita bisa membangun hubungan kita dari awal?" ucap Severus.
"Tentu saja, Severus." Ucap Rovine sambil memeluk Severus.
.
.
.
TBC
.
.
.
A/N 2: Kyaaaaaa.. saya gak comment apa-apa deh.. kritik dan sarannya aku tunggu! #TebarBunga
