Mau bilang maaf lagi karena terlampau sering-selalu malah- telat update. Hehehe. So-ir yaw.
Di chappie ini, alurnya rada fui cepetin sedikit. Fui pengen cepet-cepet nyelesain fict ini en buat fict baru yang idenya udah nongol di otak fui yang entah Pentium berapa, mungkin Pentium satu. Hahaha, jadul tenan.
Tapi… nggak terlalu cepet kok. Para reader kan cerdas-cerdas. Jadi fui nggak usah khawatir lagi.
Okeh,
fui will present… (balesan review-sedikit banget, T_T- ada di bawah, hiks.)
Disclaimer = Masashi Kishimoto, fui pengen ketemu…-plak-
Warning = TYPO…(hiks, hiks. Penyakit fui nih. Nggak bisa sembuh-sembuh juga.) AU, maybe OOC, romance/friendship yang ada angsty-nya… maaf kalo jelek.
This is my story… enjoy
Si Penulis Puisi
"Kita jenguk Sakura. Kujemput jam satu siang." Tanpa basa-basi, si pemuda itu langsung menyuarakan poin utamanya.
"Eh? Tapi…"
Tut
Suara di seberang tak terdengar lagi. Pemuda itu yang memutuskan hubungan telepon mereka. Kedua matanya menerawang jauh. Menembus kaca jendela kamarnya yang tertutup. Memperhatikan sebuah pohon berwarna coklat yang tak berdaun. Pohon Sakura.
"Kaa-san, ntar aku mau jenguk Sakura lagi ya?" Naruto bicara lagi, kali ini perhatian si ibu berhasil ia alihkan.
"Terserah. Coba nanti kau bawakan buah-buahan untuknya." Si ibu mematikan kompor. Omelet yang baru masak itu ia sajikan dengan roti panggang yang sudah masak.
Si Penulis Puisi
CHAPTER 9
Lavender ini
Semakin mengerti makna hidup
Yang tak adil, yang tak sempurna
Tapi, biarlah di ujung musim
Yang meranggaskan dedaunannya kini
Lavender itu mencoba tegar
Bila tak ia temukan
Uluran cinta sang mentari
Dengan beberapa nafas yang ada
Dan serpihan cinta
Yang selalu ia genggam
Biarlah,
Keikhlasan cinta mentari itu
Memang hanya untuk lembaran kelopak sakura
Tapi hati lavender itu
Akan tetap dengan cintanya
Pada sang mentari
Ikhlas sepanjang masa
The Amethyst
_Si_Penulis_Puisi_
Kedua tangan gadis Haruno itu bergetar. Menggenggam secarik kertas putih yang berisi kalimat-kalimat indah. Matanya memandang cemas ke arah pintu ruangan kamar rawat inapnya. Belum datang.
Ia baca sekali lagi puisi itu. Puisi yang ia temukan saat matanya tak sengaja melihatnya di dalam tas Naruto yang terbuka. Ya, tadi pemuda blonde itu pasti menjenguknya lagi. Dan saat Sakura siuman, pemuda itu tidak ada. Ibunya yang biasannya ada di sampingnya pun tak ia lihat. Mungkin mereka sedang pergi sarapan di luar.
Sakura tak berpikir apa-apa lagi selain mengembalikan kertas itu ke tempat semula. Ditutupnya retsliting tas punggung Naruto, lalu menempatkannya di awal mula. Di meja kecil yang ada di samping ranjangnya.
Ia takut. Tapi bahagia. Sakura takut kehilangan Naruto. Tapi ia bahagia bisa tahu ada seseorang yang menyukai baka-dobe itu setulus hati.
"Amethyst?" gumamnya lirih. Dahinya berkedut sedikit. Mencoba menggali setiap memori yang ada dalam otaknya.
"Amethyst? Orang yang sama yang mengirim puisinya pada Naruto, dulu. Apa Naruto tahu dia siapa?" pikiran Sakura terputus oleh pergerakan gagang pintu yang mendorong terbuka.
Di baliknya, seorang wanita paruh baya dengan sekeranjang buah warna-warni, terpaku sesaat. Lalu memulai pergerakan kakinya dengan terbata.
Reaksi pertama seorang ibu yang menghampiri anaknya setelah siuman. Dipeluknya Sakura erat-erat. Senang. Bahagia.
"Ibu…" lirih Sakura di tengah pelukannya.
"Sakura sayang, ibu rindu padamu nak, rindu sekali." Kata sang ibu. Sambil mengusap-usap kepala merah muda lembut anaknya.
_Si_Penulis_Puisi_
Di depan rumah sakit…
Sasuke berjalan cepat melintasi halaman Rumah Sakit Umum Konoha. Di belakanganya, Gaara dan Hinata mengikuti.
"Kamar Sakura Haruno, dimana?" Tanya Sasuke pada salah satu petugas bagian informasi. Petugas berwajah ramah itu segera mencari di komputer di hadapanya. Beberapa detik kemudian, si petugas menjawab pertanyaan Sasuke dan menunjukkan arahnya.
Tanpa pikir lagi, Sasuke melangkah cepat. Tak meninggalkan ucapan terima kasih atau sekadar senyuman ramah pada sang petugas. Melihatnya, Hinata harus rela menggantikan posisi pengucap terima kasih Sasuke pada sang petugas. Gadis baik hati itu ber-ojigi sambil mengucapkan terima kasih. Si petugas hanya membalasnya dengan tatapan ramah sambil bilang.
"Sama-sama. Kalau butuh bantuan, jangan sungkan untuk bertanya pada kami."
Hinata mengangguk, lalu kembali berjalan di samping Gaara. Menaiki lift yang di dalamnya sudah ada Sasuke dan beberapa orang lainnya. Keluar dari lift di lantai 4 , mereka berjalan mencari kamar nomor 15.
"Sasuke-kun…" Hinata bilang. Mereka sudah hampir masuk ke dalam kamar Sakura. Gagang pintunya pun sudah ada dalam genggaman Sasuke.
"Hn?" balas Sasuke
"Sebaiknya, um, a-aku disini d-dulu. Kau masuk duluan saja. K-karena Sakura-san p-pernah menyangka kalau kita…" Hinata bingung, wajahnya memerah.
Sebagai sahabat yang terlalu mengerti Hinata, Gaara melanjutkan kalimat gadis itu.
"Kami mau disini dulu. Memberi waktu ekstra untukmu dan si lady pink itu." Mendengarnya, Sasuke membuang muka. Lalu mulai mendorong pintu dan masuk ke dalam.
Gaara menatap Hinata yang juga melihatnya. Pemuda bermata zamrud itu tersenyum lalu menyuruh Hinata duduk di kursi panjang yang ada di depan kamar Sakura. Beberapa menit dalam diam, sampai akhirnya Gaara membuat suara. Pemuda itu menawari Hinata untuk membeli minuman kaleng. Tentu saja Gaara yang pergi dan tak lupa menanyakan minuman yang dipesan Hinata.
"Jasmine tea. Arigatou Gaara-kun." Dan mulailah Gaara melangkah.
Pemuda itu berjalan santai. Berpapasan dengan beberapa orang yang lalu lalang di sana. Hingga tepat di tikungan menuju lobi rumah sakit, Gaara berhenti.
Bukan karena alasan apapun kecuali seorang pemuda pirang spiky yang entah sedang mencari apa di bagian informasi. Melihatnya yang kebingungan, di otak Gaara melintas sebuah rencana. Rencana yang sudah terlalu lama tak ia sentuh karena tak mendapat ijin dari Hinata. Memikirkan rencana itu, Gaara segera kembali ke tempat Hinata.
Mata putih sederhana yang indah milik Hinata melebar heran, saat ia melihat Gaara berlari ke arahnya.
"Gaara-kun?"
"Kau saja yang membeli minuman. Aku ada urusan penting." Jawab Gaara cepat. Membuat Hinata melongo.
Walaupun masih heran, Hinata berangkat juga. Hampir saja ia menyentuh tombol lift yang tak jauh dari tempat kamar Sakura, Gaara mencegahnya.
"Hinata , jangan gunakan lift itu. Sebaiknya kau gunakan lift bagian selatan."
"Kenapa?" logika Hinata belum bisa menerima. Dimiringkannya kepala yang dihiasi rambut biru gelap itu ke samoing, tanda tak mengerti. Gaara memandangya dengan cukup tajam. Berusaha meyakinkan gadis itu tanpa bicara terlalu banyak.
"Sudah, laukan saja." Hinata cepat bertindak. Yakin pada sahabat terbaiknya yang tidak akan pernah membuatnya sengsara, malah sebaliknya. Karena itu, gadis yang masih bingung itu pun menuruti perkataan Gaara juga.
Mata zamrud Gaara mengikuti pergerakan Hinata sampai tubuh gadis itu tak ia lihat lagi. Gaara tersenyum. Kedua sudut bibirnya melengkung dengan tulus.
'Maaf Hinata, tapi si pirang bodoh itu harus tahu semuanya. Rahasia amethyst-mu harus kunodai sedikit.' Bisiknya dalam hati.
"Aku hanya ingin kau bahagia." Kata Gaara pelan, matanya menatap tempat dimana Hinata tadi menghilang. Memasuki koridor lain.
_Si_Penulis_Puisi_
Di dalam kamar rawat Sakura…
Suasana canggung dan kaku memenuhi atmosfer di sana. Kehangatan satu-satunya terlihat dari si Ibu Haruno yang tersenyum bahagia. Dua remaja di sana saling pandang. Diam dan dalam. Seolah dengan tatapan, mereka bisa bicara lewat genjutsu.
Wajah Sakura yang sudah merah, tambah merah lagi. Ingin rasanya ia memisahkan pandangan matanya dengan Sasuke yang masih berdiri di depan pintu yang menutup. Tapi, tak bisa. Rasa rindu menguasai hatinya. Terlebih saat pemuda itu mendekat ke arahnya. Jantungnya terasa memompa darah dengan super cepat.
"Nak Sasuke, apa kabar?" Tanya si Ibu Haruno, ramah. Membuat pandangan Sasuke, mau tak mau terpisah dengan Sakura, dan membalas tatapan ramah si Ibu Haruno.
"Saya baik-baik saja, Tante. Terima kasih." Kata Sasuke, cukup datar. Ramah bukanlah sifatnya. Dan Sasuke tak kan bisa terbiasa ramah pada seseorang. Termasuk Sakura atau Hinata. Sasuke adalah pribadinya yang cuek dan datar. Selalu.
"Tante tinggal dulu ya. Ada urusan administrasi yang harus tante selesaikan. Kau bisa mengobrol dengan Sakura. Dia sudah baikan sekarang." Wanita itu masih ramah, lalu berjalan mendekati pintu. Dan keluar dari sana.
Sunyi. Diam.
Suasananya benar-benar kaku.
"Er…" gumam Sakura. Keduanya berpandangan lagi, lalu menunduk bersamaan.
Hening lagi beberapa menit. Sebelum akhirnya, Sasuke yang mulai bicara. Kekakuan yang semula melingkupi, mencair begitu saja saat mereka berdua tersenyum dan bicara.
Dari hal sepele, naik tingkat ke hal yang agak serius. Dan sampai saat Sakura bertanya dengan spontan mengenai puisi Amethyst yang baru saja ia baca. Mau tak mau, Sasuke menjawabnya juga.
_Si_Penulis_Puisi_
Gaara menunggu Naruto dengan tidak sabar. Sesekali dia melihat pintu ruangan Sakura yang di dalamnya masih ada Sasuke, Sakura, dan ibunya. Tak berpikir untuk beranjak, Gaara menyandarkan tubuh pada sandaran kursi.
15 menit kemudian, yang ditunggu datang. Sama seperti biasanya, wajah ceria yang terlihat bodoh itu berekspresi dengan bebas. Gaara termenung sejenak. Memandangi wajah bodoh itu. Wajah yang mampu membuat Hinata blushing dalam sekejap.
Naruto baru menyadari kehadiran Gaara di sana. Tatapan Gaara yang tajam, membuat Naruto bergidik sesaat. Walaupun begitu, Naruto tetap berusaha santai.
"H-hai Gaara, menjenguk Sakura-chan juga ya?" kata Naruto. Si pemilik nama Gaara, otomatis berdiri lalu bicara dengan nada ketus.
"Aku ingin bicara padamu."
"Eh, aku?" dengan lugunya, Naruto menunjuk hidungnya sendiri. Gaara harus sedikit bersabar dengan ini.
"Ikut aku." Gaara mulai berjalan, tapi terhenti ketika Naruto berteriak padanya, tidak terlalu keras sih.
"Aku mau njenguk Sakura-chan dulu." Gaara mendesah lelah. Kembali ia mendekat pada pemuda pirang itu. Menyeretnya untuk melihat dari jendela satu arah yang terpasang di pintu kamar Sakura.
"Kau lihat?" Gaara berdesis. Kesal. Naruto terdiam. Melihat tiga orang, bukan ia lebih memperhatikan dua orang yang saling pandang di sana. Perlahan, ia menunduk. Tapi, tersenyum.
"Aku memang melihatnya." Naruto mengangkat wajahnya. Memperlihatkan senyumannya pada Gaara. Mata hijau zamrud itu seakan tak percaya pada senyuman itu. Prediksinya, Naruto akan gusar dan menerobos masuk. Tapi, melihat senyuman yang ringan dan tulus itu, membuat Gaara harus berasumsi lain.
"Aku lihat. Tapi, tahukah kau, aku sudah mencoba untuk merelakannya. Usahaku sekarang hampir berhasil. Ada rencana untuk mengakhiri hubunganku dengan Sakura-chan. Karena aku mulai sadar. Rasa yang ia timbulkan dalam hatiku hanya sebagai sahabat. Aku sayang padanya hanya sebatas sahabat." Jelas Naruto.
"Sasuke dan Sakura adalah sahabatku. Dan aku ingin mereka menyatu lagi. Baguslah kalau mereka bisa bertemu disini" kata Naruto lagi. Kedua pemuda itu diam beberapa detik. Sampai akhirnya, Gaara bicara lagi.
"Sekarang, ikuti aku."
Keduanya lalu berjalan. Sampai mereka berhenti di atap gedung rumah sakit Konoha. Melepaskan semua udara bebas yang berhembus kencang. Keduanya sama-sama dihembus angin musim gugur yang hampir berganti dengan musim dingin. Beberapa selimut putih yang dijemur, melambai ringan mengikuti pergerakan angin.
Hawa dingin akibat angin di penghujung musim gugur ini, menghempas keduanya. Namun toh mereka tetap tak beranjak dari posisi mereka yang saling berhadapan. Menunggu hingga deru angin reda, Naruto berkata.
"Apa yang ingin kau bicarakan?"
"Kau." Jawab Gaara singkat. Naruto mengerutkan dahi, bingung.
"Maksudmu?"
"Diamlah dan dengar aku." Kata pemuda Sabaku itu lagi. Deru angin berhembus kembali, mengisi sunyi di antara mereka. Naruto diam, mencoba memasang pendengaran sebaik mungkin untuk mencerna kata-kata Gaara.
Pemuda berambut merah marun itu menghela nafas panjang sebelum bicara.
"Ini tentang seorang gadis yang menyukaimu. Tentang puisi yang selalu kau dapatkan di lokermu sepulang sekolah. Ini tentang Amethyst, tentang sahabat terbaikku. Tentang Hinata." Kata Gaara. Berharap Naruto akan segera mengerti dengan penjelasannya. Tapi, pemuda yang sekeliling matanya terdapat lingkaran hitam itu harus kecewa saat lawan bicaranya berkata.
"Eh? Maksudmu apa? Aku memang selalu mendapatkan puisi dari orang 'Amethyst' itu. Tapi, apa hubungnnya dengan Hinata?" Naruto menelengkan kepalanya ke kiri. Bingung. Sekali lagi, Gaara mengehela nafas lelah.
'Sepertinya aku harus bicara dari awal sampai akhir padanya.' Batin Gaara. Matanya menutup, lalu nyalang terbuka lagi.
"Kubilang diam, dan dengar." Gertaknya. Dengan ini, Gaara harus bicara lebih banyak. Sesuatu yang jarang ia lakukan. Karena Gaara memang tak suka itu.
Dan di atap gedung rumah sakit itu, Gaara berkata jujur. Menceritakan semuanya pada si pirang bodoh yang disukai sahabatnya. Semuanya.
_Si_Penulis_Puisi_
Sakura menahan nafas. Penuturan dari Sasuke tadi sedikit membuatnya syok. Ditatapnya pemuda yang selalu irit bicara itu, kini sedang bercerita. Cerita tentang semua yang ada di balik selembar kertas puisi amethyst yang baru ia baca tadi.
"Ja-jadi,… Hinata-" Sakura tergagap. Matanya tampak berair.
"Dia menyukai si baka-dobe itu. Hh, kadang, rasa sukanya membuatku ingin memukul baka dobe yang terlalu bodoh itu." Sakura menunduk, memegang jangtungnya yang masih normal.
"Hinata menyukai Naruto, tapi kenapa ia tak mencintai dirinya sendiri? Kenapa ia membiarkan jantungnya seperti itu?" isak gadis bermata emerald itu pelan. Sasuke diam. Tak tahu harus menjawab apa. Ia juga tak begitu tahu tentang penyakit yang diderita oleh gadis yang belakangan ini selalu membantunya menemukan solusi.
"Hiks, hiks. Naruto bodoh! Naruto no baka!" Sakura bergetar. Giginya gemeletuk menahan emosi.
"Sakura…" Sasuke memanggil, lembut. Gadis berambut pink itu mendongak. Menatap Sasuke nanar dengan kedua matanya yang berair.
"Aku juga belajar dari gadis itu, untuk tidak menjadi pengecut. Walaupun aku rasa, ia sendiri begitu." Sasuke tersenyum tipis. Memorinya bersama Hinata saat dirinya dikuatkan oleh gadis itu, muncul.
"Maksudmu Sasuke-kun?" Tanya Sakura heran. Sasuke menghela nafas. Mempersiapkan diri dengan segala reaksi yang akan ia terima.
"Aku masih jatuh cinta padamu." Lima kata pendek yang diucapkan Sasuke dengan cepat tanpa jeda, membuat Sakura semakin heran, tapi sekaligus bahagia. Dilihatnya, kedua pipi Sasuke yang merona saat memandangnya. Sakura membelalak tak percaya.
"S-sa-sasuke-kun…, kau, be-benar?" suara Sakura tergagap. Lima kata cepat tadi terus terngiang di telinganya. Jelas dan tak perlu penjabaran lagi.
Detik kemudian, Sakura menghambur ke pelukan Sasuke. Menangis bahagia di bahu pemuda yang kini kembali untuknya.
"Arigato Sasuke-kun… Arigato."
_Si_Penulis_Puisi_
Pintu kaca di lobi rumah sakit terbuka. Mempersilahkan serombongan orang-orang dari luar, masuk ke dalam bangunannya. Rombongan itu lalu berpencar dengan urusan mereka masing-masing. Termasuk seorang gadis klan Hyuuga yang menenteng satu kantong plastik putih berisi roti dan dua kaleng minuman.
Gadis yang hari itu membiarkan rambutnya tergerai bebas dengan satu jepitan cherry putih di samping poni kanannya, melangkah pelan. Di depan ruangan lift, gadis bernama Hinata itu memencet satu tombol, menunggu sebentar, lalu masuk ke dalam lift yang terbuka. Menyerahkan dirinya bersama dua orang lainnya untuk digerakkan tenaga listrik untuk naik ke atas. Ke lantai yang dituju.
TING
Hinata keluar. Menjejakkan kakinya di lantai tiga rumah sakit. Lalu kemabli menyusuri koridor lebar menuju satu kamar rawat. Kamar sakura. Keluar dari satu tikungan, Hinata terpaku di tempat.
Kedua matanya membelalak lebar saat dia melihat sahabatnya duduk tenang di samping pemuda pujaanya yang berdiri di depan pintu. Digeleng-gelengkan kepalanya cepat. Menghela nafas untuk persiapan diri.
TAP TAP TAP
Kedua kaki beralaskan sepatu kets biru itu bergerak lagi. Menapak perlahan dengan kepala yang menunduk. Seiring berkurangnya jarak antara dirinya dan kedua pemuda itu, terlebih Naruto, jantungnya berdebar tak keruan. Wajahnya semakin memerah.
Gerak langkah Hinata yang pelan, membuat Gaara mendongak. Melihat sahabat yang ia cintai, mendekat padanya.
"Kau lumayan lama, Hinata." Suara Gaara yang datar, reflek membuat Naruto menoleh pada arah suara Gaara. Memandang satu sosok gadis yang menunduk, menyembunyikan senyumnya yang merona malu-malu.
"G-gomen, Gaara-kun." Gadis itu tetap diam di tempat. Berdiri dengan jarak kurang lebih dua meter dari si lawan bicara.
"Jangan hanya diam di situ." Kata Gaara lagi.
Hinata mendongak sekilas. Lalu menunduk lagi. Dihembuskannya nafas panjang satu kali. Untuk menguatkan dirinya sendiri. Perlahan, kedua kakinya bergerak teratur namun ragu. Berharap mata biru Naruto tak menatapnya.
Sayang, Naruto terus memandangnya. Terus sampai Hinata duduk di samping Gaara.
"Hai, Hinata." Sapa Naruto ramah, senyum.
Hati Hinata semakin sesak, jantungnya semakin keras berdebar. Diangkatnya wajah yang merona itu. Hinata berlaku sopan dengan menjawab sapaan Naruto sambil menatap mata biru itu. Walau cuma sekilas.
"H-hai, N-naruto-kun."
Sekarang giliran Gaara yang menunduk. Wajahnya terlihat lebih muram dari biasanya. Dibukanya minuman kaleng yang telah Hinata berikan padanya beberapa menit lalu. Menimbulkan suara kecil a la tutup kaleng soda yang dibuka.
Gaara tak berniat meminumnya. Hanya memandang cairan yang ada dalam kaleng lewat lubang yang ia buka tadi.
Hening beberapa saat.
Naruto yang memandang terus ke arah Hinata yang menunduk di samping Gaara yang masih menggenggam kaleng minumannya. Sampai akhirnya, pemuda Sabaku itu angkat bicara.
"Kurasa, aku harus pergi. Aku ada janji dengan seseorang."
Meskipun dengan keras Hinata berusaha untuk ikut dan menghentikan langkahnya, Gaara tetap berjalan. Sendiri. Tak memberi ijin pada sang sahabat untuk ikut dengannya.
Gaara hanya butuh waktu untuk dirinya. Menguasai waktunya untuk ia sendiri. Ia sangat butuh itu. Butuh sekali.
Sepuluh menit kepergian Gaara, suasana yang melingkupi Naruto dan Hinata masih sama. Canggung dan hening.
_Si_Penulis_Puisi_
Gaara melangkah di trotoar jalan. Mengingkari perkataanya pada Hinata beberapa menit yang lalu. Dia tidak punya janji dengan siapapun. Tapi dia punya janji dengan dirinya sendiri.
Sebuah janji yang ia ucapkan dalam hati. Sebuah janji yang telah ada saat pertama ia mengenal Hinata Hyuuga. Janji yang sampai sekarang masih dalam proses.
Janji Gaara adalah
'Hinataku harus bahagia' matanya terpejam dua detik. Mendalami setiap kata yang ia ucapkan dalam hati.
_Si_Penulis_Puisi_
Disini
Aku mengalah pada hatimu
Menyadari bahwa kau
Tak akan pernah menoleh padaku
Tapi biarlah
Setidaknya aku melakukan sesuatu
Atau apapun
Untuk membuatmu bahagia
Dan hatiku
Akan selalu menyukaimu
_Si_Penulis_Puisi_
_TBC_
Argh. Kapan ini akan berakhir…?-plak-
Kesian Gaara, kesian kesian kesian. Eh, kan ada Hanabi, jodohin nggak yah? Hahaha.
Konfliknya yang utama udah muncul lagi. Akhirnya, si baka Naruto tahu juga amethyst itu siapa. Kalo udah nyampe sini, rasanya gimanaaaa gitu. Hayay.
Jangan lupa, di review yah. Karena review anda memberi semangat ke fui.
Terima kasih, Flame masih diterima dengan senang hati… ^ _ ^
Balesan review =
Biggrita: hebatTTT, anda sudah bisa membuat jantung saya deg2n tapi langsung longsor. Hahahaha, makasih yaw.
Lite-chan : mksih, ni dah update. Hehehe
R.A.B : hahaha, kalo misstypo., entah napa, gag bisa ilang dari dulu. Huhuhu
Zephyr: tapi, itachinya ntar gag nongol lg kok. Hehehe
Ishikawa shatomi : hahaha, yap yap yap.
Kikuchi lawliet. Hahaha, tp gag usah dipanggil san, fui aja. Atau fui chan hehehe
Pinq aika clover : wokeh…
Hinata audina : maksih yaw.
Eh ni buat viyuki-chan, maaf kemaren gag bales : fesbukku alifanis fui
Salam
NaruHina Lovers
