A/ N : Beribu terima kasih buat RosyMiranto18 & Hayashinkage17 yang selama ini terus ikutin fic-ku sejak bikin fic dari fandom tetangga. Ureshii~ :3

Oia, bacot bentar ya. *woi-plak* Ternyata oh ternyata, saya gak jadi berangkat ke Jakarta. Padahal awalnya udah serius tapi ortu berubah pikiran hehehe. Lalu yang kedua, waktu saya cek Viewer tiap chapter. Kayaknya reader ada yang gak sengaja ngelampauin chapter 3? Soalnya viewernya sedikit... '-')

Oke, as always, balas review!

-RosyMiranto18

Blossom : Iya juga ya. Oke! Udah aku edit Natsuko manggil Suzu pake '-chan'! :3

Scarlet : Lagian mereka seumuran ya. Pake -chan kedengar lebih enak ya. Buat mas bro nih surat dari Aki. Baca sono.

Takatora : *baca suratnya, simpan*

Scarlet : Lha? Kok no komen sih mas bro?

Takatora : *bekuin Scarlet* Terima kasih atas reviewnya.

Suzu : *sweatdrop*

-Hayashinkage17

Blossom : Ohoh, tukar username ya? Story-nya Hana bagus banget lho! Andai saja fic ini dibikin pake bahasa inggris juga...

Scarlet : Yup, Kagome memang ****.

Kagome : Fufufu, kau bilang apa barusan, oh author gila?

Scarlet : *sujud* Ampun mbak!

Suzu : Belum diapa-apain udah minta maaf duluan. *sweatdrop*

Takatora : Adu dahi? Aku hanya mau menghilangkan sakit di dahi Suzu.

Suzu : *blush* B-Begitu ya.

Blossom : Lho? Kamu kecewa ya nak?

Suzu : *falcon kick Blossom* T-Terima kasih banyak atas review-nya!

Disclaimer : Samurai Warriors belongs to KOEI. OCs and story plot belongs to me, except Kimura Siblings belongs to RosyMiranto18.

Warning : Mainly OC x Todo Takatora. OOC yang mungkin tidak disengaja atau sengaja demi alur cerita, sering typo, diksi yang tidak baku, suram dan abal. Saya usahakan ceritanya sama dengan game, anime dan atau sejarahnya. Kalimat digaris miring menandakan FLASHBACK atau suara hati(?) *plak*. Mohon maaf atas kesalahannya. Chapter ?-A terdapat rute BAD END, siapkan golok *plak*. DON'T LIKE DON'T READ NO FLAMES. REVIEW PLEASE!

-XxX-

Bell of the White Hare

-xxx-

CHAPTER 8-A

Only Despair

-XxX-

Kagome's(?) Perspective

Yang ada di dunia ini hanyalah ilusi. Baik itu sebuah ungkapan atau perilaku. Ilusi yang tak ada habisnya membutakan mata dari harapan. Mengapa mereka dengan mudahnya mengungkapkannya? Apakah mereka berpikir semua itu adalah hal yang indah?

Aku tidak berpikir demikian.

Karena aku telah berhenti mempercayai segalanya.

Apakah kau pernah mendengar kisah ini? Nah, aku yakin mereka tak pernah menceritakannya padamu. Mengapa, kau bertanya? Mereka hanyalah seekor ular yang pengecut. Awalnya aku selalu berharap memiliki bisa yang tajam seperti mereka agar diriku menjadi kuat. Tapi semua itu hanyalah sebuah harapan kosong. Yang mereka pikirkan hanyalah melarikan diri. Pergi menjauh, sejauh mungkin, sangat jauh, agar mereka dapat hidup dengan tenang.

Kau ingin mendengar kisah gadis yang memiliki keinginan untuk memiliki bisa dari ular?

Nah, pasang telingamu baik-baik dan pusatkan pikiranmu pada kisah ini.

Waktu itu, sebelum 'dia' kehilangan kepercayaan pada setiap keberadaan yang ada di dunia ini. Ia hidup sendirian, hanya sebatang kara yang tidak memiliki apapun. Sepasang pria dan wanita yang telah melahirkan 'dia', tanpa alasan yang jelas membuangnya dari kehidupan mereka. Sejak itu anak itu tak pernah tahu siapa jati dirinya, siapa orang tuanya, dan atas alasan apa dirinya dilahirkan.

Suatu hari, 'dia' pergi ke hutan untuk mengumpulkan kayu bakar. Disana ia menemukan seekor ular yang tengah menyerang mangsanya.

'Dia' tidak takut.

'Dia' tidak merasa jijik.

'Dia' tidak bisa mengabaikannya.

Pemandangan itu memikat perhatiaannya.

"Apakah memangsa itu menyenangkan?" tanya gadis itu tersenyum- terhibur akan apa yang baru saja ia lihat.

Di hari berikutnya, kali ini 'dia' menemukan seorang pria yang bertubuh tegap, bersurai hitam panjang yang dikuncir dan memiliki sebuah katana yang ia pasang di pinggangnya, sorot matanya yang tajam bagaikan iblis.

Merah.

Maniknya yang tajam itu hampir menandingi warna darah.

Gadis kecil itu amat terkagum, pria itu lebih hebat dari seekor ular yang pernah ia temukan kemarin. Selain itu, bahkan pria itu berhasil mengalahkan puluhan orang, seolah-olah seperti serigala yang kelaparan. Di saat itu juga, si gadis kecil itu mengikuti ronin tersebut kemana pun ia pergi.

Sesaat ronin tersebut memandang manik emas milik gadis kecil itu, ia mulai bertanya. "Apa alasanmu terus mengikutiku?"

Gadis kecil itu langsung menjawab. "Aku ingin menjadi kuat sepertimu."

"Anak kecil sepertimu? Jangan membuatku tertawa, bocah. Lagipula demi apa kau ingin menjadi kuat?"

"Apakah aku membutuhkan alasan untuk menjawab itu?"

Ronin tersebut tak dapat membalas pertanyaannya, ronin tersebut membiarkan gadis itu mengikutinya.

"Baiklah. Aku akan memberikanmu kekuatan. Pertama aku harus mengajarimu seni berpedang. Jadi jangan pergi sebelum kau berhasil menjadi kuat."

Gadis itu tak mengerti apa maksud dari kalimat terakhirnya barusan. Bagaimana pun juga, ia bersedia mengajarinya untuk menjadi kuat.

Perlahan mereka mulai saling mengenal, ia baru menyadari bahwa gadis kecil tersebut hanya sebatang kara. Kedua orang tuanya membuangnya, tak memiliki tempat dimana ia berasal- tempat dimana ia bisa pulang yang disebut sebagai rumah.

Setelah cukup lama pria itu lalu mengadopsinya. Setiap roda waktu berputar, mereka hidup bersama bagaikan keluarga sungguhan. Gadis itu mulai memahami apa itu 'keluarga'. Baginya itu adalah jawaban yang mudah dan sederhana, baginya keluarga adalah dimana ia bisa menjadi kuat bagaikan iblis agar ia dapat melakukan apa saja yang ia mau.

Namun tak berapa lama kemudian, pria yang merupakan ayah angkatnya tiba-tiba berhenti mengayunkan pedang dan tak pernah mengajarinya untuk menjadi kuat. Kemudian ia menikahi seorang wanita, memiliki wajah yang amat menawan, rambut putih keperakannya membuatnya terlihat seolah-olah seperti dewi yang jatuh dari langit. Sejak kemunculan wanita itu, ayahnya tak pernah mengayunkan pedangnya.

Setelah beberapa tahun 'dia' hidup bersama ibu angkatnya. Dua insan tersebut dihadiahkan kelahiran seorang anak perempuan. Kebahagiaan menyambut mereka. Namun tidak bagi gadis yang bersurai hitam yang merupakan anak angkat mereka. Bayi itu terlihat begitu rapuh, lemah, tak berdaya dan mungil. Memikirkan hal itu, ia yakin bahwa bayi itu bisa dimangsa tanpa mengeluarkan tenaga yang kuat.

Sayangnya ia tak memiliki kesempatan untuk melenyapkan keberadaan bayi tersebut, yang merupakan adiknya sendiri. Dua insan tersebut tak pernah bosan untuk memanjakan bayi itu. Sebagai rasa syukur akan kelahiran bayi tersebut, sang ibu mengalungkan sebuah lonceng kecil sebagai jimat keberuntungan untuknya.

'Dia' tidak takut.

'Dia' mulai jijik dan muak.

'Dia' tak bisa mengabaikannya.

Tanpa berpikir panjang, gadis bermanik emas itu segera menghampiri sang ayah- ingin diajari mengayunkan pedang seperti yang pernah mereka lakukan dulu.

Wanita itu dengan lemah lembut memperingatkan putrinya. "Dengarkan aku, sayang. Semua yang telah kau pelajari bukanlah kekuatan yang sesungguhnya. Menggunakan kekuatan hanya untuk mempercepat kematian seseorang sedangkan kau berusaha melarikan diri dari ajalmu sendiri, bukanlah jawaban untuk menjadi kuat."

Putri angkatnya langsung membentak. "Kau tidak pernah mengayunkan pedang. Jangan seenaknya menasehatiku!"

Wanita itu menjawab, masih dengan nada suaranya yang lembut. "Memang benar. Tapi apa kau tahu alasan mengapa ayahmu berhenti mengajarimu? Itu karena ia sangat menyayangimu, dia tidak ingin tujuan hidupmu hanyalah untuk mengayunkan pedang untuk membunuh manusia. Dia ingin kau merasakan kehidupan yang damai. Seorang ayah tidak mungkin membiarkan putrinya menderita."

"Menderita? Apa yang kau bicarakan? Aku sama sekali tidak menderita. Berkat kau, ayah berhenti memberiku latihan. Hebat sekali kau memanfaatkan ayahku, dasar wanita jalang!"

Sang ayah menampar keras putri angkatnya tersebut. "Kau tidak berhak memanggil ibumu dengan sebutan itu!" Itu pertama kalinya ayahnya membentaknya. Ungkapannya yang terisi oleh kasih sayang pada wanita itu dan putrinya yang baru lahir. Tidak padanya sedikit pun. Dengan demikian, dia dibuang untuk kedua kalinya.

Pada akhirnya, gadis itu mulai mencari tempat seorang diri, tempat dimana ia bisa menjadi lebih kuat. Dia hidup sendirian, jalan kehidupannya yang hanya diisi dengan membunuh dan membunuh.

"'Jangan pergi sebelum kau menjadi kuat', ya? Pada akhirnya kau sendiri yang meninggalkanku. Pembohong. Perasaan apa-apaan ini? Aku, iri dengan bayi itu? Yang benar saja, sialan." Gadis itu mengutuk ayah angkatnya, ibu angkatnya, serta adiknya tanpa henti di dalam kepalanya.

Gadis itu akhirnya mulai menyadari bahwa 'membunuh' itulah hal yang membuatnya bergairah setiap waktu. Seorang wanita bernama Mochizuki Chiyome mengajarinya banyak hal, ia menjadi kunoichi dibawah bimbingannya. 'Membunuh' seperti dewa kematian lakukan adalah jalan kehidupannya yang sesungguhnya. Karena hanya membunuhlah yang pantas baginya ia lakukan di dunia yang dipenuhi ilusi ini.

Dia membuang segala yang telah mereka berikan padanya, termasuk nama. Ia memberi nama baru pada dirinya sendiri.

'Kagome'.

Sebuah sangkar yang mengurung seekor burung agar tak dapat terbang bebas. Mengurungnya ke dalam keputusasaan hingga mati.

Apa kau mulai mengerti apa alasanku menceritakanmu semua ini?

Karena aku muak dengan keberadaanmu. Yaitu, kau. Shiraishi Suzu.

Kagome's(?) Perspective : END

-XxX-

"Kagome, sudah kuduga lagi-lagi kau..." geram Suzu. Ketika wanita bermanik emas itu menatap sorot matanya, ia tertawa pelan- terhibur akan raut wajahnya.

"Jika kematiannya dipercepat, aku yakin dia bisa menemui suaminya yang berada di neraka. Bukankah itu hal yang baik? Bukankah begitu, Shirousagi?"

Suzu tak menjawabnya. "Oichi-sama, mohon mundur. Aku akan mengatasinya." Suzu menghentakkan kedua kakinya, sebuah bilah pisau keluar dari belakang sepatunya.

"Suzu..." Sekarang ia merasa dirinya kembali dilindungi. Sepasang manik coklatnya memunculkan sebuah ilusi, mengingatkannya saat ia dilindungi oleh mendiang suaminya dulu. Hingga kini, ia selalu saja dilindungi oleh orang yang sangat ia sayangi. Sebagian dari dirinya amat bersyukur, namun juga membuatnya putus asa.

"Sebenarnya apa yang kau inginkan!? Tidak bisakah kau untuk tidak mencampuri kehidupan orang lain!?"

"Apa artinya jika aku memberitahumu? Apa kau tidak mengerti? Tentu saja jawabannya karena menarik. Apapun alasanku, kau tetap berniat untuk menghentikanku, bukan? Ahh, atau mungkin kau ingin membunuhku? Sayang sekali, kelinci lugu sepertimu tak mungkin bisa membunuhku."

"Lalu? Apa kau ingin mengatakan akan lebih mudah jika aku menjadi seekor serigala dibandingkan kelinci agar aku bisa menghentikanmu!?" Suzu langsung menghadang, bersiap untuk menebas wanita itu dengan bilah pedang pada sepatunya.

Kagome menahan serangan dengan armor pelindung lengannya. "Wah wah, sekuat itukah dendammu padaku?"

Dengan segera Suzu mundur jungkir balik sebelum Kagome membalas serangan. "Dendam...?"

"Oichi-sama! Anda baik-baik saja!?" Katsuie serta ratusan prajurit Shibata mulai melindungi Oichi, menariknya untuk segera menjauh dari Suzu dan Kagome.

"Katsuie. Tak apa, aku baik-baik saja. Tapi, aku minta padamu untuk tidak menyerang Suzu."

"Saya mengerti. Lalu wanita yang satu itu... adalah musuh. Apa benar, Oichi-sama?" Oichi menjawab dengan anggukan kepala.

Katsuie menuruti permintaan istrinya. "Semua! Kepung wanita berpakaian hitam itu! Lindungi gadis itu!" perintah Katsuie pada pasukannya.

Dengan segera mereka mengepung Kagome. Mencerna situasi yang ia hadapi saat ini, ia beringsut mundur. "Wah, dengan situasi seperti ini mungkin akan sulit. Lebih baik kita mencari tempat dimana tak ada satu orang pun menganggu kita." Kagome langsung melompat dari tebing.

"Tunggu!" Suzu langsung mengejar Kagome dan ikut melompat dari tebing.

"Suzu!" teriak Oichi berniat untuk menghentikannya namun terlambat. Katsuie segera menahan Oichi untuk tidak bertindak gegabah.

"Oichi-sama, kumohon jangan bertindak lebih. Tunggulah disini sementara saya akan memperketat pertahanan. Si Monyet tak lama lagi akan mengepung kita. Kita sudah tak memiliki kesempatan untuk menang."

Oichi tersenyum lembut dan menggeleng pelan, kebaikan pria paruh baya itu selalu membuatnya tenang dan selalu mengingatkannya pada mendiang suaminya. "Aku telah siap menghadapi takdirku. Sampai akhir, aku akan selalu bersamamu, Katsuie."

-XxX-

Manik birunya terkunci memandang pedangnya yang berlumuran darah. Takatora segera membersihkannya untuk menjaga ketajaman pedangnya. Kemudian membersihkan wajahnya dari percikan darah dengan punggung tangan.

"Hari ini Anda terlalu memaksakan diri terlalu jauh, Takatora-dono. Sebaiknya Anda menenangkan diri sebentar." Takatora hanya diam mengabaikan saran dari Aki.

Yoshitsugu kemudian datang di hadapan mereka, dia telah menjatuhkan musuh yang datang dari arah barat bersama Mitsunari dan pasukan Uesugi. "Maeda Toshiie telah mundur dari pertempuran. Semangat juang pasukan Shibata juga menurun berkat kedatangan bala bantuan dari Uesugi. Tapi sampai sekarang masih belum ada tanda-tanda aliran akan berubah."

"Ah, Gyoubu-dono. Apa maksudmu mereka masih belum menyerah?" tanya Aki pada Yoshitsugu.

"Hm." Yoshitsugu mengangguk. Kemudian pria berkerah tinggi itu memindahkan pandangannya pada punggung Takatora. Melihat percikan darah yang mengotori pakaiannya, dia langsung mengerti bahwa suasana hatinya sangat buruk.

Itu mengingatkannya saat mereka berdua masih berpangkat rendah, seorang ashigaru. Sebelum Nagamasa menghargai keberanian mereka, Takatora selalu mengabaikan nyawanya sendiri demi mendukung mimpi sang tuan. Yoshitsugu sadar bahwa pria itu masih belum berubah hingga kini.

"Yoshitsugu, apa kau tahu dimana Suzu saat ini?" tanya Takatora tanpa menoleh.

"Tidak, dia belum memberikan sinyal. Kurasa dia masih belum kembali dari markas utama Shibata. Mungkin saat ini ia masih mencoba untuk membujuk Oichi-sama. Sayang sekali kali ini aku tak bisa menebak aliran apa yang ia hadapi sekarang."

Aki membelalakkan kedua matanya. "Jarang sekali kau berkata begitu, Gyoubu-dono. Tapi Anda benar, mengapa Suzu-dono lama sekali..."

Takatora kembali diam, kini ia bersiap untuk menyerang pasukan Shibata yang tersisa melindungi pintu masuk markas utama.

"Takatora-dono! Jangan bertindak gegabah, setidaknya Anda harus menyembuhkan diri!"

Tak seperti Aki, Yoshitsugu membiarkan Takatora maju ke garis depan sendirian. Memang mereka sudah saling mengenal namun ia tahu bahwa akan sulit untuk mencegahnya.

-XxX-

Suzu berhasil turun dari tebing dengan selamat, disana Kagome sedang menunggunya. Manik emasnya tertuju ke langit mendung lalu berpindah menatap Suzu.

"Apa? Mengapa kau memasang wajah seperti itu? Kau ingin bertanya padaku apa itu dendam? Hah, bukankah kau sudah pernah merasakannya? Disaat bibimu mati, kau meluapkan segalanya dengan membunuh orang-orang yang telah merenggut nyawanya. Bukankah saat ini kau juga dendam padaku karena aku ingin membunuh Oichi? Oh, dan saat kedua orang tuamu mati, kau juga melakukan hal yang sama, bukan? Mereka semua, SEMUANYA- mati konyol. Menggelikan sekali."

"Kau... kau tahu apa mengenai diriku?" geram Suzu sembari mengepalkan tangan.

Kagome mengibas rambutnya. "Itu pertanyaan yang tak ada artinya. Mereka mati karena ketidakberdayaan mereka sendiri."

'Ketidakberdayaan', kata itu seketika memancing amarahnya dan berkeinginan kuat untuk meluruskan perkataan wanita tersebut. "Kau tahu apa tentang mereka!? Waktu itu, mereka dengan tulus melindungiku dari segala marabahaya. Aku sangat takut, tapi mereka tidak."

"Ya ya, sampai sekarang kau masih seekor kelinci yang pengecut. Ketidakberdayaanmu juga telah membuat nyawa mereka menghilang." Suzu menatapnya tajam penuh amarah. Kagome terkekeh membaca mimik wajah Suzu. "Bagus. Sekarang kau sudah memiliki alasan untuk dendam padaku, bukan? Jika kau ingin membunuhku, bunuhlah. Dendamlah, bencilah, dan kutuklah diriku. Tapi... kelinci tetaplah kelinci. Pada akhirnya kau akan mati dimangsa...!"

Kagome menembak ohkuni-hiya ke arahnya, Suzu langsung menghindar. Panah api tersebut meledak ketika mengenai batang pohon, namun tak dapat merubuhkannya. Hanya terdapat bekas terbakar pada pohon tersebut.

Kagome menebakkan panah api tersebut tanpa henti, Suzu yang kesulitan untuk menyerangnya dari dekat hanya bisa terus menghindari serangan.

"Apa-" Kini Kagome melempar sebuah torinoko. Asap mulai membutakan kedua mata Suzu, ia tak dapat menebak dimana Kagome berada. Suzu menyadari bahwa Kagome menembakkan panah api tersebut hanya untuk mengalihkan perhatiannya.

"Kena kau!" Kagome menembus asap di sekitar Suzu dan menyerang dari belakang dengan cakarnya. Suzu kembali menghindar. Namun karena ia sedikit terlambat, Kagome dapat menyayat pinggang Suzu meski hanya sedikit.

Gadis bersurai perak tersebut segera keluar dari gumpalan asap yang mengelilinginya. Beruntung luka tersebut tidak begitu parah. Ia masih bisa bergerak, namun tetap saja menyakitkan.

Suzu tahu bahwa ia tak boleh meremehkan kunoichi tersebut, jika tidak dirinya akan terbunuh. Memang sebelumnya ia hampir belum pernah bertarung sendirian melawan satu orang selain menjatuhkan musuh secara diam-diam.

"Jangan hanya menghindar! Lawan aku, kelinci!" Kagome kembali menghadang, melempar beberapa shuriken kearahnya. Suzu kembali menghindar ke belakang.

Suzu mulai membenci wanita itu. Kagome, ia selalu mencoba untuk membunuh orang terdekatnya dan sekarang dia ingin membunuhnya. Jika ia mati saat ini juga, Suzu berharap takkan ada lagi orang yang akan merusak hasrat keinginan Suzu untuk melindungi.

Tetapi ia sangat ketakutan, takut akan kematian yang entah benar-benar akan datang padanya. Suzu berusaha agar tidak menunjukkan tanda bahwa dirinya ketakutan. Namun gemetaran pada tubuhnya tak bisa ia hentikan. Suzu berulang kali mengatakan pada dirinya sendiri untuk menjadi kuat demi dirinya dan semuanya.

Namun apa yang membuat dirinya ragu?

Dirinya seperti telah melupakan sesuatu yang sangat penting.

Suzu kembali mundur beberapa langkah, namun dirinya telah tersudut. Punggungnya telah menyentuh bebatuan tinggi. Kagome telah berdiri tepat dihadapannya.

"Membosankan. Kau sama sekali tidak menyerangku. Apa yang kali ini membuatmu ragu? Dari cara kau memandangku, aku tahu kau dendam padaku."

Jika dipikirkan kembali, dulu Takatora pernah memberitahunya saat di Nagashino. Kagome memberinya perintah untuk meracuni Oichi, tapi pada akhirnya dia sendirilah yang meminum racun tersebut. "Aku tidak mengerti mengapa kau memberiku obat penawar racun saat kau memberiku perintah. Jangan katakan padaku kalau kau orang yang dengan mudah menyesali perbuatan yang telah ia lakukan?"

Kagome terdiam sejenak, senyuman licik khasnya seketika menghilang. "Heh, entahlah? Bagaimana jika kau menebaknya sendiri?"

Suzu mengepalkan kedua tangannya. Seringainya selalu membuatnya muak. Yang diinginkan wanita itu hanyalah permainan. Wanita itu memberinya obat penawar racun agar Kagome bisa menghibur dirinya sendiri dengan mempermainkan jalan kehidupan Suzu. "Kau pikir semua yang kau lakukan itu menyenangkan? Mempermainkan hati bahkan nyawa orang yang bahkan tidak ada hubungannya denganmu!?"

"Tidak ada hubungannya? Ahh, kurasa kau benar. Sejak itu- bukan, dari awal kita tak memiliki hubungan apapun..."

Nada suara Kagome berubah pelan, tak ada kelicikan pada kalimatnya barusan. "Apa yang kau..."

"Oh, sudahlah. Ini membosankan, percakapan ini sama sekali tidak ada artinya. Kau telah menghabiskan waktu bermainku. Bagaimana jika kau membayarnya dengan nyawamu, Shirousagi?"

Tanpa berpikir panjang, dicekiknya leher Suzu dengan kasar. Gadis itu mulai merasa tak berdaya, meski ia telah mencengkram lengan wanita itu. Kedua kakinya mulai tak bisa bertahan, begitu lemah hingga ia tak bisa berdiri.

Manik emas Kagome berpindah pada lonceng kecil yang dikalungkan pada leher Suzu. "Kau bahkan masih memiliki lonceng ini. Menjengkelkan." Kagome langsung membuang lonceng tersebut ke sungai. Aliran yang deras membuat lonceng itu terbawa arus.

"...! Jangan!" Suzu memekik sambil berusaha untuk melepas cekikan Kagome, lalu menangkap belnya namun terlambat. Belnya sudah terbawa arus sungai yang deras. Putus asa mulai menyelimuti hatinya, ia tak akan bisa menemukan belnya lagi- peninggalan terakhir dari kedua orang tuanya. Dulu Takatora juga telah menyimpan bel tersebut. Lagi-lagi ia telah membiarkan bel itu terlepas darinya.

"Mengabaikan musuh yang ada di depanmu, eh? Kau memiliki kebiasaan buruk."

"...eh?"

Tanpa berpikir panjang, Kagome langsung menyobek kedua mata Suzu dengan kunai. Merasakan kesakitan yang luar biasa, teriakan yang cukup tajam tak bisa ia tahan. "S-Sakit! Sakit...! Sakit!" pekiknya berulang kali sambil menekan kedua matanya dengan telapak tangan. Darah segar mulai mengalir deras dari kelopak matanya. Suzu terjatuh menuju lututnya.

"Iris matamu persis sekali dengan pria tua bangka itu, melihatnya saja sudah membuatku jengkel. Bukan, keberadaanmu di dunia ini sudah cukup membuatku muak." Kagome berjalan mendekatinya. "Rasakanlah sedikit demi sedikit. Karena rasa sakit itulah yang akan kau rasakan dalam hidup ini, untuk terakhir kalinya." Ujung kunai tersebut menusuk dadanya- dimana jantungnya berdetak. Suzu merintih kesakitan lalu terjatuh setelah Kagome mencabut kunai dari tubuhnya yang perlahan melemah, ia tak bisa menahan segala yang memberatkan tubuhnya. Perlahan ia mulai terlengkup, dadanya sangat sesak, semuanya menjadi dingin.

"...ah, sakit... sakit sekali. Gelap... aku tidak bisa... melihat apapun. Kenapa semuanya... menjadi hitam?"

Kagome hanya diam melihat Suzu yang telah berada di ambang kematian.

"...benar juga. Aku harus... menemui Takatora-san. Aku harus meminta maaf... padanya. Aku benar-benar tidak berguna..." gumam Suzu terengah-engah. Kulitnya perlahan menjadi pucat pasi, kesadarannya menipis, darah yang mengalir dari tusukan pada dadanya tak mau berhenti. "Taka... tora-san..."

Hening mulai menyambutnya. Kagome tak mendengar hembusan napas dari gadis itu. Wanita bermanik emas itu mulai terdiam. "Aneh. Perasaan emosimu itu persis dengan 'mereka'. Tapi sayang sekali ya? Tak ada yang bisa dilakukan, perasaanmu tak tersampaikan pada pria itu."

Kagome menurunkan matanya, kembali memandang tubuhnya yang tak memiliki tanda-tanda ia masih bernapas. "Tapi, akhirnya aku sudah membunuhmu. Sekarang permainanku juga telah berakhir." Kagome menghela napas panjang, alisnya menyempit menuliskan keingintahuan yang telah dipastikan takkan terjawab. "Aku tidak mengerti. Apakah aku melakukan hal yang salah? Apa yang harus kulakukan dengan nyawaku sekarang?"

-XxX-

Takatora berhenti melangkahkan kakinya, entah mengapa tiba-tiba ia merasakan firasat buruk. Tak hanya itu, Takatora juga merasakan hawa dingin yang mendekap tubuhnya.

Sosok putih murni.

"Takatora?" Yoshitsugu yang menyadari gerak-gerik teman lamanya itu mulai merasakan sesuatu yang ganjal darinya. Amarah yang bergejolak di matanya entah mengapa menghilang. Dia berhenti menyerang musuh yang menghalanginya seolah-olah dirinya mulai kehilangan arah. Meski jumlah pasukan Shibata mulai sedikit, ia tahu bahwa Takatora bukanlah orang yang meninggalkan tanggung jawabnya.

Manik birunya berpindah ke arah langit. Ia melihat sekumpulan burung beterbangan ke segala arah dari hutan. Tak hanya itu, ia melihat sebuah asap tipis. Takatora yakin bahwa tak ada pasukan yang tengah bersembunyi disana. Ia tak tahu apakah asap itu merupakan sinyal dari pasukan Shibata.

Atau mungkin sinyal yang berasal dari Suzu.

Namun asalnya tidak di markas utama Shibata, melainkan dari hutan. Takatora mengubah arah tujuannya menuju hutan. "Aku harus memastikan sesuatu dulu." Dia berusaha untuk berlari secepat mungkin. Firasat buruk yang mempermainkan perasaannya kian menjadi-jadi. Takatora kembali mengingat apakah dia telah meminta Suzu untuk kembali padanya bagaimana pun hasilnya.

Takatora percaya pada Suzu.

Sangat mempercayainya.

Dia tahu bahwa Suzu adalah perempuan yang tidak ingin mengecewakan atau bahkan mengkhianati orang terdekatnya. Dan dia tahu bahwa kepercayaannya, senyumannya dan air matanya tidak membohonginya.

Namun Takatora mulai menyadari bahwa kebaikan seseorang padanya terasa begitu berat.

"Apakah melindungi sesuatu yang amat berharga... sangat sulit dilakukan? Apakah aku benar-benar bisa melakukannya? Jika aku tidak berhasil, apakah Tuan akan... kecewa padaku?"

Tiba-tiba Takatora berhenti berlari. Manik birunya menangkap sebuah figur seorang gadis bersurai perak yang terlengkup berlumuran darah.

Apa yang terjadi?

Mengapa harus dia?

Mengapa ajal tak hentinya berniat mencabut nyawa gadis itu?

"...Suzu." gumam Takatora sambil berjalan menghampiri Suzu yang tak bergeming sedikit pun. Pria itu berlutut, kemudian hendak meraih wajahnya. "Mengapa kau... Suzu-"

Namun naas, tiba-tiba sebuah kunai hampir melukai tangan Takatora.

"Oh, kau datang tepat waktu. Tak kusangka kau memiliki intuisi yang luar biasa, mantan anjing dari Azai."

Takatora langsung menoleh kearah asal suara, ia menengadahkan kepala menatap seorang wanita bersurai hitam berdiri di hadapan Suzu yang tertelengkup.

Kagome berlutut mendekati Suzu, menarik dengan kasar rambutnya agar Takatora dapat melihat wajahnya yang pucat pasi. "Lihat, perhatikan baik-baik. Ini ulahmu, gadis ini mati karena dirimu."

Takatora masih mengunci perhatiaannya, terdapat linangan cairan merah yang mengering dari matanya serta bekas luka tusukan pada dada kirinya- bagian dimana jantungnya berdetak.

"Kau mengerti? Gadis ini, tidak akan pernah lagi melihat cahaya," ucap wanita itu dengan seringai, terhibur memandang raut wajah Takatora.

Kedua mata Takatora membulat sempurna. Ia merasa hatinya telah pecah menjadi ribuan keping. Seisi kepalanya mulai kacau dan tak beraturan. Hanya terdapat satu kenyataan yang tak dapat dipungkiri.

Suzu telah mati.

"Dengan tanganku, dengan jari-jariku... kau yang telah membunuhnya. Membunuhnya dengan kepercayaanmu. Di saat seperti ini, apa aku harus mengucapkan selamat atas kerja kerasmu atau... permainan sudah berakhir?" Tangannya yang bebas meraba wajah Suzu dengan perlahan, sedangkan tangan sebelahnya masih menarik rambut Suzu.

"...kau. Kau...! Jangan menyentuhnya!" Takatora langsung mencabut pedangnya kemudian menghadang wanita itu. Kagome mengeluarkan bom kilat sehingga sosoknya menghilang tanpa jejak dengan seketika.

Takatora mengepalkan kedua tangannya. "Sial! Sial...!"

Andai saja ia sempat mengejar wanita itu saat di Nagashino. Andai saja ia sempat membunuhnya. Andai Suzu mau menetap di istana untuk menunggunya. Suzu tidak akan mati karena dirinya.

Namun wanita itu benar. Takatora telah membunuhnya dengan kepercayaannya pada Suzu. Kebaikannya yang memiliki keinginan untuk meringankan beban pada pundaknya akhirnya telah membuat Suzu terbunuh.

Hidup berarti kehilangan.

Sekarang apa yang harus ia percayai?

"... Maaf... kan aku... Ta... ka..."

Suara lembut itu langsung menangkap perhatian Takatora. Tangan gadis itu perlahan menyentuh punggung tangan Takatora.

"Suzu! Kau..." Takatora bergegas membawa tubuh Suzu yang lemah ke pangkuannya. Ia sudah tak bisa lagi membuka matanya, namun bibirnya masih bisa bergerak. Takatora menyeka darah pada wajahnya dengan jemarinya. Ia terus berharap berulang kali agar Suzu dapat terus bertahan hidup. "Tak apa. Kau akan baik-baik saja! Jangan takut..."

Suzu tersenyum kecil, ia tertawa mendesah. Dengan sedikit tenaga yang ia miliki, ia kembali menyentuh tangan Takatora yang berada di pipinya.

Sepasang mata biru itu terkunci memandang senyuman yang terukir pada wajah Suzu. Tidak, dari senyumannya itu, Suzu tidak takut. Namun pria itulah yang merasakan ketakutan.

Setiap ia memberikan senyuman dan mendengarkan suaranya. Kekuatan hati tumbuh dari dirinya. Setiap gadis itu berada di sisinya, ia selalu merasakan perasaan yang berbeda dari pada orang lain.

Namun tidak untuk sekarang.

Dirinya merasa lemah.

Ia takut, namun berkeinginan kuat untuk mendekap perasaan itu.

Tak sadar Takatora meneteskan air mata, perlahan jatuh pada wajah Suzu. Ia tak mengerti mengapa dirinya terlihat begitu lemah di hadapan gadis itu.

"Tetap... lah... hi... dup..." lirihnya dengan suara bergetar. Ia memindahkan kedua tangannya pada wajah pria itu, lalu meghapus bulir air bening yang membasahi matanya. "Dai... suki..."

Senyumannya menghilang sekejap bagaikan bintang jatuh, tangannya terlepas dari wajah Takatora. "Suzu!" Ditangkapnya kembali tangan mungilnya yang dingin. Ia terus berulangkali menyebut namanya, namun tak ada jawaban. Dia takkan pernah lagi mendengarnya membalas panggilannya dengan suara manisnya.

"... Suzu, aku akan membawa Oichi-sama kembali. Sampai akhir, kau percaya padaku, bukan? Karena itu, biarkan aku untuk terus mempercayai bahwa kau akan membuka matamu lagi." Takatora memejamkan mata lalu menurunkan kepala, jarak wajah diantara mereka sedikit demi sedikit berkurang. Mempertemukan bibirnya dengan milik gadis yang sudah tak bernyawa itu dengan lembut. Memberikan jawaban dari perasaan yang takkan mengalir.

-XxX-

Pasukan Shibata telah mundur menuju Istana Kitanosho, Hideyoshi memutuskan untuk mengejar mereka. Namun terlambat, setibanya di sana, Istana Kitanosho telah terbakar. Para pasukan tak bisa berbuat appapun selain memandang kobaran api yang membakar istana. Sama seperti dulu, ini kedua kalinya Takatora melihat istana yang terbakar.

Yoshitugu menoleh ke belakang, menyadari Takatora telah datang menyusul. Membaca aliran dari raut wajah Takatora, pria berkerah tinggi itu dapat menebak bahwa ia telah menemukan Suzu. Namun gadis itu tak bersamanya. Padahal ia juga memiliki keinginan yang kuat untuk nenyelamatkan Oichi. "Apa yang terjadi padanya?" tanya Yoshitsugu.

Tak ada jawaban.

Takatora menggertakkan gigi, mencengkram omamori yang pernah Suzu berikan padanya sepuluh tahun lalu.

Pria itu mengarahkan penglihatannya kembali menuju Istana Kitanosho yang terbakar kemudian segera berlari ke dalam, mengabaikan peringatan dari rekan-rekannya yang berusaha untuk menghentikannya.

Dia terus berlari.

Berlari.

Berlari.

Berlari.

Berlari.

Matanya menelusuri setiap sudut istana, asap dan api yang menghalangi penglihatannya membuat Takatora kesulitan mencari keberadaan Oichi.

Ia tak mau menyerah. Ia telah berjanji pada dirinya sendiri untuk menyelamatkan Oichi. Demi dirinya, demi Oichi dan demi Suzu. Sebagai gantinya, ia mengharapkan sebuah keajaiban.

Dia berharap Suzu membuka matanya kembali.

Jika tidak, kesalahannya akan kembali terulang dan takkan bisa diperbaiki untuk selamanya. Karena ia ingin melindunginya sampai kapanpun. Menjalankan kehidupan yang damai bersamanya.

Takatora tahu bahwa ia selama ini menghindari setiap detak perasaan Suzu. Selalu menganggap bahwa ia tak pantas menerimanya. Bagaimanapun juga dialah yang telah menyebabkan Suzu hampir kehilangan nyawanya beberapa tahun yang lalu.

Dia tahu bahwa sudah terlambat untuk menyesalinya.

Langkahnya berhenti, sepasang matanya perlahan terbelalak melebar. Hatinya yang telah pecah berkeping-keping kian melebur.

Pandangannya terkunci memandang Oichi dan Katsuie yang telah tak bernyawa.

Harapannya tak terkabulkan.

Ia telah gagal.

Percuma.

Teriakan serta tangisannya yang diiringi percikan api yang bergejolak bergema di dalam Istana Kitanosho. Takatora meluapkan semua keputusasaannya dengan tangisannya yang tajam. Meremas omamori yang ia pegang sedari dari.

Percuma.

Semuanya percuma.

Apapun yang akan ia lakukan semuanya takkan kembali pulih.

Nagamasa.

Oichi.

Suzu.

Segalanya, takkan kembali seperti yang ia harapkan.

Meski ia harus merobek perutnya, ia tahu kegagalannya takkan pernah terhapus.

Semuanya sudah berakhir.

-XxX-

Takatora kembali menuju tenda. Hideyoshi serta para kashin lainnya bersiap-siap untuk pulang. Matanya yang telah kosong, tak memiliki pancaran cahaya pada manik birunya terkunci memandang Suzu yang masih belum membuka matanya.

Bibir serta kulitnya pucat pasi, darah serta lukanya telah dibersihkan. Mengenakan kimono putih yang hampir menandingi rambut perak murninya membuatnya terlihat seperti malaikat, malaikat yang telah kehilangan nyawanya.

"Suzu-chan! Suzu-chan! Onii-chan, biarkan aku masuk! Aku ingin melihat Suzu-chan! Dia... dia tidak mungkin-"

"Natsuko. Aku mengerti perasaanmu, tapi untuk saat ini biarkan Takatora-dono sendirian bersamanya."

Takatora bisa mendengar bahwa Aki sedang berusaha untuk mencegah adiknya masuk ke dalam tenda.

"Tapi...!"

"Natsuko."

Kini ia mendengar suara tangisan Natsuko, Takatora kembali menyalahkan dirinya sendiri. Karena dirinya, Takatora telah membuat orang terdekatnya harus menghadapi kenyataan pahit.

Takatora duduk di samping Suzu yang tengah tertidur. Dadanya tak bergerak sedikitpun, ia benar-benar sudah tak bernapas lagi. "Maaf," bisiknya. Tangan kekarnya meraih wajah Suzu, merasakan kelembutan pada kulitnya.

Namun terasa sangat dingin.

Air matanya telah mengering, ia sudah tak bisa menangis lagi. Namun Takatora sangat menbutuhkannya.

"...Suzu, apakah kau masih bisa mendengarku? Bisakah kau memberitahuku... mengapa kau tersenyum?"

Pertanyaan itu tak pernah terlepas dari pikirannya.

Pertanyaan itu tak pernah terjawab olehnya.

Dan pertanyaan sama sekali tidak membuatnya menghela napas dengan lega.

-XxX-

-xxx-

DEAD END

-xxx-

-XxX-

A/N : Surprise madafyakya! Ampun! *dicincang Takatora-plak* Rasanya gaya tulisan saya makin gaje, saya malah kurang pede update chapter ini lol. Beribu maaf dan beribu terima kasih.

Saya ngetik chapter ini sambil denger lagu kalafina, judulnya 'Ashita no Keshiki'. Malah makun baper saya. Saya malah ngerasa lagu2 kalafina cocok sama fic ini tehehe. *plak*

Review, please! Thanks for reading and see you in the next chapter!