.
Rock With Me
.
Pengarang: Kristen Proby
.
.
.
Oh (Do) Kyungsoo
Kim Jongin
.
.
Ini BUKAN karya Cactus93, Cactus93 hanya ingin me-remake dan berbagi cerita yang Cactus93 sukai. Cactus93 hanya mengganti nama pemeran, mungkin dialog yang sesuai dengan keadaan. Setting cerita ini tidak di Korea.
.
.
.
Hope u will enjoy this remake^^
Sorry for typos
Happy reading!
.
.
.
.
Jongin POV
Kyungsoo berjalan mondar-mandir di kamar tidurku, teleponnya ditahan dengan telinganya. Hari mulai hujan. Tidak ada sinar, hujan dengan intesitas sedang, tetapi menimbulkan suara, semua jenis hujan tampaknya memiliki ciri tersendiri. Suaranya seperti pukulan drum di atap rumah dan hampir semua pandangan dikaburkan oleh air.
Aku duduk bergoyang di kursi goyang, diiringi dengan musik dari hujan, dan memikirkan wanita mungil dengan kepribadian yang baik ada di kamar tidurku. Dia menakjubkan. Kuat, berjiwa besar, setia, semua membuatku bertekuk lutut.
Aku tidak pernah merasa cukup dengan dirinya.
Pintu kaca terbuka dan Kyungsoo berjalan keluar ke balkon.
"Bagaimana?" Aku bertanya.
"Mereka tidak menerimaku." Dia mengangkat bahu, wajah cantiknya terlihat sedih dan mungkin sedikit takut.
Jika kau mengijinkanku, aku akan menjagamu dan kau tidak harus bekerja lagi.
"Kemarilah, Sayang." Aku mengambil tangannya ke arahku dan menariknya duduk di pangkuanku. Dia menyandarkan pipinya ke dadaku, dan aku melingkarkan lenganku di sekelilingnya, mengayun dirinya dengan lembut. "Hanya bergoyanglah denganku untuk sesaat."
Dia tersenyum lembut ke arahku, teringat beberapa waktu lalu aku mengucapkan kata-kata itu kepadanya dan kami bercinta di kursiku.
"Aku tidak tahu mengapa aku sedih. Aku tidak merasa menginginkan pekerjaan itu. Kau benar, aku tidak ingin pindah ke L.A."
"Penolakan," Gumamku dan mencium rambut hitamnya yang lembut.
"Ya," Dia setuju.
"Aku sedikit senang kau tidak mendapatkannya," Aku mengakui. "Aku tidak ingin kau pindah keluar dari Seattle. Kupikir aku akan menjual rumah ini dan pindah ke sana." Aku mengerutkan kening dan memandang hujan di sekitar kami, pikiranku mengembara. "Tempat ini tidak seperti rumah. Kau bilang sendiri, itu tidak menggambarkan 'Aku'."
"Hmm..." Dia setuju dan merapat lebih dekat kepadaku. Tuhan, dia begitu sempurna dalam pelukanku.
"Aku bosan bepergian jauh. Mungkin aku bisa mengaturnya sehingga kami hanya tur sekitar tiga bulan dalam setahun. Mereka akan menjadi tiga bulan yang padat, tanpa istirahat, kemudian selebihnya aku akan berada di rumah. Anggota band yang lain akan setuju dengan hal itu juga. Terutama Gary dan DJ, karena mereka memiliki keluarga."
"Kapan saatnya bagi Lori?" Dia bertanya dengan tenang.
"Bulan depan. Lagipula kami semua sudah terlalu tua untuk tur sepanjang tahun. Hal ini tidak seperti saat kami membutuhkan uang."
"Itu bagus bahwa kau bisa menentukan pilihan," Dia setuju.
Aku mengangguk dan menciumnya lagi. Aku tidak bisa berhenti mencium rambutnya yang beraroma manis seperti madu.
Sialan, aku teramat menginginkannya.
"Hal itu akan menjadi baik untuk lebih dekat dengan Tao. Memperhatikan dia."
"Tunggu," Dia duduk dan mengerutkan kening padaku, "Kenapa semua kehidupan ini berubah?"
"Oh, Sunshine," Bisikku dan tersenyum lembut. "Apakah kau tidak tahu bahwa aku benar-benar jatuh cinta denganmu?"
Matanya terbelalak dan tangannya mencengkeram bajuku dan untuk pertama kalinya sejak aku bertemu dengannya, aku merasa dia kehilangan kata-kata.
"Kau harus tahu itu, Sayang." Aku mencium keningnya dan menagnkup wajahnya dengan tanganku. "Aku tidak membawa wanita di sekitar bandku. Aku tidak menulis lagu untuk seorang gadis. Aku tidak membawa mereka ke sini. Aku tidak akan berbicara tentang keluargaku dengan sembarang orang. Aku mencintaimu, Kyungsoo."
"Oh, wow," Bisiknya dan jari-jarinya menelusuri wajahku, menatap mataku dengan, matanya yang indah berwarna hitam legam, "Aku takut jatuh."
"Aku akan menangkapmu, Sayang."
Dia berkedip dan menelan ludah dengan keras, otaknya sedang bekerja keras. Kami duduk dalam diam, mendengarkan hujan, saat dia sedang memproses pikirannya. Aku berharap ini darinya. Dia bukan seorang gadis yang akan menjerit dan melemparkan dirinya ke arahku, meneriakkan cintanya untukku.
Itu bukan caranya, dan itu hanya salah satu dari banyak hal yang aku sukai tentang dia.
"Aku juga mencintaimu," Bisiknya begitu pelan, aku nyaris tidak bisa mendengarkannya disela-sela suara hujan.
Aku mengangkat dagunya dengan jariku, memaksa dia untuk menatap mataku. "Apa yang kau katakan?"
"Aku juga mencintaimu," Dia mengulanginya, kali ini lebih keras, "Kau membuatku takut."
"Bagus, karena kau begitu sialan menakutiku," Aku tertawa dan menariknya lebih dekat, "Tapi hidup tanpa dirimu membuatku lebih takut."
"Apakah kau benar-benar pindah ke Seattle secara permanen?" Dia bertanya, wajahnya penuh harapan dan bahagia.
"Ya."
"Kau tidak tinggal bersama denganku." Tiba-tiba dia cemberut, membuatku langsung tertawa. "Kita tidak siap untuk hal itu."
"Terakhir kalinya aku mengecek, aku punya tempat sendiri," Aku mengingatkannya.
"Kupikir ini berarti akan lebih baik aku mencari pekerjaan di Seattle," Gumamnya dan mencium pipiku dengan manis.
"Hal itu akan menjadi lebih nyaman," Aku setuju.
"Bagaimana jika kau sedang pergi tur?" Kedua alisnya berkerut karena cemberut, dan aku mengusap kulitnya yang lembut dengan ibu jariku.
"Jika kau tidak sibuk, kau bisa pergi denganku. Jika kau tidak bisa ikut, kita bisa bertahan dengan itu."
Dia mengangguk dan tersenyum. "Tidak ada lagi rumah Malibu yang jelek?"
"Tidak." Aku tertawa dan memeluknya erat-erat. "Aku akan menjual rumah Malibu yang jelek."
"Terima kasih Tuhan."
.
OoooO
.
Kyungsoo POV
"Kau di sini!" Seorang wanita cantik berambut hitam melompat dari kursi Adirondack-kursi santai yang biasa digunakan di pinggir kolam atau pantai- di teras tepi kolam renang dan berjalan ke arah Jongin dan aku. "Kau Kyungsoo," Dia memberitahuku dan merentangkan lengannya kepadaku, memelukku dengan erat.
"Ya, aku Kyungsoo." Aku melihat ke sekeliling area kolam milik Gary dan Lori di rumahnya yang cantik. Sungguh menakjubkan bagiku betapa cepatnya perubahan cuaca di sini. Hanya beberapa jam yang lalu kami mendengarkan hujan di teras rumah Jongin, dan sekarang cuaca cerah dan hangat kembali.
Lori yang sedang tertawa memandangku dan mulutku membentuk kata "Tolong!" padanya tapi dia hanya tertawa lebih keras.
Pengkhiatan.
"Namaku Cher." Dia melepas pelukannya dan tersenyum. "Lori benar, kau seksi. Dia seksi," Katanya kepada Jongin yang sedang tertawa di sebelahku.
"Ya, begitulah dia," Dia setuju.
DJ, dengan rambut Mohawk-nya yang tinggi, bergabung dengan kami dan melingkarkan lengannya di bahu Cher. "Cher adalah istriku," Dia tersenyum penuh kasih ke arahnya, "Dia senang bertemu denganmu."
"Jongin tidak pernah membawa wanita untuk bertemu dengan kami."
"Benarkah?" Tanya Jongin dengan keras. "Apakah setelah ini kita akan pergi bersama setiap waktu?"
"Baik, sekarang dia akan bertemu semua orang," Jake terkekeh.
"Ayo duduk bersama kami," Cher meraih tanganku dan mengajaku ke teras berkanopi di mana Lori sedang beristirahat, tangannya mengusap perutnya, dan memberikan aku tempat untuk duduk. Aku melihat ke belakang, dan Jongin sedang memandangku, matanya terlihat bahagia.
Dia mencintaiku.
Dia mengangkat bahu dan mengambil bir yang ditawarkan oleh DJ dan berkeliling untuk bergabung dengan anggota band lain yang berdiri di dekat panggangan.
Ada beberapa hal yang aku tahu pasti dalam hidup ini, dan salah satunya adalah laki-laki selalu dapat ditemukan dekat dengan panggangan.
Gary sedang memanggang, para pria lain duduk di kursi atau berdiri di sekelilingnya, menyesap bir dari botol dan tertawa. Eric sedang menggendong seorang anak laki–laki kecil yang manis, berumur sekitar dua tahun, memandang ke arahnya dan tersenyum. Band rock Kai yang terkenal di dunia adalah hanya sekelompok orang normal.
"Aku senang kau ada di sini." Lori tersenyum.
"Terima kasih telah mengundangku," Aku merespon dan melirik sekitar halaman belakangnya yang rimbun, "Kau memiliki rumah yang indah."
Ini benar. Kolam renangnya berbentuk seperti ginjal dan besar, dilengkapi dengan bak mandi air panas pada salah satu ujung. Seluruh permukaan jalan di tutupi dengan bebatuan bulat, terdapat perapian untuk luar ruangan yang ada di salah satu ujung yang lain, dikelilingi dengan furniture mewah. Area bermain anak yang sangat luas dilengkapi dengan ayunan, papan meluncur, dan rumah pohon berada di salah satu sudut yang lain. Teras tempat kami duduk memiliki luas dua kali ukuran apartemenku, tertutup, dan juga dilengkapi dengan kursi yang nyaman dan berwarna-warni serta meja. Para pria dan panggangannya berada sekitar dua puluh meter dari tempat kami duduk, juga berada di teras.
"Terima kasih," Lori menjawab dengan tersenyum. "Kami tidak bisa menghabiskan banyak waktu di sini, jadi ketika kami pulang, kami senang mengundang semua orang."
"Aku tak percaya Maddox sudah cepat besar," Komentar Cher, menunjuk ke anak kecil di pangkuan Eric.
"Aku tahu, dia tumbuh seperti rumput liar," Lori setuju. "Itu anak kami, Maddox," Katanya padaku.
"Dia manis."
"Aku ingin bicara dengan kalian tentang sesuatu," Jongin memulai dan semua orang mengerutkan kening padanya.
"Jangan katakan padaku bahwa kau sedang berpikir untuk menyusun jadwal tanggal tur." Lori cemberut, suaranya keras, "Kecuali kau tidak memperhatikan, aku akan melahirkan."
"Tidak." Jongin menggelengkan kepala dan melirikku, lalu ke anggota band yang lain, "Justru, aku ingin bicara dengan kalian mengenai perombakan jadwal tur."
"Terima kasih Tuhan," Gumam Gary sambil menjalankan jari-jarinya ke rambutnya.
"Kenapa?" Jake bertanya dan meneguk birnya.
"Aku tidak ingin berhenti," Jongin menjelaskan, "Aku sedang berpikir untuk merubah jadwal tur kita hanya beberapa bulan dalam setahun, dan bulan selebihnya untuk membuat album, menulis, bekerja sama dengan artis lain, hal-hal seperti itu."
Semua orang saling berpandangan. Cher dan Lori menahan napas, saling berpegang tangan dengan erat.
"Itu bukan ide yang buruk," DJ merespon. "Kita bukan pria berumur dua puluh dua lagi."
"Kita bisa tampil di acara khusus yang akan segera datang, acara penghargaan, hal–hal semacam itu," Eric setuju.
"Aku bisa bermain dengan anak-anakku," Gary menambahkan dan mengembuskan napas, "Jujur, aku sudah siap untuk sedikit mengurangi kegiatan."
"Aku ingin kita semua satu pendapat." Jongin memasukan telapak tangannya ke dalam saku, wajahnya tampak khawatir. "Kalian adalah keluargaku. Kita melakukan hal ini bersama-sama atau tidak sama sekali."
Aku tidak tahu apakah aku bisa mencintai dia lebih dari yang sudah aku lakukan, dan dia berjalan dan mengatakan hal-hal seperti itu. Aku memahami arti keluarga.
Semua mata beralih ke Jake dan dia mengangkat bahu, "Ya, mengurangi tur mungkin lebih baik. Kita bisa lebih sering melakukan rekaman."
"Mungkin kau bisa berumah tangga," kata Gary, tetapi Jake menyeringai.
"Jangan gila."
"Satu hal lagi," Jongin menambahkan saat Gary membalik steak di panggangan. "Aku akan pindah ke Seattle secara permanen. Aku tidak berharap DJ dan Gary untuk ikut, aku hanya ingin memberi tahumu."
Suasana menjadi hening. Setelah beberapa saat, semua orang mulai tertawa, termasuk Lori dan Cher.
"Apanya yang begitu lucu?" Tanya Jongin.
"Kami bertaruh seberapa lama kau akan bertahan di rumah yang mengerikan itu," Cher memberitahu dia sambil menyeka air mata di sudut matanya. "Aku telah kalah taruhan setahun yang lalu."
"Semua orang membenci rumahmu?" Tanyaku heran.
"Oh Sayang, itu mengerikan," Lori memutar matanya, dan aku tersenyum padanya.
"Aku tahu. Aku bersyukur dia akan menjualnya."
"Aku membeli karena pemandangannya," Jongin mengingatkan kami semua lalu ikut tertawa dengan yang lain, "Ya, itu mengerikan."
"Aku tidak keberatan pindah ke Seattle," Cher bergumam, mata cokelatnya yang besar menatap DJ.
"Kita lihat saja nanti," Dia setuju.
"Aku benci LA. Tolong katakan padaku bahwa kita bisa pindah juga." Lori memohon pada suaminya yang tampan.
"Kau benci L.A.?" Dia bertanya, terkejut.
"Ya! Ayo, kita pindah sebelum Maddox mulai sekolah dan kita tidak terlalu banyak yang diurus."
"Aku kira kita semua akan pindah ke Seattle dan menjadi orang pinggiran membosankan," Gary bergumam.
"Katakan pada dirimu sendiri. Aku bukan orang pinggiran." Eric bertolak pinggang dan menggelengkan kepala.
"Orang dewasa sedang menuntun seorang bayi," DJ menyindir.
"Dasar bodoh," Eric membalas dia.
"Bodoh!" Maddox berteriak dengan senyum lebar.
"Ah, sialan," Lori bergumam. "Berhenti mengajarkan anakku kata-kata makian."
"Semua pamannya adalah musisi," Jongin mengingatkan dia. "Itu tak terelakkan bahwa dia bisa memiliki mulut yang kotor."
"Apakah itu harus dimulai sejak balita?"
"Bodoh!" Maddox berteriak lagi dan tangan yang kecil bertepuk tangan.
"Anakku akan menjadi anak yang sering dihukum setiap hari sepulang sekolah karena dia mengumpat di kelas," Lori mengeluh, membuat para pria menyeringai.
"Sudah berapa lama kau menikah?" tanyaku kepada Cher.
"Sepuluh tahun," Jawabnya dan menertawakan ekspresiku yang terkejut. "Atau, di band rock, lima puluh."
"Hal yang bagus untuk kalian." Aku berharap bisa melompat. Wanita-wanita ini telah berhasil membina hubungan mereka dengan para suami mereka yang terkenal. Mungkin hal itu tidak terlalu sulit.
Mungkin besok aku akan sampai pada dua puluh lima.
"Tidak mudah," Cher mengakui dan memandang suaminya dengan mata bahagia. "Tapi sia-sia. Ini akan menjadi lebih baik memiliki dia lebih sering di rumah. Mungkin kami bisa memiliki bayi."
"Tidak ada anak-anak?" Aku bertanya. Dia menggeleng kepala dan matanya terlihat sedih.
"Aku tidak bisa punya anak," Dia membuka rahasia, suaranya lirih. "Tapi kami ingin mengadopsi."
"Aku sudah bilang sebelumnya, aku akan penggantimu," Lori mengingatkan dia. "Sepertinya aku akan menjadi mesin pembuat bayi."
"Kau gila." Cher tertawa.
"Namun lebih baik," Lori mengambil Maddox yang menangis dari pangkuan Eric. "Kau bisa memiliki yang satu ini. Dia sedikit nakal, tetapi dia memiliki saat-saat yang manis."
"Bagaimana denganmu, Sam? Apakah kau menginginkan anak?" Cher bertanya dan tiba-tiba sepertinya semua orang, termasuk para pria dan si kecil Maddox, terdiam, untuk menunggu jawabanku.
"Eh, tidak, aku tidak terlalu menginginkan untuk memiliki anak sendiri. Adikku dan istrinya sudah punya satu dan sedang mengandung satu lagi, dan aku memiliki keluarga besar dengan anak-anaknya. Aku lebih suka menjadi bibi yang luar biasa, kemudian mengantar mereka kembali ke rumah lalu pergi pergi mencari minuman ringan dan menonton film dewasa."
Mata Jongin mengarah padaku, wajahnya terlihat tenang dan santai, tetapi aku tidak bisa memahaminya. Akhirnya dia tersenyum lembut padaku.
"Kyungsoo adalah bibi yang hebat," Gumamnya, "Tapi kami memiliki pandangan yang sama tentang anak-anak."
"Kalau begitu, tidak perlu berhubungan seks," Komentar Lori, lalu menggigit bibir saat dia mencoba untuk tidak tertawa.
"Betul," Aku setuju dan mengangguk serius. "Itu ide yang bagus, dia mengerikan di tempat tidur."
Jongin menaikkan alisnya sampai ke garis rambutnya yang berantakan dan semua orang tertawa terbahak-bahak.
"Oh, man, aku tahu itu!" Eric menunjuk padanya sambil menepuk lututnya.
"Begitukah?" Jongin bertanya padaku, meletakkan birnya di atas meja, dan berjalan ke arahku.
Aku mengangkat bahu dan mengatupkan bibirku, berusaha untuk tidak tertawa.
"Kurasa..." Dia mencengkeram tanganku dan menarikku berdiri, kemudian membungkuk dan mengangkatku ke bahunya. "Kau pantas dihukum untuk itu."
"Oh, sial, Jongin jangan lempar aku ke dalam kolam renang! Aku tidak memiliki pakaian untuk ganti!"
"Terlambat!"
Dan tiba-tiba aku melayang di udara dan masuk ke dalam air hangat menimbulkan percikan air. Aku berusaha untuk muncul ke permukaan air, memercikan air dan mendorong rambutku dari wajahku, menatap tajam pada pria tampan yang sedang tertawa ke arahku.
"Kau brengsek!" Desisku padanya.
"Brengsek!" Maddox mengulanginya, membuat semua orang tertawa lagi.
"Ke sini, aku akan menarikmu keluar." Jongin berongkok di pinggir kolam renang dan mengulurkan tangannya. Aku menggapai tangannya, aku berdiri di sisi kolam renang, dan menarik dia ke dalam air bersamaku, membuat penonton merasa terhibur.
Sebelum aku berbalik, aku menenggelamkan ke dalam air, lalu menariknya kembali ke permukaan sehingga aku bisa menarik napas. Wajah Jongin hanya beberapa inchi dariku, rambutnya basah kuyup. Air mengalir di wajahnya, dari tindikan di telinga dan alis, kaos hitam polosnya melekat dibahunya.
"Ya Tuhan, kau seksi," Bisikku dan matanya menjadi bergairah. Dia menarik aku lebih dekat dan menciumku dengan keras, lengannya memelukku erat. Dia menahanku ke sisi kolam renang dan melahap bibirku dengan bibirnya dan semua yang dapat aku lakukan adalah memegang dia dengan erat.
Akhirnya, dia melepaskan ciumannya dan menyeringai ke arahku, terengah-engah. "Kau akan membayar apa yang kau katakan."
"Dengan senang hati," Aku setuju dan tertawa saat dia mecipratkan air kepadaku.
"Makanan sudah siap, bodoh," Gary berteriak ke Jongin, "Lori, apakah kau punya pakaian untuk Kyungsoo?"
"Eh, mungkin saja tidak, Gary," Aku menjawab saat Lori tertawa dan aku keluar dari kolam renang. "Aku tidak tahu kalau kau memperhatikan, tapi Lori dan aku tidak memiliki ukuran yang sama."
"Kau boleh telanjang," Eric melontarkan ide sambil menyeringai. Jongin memukul dia di bagian belakang kepala.
"Tutup mulutmu, brengsek."
"Brengsek!" Maddox setuju.
"Aku akan membunuh kalian semua," Lori menggeram.
.
OoooO
.
"Kau tahu, aku harus memberitahu padamu." Lori mengajak aku masuk rumah menuju kamar tidur utama sehingga aku bisa meminjam T-shirt dan celana yoga, "Aku sangat bangga dengan cara kau menangani Melissa pada saat itu."
"Aku mendengar hal itu!" Cher mengangguk. "Banyak orang tidak suka padanya."
"Bagaimana kalian menangani selalu berada di tabloid?" Aku meminta mereka tanpa berpikir.
"Kau tahu bagaimana berita di tabloid," Komentar Lori.
"Ya, tapi aku merasakan hal itu berbeda antara bintang rock dengan aktor."
"Para anggota band mengatakan kepada Melissa bahwa kita tidak akan pernah dimasukkan ke dalam publisitas." Cher mengatakan saat Lori melemparkan pakaian untukku.
"Benarkah?"
"Yap," Lori setuju, "Tidak ada keluarga foto yang akan dimuat dalam berita. Melissa tahu tetang hal itu."
"Dia hanya menginginkan berita dengan mendapatkan foto pertama tentang Jongin dan gossip barunya."
"Gosip pertama," Lori menambahkan. "Aku tidak tahu Jongin pernah difoto dengan seorang wanita."
"Tidak pernah?" Aku mengerutkan kening tidak percaya. "Itu sulit dipercaya. Aku yakin dia pernah punya pacar."
"Aku tidak tahu," Cher mengangkat bahu. "tapi jika dia pernah memilikinya, dia tidak pernah membawanya keluar. Dia adalah seorang pria yang sangat tertutup."
"Kita beruntung." Lori mengangguk. "Semua hal dari pria milik kita adalah musik dan penggemar. Sisanya hanyalah embel-embel, dan mereka tidak terlalu banyak bermain di dalamnya. Mereka memainkan permainan publisitas ketika mereka harus, tapi... " Dia mengangkat bahu.
"Aku suka itu," Gumamku sambil merenung.
"Kurasa seharusnya begitu," Lori menyeringai. "Jongin adalah pria yang baik. Dia akan berada di belakangmu."
Kami bergabung kembali dengan para pria di teras, setelah makan dan berbicara tentang musik dan band dan apapun yang ingin mereka bicarakan.
Aku duduk terdiam, menggigit salad dan steak. Mereka ini begitu... biasa. Dan baik.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" Jongin berbisik ke telingaku dan menawarkan aku untuk menggigit steak miliknya.
"Aku suka mereka," Bisikku kembali dan dia tersenyum lebar.
"Aku senang," Dia mencium keningku dan kembali ke makanannya dan mengobrol dengan anggota band, dan ini terjadi kepadaku, aku telah menjalin pertemanan dengan mereka yang tidak peduli dengan siapa adikku atau bagaimana keluargaku.
Bayangkan itu.
.
OoooO
.
"Capek sekali," Aku menguap dan bersandar di kursi mobil milik Jongin ketika kami berkendara kembali ke rumah Malibu yang jelek dari rumah Lori dan Gary saat sudah larut malam. Kami berkunjung lebih lama dari yang aku harapkan, mengobrol dan tertawa. Para pria juga sedikit melakukan pekerjaan, membicarakan lagu pilihan untuk album berikutnya.
"Kurasa kau telah berhasil menarik perhatian dari anggota band." Dia menautkan jemarinya dengan jemariku dan aku menelusuri tato di tangannya.
"Itu adalah pendapat tentang seks." Aku menyeringai.
"Mereka tidak akan pernah melupakan itu," Dia setuju dan melotot ke arahku. "Kau akan dihukum untuk itu."
"Kau sudah menghukumku, sayang. Karena hal itu, pakaian ini bukanlah milikku." Aku menunjuk pada kaos ungu milik Lori dan aku tersenyum.
"Apakah kau memakai celana dalamnya juga?" Dia bertanya.
"Aku tidak mengenakan pakaian dalam sama sekali," Aku menjawab dan menguap lagi.
Jongin memasuki jalan rumahnya dan parkir di garasi, dan sebelum aku bisa membuka pintu, dia menarikku berdiri dan mengangkat aku ke dalam pelukannya.
"Aku bisa berjalan," gumamku dan melingkarkan lengan di lehernya, menguburkan wajahku di lehernya dan menghirup baunya. "Tapi ini lebih baik."
"Kau lelah."
"Aku tidak tahu kenapa," Gumamku dan menikmati bagaimana dia dengan mudah membawa aku memasuki rumahnya yang mengerikan melalui tangga. "Eh, aku mungkin harus berjalan menaiki tangga yang aneh ini."
"Kau baik-baik saja," Dia mencium keningku dan membawaku ke kamar tidur. "Apakah kau ingin ke kamar kecil?"
Aku mengangguk dan dia membawaku ke kamar mandi utama, menurunkanku dengan lembut dan membiarkanku sendiri di kamar mandi. Ketika aku kembali ke kamar tidur, dia sudah pindah dari tempat tidur dan berdiri di balkon, hanya memakai celana pendek berwarna hitam.
Aku berdiri dan melihatnya, punggungnya menghadap padaku, dia bersandar di pagar dan menatap kegelapan, kemungkinan mendengarkan suara laut. Bahkan punggungnya terlihat cantik, halus dan bersih dari tato, kecuali bahunya.
Aku merasa heran mengapa dia tidak pernah membuat tato di punggungnya?
Seolah-olah dia bisa merasakan aku berada di belakangnya, dia berbalik dan menyeringai dan masuk melalui pintu kaca.
"Kau baik-baik saja?" Aku bertanya dan memiringkan kepalaku ke samping. Ada sesuatu di matanya yang terlihat sedih.
Dia mengangguk dan mendekatiku, mengangkatku kembali ke dalam pelukannya dan menciumku lembut.
"Tempat tidur hanya beberapa meter," Aku mengingatkan dia.
"Aku senang kau berada dalam pelukanku."
Aku menyisir rambutnya dengan jemariku saat dia berjalan ke tempat tidur dan berbaring di sampingku, menarik aku mendekat padanya.
"Kau tidak berusaha merayuku." Ini bukan pertanyaan.
"Aku ingin memelukmu."
"Aku hanya bercanda ketika aku mengatakan bahwa kau buruk di tempat tidur," Aku mengingatkan dia dan mengangkat tubuhku sedikit dengan sikuku. Dia menyeringai dan menyingkirkan rambutku ke belakang telingaku lalu tertawa, tertawa geli.
"Aku tidak percaya kau mengatakan itu."
Aku tersenyum dan mengangkat bahu. "Itu lucu."
"Kau lucu." Dia menciumku dan menyelipkan aku ke pelukannya, kepalaku di dadanya, "Kau harus tidur."
"Oke," Aku menjawab, tetapi hanya berbaring dalam diam dan mendengarkan tarikan napasnya. Aku seakan bisa mendengar roda berputar di kepalanya. "Apakah kau akan berbicara padaku?" Tanyaku pelan.
Tubuhnya menegang, "Bicara tentang apa?"
"Apa yang ada di dalam pikiranmu?" Aku mengerutkan kening namun tidak melihat ke arahnya.
Dia mendesah dan tubuhnya rileks, "Hari ini adalah hari yang sibuk."
"Benar. Penolakan kerja dan dilemparkan ke kolam."
Dia mendorong punggungku dan menatap ke arahku sambil menjalankan buku-buku jarinya di pipiku. "Dan kau mengatakan kau mencintaiku," Bisiknya.
Aku menangkup wajahnya dengan tanganku dan mencium lembut, "Aku mencintaimu," Bisikku.
"Aku tidak akan pernah bosan mendengar kau mengatakan itu."
"Baik," Aku tersenyum, "Aku akan sering mengingatkanmu, andaikan kau lupa."
"Aku tidak terpikir hal itu sesuatu yang aku akan lupakan." Dia mencium keningku dan menarikku mendekat padanya lagi saat aku menguap. "Sekarang tidurlah, Sunshine."
"Apa kau akan tidur juga?" Tanyaku saat mataku mulai tertutup.
"Segera," Bisiknya dan aku merasa dia tersenyum di keningku saat dia mencium keningku. "Aku akan segera tidur."
.
OoooO
.
Jongin POV
"Apa yang ingin kau lakukan hari ini?" Tanyaku pada Kyungsoo saat aku menuangkan jus untuknya dan menambahkan gula ke dalam kopiku di dapur.
"Aku punya satu sesi wawancara hari ini dan dua untuk awal minggu depan. Aku tidak mendengar kabar dari siapa pun selama berminggu-minggu, dan sekarang aku punya banyak wawancara." Dia mengangkat bahu dan mengerutkan bibirnya yang berwarna pink, "Aneh."
"Kau akan menjadi hebat." Dia tersenyum lembut dan perutku mengepal, cara yang selalu dilakukan ketika dia menatapku seperti itu; seperti saat dia percaya padaku. Seperti saat dia mencintaiku. Kami sudah kembali ke Seattle dalam beberapa hari, dan aku masih tidak percaya bahwa dia milikku.
Dia milikku.
"Apa yang kau lakukan hari ini?" Dia bertanya dan aku berusaha sebaik mungkin untuk menjaga wajahku tetap tenang. Dia memiliki kemampuan yang luar biasa dalam membaca wajahku, dan ini adalah rahasia.
"Aku punya beberapa tugas untuk dikerjakan." Aku menyesap kopi dan menelannya bertemu dengan tumpukan saraf di perutku. "Aku mungkin bertemu dengan agen real estate."
"Menyenangkan," Dia tersenyum lebar, "Jadi kau akan pindah dari tempat Tao?"
"Ya, dia mungkin akan menjualnya. Tetangganya tahu siapa aku dan orang di sebelah rumah selalu ingin ngobrol denganku ketika aku sampai di rumah." Aku mengerutkan kening lalu tertawa, "Aku tidak merasa bahwa aku tipe penduduk yang baik."
"Mungkin tidak," Dia setuju dan tertawa. "Setidaknya adalah pria yang menghargai musik dan tidak menganggu gadis muda."
"Oh, ada juga beberapa orang yang menganggu. Terima kasih Tuhan, Yifan memasang sistem alarm."
"Serius?" Matanya berputar dan kemudian dia tertawa. "Itu lucu!"
"Tentu saja," Aku cemberut padanya.
"Ya," Dia menegaskan dan menggelengkan kepala, "Baik, jadi kau butuh sebuah rumah."
"Ya," Aku setuju dan membersihkan cangkirku, meletakkannya di mesin cuci piring lalu mengambil dompet dan kunciku, "Lebih baik aku segera pergi."
"Oke," Dia tersenyum dan berdiri untuk memelukku, melingkarkan lengannya yang kuat di sekeliling pinggangku dan mencium tulang dadaku, "Semoga harimu menyenangkan."
"Kau juga, Sayang," Aku mendongakkan kepalanya ke belakang dan menciumnya perlahan, menggosok bibirku ke bibirnya dan menggigit sisi mulutnya sampai dia tersenyum. "Sebaiknya aku segera pergi sebelum aku menarikmu kembali ke tempat tidur dan bercinta denganmu secara kasar," Aku menggeram, tersenyum puas ketika matanya yang bulat membesar dengan nafsu.
"Aku siap untuk itu."
"Nanti," Aku menciumnya lagi, tersenyum melihat cara dia bergerak ketika aku melepaskan dirinya, dan berjalan keluar dari gedung tempat tinggalnya.
Saat berjalan ke mobil, teleponku berdering. Aku berharap dari salah satu dari anggota band, dan aku mengerutkan kening karena terkejut melihat ID pemanggil.
"Jongin."
"Hei, ini Yifan," Dia berdeham dan aku segera waspada.
"Apakah ada sesuatu yang terjadi dengan Tao?" Aku bertanya dan masuk ke dalam mobilku.
"Tidak, dia baik-baik. Dia sedang tidur. Dengar." Aku mendengar dia menyalakan mobilnya dan dengan perasaan tidak sabar menepukkan jemariku pada roda kemudi mobilku. "Apakah kau punya waktu untuk bertemu denganku hari ini?"
"Ada apa?" Tanyaku. "Aku sudah ada janji hari ini."
"Aku hanya butuh sekitar sepuluh menit. Aku ingin bicara denganmu secara pribadi."
Aku memeriksa jam lalu mengeryit. "Apa Kau bisa menemuiku dalam sepuluh menit di Seattle?" Aku bertanya padanya.
"Tentu, tidak masalah. Dimana?"
Aku menyebutkan alamat dengan cepat dan melanjutkan acaraku dengan menuju lalu lintas di pertengahan pagi. Ada banyak hal yang harus dilakukan hari ini, dan sepertinya waktu tidak akan cukup.
Aku berhenti di luar studio rekaman di dekat apartemen Kyungsoo lalu mematikan mesin mobil. Lima menit kemudian Yifan telah sampai di belakangku.
"Hei, man, terima kasih mau bertemu denganku." Dia menjabat tanganku dan melirik bangunan. "Di mana kita?"
"Studio," Aku tersenyum padanya, "aku bekerja hari ini."
"Keren, aku tidak akan lama denganmu."
"Kita bisa bicara di dalam." Aku mengajak dia masuk ke dalam, bertemu dengan Skip di dekat pintu masuk, "Bolehkah aku menggunakan kantormu untuk satu menit?"
"Tentu, kau tahu dimana itu. Kali ini, surat-suratku jangan dibuat kusut," Dia menyeringai saat aku bersiul untuknya dan mengarahkan Yifan masuk ke kantor, menutup pintu di belakang kami, lalu bersandar di meja.
"Ada apa?"
Untuk pertama kalinya sejak aku bertemu dengannya, Yifan terlihat gugup.
Ah, sial, mungkinkah ini sesuatu yang tidak baik.
"Ya, Tao dan aku telah bersama-sama untuk beberapa waktu."
"Tidak untuk beberapa lama," Aku mengingatkan dia dan mengerutkan bibir jadi aku tidak tersenyum. Dia mengerutkan kening dan mulai mondar-mandir.
"Dia adalah..." Dia berhenti dan mendorong tangannya ke rambutnya dan aku menyilangkan tangan di depan dada, menikmati ketidaknyamanannya.
Pria ini telah berkencan dengan adikku. Sudah seharusnya dia merasa tidak nyaman.
"Dia adalah segalanya," Akhirnya dia berkatanya, "Dia telah membuatku bahagia dan bodoh dan ketika aku marah, aku bisa memukul pantatnya."
"Bung," Aku menyela dan dia tersenyum ke arahku.
"Maaf. Maksudnya." Dia mondar mandir lagi. "Aku mencintanya. Aku tidak akan bisa hidup tanpa dia. Dia adalah bagian terbaik dalam hidupku."
"Aku sudah tahu ini, apa yang kau inginkan?"
"Aku ingin menikah dengannya." Dia menghembuskan napas dalam-dalam dan mengusap wajahnya.
"Jadi, tanyakan padanya."
"Tidak, kau masih tidak mengerti," Dia menggelengkan kepala dan menatapku. "Itu sebabnya aku di sini. Aku meminta ijin darimu untuk melamarnya."
Aku tertegun, "Mengapa kau membutuhkan ijinku?"
"Karena dia milikmu," Jawabnya singkat. "Kau keluarganya. Kaulah satu–satunya tempat dia menggantungkan sebagian besar hidupnya dan dia mencintaimu. Pendapatmu sangat penting. Aku mungkin bajingan yang sombong dalam banyak hal, tapi aku sudah sadar." Dia menelan ludah dan menyelipkan tangannya di saku. "Ini adalah hal yang benar kalau aku meminta restu darimu sebelum aku melamar dia. Aku berjanji padamu, Jongin, aku akan melindunginya, menghormatinya dan mencintai dia sampai pada kematianku."
"Aku tahu," Aku merespon secara otomatis.
"Kau mengijinkan?"
"Tentu saja . Tao tidak bodoh. Dia tidak akan bersamamu jika ada jalan yang lain." Aku diam di tempat, bersandar dan memandang Yifan untuk sesaat dan teringat Tao saat masih gadis muda, bermata lebar dan wajahnya berbintik-bintik dan rambut berwarna merah dan tungkainya terlihat panjang, kemudian aku teringat ketika kami semua bersama-sama untuk bermain game malam itu dan bagaimana dia bersemangat dan bahagia, terlihat nyaman dan betapa cantiknya dia.
Yifan harus bersyukur untuk semua itu.
"Kau boleh menikahinya dengan satu syarat," Aku mengatakan padanya, suaraku rendah dan tegas, mataku tertuju padanya.
"Sebutkan," Dia segera menjawab.
"Kau harus mencantumkan namaku pada anak pertamamu." Dia mendesah, bahunya merosot seperti dia baru saja membawa beban berat, dan dia tersenyum lebar.
"Bagaimana jika itu anak perempuan?" Dia bertanya.
"Aku tidak peduli."
"Siap." Dia menyetujui dan mengulurkan tangannya, lalu aku mengambilnya dan menariknya, untuk memberikan pelukan, menepuk punggungnya yang keras.
"Dia telah membuat aku bahagia." Wajahnya terlihat tenang.
"Aku tahu, itu lebih dari siapa pun."
"Kapan kau akan melamarnya?"
"Baik, itu hal lain yang aku ingin bicarakan denganmu. Apakah kalian masih melakukan pertunjukan di Key Arena dalam beberapa minggu?"
"Ya, itu rencananya," Aku mengangguk.
"Jadi, inilah ide dariku..."
.
ooOoo
TBC
ooOoo
.
A/N
See you next chap~
.
Thanks to:
Tiarahun iya, soalnya hun adeknya kyungsoo^^ - | diyahutari1217 bukan hanya review sih, tp viewers folfav juga hehehe | yellowfishh14 kyung sibuk nyari kerjaan xD | Kaisooship /hug/ makasih~ | astarizerida siap^^ | kim gongju iya~ tingga dikit lagi^^ | riribas pengamatanmu bener banger /thumbs up/ untuk sehun yang punya anak, hunhan dia nikah duluan wkwk... udah di remake duluan dengan jugul Come away with me^^ | mrsbunnybyun makasih dedek semangatnya~ /hug/ | DJ 100 chap ini bebas~ hahaha | erikaalni kagak selalu kok kkk | seluhaenbiased iya, maa apdetnya nelat hiks udah mulai sibuk dan bahkan aku belum selesai edit ini sampai tamat. Untuk yang chanbaek dulu, aku udah selesein edit bahkan sebelum chap pertama di post.. maaf lama ya :') | ryaauliao iya~ makasih semangatnya~^^ | chenma iya, bandnya jongin namanya KAI... aku g kepikiran nama laih wkwk.. untuk konflik.. maaf, aku bahkan baru baca ampe sini dan belum ngedit chapter depan /ngumpet/ aku juga belum tahu konfliknya seperti apa kkk #bow
