Chapter 9 ????

Silver tu lagi stress kali yak? Ampe ampe ff dah sepanjang ini ga diringkas. Panjangin dikit isinya ato apa kek...

Ya... namanya juga Silver...

Chapter 9

Saksi Cinta Gin ???

Rangiku dan Kira menandaskan minuman masing masing, kemudian beranjak.

"Biar kakak yang bayar, " kata Rangiku.

"Tapi... "

"Tidak apa apa Kira, anggap saja ucapan terimakasih kakak, "

"Terimakasih untuk apa?,"

"Untuk lagu Fuyu no Hanabi yang sudah kamu request... "

"Eh?, " pipi Kira jadi bersemu merah. Ternyata Rangiku sudah tau, kalau dia memang sengaja minta diputarkan lagu itu pada Hisagi. Rangiku tertawa melihat paras Kira yang mendadak berubah.

"Kenakalan mu tak berubah, " katanya.

"Habis Kira bingung mau bilang apa pada kak Rangiku. Kira pikir, lebih baik kalau kak Rangiku yang memikirkannya sendiri dari hati kak Rangiku, " kata Kira. Rangiku tersenyum. Kehangatan persahabatan mereka -Sekali lagi- terasa begitu kentara.

"Aku berhutang padamu Kira, " bisik Rangiku.

"Wajah bahagia kak Rangiku sudah cukup untuk membayarnya, " Kira balas berbisik.

"Baiklah, " kata Rangiku. Mereka beriringan menuju kasir.

"Hei, mesra sekali... " goda Hisagi.

"Apaan sih!, " balas Kira.

"Ngomong ngomong, Shuuhei, terimasih ya, " kata Rangiku.

"Untuk apa kak ?, " tanya Hisagi, pura pura bingung.

"Ah, sudahlah, " kata Rangiku cepat.

"He he, buat kak Matsu, apa sih yang tidak?, " Hisagi tersenyum ke arah Rangiku.

"Shuuhei, lain kali aku bunuh kau kalau berani mendiskon namaku ! Namaku Matsumoto! Awas kalau memanggiku Matsu lagi, " canda Rangiku.

"Ah, kak Matsu ini apaan sih!, " Hisagi tertawa.

Sekali lagi, meski sesaat, Rangiku bisa mengelupaskan rasa sakit itu dari hatinya....

Motor yang ditumpangi Kira dan Rangiku kembali melaju, melanjutkan perjalanan ke tempat yang entah seperti apa, dan entah apa yang akan ada di sana.

Hempasan angin yang sangat keras menerpa wajah Rangiku. Nafasnya agak sesak. Rambut keemasan yang membingkai wajahnya kembali berkibar, mengikuti kehendak angin.

Kadang kadang wajah Gin yang sepintas mirip ular itu terbayang. Terbingkai helai helai keperakan yang dulu... dulu sekali... juga berkibar semau angin. Tampan... tapi juga... menyakitkan... membuatnya takut...

Lamunan Rangiku terhenti saat hempasan angin di wajahnya sudah tak sekeras tadi. Artinya Kira melambatkan laju motornya.

"Kira ?, " tanyanya memastikan.

"Sebentar lagi sampai kak, " katanya pelan.

Entah kenapa detak jantung Rangiku tak senormal tadi. Terasa agak sesak juga. Gin... haruskah Rangiku bertemu denganya sekarang ?

Tangan Rangiku mengepal. Apakah satu atau beberapa pukulan sanggup menyadarkan Gin ?

Kira menghentikan motornya di halaman sebuah rumah sederhana bercat putih.

"Di sini kak, " katanya sambil mematikan mesin.

Rangiku turun, sembari merapikan kembali rambutnya yang bergelombang, ia bertanya, "Jadi... disini ?, "

"Ya... ini dulunya rumah kakek Yamamoto. Tapi sejak kakek Yamamoto meninggal, rumah ini kosong. Setahu Kira, kak Gin menyembunyikan para buronan bandar bandar narkotik Karakura di rumah ini kak, " kata Kira.

"Kalau kau tau kenapa tidak melaporkan keberadaan mereka pada polisi ?, " tanya Rangiku.

"Apa untungnya kak ? Lagipula kalau Kira lapor, kakak pikir, kak Gin tidak ikut kena ?, " katanya agak ketus.

Rangiku mengerutkan kening.

"Apa Kira baca surat kabar Karakura saat memuat berita Aizen ? Aizen membuat pengakuan bahwa Gin tidak terlibat di komplotanya, dan polisi tidak menemukan bukti keterlibatan Gin kan ? lalu... "

"Bukan tidak menemukanya kak, " potong Kira, "Tapi bukti keterlibatan kak Gin sengaja dihapus !, "

"Tapi... "

"Kira tau semua hubungan kak Gin dengan para pengedar narkotik itu, termasuk bandar besar mereka, Aizen ! Kira tau semuanya, mereka punya hubungan yang sangat dekat, bahkan lebih dekat dari hubungan kak Rangiku dengan kak Gin. Jika seseorang dengan seseorang yang lainya, otomatis akan tumbuh rasa saling memiliki antara mereka. Tidak mungkin kan, Aizen melibatkan kak Gin yang sudah lama sekali jadi sahabatnya, sedangkan kak Gin sendiri tidak salah apa apa ?," kata Kira.

"Melindungi penjahat adalah pekerjaan penjahat !," Rangiku masih berkeras kepala.

"Kakak rela? kakak rela anak kakak tau bahwa ayahnya adalah penjahat ? Anak kak Rangikulah yang nantinya akan menganggung aib itu kak! Kak Ran..."

"Ugh... Kira... " Tiba tiba wajah Rangiku memucat. Ada rasa sakit yang entah darimana menyergap dadanya.

"Kira... sakit... " Rangiku memegang dadanya. Terasa sakit...

"Kakak ?!, " Kira panik. Dia segera menahan tubuh Rangiku.

"Maaf... maafkan Kira... " katanya pelan. Kira memapah tubuh Rangiku ke beranda rumah itu. Tanpa mengatakan apa apa. Kira langsung membuka pintu rumah itu dan membawa Rangiku ke dalam, mendudukanya di kursi sofa yang ada di ruang tamu rumah itu.

"Kak Giiiin !!!, " Kira berteriak.

"Tak apa apa Kira... " bisik Rangiku.

"Kak Giiiin !!!," Kira mengulang teriakanya. Tak ada sahutan.

"Maaf, Kira cari kak Gin dulu ya... " Kira langsung berbalik, melangkah ke ruang belakang. Tapi langkah Kira terhenti di depan sebuah lemari kaca.

Ada semacam memo yang tertempel di sana.

Gin pergi. Pulang nanti malam. Kunci rumah hilang.

Ttd : Gin Ichm.

Panik, Kira berbalik lagi ke Rangiku.

"Kira bawa ke dokter ya kak, " katanya.

"Tidak apa apa Kira... " kata Rangiku lagi.

"Maaf kak, Bukan maksud Kira untuk menyakiti kak Rangiku, " Tatapan Kira menyiratkan satu tatapan penyesalan.

"Kak Rangiku paham Kira... " Kata Rangiku, menarik tangan Kira. Kira duduk di samping Rangiku.

"Kak Gin sedang pergi kak. Kak Rangiku mau menunggunya ?, " tanya Kira.

"Ya, tidak apa apa kok. Terimakasih ya Kira, sudah membawa kak Rangiku sampai sini, " kata Rangiku, tersenyum. Kira membalas senyuman itu.

"Kira, bisa kau ceritakan sesuatu tentang Gin ?, " tiba tiba Rangiku bertanya.

"Kak Gin? Kak Rangiku takkan mempercayai kata kata Kira, " kata Kira.

"Kira lupa ya, siapa kak Rangiku ? Kak Rangiku sahabatmu Kira... apa yang perlu kau sembunyikan dari kak Rangiku?, " tanya Rangiku, lembut.

"Ah... di satu sisi, Kira merasa bahwa Kira menyayangi kak Rangiku dan juga kak Gin, jadi memang salah jika Kira menyembunyikan semuanya, tapi ada satu sisi lain di hati Kira yang berontak. Tak sanggup mengeluarkan sedikitpun kata kata. Mungkin... Kira takut... " bisik Kira.

"Iya... kak Rangiku mengerti... " Rangiku berkata lembut lagi, sembari tanganya membelai rambut Kira.

Angin berhenbus, melolong di luar. Mengalunkan satu nada nada serupa erangan. Dinginya merasuk sampai ke celah belulang. Perlahan Rangiku merasa langit menagis. Tetes air hujan mulai mengguyur dunia. Bumi perlahan ditelan kegelapan, digelayuti mendung hitam. Simponi alam yang sangat mengerikan.

"Kak, dingin ya ?, " tanya Kira.

"Tidak apa apa Kira, " kata Rangiku. Kira melepas jumper hitamnya yang bertuliskan 'wabisuke' dan mengulurkanya pada Rangiku.

"Pakai ini kak, jacket jeans seperti itu takkan cukup menahan hawa sedingin ini, " kata Kira. Terdengar begitu tulus.

"Jacket jeans ini memang takkan kuat menahan hawa dingin. Tapi seragam SMU tipis seperti itu lebih tak bisa menahan hawa dingin lagi Kira, " kata Rangiku. Kira tersenyum, memakai kembali jumpernya, tanpa mengatakan apa apa lagi pada Rangiku.

Mata Rangiku melayang ke arah jendela. Tak ada tirai, tak ada kerai yang membatasinya. Rangiku bisa mendengar seruan hujan, tapi tak bisa melihatnya. Bumi sudah ditelan gelap. Tak ada satupun bintang yang menampakkan sinarnya di atas sana. Bahkan deru mesin motorpun tak terdengar. Hanya erangan angin yang merasuk, menyayat gendang telinga Rangiku.

"Kapan ya Gin pulang... " desis Rangiku.

"Kak, Kira tau kak Rangiku merindukan kak Gin, " kata Kira, "Kira juga rindu. Sabar ya kak. "

"Iya, kakak tau Kira, " kata Rangiku.

"Kak, Kira yakin kak Rangiku akan terkejut melihat ini !, " tiba tiba Kira melonjak, berbalik dan melangkah, memasuki satu ruangan. Rangiku mengikutinya, "Ada apa, Kira ?, " tanyanya.

"Kak, lihat, " Kira mengangkat sebuah buku bersampul biru lazuardi semburat keperakan bergambar butiran salju. Rangiku sempat tertegun melihat buku yang dipegang Kira.

"Kira... itu kan... " Rangiku berdesis.

"Ini antologi puisi kak Rangiku kan ?, " kata Kira, mendekati Rangiku.

"Ini yang original kak, bahkan ada profil dan tandatangan kak Rangiku, " kata Kira lagi.

"kakak tau ini artinya apa ?, " tanya Kira.

"Entahlah... "

"Artinya, kak Gin masih mencintai kak Rangiku. Puisi ini berisi seluruh dendam yang sudah kak Rangiku dekap selama ini, Puisi tentang 'balada sedih sepasang kekasih dibawah purnama' dan 'hamburan kelopak cinta yang sirna', semuanya adalah pelampiasan kak Rangiku pada kak Gin kan ? Kak Gin memiliki ini karena kak Gin mencintai kak Rangiku. Kak Gin ingin tau isi hati kak Rangiku selama ini, " kata Kira.

"Darimana kamu tau, Kira, " selidik Rangiku, takut kalau ini hanyalah jebakan Gin.

"Kak Gin yang mengatakanya pada Kira, " kata Kira.

Rangiku agak terkejut, langsung tanganya menarik leher baju Kira, "kapan ? Apa yang dikatakanya ?, " tanyanya.

"Kakak ingin tau ?, " kata Kira. Dia langsung berbalik. Cengkeraman Rangiku terlepas.

"Lihat ! Kakak lihat dengan mata Kakak sendiri, " kata Kira sambil membuka sebuah lemari. Rangiku sempat sangat terkejut melihat apa yang ada di dalam lemari tua bercat cokelat itu.

"Kak Gin bilang, 'Aku hanyalah binatang dari masa lalu, jika tuhan tak menghendaki nafasku di dunia ini lagi, semua ini adalah saksi yang akan mengatakan pada dunia bahwa aku masih mencintai Rangiku'. Kira ingat jelas bagaimana kak Gin mengatakan semua itu, " kata Kira, kali ini dengan suara pelan.

"Jika... tuhan tak menghendaki nafasnya di dunia ini lagi... maka...maka semua ini adalah saksi yang akan mengatakan pada dunia bahwa Gin mencintaiku ?, " Rangiku berkata dengan tenggorokan yang tercekat.

Dipandanginya semua buku buku yang tersampul rapi tertata begitu rajin di dalam lemari itu. Tangan Rangiku meraih satu. Buku tebal berwarna fucshia berpadu dengan turquoise, dengan sampul bening.

Antologi Puisi 3 -Kenangan berdarah di malam badai ~ Rangiku Matsumoto

Rangiku meraih satu lagi, buku bersampul bening dengan cover berwarna senja. Satu lagi, buku agak tebal berwarna aqua semburat keunguan. Semuanya bertuliskan nama Rangiku. Semua antologi puisi buatan Rangiku. Dan Gin memilikinya mulai dari jilid pertama sampai bahkan jilid keenam. Bahkan antologi puisi lain yang memuat puisi cinta Rangiku, sampai tumpukan majalah yang memuat semua karya sastra Rangiku.

Lalu, mata Rangiku nanar, memandang selembar kertas bertuliskan sebuah cerpen. Badai di musim semi . Judul sederhana yang dulu pernah melejitkan nama Rangiku ke saentero Jepang saat lomba sastra. Itu adalah karya sastra pertama Rangiku saat SMP. Gin memilikinya... semuanya...

Rangiku merasa ada yang mencekik lehernya. Sakit... sekali...

Apa maksud kata kata yang diucapkanya pada Kira... Rangiku ingin tau...

"Apa maksudnya... "

Mataku terbuka malam itu,

yang kutatap pertama adalah salju

Terasa masih ada tapak tapak kepergianmu

Pagi aku bangun dari mimpi

Yang kutatap petama langit lazuardi

Teringat saat mereka pernah jadi saksi

Dari tidur siangku aku terjaga

Yang kutatap pertama dahan sakura

Terasa masih ada sisa hamburan kelopak cinta

Sore ku nikmati hikari senja

yang kudengar pertama irama harmonia

Lagu yang kau lantunkan untuk kita

Bersambung....

Silver : Yang ini lumayan panjang kan ?

Diamond : Ya... abis reviewer pada ngejar ngejar suruh cepet cepet apdet sih...

Silver : Ya makanya aku cepet apdet, hmmm aku juga mau ngucapin makasih buat yang udah pada review... buat Yoruichi, Chen, mss Dhyta, ASHOUDAN ZIMMER (Kenapa sih kalau nulis nama itu pasti pake hurup besar ? ga takut diprotes yang punya nama apa ?) , your Frenemy and yang lainya... Arigato minna !

Emerald : Biasain pake kata -san dong dibelakang nama !

Silver : Cerewet, sapa suruh lu keluar ??? masuk lagi sana !

Emerald : Gw punya hak buat ikut ngisi halaman ini dong...

Silver : Ooo... bandel ya ! Awas ! Hineko !!!!!

Emerald : Kyaaa... ampyuuuun...