.
Fairy Tail Hiro Mashima
Percy Jackson and The Olympians Rick Riordan
School Story Aoife the Shadow
.
.
Warning: OOC, gaje, typo(s), fail humor, dll.
Enjoy^^
.
.
Chapter 9: The First Weekend
"Lucy! Cepetan ganti bajunya! Kamar mandinya mau dipake!" teriak Annabeth tidak sabar.
"Iya! Nyantai!" Lucy balas berteriak. Beberapa saat kemudian, Lucy keluar dari kamar mandi dengan menggunakan baju perginya,sebuah tank top berwarna pink dipadu dengan jaket hitam beserta rok hitam pendek.
"Mandi apa luluran sih? Lama amat!" protes Annabeth sebelum dirinya sendiri melangkah ke dalam kamar mandi. Lucy menjulurkan lidahnya ke arah Annabeth.
"Lucy, kau sudah beres?" tanya Erza, dia dan Thalia juga sudah siap dengan baju pergi masing-masing.
"Beres! Tapi, gak apa-apa yang cowo ditinggal?" tanya Lucy.
Thalia menggerakkan tangannya tidak sabar, "Gray dan Natsu didetensi, jadi mereka tidak bisa keluar dari sekolah! Percy sedang banyak tugas, jadi dia bilang dia tidak bisa ikut. Nico sedang pergi ke perkemahan."
"Wait, ngapain si Nico ke perkemahan?" tanya Lucy heran.
"Paling lagi PDKT-an sama Aire." jawab Erza sambil tersenyum miring.
"Aku udah selesai mandi, nih! Cabut yuk!" ajak Annabeth yang baru saja keluar kamar mandi.
"Wes, cepet amat!"
"Iya lah! Kan aku gak kayak kamu, mandinya seabad!" kali ini Annabeth yang menjulurkan lidahnya kepada Lucy.
"Ckckck, berani ya sama yang lebih tua?" kata Lucy sambil mendecakkan lidah.
"Hey, umur kita kan sama!" Annabeth berusaha membela diri.
"Kamu kan 16, aku 17, jadi jelas-jelas aku lebih tua!"
"Aku 18!" Erza ikut-ikutan nimbrung.
"Berarti kita seumur, Erza!" Thalia mengajak Erza untuk berhighfive.
"Jadi, Annie, kau yang paling junior diantara kita semua!" kata Lucy sambil menyeringai dan menepuk-nepuk kepala Annie.
".!" seru Annabeth marah.
"Sorry!" kata Lucy, Erza, dan Thalia kompak.
"Eh, daripada berantem, mending kita cabut sekarang aja yuk!" ajak Erza.
Setelah melapor kalau mereka akan pergi, empat sekawan itu mulai berjalan kaki menuju sebuah pusat perbelanjaan yang berada di dekat sekolah mereka. Ketika memasuki gedung pusat perbelanjaan, muncullah kenorakan Lucy dan Erza.
"Eh, kok ada tangga bisa jalan?" tanya Lucy heran sambil menunjuk benda yang dia maksud.
"Lucy, itu namanya eskalator." jelas Thalia.
"Hey! Lihat! Ada orang-orang kecil di kotak itu!" kali ini giliran Erza yang muncul kenorakannya.
"Erza, itu disebut TV." Annabeth menjelaskan dengan sabar.
Erza dan Lucy terus-terusan menunjuk barang-barang yang menurut mereka aneh, membuat Annabeth dan Erza kewalahan menjelaskan. Orang-orang mulai memberi mereka pandangan aneh, mungkin mereka berpikir, "Dasar anak kampung!"
"KYAAA! TOKO BUKU!" kali ini Lucy tidak perlu bertanya toko apa ang ada di depannya. Gadis itu langsung berlari memasuki toko buku itu, meninggalkan ketiga temannya yang masih berdiri terpaku.
Beberapa saat kemudian, barulah Erza mulai berjalan mengikuti temannya. Menyadari kalau Annabeth dan Thalia tidak mengikuti, Erza menoleh.
"Kalian tidak ikut?" tanyanya bingung.
"Ngga, nanti diseleksia kita kambuh. Kalian aja yang masuk, nanti kalau sudah selesai, telpon kita saja, kita mau keliling juga. Kalian bawa handphone, kan?" tanya Thalia. Erza mengangguk.
"Kalau gitu, dadah!" Erza meninggalkan mereka berdua.
"Tolong bilang ke Lucy supaya gak norak ya!" Annabeth berteriak. Erza mengangguk kecil sebelum memasuki toko itu.
"Thal, beli es krim, yuk? Kayaknya mereka berdua bakalan lama di dalam." ajak Annabeth. Thalia mengangguk menyetujui.
"Ayo, lagian aku juga kepanasan, nih!" mereka berdua kemudian berjjalan menuju toko es krim.
.
"Ampun, deh! Panas banget nih hari!" keluh Percy sambil mengipas-ngipaskan tangannya, cuaca hari itu memang cukup panas, apalagi AC asrama mereka sedang bermasalah. Karena kegerahan, akhirnya Percy mengikuti contoh yang diberikan Gray, pemuda itu melepas kaos santai yang dipakainya.
"Tugas biologi sialan!" Percy mengutuk. Rasanya dia ingin menonjok layar laptop yang berada di depannya. Sudah seharian ini dia berkutat dengan tugas biologinya.
"Natsu! Gray! Bantuin dong! Kalian sebenernya sekelompok sama aku atau engga sih?" akhirnya emosi Percy meledak setelah dia melihat kedua temannya yang hanya tidur-tiduran santai di kasur mereka.
"Kita kan gak ngerti biologi!" Gray membela diri.
"Setidaknya bantuin nyariin kek! Kalian tahu kalau aku diseleksia, kan? Nih!" Percy menyodorkan laptopnya kepada Natsu.
"Emmm, gimana cara pakenya?" tanya Natsu polos.
Bletak
Percy menjitak Natsu dengan menggunakan laptopnya, entah kerusakan apa yang akan dialami oleh laptop itu.
"Ouch! Percy, sakit tau!" protes Natsu sambil memijat-mijat kepalanya yang tadi terkena laptop Percy.
"Ampun, deh! Masa pake laptop aja gak tau? Coba kalau Nico disini, pasti lebih gampang. Setidaknya, diseleksia dia gak separah aku." erang Percy.
"Kalau gitu, panggil aja dia!" saran Gray.
"Gak ah! Kasian, dia lagi ngapel sama Aire."
"Emangnya kapan Nico jadian sama Aire? Rasanya mereka baru ketemu satu minggu yang lalu." tanya Gray heran.
"Tanya aja sama Nico sana!" gerutu Percy sambil mematikan laptopnya. Masa bodoh dengan tugas biologi, pikirnya.
"Anak-anak cewek lagi pada ngapain, ya? Moga aja mereka bawain oleh-oleh." harap Natsu.
"Kalau mau minta dibeliin sesuatu, telpon saja sana!" Percy membaringkan dirinya di atas tempat tidurnya dan langsung tertidur.
"Ni anak langsung tidur?" tanya Gray sambil menyodok-nyodok Percy dengan menggunakan jarinya.
"Jangan ganggu!" seru Percy marah, rupanya dia belum tertidur sepenuhnya.
"Gray, sekarang waktunya makan siang. Ke ruang makan, yuk!" ajak Natsu yang sudah kelaparan.
"Ayo! Percy, kau mau ikut? Percy?" tanya Gray, tapi yang ditanya tidak memberikan respon."Yah, tidur beneran dia!"
"Ya udah kita duluan. Gimana kalau kita kunci pintunya terus kuncinya kita bawa?" usul Natsu.
"Ide bagus!" Gray menyetujui sambil menyeringai usil.
.
Thalian dan Annabeth sedang menikmati es krim mereka ketika handphone Annabeth berbunyi.
"Dari siapa?" tanya Thalia ketika Annabeth mengecek ponselnya.
"Erza. Mungkin mereka sudah selesai?" Annabeth mengangkat ponselnya.
"Halo, Erza? Kalian sudah selesai?"
"Belum, sih… Ermm, Annabeth? Bisa kesini sebentar?" tanya Erza diseberang sana.
"Memangnya ada apa?"
" Kami berdua sedang berada di kasir, dan terjadi sedikit keributan di sini…"
Annabeth menepuk dahinya, "Aku lupa! Kalian sama sekali tidak membawa mata uang dunia kami, ya?"
"Iya, dan sekarang Lucy sedang berusaha membayar bukunya dengan mata uang kami. Jadi…"
"Iya, iya, kami segera ke sana!" Annabeth mematikan ponselnya.
"Kenapa?" tanya Thalia.
"Masalah mata uang. Sebaiknya kita segera ke sana!"
Benar saja, ketika mereka baru saja memasuki toko buku, mereka langsung melihat Lucy yang sedang memaksa petugas kasir untuk menerima uangnya.
"Maaf nona, tapi kami hanya tidak menerima mata uang itu!" kata petugas kasir itu.
"Ayolah, hanya ini yang kami bawa! Lagipula, ini mata uang yang sah!" Lucy bersikeras sambil melambaikan beberapa lembar Juel di depannya.
"Sudahlah, Lucy! Kita tunggu Thalia dan Annabeth saja!" Erza berusaha menenangkan Lucy.
Thalia dan Annabeth segera menerobos kerumunan yang mulai terbentuk. Thalia segera menarik Lucy dan Erza minggir sementara Annabeth berbicara dengan si petugas kasir.
"Maaf, pak! Saudaraku ini sudah tinggal terlalu lama di luar negeri dan tidak mengerti tentang mata uang di sini." Annabeth berusaha membuat alibi. Petugas itu masih kelihatan curiga, tapi karena rambut Annabeth dan Lucy sama-sama pirang, akhirnya petugas itu mempercayai kata-kata Annabeth.
"Oh, begitu…" kata petugas itu ragu.
"Berapa harga buku itu, pak?"tanya Annabeth sambil mengeluarkan dompetnya.
"Eh? Sembilan pound!" jawab petugas itu. Annabeth segera menyodorkan selembar sepuluh pound dan tanpa menunggu kembaliannya, gadis itu segera pergi.
Di luar, dia segera bertemu dengan ketiga temannya yang sudah menunggu. Lucy sedang memeluk buku yang dibeli Annabeth dengan erat.
"Maaf ya, aku lupa kalau kalian tidak mempunyai mata uang dunia ini." Annabeth meminta maaf.
"Tidak apa-apa, kok!" jawab Erza santai, "Lagian, asyik juga jadi pusat perhatian kayak tadi."
"Terserah deh. Sekarang, gimana kalau kita makan siang?"
"Ayo!"
.
Sementara itu, di Perkemahan Blasteran, Aire dan Nico sedang duduk santai di pantai, menimati sinar matahari yang menyinari kulit mereka. Sebenarnya, Nico tidak terlalu suka berjemur, tapi karena Aire yang mengajak, Nico tidak berani menolak.
"Jadi, hari ini kau akan kembali ke Goode?" tanya Nico. Aire mengangguk.
"Iya, katanya Chiron sudah memanipulasi kabut sehingga mereka tidak menyadari kalau aku telah absen selama hampir seminggu." Aire menjelaskan.
"Baguslah kalau begitu. Kapan kau mau pergi?"
"Chiron bilang aku bisa pergi kapan saja, sih. Tapi aku bingung bagaimana caranya kembali ke Goode…"
"Tenang saja, aku akan mengantarmu."
"Perjalanan bayangan lagi?"
"Yup!"
"Ermmm, baiklah… Kalau begitu, ayo kita berangkat sekarang!" Aire bangkit berdiri.
"Sebaiknya kau lapor dulu ke Chiron, aku akan menunggumu di sini!" kata Nico.
"Oke!" jawab Aire sebelum berlari menuju rumah besar. Nico dengan sabar menunggu di pantai. Sepuluh menit kemudian, Aire berlari kembali dengan sebuah tas di punggungnya.
Beberapa detik kemudian, mereka sudah berada di dalam kamar Nico, membuat Percy yang sedang berusaha membuka pintu kamar terlonjak kaget.
"Nico! Aire! Kalian membuatku kaget!" pekik Percy.
"Sorry!" kata Nico dan Aire kompak.
"Percy, pintunya kenapa?" tanya Nico bingung.
"Kedua berandalan itu mengunci pintunya ketika aku sedang tidur dan membawa kuncinya bersama mereka! Aku sudah terkunci selama setidaknya satu jam!" keluh Percy.
"Berarti, kita terjebak di sini?" tanya Aire.
"Yup." Akhirnya Percy menyerah dan meninggalkan pintu. Pemuda itu membuka laci meja tempat tidurnya dan mengeluarkan satu set kartu poker.
"Selagi kita menunggu kedua berandalan itu, ada yang mau main poker?"
TBC
