When It's You

(^_^)

Byun Baekhyun

Park Chanyeol

And Other

.

ChanBaek (GS)

Romance, Hurt/Comfort


Happy Reading :)


Baekhyun kini sedang duduk tertunduk menerima seluruh hardikan Luhan. Sahabatnya itu tak ada henti berbicara, ohh bukan.. tak henti mengomel lebih tepatnya semenjak Baekhyun menginjakkan kakinya di apartemen milik mereka dan sudah mendapati Luhan dengan picingan tajamnya menyambut Baekhyun satu jam yang lalu.

Entah sejak kapan Luhan menjadi sosok ibu tiri dengan rentetan petuahnya pada Baekhyun. Padahal Baekhyun sendiri yakin jika Luhan juga menghabiskan waktunya bersama Sehun saat Baekhyun bersama Chanyeol. Mengapa sahabatnya itu bersikap seolah hubungannya dengan Sehun berjalan wajar. Ha Ha Xi Luhan lucu sekali.

"kau dan Chanyeol sudah melakukannya kan?" hardiknya.

"kau juga sudah melakukannya kan dengan Sehun?"

"YAK..! anak nakal, jangan menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan konyolmu, astaga kau membuatku pening Byun Baekhyun."

Baekhyun hanya memajukan bibirnya dan kembali menunduk main-main. Ia mengantuk dan temannya ini malah mengajaknya untuk bermain-main seperti ini. Jika tau begini lebih baik ia ikut Chanyeol tadi.

"Lu tak bisakah kita tidur sekarang?" Baekhyun memelaskan wajahnya, dan jangan lupakan puppy eyes yang sengaja ia perlihatkan pada Luhan.

"baiklah kita tidur, tapi sebelumnya kau harus menceritakan semuanya padaku" Luhan bangkit dari duduknya dan segera berjalan mendahului Baekhyun untuk menuju kamar Baekhyun. Baekhyun hanya terkikik geli mengikuti Luhan.

.

.

Hari demi hari berjalan begitu saja, Baekhyun melewati harinya tanpa sedikitpun halangan berarti.

Hari ini Baekhyun kembali mengunjungi makam ayahnya. Sudah lebih dari satu tahun peristiwa itu berlalu, namun Baekhyun belum sama sekali bisa melupakannya begitu saja. masih banyak hal yang mengganggu pikirannya terkait dengan kematian sang ayah. Terlebih pada perkataan terakhir sebelum laki-laki yang amat ia sayangi itu menghembuskan nafas terakhirnya.

Flash Back On.

Baekhyun berlari tergesa menyusuri lorong rumah sakit tempatnya berpijak. Pikirannya hanya tertuju pada satu orang, ayahnya.

Bahkan belum ada setengah jam yang lalu Baekhyun menerima telfon dari sang ayah yang mengatakan jika beliau sudah sampai di Seoul karena kantor pusat ayahnya bekerja menyuruhnya datang ke kota besar itu. Tempat dimana Baekhyun sekarang tinggal dan terpisah dengan kedua orang tuanya demi mengejar karirnya sendiri.

Ayah Baekhyun bukanlah orang penting di perusahaan tempatnya bekerja, ia hanyalah salah satu mandor dimana perusahaan itu sedang menggarap proyek baru di daerah asal Baekhyun, Busan.

Baekhyun masih belum dapat percaya bahwa seseorang yang kini terbaring lemah dengan alat pendeteksi jantung yang berbunyi sangat lamban itu adalah ayahnya. Baekhyun menangis, menumpahkan air matanya dengan menggenggam tangan renta itu dan menciumnya beberapa kali.

"Appa.." Baekhyun memanggil lirih laki-laki paruh baya itu. Luhan ada disana, di belakang Baekhyun dan hanya bisa meneteskan air mata sembari menatap pasangan anak dan ayah di depannya. Bagaimanapun ayah Baekhyun sudah seperti ayahnya sendiri untuk Luhan.

"Namanya Kim Jun~hh myeon.." mata ayah Baekhyun masih terpejam saat mengatakan itu, bahkan suaranya terdengar sangat lirih di sertai dengan nafas yang tersenggal-senggal. "k.. katakan kau a~anakku padanya.." itu adalah kata terakhir yang diucapkan tuan Byun sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.

Flash Back Off.

.

.

"dari mana aku harus memulai mencari orang bernama Junmyeon ini Lu?" Baekhyun menampakkan wajah setengah frustasinya pada Luhan saat ini. Ia kembali teringat akan nama yang disebutkan ayahnya sebelum beliau meninggal dunia. sudah satu tahun lamanya Baekhyun mencari seseorang dengan nama Kim Junmyeon, namun sekalipun tak pernah ia menemukan titik terangnya.

Luhan hanya memandang prihatin pada sahabatnya itu. ia pun tak tau harus melakukan apalagi untuk mencari seseorang yang ayah Baekhyun maksud.

"apa tak ada petunjuk sama sekali yang mungkin ayahmu tinggalkan Baek?"

Baekhyun hanya menggeleng, karena memang tak ada satupun petunjuk lain dari ayahnya mengenai Kim Junmyeon. Dimana tempat orang itu tinggal, pekerjaannya, dan siapa dia, tak ada satupun, hanya berbekal sebuah nama dan yaa.. siapa yang tidak tau jika nama Kim Junmyeon bisa jadi tidak hanya dimiliki oleh satu orang saja.

Baekhyun-pun ta mengerti, mengapa ia harus menemui Kim Junmyeon. Apakah ini ada kaitannya dengan penyebab kecelakaan yang dialami ayahnya? Entahlah, Baekhyun hanya bisa menerka-nerka semuanya. Tak ada kejelasan sedikitpun tentang itu.

Bahkan ibu Baekhyun sudah meminta Baekhyun untuk berhenti mencari orang itu dan melupakan semuanya. Namun bagaimanapun itu adalah permintaan terakhir dari ayahnya, Baekhyun hanya masih ingin terus berusaha untuk mewujudkannya selama dia masih merasa sanggup.

.

.

Jongin hanya sudah jengan melihat bagaimana Sehun yang tak berhenti menggerutu sejak tadi. Bahkan ia yang tak tau masalahnya harus rela terkena makian Sehun yang mengatakan dengan lantang untuk apa laki-laki pengangguran sepertinya selalu datang ke tempatnya bekerja.

"Oh Sehun aku pusing melihatmu berjalan mondar-mandir dari tadi" Jongin masih dengan posisinya yang duduk di sofa ruang kerja Sehun, memperhatikan bagaimana sahabatnya itu bergerak layaknya orang gila.

"kau bisa pulang dan tak kembali kesini untuk menggangguku" Sehun menjawab dengan tampang dingin andalannya.

"sebenarnya kau memikirkan apa? Chanyeol yang hari ini membolos seenak jidatnya?" itu salah satunya, Jongin tidak salah. Namun ada hal lain yang belakangan ini memang selalu mengganggu pikiran Sehun.

Sehun sendiri merasa jika dia hampir gila. Masalah Kyungsoo, bagaimanapun Sehun tetap kepikiran tentang gadis pendek yang sudah cukup lama menjadi sahabatnya itu. Kemudian tentang Chanyeol yang tak pernah memberikan kesempatan untuk Sehun bisa bernafas normal barang sebentar saja.

Si biang masalah itu selalu membawa masalah baru setiap harinya. Belum pula Luhan, bagaimana jika Luhan tau tentang apa yang sedang terjadi atau yang akan terjadi setelah ini.

Ohh dan Jongin, laki-laki berkulit hitam yang berstatus sebagai sahabatnya itu sama sekali tak pernah membantu.

"kau bisa bercerita padaku atau Kris jika memang ada masalah, aku pusing melihatmu berjalan seperti itu, duduklah astaga" Jongin melempar majalah yang sedari tadi di pegang olehnya namun tak sedikitpun ia baca karena ia terlalu sibuk mengamati Sehun.

"aku hanya mencemaskan Baekhyun" Sehun buka suara. Ia duduk di sebelah Jongin dan menyesap sedikit cappucino milik Jongin.

"masalah Irene?"

Sangat gampang menebaknya karena pada kenyataannya Jongin memang mengetahui semuanya.

"Kau tau bagaimana perasaan Chanyeol pada wanita itu Jong" Sehun memang orang lain disini, ia tak memilii hak untuk mencampuri hubungan Chanyeol dan Baekhyun terlalu jauh. Namun jika kalian ingat, Sehun sudah pernah berjanji pada Luhan untuk melindungi Baekhyun.

Ohh percayalah jika Sehun baru pertama kali jatuh cinta selama hidupnya. Kurasa kalian semua juga tau seberapa besar cinta Sehun pada Luhan.

Sehun masih sangat ingat bagaimana kalutnya Luhan saat Baekhyun dibawa Chanyeol secara tiba-tiba saat itu.

"dia sudah berjanji pada kita jika dia hanya membantu wanita itu, tak akan ada perasaan yang terlibat"

Yaa.. sebelum membawa Irene ke mansionnya Chanyeol memang sudah membicarakannya dengan Sehun, Jongin maupun Kris.

"dan kau percaya begitu saja?"

"aku akan menghajarnya dengan tanganku sendiri jika dia menyakiti Byun Bee-ku"

.

.

Baekhyun sedikit berjingkat saat ada dua lengan yang tiba-tiba membelit pinggangnya.

"kau mengagetkanku" Bibirnya mengerucut lucu, mengundang pria yang kini sedang memeluk tubuhnya dari belakang untuk segera meraup bibir tipis miliknya.

"mmmm" Chanyeol bergumam tak jelas di sela-sela kegiatannya mengecupi leher Baekhyun.

"Kenapa kau bisa disini saat seharusnya kau ada di kantor, hum?" Baekhyun sesekali menjauhkan lehernya dari si mesum Chanyeol, karena rasa geli yang diterimanya.

"aku merindukanmu" Chanyeol masih belum menyerah untuk menyerang salah satu titik sensitif Baekhyun.

"hey.. kau harus profesional sajangnim" Baekhyun membalikkan badannya dan segera mengalungkan tangannya pada leher Chanyeol.

"sekali saja tak masalah seorang bos membolos"

"lalu apa yang akan kau lakukan selama masa membolosmu tuan?"

"bercinta denganmu"

"Pervert" Baekhyun menyentil bibir sexy milik kekasihnya itu. "bagaimana kau bisa ada disini? Luhan yang membukakan pintu untukmu? Aku tak mendengar ada yang membunyikan bel"

"aku bertemu Luhan di depan, jadi sekalian saja aku minta di bukakan pintu" Baekhyun hanya mengangguk menerima penjelasan dari pria jangkung yang berstatus sebagai kekasihnya itu, tentang bagaimana secara tiba-tiba Chanyeol bisa berada di dalam apartemennya.

"Baek, aku akan pergi ke butik.. jangan melakukannya di sofa oke?" Baekhyun melotot tak percaya dengan mulut sialan Luhan, sedangkan Chanyeol hanya terkekeh sambil membalas lambaian tangan dari gadis bermata rusa yang merupakan sahabat dari kekasihnya sekaligus kekasih dari sahabatnya, astagaa.

"kenapa dia mesum sekali" Baekhyun menggerutu tak jelas sambil melepaskan diri dari Chanyeol dan segera menyelesaikan pekerjaannya yang sedang membuat kue kering.

"kau membuat kue?" Chanyeol sepertinya tak akan membiarkan Baekhyun melepaskan diri begitu saja. ia kembali memeluk Baekhyun dari belakang sehingga membatasi pergerakan kekasih mungilnya yang sedang memasukkan kue hasil karya Baekhyun pada toples.

"kau harus mencobanya" Baekhyun menyuapkan satu kue pada Chanyeol dan diterima dengan baik oleh kekasihnya itu. "kau suka film?" lanjutnya.

"tergantung film apa yang ingin kau perlihatkan padaku" Chanyeol mengikuti langkah Baekhyun menuju ruang tengah apartemen kekasihnya itu.

"Romance?"

"tak terlalu buruk, tetapi aku lebih suka film dewasa daripada film seperti itu"

"astaga.. aku jadi ingin bertanya apa yang ada di kepalamu itu hanyalah hal-hal mesum?"

Chanyeol hanya terkekeh dan ikut mendudukkan dirinya di samping Baekhyun.

"aku rindu Jung ahjumma" Baekhyun tiba-tiba mengeluh.

"kau tidak merindukanku?"

"Park Chanyeol..!"

"haha baiklah-baiklah, kita bisa ke rumahku jika kau merindukan Jung ahjumma"

"hari ini?"

"tidak tidak, tidak hari ini babe" Chanyeol mengelus rambut Baekhyun, menyisihkan beberapaa anak rambut yang menjuntai pada wajah manis kekasihnya.

"aahh waee?"

"Jung ahjumma sedang mengambil cuti untuk beberapa minggu" itu hanya alasan.

"benarkah?" dan sayangnya Baekhyun mudah percaya.

"mm~hem" Baekhyun hanya mengangguk dan kembali memfokuskan pandangannya pada layar televisi. Mereka tak jadi menonton film dan berakhir dengan menonton drama di salah satu saluran televisi.

Setelah itu keadaan menjadi hening, hanya ada suara televisi dan juga suara keciplak dari kegiatan Chanyeol yang kembali mengecap leher Baekhyun.

Baekhyun hanya pasrah dan sesekali lengguhan kecil akan lolos dari bibirnya karena perbuatan Chanyeol.

Tangan Chanyeol yang awalnya diam kini mulai bergerak menggerayangi setiap inci tubuh Baekhyun. Bagian favoritnya tentu ada pada dada Baekhyun.

Baekhyun bahkan di buat kalang kabut ketika tangan Chanyeol memainkan gundukan dadanya dengan remasan-remasan menggairahkan dan sesekali cubitan kecil pada putingnya.

"eumhh Chanhh" nyatanya pesan dari Luhan akan diabaikan oleh sepasang kekasih ini.

"mau melakukannya disini?" Chanyeol menempelkan hidungnya dan hidung Baekhyun.

"tidak, di kamarku saja.. Luhan akan membunuhku jika dia tau kita melakukannya di sofa ini"

Chanyeol terkekeh dan segera mengangkat bridal tubuh mungil Baekhyun untuk ia bawa menuju kamar gadisnya.

.

.

"ahh Chanh.. lebih dalam hh~" Chanyeol semakin bersemangat untuk menghujam lubang kewanitaan Baekhyun. Dercitan ranjang mengiringi kegiatan panas di siang hari itu. kepala Baekhyun bahkan beberapa kali mengenai kepala ranjang akibat dari kerasnya hentakan Chanyeol di bawah sana.

Peluh sudah membanjiri tubuh keduanya. Erangan Chanyeol menjelaaskan betapa hangatnya lubang milik Baekhyun yang mengapit kejantanannya.

"kau selalu membuatku gila Baekhh" Chanyeol semakin brutal menggerakkan badannya naik turun.

Baekhyun dapat merasakan bagaimana dindingnya bergesekan dengan benda tumpul besar milik Chanyeol. ini luar biasa. Mereka seakaan tak sanggup untuk berhenti.

"Chanhh.. ahh" Baekhyun semakin mengeratkan rematannya pada sepray seiring dengan Chanyeol yang merasakan dinding kewanitaan Baekhyun yang semakin menyempit.

Chanyeol semakin mempercepat pergerakannya dan tak akan membiarkan Baekhyun sampai sendirian.

"Chan akh~akuuh"

"tahanhh Baek"

"ak~aakhhh/ aggrrhh Baekhh" keduanya terengah dengan tubuh Chanyeol yang ambruk menimpa tubuh mungil Baekhyun. Mengecupi kembali seluruh permukaan wajah si mungil sembari membisikkan kata-kata cinta yang mampu membuat Baekhyun melambung semakin tinggi.

"saranghae~" suara Chanyeol yang berbisik namun masih terdengar ketegasan miliknya menurut Baekhyun sangatlah sexy.

.

.

Kris berlari tergopoh memasuki mansion milik Chanyeol, tak selang lama Jongin dan Sehun menyusul.

"Tuan.." Jung ahjumma bahkan sampai terlihat pucat saat menghampiri Kris.

"biar saya cek ke atas ahjumma" Jung ahjumma hanya mengangguk dan mengikuti langkah Kris yang tengah menaiki tangga menuju salah satu kamar di mansion mewah itu.

Kris membuka salah satu kamar di mansion Chanyeol dan yang didapatinya adalah keadaan yang sangat mengenaskan dimana pecahan kaca berada dimana-mana dan juga seorang wanita yang tengah meringkuk di sudut suangan sedang terisak dengan tubuh gemetar.

"Irene.."

"aku tidak membunuhnya.."

"hey tenanglah" Kris mencoba mendekat untuk meraih tubuh Irene, namun yang didapatinya adalah Irene yang semakin beringsut ke belakang menghindar dan semakin terisak dengan gumaman yang sama.

"aku tidak membunuhnya hiks.."

"dimana Chanyeol?" Jongin yang baru saja masuk bertanya kepada Jung ahjumma.

"saya tidak tau tuan, tuan muda pergi meninggalkan rumah sekitar satu setengah jam yang lalu"

Jongin menjambak rambutnya frustasi dan mencoba menghubungi Chanyeol, namun lagi-lagi tidak ada jawaban dari Chanyeol.

"maaf saya bingung harus menghubungi siapa lagi jadinya saya menghubungi tuan Kris dan tuan Sehun karena tuan Chanyeol tidak mengangkan telfonnya"

"tak apa ahjumma.." Jongin mencoba menenangkan Jung ahjumma karena dia tau pasti Jung ahjumma sangat kaget dengan keadaan Irene yang seperti ini. sedangkan Sehun dan Kris masih mencoba untuk menenangkan Irene.

.

.

Baekhyun merapikan pakaian Chanyeol yang berserak di lantai kamarnya, sedangkan kekasih jangkungnya hanya bergelung di dalam selimut meskipun Chanyeol tidak sedang tidur.

Saat akan merapikan celana Chanyeol tak sengaja Baekhyun merasakan getar panjang yang berasal dari ponsel Chanyeol yang berada di saku celana pria itu.

Takut jika hal penting maka Baekhyun mengambil ponsel Chanyeol, nama Jongin tertera disana dan saat getar itu berhenti terlihat pemberitahuan panggilan masuk sebanyak 13 kali dari Jongin.

"Chanyeolie.. ponselmu bergetar dan Jongin yang menelfonmu, banyak sekali" Chanyeol menyingkap selimut yang menutupi wajahnya dan Baekhyun segera menghampiri kekasihnya itu.

Ponsel Chanyeol bergetar lagi dan nama Jongin masih setia bertengger disana.

"Ha~"

"Yak Park Chanyeol.! kau tuli atau apa aku sudah menghubungimu sejak tadi"

Belum sempat Chanyeol menyelesaikan kalimatnya, Jongin sudah mengumpatinya dan berteriak dari sebrang sana.

"jangan berteriak padaku Kim"

"persetan.. cepat pulang karena wanita simpananmu sedang mengamuk dan menghancurkan rumahmu bodoh" tubuh Chanyeol seketika terkesiap setelah mendengar penuturan Jongin. Tanpa menunggu kelanjutan perkataan Jongin, Chanyeol segera menyambar pakaiannya dan memakainya dengan terburu.

Chanyeol bahkan langsung berlari sampai melupakan Baekhyun yang menatapnya kebingungan.

Baekhyun ikut berlari mengejar Chanyeol karena ia khawatir telah terjadi sesuatu sampai-sampai Chanyeol bahkan berlari meninggalkannya tanpa sepatah katapun.

"Baek?" Chanyeol merutuki dirinya sendiri saat bagaimana bisa ia pergi begitu saja hingga mengakibatkan Baekhyun berlari menyusulnya dan ikut masuk kedalam mobilnya. Kekasihnya pasti tengah cemas.

"maafkan aku sayang, ada masalah di kantor yang harus segera kuselesaikan" Chanyeol menangkup wajah kelelahan Baekhyun, gadisnya pasti berlari sangat kencang untuk mengejarnya.

"apa sangat gawat? Perlu ku temani? Kau seperti sangat kalut Chan, ada apa?" lihatlah.. Baekhyun bahkan benar-benar mengkhawatirkan masalah Chanyeol tanpa tau masalah apa sebenarnya yang sedang terjadi.

"tidak sayang, maafkan aku sampai lupa berpamitan padamu" Chanyeol membawa Baekhyun kedalam pelukannya, ia merasa sangat bersalah pada kekasihnya. Bagaimana bisa dia sampai terlihat sekalut itu dan sampai hati melupakan Baekhyun yang jelas-jelas ada di depannya demi wanita yang hanyalah masa lalunya?.

"hey.. tak apa, aku mengerti" Chanyeol melepaskan pelukannya dan segera mencium kening Baekhyun.

"aku akan kembali untuk menjemputmu nanti malam" Baekhyun hanya mengangguk meskipun sebenarnya dia penasaran tentang apa yang terjadi hingga Chanyeol sekalut tadi. Namun dia memilih diam, toh dia bisa bertanya oada Chanyeol nanti, pikirnya.

"hati-hati menyetirnya" Chanyeol mengiyakan dan segera turun dari mobil kembali untuk mengantarkan Baekhyun kembali masuk kedalam lift.

.

.

Chanyeol terengah saat sampai di kamarnya. Kris, Sehun dan Jongin masih ada disana sedang berusaha menenangkan Irene.

"aku tidak membunuhnya.."

"hey..hey ini aku, tenanglah" Chanyeol langsung membawa tubuh Irene dalam dekapannya dan membisikan kata-kata penenang untuk wanita yang berstatus sebagai mantan kekasihnya itu.

"Chan hiks tolong aku.. aku tidak membunuhnya"

"iya aku tau.. tenanglah, aku disini uusshh" Jongin dan Sehun saling pandang seakan mereka mampu berkomunikasi lewat sorotan mata masing-masing.

.

.

"dia sudah tenang?" Chanyeo mengangguk atas pertanyaan Sehun sembari meneguk segelas wine miliknya.

"bukankah sebaiknya kita bawa dia ke rumah sakit saja Chan?" Jongin mendapatkan tatapan tajam dari Chanyeol atas sarannya itu. Tapi Sehun memiliki pemikiran yang sama dengan Jongin, Kris juga.

"kurasa untuk kali ini Jongin benar Chan" Kris mengutarakan pendapatnya.

"kau gila?" Chanyeol menatap tajam pada kedua temannya itu, Sehun masih diam dengan pikirannya sendiri.

"(Tidak, wanita itu yang gila) aku hanya memberi saran"

"kau tidak memiliki perasaan lagi dengannya bukan?" Kim Jongin sepertinya memang sudah tak menyayangi nyawanya sendiri hingga ia kembali berani melontarkan kalimat yang dapat membangunkan singa yang sedang tertidur itu. "aku hanya tak akan membiarkanmu menyakiti Byun Bee"

"sadarkah dengan siapa kau bicara saat ini Kim Jongin?" auranya sudah tidak nyaman lagi di sana.

Sehun membuang nafasnya dengan kasar dan kemudian beranjak pergi dari tempat itu. Sekeras apapun mereka berusaha, mereka tak akan mengalahkanya kekerasan kepala Chanyeol.

"yak.. Oh Sehun tunggu aku..!" Jongin bangkit untuk mengejar Sehun namun sebelumnya ia kembali berbalik dan menatap tajam pada Chanyeol. "ingat Yeol, aku tak akan membiarkanmu menyakiti Byun Beeku, atau jika kau berani menyakitinya akan kupastikan aku akan membawa Byun Bee pergi darimu" ucapnya final.

Chanyeol mengeraskan rahangnya, tak terima akan ancaman Jongin.

"aku tak berkomentar banyak dude, tapi ingatlah.. dia bukan seseorang yang pantas untuk kau jadikan alasan untuk kehilangan Baekhyun" Kris menepuk bahu Chanyeol dan mengikuti langkah Jongin dan Sehun untuk keluar dari rumah Chanyeol.

.

.

Sudah seminggu lamanya Baekhyun tak pernah bisa menemui Chanyeol. Mereka hanya melakukan komunikasi melalui sambungan telephone, itupun sangat jarang. Bahkah satu minggu yang lalu tepat setelah Chanyeol pergi dari apartemennya Chanyeol tak menepati janjinya untuk menjemput Baekhyun pada malam harinya.

Baekhyun sebenarnya cukup penasaran, namun lagi-lagi Chanyeol selalu mengatakan jika ia hanya sibuk dengan pekerjaan di kantor yang memang sedang mengalami sedikit hambatan sehingga Chanyeol harus lembur setiap hari dan tak pernah bisa menemui Baekhyun.

Namun bagaimanapun Baekhyun itu bertetangga dengan Sehun, bukannya Sehun itu wakil direktur di perusahaan Chanyeol? tapi setau Baekhyun Sehun selalu pulang tepat waktu.

Pernah sekali Baekhyun bertanya pada Sehun mengapa ia tidak lebur seperti Chanyeol, namun jawaban yang di berika Sehun hanya berupa senyuman dan juga usakan pada kepala Baekhyun.

Hari ini Baekhyun berniat untuk memberikan kejutan pada Chanyeol dengan membawakan makan siang untuk kekasihnya itu.

Baekhyun membawa langkah riangnya menuju ruangan Chanyeol, ada Jongdae yang sepertinya sedang bersiap untuk pergi makan siang di depan ruangan Chanyeol.

"Jongdae-ssi?" Baekhyun menyapa Jongdae dengan senyuman yang selalu terpaut indah pada bibirnya.

"Ohh Baekhyun-ssi, emm~" sekiranya Jongdae sedikit bingung dengan kehadiran Baekhyun disini, apalagi setelah melihat tas berisi kotak makan yang di bawa Baekhyun.

"Chanyeol di dalam?" seperti biasa, setiap datang ke kantor Chanyeol, Baekhyun akan selalu bertanya oada Jongdae terlebih dahulu apakah Chanyeol ada di ruangannya, atau sekedar bertanya apakah sedang ada tamu Chanyeol.

"maaf Baekhyun-ssi, tetapi sajangnim sedang tidak ada di kantor.. beliau baru saja meninggalkan kantor sekitar 10 menit yang lalu"

"aah begitukah, baiklah aku akan menghubunginya, terimakasih Jongdae-ssi"

Baekhyun sebenarnya sedikit kecewa, karena ia tak mendapati Chanyeol di kantor saat jam makan siang, kemana kekasihnya itu pergi? Karena Chanyeol bukan tipe orang yang suka makan siang di luar kantor selama ini. Baekhyun tau itu, kata Chanyeol.. akan memakan waktu lama jika ia harus keluar kantor untuk sekedar makan siang, sedangkan cafetaria kantor juga menyediakan makanan yang ta kalah lezat dari restoran-restoran di luaran sana. Atau lebih menyenangkan lagi jika Baekhyun berbaik hati mau membawakan masakannya untuk makan siang Chanyeol di kantornya.

Baekhyun mencoba menghubungi Chanyeol, namun lagi-lagi tak ada satupun panggilannya di angkat ataupun pesannya terbalas oleh Chanyeol.

Baekhyun membawa kembali langkahnya untuk keluar kantor Chanyeol.

"Byun Bee?" aahh jangan tanya itu siapa, karena hanya ada satu orang yang akan memanggilnya dengan sebutan itu dan dengan suara bersemangat seperti itu. "hey kau disini Byun Beeku?" Jongin ada disana, bersiap memasuki mobilnya kala Baekhyun melintas di depan gedung perusahaan Chanyeol.

"Kayii?" Baekhyun menyambut pelukan Jongin, selalu seperti itu memang.

"apa yang kau lakukan?" tanya laki-laki dengan kulit tan itu saat pelukan mereka terlepas.

"aku ingin mengantarkan makan siang pada Chanyeol, tetapi ternyata Chanyeol sedang tidak di kantor" ada raut kekecewaan yang dapat Jongin lihat dengan jelas dari sorot mata gadis itu.

Jongin tak taunya sudah menepalkan tangannya tanpa Baekhyun sadari.

"aah kebetulan aku sangat lapar, bolehkan aku saja yang memakannya?" Jongin hanya berusaha untuk menghibur sahabat barunya itu. Entah, tak tau apa yang terjadi pada dirinya, saat pertama kali melihat Baekhyun dia sudah memilii keinginan kuat untuk melindungi gadis ini, Jongin bisa melihat sosok adik perempuan dalam diri Baekhyun.

"tentu saja.. bagaimana jika kita makan di taman yang ada di dekat tikungan sana?" Jongin mengiyakan dan segera menggiring Baekhyun untuk memasuki mobilnya dan mereka segera menuju taman yang Baekhyun maksud.

.

.

Chanyeol tersenyum sembari memperhatikan wanita yang kini sedang sibuk menyiapkan isi piring untuknya.

"jangan memandangiku terus Yeol"

"wae?" Chanyeol hanya menyahutinya singkat, masih tak mau mengalihkan atensinya dari Irene.

"aku malu" semburat merah tampak jelas di pipi Irene, dan Chanyeol terkekeh melihatnya.

Chanyeol bersyukur karena keadaan Irene jauh lebih baik saat ini, meskipun waktunya selama seminggu ini harus tersita sepenuhnya untuk Irene namun ia lega karena Irene sudah bisa bersikap seperti biasa. Dia tidak lagi ketakutan seperti biasanya, meskipun terkadang mimpi buruk di malah hari masih menghampiri tidur wanita itu.

Chanyeol selalu ada di sampingnya karena pada kenyataannya hanya dia yang bisa menenangkan Irene saat perempuan itu kembali merasa tertekan.

Flash Back On

Chanyeol, Sehun, Kris dan Jongin datang dengan menggebrak pintu kediaman Hwang Minhyun. Sudah ada Irene yang menagis memandangi mayat sosok laki-laki yang merupakan suami dari wanita itu disana.

Chanyeol segera merengkuh tubuh Irene dan membawanya sedikit menjauh.

"apa yang terjadi?" Chanyeol mencoba bertanya pada Irene namun wanita itu hanya menggigil dan terisak ketakutan.

Sehun, Jongin dan Kris sedang mengamati tubuh Hwang Minhyun yang tergeletak dengan lubang luka tembak pada pelipisnya.

"Bae Irene jawab aku, apa yang terjadi?" Chanyeol mengguncang tubuh Irene untuk mengembalikan kesadaran wanita itu.

"D-dia ingin mem-membunuhku hks" Irene mulai menceritakan kejadian yang sebenarnya dengan tubuh bergetar da juga isak tangis yang tak bisa berhenti. Mulai dari perselisihan dirinya dengan Hwang Minhyun tentang keputusan ayah Irene yang masih tidak mau membantu perusahaan Minhyun hingga ketika Minhyun ingin menembaknya.

Irene masih mengingat bagaimana ia vas bunga tepat mengenai satu sisi kepala Minhyun, meski tidak keras namun itu berhasil membuat Minhyun lengah sampai Irene entah mendapatkan kekuatan dari mana untuk menekuk tangan Minhyun dan menarik pelatuk pistol yang di pegang suaminya itu hingga menembak tepat pada pelipis Minhyun.

Untunglah ia segera menghubungi Chanyeol, hanya Chanyeol yang ada di pikirannya saat itu.

"aku ingin kalian mengurus ini, jangan sampai ada jejak Irene dan juga kita disini"

"kau gila?" Jongin protes dengan keras atas permintaan konyol Chanyeol.

Ini gila.. mereka sedang mencoba untuk menutupi tindakan kriminal?

Jongi sudah mencoba memberi jalan keluar untuk Chanyeo,agar hal ini di laporkan ke polisi karena membunuh orang dalam motif membela diri itu tidak apa.

Namun karena Irene yang terus menangis histeris tak ingin terlibat dengan hukum pada akhirnya Sehun, Kris dan Jongin harus bekerja keras melanggar hukum untuk menghilangkan jejak Irene dan juga mereka berampat.

Dan pada akhirnya publik hanya tau jika Hwang Minhyun mati karena bunuh diri.

Flash Back Off

.

.

"kau banyak melamun Byun Bee.." Jongin sudah selesai makan dan kini ia sedang mencoba membuka obrolan dengan Baekhyun. Bukan.. bukan obrolan biasa karena sedari tadi mereka juga sudah mengibrol.

Jongin hanya ingin tau bagaimana keadaan Baekhyun karena sejak tadi ia sering mendapati Baekhyun tiba-tiba melamun bahkan di sela-sela makan mereka.

"apa yang kau pikirkan?" lanjutnya.

Baekhyun menggeleng dan memberikan senyum teduhnya pada Jongin.

"hey meskipun kita belum lama saling mengenal tetapi aku sudah menjadi sahabatmu selama beberapa bulan ini, aku sangat tau seperti apa dirimu Bee.."

Baekhyun lagi-lagi hanya tersenyum sembari memandang Jongin. Jongin benar, mereka memang sudah dekat layaknya sahabat lama. Entah mengapa Baekhyun merasa nyaman jika bersama Jongin. Ini berbeda dengan yang dirasakannya pada Chanyeol.

Kurang lebih sejenis dengan apa yang dirasakannya pada Luhan.

"ceritalah, aku siap mendengarkannya" desak Jongin lagi.

"aku tak apa Kayi"

"karena Chanyeol?"

Sepertinya Baekhyun memang seorang pembohong yang buruk, ia harus mengakui itu.

"mungkin karena aku sangat merindukannya"

"kau masih memilikiku, jika kau kesepian datanglah padaku, kau bisa bercerita padaku sampai kau merasa puas.."

"aku senang bisa mengenalmu" siapa yang tak akan terpana dengan senyum kelewat lembut ini?. Baekhyun benar-benar seperti sosok malaikat yang terperangkap pada tubuh manusia cantik di dunia ini.

Jongin sangat mengagumi sosok yang sudah ia anggap seperti adiknya ini meskipun kenyataannya mereka seumuran.

"janga terlalu di pikirkan, hum?" sejujurnya Jongin merasa marah pada Chanyeol karena dia memang tau dimana Chanyeol saat ini.

Baekhyun hanya mengangguk dan masih tersenyum.

"(aku tau kau sedang bersedih Byun Bee.. jangan menutupi kesedihanmu dengan senyuman itu karena itu tak mempan untukku)"

.

.

Chanyeol sudah berada di depan apartemen Baekhyun saat dilihatnya Baekhyun yang keluar dari mobil Jongin. Tangannya mengepal kuat kala melihat Jongin memeluk Baekhyun dengan sangat erat dan Baekhyun membalasnya.

Chanyeol tau jika itu memang sudah menjadi kebiasaan Jongin untuk memeluk Baekhyun, namun sejak perkataan Jongin yang mengancam akan membawa Baekhyun pergi darinya, rasa tidak suka itu mulai muncul. Ia tak suka ketika Jongin memeluk Baekhyun, ia tak suka ketika Baekhyun tersenyum pada Jongin.

Ia sengaja berpamitan pada Irene untuk kembali ke kantor namun ia malah pergi ke apartemen Baekhyun. Dia sangat merindukan kekasihnya. Sejak pertemuan mereka satu minggu yang lalu, Chanyeol tak lagi bertemu dengan Baekhyun.

Namun apa yang di dapatinya kini nyatanya berhasil menyulut emosinya dan ia mengurungkan niatnya untuk menemui gadis itu.

Chanyeol melajukan mobilnya untuk kembali ke rumahnya.

.

.

"kau kembali?" Irene sedang menonton televisi ketika Chanyeol tiba. Ia bertanya dengan raut kebingungan karena belum lama Chanyeol meninggalkan rumah untuk kembali ke kantor katanya.

"hemm.. aku hanya tak tega meniggalkamu di rumah sendirian" Chanyeol mengecup singkat kening Irene dan mendudukkan dirinya di samping wanita itu.

"aku baik-baik saja Chan, kau sudah banyak membolos salam seminggu ini karena menemaniku di rumah" Irene menyandarkan kepalanya pada dada bidang Chanyeol, menikmati bagaimana Chanyeol mengelus lembut rambutnya.

"asal kau tak ketakutan lagi" Chanyeol kembali mengecupi puncak kepala Irene meskipun pikirannya kini berkelana kembali memutar perkataan Jongin dan juga pelukan Jongin dan Baekhyun tadi.

Chanyeol itu egois, semua tau itu. Chanyeol itu temperamen, tak ada yang menyangkalnya, dan Chanyeol itu keras kepala, semua mengakuinya.

Perasaan cemburu tak jelas yang ia miliki nyatanya mampu membawa dirinya pada perbuatan gila, lebih gila dari membawa Irene tinggal di rumahnya.

Dia pernah tersakiti karena cinta, hey siapa yang tidak tau itu? bahkan wanita yang membuatnya patah hati adalah wanita sama dengan yang sedang ia cumbu saat ini.

Dia adalah wanita yang sama dengan wanita yang sedang mendesahkan namanya saat ini.

Dia pernah merasa di hianati, mungkin itu yang menyebabkan dirinya membangun tembok yang amat tinggi untuk menjaganya dari kesakitan yang sama.

Chanyeol, menjaga diri dari persakitan yang sama bukan berarti bisa kau lakukan dengan perlakuan yang sama pula.

Entah apa yang Chanyeol pikirkan saat ini hingga ia melakukannya dengan Irene, tanpa memikirkan jika ada hati yang akan tersakiti di luar sana.

Dengar Park Chanyeol, keegoisan dan juga emosimu akan membawa kehancuran sendiri untukmu.

.

.

Baekhyun meremat jemarinya sendiri kala menunggu balasan pesan dari Chanyeol. Baekhyun baru saja mengirimkan pesan pada Chanyeol jika dia merindukan kekasihnya itu dan ingin bertemu dengan Chanyeol.

Drrt drrt..

Kau bisa menjatuhkan ponselmu jika terlalu bersemangat seperti itu Baekhyun.

Senyumnya mengembang sangat lebar kala membaca pesan balasan dari Chanyeol yang mengatakan jika kekasihnya itu akan menjemputnya.

Baekhyun segera bergegas berganti baju dan bersiap, siapapun.. lindungi gadis ini.

.

Baekhyun menghambur ke pelukan Chanyeol kala laki-lai itu sidah membentangkan tangan sambil berdiri di samping mobilnya.

"merindukanku?" Chanyeol mengecupi setiap inci wajah Baekhyun.

"kau sangat menyebalkan hiks" Baekhyun menangis, ia benar-benar merindukan kekasihnya.

"hey.. maafkan aku baby, jangan menangis" seketika rasa bersalah yang amat besar menyeruak dalah hati Chanyeol. Ia semakin mengeratkan pelukannya pada Baekhyun.

"aku merindukanmu hiks" Baekhyun masih terisak kecil, dia sendiri juga meruntuki dirinya yang sangat cengeng.

"aku lebih merindukanmu sayang, maafkan aku"

Setelahnya mereka masuk ke dalam mobil dan Chanyeol segera melajukan mobilnya menuju restoran yang sudah dia pesan sebelumnya.

.

.

"Sehunie.. apa yang kau pikirkan?" Luhan yang kini tengah bersandar nyaman pada dada Sehun setelah kegiatan panas mereka mulai membuka suara. Kata orang, obrolan setelah seks itu sangat efektif untuk pasangan.

"tidak ada.. aku hanya sedikit stres karena pekerjaan"

"jangan berbohong, kau tak bisa melakukannya jika denganku" Luhan menggerakkan tangannya untuk membuat pola acak di atas dada bidang Sehun.

"Kyungsoo dua minggu yang lalu mengundurkan diri dari kantor"

"setelah dia menghilang selama satu minggu itu?" Luhan mencoba menanggapi supaya Sehun lebih nyaman bercerita padanya.

"Yaa.. dan itu karenaku"

Luhan seketika mengerutkan kening, tak mengerti.

"dia bilang dia menyukaiku sejak lama, dan setelah dia tau tentang hubungan kita dia tak ingin melihatku lagi"

Luhan mendongak sembari menutup mulutnya, tak percaya dengan yang Sehun katakan.

"m-maafkan aku" Luhan menunduk, ia merasa bersalah karena secara tidak langsung ia menjadi perusak persahabatan Sehun dan Kyungsoo.

"hey.. jangan menyalahkan dirimu, ini bukan kesalahanmu dear" Sehun merengkuh Luhan mencoba menenangkan kekasihnya.

"tapi tetap saja karenaku persahabatan kalian rusak"

"tidak ada persahabatan yang rusak Lu, Kyungsoo hanya membutuhkan waktu, kami masih bersahabat, masih merkomunikasi dengan baik"

Satu beban sudah sedikit terangkat dari pundak Sehun setelah menceritakan masalah ini pada Luhan. Namun masih ada satu lagi masalah yang sangat membebaninya. Mengenai Baekhyun.

.

.

"apa kau masih akan sangat sibuk minggu ini?" Baekhyun bertanya sembari mengamati Chanyeol yang sibuk mengiriskan daging steaknya.

"sepertinya begitu baby"

"apa kita akan jarang bertemu seperti beberapa hari belakangan ini lagi?" Baekhyun masih memperhatikan wajah Chanyeol yang tak memiliki celah sedikitpun.

"aku akan usahakan menemuimu setiap pulang kantor jika tidak lembur, hum?"

"bisakah aku tidur denganmu malam ini Chan?" Chanyeol.. apa kau belum menyadari seberapa merindunya Baekhyun terhadapmu. Baekhyun yang bahkan tak pernah berinisiatif duluan untuk memintamu tidur bersamanya hari ini berani mengatakan itu padamu.

"maaf sayang, aku harus pulang ke rumah hari ini besok ada pertemuan dengan klien penting dan aku harus berangkat pagi-pagi sekali" Baekhyun kembali menelan pahit ludahnya sendiri.

Entah hanya perasaannya saja atau memang benar jika Chanyeol mulai berubah. Ada apa? Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Banyak pertanyaan yang ingin Baekhyun utarakan. Namun Byun Baekhyun tetaplah Byun Baekhyun, gadis itu lebih memilih memendam kegelisahaanya sendiri.

Dering ponsel Chanyeol menyadarkan Baekhyun dari lamunannya. Ia hanya mengangguk ketika Chanyeol meminta izin untuk mengangkat telfonnya menjauh dari Baekhyun.

Siapa yang menghubungi Chanyeol hingga ia harus mengambil jarak dari Baekhyun?.

.

.

"Chanyeol.. apa kau masih lama berada di luar?" terdengar suara Irene di sebrang sana.

"kenapa? Apa kau merasa sakit?" Chanyeol seketika berubah panik memikirkan Irene yang sendirian di rumahnya. Jung ahjumma dedang mengambil cuti selama dua minggu.

"tidak, aku hanya sedikit takut sendirian di rumah"

"aku akan segera pulang, tunggu di kamar saja sebentar lagi aku pulang"

Terdengar deheman kecil dari Irene di sebrang sana sebelum sambungan telephone itu terputus.

Chanyeol kembali menghampiri Baekhyun yang kini sedang melahap makanannya.

"terjadi sesuatu?" Baekhyun adalah sosok yang peka, dengan hanya melihat wajah Chanyeol saja gadis itu tau jika kekasihnya sedang tidak tenang.

"maaf baby, sepertinya kita harus segera pulang karena ayahku baru saja menghubungiku" Baekhyun terkesiap dan segera membersihkan bibirnya.

"tak apa, kita bisa pulang sekarang" Chanyeol mengelus punggung tangan Baekhyun, lagi dan lagi perasaan bersalah mnghampirinya.

.

.

Baekhyun baru memasuki apartemen miliknya ketika Luhan tiba-tiba menghampirinya dengan raut wajah yang sulit utuk Baekhyun tebak.

"aku menemukan seseorang dengan nama Kim Junmyeon"

.

.

TBC

.

.

Nah Loh Chaan? -_-

Anyeong yorobuuunnn..

Aahh akhirnya selesai juga ngetik Capther ini, maaf lama hehe.

.

.

Ohh Vi akan sedikit klarifikasi disini karena melihat review capther kemarin ada yang menyatakan kekecewaannya atas banyaknya momen Kaisoo dan Hunhannya.

Tak apa biar Vi jelaskan. Setiap peristiwa yang tertulis di masing-masing Capther pasti akan menjadi pengantar untuk menuju konflik ataupun peristiwa yang lain, jadi Vi menulis detail momen Kaisoo dan Hunhan itu juga karena akan di butuhkan di masa depan eceileeh..

Tepi tetep terimakasih untuk reviewnya dan maaf jika ada pihak yang merasa kecewa dengan FF ini.

.

.

Oohh iyaa Vi gemes sama Reva23, mana anaknya? Nihh udah di up yaa wwkwk, Vi dapet apa nih habis ini dari kamu? makasih untuk kalian semua yang masih setia menunggu kelanjutan ff ini..

Sorry For typo dan jangan Lupa tinggalkan jejak karena review dari kalianlah yang bakalan jadi penyemangat buat Vi cepetan Update.

.

.

Sudah dulu..

Review Jusseyoowww..