CHAPTER SEBELUMNYA
"Huueeekk…" Lagi-lagi aku muntah. Hadeh, puyeng.
"Sakura. Kau benar-benar sakit. Lihat, kau sampai muntah begitu," omel Sasuke saat aku keluar kamar mandi. Namun, omelan Sasuke tidak sepenuhnya aku dengar. Pening. Penglihatanku kabur tak karuan. Perutku juga benar-benar jauh dari kata nyaman.
GUBRAK
"Omona, Sakura. Bertahanlah! Aku mohon…"
Kakiku tak mampu lagi menopang berat tubuhku. Sasuke masih terus berseru mengkhawatirkanku. Gomen Sasuke. Aku sudah tak kuat lagi…..gelap.
LOVE IS ABNORMAL
AUTHOR : Miko Yuuki
CAST: SasuSaku, Ino, Sai, dll
RATE : T semi M (sedikit unsur yaoi)
GENRE : Romance, friendship
DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO.
WARNING: Alur muter2, TYPO, OOC, AU, gak sesuai EYD!?
Sakura's POV
Kesadaran menderaku. Kelopak mataku terbuka perlahan. Ini…dimana? Di kamar kah? Apa yang terjadi? Kenapa tubuhku tak bisa digerakan? Jangankan duduk, mengangkat kepala aja sulit.
"Sasuke…" panggilku agak merengek. Eh, apa yang aku lakukan. Ngapain aku panggil anak itu?
CKLEK
"Ah, Sakura. Kebetulan aku juga ingin ke sini. Bolehkah aku masuk?" katanya ramah sambil mengintip dari pintu.
"Awas kalau kau macam-macam!" ancamku.
"Tenang. Nggak bakalan. Aku masuk ya," kata Sasuke sambil masuk dalam kamarku. Aku lihat dia membawa dua mangkuk. Dia tampak bersusah payah membawa salah satu mangkuk dengan tangan kiri. Lukanya memang masih belum sembuh. Aneh, padahal dia bisa menyembuhkan perutku.
Dia letakan dua mangkuk itu di meja kecil di sampingku dan duduk di dekatku.
"Mau ngapain kamu di sini?" kataku dengan suara parau.
"Hanya mengecek keadaanmu. Kau pingsan lagi kemarin."
"Sekarang jam berapa?"
"Jam 3 pagi. Kau tidak keberatan aku mengompresmu kan. Kelihatannya suhumu panas sekali."
"Ngg… terserahlah. Badan aku lagi nggak enak banget nih," kataku. Penglihatanku sekarang tampak seperti fatamorgana.
Sasuke mengambil sapu tangan basah dari salah satu mangkuk. Dia peras sapu tangan basah itu, lalu meletakannya ke dahiku.
"Ngg… dingin…" seruku parau.
"Handuknya memang dingin," kata Sasuke.
"Bukan itu. Tapi badanku. Bisa tolong ambilkan selimut dari lemariku," pintaku.
"Ya, tunggu sebentar." Sasuke membuka lemariku dan menemukan selimut yang aku maksud. Dia pun pasangkan selimut untukku.
"Ada lagi yang kau butuhkan?" tanyanya.
"Tidak usah. Terima kasih. Kau boleh pergi sekarang. Aku tidak apa-apa." Aku pejamkan mataku. Entah sudah berapa lama aku tak sadarkan diri, tapi aku masih lelah.
"Tidak ingin makan dulu. Aku sudah masakkan sesuatu untukmu," kata Sasuke.
"NANI?"
"Ahh, maaf. Aku nggak bermaksud lancang menggunakan dapurmu sembarangan. Hanya saja, aku ingat kau belum makan, jadi…"
"Kamu bisa masak?" kataku tak percaya.
"Hmm… nggak tau juga. Hanya terlintas saja dipikiranku kalau aku bisa memasak sesuatu," katanya sambil menyodorkan mangkuk yang berisi bubur. Aku perhatikan bubur itu. Wow…hebat. Jadi dia bisa masak bubur. Dan yang paling aku tidak mengerti, sempat-sempatnya dia membuat garnis pada makanannya.
"Untukku?"
"Iya, mau aku suapi?"
"Nggak usah. Aku mau makan sendiri." Aku berusaha mengangkat tubuhku untuk duduk. Kenapa tiba-tiba mengangkat tubuh saja rasanya berat sekali?
"Huh…" tubuhku terhempas ke kasur lagi. Aku nyerah deh.
"Tuh, ngangkat badan aja nggak bisa. Sudah tak apa. Aku tidak keberatan kok merawatmu sampai kau sembuh. Aku janji," kata Sasuke serius. "Ayo, buka mulutnya. Aaaa…." Sasuke menyodorkan sendok yang sudah berisi bubur ke depan mulutku. Aku pun melahap bubur itu. Saat sudah masuk dalam mulutku, aku sangat terkejut akan apa yang lidahku rasakan.
"Kenapa? Nggak enak ya?" kata Sasuke kecewa. OH GOD! Ini lebih dari sekedar enak. Maksudku, wow! Gila, enak banget. Bumbunya pas sekali. Buburnya juga nggak terlalu encer. Pokoknya enak banget.
"Enak kok, enak. Jangan-jangan kamu masukin penyedap atau MSG lagi," kataku curiga.
"Nggak. Beneran, aku nggak suka pake penyedap. Eh, tunggu. Benarkah?" Dia memegang dagunya berpikir. "Aku nggak suka pake penyedap?" katanya bingung sendiri.
"Sudah, lupakan. Aku mau lagi dong," kataku manja. SHANNARO! Kenapa sifatku jadi aneh begini? Sebenarnya apa yang terjadi padaku sih? TIDAK! Sakura berubah.
"Wow… kamu kalau lagi manja lucu ya. Ini, aku suapin lagi ya." Sasuke pun menyuapiku dengan bubur buatannya. Hingga akhirnya bubur itu habis.
"Terima kasih ya. Ehm… tapi kalau aku tidur-tiduran seperti ini terus, bagaimana aku bisa jualan?" kataku.
"Sekali ini saja nggak jualan nggak apa-apa kan?" kata Sasuke.
"HEH, aku udah berapa kali nggak jualan gara-gara kamu tau! Kalau aku nggak buka, gimana aku bisa dapat tambahan uang. Aku nggak mau bergantung pada orang tuaku," kataku. Aku berusaha bangkit. Namun, tetap saja tak bisa.
"Kau masih terlalu lemah untuk memasak Sakura. Kalau begitu, biar aku saja yang bukatokonya," kata Sasuke mantap.
"HAH? Kamu? Emang kamu bisa buat kue?"
"Ya, kalau ada resepnya mungkin bisa. Aku akan berusaha. Tak akan mengecewakan kok. Ya ya ya!" mohon Sasuke.
"Sepertinya itu tidak mungkin."
"Ayolah! Aku mohon. Sekali ini saja. Plis…" Bagaimana ya? Mungkin tak apalah aku izinkan dia. Tak apalah dia tahu resep rahasiaku. Semoga ini bukan pilihan yang salah.
"Baiklah. Aku izinkan. Resepnya ada di dapur. Cari saja buku kuning di rak deket kompor." Matanya langsung berbinar.
"Oh, terima kasih Sakura. Kalau begitu, aku langsung ke bawah ya." Dia langsung berlari keluar dari kamarku dan berjalan ke lantai satu. Huh, padahal seharusnya aku yang berterima kasih padamu Kibum. Semoga dapurku tidak hancur dibuatnya.
Ya sudahlah, aku mau tidur saja. Biar cepet sembuh.
"Huuh fiuuuhh…"
Sasuke's POV
Nah, baiklah. Waktuku tidak banyak, jadi aku harus cepat. Buat kue apa aja ya? Aku bolak-balik buku resep yang Sakura catat. Hmm… ah, gampang kok. Aku bikin semua aja. Baiklah, aku siap!
Tuk tuk tuk tuk tuk
Cok cok cok cok
Nguuuunnnngggg
Ting
Aku sibuk membuat kue yang akan dijual. Wah, ternyata memasak itu menyenangkan. Pantas Sakura tak ingin diganggu. Memasak itu memang sangat mengasyikan.
Yuk, selesai. Sekarang waktunya gerai di buka. Hmph, aku tidak sabar lagi. Semoga saja dagangan ku laku.
Aku buka pintu dan pagar penutup. Semua kue aku pajang di estalase. Dan kalian tahu apa yang terjadi selanjutnya?
"HUAAAHH…. TOKONYA BUKA!" jerit segerombolan orang yang di dominasi dengan para wanita.
"YA TUHAN!" teriakku kaget.
"KYAAAA! COWOK GANTENG! Aku beli kuenya!" jerit seorang gadis.
"Eh, tidak bisa! Aku dulu!" pekik gadis yang lain.
"Aku dulu!"
"Eh, tenang. Kuenya masih banyak kok. Kalau mau beli antri!" kataku. Hebatnya, semua jadi pada tenang dan berbaris. Wah, kalau begini, sebentar saja pasti akan laku. Berarti aku harus masak lagi.
Beberapa menit berlalu. Selama itu aku bersusah payah melayani para pelanggan yang bejibun banyaknya. Beberapa gadis juga menyempatkan diri meminta fotoku. Astaga, memang aku seganteng apa sih sampai pada heboh seakan aku ini artis?
Berjam-jam berlalu. Aku terlalu sibuk membuat kue dan melayani pelayan. Sampai akhirnya sudah waktunya tutup. Fiuh, akhirnya bisa istirahat juga.
"Haaah,,,"Aku duduk ke kursi depan kasir setelah beres membersihkan dapur dan menutup bakery.
"Melelahkan ya?" seru seseorang. Dan orang itu sedang bersandar di ambang pintu. Sakura!
"Ya, begitulah. Hehehe…" seruku sambil nyengir. "Kau sudah baikkan?" Aku tatap tubuhnya dari ujung kaki sampai ujung kepala. Dia tampak menggunakan jaket tebal.
"Ya, lumayan. Aku udah bisa jalan kayak gini. Bagaimana jualanmu?"
"Lihat saja sendiri," ucapku sambil menunjuk mesin kasir. Sakura berjalan mendekati mesin kasir itu. Saat dia buka kasirnya, matanya langsung berbinar.
"Bahan bakunya masih nyisa apa aja?" tanyanya.
"Eeerrr… kalau nggak salah udah habis semua," jawabku seadanya.
"Hebat! Pantas sepertinya berisik sekali di sini," ucap Sakura sambil tersenyum tipis.
"Hehehe… iya. Malah ada yang minta foto aku. Aneh ya. Fiuh, ternyata masak itu emang melelahkan tapi menyenangkan, " kataku terkekeh. Aku pijiti sendiri pundakku yang pegal.
"Berbaliklah," bilang Sakura.
"Maksudmu?"
"Duduklah menghadap ke sana," perintah Sakura. Sebenarnya dia mau ngapain sih? Ya sudahlah, turuti saja. Aku balik tubuhku. Diam-diam ada sepasang tangan yang menggenggam bahuku dan memijitinya.
"Sakura…"
"Kenapa? Kau lelah bukan. Biasanya di bagian itu yang paling pegal," kata Sakura sambil tetap memijitiku.
"Eto, hanya saja… Eeerr… ya terima kasih," kataku agak cangung. Sakura…dia tampak lebih perhatian. Tangan dingin itu tetap memijiti pundakku. Dingin, sangat dingin. Buktinya hawa dinginnya bisa menembus pakaianku.
"Di sini, aku sering sendirian…" ucap Sakura pelan. Dia tetap memijiti pundakku. "Walau sakit seperti ini pun biasanya aku tetap berjualan. Atau kadang ada Ino yang akan mendampingiku," katanya lirih. Terbayang dipikiranku Sakura yang pucat, memakai masker, dan terbatuk-batuk memasak kue dan melayani pelanggan. Oh, aku tak sanggup membayangkannya.
"Kau kesepian Sakura," kataku prihatin.
"Ya, makanya aku tidak rela kehilangan Ino. Dialah yang membebaskanku dari kesendirian. Dia gadis yang baik. Sepertinya aku sudah merasa tidak pantas lagi bersamanya," sesal Sakura.
"Tidak, bukan seperti itu. Bukankah Ino ingin menjadi sahabatmu. Kau harus tahu dia panik saat kau pingsan dan nyaris bunuh diri. Tidakkah kau terpikir kalau…"
"Dia memang berkata begitu. Tapi aku merasa tidak pantas untuknya. Benar yang dia katakan waktu itu. Aku bukan gadis normal." Aku langsung berbalik menghadapnya.
"Tidak seperti itu Sakura. Kau gadis yang baik."
"AKU GADIS TAK BERGUNA! DASAR BODOH BODOH BODOH!" makinya pada diri sendiri sambil meremas rambut pinknya dan menggeleng keras.
"KAU SUDAH MENYELAMATKANKU NONA!" teriakku menghentikan makiannya. "Kau selamatkan aku juga lenyapkan kebimbanganku. Padahal aku bukan siapa-siapamu dan jelas-jelas kau sendiri tak suka pada laki-laki sepertiku kan. Dan kau menemukanku dalam keadaan amnesia. Dan itu membuatku merasa—nyaman…" kataku sungguh-sungguh. Sakura tercenung mereka-reka sesuatu.
"Terima kasih… Itu—sangat berarti bagiku, sepertinya…" Dia beranjak dari kursi dan berjalan perlahan menuju pintu. Tepat di depan pintu, dia berhenti. "Mungkin saat kau menemuiku lagi, dalam keadaan ingatan pulih dan bersama keluarga, aku sudah dalam keadaan raga tanpa jiwa—" Dia kembali melangkah keluar toko. Aku membisu sesaat. Sampai akhirnya aku berjalan cepat menyusulnya.
"Apa maksudmu tentang 'raga tanpa jiwa'?" ucapku. Aku paham maksudnya. Tapi kenapa?
"Hah, aku bukan siapa-siapa lagi di sini. Aku sudah hidup tanpa tujuan. Aku sendirian, berjalan tak tentu arah, dan mengikuti aliran air. Dan saat satu-satunya alasanku untukku hidup telah hilang, aku hanyalah angin. Yang dapat di rasa namun tak dapat dilihat. Semuanya terasa hampa—" ucapnya dengan senyum pahit.
"Bukankah kau bisa mengembangakan toko kuemu. Aku yakin kau akan sukses."
"Ya, menjadi pengusaha sukses. Dan setelah sukses apa yang akan aku lakukan? Bekerja tanpa henti hingga pensiun. Berbaring tak berdaya di atas rajang saat hari tua. Menanti waktu kematian. Dan hanya bisa memandangi harta yang aku miliki tanpa bisa menikmatinya. Begitukah? Bagiku kapan pun aku mati, semua akan sama saja. Aku jadi bagaikan bunga kecil ditengah salju. Sekeras apa pun aku bertahan, pada akhirnya aku hanya akan mati sia-sia…"
"Aku akan menemanimu sampai saat itu tiba…" ucapku serius. Aku melangkah mendekatinya pelan-pelan, "Kalau kau tak ingin menikah, aku akan temani kamu sampai saat kematianmu tiba."
"Mudah mengatakannya sekarang. Tapi saat kau ingat pada keluarga atau kekasihmu, aku yakin kau tak akan mau menemaniku."
"Tidak, sungguh. Aku akan temani kamu sampai saat itu tiba. Aku janji…" Aku ulurkan jari kelingkingku. Meski aku tahu dia belum tentu mau menyentuhku. Dia menoleh ke arahku dengan tatapan menyelidik.
"Jangan sembarangan berkata janji. Janji adalah hutang. Dan hutang harus dibayar. Apa kau paham akan hal itu, hah?" Aku terpana. Ya, aku tau itu. Aku sudah berhutang banyak padanya.
Sunyi…
Sakura melangkah perlahan menaiki tangga ke lantai dua. Aku hanya berdiri diam. Diam dan diam. Apa yang akan terjadi kalau ingatanku nanti?
TBC
Mine to Review Please!?
