B.A.P

(Beauty&Ballad, Ambitious&Aggressive, Protective&Passive)

Chapter 9

.

December28

.

Cast: Jung Daehyun – Choi Junhong

Bang Yongguk – Kim Himchan

Moon Jongup – Yoo Youngjae

Choi Maru & Haru (OC)

Secret members

Others

.

Warning: YAOI, Not EYD, OOC, Typo, Don't like don't read.

This is BAP Fanfiction

.

Lets Start

.

..

Youngjae meremas ujung kausnya, sesekali menarik nafas lalu kembali melirik ragu-ragu kearah Jongup yang duduk di hadapannya dengan wajah khawatir, Jongup ingin mendekat kearah pemuda manis itu, ingin mengusap keringat yang perlahan muncul di pelipisnya dan mengatakan bahwa pertengkaran semalam bisa ia lupakan.

Jongup tak perduli tentang rasa suka yang mungkin masih Youngjae punya untuk Daehyun, nyatanya Jongup dulu tetap menyukai Youngjae walau ia tau bahwa Youngjae adalah tunangan kakak tirinya.

"Hyung..Aku tidak memaksamu untuk menceritakan apapun padaku, jika kau fikir aku tidak pantas-"

"Aku…sakit"

Jongup diam dan tampak kebingungan saat mendengar cicit suara Youngjae dan tatapan matanya yang hanya fokus pada lantai kamar mereka.

"Penyempitan pembuluh darah..di otak, dokter mengatakan seperti itu" Jongup melebarkan matanya saat mendengar penjelasan Youngjae, pemuda manis itu terlihat memejamkan matanya dan memaksakan senyum, Youngjae membasahi bibirnya dan sangat berhati-hati untuk memilih kalimat yang diucapakannya. "Vertigo.. akan semakin sering datang dan membuatku hilang kesadaran.."

Jongup menggelengkan kepalanya tak percaya, tapi perlahan memory seakan membawanya pada kejadian beberapa waktu lalu saat Youngjae yang pucat terlihat memegang kepalanya dan mengeluh sakit.

"Aku..awalnya berfikir untuk tidak memberitahumu sampai terapiku selesai. Tapi keadaan semakin kacau karena kita terus berada dalam kesalahpahaman" Youngjae sudah menangis, mengingat kemungkinan dirinya yang akan berpisah dengan Jongup jika Youngjae tak mengatakan yang sebenarnya "Dan Daehyun hyung..aku yang memintanya untuk tidak mengatakan apapun padamu"

"Kenapa? kenapa kau tidak bisa memberitahuku lebih dulu, aku..suamimu" Jongup menekan ujung kalimatnya, nada suaranya terdengar semakin putus asa.

"Karena kau sudah cukup berada dalam kesulitan bahkan tanpa masalah penyakitku, aku tidak mau menjadi beban untukmu"

Jongup merutuki dirinya sendiri saat mendengar seruan Youngjae yang mencoba menahan tangisnya, bagaimana mungkin dirinya membalik fokuskan masalah penyakit Youngjae kearah dugaan perselingkuhan Youngjae dan Daehyun.

Jongup menundukkan kepalanya, mengusap kasar wajahnya dan meringis kecil membayangkan bagaimana perasaan Youngjae yang harus merasakan sakit seorang diri.

Jongup berjanji saat itu untuk menjaga Youngjae dari apapun, tapi nyatanya…saat ini Jongup bahkan menambah rasa sakit Youngjae dengan tidak mempercayai pemuda itu.

"Hyung..aku-"

Youngjae menggeleng tak suka saat melihat Jongup yang menangis dan memandangnya dengan tatapan menyesal, Youngjae tak menyukainya…Jongup yang menangis karena dirinya.

"Jangan menangis, aku akan mengikuti terapi dengan rajin dan sembuh dengan segera, eum?" Youngjae ikut terisak, menangkup wajah Jongup dan mengecup mata Jongup yang berair. Beralih memeluk pemuda itu erat dan semakin erat.

"Maaf- maaf- maafkan aku "

Youngjae menganggukkan kepalanya mendengar rancauan Jongup yang terus mengucapkan kata maaf tanpa henti. Youngjae tau Jongup tak pernah benar-benar bermaksud untuk mengakhiri pernikahan ini, seperti juga dirinya.

"Maaf karena baru mengatakannya sekarang"

Jongup mengangguk kecil, menggosok ujung hidungnya pada leher Youngjae yang terkekeh dengan air mata yang mengikuti jatuh perlahan.

"Maaf karena-"

"Bisa kita berhenti meminta maaf?" Jongup tersenyum mendengar rengekan Youngjae, mengusap lembut pipi pemuda itu dan mengecup bibir Youngjae yang memejamkan matanya.

"Aku akan lebih memperhatikanmu mulai sekarang"

"Janji?"

Jongup terkekeh geli saat melihat Youngjae yang mengulurkan jari kelingkingnya dan menatap polos kearah dirinya. Mengulurkan kelingkingnya untuk menyatukannya dengan milik Youngjae.

"Hm. Mau berjanji juga satu hal padaku?"

Youngjae mengangguk ragu, sedikit takut mendengar permintaan Jongup yang mungkin saja hal buruk untuk keadaan mereka atau mungkin-

"Mari tetap bersama dan jangan bertengkar lagi" Youngjae tersenyum lebar.

Mengangguk yakin dan memeluk tubuh Jongup yang mengusap rambutnya sayang dan mengecupi pucak kepalanya.

"Katakan padaku apapun yang kau rasakan dan jangan menahan sakitnya seorang diri"

Moon Jongup sangat manis, pemuda paling manis yang beruntung bisa Youngjae dapatkan dengan mempertaruhkan perasaannya pada Jung Daehyun dulu.

Youngjae bersyukur dirinya saat ini berada di pelukan Jongup, Youngjae bersyukur dirinya mempunyai Jongup saat ini.

Himchan mengigit kukunya gugup, kembali melirik kearah jam dinding dan menghela nafasnya rendah.

Sedikit ragu meraih ponselnya dan mulai kembali menghubungi Yongguk, namun hasilnya tetap sama. Ponselnya tidak aktif sejak kemarin.

Himchan hanya tau Yongguk kemarin meminta izinnya untuk menemui atasannya karena akan menyerahkan surat pengunduran diri. Tapi sampai sekarang, nyatanya Yongguk belum pulang ke rumah.

Himchan membuka lemari es dan menenggak cepat air mineral dari botol hingga habis, kembali menggigit kukunya karena mulai takut membayangkan hal-hal aneh yang tak tau kenapa tiba-tiba merambat masuk ke dalam otaknya.

Tentang Yongguk dan Jieun.

Himchan menggelengkan kepalanya mencoba untuk melupakan gadis itu dan ketertarikannya pada sosok Yongguk.

"Yongguk tidak akan melakukannya"

Himchan memaksakan tawanya dan kembali meraih sebotol air mineral lalu menenggaknya.

"Yongguk tidak akan melakukannya"

Himchan mengangguk yakin, menepuk-nepuk pipinya lalu menoleh kaget saat mendengar ponselnya mendapat panggilan dari Yongguk. Senyum cerah Himchan perlahan muncul, berdehem sedikit sebelum mengangkat sambungan telepon itu.

"Hallo Bang~ kau dimana? Aku masak makanan kesukaanmu, jam berapa kau sampai-"

"Bang Yongguk?" Himchan bisa mendengar suara tawa seorang wanita yang mengalun mengejek padanya.

"Apa yang kau lakukan dengan ponsel suamiku?" Himchan mencoba menahan amarahnya, mencengkram erat-erat botol air mineral yang masih berada di genggamannya.

"Dia tertidur, mau aku bangunkan?"

Jalang kurang ajar, Himchan mencoba menahan tangisnya dan tertawa melawan gadis itu.

"Katakan padanya untuk pulang jika sudah puas dengan jalang yang ditemukannya di pinggir jalan"

Himchan bisa tau wanita itu sedang mengeram marah.

"Ah- satu lagi, bilang padanya untuk tidak lupa memberikanmu uang yang cukup sebelum pergi"

"Kau!-"

Pip.

Himchan membanting ponselnya dan meringis sakit saat membayangkan suaminya yang tengah tertidur disisi orang lain.

Apa ini alasannya?

Alasan Yongguk yang selalu lupa waktu dan jarang menemuinya?

Karena wanita itu?

Himchan jatuh merosot pada lemari es di belakang tubuhnya lalu terisak menangis.

Menepuk dadanya yang entah mengapa merasa sesak dan mendadak perih. Apa yang sudah dilakukannya di masa lalu hingga mendapatkan kesakitan seperti ini.

Bukan hal mudah untuk menikahi Yongguk dan melepaskan impiannya sebagai fotografer. Belum lagi orang tuanya yang ia korbankan untuk bisa berada disisi Yongguk.

Tapi apa yang Himchan dapatkan sekarang?

Rumah? Ya. Mobil? Ya. Uang? Ya.

Tapi tidak dengan Yongguk dan kebahagiaannya.

Himchan seperti kehilangan segalanya.

….

"Ku dengar Daehyun-mu akan datang"

Junhong mendongak dan menatap pemuda ini lagi, pemuda itu tampak santai memutar pistolnya dan tersenyum kecil kearah Junhong.

"Kau siap bertemu dengannya?"

Junhong membuang pandangannya, dalam hati berharap Daehyun datang dengan rencana matang dan tidak terburu-buru.

"Ada pesan terakhir?"

"Kenapa kau melakukannya? Kenapa Daehyun hyung?"

Pemuda itu tertawa, mengangkat bahunya dan tampak berpura-pura berfikir.

"Karena…kau?"

"Kau bisa membunuhku kalau begitu"

Pemuda itu menggeleng cepat, gerakannya terlihat berlebihan dan Junhong benci melihatnya.

"Tidak seperti itu, Ayahku hanya perlu hak asuransi yang saat ini ada pada Jung Daehyun"

"Kau bisa memintanya mengalihkan berkas itu dan membunuhku tanpa harus melibatkan nyawa Daehyun hyung"

Pemuda itu menatap tajam pada Junhong, maju mendekat pada Junhong yang duduk kaku di sofa kamar tempatnya terkurung selama beberapa jam ini.

"Karena kau mengatakan itu…aku semakin ingin membunuhnya"

Junhong mengepalkan tangannya kesal, mendorong tubuh pemuda itu menjauh dari hadapannya.

"Menjauh dariku, aku..aku bilang menjauh dariku"

Junhong menekan tangannya yang entah mengapa mendadak gemetar, melirik pistol yang terselip di saku celana pemuda itu dan mencoba menahan ketakutannya. Pemuda itu tertawa saat sadar arah pandangan Junhong.

"Aku tidak akan membunuhmu, setidaknya aku hanya akan membunuh identitasmu untuk keperluan asuransi sialan itu"

"Jangan sentuh Daehyun hyung"

Junhong terisak kecil karena tau pemuda ini tidak main-main dengan ancamannya tentang menghabiskan nyawa Daehyun.

"Mereka yang menghancurkan keluargamu Choi Junhong, KELUARGA JUNG YANG MENGHANCURKAN KELUARGAMU!"

Junhong menangis keras dan menutup telinganya rapat-rapat, menggeleng karena tak mau mengakui ucapan pemuda itu.

"Orang tuamu bunuh diri karena tertekan dengan ancaman keluarga Jung"

"Tidak.."

"Jung Daehyun akan menghancurkanmu seperti ayahnya yang menghancurkan kedua orang tuamu!"

"Tidak..bukan begitu"

"Jung Daehyun..hanya menganggapmu tak lebih dari nilai asuransi yang berharga"

Junhong menggeleng, ia tau Jung Daehyun menyayanginya lebih dari siapapun.

Daehyun tidak pernah membiarkan orang lain menghina dan melukai dirinya apapun alasannya.

Daehyun menjaga kedua adiknya walau dengan cara sendiri yang awalnya tidak bisa Junhong terima.

Daehyun..berbeda dengan orang tuanya.

…..

Memory

"Aku akan menikahinya"

"Apa maksudmu dengan menikahinya? Kau sudah bertunangan dengan Youngjae!"

Junhong mendongak dan mencoba memfokuskan penglihatannya pada seorang pemuda yang berdiri di hadapannya dengan setelan jas mahal dan gesture tubuhnya yang tegas.

Sedikit mengurut pelipisnya saat mengingat bahwa ia tidak berada disini sebelumnya, Junhong ingat sebelumnya ia menangis karena orang tuanya….

Junhong mulai panic menatap sekitar, puluhan penjaga berdiri tegap mengelilinginya yang tertidur di sofa dan seorang pemuda yang berdiri membelakanginya.

Haru..Maru..

Junhong tidak melihat mereka di manapun setelah kejadian itu.

Air matanya merembes cepat dengan tatapan mata yang berputar mencari kedua adik kembarnya.

"Ma-ru..Haru-ya.. dimana kalian?"

Junhong harus menjaga keduanya, Junhong adalah yang tertua di antara mereka.

Junhong tidak akan membiarkan kedua adiknya mengalami kemalangan karena seorang Jung yang sebelumnya membuat kedua orang tuanya gelap mata dan memilih jalan tercepat untuk mengakhiri hidup mereka.

"Maru…Maru.." Junhong sudah menangis, mengepalkan tangannya takut dengan hidung memerah dan mata bengkak karena terlalu lelah menangis.

"Haru.."

"Kau sudah sadar?"

Junhong mendongak, sedikit bingung saat melihat seorang pemuda yang menatapnya khawatir dan mengusap peluhnya lembut.

"Kau..butuh sesuatu?"

"Maru..Haru, adikku-"

Pemuda itu mengangguk kaku, mengusap jemari Junhong yang dingin dan memutih.

"Aku akan menjelaskannya nanti, kau ikutlah denganku dulu"

"Daehyun!"

Daehyun menoleh malas dan melempar berkas kearah ayahnya yang mengeram marah pada Daehyun.

"Aku akan bertanggung jawab dalam urusan perusahaan mulai saat ini, kau hanya perlu menikmati hari tuamu dan berhenti mengurus urusanku"

"Kau-!"

"Jika kau berani satu langkah saja mengurusi urusanku, aku tidak akan berbaik hati lagi"

Daehyun berbalik cepat kearah Junhong dan menganggap pembicaraan itu berhenti sampai sana.

Mengulurkan lengannya pada Junhong yang menatap bingung padannya dan terlihat belum sadar 100 persen.

"Adikku-"

"Aku akan menjelaskannya nanti, kau hanya perlu mengikuti perkataanku jika kau ingin adikmu itu selamat"

"Apa..maksudmu Tuan?"

"Menikah denganku, aku berjanji tidak akan ada satu orangpun yang akan menyakitimu. Aku akan menjagamu"

Junhong menggeleng panik, bergeser mundur dari sofa dan menatap takut pada Daehyun.

"Sayangnya kau tidak punya pilihan, karena jika kau menolak…" Daehyun terlihat menarik nafasnya, menatap tajam kearah Junhong sebelum melanjutkan kata-katanya "Adikmu taruhannya"

Daehyun menggigit bibirnya saat mobil menurunkan kecepatan dan memasuki area penginapan besar di daerah Ulsan, melirik kearah Yoon yang tengah sibuk dengan sambungan telepon dan terlihat mengangguk menjawab lirikan Daehyun.

"Semua beres Tuan Jung, saham sudah di dapatkan dengan kisaran hampir 80%"

Daehyun tersenyum licik mendengarnya.

"Yang 20%?"

"Milik lembaga usaha kecil yang bisa kita dapatkan kurang dari satu minggu"

Daehyun tau semua akan baik-baik saja, maka saat mobil berhenti di depan sebuah rumah besar bercat putih, Daehyun melempar pistolnya kearah jok depan dan melangkah turun dengan percaya diri.

Mendahului Yoon yang meraih pistol itu dan menyelipkannya di saku jas. Dalam keadaan teraman sekalipun dia harus lebih hati-hati karena kehidupan Jung Daehyun saat ini menjadi taruhannya.

Daehyun memasuki rumah itu dan tertawa saat melihat seorang lelaki tua yang duduk pucat dengan ponsel di tangannya. Beberapa penjaga disana terlihat mengangkat pistolnya kearah Daehyun yang tersenyum tenang.

"Well.. Aku benci melakukan ini"

Pemuda itu semakin pucat saat Daehyun berjalan mendekat, harusnya ia merasa aman karena puluhan penjaga sedang menodongkan senjatanya pada Daehyun. Tapi nyatanya tidak, jika Daehyun membuka mulutnya maka habis hidupnya.

"Yoon, tunjukkan"

Yoon melangkah maju dan mengulurkan sebuah iPad di hadapan lelaki tua itu.

"Tuan Park, saham perusahaan anda sudah menjadi milik tuan Jung mulai hari ini, tepatnya pukul 10.38 waktu setempat"

Daehyun tersenyum licik, meminta Yoon melanjutkan ucapannya.

"80% pemegang saham sudah sepakat untuk menjual sahamnya dan sisinya masih dalam negosiasi yang akan selesai awal minggu depan"

Lelaki itu terlihat semakin pucat dan nampak tua.

Daehyun kasihan melihatnya, mencoba menahan tawanya dan menatap bengis pada puluhan penjaga yang terlihat gemetar mencoba mempertahankan senjatanya.

"Kalian dengar? Aku bos kalian sekarang"

Suara Daehyun rendah mengancam, puluhan penjaga itu kompak menurunkan senjatanya dan membungkuk tunduk pada Jung Daehyun yang menatap mereka meremehkan.

"Park.." Tidak sopan dan terdengar merendahkan. "Aku tau bisnismu hampir hancur, karena itu kau berniat untuk mengambil alih hak asuransi pasanganku dan mengancamku dengan trik kekanakanmu"

"Tu-Tuan Jung, aku-"

"Dimana Junhong?"

"Tuan Jung, kita bisa bicarakan-"

"Aku.. bertanya… dimana… Junhong, katakan sebelum aku membunuhmu!"

Daehyun berteriak marah, memejamkan matanya saat tau semua orang bergerak menaiki tangga dan memintanya mengikuti langkah mereka.

"Aku akan memperingatimu untuk yang terakhir kali Park, jika sesuatu terjadi pada Junhong-"

"Tidak, aku bersumpah ia baik-baik saja. Aku menjaganya seperti anakku sendiri"

Daehyun mengendus muak, meraih sebuah asbak yang tergeletak di atas meja dan melemparnya tepat kearah kepala lelaki itu.

Lelaki itu terhuyung lemas dan akhirnya pingsan.

"Jebloskan ke penjara dan pastikan hukumannya tepat seumur hidup. Tepat. Tidak kurang satu haripun"

"Baik Tuan Jung"

Daehyun melangkah naik ke lantai atas, melihat penjaga berdiri di satu kamar bercat putih membuat jantung Daehyun berdetak kacau, ini bahkan lebih menakutkan di banding saat dirinya di todong puluhan pistol oleh penjaga-penjaga tadi.

"Dia sendiri?"

"Tidak Tuan, putera Tuan Park ada di dalam"

Urat kepala Daehyun mengeras, membayangkan pemuda lain berada di dalam kamar yang sama dengan Junhong membuat amarah Daehyun meningkat sampai ke kepala.

Daehyun menggerakkan kepalanya meminta penjaga itu untuk membuka pintu di hadapannya.

Cklek.

Pintu itu terbuka dan sesaat setelah itu..Daehyun melebarkan matanya.

Jun..hong?

Aku melepaskan segalanya untukmu.

Aku merelakan segalanya untukmu.

Aku membuang segalanya untukmu.

Aku melepaskan, merelakan dan membuang semua yang aku punya untukmu.

Untukmu..agar kau berada tepat disisiku.

….

To Be Continue

Gimme ur comment ^^

….