Disclaimer © GUNDAM SEED / DESTINY by sunrise

Warning: Saya hanya me-warning XD


MY SISTER IS(NOT) MY WIFE

.

.

CHAPTER 8

REVENGE


"JELASKAN APA MAKSUDNYA INI!?"

Cagalli terdiam melihat Athrun. Air mata pun mulai menumpuk di pelupuk matanya, napasnya menjadi tak beraturan, serta tangannya yang sedikit bergetar. Takut, Cagalli merasa sangat takut. Entah mengapa wajah seseorang yang berada di depannya kini terasa begitu menakutkan. Menatap lelaki yang sekarang ini menatapnya dengan tatapan tajam dan pilu, membuat hati Cagalli teriris.

Mengapa?

Kira yang melihat hal itu, langsung menghampiri mereka berdua. Ia melepaskan pegangan Athrun dari tangan Cagalli, yang secara spontan langsung membuat Cagalli memeluknya. Athrun yang melihat tingkah Cagalli, melotot tak percaya. Athrun lalu melihat pandangan mata Kira yang menatapnya dengan begitu memelas, seakan berkata 'tunggulah di luar, aku akan menjelaskannya.'.

Athrun menundukkan wajahnya, dan pergi menuju keluar apartemen. Dan melihat hal itu, Kira pun membawa Cagalli masuk ke dalam kamarnya.

"Cagalli." Kira memanggil Cagalli, saat Cagalli sudah duduk di ranjangnya.

"Kenapa Kira-kun, hiks... Kenapa?" suara Cagalli terdengar begitu pilu.

"Maafkan aku, Cagalli." Kira membelai lembut kepala adiknya.

Cagalli menepis belaian Kira, ia menatap Kira dengan tatapan yang cukup intens, dan ekspresi wajahnya yang begitu mengkhawatirkan, "Siapa lelaki itu? Kenapa... Aku bingung, sebenarnya ada apa ini?" Cagalli menundukkan wajahnya.

Kira sempat memalingkan wajahnya juga. Karena jujur saja, saat ini ia juga bingung mau berkata apa. Semua sudah terjadi, Athrun tahu...

"Apa kau mengenalnya?"

Cagalli menggeleng pelan.

Kira menghela napasnya, "Hh, lelaki itu adalah sahabatku. Kau ingat kita pernah bertemu dengannya."

Cagalli mengangguk pelan, "Lalu, kenapa dia bersikap seperti itu padaku? Siapa dia? Aku tidak mengenalnya."

"Cagalli, ingat tentang seseorang yang pernah kutanyakan padamu?"

Cagalli terdiam sejenak, lalu menganggukkan kepalanya, dan Kira pun menyentuh pundaknya, ia menatap lekat Cagalli, "Dialah seseorang yang kutanyakan hari itu padamu, Cagalli, Athrun Zala."

"Bagaimana dengan Athrun Zala?"

Cagalli menggeleng, "Tidak, aku tidak mengenalnya."

Athrun Zala...

"Heh, ternyata dia ya? Hh, dia memang memiliki dendam pada Cagalli, soalnya dia kan juga suka sama A-"

Pasti Athrun Zala...

Cagalli mulai memegang kepalanya.

Miriallia menyandarkan tubuhnya di bangku halte bis, "Ah, masa? Aku tak yakin, karena mengingat kejadian tahun lalu, saat kau menangis karena kak Ath- haa." Miriallia segera menutup mulutnya.

"Ath... Athrun Zala?"

Miriallia segera menoleh ke arah Cagalli yang saat ini melihatnya dengan raut wajah yang biasa saja. Membuatnya sedikit terheran-heran, "Kau kenal kak Athrun?"

Cagalli menggelengkan kepalanya, "Tidak."

"Lalu, dari mana kau tahu namanya?"

Cagalli ikut menyandarkan tubuhnya dan menatap langit, "Kakakku pernah bertanya tentangnya padaku. Karena aku tidak mengenalinya, aku jawab saja tidak tahu."

Miriallia memalingkan wajahnya dari Cagalli dan menatap ke bawah.

Mata Cagalli sedikit membulat, baru ia sadari kenapa orang-orang selalu bertanya tentang Athrun Zala? Siapa dia? Cagalli menatap Kira, mulutnya sedikit terbuka.

"Athrun... Zala..."

Kira mengangguk.

"Athrun Zala." Cagalli kembali menyebut nama Athrun, hingga tanpa sadar ia menggumam nama Athrun terus-menerus.

Athrun Zala...

Seorang lelaki berambut navy blue terlihat memeluk seorang gadis dari belakang. Gadis itu tersenyum melihat lelaki itu. Mereka berdua lalu menikmati pemandangan matahari terbenam dari atas bukit. Tangan gadis itu menggenggam pagar besi yang ada di hadapannya. Lalu ia menatap lelaki yang berada di belakangnya, memeluknya dan berbisik.

"Selamat ulang tahun. Maaf terlambat... Aku mencintaimu Cagalli..."

"Aku juga mencintaimu, Ath-

BRUUK

Seketika tubuh Cagalli ambruk dan terjatuh ke lantai, membuat Kira dengan segera mengangkatnya. Dengan raut wajah yang panik, Kira menepuk-nepuk wajah Cagalli.

"Cagalli... Apa yang terjadi padamu? Hei, buka matamu, Cagalli?"

.

(-.-)/\( '-')

.

"Bagaimana keadaannya?" Kira menghampiri dokter yang baru saja selesai menangani Cagalli.

Dokter itu langsung menatap Kira, "Apa ada yang anda katakan padanya? Bukankah saya katakan, jangan memaksa adik anda untuk mengingat sesuatu untuk saat ini?"

Kira memalingkan wajahnya ke arah Cagalli yang sedang tertidur di atas ranjang pasien, "Maaf," ucapnya.

Dokter itu lalu menepuk pelan bahu Kira, "Anda lupa, jika amnesia yang adik anda alami ini berbeda dari amnesia biasanya? Tapi tenanglah, kondisinya saat ini baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Hanya saja, jangan anggap remeh kejadian ini." Dokter itu pergi meninggalkan Kira, Cagalli, serta Athrun yang juga berada di dalam ruangan itu.

Athrun langsung mendekat ke arah Cagalli, duduk di dekatnya, dan membelai lembut pipinya. Athrun menatap Kira yang sudah menyandarkan tubuhnya di dekat jendela. Wajah Kira terlihat sedikit kacau.

"Jadi..." Athrun mulai angkat bicara, "...ada apa dengannya?" tanyanya yang mengusap lembut kepala Cagalli.

"Cagalli mengalami amnesia parsial akibat benturan keras yang terjadi padanya saat kecelakaan itu." Jelas Kira.

"Hm, begitu." Ucap Athrun yang membuat mereka kembali tenggelam dalam suasana yang sunyi.

"Maaf."

Athrun menatap Kira dalam keheningan, usai mendengar ucapan Kira. Sedangkan Kira kembali menundukkan wajahnya, tak berani menatap Athrun.

"Untuk?" tanya Athrun yang kembali memandang wajah tidur Cagalli.

"Untuk semuanya. Maaf karena selama ini aku tidak jujur padamu. Aku tidak sanggup, Athrun. Bila harus mengatakan jika Cagalli sekarang menganggapku sebagai seorang suaminya. Aku tidak ingin membuatmu sedih atau pun merasa kecewa karena sikap adikku."

Athrun tersenyum mendengarnya. Ia berdiri dan menghampiri Kira. Kira menatap Athrun yang sudah berdiri di hadapannya. Athrun terlihat mengangkat tangannya yang terkepal, seperti hendak memukul wajah Kira. Dan jika hal itu benar, maka Kira sudah siap dengan pukulan yang akan diterimanya.

Athrun mengangkat tangannya, dan Kira pun sudah menundukkan wajahnya sambil memejamkan mata.

"Pukul saja aku, Athrun."

Athrun kembali tersenyum, ia pun menggerakkan tangannya dengan cepat ke arah Kira, bukan untuk memukulnya. Tetapi...

PUK

"Athrun!" Kira terkejut saat mendapati Athrun yang hanya menepuk pelan kepalanya.

"Hh, bodoh. Aku tidak mungkin akan memukul sahabatku sendiri. Memang benar, aku awalnya marah. Tapi..." Athrun menjauhkan tangannya dan memegang kedua bahu Kira, "...aku mengerti dengan apa yang kau alami, Kira."

Kira tersenyum sembari menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Rasanya ia seperti ingin menangis. Dan hal itu membuat Athrun langsung berdiri tepat di sampingnya untuk mengejeknya.

"Haha, kau tidak akan menangis kan, Tuan cengeng."

Kira menggeleng, "Tentu saja tidak!"

"Ahaha, tapi aku rasa kau akan menangis, sama seperti dulu. Apa kau ingat?"

Kira mengangguk.

Athrun kemudian merangkul pundak sahabatnya, "Waktu itu, saat masih kecil. Kau menangis, karena mengira aku akan memukulmu."

Kira tertawa, "Itu karena kau, Athrun. Kenapa kau harus pergi meninggalkanku? Aku kebingungan dan tersesat. Dan kau pasti kebingungan juga, karena harus mencariku saat itu."

"Ya kau memang sukses membuatku hampir gila, karena secara mendadak kau menghilang."

"Hei, apa kau ingat juga bagaimana dengan Shiho saat itu?"

Athrun mengangguk, "Hm, Shiho menangis habis-habisan saat itu, ia mengira kita akan bertengkar. Shiho anak yang cukup cengeng dan mudah tersentuh hatinya."

"Tapi, tidak dengan sekarang, Athrun. Sekarang anak cengeng itu sudah berubah menjadi seorang gadis sadis."

Keduanya lalu tertawa. Hh, aneh rasanya, membicarakan masa lalu yang terasa begitu menyenangkan. Saat ketiganya masih berkumpul.

"Hh, aku rasa aku merindukan Shiho." Athrun sedikit menundukkan wajahnya.

Dan tawa Kira langsung terhenti. Dengan cepat ia mengambil ponsel yang ada di saku celana bengkelnya. Ia masih mengenakan pakaian tukang bengkel saat ini, karena ia tak sempat mengganti pakaiannya saat hendak pulang ke rumah. Kira menatap layar ponselnya. Sial! Sudah jam 11 malam. Ia segera memberikan ponselnya pada Athrun.

"Ada apa?" tanya Athrun, dan Kira hanya tersenyum aneh.

Beberapa detik setelah Kira memberikan ponselnya. Tiba-tiba ponsel itu langsung berdering. Membuat Athrun terkejut, dan melihat layar ponsel Kira.

Shiho H. is calling...

Athrun menatap Kira sejenak, ada yang aneh. Tapi ia mengabaikannya, ia menjawab panggilan dari Shiho.

Pik...

"Halo-"

"KIRA! Kemana kau?! Kau lupa malam ini ada pesta penyambutan Athrun? Dan dimana sekarang kau dan juga Athrun?"

Athrun langsung menjauhkan ponselnya saat mendengar suara Shiho yang berteriak nyaring.

"Hei, Shiho. Ini aku, Athrun."

Setelah itu, Athrun pun mendengar suara Shiho yang seketika menangis namun tetap mengomel padanya. Hh, Athrun tersenyum. Shiho masihlah gadis yang cengeng baginya.

.

.

.

Athrun mengembalikan ponsel Kira usai berbicara pada Shiho 30 menit yang lalu.

"Apa yang ia katakan?" tanya Kira saat Athrun sudah duduk di dekatnya yang saat ini berada di samping Cagalli.

"Banyak hal. Hh, sepertinya aku akan dibunuh bila bertemu dengannya nanti."

Kira tertawa, tapi secara mendadak tawanya terhenti, ketika ia merasakan tangan Cagalli yang ia genggam bergerak.

"Cagalli."

Athrun ikut menoleh saat Kira bergerak bangkit dari kursinya. Dan bisa ia lihat bila Cagalli sudah membuka kedua matanya, dan duduk di ranjangnya, dibantu oleh Kira. Athrun sempat terdiam menatap Cagalli, begitupun sebaliknya. Namun, Cagalli langsung mengalihkan pandangannya ke arah Kira.

"Kira-kun, aku berada dimana?"

Mendengar itu, baik Athrun maupun Kira... Tenggelam dalam keheningan.

Cagalli masih belum pulih...

.

(-.-)/\(-_-)

.

ORB High School, at 07.14 am

Meer dan Meyrin berjalan dengan cepat menyusuri koridor menuju ruang auditorium. Hh, apa-apaan ini! Kenapa pagi-pagi begini saat pelajaran belum mulai, ia sudah mendapatkan surat teror. Bukan surat teror sih, hanya sebuah surat dari seseorang yang saat ia membacanya, harus membuatnya segera bertindak.

"Meer, apa kau yakin jika Stellar yang mengirim surat itu?" tanya Meyrin.

"Tentu saja, memang siapa lagi yang tahu kronologi saat itu?"

"Hm, benar. Isi surat itu memang berbicara tentang pembeberan kejadian saat itu. Hh perjuangan Flay akan sia-sia jika semua terbongkar." Meyrin mengomentari sambil memegangi dagunya.

"Perjuangan Flay? Kau tak berhak berkata seperti itu, Meyrin. Karena kau tak ada saat kejadian itu terjadi."

"Maaf, tapi kalau bukan karena aku yang membantumu saat berada di ruang guru, kau akan kalah. Bersyukur karena aku datang tepat waktu."

BRAK

Meer membuka pintu auditorium dengan kasar. Ia mendapati seorang gadis dengan rambut blond sedang berdiri di atas panggung menunggunya. Meer mendatangi gadis itu di atas panggung.

"Apa-apaan surat ini, Stellar? Kau menantangku?"

Stellar tiba-tiba bergetar mendengar amarah Meer, tapi dengan cepat ia mencengkram roknya, ia harus mengendalikan ketakutannya.

Shinn yang tertawa melihat wajah Stellar, mendadak diam. Ia langsung menatap Stellar dengan pandangan yang serius, membuat Stellar sedikit terkejut.

"Ada apa?" tanya Stellar.

Shinn memegang pundak Stellar, "Mau membantuku?"

"Eh?"

Stellar mencengkram roknya dengan kuat. Tidak boleh, ia tidak boleh merasa ketakutan. Karena Stellar sudah berjanji untuk membantu Shinn. Jadi dia harus bisa.

Stellar lalu mengangkat wajahnya dan menatap Meer, "Ya, Stellar yang mengirimkan surat itu pada Meer."

Mata Meer melotot, ia melangkah maju, "Sialan, aku bisa memukulmu."

"Stellar... Ti-tidak takut! Stellar akan memberitahu Talia sensei, jika kau sebenarnya yang memukul Flay, dan berbohong."

"Meer, segera beri dia pelajaran. Gadis ini memang harus kita bungkam mulutnya." Meyrin menyilangkan kedua tangannya.

Mendengar itu, Meer langsung menjambak rambut Stellar, hingga Stellar meringis.

"Ternyata, meski wajahmu mirip dengan Lacus-san, tapi sifatmu berbeda. Bagaimana bisa orang seperti Meer menjadi sepupu Lacus-san?"

Stellar juga menatap Meyrin, "Meyrin, kau punya kakak yang cantik dan juga baik. Luna-san bersahabat baik dengan Lacus-san. Tapi kenapa kalian berdua memiliki sikap begitu jelek dan kasar!"

Stellar kembali menatap Meer yang masih menjambak rambutnya, "Meer, kenapa Meer berbohong? Bukannya Meer yang memukul Flay?"

Meer yang tidak tahan pun langsung mendorong Stellar hingga terjatuh. Ia lalu menarik kerah baju Stellar dengan kuat, hingga tanpa sengaja merobek sedikit baju Stellar.

"Kau, harus bertanggung jawab," ucap Stellar dipenuhi oleh air mata. Ia lalu melepaskan cengkraman Meer, dan menatap tajam Meer serta Meyrin yang ada di hadapannya.

"CEPAT TANGGUNG JAWAB!"

.

(-.-)/\(-.-)

.

"Dan, itulah mengapa jika kalian ingin menjadi-" penjelasan Talia harus tertunda lantaran, seorang gadis secara tiba-tiba memasuki kelas dengan napas yang ngos-ngosan.

"Talia sensei. Tolong aku, Stellar... Stellar sedang di pukuli oleh Meer di ruang auditorium." Miriallia berbicara dengan napas yang ngos-ngosan, membuat teman-temannya yang sedang belajar langsung mengalihkan pandangan ke arahnya dengan seketika.

Mendengar hal itu, Talia pun langsung beranjak keluar kelas, diikuti oleh Miriallia. Shinn yang sedari tadi diam di kelas langsung menyeringai. Ternyata akting Miriallia sangat bagus. Ia berdiri dari tempatnya, dan berlari mengejar Miriallia.

"Sst..." Shinn memanggil Miriallia yang berjalan di belakang Talia sensei. Miriallia lalu menoleh ke arah Shinn. Ia mengacungkan jempolnya, memberi isyarat pada Shinn.

Kalau begini, pasti Meer dan geng kecilnya akan mendapatkan hukuman. Shinn lalu sempat terpikirkan keadaan Stellar. Sepertinya ia harus minta maaf pada gadis itu. Karena Shinn tidak menjamin keselamatan Stellar yang menghadapi Meer seorang diri.

'Maaf Stellar.'

Talia membuka pintu ruang auditorium dengan cepat untuk memeriksa keadaan Stellar. Namun, saat sudah masuk ke dalam, matanya langsung membulat. Begitu pun dengan Miriallia yang menutup mulutnya dengan kedua tangannya.

"Ya Tuhan!" Miriallia memekik, membuat Shinn menerobos Miriallia dan juga Talia sensei, untuk melihat keadaan di dalam.

"Stellar!" Shinn terkejut saat melihat ke dalam.

Ia terkejut bukan karena Meer yang berhasil memukuli Stellar. Tapi, karena Meer serta Meyrin yang berhasil dipukuli oleh Stellar. Terlihat dari pipi Meer yang sedikit lebam.

Mendengar namanya dipanggil seseorang. Stellar lalu mengalihkan pandangannya ke arah Shinn. Ia langsung terduduk dan menangis, tubuhnya bergetar hebat. Melihat Stellar yang menangis, Shinn langsung menghampirinya, begitupun dengan Talia dan juga Miriallia.


TBC


Semakin gaje, tentunya... Haha. Akan ada yang lebih gaje setelah ini :3

Special thanks to... popcaga, NelshAZ, setsuko mizuka, miliuna :)

and silent reader...

sebelumnya saya minta maaf, karena ada kesalahan teknis,,, seharusynya saya updet SOUL hari ini, tapi karena suatu musibah(?) jadi saya hanya bisa updet ini (mumpung ini juga udah selesai). sekali lagi maaf untuk para readers yang sudah menunggu SOUL.

akan saya usahakan untuk meng-updet SOUL segera

See you next time