Hallloooo…saya kembali buat update fic ini…pasti readers semua dah pada nunggu kan*readers : siapa yg nungguin!!!*
Ok, lah langsung saja…
Disclaimer : Masashi Kishimoto
##Fire and Ice##
"Sebaiknya sekarang kita pergi ke kediaman Hyuuga,"ucap Gaara setelah sekian lama terdiam. Namun, sebenarnya kini rasanya hatinya seperti tersayat-sayat bahkan tercabik-cabik. Melihat orang yang disayanginya dibawa pergi oleh Sasuke. Dan mungkin sekarang Sakura berada dalam bahaya.
"Hn…"balasan Itachi.
Kemudian Gaara berjalan mendahului meninggalkan hutan itu. Baru setelahnya sosok Itachi mengikutinya dari belakang. TenTen yang belum mengerti sama sekali apa yang terjadi barusan hanya diam. Kemudian mengikuti sosok Itachi dibelakangnya. Ingin sebenarnya TenTen menanyakan hal tersebut pada Gaara. Namun, dia urungkan karena melihat sikap dan wajah Gaara yang sepertinya sedang marah. Jadi, akhirnya TenTen menyakan hal itu pada sosok yang berada didepannya, Itachi.
"I…itu…Maaf…Kak Itachi…a…aku…ingin menyakan sesuatu,"ucap TenTen terbata.
"Mengenai Sakura?"
"Uhmm…"
"Kalau begitu kau juga harus ikut bersama kami ke kediaman keluarga Hyuuga, TenTen!!"ucap Itachi tanpa membalikkan tubuhnya untuk menghadap TenTen. "Akan aku jelaskan nanti dimobil."
-
-
"Neji…apa kau masih kuat?"tanya Gai pada sosok seorang pemuda yang kelelahan. Itu terlihat karena suara nafas Neji yang memburu tak karuan.
"Hah…hah…aku…hah…masih kuat. Aku tidak akan menyerah untuk mengeluarkan kekuatanku,"ucap Neji disela-sela mengatur nafasnya yang memburu. "Aku mempunyai seseorang yang harus ku lindungi."
"Sakura, benar 'kan?"tanya Gai dan tersenyum.
"Benar…aku akan melindunginya walalu nyawaku taruhannya."
"Begitu…baiklah. Tanamkan semangat mu untuk melindungi Sakura dihatimu. Dan rubahlah menjadi kedalam kekuatan,"ucap Gai dan menyeringai.
"Merubahnya menjadi kekuatan?"
"Benar…dan sekarang cobalah berkonsentrasi. Bayangkanlah jika sekarang Sakura berada dalam bahaya. Apa yang akan kau lakukan?"
"Yang akan kulakukan…adalah…"
"Marah…dendamlah pada orang yang sudah menyebabkan Sakura dalam bahaya. Keluarkan semua amarahmu, Neji!!!"ucap Gai dan memposisikan tubuhnya dalam keadaan siaga.
"Sakura…aku pasti akan melindungimu!!"batin Neji. Dan tak lama kemudian tedengar suara gemuruh. Suara seperti air yang menerjang bebatuan dibawahnya.
"Berhasil rupanya…dan sekarang yang harus aku lakukan adalah…"
BUGH!!
Gai menendang Neji tepat didada. Yang menyebabkan Neji terlempar cukup jauh. Hingga dia terjerambab masuk kedalam genangan air terjun.
"Nah, Neji…sekarang coba kendalikan air itu didalam!!"ucap Gai.
Dan Neji hanya menahan nafas agar tidak terlalu masuk banyak air kedalam mulutnya. Kemudian dia berusaha untuk naik kepermukaan. Namun, nafasnya sudah tidak kuat lagi. Kemudian terlintas bayangan Sakura didalam pikirannya yang memberikan kekuatan mendorong tubuhnya untuk berenang naik kepermukaan. Tapi, usahanya sia-sia. Kini tubuhnya muali terasa lemas. Dadanya sudah sesak dan sakit. Akhirnya tubuhnya jatuh perlahan-lahan kedasar air terjun itu.
"Sakura…aku…sudah tidak kuat lagi,"batin Neji dengan mata tertutup.
##Fire and Ice##
"Baiklah yang pertama, apa yang ingin kau ketahui tentang kejadian barusan?"tanya Itachi tanpa memandang TenTen yang berada disampingnya.
"Bagaimana bisa Sasuke mengeluarkan api dari tangannya tanpa luka bakar?"tanya TenTen dan memandang Itachi dengan mimic yang serius.
"Well…sepertinya aku harus menceritakannya dari awal,"ucap Itachi.
"Kalau begitu aku ingin tanya sesuatu. Apa kau pernah membaca buku sejarah tentang berdirinya Konoha ini, TenTen?"tanya Itachi.
"Uhmm…"
"Lalu apa kau tahu tentang reinkarnasi dari pemimpin kelima Klan yang sudah mendirikan Konoha ini?"
"Tentu saja…mereka Klan Uchiha, Namikaze, Haruno, Hyuuga dan Sabaku,"jawab TenTen dengan lancar.
"…"
Hening.
Hening.
"Astaga…nama Klan itu…kenapa aku baru menyadari hal itu sekarang,"ucap TenTen dengan wajah sangat-sangat terkejut. Kemudian dia menatap Itachi untuk meminta penjelasan lebih lanjut.
"Sakura, Neji, dan Gaara…adalah reinkarnasi dari Klan pendiri Konoha ini. Mereka juga memiliki kekuatan yang diturunkan oleh pendiri Konoha tersebut,"ucap Itachi.
"Lalu, bagaimana dengan Naruto dan Sasuke?"
"Mereka bukan reinkarnasi dari pendiri Konoha ini. Tapi, tubuh mereka telah dirasuki oleh jiwa dari pemimpin Uchiha dan Namikaze yang disegel oleh "Tuan Putri' dimasa lalu. Entah, bagaimana caranya jiwa itu terbebas dan merasuki tubuh Sasuke dan Naruto. Jadi yang telah membawa Sakura pergi adalah jiwa pemimpin Uchiha yang berada didalam tubuh adikku, Sasuke."
"Hanya itu saja yang dapat aku ceritakan padamu, TenTen. Aku tidak bisa mengatakan lebih dari itu padamu. Maaf,"ucap Itachi kemudian.
"Tidak apa-apa. Aku sudah cukup memahami kejadian ini,"ucap TenTen.
"Tapi, kira-kira Sakura akan dibawa kemana oleh Sasuke. Lalu, apa yang akan dilakukannya terhadap Sakura?"
"Hal itu…aku tidak tahu tujuan sebenarnya kenapa dia membawa Sakura,"ucap Itachi.
-
-
"Sial!! Beraninya kau melakukan hal itu pada Sakura,"ucap Gaara dan melajukan lebih cepat sepeda motornya. Bahkan mobil Itachi yang tadinya berada didepan Gaara, telah tersusul oleh Gaara. Dan meninggalkan jauh mobil Itachi dibelakang. "Aku…pasti akan membunuhmu…Uchiha…Sasuke."
##Fire and Ice##
"Huufftt…akhirnya sampai juga,"ucap seorang pemuda berambut kuning. Turun dari motor kuningnya. Membuka helm yang melekat dikepalanya. Setelah itu dia melangkahkan kakinya menuju gerbang kediaman Hyuuga. Menekan sebuah bel yang berada tepat disamping kanan gerbang megah itu. Cukup lama pemuda itu berdiri disana. Sampai dia tiba-tiba merasakan sesuatu yang membuatnya menampakan wajah pucat dan berkeringat dingin tiba-tiba. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Eh…aura kekuatan ini…Gaara,"ucap Naruto dan mengalihkan pandangannya keujung jalan kediaman Hyuuga ini. "Dia sedang menuju kemari."
"Tapi…auranya kali ini sangat berbeda pada saat waktu itu. Auranya yang sekarang ini…seperti aura kemarahan yang luar bisa, juga amarah untuk membunuh seseorang. Apa yang terjadi padamu, Gaara?"batin Naruto.
Dan benar saja sebuah sepeda motor berwarna merah sedang melaju kencang menuju Naruto. Atau lebih tepatnya menuju gerbang kediaman Hyuuga. Disusul oleh Sedan berwarna hitam dibelakangnya.
Sepeda motor itu tepat berhenti disamping sepeda motor milik Naruto. Disusul oleh Sedan hitam itu. Lalu, pengendara motor itu turun. Menampakan wajah seorang pemuda berambut merah darah. Dan tatapan matanya yang menusuk. Tak lama kemudian keluarlah dua sosok dari dalam mobil Sedan hitam itu. Yang satu gadis berambut coklat yang dicepol dua. Dan yang satunya lagi seorang pemuda berambut hitam panjang yang diikat dibelakang tengkuknya. Penampilannya jauh dari kata rapih. Wajahnya juga menampakan kelelahan yang luar biasa.
"Kau…"desis Gaara. Kedua tangannya mengepal. Sorot matanya lebih menusuk saat meliat Sasuke membawa Sakura tadi. Giginya bergemeletukkan. Kedua rahangnya mengeras.
"Naruto…"ucap TenTen pelan nyaris berbisik.
Duagh!!
Tak disangka-sangka tiba-tiba saja Gaara memukul pipi kanan Naruto. Sehingga membuat tubuh Naruto terjengkang kebelakang dan jatuh keaspal cukup keras. Dari sudut bibirnya cairan merah pekat darah meluncur kedagunya. Naruto meghapus darah disudut bibirnya dengan tangan kanannya. Kemudian dia baru saja ingin berdiri. Namun, Gaara kembali memukul wajah Naruto. Hingga Naruto kembali terjerambab keaspal dengan keras. Darah disudut bibirnya kembali mengalirkan darah segar yang lebih banyak dari sebelumnya. Rasa amis, ngilu, perih dan sakit bercampur jadi satu. Jika saja tangan kanan Gaara tidak ada yang menahannya. Mungkin Naruto sudah terpukul untuk yang ketiga kalinya. Itachi, yang sudah menahan tangan Gaara yang sudah mengepal ketika hendak memukul Naruto.
"Sudah hentikan Gaara!!"ucap Itachi mencoba menenangkan Gaara.
"Benar…hentikan Gaara. Apa kau ingin membunuh Naruto,"timpal TenTen yang juga ikut berusaha menghentikan Gaara.
Namun, sepertinya Gaara tidak bisa menahan keinginannya untuk melakukan hal lebih pada Naruto. Dibagian tangan kirinya- yang terbungkus sarung tangan hitam- sudah terlihat semacam aliran listrik. Itachi yang berada jarak dekat dengan Gaara sedikit memundurkan langkahnya, kini dia juga sudah melepaskan tangan kanan Gaara yang tadi hendak memukul Naruto.
Naruto yang melihat bahwa Gaara ingin mengeluarkan kekuatannya segera berdiri dan bersikap waspada. Kini dia beranikan diri untuk berbicara pada Gaara. Alasan sebenarnya dia tiba-tiba saja memukul wajahnya tanpa sebab.
"Apa alasan kau memukulku, Gaara?"
"Huh…tidak perlu kujawab pun kau sudah tahu sebabnya aku memukulmu, Namikaze,"ucap Gaara sinis.
"Aku sudah tahu…apa maksudmu? Aku sama sekali tidak tahu penyebab kau memukulku,"sanggah Naruto dengan cepat. Kini hembusan angin mulai tercipta disekeliling tubuh Naruto. TenTen dan Itachi yang berada jarak jauh dengan Naruto pun bisa merasakan hembusan angin itu.
"Apa yang sedang terjadi disini sebenarnya. Tangan kiri Gaara…lalu Naruto. Apa ini?"batin TenTen dengan wajah yang menyiratkan keterkejutan. Keringat dingin bercucuran didahinya. Kakinya sedikit gemetaran karena takut.
"Kau jangan berpura-pura seperti itu, Namikaze,"desis Gaara.
"Aku tidak berpura-pura sama sekali. Aku memang tidak tahu menahu alasan kau memukulku, Gaara,"ucap Naruto yang semakin menyiagakan tubuhnya.
"Dimana Sasuke sekarang berada…kau pasti tahu 'kan?"tanya Gaara
"Sasuke…aku tidak tahu dimana Sasuke berada sekarang. Seharusnya kau jangan bertanya padaku. Bertanyalah pada Kak Itachi yang jelas-jelas adalah kakanya sendiri."
"Kau tahu…Sakura dibawa pergi oleh Sasuke. Didepan kedua mataku sendiri, Kak Itachi dan juga TenTen. Mungkin saja sekarang Sakura berada dalam bahaya. Jadi, sebaiknya kau katakan sekarang dimana Sasuke berada,"ucap Gaara panjang lebar disertai tatapan yang menusuk.
"A…apa…Sasuke membawa pergi Sakura?"tanya Naruto balik.
"Jika benar begitu…ini sangat gawat. Ditambah lagi aku belum menemukan benda 'itu' dikuil kemarin sore sewaktu aku mencarinya,"batin Naruto.
"Ayo!! Katakan dimana sekarang Sasuke. Kau pasti mengetahui keberadaanya 'kan, Namikaze?"
"Kau salah…aku sama sekali tidak tahu dimana Sasuke berada sekarang,"ucap Naruto berusaha membuat Gaara dan semua orang yang berada disitu percaya.
"Kau pasti bohong…kau bersekongkol dengan Sasuke bukan?"
"Kau salah…sebaliknya aku berada dipihak kalian sekarang. Aku akan membantu kalian menemukan Sakura dan mengalahkan Sasuke,"ucap Naruto.
"Cukup!! Jangan berbohong lagi,"ucap Gaara dan semakin saja aliran semacam listrik ditangan kirinya semakin membesar dan menyebar. Dan sekarang merambat kelengannya. Terus. Hingga kini seluruh tubuhnya terlapisi oleh semacam aliran listrik itu.
"Gaara…apa yang kau lakukan. Sudah…hentikan!!"ucap Itachi. Namun, tak diindakan oleh Gaara. Dia tetap saja mengeluaran lebih banyak semacam aliran listrik disekujur tubuhnya.
"Hentikan…Gaara,"suara berat terdengar dari arah dalam gerbang kediaman Hyuuga yang baru saja terbuka. Dan menampakan sosok berwibawa seorang laki-laki paruh baya. Dibelakangnya terliat gadis perempuan berambut indigo panjang yang sedang menunduk sambil memainkan kedua jari telunjuknya didepan dada.
"Pa…paman Hiashi…Hinata,"ucap TenTen dan langsung mendekat pada mereka berdua. Langsung saja TenTen memeluk Hinata. Hinata sedikit terkejut akan tindakan tiba-tiba TenTen. Namun, sedetik kemudian dia membalas pelukan TenTen.
"Naruto benar…dia bukan musuh kita,"suara berat Hiashi kembali terdengar. "Percayalah…Gaara."
Namun, diluar dugaan Gaara malah menerjang kembali Naruto. Beruntungnya Naruto dia bisa menghindar dengan mudah. Perbuatan Gaara barusan benar-benar membuat orang yang berada disana membulatkan mata tak percaya.
Tok!!
Seseorang berhasil memukul tengkuk Gaara tanpa dia sadari. Setelahnya, Gaara terjatuh keaspal tak sadarkan diri. Semacam aliran listrik yang mengelilingi tubuhnya pun lama-lama menghilang.
"Dia masih belum bisa mengendalikan kekuatannya. Jadi terpaksa kubuat pingsan agar tidak jadi hal-hal yang lebih jauh lagi,"ucap seorang laki-laki berambut keperakan yang wajahnya hampir semua tertutupi sebuah masker.
"A…anda 'kan…"ucap Hiashi.
"Guru Kakashi…"pekik TenTen dan Naruto bersamaan.
Kakashi hanya tersenym simpul dibalik maskernya yang sama sekali tidak terlihat jika dia sedang tersenyum.
"Hallo…selamat malam semuanya,"ucap Kakashi.
##Fire and Ice##
"Ini…dimana? Kenapa semuanya serba putih seperti ini? Apa aku sudah mati?"ucap Neji sambil mengedarkan pandangannya pada tempat asing itu. Lalu, lama kelamaan tempat kosong dan putih itu mulai berubah menjadi tempat yang sama sekali tidak asing dimata Neji.
"Ini…sekolah dasar. Tempat sekolah ku, Sakura, Hinata, Gaara dan yang lainnya. Tapi, kenapa aku bisa ada sini?"ucap Neji.
Lalu dia melihat sesosok gadis kecil berambut merah muda pendek sebahu. Yang tengah dikelilingi oleh anak-anak kecil perempuan yang usianya lebih tua darinya. Dia seperti sedang memarah-marahi Sakura. Sakura kecil menangis tersedu-sedu. Dia memeluk lututnya sendiri karena takut. Kemudian salah satu dari anak perempuan yang mengerubungi Sakura menjambak rambut merah mudanya. Dan setelah itu mendorong tubuh Sakura keras ketanah. Kepalanya berdarah karena terbentur batu. Sakura menjerit disela isakan tangisnya. Bisa terdengar rintihan Sakura untuk berhenti. Namun, sepertinya anak-anak yang umurnya jauh lebih tua dari Sakura itu malah tersenyum mengejek.
"Hentikan…Sakura…kau jangan diam saja,"ucap Neji dan berusha mendekat pada sosok Sakura yang tengah terbaring lemah diatas tanah. Anak-anak perempuan itu sudah pergi setelah mengucapkan kata-kata kasar pada Sakura. Seperti 'anak tidak tahu diri', 'anak aneh' bahkan kata-kata yang belum pantas diucapkan oleh anak seumurannya.
"Sakura…"lirih Neji ketika sudah berada dekat dengan sosok Sakura. Dia hendak menyentuh kepala Sakura. Namun, alangkah terkejutnya ia bahwasannya, tangannya menembus kepala Sakura. "Apa yang terjadi denganku sebenarnya?"
"Kau tidak usah takut, Neji,"suara berat tiba-tiba saja terdengar ditelinga Neji. Suara itu seperti dia pernah dengar sebelumnya. Neji berusaha mencari sosok itu dengan mengedarkan matanya kesegala arah. Namun, dia tak dapat menemukan sosok yang tadi berbicara.
"Diatas…"suara itu terdengar kembali. Langsung saja Neji mendongakkan kepala keatas. Dan terliatlah sosok seorang pemuda dewasa. Yang memakai pakaian aneh dimata Neji.
Sosok pemuda dewasa yang dilihat Neji memakai pakaian yang bentuk pola pakainnya aneh. Dan semuanya serba putih. Hanya lapisan bawahan dari pinggang sampai lutut yang berwarna hitam. Dan juga sebuah ikat kepala yang menutupi keningnya. Yang lebih Neji terheran-heran, karena warna rambut dan kedua matanya sama dengannya. Rambut panjang coklat. Dan…kedua bola mata berwarna lavender.
"Kau…"ucap Neji.
"Ah…maaf aku belum memperkenalkan diriku,"ucap sosok pemuda itu dan perlahan-lahan turun kebawah. Hingga akhirnya dia menjajakan kedua kakinya ditanah. Berhadapan dengan Neji yang sekarang berwajah terkejut dan sekaligus takut.
"Namaku…Hyuuga Neji. Aku adalah salah satu pangeran pengawal 'Tuan Putri'."
"Namaku juga Hyuuga Neji,"ucap Neji dan menaikan sebelah alisnya tanda tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan.
"Ahaha…tentu saja aku tahu. Karena kau adalah reinkarnasi dariku. Rasanya aneh jika kau memanggil ku dengan sebutan Neji juga. Kalau begitu panggil aku Pangeran Hyuuga saja. Dan aku memanggilmu Neji. Bagaimana?"
"Terserah anda saja. Ah, maksudku…Pangeran Hyu…Hyuuga,"ucap Neji agak sedikit sulit dan juga menahan geli.
"Lalu…kenapa aku berada disini?"ucap Neji kemudian.
"Aku hanya ingin membantumu mengeluarkan kekuatanmu, Neji,"ucap Pangeran Hyuuga.
"Bagaimana caranya?"tanya Neji.
"Kau lihat keadaan Sakura disana,"ucap pangeran Hyuuga sambil menunjuk tubuh Sakura yang tidak berdaya diatas tanah. Darah segar keluar dari keningnya yang terbentur batu.
"Kau sewaktu meliat kejadian tadi merasa marah bukan? Kau ingin menolongnya dan Ingin melindunginya bukan?"
"Ya…"ucap Neji dan terlihat kesungguhan dikedua mata lavendernya.
"Kalau begitu keluarkan semangatmu untuk melindungi Sakura…"
"Aku pasti akan melindungimu, Sakura…"
"SAKURAAA…!!!"
-
-
"Lama sekali Neji didalam sana. Jangan-jangan apa dia sudah mati,"ucap Gai panik dan hendak menceburkan dirinya keair untuk menolong Neji. Namun, langkahnya terenti karena air didalam air terjun itu berputar-putar. Dan tak lama kemudian sosok Neji muncul didalam semacam gelembung aneh seperti balon air. Benda itu melayang-layang diudara, dan didalamnya terdapat sosok Neji yang tengah tersenyum. Tak lama kemudian balon itu turun dan pecah begitu saja ketika menyentuh tanah. Neji pun segera berjalan santai kearah Gai sambil menyunggingkan sebuah senyuman,
"Aku berhasil…aku berhasil mengeluarkan kekuatanku, guru Gai,"ucap Neji,"dengan begini…aku…bisa…melindungi…Sa…kura." Neji tak bisa menahan keseimbangan tubuhnya sendiri. Dia terjatuh tepat dihadapan Gai. Tak sadarkan diri. Gai yang melihatnya kemudian tersenyum dan berkata.
"Kau memang kuat, Neji. Ah…jadi tandamu bukan dipunggung, melainkan didahi. Tapi, bentuknya aneh,"ucap Gai sambil melihat sebuah tanda berbentuk aneh berwarna hijau didahi Neji. Setelah melihat tanda aneh itu, Gai menutupinya dengan sebuah perban dengan cara melilitkannya, kemudian menggendong tubuh Neji dipunggungnya. Kemudian dia melangkahkan kakinya menuju tangga dan keluar dari perpustakaan.
##Fire and Ice##
"Kenapa guru Kakashi bisa ada disini?"tanya Naruto heran.
"Panjang jika kuceritakan,"ucap Kakashi.
"Dan semuanya sebaiknya masuk. Kita bicarakan didalam,"ucap Hiashi dan mendahului untuk masuk kedalam. Diikuti Hinata, TenTen dan Itachi.
"Hei…Naruto…bantu aku mengangkat tubuh Gaara!!"ucap Kakashi dan berjongkok tepat disamping Gaara.
"Oh…uhmm…baiklah,"ucap Naruto akhirnya dan membantu Kakashi membopong tubuh Gaara kedalam kediaman Hyuuga.
"Kita keruang keluarga saja,"ucap Hiashi dan menggiring semuanya keruang keluarga. Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai diruang keluarga. Kira-kira sekitar dua menit mereka sudah sampai.
"Baiklah, kita baringkan Gaara disini saja,"ucap Kakashi dan membaringkan tubuh Gaara disofa panjang yang terpisah dengan sofa khusus untuk tamu duduk.
"Semuanya silahkan duduk!! Kita bicarakan hal ini dengan 'kepala dingin' ,"ucap Hiashi dan mulai mendudukkan dirinya disofa besar dan panjang. Diikuti oleh semuanya. "Baiklah, Itachi…sebelum kau bercerita sebaiknya kita tunggu kedatangan mereka terlebih dahulu."
"Apa ada orang selain kita disini yang akan datang kemari,"ucap Kakashi dan menatap Hiashi.
"Ada…kita tunggu saja kedatangan mereka."
"Hinata…tolong kau buatkan teh untuk semua orang yang ada disini!!"ucap Hiashi kemudian dan menatap Hinata. Dan dibalas anggukan oleh Hinata. Kemudian Hinata berdiri dari tempat duduknya.
"Biar kubantu,"ucap TenTen dan juga berdiri menyusul Hinata yang baru saja sampai diambang pintu ruang keluarga. Dan ketika baru saja Hinata akan membuka pintu itu. Pintu tersebut sudah ada yang menggesernya dari luar oleh seseorang. Dan semua pandangan mata yang berada didalam ruangan itu teralihkan semuanya oleh sosok seseorang yang baru saja masuk.
"Eh…kenapa jadi banyak orang seperti ini?"ucap sosok itu dan memandang satu persatu wajah yang berada diruangan itu.
"Guru…Gai?"ucap Naruto tak percaya.
"Ne…Neji…kenapa dengannya?"ucap TenTen ketika melihat sosok Neji yang terkulai lemah dipunggung Gai.
"Oh, jadi latihannya sudah selesai? Lalu, apakah Neji bisa mengeluarkan kekuatannya?"tanya Hiashi.
"Tenang saja…dia sudah bisa mengeluarkan kekuatannya,"ucap Gai disertai senyuman dan acungan jempol. "Baiklah, aku baringkan Neji disini saja." Gai membaringkan tubuh Neji disebrang sofa yang dimana Gaara sedang terbaring juga.
"TenTen…a…ayo kita buat minuman!!"ucap Hinata dan memegang pundak TenTen.
"Ah…I…iya…ayo!!"ucap TenTen akhirnya. Dan mengikuti sosok Hinata yang sudah terlebih dahulu meninggalkan ruang keluarga itu, menuju dapur.
-
-
"Hinata…apa kau sudah tahu tentang ini semua? Lalu, apakah kau juga tahu tentang reinkarnasi itu? Juga kekuatan yang dimilki oleh Sakura, Gaara, Neji, Sasuke dan Naruto?"tanya TenTen bertubi-tubi ketika mereka sedang menyiapkan beberapa cangkir teh herbal didapur.
"I…iya…aku sudah mengetahui semua itu. Maaf 'kan aku…TenTen. Karena tidak memberitahumu dan semuanya,"ucap Hinata dengan suara sedikit bergetar.
"Tidak apa-apa. Aku mengerti perasaanmu, Hinata,"ucap TenTen dan memeluk Hinata.
"Terima kasih,"ucap Hinata dan membalas pelukan TenTen. Air mata sudah turun dari kedua mata lavendernya.
"Sssttt…jangan menangis, Hinata!! Baiklah, sebaiknya…kita siapkan teh untuk semuanya. Ayo!!!"ucap TenTen dan melepaskan pelukannya dari Hinata.
"Uhmm…"
##Fire and Ice##
"Kau sudah hubungi mereka, Mikoto?"tanya Fugaku dan melirik sosok Mikoto dengan ekor matanya.
"Sudah…sekarang mereka sedang menuju kekediaman keluarga Hyuuga. Tenang saja."
"Hn,"
"Tapi…Fugaku…kenapa Sasuke tidak bisa mengendalikan jiwa pemimpin Uchiha itu seperti halnya Naruto?"tanya Mikoto kemudian dan memandang Fugaku yang sedang menyetir mobil.
"Aku tidak tahu mengapa demikian…mungkin saja kekuatan jiwa itu lebih kuat dari jiwa Sasuke sendiri,"jawab Fugaku.
"Begitu…"ucap Mikoto sedih.
"Jangan khawatir…Sasuke kita pasti akan kembali seperti dulu lagi,"ucap Fugaku.
Dan Mikoto yang mendengar ucapan Fugaku sedikit lega dan menyunggingkan senyuman.
-
-
"Nah, sudah sampai,"ucap seorang laki-laki paruh baya berambut kuning. Kemudian turun dari mobil Volvo hitam-nya. Diikuti oleh seorang wanita berambut merah yang memiliki bola mata berwarna hijau, Kushina.
"Wah…sudah lama sekali kita tidak kerumah ini yach, Minato,"ucap Kushina.
"Hmm…sudah lama sekali,"ucap Minato.
Tiit…tiiit…
"Eh…mobil siapa itu?"tanya Minato dan memperhatikan dua buah mobil yang berhenti tepat disamping mobilnya. Lalu, tak lama kemudian turunlah dua orang dari masing-masing mobil. Seketika itu juga wajah Minato dan Kushina tersenyum cerah.
"Wah…wah…teman-teman lama kita sudah datang semua ternyata,"ucap seorang perempuan berambut coklat keunguan sebahu, Rin. Dan kemudian menemui Kushina disusul oleh Mikoto.
"Sebaiknya kita masuk sekarang. Kita sudah tidak punya banyak waktu lagi,"ucap Obito dan mendahului masuk kekediaman Hyuuga. Disusul dibelakangnya oleh Fugaku dan Minato. Sedangkan istri-istri mereka menyusul dibelakangnya.
-
-
"Ini tehnya…silahkan diminum semuanya!!"ucap TenTen setelah selesai meletakan cangkir-cangkir teh dimeja.
"Baiklah…aku mimun…"ucap Naruto dan menenggaknya sampai setengah. Diikuti oleh yang lainnya.
"Waah…enak sekali tehnya…buatan siapa?"ucap Naruto setelah meletakan cangkir tehnya dimeja yang sudah isinya tinggal separuhnya.
"Teh itu buatan Hinata…"ucap TenTen.
"Kau memang pintar dalam memasak dan membuat minuman, Hinata. Kelak kau pasti akan jadi istri yang hebat,"ucap Naruto tanpa melihat efek dari ucapannya.
"Ja…jadi…istri yang…hebat?"ucap Hinata tak percaya dengan wajah memerah.
"Benar…kelak aku ingin mendapatkan istri sepertimu, Hinata,"ucap Naruto lagi.
Dan Hinata yang mendengarnya langsung menunduk malu dan memainkan kedua jarinya didepan dada. Lalu bergumam 'terima kasih'. Hiashi dan TenTen yang berada disamping Hinata hanya tersenyum simpul.
-
-
"Maaf…kami terlambat, Hiashi,"ucap Minato dan mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan yang banyak sepasang mata memperhatikannya. Seketika itu juga Minato berjalan dan langsung memeluk anaknya yang menampakan wajah terkejut akan kedatangannya.
"Ayah rindu padamu, Naru-naru,"ucap Minato dan langsung memeluk Naruto. Walaupun dari tadi Naruto berusaha untuk melepaskan pelukan maut ayahnya.
"AAAA…Ayah lepaskan. Aku 'kan malu,"ucap Naruto dengan wajah memerah. Karena dari tadi semua mata yang berada dirungan itu menatap mereka berdua.
"Ja…jadi itu…ayahnya…Na…Naruto yach,"batin Hinata dengan wajah memerah.
"Ayah dan anak sama saja,"batin TenTen.
"Ehemm…ehmm…Minato. Lepaskan Naruto, kasihan dia tidak bisa bernafas,"lerai Kushina. Dan langsung saja Minato melepaskan peluakan mautnya pada Naruto.
"Maaf 'kan Ayah, Naruto…"
"Huh…"
"Baiklah semuanya silahkan duduk…dan untuk Rin, Obito aku harap kalian bisa tenang mendengar kabar ini,"ucap Hiashi dan menatap mereka berdua secara bergantian. Hiashi menghela nafas panjang sebelum melanjutkan kembali ucapannya.
"Itachi…ceritakanlah!!"ucap Hiashi.
"Sakura telah dibawa pergi oleh Sasuke,"ucap Itachi.
"…"
Hening.
Hening.
Tak lama kemudian tangis Rin pecah dan memeluk Obito yang berada disampingnya. Obito pun wajahnya memerah, menahan tangis.
"Itachi…bukankah 'kah kau…"
"Maaf 'kan aku…aku memang berhasil menemukan Sakura dan Sasuke. Namun, terlambat…ketika aku sudah sampai disana Sakura sedang disandra oleh Sasuke,"ucap Itachi memotong ucapan Mikoto, kepalanya tertunduk. "Dan aku tidak bisa berbuat apa-apa. Maaf 'kan aku tante Rin…paman Obito. Karena kelalaianku…Sakura…"
"Yang pantas untuk disalahkan adala aku…aku yang seharusnya berkewajiban menjaga Sakura…melindungi 'Tuan Putri',"ucap seorang pemuda berambut merah darah yang tengah duduk disofa terpisah dari dimana semuanya duduk.
"Aku telah gagal untuk melindunginya…dan…"
"Dan kau sudah membuat Sakura berada dalam bahaya…apa kau puas, HAH?"ucap Neji dengan suara tinggi, sehingga membuat semua orang yang berada dalam ruangan itu terkejut dengan apa yang barusan saja dia lakukan.
"Kenapa kau diam saja, Gaara?"ucap Neji dan bangkit dari duduknya. Secepat kilat dia berjalan kearah Gaara dan…
Duaghh!!!
Neji memukul Gaara tepat disisi wajahnya sebelah kanan. Darah segar mengucur dari sudut bibir Gaara.
"Pukul saja sepuasmu…aku memang pantas…aku tidak memegang janjiku padamu untuk melindungi Sakura,"ucap Gaara.
"Memang itu yang akan aku lakukan,"ucap Neji dan bersiap melayangkan pukulan yang kedua pada wajah Gaara. Namun, gerakannya dihentikan oleh Naruto, Itachi dan Gai. Naruto memegang tangan kanannya, Itachi memegang tangan kirinya. Sedangkan Gai memegang kedua bahunya. Neji berusaha memberontak dan melepaskan diri dari mereka bertiga.
"Hentikan…Neji,".
Sebuah suara berhasil membuat Neji berhenti dan berkata.
"Maaf 'kan aku Ayah…,"ucap Neji,"kenapa aku bisa hilang kendali seperti ini."
"Huufftt…bikin kaget saja,"ucap Naruto.
"Kau benar-benar mencintai Sakura, Neji,"batin seseorang didalam ruangan itu.
"Baiklah…Naruto…cepat jelaskan tujuanmu dan Sasuke pada Sakura!!"ucap Hiashi. Dan akhirnya semua orang yang ada diruangan itu menatap Naruto meminta penjelasan.
"Mau tak mau aku harus mengatakannya,"batin Naruto. Keringat dingin mulai bercucuran. Mulutnya terbuka hendak memulai suatu pembicaraan namun tak lama kemudian mebutup kembali. Hingga Akhirnya Minato angkat bicara.
"Ceritakanlah semuanya…Naruto…tidak apa-apa,"ucap Minato dan menyentuh bahu Naruto. Mencoba membuat Naruto sedikit tenang. Dan berhasil…wajah Naruto sudah agak rileks.
"Jiwa pemimpin Namikaze yang berada dalam tubuku…dan juga jiwa pemimpin Uchiha yang berada dalam tubuh Sasuke...berniat untuk menguasai seluruh dunia dengan kekuatan kegelapan. Seperti halnya dahulu…memulai peperangan dimana-mana. Dan semua itu tak akan berjalan lancar jika ada 'Tuan Putri' dan juga kedua Pangeran yang ada disampingnya sebagai pelindungnya,"ucap Naruto panjang lebar.
"Kami takut dengan kekuatan 'Tuan Putri' yang kapan saja bisa menyegel jiwa kami. Karena itu kami duluan yang akan menyegel kekuatan 'Tuan Putri'. Juga kekutan kedua Pangeran. Tapi itu semua tidak akan berarti jika tidak ada benda 'itu',"ucap Naruto kemudian. Lalu memandang satu persatu wajah yang berada diruangan itu. Semuanya tampak terkejut dengan mulut sedikit terbuka dan mata terbelalak.
"Benda 'itu'…apa maksudmu, Naruto?"tanya Gaara yang mulai berdiri dari duduknya. Menyeka sedikit darah yang mengalir didagunya dengan sebuah sapu tangan. Kemudian memandang Naruto dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Sebuah benda yang berbentuk segi lima bundar berwarna merah muda…yang digunakan oleh 'Tuan Putri' untuk membantu mengeluarkan kekuatan segelnya. Benda itu ada dikuil ditempat jiwa kami disegel,"jawab Naruto.
"Kalau begitu ayo kita cari sekarang dikuil itu!!"ucap Neji.
"Sudah kucari…dan tidak kutemukan. Kemungkinan besar benda itu sudah ada ditangan Sasuke,"ucap Naruto.
"Dan jika benda itu ada ditangan Sasuke…maka apa yang akan terjadi?"tanya TenTen.
"Dan jika sampai benda itu jatuh ketangan Sasuke maka tidak akan ada yang bisa mengehentikannya. Karena benda itu…bukan hanya 'Tuan Putri' yang bisa menggunakannya, tapi Sasuke pun bisa. Namun, kekuatan yang dipakainya adalah kekuatan kegelapan. Jika Sasuke kekuatan kegelapan maka 'Tuan Putri' adalah kekuatan…"
"Cahaya…bertolak belakang dengan kekuatan Sasuke. Benar bergitu?"ucap seseorang diambang pintu. Sosok laki-laki berambut hitam pekat, kedua bola mata berwarna hitam, juga mempunyai kulit yang sangat pucat. Disebelahnya berdidi sesosok perempuan cantik berambut kuning panjang yang diikat tinggi keatas.
"Kalian berdua…Sai..."
"Ino…"ucap TenTen melanjutkan ucapan Naruto.
"Selamat malam semuanya…"ucap Ino bersemangat dan tersenyum. Sai yang berada disampingnya pun ikut tersenyum. Membuat wajah-wajah yang berada diruangan tersebut menatap mereka penasaran, bingung dan…aneh.
"Se…selamat ma…lam…Ino…Sai…"ucap Hinata dan mendapat semua tatapan dari wajah orang-orang disana. Setelahnya Hinata menunduk dan memainkan kedua jari telunjuknya didepan dada, seperti biasa jika dia merasa gugup atau malu.
"Kenapa kalian berdua bisa ada disini?"tanya Naruto dan mendekati Sai, juga Ino.
"Kami…ingin menyerahkan benda ini,"ucap Sai dan memperlihatkan sebua benda bulat segilima berwarna merah muda dikedua tangannya.
"Eh…benda itu 'kan…"ucap Naruto dengan tatapan tak percaya pada sebuah benda yang ada dikedua tangan Sai.
"Sebuah benda yang mungkin saja dapat mengalahkan Sasuke,"ucap Ino.
"Jadi benda itu ada padamu, Sai. Bagaimana bisa?"tanya Naruto.
"Aku yang sudah mengambil benda ini dikuil. Aku mengetahui rencana mu dan Sasuke, Naruto. Maka dari itu aku mendahului kalian kekuil itu dan mengambil benda ini,"ucap Sai dengan tersenyum.
"Jadi itu benda yang kau maksud, Naruto?"tanya Gaara. Dan Naruto hanya mengangguk benar adanya.
"Bagus sekali…Sai. Dan yang harus kita lakukan sekarang adalah…"
"Mencari tempat dimana Sasuke menyekap 'Tuan Putri'…ah…bukan tapi Sakura,"ucap Ino.
"Tapi dimana kita bisa menemukannya?"tanya Itachi dan menatap saru persatu wajah yang ada diruangan itu.
"Aku tidak bisa melacak keberadaan mereka dengan kekuatanku. Karena dari dulu aku tidak pernah bisa merasakan keberadaan Sasuke,"ucap Naruto putus asa.
"Jangan menyerah…aku mempunyai suatu pikiran kira-kira dimana tempat Sasuke dan Sakura berada sekarang,"ucap Sai.
"Suatu tempat…"ucap Gaara.
"…"
"…"
"Ah…jangan-jangan tempat yang kau maksud adalah…"ucap Naruto dan memandang Sai dengan tersenyum.
"Benar…tempat itu,"ucap Sai yang juga ikut tersenyum.
"Semunya…kita pasti bisa mengalahkan Sasuke…dan menyelamatkan Sakura,"ucap Naruto kemudian dan tersenyum pada semua orang yang berada dalam ruangan itu. Dan akhirnya semua orang yang berada didalam ruangan itu juga ikut tersenyum dan bernafas lega. Walaupun tidak sepenuhnya hati mereka juga lega. Masih ada perasaan takut. Takut jika tidak bisa mengalahkan Sasuke. Menyelamatkan Sakura…dan dunia ini.
-
-
"Tempat ini…dimana?"ucap seorang gadis berambut merah muda panjang bermata emerald sambil mengedarkan pandanganya.
Kini dia berada didalam sebuah kamar yang sangat luas. Seperti kamar seorang tuan putri. Cat dinding dikamar itu didominasi oleh warna merah muda. Meja rias yang terbuat dari kayu yang ukirannya sangat antik, dan juga sebuah cermin yang sangat besar- seukuran badan. Sebuah tempat tidur king size yang diatasnya terdapat seperti kelambu yang berwarna merah. Bedcover bermotif bunga sakura, yang sekarang tengah ditiduri oleh gadis itu. Dan juga diruangan itu tidak ada jendela sama sekali. Lampu Kristal tepat diatas tengah-tengah ruangan tersebut.
Gadis yang bernama Sakura itu pun, kemudian bangkit dari tidurnya dan duduk. Seketika itu juga dia mengerjap kaget dengan penampilannya. Kini ditubuhnya telah melekat semacam sebuah gaun tak berlengan. Gaun itu menjuntai panjang, hampir menutupi kakinya. Pola gaun itu sangat rumit…gaun itu kebanyakan berwarna putih sampai bawah. Lalu dari dada sampai pinggang dilapisi semacam kain tipis berwarna merah muda. Dan juga sebuah pita besar dibelakang pinggang yang juga berwarna merah muda. Kedua lengannya terbugkus oleh sepasang sarung tangan berwarna putih yang dibagian atasnya terdapat motif bunga sakura.
"Kenapa aku bisa memakai gaun seperti ini?"batin Sakura dan langsung bangkit dari duduknya menuju sebuah cermin. Setelah sampai didepan cermin itu, Sakura pandang pantulan dirinya dicermin itu lekat-lekat. Sekarang dia jadi tambah terkejut dengan hiasan dirambutnya. Sebuah mahkota berbentuk segitiga yang berhiaskan permata yang indah berwarna merah. Rambutnya juga kini dikepang satu kebelakang sedangkan sisanya menjuntai dengan lembut disisi wajah putihnya.
"Cantik sekali…tapi…bagaimana bisa…aku…"
"Kau menyukai gaun itu 'Tuan Putri'?"ucap seorang laki-laki yang kini mendekat pada Sakura. Semakin sosok laki-laki itu mendekat padanya. Sakura semakin memundurkan langkahnya.
"Ada apa? Apa kau takut padaku 'Tuan Putri'?tanya sososk itu lagi.
"Sa…Sasuke…dimana ini? Dan kenapa aku bisa ada disini…dan juga kenapa aku bisa memakai gaun ini?"tanya Sakura bertubi-tubi.
"Aku tidak bisa memberitahumu dimana ini. Dan soal masalah gaun yang kau pakai itu…tenang saja. Bukan aku yang memakaikannya ditubuhmu. Aku hanya memilihkannya saja untukmu,"ucap Sasuke dan menyeringai. Sehingga membuat wajah Sakura memerah. Tapi bukan hanya itu saja yang membuat wajah Sakura memerah, melainkan karena penampilan Sasuke sekarang. Sasuke memakai kemeja putih dan bagian atas beberapa kancing dari kemeja itu terbuka, sehingga memperlihatkan dadanya yang putih dan bidang. Lalu celana panjang berwarna hitam, tak lupa juga sepasang sepatu berwarna hitam. Ditambah dengan jubah panjang yang ada dibagian punggungnya, yang hampir menutupi semua tubuhnya.
"Ada apa kau melihatu seperti itu 'Tuan Putri'?"
"Tidak…tidak ada apa-apa,"ucap Sakura dan memalingkan wajahnya agar tidak menatap wajah Sasuke.
"Begitu…"
"Eh…lepaskan aku Sasuke. Kau mau apa?"ucap Sakura panik dan sekaligus terkejut. Karena tiba-tiba saja Sasuke sudah mendekapnya dipelukannya. Dan juga tangan kanannya sudah mulai membelai wajah Sakura. Sementara tangan kirinya dia lingkarkan kepinggang Sakura.
"Tatap mataku Tuan Putri!!"ucap Sasuke. Seakan terhipnotis oleh perkataannya. Akhirnya Sakura menuruti perintah Sasuke dan menatap kedalam kedua mata hitam pekat dan tajam milik Sasuke.
"Bagus…dan sekarang berikan ciumanmu,"ucap Sasuke dan mulai medekatkan wajahnya dengan wajah Sakura lebih dekat lagi. Dan…berhasil…bibir Sasuke menempel dibibir mungil Sakura yang berwarna merah muda. Menekannya dengan lembut. Setelah cukup lama akhirnya Sasuke melepaskan ciuman itu dan berbisik tepat ditelinga Sakura. "Kau adalah milikku. Tidak akan kubirkan kau menjadi milik orang lain." Dan setelah itu Sasuke pergi dari kamar itu dan meninggalkan Sakura yang sekarang jatuh terduduk dikarpet merah yang melapisi lantai marmer itu.
"Aku…aku…"ucap Sakura tidak jelas. Kini air matanya sudah jatuh tak tertahankan lagi. Badannya bergetar hebat. Wajahnya pucat sekali dan keringat bercucuran didahinya. "Tolong…siapa saja. Tolong aku…" dan setelah itu Sakura tak sadarkan diri. Dan terbaring lemah diatas karpet merah itu.
"Aku mencintaimu Tuan Putri…dari beratus-ratus tahun yang lalu perasaanku tidak berubah padamu,"batin Sasuke atau lebih tepatnya jiwa pemimpin Uchiha yang sekarang mengambil alih tubuh Sasuke.
Bersambung…
Huuffftt…akhirnya bisa juga q update sekarang…
Dan tentang readers yg penasaran tentang rencana Sasuke dan Naruto…dichap nie dah kejawabkan…juga percakapan Rin dan Obito yg pergi ke Amegakure itu bermaksud ingin menemui Fugaku dan Mikoto…
Lalu, soal masalah bentuk tanda yg dimiliki Neji…bayangkan saja seperti yg dianime/manga…itu loch…yang tanda berwarna hijau didahi Neji yg menandakan dirinya dari golongan bawah…
Ok…mari balas yg review dulu…dimulai dari…
_Hikari 'Sakura' Sakuragi :
Aigatou dah dibilang seru…dan nie dah q update secepat yg aku bisa…
Review lagi yach…Hikari-san,
_Sora Chand :
Nie dah q update secepat mungkin…
Review lg yach…Sora-san,
_Kiran. Angel. Lost :
Ga pa2…yg penting sekarang dah review…dan nie dah q update…
Review lagi yach.
_Midori Mizutani :
Makasih dah dibilang keren…dan nie dah q update…
Review lg yach…Midori-chan///
_Nachhi Cullen :
Chap 7 :
Ga pa2…yg penting sekarang dah review…
Chap 8 :
Roh Uchiha itu ngebawa Saku kemana yach…
Nggg…masih R-A-H-A-S-I-A…tunggu z…
Review lg yach…Nachhi-san///
Yosh…balas review sudah…
Dan q mau mengucapkan terima kasih sebanyak2nya buat readers yg dah mengikuti fic-ku sampai sekarang…dan mungkin sebentar lg akan berakhir, tinggal beberapa chap lg maka Fire and Ice ini complete…
Salam manis…
Miko-chan///
Last Word…
REVIEWS
