Chapter 9

(END)

.

.

.

Kumainkan ponselku dan merenggut ketika tak menemukan barang yang ingin kubeli di online shop, akupun hanya diam ketika namjoon dan nayoung duduk disampingku.

"Kali ini barang apa yang ingin kau beli?"

"Aku hanya ingin membeli headsfree bagus untuk ruang radio, kurasa aku akan keren memakainya." Ucapku, merekapun berdecak.

"O chanyeol." Panggilku, diapun menghampiriku dan duduk didepanku.

"Aku lapar."

"Makanlah..."

"Agma, pesankan makanan untukku."

"Aku sibuk..." dendangku, kuletakan ponselku dan memandang mereka senang.

"Oh iyah, aku ada rekaman untuk radio dan janji dengan jimin untuk menemuinya diatap sekolah. Dadah." Ucapku dengan berdiri dan berjalan meninggalkan mereka, namun belum berapa jauh chanyeol menahan tanganku dan membalikan tubuhku.

"Hm? Kenapa?" tanyaku heran ketika melihat raut seriusnya.

"Berhenti mengatakan itu."

"Mengatakan apa?"

"Jimin dan jungkook, kenapa kau terus membahas mereka?"

"Apa maksudmu? Tentu saja mereka salah satu dari sahabatku." Ucapku dengan melepaskan tangannya, namun dia mencengkram pundakku.

"Jimin sudah pergi, dia sudah meninggal!"

DEG

Akupun hanya terdiam dan entah kenapa aku merasa sesak ketika dia mengatakannya dengan nada frustasi.

"A-apa... apa maksudmu?"

"Jimin... dia adik tiriku yang kuceritakan padamu. Dia... dia meninggal ketika kecelakaan malam natal itu."

"Apa maksudmu? Jimin masih hidup!" bentakku dengan menghentakkan tangannya, akupun hanya memandangnya benci.

"Jangan mengatakan hal menggelikan park chanyeol."

"...namaku adalah park jimin."

Akupun hanya terdiam ketika sadar mengenai masalah marga mereka, akupun memandang chanyeol.

"Seokjin..."

"A-aku akan rekaman, biarkan aku pergi." Ucapku, akupun berbalik dan meninggalkannya.

.

.

.

"Kau baik-baik saja?" tanya taehyung, akupun hanya mengangguk dan tersenyum didalam studio rekaman.

"Baiklah, kita akan mulai dalam hitungan ketiga." Ucapnya, akupun merapihkan kertas-kertasnya dan memandang taehyung.

"1...2...3..."

"Selamat pagi semua siswa dan juga saengnim, hari ini sangat cerah bukan? Tentu saja, kami mendapatkan beberapa surat cinta yang manis mengawali musim panas menyenangkan ini. Ah, kali ini aku memegang surat semangat dari anggota dance kita yang sangat populer. Akan kubacakan." Ucapku, akupun tersenyum ketika melihat foto anggota dance dan ada jimin dan jungkook yang tersenyum senang dengan memegang piala mereka.

"Musim panas kami kali ini sangatlah tidak sempurna, baru saja musim panas kemarin kami mendapatkan piala yang sangat kami idamkan dengan menunjukan kualitas dance kami. Kami merasa kurang sempurna ditahun ini karena kami harus kehilangan kalian. Jimin dan jungkook, kalian tak akan kami lupakan. Kalian..." ucapku terhenti, akupun hanya diam terkejut dan memandang ke taehyung yang memandangku heran. Akupun menelan ludahku dan meremat kertas yang kupegang.

"K-kalian... sudah bekerja keras. J-jungkook kami, kuharap kau sadar dari komamu dan doa kami selalu menyertaimu. Dan jimin... kami harap... kami harap kau... bahagia disana." Ucapku, akupun menelan ludahku dan berusaha menahan air mataku.

"S-sudah sebulan jimin meninggalkan kita semua, semoga... semoga..." ucapku terhenti, akupun langsung berdiri dan melihat kearah taehyung.

"Seokjin..."

"Maaf... maaf." Ucapku, akupun berlari keluar studio dan menahan isakanku. Kuusap pipiku yang basah dan terus berlari berkeliling sekolah, kubuka pintu atap sekolah dan memandang kesana kemari namun jimin tak ada. Akupun kembali berlari kearah mading dan juga dia tak ada, kularikan kembali kakiku kearah tempat latihan mereka dan terdiam ketika melihat jungkook hanya terdiam dan memandangku sendu.

"Jungkook..."

"Maafkan aku." Ucapnya, akupun berlari kearahnya dan berdiri didepannya.

"Katakan ini semua tak benar? Katakan jika kau yang ada didepanku dalam keadaan sehat! Katakan!" teriakku, namun jungkook hanya memegang tanganku dan aku terisak ketika tubuhnya bercahaya.

"Bantu aku... untuk memenuhi permintaan ketigaku." Ucapnya, akupun mendongak dan melihat wajah cerahnya yang tersenyum.

"Aku... ingin berpisah denganmu dengan cara yang manis."

"Jungkook-ah." Gumamku, akupun perlahan memejamkan mataku ketika dia mendekat dan mencium bibirku pelan. Aku hanya bisa memejamkan mataku dan perlahan membuka mataku ketika tak merasakan apapun.

"Jungkook-ah..." panggilku, akupun kembali terisak dan menggeleng.

"Jim..." lirihku, akupun berbalik dan berlari keluar dari sekolah tak peduli penjaga sekolah memarahiku.

Jimin POV

Kuhentikan langkahku dan berbalik ketika mendengar suara isakan seseorang, akupun hanya memandang seokjin yang tengah menangis dan aku tersenyum.

"Kau sudah tahu."

"Kumohon jangan pergi." Ucapnya, diapun berjalan kearahku dan memelukku yang merentangkan tanganku kearahnya.

"Kumohon jangan pergi."

"Aku harus bagaimana? Jika kau sudah tahu maka aku harus pergi." Ucapku, akupun melepaskan pelukannya dan mengelus kepalanya.

"Jangan terus menangis sendirian, kau harus meluapkan perasaanmu pada seseorang agar membantumu."

"Jim..."

"Berhenti juga menyesalinya semuanya, kau tak pernah salah. Berhenti menyalahkan ini dan itu semuanya berasal darimu, berhenti merutuki dirimu sendiri."

"Ini semua salahku... kau... kecelakaan pada malam natal itu bersama dengan waktu hoseok oppa kecelakaan bukan?" ucapnya, akupun tersenyum.

"Bukankah aku sudah mengatakan jika itu bukan salahmu?" ucapku, akupun mengelus pipinya yang basah.

"Aku tak menyesal bertemu denganmu, kau begitu manis dan aku suka."

"Jimin..." isaknya, akupun terkekeh pelan dan berusaha menahan air mataku.

"Tolong jaga jungkook untukku."

"Tidak mau, aku ingin kau juga menjaganya. Jimin, kumohon."

"Aku akan menjaga kalian, diatas sana." Ucapku, akupun kembali mengelus pipinya dan tersenyum sebelum perlahan tubuhku menghilang.

"Tidak jimin, jangan pergi. Kumohon!" teriaknya, namun aku hanya tersenyum dan memejamkan mataku perlahan.

Seokjin POV

"Jimin! Tidak! Jangan pergi! Jangan!" teriakku, akupun terisak dan berlutut.

"Jimin, aku membutuhkanmu. Jangan tinggalkan aku, jangan tinggalkan aku." Isakku, dan kini aku hanya menangis.

.

.

.

Kubuka pintu kamar dirumah sakit yang kukunjungi, akupun memandang kedepan dan melihat seorang pria yang selalu tersenyum dan bertingkah aneh itu tengah terbaring dengan beberapa alat rumah sakit yang tertempel ditubuhnya. Akupun hanya menangis dalam diam dan berjalan kearahnya.

"Jungkook-ah..." panggilku, namun hanya suara alat pendeteksi jantung yang berbunyi.

"Kumohon, bangunlah." Pintaku, akupun meraih tangannya dan menggenggamnya erat.

"Ini bukan gayamu sekali, kau itu selalu tersenyum dengan gigi kelincimu, menari dengan musik yang suaranya benar-benar mengganggu, selalu bolos dengan santainya, mengajakku melakukan hal-hal konyol. Kumohon lakukan itu lagi, jangan dengarkan perkataanku yang kemarin mengatakan berhenti melakukannya. Lakukan saja sepuasmu, tapi kumohon bangunlah." Ucapku, akupun hanya terisak dan mengelus pipinya.

"Jangan lakukan hal yang sama dengan jimin, jika kau melakukannya aku akan benar-benar memukul kepalamu." Ancamku, namun dia hanya terdiam.

"Ireona jungkook-ah, jebal ireona..." pintaku lirih, akupun hanya menunduk dan menempelkan tangannya pada keningku.

"Ireona... hiks."

.

.

.

1 tahun kemudian

"Jjang!" ucapku senang, merekapun bergumam wow dan menerima headsfree radio yang kuberikan pada mereka.

"Kau serius membelikannya?" tanya taehyung, akupun mengangguk.

"Ini headsfree terkeren yang pernah kulihat, noona kau sungguh terbaik." Ucap jinu, akupun hanya tersenyum senang dan memegang pundakku.

"Pundakku pegal sekali... ah aku ingin berjalan-jalan sebentar sebelum rekaman."

"Kali ini aku yang piket, kau istirahat saja." Ucap taehyung dengan mengelus kepalaku, akupun hanya mengangguk dan tersenyum sebelum keluar studio.

"Sudah tak terasa, aku setahun sekolah disekolah ini dan memiliki banyak teman." Ucapku, akupun tersenyum senang.

"Menyenangkan sekali..."

"Ya! Jungkook-ah!" panggil seseorang, akupun menghentikan langkahku ketika ada yang memanggil nama itu, akupun berbalik dan melihat seorang pria yang tengah berjalan dengan santainya. Diapun memandang kearah suara panggilan tadi dan tersenyum senang.

"Yeogyeum!" panggilnya, akupun hanya terpaku diam ketika teman-temannya merangkul pundaknya dan nampak bahagia ketika jungkook ada disini. Diapun memandangku dan entah kenapa aku tersenyum haru ketika memandangnya.

"Jungkook..."

"Haloo... malaikat pelindungku." Ucapnya, diapun berlari kearahku dan berdiri didepanku.

"Aku... kembali." Ucapnya, akupun mengangguk dan memeluknya ketika dia juga memelukku.

"Aku kembali, hanya untukmu." Ucapnya, akupun terkekeh pelan.

"Masih saja menggombal, dasar." Ucapku, namun dia hanya tertawa dan mengelus kepalaku sebelum memelukku gemas.

"Jimin-ah... lihatlah kami."

"Aku akan bahagia bersamamu dan karenamu..."

"Jungkook dan kami semua tak akan melupakanmu, karena kau... terlalu berharga untuk dilupakan."

"Dan juga, jungkook sudah menekan tombol kepercayaanku. Jadi aku sekarang sangat percaya jika apa yang kau katakan adalah kebenaran."

"Kami mencintaimu."

.

.

.

Chapter terakhir...

Maaf jimin stan aku bikin jimin mati disini, tapi sebenarnya peran jimin disini sangat besar buat bahagiain seokjinnya.

Tadinya mau bikin sequelnya, tapi takut membosankan jadi gak jadi deh.

Thanks kalian semua

Annyeong!

Jinjun imnida...