Kota : Daqr

Negara : Ekasa

Benua : Eurasia

Tanggal : 17 April 2137

.

.

.

.

.

"Tiga hari adalah hari ulang tahunmu, Tuan Muda. Kami berdua ingin memberimu kejutan."

"Memberi hadiahku... Di hari ini?"

Bae Junmyeon, atau biasa dipanggil Suho, menggeleng sambil menggerakkan jari telunjuknya ke kiri lalu ke kanan. "Aku tahu ini terlalu cepat, tapi Kris tak sabar melihat senyummu, Tuan Muda."

Jika Suho asyik nyengir jahil di samping kiri Luhan, Kris memakinya lewat tatapan di samping kanan Luhan.

"Oh, begitu... Ya..."

Luhan tidak tahu harus merespon apa. Manik hijau keemasannya tengah iba pada pemandangan di sekitarnya. Sepanjang jalan yang dilewatinya bersama Kris dan Suho—alias Bae Junmyeon—Luhan selalu didatangi pengemis, bersitatap dengan mata sayu para penduduk miskin, atau tak sengaja menabrak anak-anak yang mencuri dompet orang kaya. Udara kotor, bau amis busuk, banyaknya sampah, serta sedikitnya tumbuhan, cukup mengenaskan tempat ini.

Ini adalah lingkungan kumuh di pinggir Kota Daqr, yaitu perbatasan antara Kota Lief dan Kota Daqr. Luhan, Kris, dan Suho melewati jalanan selebar dua meter. Diapit dua gedung besar, terbengkalai, kumuh, dan menjadi tempat tinggal orang-orang buangan. Kebanyakan dari mereka mengalami krisis pangan, air, pakaian, bahkan seringkali Luhan lihat ada yang bercinta sambil mabuk-mabukan di bawah traffic light rusak.

Tak hanya kondisi luar, kondisi dalam seperti moralitaspun sangat bobrok.

Luhan menengadah. Dari sini ia bisa melihat ujung Gedung Pemerintah Pusat Benua. Ia tersenyum miris. Sehun, suaminya, pasti tahu rakyatnya tengah sengsara. Sayang, Sehun menikmatinya dibanding menghabisi kesengsaraan itu.

"Argh!"

"Sial..!"

Pekikan Luhan dan umpatan Suho bukan tanpa sebab.

Luhan nyaris saja dilukai salah satu bocah, sampai akhirnya Suho menarik anak itu menjauh. Luhan hanya bisa meremas luka di lengannya. Setidaknya goresannya tidak terlalu dalam dan panjang, hanya seujung kuku.

"Kau baik-baik saja kan, Tuan Muda?"

"Ya, Kris." Angguk Luhan sambil memandang sedih bocah kurus itu.

Lalu ia tersenyum cantik, meski bocah itu menatapnya sengit bersama gigi-gigi kuningnya. Suho sejujurnya jijik karena bau bocah di rangkulannya ini busuk bukan main.

Luhan mengetahui satu fakta paling miris di lingkungan ini. Hal paling sulit ditemui di lingkungan ini adalah sebuah pelukan kasih sayang.

Tindakan Luhan kali ini membuat Kris, Suho, bocah itu, dan seluruh manusia kumuh di sana terkesiap.

Luhan memberikan sebuah pelukan pada bocah itu, lalu segelas bubble tea dari tas selempangnya ia berikan untuk si bocah. Setelah menjauhkan diri, sambil tersenyum Luhan berkata, "Ini untukmu."

Bocah itu tertegun. Tangannya gemetar menggenggam segelas bubble tea yang agak dingin.

Bocah itu menangis sesenggukan. Seakan-akan Luhan memberikan emas dan berlian, padahal hanya segelas Bubble tea.

"Terima... Hikss... Kasih..."

Luhan bagai malaikat di lingkungan kumuh itu.

Yang datang, membawa anugerah lewat kecantikan hatinya.

"Sama-sama, nak..."

•••

Setelah melewati jalanan kumuh, ketiga orang itu masuk ke dalam gedung terbengkalai.

Luhan masih bingung ada apa dengan gedung tersebut. Selain tinggi dibanding gedung tua lainnya, gedung ini juga jarang didekati orang-orang. Sepi sekali. Seperti tempat angker. Tapi Luhan tidak takut, hanya curiga saja.

Apa yang diinginkan dua bawahannya ini, heh?

Beberapa meter di hadapan mereka, berdiri meja kayu lapuk dimakan usia dan rayap. Meja itu sedikit disinari cahaya mentari siang yang menembus bagian atap yang berlubang. Kris menyuruh Suho untuk membantu menggotong meja itu agak ke pinggir. Luhan mundur tiga langkah agar tak menganggu keduanya.

Suara gedebum rendah membelalakkan mata Luhan.

Lantai seluas satu kali satu meter terbelah, menghasilkan lubang persegi dan memperlihatkan tangga menurun. Itu semacam pintu bawah tanah. Sedikit gelap di sana, dan tak terindikasi adanya kehidupan. Luhan mengerling bergantian pada Kris dan Suho.

"Kalian merahasiakan ini dariku? Apa ini rahasia Shixun yang lain?"

"Ah, Tuan Muda Luhan cerdas sekali," ucap Suho dan dibalas sentilan di dahi oleh Luhan. Suho hanya bisa mengaduh disaat Kris terkekeh geli.

Setelah Suho, sebagai yang terakhir, menginjak lantai bawah tanah, Luhan menengadah dan melihat 'atap' ruang bawah tanah menutup. Setelah itu cahaya lampu serba putih bergiliran menyala dan Luhan semakin takjub saja.

Visual ruang bawah tanah lebih modern dibanding visual gedung di atasnya. Keramiknya berkilauan, dindingnya terbuat dari polimer bening, dan ada banyak alat medis di sini.

Sepertinya, ini laboratorium.

"Ayo, Tuan Muda."

Ajakan Kris diangguki Luhan. Suho hanya mengekor di belakang keduanya. Mereka diam sepanjang perjalanan. Jika tatapan Kris dan Suho menghunus ke depan, Luhan celingak-celinguk memandangi ruangan yang dibagi oleh sekat-sekat kaca. Ada beberapa pria dan wanita berpakaian medis, dalam satu ruangan, dan mereka melakukan berbagai hal seperti memperhatikan percobaan di tabung reaksi kimia, sibuk memperhatikan objek di dalam tabung besar, merawat orang yang tidur di kapsul tidur, serta banyak lagi.

Luhan berhenti melangkah saat Suho menepuk bahunya. Ia lalu memperhatikan Kris. Pria itu tengah menempelkan ibu jarinya di layar hologram, matanya disinari cahaya hijau tuk direkam korneanya, kemudian tertulis penjabaran DNA Kris.

DNA adalah kode paling inti dari setiap manusia. DNA orang tua dan anak pun kadang tidak 100% sama, kan?

Sedetik kemudian suara mesin hologram seharusnya menginterupsi, apakah Kris diperbolehkan masuk atau tidak.

"Selamat siang, Yifan-ge! Apakah harimu menyenangkan?!"

Aneh, Luhan seperti mengenal suara ini. Pembawaannya kelewat ceria. Mengingatkan Luhan pada dirinya yang dulu. Tapi ia bersumpah, suara itu tak sama dengannya tapi sama dengan suara...

"Hariku sangat menyenangkan, Senior Version."

Senior Version?!

Luhan dibuat bingung saat Kris tersenyum miring di layar hologram.

Pintu baja terbuka, membelah, mempersilahkan ketiga pria itu masuk.

"Silahkan masuk, Yifan-ge, Suho-hyung, dan...

...Xiao Lu!"

Suara itu sama dengan suara WU SHIXUN!

Luhan merinding.

Pertama kali menapaki ruangan itu, bau kimia sedikit menganggu namun bisa dimaklumi. Banyaknya para peneliti berjas putih, alat-alat vital, kabel-kabel, membuktikan bahwa ruangan ini adalah yang tersibuk. Para peneliti itu berjejer rapi membentuk dua baris, memberikan jalan untuk Luhan dan kedua bawahannya. Mereka membungkuk hormat, berkata, "selamat datang... Tuan Muda Luhan."

Luhan hanya mengangguk kaku dan ragu. Suho tersenyum di belakang punggungnya.

"Seseorang menunggu anda, Tuan Muda. Dia adalah hadiah dari Tuhan, untuk anda."

Luhan berhenti melangkah.

Terpaku.

Kepalanya menengadah, matanya berbinar dan air mata tak disadarinya berjatuhan. Luhan bingung atas segalanya. Mendadak, kepalanya pusing.

Dia syok.

Setengah ruangan luas ini diisi oleh cairan kimia, tepatnya di dalam aquarium raksasa. Di dalam aquarium itu terdapat seorang pria. Tubuh telanjangnya melayang di tengah cairan kimia tersebut, dililit banyak kabel yang menyambung pada alat penunjang medis. Rambut pirang putihnya mengayun pelan. Kulit albinonya tak susut akibat basahnya cairan.

Luhan bergumam, menyebut sebuah nama yang sangat dirindukannya menyamai rindunya pada Sehun.

"Shi...xun...?"

.

.

.

.

.

HUNHAN

YAOI

WARNING:

Semua FF-ku penuh imajinasi liar! Skenario apapun bisa dijungkir balik, kalau kalian lalai dalam hal detail.

NOTE:

Di bab ini, istirahat sejenak, capek tegang akibat berperang mulu, ugh! :((

.

.

.

.

.

BAB -06 : Your Heart is Undefined

"Kau sebenarnya tahu rahasia busuk dunia ini, Oh Sehun. Rahasia yang membuat Luhan semakin terlarang untuk kau pertahankan."

—Wu Shixun in Oh Luhan—

.

.

.

.

.

Kota : Daqr

Negara : Ekasa

Benua : Eurasia

Tanggal : 23 April 2140

.

.

.

.

.

"Tidak bisakah kau berhenti menyiksa istrimu sendiri, Sehun?"

Xiao Lu mematung.

Chanyeol terperangah.

Baekhyun membekap bibirnya sendiri menahan isakan, "mustahil..." cekatnya. Refleks Chanyeol meliriknya.

Sehun menekan giginya kuat-kuat akan satu fakta lain mengenai istrinya.

Suara asing dari tenggorokan Luhan kini tertawa.

Tawa yang sama saat di malam natal lima tahun lalu, seakan itu mengejek Sehun karena kehilangan Luhan tepat di hari besar agamanya.

Menandakan kekalahan Sehun pada Tuhannya sendiri.

Luhan membalik posisi menindih Xiao Lu, lalu melompat bangkit dan mampu berdiri pongah tanpa pengaruh Mode Gravitasi milik bocahnya Sehun. Xiao Lu terdiam kala kaki Luhan menginjak dadanya. Tidak sakit, tapi cukup membuatnya sulit bergerak.

Luhan melempar senyum lembut pada Sehun.

Senyum itu bukan milik Luhan meski itu wajah istrinya. Sehun sadar senyum itu milik seseorang...

"Hello, my little bro! How are you?"

...orang itu saudara kembarnya sendiri.

"Sejak kapan istriku mengidap DID?"

"Maksudmu, kepribadian ganda?" Luhan terkekeh geli sambil tangannya sedikit menutup mulutnya. "Luhan memiliki masa lalu membahagiakan, memorinya tak seekstrim itu sampai-sampai dia menjadi pengidap kepribadian ganda."

Senyum lembut di wajah Luhan muncul kembali, begitu khas. Baik Sehun yang berdiri beberapa meter di hadapannya dan Baekhyun yang setengah berdiri di atas tanah, mereka berdua mengakui senyum itu selembut senyuman Shixun. Untuk Chanyeol? Robot itu bingung mencerna suara Luhan di sensornya, alias gendang telinga imitasi miliknya. Sementara Xiao Lu, bocah cantik itu terbatuk-batuk ketika ia bangkit. Tangannya menepis tangan Luhan, padahal sang 'mommy' mengulurkan tangan ingin membantunya bangkit.

Xiao Lu berlari ke arah Sehun. Sehun merentangkan tangan kanannya, menerima pelukan Xiao Lu. Pria itu terlihat membisiki sesuatu di telinga Xiao Lu, lalu dibalas anggukan oleh bocah itu.

Xiao Lu nampak enggan memandangi sang 'mommy'. Mengerti hal itu, Luhan hanya tersenyum.

"Apakah Luhan sudah menjelaskan padamu? Mengenai... Tiga puluh persen tubuhnya adalah robot?"

Sehun terdiam. Lebih tepatnya, raut mukanya mengeras.

"Kau baru tahu?" Salah satu ujung bibir Luhan terangkat.

"Apakah itu ada hubungannya?"

Luhan meneliti pemandangan di sekitarnya. Benar-benar gersang. Dipenuhi reruntuhan. Bahkan pepohonan dan tanaman lainnya mengering.

"Ya, Sehun."

Baekhyun adalah pria pertama yang dibuat tak habis pikir. Sampai ia dan Chanyeol saling melirik. Keduanya memikirkan hal sama. Yaitu keanehan Luhan. Chanyeol tak tahu sebab otaknya menghilangkan barier miliknya, tangannya berusaha menembus barier pelindung yang melindungi Baekhyun, lalu menggenggam tangan si mungil. Baekhyun pun terkesiap. Kemudian ia menangis.

"Yeolli..."

Chanyeol tertegun. Efek sentuhan tangannya sungguh ajaib membuat seorang pria menangis. Bukannya bangga, robot itu bereaksi sebaliknya. Segala macam kode di sistemnya membentuk satu kinerja, yaitu 'ekspresi kesedihan'. Chanyeol menggenggam tangan si mungil semakin erat, "berhenti menangis." Hanya itu respon Chanyeol.

Luhan menatap datar interaksi sepasang manusia-robot itu, Baekhyun dan Chanyeol. Pria cantiknya Oh Sehun, dalam kesadaran 'Wu Shixun', menerka kalau ada yang salah dengan Chanyeol. Kemudian manik hijau keemasannya kembali pada Sehun.

"Bisakah kita bernegosiasi sebelum kau mendeklarasikan perang pada FREHO, hm?"

Alis kanan Sehun terangkat, "negosiasi? Kau pikir aku mau bernegosiasi atas kerusakan parah yang Luhan ciptakan?" sinis Sehun. Tangannya terkepal, tak tahan meninju bibir istrinya. Bukan karena ia jijik pada sesuatu milik Luhan, tidak... Sehun justru memujanya.

Melainkan, Sehun muak pada senyum khas 'kakak kembarnya' ada di bibir seksi istrinya.

"Kupikir, ya," respon Luhan.

Mata Sehun memicing tajam, "di helikopterku."

.

.

.

.

.

Helikopter pribadi bersimbol Eurasia di badannya, adalah tempat di mana Luhan dan Sehun berada. Luhan, dalam kesadaran Shixun, menopang dagu di atas meja. Sesekali ia curi pandang pada Xiao Lu. Bocah lucu itu ada di pangkuan Sehun, sibuk memainkan jari jemari 'daddy'-nya seperti bayi.

Di dalam helikopter ini, ada sebuah meja dan sepasang kursi berhadapan. Dalaman helikopter ini cukup luas, melegakan untuk merayakan pesta kecil-kecilan, intinya tidak sesempit helikopter biasanya. Luhan menerka, sepertinya Sehun sudah memprediksi ia akan membutuhkan meja ini untuk berdiskusi.

"Negoisasi apa yang kau inginkan?"

"To the point, cara bicaramu seperti biasanya," Luhan asyik menyeruput secangkir kopi Americano yang dibuat Baekhyun. Omong-omong soal pria mungil itu, ia menghilang bersama Chanyeol. Luhan sendiri tak mempermasalahkan, hanya tak ingin Baekhyun 'merusak' maha karyanya. Itu saja.

"Kak Shixun."

"Hm?"

"Walaupun wujud dan rupamu Luhan, aku boleh memanggilmu begitu, kan?"

"Boleh kok."

Xiao Lu menurunkan tangan Sehun. Ia menyandarkan dagunya di bahu sempit si bocah.

"Kak Shixun. Apa kau ingat tentang permintaanmu yang terakhir? Kita akan membahas itu dulu sebelum ke ranah pembicaraan selanjutnya."

Luhan—Shixun—menyimpul bibir. Manik hijau keemasannya meneliti rupa Xiao Lu satu persatu. Xiao Lu hanya bisa menunduk. Berbeda saat menatap Luhan, ketika 'kesadaran Shixun' menatapnya, bocah itu jadi sedikit gugup.

"Xiao Lu adalah permintaan terakhirku sebelum mati dibunuh olehmu. Tujuan awal aku menciptakannya hanyalah satu, menggantikan posisi Luhan dan menikahinya," Shixun, mari kita menyebutnya demikian, terkekeh miris. "Aku bahkan lebih sinting darimu."

"Lalu, mengapa tidak kau ciptakan kloningan untuknya? Apa untungnya bagimu menciptakan Xiao Lu dengan DNA-ku dan Luhan? Aku bersumpah, Kak Shixun, tingkahmu selalu membuatku penasaran."

Shixun tertawa kecil, "kau memang adikku."

SYUUT...!

PRAANNGG...!

Tawa Shixun lenyap setelah Sehun melemparinya pisau lipat hingga pisau itu membentur dinding logam helikopter, lalu tergeletak di alas. Sementara Shixun—dalam diri Luhan—mendapati luka goresan di pipi.

Sang adik kembar masih saja sama, paling benci dipermainkan.

Tapi mengapa sang adik suka sekali mempermainkan orang lain? Apa ia tak kenal karma?

Shixun meraba pipinya, merahnya darah menutupi ujung jari tengahnya.

"Aku tak segan melukai istriku sendiri hanya karenamu, Wu Shixun."

Shixun mendengus jengah, "aku hanya ingin mengakrabkan diri. Tapi jika kau tak menyukainya, bukan masalah."

CEKLEK...!

Saat Sehun geram dan menodongkan pistol, bermaksud menembaki Shixun, pria itu langsung menjawab meski tatapannya datar. Sehun menurunkan pistolnya. Kini berganti Xiao Lu yang asyik menodongkan pistol itu ke arah Shixun.

"Aku ingin menciptakan sesuatu. Tidak, tapi membuktikan sesuatu."

Sehun menaikkan sebelah alis.

"Kalau kau berkenan, kau bisa kirim catatan kesehatan Xiao Lu dari segi fisik dan psikis padaku. Dengan itu aku mendapat kesimpulanku dan aku akan menjawab rasa penasaranmu. Yang jelas, terciptanya Xiao Lu tak hanya sebagai pengganti Luhan atau senjatamu, melainkan membongkar 'Rahasia Benua'. Rahasia busuk itu yang akan menentukan apakah Luhan membenci kita, jijik, atau semakin mencintai kita berdua."

Raut wajah Sehun menegang.

"Kau terdengar seperti menutupi sesuatu dari siapapun, termasuk dari Luhan. Kalau benar, di mana aku harus mengirimkan catatan kesehatan Xiao Lu tapi tidak bocor ke Luhan dan anak buahnya?"

Shixun memalingkan muka, memandangi suasana gersang dan hembusan angin kering di balik jendela helikopter. Shixun—kesadaran lain di dalam diri Luhan—menaikkan salah ujung bibirnya.

"Kau sebenarnya tahu rahasia busuk dunia ini, Oh Sehun. Rahasia yang membuat Luhan semakin terlarang untuk kau pertahankan."

"Apa kau bilang?"

"Jika kau tidak tahu, responmu pasti tak semudah itu mengiyakan permintaanku." Shixun mengulum bibirnya. Menahan senyum misteriusnya. "Karena ini berhubungan dengan negosiasi kita, langsung saja kukatakan sebuah ajakan."

Sehun diam. Masih fokus memandangi wajah samping Luhan, yang saat ini kesadarannya diambil alih oleh Shixun.

"Maukah kau rujuk dengan Luhan?"

Sehun pikir, ia salah dengar. Sejauh basa-basi tadi, terlihat jelas kalau Shixun melarangnya mempertahankan Luhan. Seharusnya, dari sudut pandang Sehun mengenai kakak kembarnya, Shixun tidak meminta demikian. Mungkin lebih kepada meminta Sehun menyerahkan diri pada Luhan, mengakui kesalahan, lengser dari jabatannya sebagai Presiden Dunia, dan sebagainya.

Sehun tahu ini mengarah ke mana. Apa ini semacam kudeta secara halus? Kamuflase seperti gerilya? Sehun tahu taktik Shixun kali ini. Ia menggunakan cintanya pada Luhan untuk meluluhkan hati Sehun agar berhenti merusak dunia.

Apa yang dikatakan Shixun benar, Sehun tahu RAHASIA BENUA itu. Alasan itulah, dalam porsi terbesar, yang melatarbelakangi keinginan Sehun merusak tatanan benua.

Sehun terdiam.

Ia tak ingin Shixun berhasil menjebaknya.

"Lakukan hubungan suami istri seperti dulu, antara kau dan Luhan." Shixun—dalam diri Luhan—menoleh. Ia bertopang tangan memandangi Xiao Lu. "Kalian sudah memiliki 'anak'. Pertumbuhannya memang kau percepat dengan cara mutasi gen dan mempercepat kinerja sel, tapi hal itu menyebabkan usia Xiao Lu memendek."

Kali ini manik hijau keemasan Luhan mengerling tajam pada manik hitam Sehun.

"Menjadikannya senjata tak berperasaan adalah hal mustahil, Oh Sehun. Kau menciptakannya sebagai 'manusia', bukan robot. Manusia itu butuh kasih sayang. Saat aku melihat dia bertarung melawan Luhan, lewat mata Luhan tentunya, aku tahu Xiao Lu lebih ingin memanggilnya 'mommy' dibanding membencinya."

Xiao Lu melirik Shixun sengit.

"Aku benci Oh Luhan."

"Oh ya? Kau tidak membencinya, Xiao Lu sayang... Kau menyayanginya, sesayang dirimu pada daddy-mu. Kau hanya tak suka daddy-mu sedih dan penyebabnya adalah mommy-mu."

Sehun merasakan keanehan pada Xiao Lu. Bocah bersurai kecoklatan itu membasahi bibirnya, gelisah, lalu mengigit bibirnya. Ia mulai takut menatap Shixun. Xiao Lu mengubah posisi duduknya menghadap Sehun. Tangan dan lututnya melilit tubuh Sehun.

Sehun menepuk punggungnya pelan.

Shixun menyeringai dalam rupa Luhan.

"Jika kau rujuk pada istrimu, aku akan memerintahkan beberapa anak buahku terlibat dalam perbaikan Kota Daqr. Selama kau dan istrimu tinggal bersama di rumah kalian, tepatnya di Kota Hamal, Negara Trias, aku yang akan memimpin FREHO agar bergabung dengan Daqrios."

Sehun merasa janggal. Matanya melebar curiga.

"Tak semudah itu membengkokkan doktrin Luhan dari anggota FREHO. Apa kau gila?!"

"Kau benar mengenai pernyataan pertama. Tapi bagaimana jika aku mengatakan, Luhan yang meminta?"

"Sebenarnya apa tujuanmu, Shixun?! Jika kau melakukan itu, apa yang FREHO lakukan selama ini sia-sia?!"

"Oh, kau perhatian sekali."

"Aku hanya mengatakan ketidakpercayaanku padamu, idiot! Karena kau mencoba mempengaruhiku. Dibalik negosiasi ini, ada rencana dibalik semua ini, dan aku tahu itu tak menguntungkanku. Jadi... Aku menolak!"

"Padahal Luhan merancang rencana rumit ini agar kita bisa bertemu dan bernegosiasi. Dengan situasi yang cukup genting di kota vital ini, kau jadi mudah diajak berdiskusi."

Sehun mengepalkan tangannya di atas meja. Xiao Lu merasakan amarah Sehun. Ia semakin menenggelamkan wajahnya di dada bidang Daddy-nya.

"Dad... Tenanglah..."

Xiao Lu mengelus rahangnya, "ada aku dad..." Sehun tersenyum mendengarnya. "Aku tahu, Xiao Lu."

Sehun mengembuskan nafas. Ia mulai menenangkan pikirannya, ingin mengendalikan tubuh Luhan agar ada di tempatnya.

Tapi percuma, tubuh Luhan—dengan kesadaran Shixun—sulit ia kendalikan. Akibatnya, kepala Sehunlah yang memberat. Sementara Luhan bergeming.

"Kau memang bisa mengendalikan pergerakan tubuh Luhan tapi tidak selalu bisa membaca pikirannya, dan tidak bisa mendeteksi keberadaannya lewat DNA. Kemudian... peristiwa tadi berbeda, menimbulkan pertanyaan lain yaitu... mengapa Xiao Lu saja tak bisa mengendalikan tubuh Luhan jika 'aku' yang sadar?"

Sehun mendecih, ia mulai tahu makna dari basa-basi Shixun mengenai tubuh Luhan.

Shixun mengetuk-ngetuk pelipisnya—pelipis Luhan—dengan ujung kuku telunjuknya. "Yaitu otak, Sehun. Otak adalah pusat dari segala pikiran dan aktivitas tubuh. Ditambah 30% tubuh Luhan adalah robot, yang secara otomotis mudah untukku memanipulasi sistemnya, agar lebih kuat bertahan dari kekanganmu dan Xiao Lu."

"Aku sangat mencintai istriku. Tapi bukan berarti semudah itu aku mengalah darinya jika mengenai Benua."

"Aku tahu," ujar Shixun. Sekali lagi, senyumnya tergolong pahit. "Bahkan rasa cintamu padanya melebihiku."

Dahi Sehun mengernyit curiga.

"Satu menit lagi Luhan akan sadar. Perjanjianku kepadanya adalah, aku harus 'dimatikan' setelah nyaris dua puluh menit aku tersadar. Satu menit adalah waktumu berpikir, untuk menerima penawarannya atau tidak."

"Tidak perlu menunggu satu menit."

"Hah?"

"Aku ingin kau sadarkan Luhan. Aku ingin bicara sesuatu padanya," lalu Sehun menunduk. "Xiao Lu, duduklah sambil menghadap ke depan." Bocah itu mengangguk. Lalu merubah posisi duduk menghadap ke depan.

"Kalian cocok sebagai ayah dan anak," gumam Shixun sambil memandangi Xiao Lu.

Shixun—dalam kesadaran Luhan—memejamkan mata sambil bersandar punggung di sandaran kursi. Beberapa detik hanya keheningan. Sehun dan Xiao Lu menunggu Luhan terbangun. Mereka terus memandangi Luhan, seperti sepasang ayah dan anak menunggu sosok ibu dalam keluarga, bangun dari tidurnya.

"Ngh..."

Tangan kurus Luhan terangkat, gemetar meremas pelipisnya. Ia menegakkan badan. Matanya mengerjap-ngerjap, dahinya mengernyit, merasa asing dengan pemandangan di sekitarnya. Manik hijau keemasannya menggelap saat ia semeja seakan begitu akrabnya bersama musuhnya, Oh Sehun. Di pangkuannya ada Xiao Lu. Mata lucunya melebar, berbinar pada Luhan.

Luhan tercengang saat manik merah bocah itu seakan tersenyum untuknya.

Tanpa sadar, Luhan tersenyum di tengah kesadarannya.

"Lulu."

DEG...!

Suara husky yang lembut dan tulus itu, sudah lama tak Luhan dengar dari pita suara Sehun. Pria itu juga mengulas kurva indah di bibir merahnya.

Tanpa sadar, Luhan menangis haru.

"Ya, Hunhun?" Luhan gemetar. Responnya benar-benar payah. Ia sebenarnya bingung karena mendadak ada di dalam helikopter Sehun, mengingat semua di sini serba hitam dan ada simbol EURASIA di dindingnya.

Luhan hafal betul apabila ada seseorang tengah berbohong padanya, bermuka dua sok baik padahal hatinya sungguh busuk. Parahnya, ia sering menemuinya pada orang-orang di sekeliling Sehun. Jadi ia pikir, Sehun pun demikian kan?

Tapi kali ini tidak, pria itu terkesan tulus. Benar-benar tulus.

Pria tampannya kembali?

Benarkah?

Hunhun-nya kembali?

"Maukah kau kembali ke rumah, Lulu? Menjadi istri Hunhun-mu yang sesungguhnya? Menerimaku sebagai suamimu ini?"

Luhan tidak boleh percaya begitu saja, ia harus—

["Aku bernegosiasi dengan Sehun beberapa menit lalu. Xiao Lu yang menjadi saksi."]

Luhan melirik Xiao Lu. Kali ini, bocah itu tersenyum.

["Perang kalian bukan lagi di lapangan. Bukan lagi adu senjata atau taktik. Tapi di rumah tangga kalianlah, kalian akan saling berperang. Jadilah istri yang benar untuknya, lalu ambil segala informasi dari kandangnya."]

Suara Shixun mengiangi gendang telinganya.

Sementara itu, Sehun dan Xiao Lu tampak mengharapkannya. Mata mereka pun jujur.

Akankah keputusan Luhan benar?

["Ini demi kemerdekaan, Xiao Lu."]

"Aku..."

Bukankah dunia ini diisi oleh kebusukan?

Bukankah sampah tak cukup untuk menyumbangkan aroma kebusukan di dunia ini?

Ah... Dunia benar-benar busuk! Bermuka dua!

Termasuk Luhan sendiri!

Luhanpun merutuki dirinya sendiri.

Manusia tak ubahnya karakter bertopeng banyak, ya... Itulah Luhan saat ini.

Lalu apa bedanya ia dengan Sehun?

Kali ini hati mereka berdua, Sehun dan Luhan, tak terdefinisi. Akankah keduanya berakhir penuh cinta, atau...

"...aku mau, Sehun. Hanya jika, selama kita bersama, kau tak memusnahkan kelompok manapun," ucap lemah Luhan, istri dari seorang Presiden Dunia.

Sehun tersenyum misterius.

Luhan memandangnya datar.

"Ya, Lulu-ku... Sayangku... Hanya jika kau menjadi istriku, seperti dulu. Hm?"

"Tentu, Hunhun."

Luhan kembali pada keluarganya...

...untuk menusuk mereka dari belakang demi kepentingan banyak manusia.

.

.

.

.

.

TBC!

.

.

.

.

.

AUTHOR NOTE:

Wah, pendek ya? Lebih pendek dari bab-bab sebelumnya... Ugh!

Aku tahu aku selalu koar-koar ini bukan Romance, tapi kenapa aku beranggapan semakin ke sini malah lebih ke 'Dark' Romance?!

Woi! HUNHANKU!!

Kalian ini gemesin, tapi ya gimana, beginilah "pasangan paling berpengaruh di dunia versi HHS". WKWKWKWK...!

Mainstream banget kalau Romance saling menyatukan, lebih baik saling bacok-bacokan kayak nih FF ABAL-ABAL! #asahgolok

Jan lupa sematkan pernyataan, "di dunia ini ada sebab akibat. Termasuk cerita ini. Akan kalian temui jawaban dari pertanyaan kalian, seiring bertambahnya cerita."

untuk "rahasia benua", sebenarnya ada Short Story-nya. Itu asal-usul FF ini. (kan ni FF remake buatanku sendiri :)

Ok, see you guys! Gemes ku sama mereka :3

Surabaya, 27 April 2019