Disclaimer,

Characters belongs to Kishimito-sensei

Story is mine, Hatake Aria

.

.

Oji-chan … Daisuki!

.

.

.

Chapter 9

.

.

Ino melangkahkan kakinya malas, sedari tadi gadis bersurai pirang pucat tersebut tampak termenung semenjak dirinya memasuki gerbang sekolah. Yah hari ini sudah memasuki bulan September, yang artinya libur musim panas telah berakhir.

Perlahan Ia menghela nafasnya saat dirinya telah berada tepat didepan pintu kelasnya. Sungguh, perkataan Sai minggu lalu masih terngiang jelas dibenaknya.

'Tidak, tidak mungkin kan Ia menyukai pria bersurai merah itu, Gaara itu sahabatnya, dan satu hal yang penting, Gaara menyukai Naruto'

Ino memijit dahinya dengan kedua tangannya, berusaha menghilangkan pikirannya. Perlahan namun pasti, akhirnya Ia melangkahkan kedua kakinya memasuki ruang kelasnya.

"Ohayo minna" sapa nya pelan, namun aquamarine-nya masih betah menatap lantai kelasnya.

Ino meletakkan tasnya, perlahan Ia sedikit mengernyitkan dahinya, bagaikan ada yang kurang, tidak ada yang membalas sapaannya, walau tadi suaranya kecil, namun pasti ada yang mendengarkannya kan, setidaknya sahabat enerjiknya itu akan membalasnya.

Aquamarine-nya mencari sosok yang seharusnya duduk disampingnya. Ia melihat tas milik Naruto telah tergeletak asal diatas mejanya, namun sosok gadis itu tidak ada dibangkunya, dan akhirnya netranya berhenti saat menatap sosok gadis pirang yang sedari tadi dicarinya tengah duduk manis dan mengobrol dengan dua orang teman sekelas mereka disudut kelas.

Ino meletakkan asal tas miliknya, kemudian Ia berjalan pelan mengampiri Naruto yang tampak serius mengobrol dengan Matsuri dan Sara. Ia melirik jam tangannya, masih ada 15 menit lagi sebelum jam pelajaran pertama dimulai. Sepertinya teman-teman wanita nya ini mempunyai banyak cerita selama liburan musim panas.

Ino menarik kursi kosong yang ada didepan meja Matsuri, mendudukkan dirinya, mungkin dengan ikut dalam obrolan bersama teman-temannya ini bisa menghilangkan sesaat pikirannya dari perkataan Sai.

"Ino" Naruto yang sadar sahabatnya itu telah duduk disampingnya, refleks memeluknya.

"Apa yang kalian bicarakan? Sampai-sampai Kau tidak menyadari kedatanganku Naruto" ujarnya tanpa membalas pelukan Naruto.

Perlahan Naruto melepaskan pelukannya, Ia hanya menghadiahi Ino dengan mengerucutkan bibirnya.

"Ne Ino, mungkin Naruto tidak menyadari kehadiranmu karena Ia terlalu fokus mendengarkan penjelasan Matsuri" Sara mencoba membantu Naruto menjelaskannya pada Ino.

Ino memicingkan matanya, kemudian aquamarine-nya fokus menatap Matsuri yang duduk bersebrangan dengan Naruto.

Matsuri yang ditatap Ino refleks mengangkat buku yang sedari tadi dipegangnya. Ino kembali memfokuskan penglihatannya, mencoba membaca judul sampul buku yang dipegang Matsuri.

'10 Tanda Seorang Pria Suka Kepadamu'

"Yahh, dan kalian sedang membahas ini?" Ino setengah mengumpat.

"Ino, pelankan suaramu, Kau tidak inginkan anak lelaki dikelas ini mendengarnya kan" ujar Naruto seraya meletakkan ibu jarinya dibibirnya, mengisyaratkan agar Ino mengecilkan volume suaranya.

"Matsuri, ayo lanjutkan membacanya"

Matsuri hanya menganggukkan kepalanya, sebagai jawaban dari perintah Naruto.

"Oke, Aku ulangi yah, tanda bahwa seorang pria menyukaimu, yang pertama adalah .."

Matsuri berdeham pelan, seolah memberi kesan efek dramatis, sebelum akhirnya Ia mulai melanjutkan kalimatnya.

"Pertama yaitu kontak mata, biasanya para pria akan menatap secara dalam mata wanita yang dicintainya. Ada ketenangan serta kepuasan tersendiri yang akan mereka rasakan ketika dapat menatap keindahan mata orang yang disukainya. Maka dari itu, dengan segala upaya, seorang pria yang jatuh cinta kepada wanita sering melakukan hal yang biasa disebut dengan istilah mencuri-curi pandang"

Matsuri menatap Naruto yang tampaknya sedang berfikir sembari memainkan kedua jari telunjuknya.

"Bagaimana Naruto, apa Dia menatapmu secara dalam, atau Dia suka curi-curi pandang padamu?"

Naruto mengerjabkan kedua sapphire nya kemudian menatap Matsuri yang sedang dalam mode kepo nya, dan ternyata bukan hanya Matsuri, Ino dan Sara juga ikut-ikutan menatapnya, seolah ketiganya sedang mengintrogasinya.

"Yaah, kenapa kalian bertiga menatapku seperti itu?"

Matsuri memutar kedua bola matanya bosan, gadis pirang dihadapannya ini sedang berusaha menghindari pertanyaannya.

"Jawab saja pertanyaanku Naruto"

Naruto refleks menelan saliva nya.

"Sepertinya begitu, Aku rasa Dia memang suka menatapku, dan Aku juga suka melihat sorot matanya saat menatapku" ujar Naruto malu-malu, seraya memainkan kedua jari telunjuknya.

Tanpa sadar Matsuri memukul pelan lengan kiri Naruto, Ia terlalu gemas melihat tingkah malu-malu teman sekelasnya ini, yang dibalas Naruto dengan deathglare andalannya.

"Oke, Aku jelaskan tanda-tanda yang kedua" akhirnya Matsuri lebih memilih melanjutkan bacaannya daripada meladeni perang tatapan mata dengan Naruto.

"Kedua, Dia akan mulai melakukan stalking di medsosmu, misalnya Dia suka memberi komentar disetiap postinganmu"

Matsuri kembali memandang Naruto, namun kali ini sang gadis malah menggelengkan kepalanya pelan.

"Tidak, Ia bahkan tidak punya media sosial, padahal kemarin Aku sudah membuatkannya, tapi sepertinya Ia tidak pernah membukanya sekalipun, Ia terlalu gaptek untuk hal-hal seperti itu"

Ketiga sahabatnya refleks tertawa mendengar penjelasan Naruto.

"Kau menyukai pria dari abad ke-berapa? Tidak mungkin ada pria yang tidak punya media sosial di zaman sekarang ini" ujar Sara sembari mencoba menahan tawanya agar tidak terlalu keras.

"Mou, berhenti mengejekku, Matsuri lanjutkan kembali membacanya"

"Baiklah, Aku akan melanjutkannya, nah tanda yang ketiga adalah, Ia akan sangat peduli padamu sampai Ia juga akan mengalah pada dirimu. Misalnya ketika kamu meminta bantuannya, akan sulit bagi dirinya untuk menolaknya. Dan seorang pria yang sedang jatuh cinta biasanya akan melakukan apa saja untuk kamu, bahkan mengalah untuk kepentingan lain. Ego, sifat keras kepala, dan keangkuhan pria bisa luluh ketika menyukai seseorang"

Naruto kembali mengingat saat Ia meminta sang paman agar mengantri untuknya, mendapatkan tanda tangan dari Utakata-sama, dan Ia juga tampak sangat peduli dan khawatir saat kakinya terkilir dan tidak sanggup berjalan, yang berakhir dengan dirinya digendong sang paman hingga sampai dirumah.

Ino mengamati raut wajah Naruto yang tengah duduk disampingnya, tampaknya sahabatnya ini benar-benar sedang meresapi kalimat yang baru dibacakan oleh Matsuri.

"Eehh, tampaknya Naruto kita sedang jatuh cinta" ujar Matsuri dengan nada setengah mengejek.

Sontak semburat merah kini menghiasi wajah sang gadis bersurai pirang tersebut.

"Matsuri" Naruto meneriakkan nama teman sekelasnya tersebut.

"Bagaimana, apa tanda-tandanya benar semua? Berarti kalau begitu pria itu benar-benar menyukaimu Naruto"

Naruto menatap Matsuri yang saat ini tengah menatapnya intens.

"Kau baru membaca 3 dari 10 bagian, Aku akan tahu sepenuhnya setelah Aku mencocokkan dengan 10 tanda itu"

Matsuri menutup bukunya, kemudian Ia gunakan buku itu untuk memukul kepala Naruto pelan.

"Kau tidak perlu mencocokkan apa yang ditulis dibuku ini, Ini hanya buku, karena yang terpenting adalah perasaanmu sendiri" ujarnya seraya menunjuk dada Naruto dengan telunjuknya.

"Kau menyukainya tidak? Karena walaupun Ia memiliki 10 tanda sesuai yang ada dibuku ini akan percuma saja, jika Kau tidak menyukainya"

Naruto menatap Matsuri, benar yang dikatakannya.

"Tapi sepertinya pria itu tidak bertepuk sebelah tangan, tampaknya Kau juga mulai menyukainya, Iya kan Naruto?" akhirnya Ino angkat bicara, Ia terlalu paham dengan gestur tubuh sahabatnya, tanpa mengatakannya Ia tahu Naruto tengah memikirkan siapa, dan bagaimana perasaanya pada pria itu.

Sapphire Naruto kini terfokus pada perempuan yang duduk disampingnya yang tengah menatapnya sembari tersenyum. Perlahan tubuh gadis itu mendekat kearahnya, mendekatkan bibirnya ke telinga kanannya.

"Dan kurasa Sasuke Ji-chan memang menyukaimu, Naruto" bisiknya kemudian, yang dipastikannya hanya Naruto yang bisa mendengarnya.

.

######

.

Sasuke berjalan menuju ruangan Shikamaru, bahkan dengan seenaknya Ia masuk kedalam ruangan tanpa mengetuk pintu ruangan pemuda bermarga Nara itu sebelumnya.

"Shika, Ka .." kalimatnya tertahan saat oniksnya menatap sahabat sekaligus bawahannya itu terlihat sedang asyik membaca koran diatas meja kerjanya.

"Kupikir ini bukan waktunya membaca koran Nara-san"

Shikamaru yang mendengar suara Sasuke refleks mengalihkan perhatiannya dari deretan huruf di koran yang sedang dipegangnya. Ia tahu jika sahabatnya sekaligus atasannya itu sudah memanggilnya dengan sebutan Nara-san, maka itu artinya Sasuke sedang dalam mode seriusnya. Tapi jika dari intonasi suara Sasuke barusan, tampaknya tidak seserius biasanya, sehingga dirinya masih berani menatap sang bungsu Uchiha tersebut tanpa berniat meletakkan korannya.

"Berita di koran ini terlalu menarik untuk dibaca Sasuke, jadi maaf kalau tadi Aku bahkan tidak menyadari kedatanganmu" akhirnya Shikamaru lebih memilih mengalah dengan cara meminta maaf pada atasannya itu.

Sasuke kemudian mendudukkan dirinya dikursi didepan meja Shikamaru. Perlahan jemarinya meletakkan dokumen yang sedari tadi dibawanya diatas meja kerja Shikamaru.

Shikamaru melirik sekilas dokumen yang baru saja diletakkan Sasuke. sepertinya Ia harus serius saat ini. Akhirnya Ia melipat koran yang sedari tadi dibacanya dan meletakkannya diujung meja kerjanya. mungkin setelah membahas urusan penting dengan Sasuke ini, Ia akan kembali membaca berita di koran pagi yang tadi dibelinya sebelum menuju ke kantor.

Sasuke perlahan membuka mulutnya saat dilihatnya Shikamaru yang telah memasang pose serius.

"Ini laporan penjualan kita 2 bulan terakhir, selama 2 bulan ini penjualan memang naik, tetapi nilai pertumbuhan kenaikannya masih jauh dibawah target, Kau tahu betul Aku telah berjanji pada Ayahku, menargetkan pertumbuhan kenaikan penjualan sebanyak 10%, dan di 2 bulan terakhir ini kita hanya berhasil menaikkan penjualan sebayak 7.8%"

Shikamaru menopang dagunya dengan kedua tangannya, sebuah pose yang selalu dilakukannya saat sedang berfikir. Sesaat Ia memejamkan kedua matanya, kemudian dengan gerakan tiba-tiba Ia mengambil Ipad yang terletak di samping PC nya.

"Kau lihat, ini data pertumbuhan ekonomi kita di tahun ini, bisa dilihat dari data breakdown perbulannya pertumbuhan ekonomi kita malah menurun. Di Juli saja hanya sebesar 5.02%, sedangkan di Agustus malah semakin menurun di posisi 4,97%, itu artinya terjadi penurunan pertumbuhan ekonomi sebanyak 0.05%"

Sasuke mengamati data yang diperlihatkan Shikamaru dari layar Ipad nya.

"Sedangkan penjualan kita di bulan Juli mengalami kenaikan 6,8% dari bulan sebelumnya, dan 7.8% di bulan Agustus, itu artinya Kita sudah jauh lebih baik dari segi penjualan di 2 bulan terkahir ini, padahal kondisi pertumbuhan ekonomi semakin menurun" Shikamaru mengakhiri penjelasannya seraya meng-close data excel pada Ipad miliknya.

Walau telah lama bekerja dengan seorang Shikamaru, tetap saja kemampuan analisa data yang dimiliki sahabatnya ini tetap membuat Sasuke selalu terpukau.

"Kau tahu, sepertinya memang Kita harus selalu melakukan pra Rapat Manajemen berdua sebelum melakukan Rapat Manajemen dengan jajaran Direksi dan Ayahku" ujar Sasuke sembari tertawa kecil.

"Yah, ini bukan pra Rapat Manajemen, Kau hanya berusaha menyamakan alasan denganku kan" sindir Shikamaru sembari menyenderkan tubuhnya kembali di kursi kerjanya.

"Hahahaha, Kau benar-benar mengetahui isi pikiranku Shika" Sasuke hanya tertawa kecil, sahabatnya satu ini sepertinya benar-benar mengetahui isi pikirannya.

Dan Shikamaru hanya memutar kedua bola matanya bosan, Ia kemudian kembali mengambil koran yang tadi sempat disingkirkannya.

"Lalu, ada berita menarik apa dikoran pagi ini?" ujarnya seraya mengambil teh yang ada di meja Shikamaru, sepertinya pria berkuncir itu belum sempat menyentuh teh yang tadi disajikan untuknya, maka tanpa merasa bersalah sedikitpun Sasuke langsung saja menyeruput teh tersebut, dan mengklaimnya sebagai minumannya.

Awalnya Shikamaru memasang ekspresi tidak terima, karena teh yang hendak diminumnya kini malah dengan seenaknya diambil oleh Sasuke. Dan akhirnya pria berkuncir itu hanya bisa menghela nafasnya kasar, bahkan sekilas terdengar kata Mendokusai dari bibirnya. Perlahan Ia kembali fokus pada koran paginya.

"Hanya beberapa berita kriminal, tapi ada yang menarik, seorang mantan actor terkenal ditangkap karena ketahuan melakukan tindakan asusila pada gadis dibawah umur, sepertinya kasus pedofilia semakin banyak saat ini"

Byurr,

Kalimat terakhir Shikamaru sukses membuat sang bungsu Uchiha tersebut menyemburkan teh yang baru saja diminumnya.

"Apa yang baru saja Kau bilang?" ujarnya sembari menyeka ujung bibirnya yang basah akibat perbuatannya sendiri.

Bukannya menjawab, Shikamaru malah lebih memilih melirik kondisi lantai ruang kerjanya yang sedikit becek akibat ulah Sasuke.

"Yaah, setelah ini Kau harus memanggil cleaning service untuk mengeringkan itu" ujarnya dengan nada setengah tinggi.

Sasuke kemudian menarik beberapa lembar tissue dari atas meja Sikamaru, kemudian meletakkannya asal diatas genangan air hasil perbuatannya barusan.

"Kemarikan koran itu" lanjutnya seraya hendak merampas koran tersebut dari tangan Shikamaru, namun sayang ternyata Ia kalah gesit dari sang sahabat.

"Aku belum selesai membacanya, lagipula kenapa Kau tiba-tiba terlihat sangat tertarik dengan berita yang baru kubaca"

Shikamaru melirik Sasuke yang tampak menghindari pandangannya, seketika memorinya mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu, perlahan sebuah seringai tipis menghiasi wajahnya.

"Heehh, jangan-jangan Kau juga sedang terlibat percintaan dengan gadis dibawah umur yah? Aku masih ingat betul waktu beberapa waktu lalu kita di Roponggi, Kau menarik paksa seorang gadis berambut pirang keluar dari klub itu, dan melihat dari wajahnya, Aku yakin 100% kalau gadis itu masih pelajar, iya kan?"

Binggo!

Sepertinya apa yang baru saja diucapkannya benar adanya, kalimat yang baru saja keluar dari bibirnya sukses membuat ekspresi sang bungsu Uchiha tersebut berubah total.

"Apa maksudmu?" kali ini Sasuke mencoba berpura-pura bodoh.

"Kau bukanlah pria bodoh yang tidak mengerti maksudku Sasuke" ujar Shikamaru sembari kembali melipat korannya, kemudian Ia kembali meletakkan koran tersebut disudut meja kerjanya.

Ya, bukan hanya sekali itu saja Ia melihat sahabatnya ini bersama gadis bersurai pirang tersebut, bahkan tanpa sepengetahuan bungsu Uchiha tersebut, Ia pernah melihat keduanya tengah bercerita ditaman kota, terlihat jelas kalau gadis itu masih mengenakan seragam SMA, bahkan Ia juga pernah melihat keduanya tengah berbelanja bersama di Shibuya, karena itu Shikamaru yakin sahabatnya ini memiliki hubungan khusus dengan gadis pelajar tersebut.

"Aku tidak perlu tahu bagaimana dan seperti apa hubunganmu dengan gadis pelajar itu, tapi ingat satu hal Sasuke"

Shikamaru menjeda sejenak kalimatnya, Ia menatap wajah Sasuke yang kembali mencoba memalingkan pandangannya dari dirinya.

"Kau tahu, dunia orang dewasa seperti kita jauh lebih kompleks daripada dunia anak remaja yang masih terkesal labil seperti mereka, dan apabila terjadi suatu masalah yang menimpa kalian, maka gadis itulah yang paling terkena dampaknya, Kau harus mengingat hal itu Sasuke"

.

######

.

Ino menarik pelan lengan Naruto yang hendak pergi mengikuti Gaara keluar kelas menuju kantin.

"Gaara, Kau pergi duluan saja ke kantin, Aku dan Naruto akan menyusul sebentar lagi" perintah Ino pada Gaara, yang tampak sedang menunggu mereka untuk mengikutinya.

Naruto mengarahkan kedua sapphire-nya menatap Ino yang tengah mencengkram lengan kirinya.

"Baiklah, kalau begitu Aku pergi duluan" ujar Gaara yang sudah berdiri didepan pintu, melambaikan tangannya sesaat sebelum akhirnya dirinya menghilang dari pandangan kedua sahabat wanitanya itu.

Ino menarik lengan Naruto, memaksa sang sahabat agar kembali duduk dibangkunya.

"Hey, Kau berhutang banyak cerita padaku"

Naruto mengerjabkan kedua sapphire-nya, tampaknya gadis bersurai pirang ini masih belum memahami sepenuhnya maksud perkataan sahabat kecilnya ini.

"Ck" Ino mendecak kesal, terkadang Naruto terlalu lamban dalam berfikir.

"Sepertinya banyak yang telah terjadi antara dirimu dan si Ikemen Oji-san selama liburan musim panas ini" ujar Ino to the point sembari memainkan kedua alisnya, naik turun.

"Eh"

Ino hanya memutar kedua bola matanya bosan.

"Bukan eh Naruto, ayo ceritakan padaku" perintahnya, Ia sudah terlalu gemas melihat tingkah sahabatnya yang satu ini.

"Maksudmu cerita apa? Dan apa-apa an itu Ikemen Oji-san"

Ino menyentil pelan kening Naruto.

"Tanpa Aku menyebutkan namanya, tentu Kau sudah tahu siapa yang kumaksud. Cepat ceritakan padaku, apa saja yang sudah terjadi dengan kalian berdua selama liburan musim panas ini? Bukankah Dia tinggal disebelah rumahmu" ujar Ino dengan nada yang cukup keras.

"Sstt, Ino pelankan suara mu" lanjut Naruto seraya mengisyaratkan Ino agar mengecilkan volume suara nya.

Ino hanya mengangguk singkat, sebagai jawaban ya atas perintah Naruto.

"Kenapa Kau memiliki pikiran Aku memiliki hubungan dengan Sasuke Ji-chan?"

Ino kembali memutar kedua bola matanya bosan.

"Saat tadi pagi kita membahas 10 tanda .., apalah itu, dengan Matsuri dan Sara, Aku tahu betul siapa pria yang sedang Kau pikirkan saat itu, terutama di bagian kedua saat Matsuri mengatakan tentang Media Sosial, Aku ingat betul dulu Kau pernah bercerita bahwa si Ikemen Oji-san itu benar-benar sangat buta dengan yang namanya hal-hal berbau media sosial, dan setahuku satu-satu nya pria yang belakangan ini sedang dekat denganmu adalah si Ikemen Oji-san itu, yah diluar Ayahmu dan Gaara"

Ino menatap raut wajah Naruto, tampaknya semua yang barusan dikatakannya benar adanya.

"Dan waktu Aku tidak jadi menemanimu ke acara fansign Utakata-sama, bukankah Kau mengatakan padaku kalau Kau mengajak si Ikemen Oji-san itu untuk menemanimu" lanjut Ino.

"Mou, berhentilah memanggilnya Ikemen Oji-san, Aku sedikit janggal mendengarnya" pinta Naruto dengan rona merah yang kini mulai menghiasi wajahnya.

"Dia memang tampan, jadi tidak salah juga kan kalau Aku memanggilnya seperti itu" jawab Ino acuh seraya mengendikkan kedua bahunya.

"Lalu, apa benar kalau Kau menyukainya?"

Naruto refleks menutup mulut Ino dengan kedua tangannya, saat volume suara sang sahabat kembali meninggi.

"Pelankan suaramu"

Ino segera melepaskan tangan Naruto yang menempel dibibirnya.

"Sepertinya Aku memang menyukainya" aku Naruto dengan suara yang nyaris tak terdengar.

"Sepertinya?" Ino menaikkan sebelah alisnya.

"Hei, Aku kan tidak tahu bagaimana perasaannya padaku Ino-chan, Kau tahu kan dia pria dewasa, sedangkan kita hanya pelajar SMA, bagaimana kalau ternyata Dia hanya menganggapku sebagai keponakannya? Bagaimana pun Aku telah mengenalnya sejak kecil, dan Kau juga ingat kan, kalau dulu Dia pernah berpacaran dengan Karin Ba-chan" akhirnya Naruto mengungkapkannya pada sang sahabat.

"Kalau begitu Kau tinggal mengatakan padanya tentang perasaanmu"

Naruto menatap Ino dengan tatapan horror nya.

"Lalu bagaimana kalau ternyata Dia mengatakan 'Maaf, Aku hanya menganggapmu sebagai keponakanku' " ujar Naruto mencoba mengikuti gaya bicara dan suara Sasuke.

"Mau taruh dimana muka ku Ino, lagi pula aku belum siap patah hati"

Ino menatap raut wajah Naruto yang mendadak lesu, bahkan baru memikirkan dirinya ditolak oleh sang Ikemen Oji-san membuat sahabatnya itu tampak tak bersemangat seperti itu.

"Bukannya dari ketiga tanda yang tadi pagi kita bahas tampaknya Dia juga memiliki perasaan yang sama padamu Naruto? Itu artinya Kau masih punya kesempatan" Ino mencoba menyemangati sang sahabat, kata-katanya barusan bukan hanya sekedar kalimat penyemangat untuk sang sahabat, Ia masih ingat betul saat dirinya bertemu dengan Sasuke, saat Ia dan Gaara datang kerumah Naruto untuk mengerjakan tugas liburan musim panas mereka, dari gestur tubuh dan tatapannya pada Naruto saat itu, dan bagaimana perubahan raut wajah sang pria dewasa itu saat menatap Gaara, Ino paham betul akan hal itu.

"Selain menemanimu ke acara fansign Utakata-sama, apa saja yang sudah pernah kalian lakukan bersama?"

Perlahan Naruto menghela nafasnya, Ino mulai masuk kedalam zona want to know nya.

"Aku pernah menemani Dia berbelanja, pernah juga Ia membantu mengerjakan tugas liburan musim panas ku kemarin, dan Ia juga pernah sekali menginap dirumahku saat Kaa-san dan Otou-san pergi ke Amerika, lalu .."

"Maksudmu kalian tidur sekamar begitu?"

Ino langsung memotong perkataan Naruto, yang dibalas anggukan singkat oleh sang gadis.

"Berdua saja?"

Naruto kembali mengangguk singkat, namun beberapa saat kemudian Ia menggoyangkan kedua tangannya dihadapan Ino.

"Itu tidak seperti yang Kau pikirkan Ino. Walau Ia tidur di kamarku, tapi Ia tidur menggunakan futon dibawah ranjang ku" Naruto mencoba mengklarifikasi.

"Dan tidak terjadi apa-apa antara kalian malam itu?"

Refleks wajah Naruto memerah seketika, Ia kembali mengingat kejadian saat Sasuke mencoba menjahili dirinya, Ia kembali mengingat jarak antara dirinya dan sang paman saat itu yang sangat dekat, bahkan Ia sempat berfikir kalau sang paman akan mencium dirinya.

"Kenapa wajahmu tiba-tiba memerah?" tampak seringai jahil menghiasi bibir Ino.

"Apa Dia mencium mu?" lanjutnya.

"Tentu saja tidak, Dia tidak akan berani melakukannya" jawab Naruto sembari mencoba menetralkan kembali emosinya, berharap rona merah yang menghiasi wajahnya segera menghilang.

"Atau sebenarnya Kau ingin Dia melakukan itu padamu?"

Tampaknya menggoda Naruto bisa menjadi hobbi baru gadis Yamanaka tersebut. Seumur pertemanannya dengan Naruto, baru kali ini Ia melihat sahabatnya ini tertarik dengan seorang pria.

"Mou Ino, berhenti menggodaku" ujar Naruto seraya mendorong pelan bahu kiri sang sahabat.

Ino hanya tertawa kecil melihat tingkah malu-malu Naruto.

"Hei Aku yakin 100%, kalau si Ikemen Oji-san itu juga punya perasaan yang sama padamu"

Ino menatap Naruto, tampak dari raut wajahnya gadis itu belum sepenuhnya percaya dengan perkataannya barusan.

"Percayalah padaku, insting wanita ku mengatakan seperti itu"

Naruto hanya tertawa kecil menanggapi perkataan Ino barusan.

"Insting apa an" ledeknya.

Ino memutar kedua bola matanya bosan, kredibilitasnya saat ini tengah dipertanyakan Naruto.

"Kalau Kau tak percaya juga, bagaimana kalau kita hubungi Dia, bilang kalau Kau menyukainya, sini berikan ponselmu, jika Kau tidak berani, biar aku saja yang melakukannya" ujar Ino seraya mengambil smartphone Naruto yang terletak sembarang diatas meja, dan tanpa menunggu lama, Ino segera berlari sembari membawa smartphone milik Naruto.

"Yaah, Ino!" refleks Naruto segera bangkit dari kursinya, berlari mengejar Ino yang sudah berada di ambang pintu kelas mereka.

"Berani Kau melakukannya, maka Aku tidak akan pernah memaafkanmu"

Naruto terus berlari mengejar Ino, tampaknya ketakutannya telah membuat otaknya berhenti bekerja, Ino tidak akan mungkin bisa membuka smartphone-nya, apalagi mengirim sang paman pesan cintanya, tak ingatkah Naruto kalau Ia menggunakan sidik jarinya sebagai password dari smartphone-nya?

.

######

.

Sasuke menatap jajaran pohon maple berwarna jingga yang kini menghiasi trotoar pembatas jalan. Ia kemudian mengeratkan lilitan scraft merah yang melingkar di lehernya, dan kembali mengeratkan coat yang melapisi tubuhnya. Suhu udara pertengahan bulan November yang mulai dingin tampaknya tak membuat bungsu Uchiha ini mengurungkan niatnya untuk menghabiskan sabtu sore nya dengan berjalan-jalan santai di jajaran pertokoan yang tak jauh dari apartemennya.

"Ah, maaf"

Sasuke menatap seorang gadis SMA yang tak sengaja menabrak dirinya, gadis itu hanya menundukkan singkat kepalanya sembari berlalu pergi meninggalkan dirinya, bahkan tanpa menunggu balasan darinya.

Sasuke memejamkan kedua oniksnya sesaat, mencoba melupakan perilaku gadis SMA tersebut. Iya kemudian kembali memfokuskan oniksnya ke jalanan didepannya.

Melihat gadis SMA tadi, seketika Ia kembali mengingat gadis bersurai pirang yang selama 2 bulan lebih ini tidak pernah dilihatnya. Bukan karena gadis itu sedang pergi sehingga Ia tidak pernah berjumpa kembali dengannya, namun karena Sasuke sendiri lah yang mencoba menghindari gadis tersebut. Tampaknya perkataan Shikamaru saat itu benar-benar membuat pikirannya kembali tersadar.

Haahh,

Sasuke menghela nafasnya kasar.

Drrtt … Drrrtt …

Dirasakannya smartphone yang berada disaku celananya bergetar, langsung saja Ia mengambilnya. Tampak sebuah notifikasi pesan singkat dari sang Ibu.

'Kapan Kau pulang kerumah?'

Ia hanya membaca isi pesan sang ibu melalui notifikasi, tak berniat membukanya atau membalasnya. Ia kemudian segera meng-clear seluruh notifikasi pada layarnya.

Saat seluruh notifikasi telah menghilang dari layar smartphone-nya, tampak sebuah foto seorang gadis bersurai pirang yang tengah tertidur yang menjadi wallpaper pada layar smartphone-nya. Ia ingat, foto itu diambilnya saat Ia menginap dirumah sang gadis.

Oh, betapa Ia sebenarnya sangat merindukan gadis bersurai pirang itu.

Ia akui kalau sebenarnya Ia menaruh rasa pada sang gadis, namun sayang, tampaknya perasaannya itu harus Ia kubur dalam-dalam, Ia terlalu pesimis dengan hubungan beda usia mereka yang terpaut sangat jauh, perbedaan 11 tahun terlalu mencolok. Ia terlalu takut dengan tanggapan orang lain nantinya, bahkan Ia juga takut akan merusak masa remaja sang gadis. Mungkin gadis itu akan menjadi pembicaraan atau bahan ejekan teman-teman di sekolahnya, jika Ia ketahuan memiliki hubungan dengan pria berusia 27 tahun.

Sasuke menghentikan langkahnya, Ia kemudian membuka salah satu aplikasi pada smartphone-nya. Tampak disana deretan pesan dari Naruto untuknya yang hanya dibaca olehnya tanpa ada satupun yang dibalas olehnya. Hampir seluruh isinya menanyakan keadaan nya, dan beberapa pertanyaan 'kapan Ia pulang kerumah'.

Sasuke kembali menghela nafasnya, kemudian Ia meng-close aplikasi Line miliknya, setelah memastikan layar smartphone-nya terkunci, Ia kemudian kembali memasukkan benda persegi panjang tersebut kedalam saku celananya.

Ia kemudian melanjutkan perjalanannya, tampaknya Ia butuh secangkir kopi hangat sore ini.

Ia sudah membulatkan tekadnya untuk berusaha menjauh dari sang gadis, semua yang dilakukannya ini juga demi kebaikan sang gadis. Namun sayang, tampaknya niatnya itu hanya tinggal sebatas niat. Tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini, dilihatnya seorang gadis bersurai pirang dengan coat berwarna kuning pastelnya tengah berdiri menatap deretan kue yang terpajang rapi di etalase sebuah toko. Sebenarnya Ia ingin berlari memutar arah agar tidak bertemu dengan sang gadis, namun tampaknya tubuhnya menolak untuk digerakkan.

Naruto yang tak menyadari keberadaan Sasuke tampak masih setia menatap jajaran kue khas Perancis yang tertata rapi di etalase toko. Bagaikan mendengarkan sebuah bisikan, seirama dengan angin yang berhembus sore itu, Ia pun mengalihkan pandangannya dari etalase toko tersebut. Tampak di kedua sapphire nya seorang pria yang sangat dikenalnya tengah berdiri beberapa meter dari tempatnya berada saat ini. Pria itu tidak bergeming sedikitpun, akhirnya Ia mengambil inisiatif, berlari kecil menghampiri pria yang tiba-tiba menghilang dari kehidupannya selama 2 bulan lebih.

"Oji-chan"

Sasuke kembali tersadar saat suara mungil itu kembali bergema di indra pendengarannya. Ia menatap wajah gadis yang sudah lama tidak dilihatnya ini.

"Oji-chan, kenapa Kau tiba-tiba menghilang? Kau juga sudah tidak pernah lagi pulang kerumahmu"

Sasuke hanya menatap Naruto tanpa berniat menjawab pertanyaannya, kedua tangannya masih betah berada di dalam saku baju hangatnya.

"Kau tidak pernah membalas satupun pesan ku, padahal Kau membacanya kan?" akhirnya Naruto mengeluarkan keluh kesahnya.

"Kau bahkan tidak mengucapkan selamat ulang tahun padaku"

Kedua sapphire Naruto tampak mulai berkaca-kaca. Dan kedua oniks Sasuke melebar seketika tatkala cairan bening itu mengalir dari kedua sapphire sang gadis.

"Kau tahu, Aku sangat mengkhawatirkanmu, Ku pikir telah terjadi sesuatu pada .."

Belum sempat Naruto menyelesaikan kalimatnya, dirasakannya kedua lengan Sasuke menyentuh punggungnya, Sasuke memeluk dirinya.

Sasuke tidak bisa menahan dirinya, Ia refleks memeluk gadis itu tatkala melihat gadis yang disukainya itu tiba-tiba menangis karena dirinya. Ia masih bisa merasakan sang gadis masih menangis dalam pelukannya.

"Maaf"

Hanya kata itu yang bisa Ia keluarkan saat ini, perlahan Ia mengeratkan pelukannya, membelai lembut surai keemasan sang gadis.

"Maaf"

Ia kembali mengucapkan kata itu, sementara sang gadis masih betah menangis seraya mencengkram baju hangatnya.

Kali ini Ia tidak peduli apa yang dikatakan Shikamaru atau apa yang akan dikatakan orang lain tentangnya, karena yang Ia tahu, Ia mencintai gadis yang kini berada didalam pelukannya.

.

######

.

.

TBC

.

.

I've only got a few review for the last chapter, so I think it's not interested enough to continue.

But …

Ada seseorang yang membuat Aku tertawa terbahak-bahak saat membaca review miliknya. Sumpah, baru kali ini aku benar-benar dibuat tertawa hanya dengan sebuah review.

Arigatou L-san.

So, this chapter I dedicated to you.

Yah, seperti yang kita tahu, saat usia sudah mulai memasuki kepala 3, seluruh sendi-sendi akan mulai mengalami encok pegal linu, mungkin itu yang dinamakan pengeroposan tulang, makanya sedari muda harus minum susu Anli**

Oke, just forget it.