Author cuap cuap: Maaf sebelumnya atas kesalahan author yang lancang mencuri karya Author terkenal. FF ini memang Plootnya hampir sama dengan novel JL. Seperti yg Author katakan di part awal 'Terinpirasi' adalah kesalahan Author.
Dan karena ada yang mengatakan FF ini terlalu sama persis Author mohon maaf jika itu memang benar. Author hanya memberitahu akan menulis kata SANDURAN demi kenyamanan bersama. Jika minat silahkan lanjutkan baca jika tidak tolong tekan back (jangan bilang tidak tahu dimana dan maksa lanjut kemudian nanti kecewa author gx tanggung).
Bagi yang sudah pernah baca Novel asli atau punya anda bisa bandingkan bahwa dialog 100% murni milik Author. Author sadar kesalahan adalah kesalahan karena lancang tidak menulis Sanduran lebih awal. Dan jangan harap akan sama karena hasilnya akan sangat berbeda. Maaf telah membuat kalian kecewa jika masih ada yang keberatan tolong katakan dan FF ini akan Author hapus.
Kamsahamnida dan Maaf ~BOW~
~Novel author di pinjam sepupu jadi gak bisa buat SANDURAN yang sama seperti novel asli~
THE PEARL JADE
Sulis Kim
Happy Reading...!
Sorot mata Changmin tidak berubah atau terkejut mendengar pengakuan Kyuhyun. Mereka saling menatap satu sama lain dalam waktu yang cukup lama sampai Jenderal Shim menghela nafas dan menyilangkan tanganya di dada.
"Kau pikir aku akan mempercayai ucapanmu setelah kemarin kau mengatakan Jaejoong kabur dari rumah karena perjodohan yang di lakukan keluarganya. Sekarang ..." Changmin mencondongkan tubuh kearah Kyuhyun. " Kau mengatakan Jaejoong adalah putri mahkoda Sanko yang ku ingat mereka keturunan Dinasti Han, sepertinya kalian salah menyebutkan nama marga Jaejoong atau mereka berganti marga dengan marga Kim saat ini?."
Sial. Kyuhyun tidak memikirkan kemungkinan yang satu ini, Jenderal Shim Changmin tidak mempercayai pengakuanya. Oh ingin rasanya ia menjedukan kepala di meja atas mulut besarnya yang mengatakan alasan alasan konyol sebelumnya.
Memasang wajah tenang seperti biasa Kyuhyun mundur untuk duduk tegak di atas kursi yang entah mengapa tiba tiba terasa semakin keras dan dingin."Aku hanya berkata jujur, terserah kau percaya atau tidak, ingatlah! Mungkin saat ini prajurit Sanko sedang menyusun penyerangan dan mereka belum mengetahui tentang putra mahkota telah terbunuh, aku peringatkan kepadamu untuk segera menyiapkan ribuan prajurit perang jika kalian ingin menang dari Kerajaan Sanko." Kyuhyun berdiri dan kembali ke kamarnya tanpa mengatakan apapun lagi, meninggalkan Changmin dengan pikiranya yang berkecamuk.
Tidak mungkin Jaejoong adalah putri mahkota, seorang putri kerajaan tidak diijinkan memegang pedang apalagi menguasai ilmu bela diri yang sama seperti yang di miliki Jaejoong, wanita keras kepala dan pandai bela diri penuh siasat itu pastilah bukan seorang putri. Jaejoong berbicara dengan logat putri keluarga terpelajar namun tidak segan segan mengumpat dan menghina seorang Pangeran, seorang Putri tidak akan melakukan hal itu. Juga, mereka tidak perlu merahasiakan jati diri mereka seandainya mereka benar benar keluarga kerajaan dan untuk apa mereka berada di pulau Nami.
Tidak! Tentu saja tidak. Kyuhyun pastilah berbohong. Changmin sangat tahu hukuman apa atas penahanan keluarga kerajaan, yaitu hukuman gantung dan jika benar pria yang telah Hyunjoong bunuh adalah putra mahkota, peperangan dua negara tidak akan terelakkan lagi.
.
.
.
Memikirkan perang, bulu kuduk Changmin meremah, demi Tuhan, kerajaan Sanko adalah kerajaan besar, jauh lebih besar dari kerajaan Gogueryeo dan dalam hitungan hari Prajurit Sanko akan meratakan daratan Korea seandainya apa yang dikatakan Kyuhyun memang benar.
Astaga. Apa yang kau takutkan Changmin, mereka tidak mungkin bagian dari keluarga kerajaan, Kyuhyun hanya mengarang cerita untuk membuatmu kehilangan konsentrasi dan di hantui rasa takut. Ini hanya siasat mereka, Pangeran Yunho mungkin akan melepaskan mereka dan mereka akan bebas. Itulah tujuan Kyuhyun dengan mengaku sebagai keluarga kerajaan Sanko
"Selamat malam, semoga tidurmu nyenyak, dan memimpikan aku sama seperti aku yang memimpikanmu setiap malamnya."
Itu adalah kata perpisahan yang Yunho katakan kepadanya setiap malam sebelum Pangeran itu meninggalkan Jaejoong di balik selimut untuk pergi tidur di kediaman yang berbeda.
Ini adalah hari keenam dimana Jaejoong menjadi anak manis penurut yang hanya berbaring di atas ranjang dan berjalan jalan ringan di taman sekeliling kediaman yang di tinggalinya. Selama itu pula Yunho menepati janjinya untuk tidak menyentuh Jaejoong, setidaknya tidak dengan sengaja.
Yunho juga sangat perhatian, selalu menghawatirkan keadaan Jaejoong dan luka di perutnya, Yunho selalu mengalah terhadap perdebatanya dengan Jaejoong, pria itu juga tidak melewatkan makan malam bersama Jaejoong setelah menyelesaikan tugas negara di siang hari dan tanggung jawabnya sebagai Pangeran Gogueryeo.
Kelembutan dan kesabaran pria itu membuat Jaejoong was was, bagaimanapun juga ia adalah seorang gadis polos yang belum begitu mengenal tentang hubungan sesama lawan jenis, namun dirinya tidak bodoh ketika Yunho mengatakan menginginkanya naik keatas ranjang bersamanya dan mengatakan kata kata manis yang membuat hatinya berbunga bunga. Pangeran Jung Yunho menginginkanya. Astaga, apakah ia salah seandainya bermimpi menjadi seorang Ratu Gogueryeo selanjutnya.
Jaejoong menggeleng, mencoba membuang jauh jauh pikiran itu dari tuhan pria itu membuat Jaejoong gelisah dengan sentuhan kulit yang tanpa sengaja terkadang mengirimkan sesuatu perasaan merinding sekaligus nyaman sampai Jaejoong berharap pria itu kembali menyentuhkan kulit mereka dan tentu saja Yunho tidak melakukan itu.
Yunho juga menepati janjinya dengan membebaskan prajurit yang tersisa dan menjadi prajurit Gogueryeo, selama itu pula dirinya belum bertemu dengan mereka.
"Nanti, setelah kau sembuh kau bisa bertemu dengan mereka." kata Yunho pada suatu malam.
Pria itu baru saja keluar dari kediaman Jaejoong usai mereka menyantap makan malam dan seperti biasa Jaejoong hanya diam dan mendengarkan pria itu bercerita tentang kejadian sepanjang hari ini yang pria itu lakukan di luar sana.
Sore ini Jaejoong mendapatkan surat dari Yoochun yang mengakatan akan menemui Jaejoong. Dan Jaejoong sudah menyiapkan pakaian laki laki di lemari yang diberikan Yoochun melalui salah seorang pelayan wanita, melihat pelayan itu tersenyum ketika menceritakan Yoochun pastilah pria berjidat lebar itu menggoda pelayan wanita yang memang Jaejoong akui cukup cantik itu.
Sebentar lagi Yoochun akan datang, ia harus segera bersiap siap. Luka di perut sudah cukup membaik hasil dari tiduran dan menahan amarah selama enam hari lamanya telah membuahkan hasil begitu besar. Biasanya Yunho tidak akan datang berkunjung setelah pria itu mengunjunginya, dan Jaejoong yakin, pria itu tidak akan datang lagi untuk memastikan keadaanya baik baik saja.
Mengeluarkan bungkusan kain dari lemari Jaejoong mengeluarkan pakaian pria dan dengan cepat menanggalkan pakaianya sendiri kemudian memakai pakaian berwarna hitam ala ninja tersebut.
Malam sudah cukup larut ketika terdengar suara ketukan di jendela, begitu ringan sampai Jaejoong harus memasang telinga setajam mungkin untuk mendengarkan ketukan itu tepat kedua kali orang di luar sana mengetukkan punggung jarinya.
Melangkah dengan cukup ringan ia tidak ingin membuat prajurit yang berjaga di luar mendengar. Jaejoong membuka jendela dengan hati hati mendapati Yoochun di luar sana yang mengisyaratkan Jaejoong untuk keluar.
Mereka berdua berlari di antara kegelapan malam menghindari cahaya rembulan sebisa mungkin, berlari menyusuri tepi bangunan dan naik keluar gerbang kediaman Jaejoong dan mendapati tiga orang lain sudah menunggu mereka disana.
Jaejoong menurunkan cadar yang menutupi separuh wajahnya ketika mengenali mereka sebagai Siwon Kyuhyun dan Leeteuk.
"Aku sudah memeriksa tempat senjata dan hanya menemukan senjata kami, dan aku tidak menenukan senjatamu ataupun pedang Hankyung." Kyuhyun berkata lirih.
"Mereka menguburnya dengan mayat Hankyung, Siwon melempar pedang itu sebelum mereka menutupi ..."
"Oh, bisakah kalian jangan bahas masalah itu." Suara Jaejoong terdengar sedikit bergetar. "Aku yakin Hankyung masih hidup." Ia berbalik kearah Siwon untuk menatap pria itu dengan tajam. "Aku tahu kau merahasiakan sesuatu dariku."
Jaejoong berharap dirinya tidak terlalu banyak berharap akan tetapi tetap saja ia ingin terus berharap bahwa kematian kakaknya hanyalah siasat mereka untuk menyelamatkan Hankyung yang terluka.
"Bukan Siwon, tetapi aku." Yoochun menjawab." Aku harap Hankyung masih hidup dan dapat keluar dari lubang itu mengingat mereka hanya mengubur mayat mayat secara asal dan tidak begitu dalam, di tambah pagi hari saat kita ditangkap hujan, pastilah tanah itu mudah longsor."
Mereka semua terdiam untuk berpikir dan mencerna, heningnya malam hanya terdengar suara jangkrik dan hewan malam lain serta hembusan angin dingin yang melingkupi tubuh mereka.
"Kami sengaja meninggalkan senjata disisinya, beruntunglah mereka tidak mengambil senjata mereka yang tewas seperti yang Kerajaan Sanko lakukan usai perang terjadi, karena mereka buru buru untuk pergi, ku harap Hankyung bisa membebaskan diri."
Jaejoong menatap Yoochun. "Untuk apa kau mengumpulkan kita disini."
"Kita tidak dapat berbicara bebas di siang hari, kami dipisahkan satu sama lain untuk menghindari pemberontakan yang mungkin kita susun untuk melawan mereka." Siwon menjelaskan.
Jaejoong mendengus. Dan Yoochun segera memelototi wanita itu. "Demi tuhan, Jaejoong, kau seorang putri sungguh tidak pantas untuk mendengus dan berkata kasar."
"Berhenti bertele tele cepat katakan padaku apa maksudmu dengan mengumpulkan kami disini."
Kali ini Kyuhyunlah yang menjawab." Aku mengatakan rahasia kita kepada Jenderal Shim."
Jaejoong mendelik."Kyuhyun, kenapa kau mengatakanya. Ya Tuhan, bisa saja mereka mengira kita mata mata Sanko yang sedang menyusun siasat untuk menyerang kerajaan Gogueryo dan berniat melumpuhkan Korea."
Siwon merangkul Jaejoong untuk menenangkan wanita muda itu. "Tidak perlu khawatir, Jenderal Shim sepertinya tidak mempercayai Kyuhyun."
Rasa tak percaya menyelimuti hati Jaejoong," Jadi dia tidak mempercayaiku bahwa aku adalah putri kerasaan Sanko."
Leeteuk mendengus. "Lihatlah dirimu, sungguh sangat tidak mirip."Kyuhyun menyerigai, matanya menyelusuri tubuh Jaejoong dari atas sampai bawah.
Mereka kembali diam dengan pikiran mereka masing masing. Jaejoong harus berpikir, berpikir bagaimana cara untuk membebaskan mereka tanpa memicu perang dari kedua belah pihak sebelum Raja Sanko menyadari kepergian mereka dan mencarinya.
Sial, Ayahnya pasti sudah mengerahkan seluruh prajurit untuk mencari mereka dan Jaejoong harus bertindak cepat sebelum mereka tau Dirinya berada disini, ia tidak menginginkan perang yang hanya akan memakan korban prajurit yang tidak bersalah. Oh, Tuhan, seandainya saja ia tahu masalahnya akan seperti ini.
"Aku harus menemukan pedang Merak milikku dan memastikan ke pulau Nami bahwa Hankyung dapat keluar dan jika dia memang mati, aku harus melihat mayatnya atau paling tidak tulang belulang yang memakai pakaianya,,," Ia terdiam ketika kengerian merayap masuk ke ulu hati, kemudian melanjutkan."Jika memang dia masih hidup aku yakin Hankyung berada tidak jauh dari kita untuk membebaskan kita semua." Dan mereka berpendapat sama.
"Tetapi kita tidak tahu dimana pedangmu meskipun aku sudah menemukan peta dan kita membutuhkan kuda untuk membawa kita ke pulau Nami," Siwon berkata." Perjalanan hanya butuh satu hari untuk sampai kesana jika kita menunggang kuda dan resiko tertangkap akan sangat kecil."
"Mencuri kuda bukan hal yang mudah, karena kuda tidak bisa di ajak kerja sama,"
"Kecuali kita menyuruh Donghae, dia ditugaskan disana dan sangat mudah untuk mencuri dua kuda atau tiga kuda."
"Hanya butuh satu dan itu untukku." Jaejoong menyahut.
"Jangan konyol aku Siwon dan Yoochun yang akan pergi." Leeteuk berkata." Kami bertiga tidak terluka dan..."
"Tanpa aku tidak ada yang boleh pergi." Astaga wanita keras kepala ini benar benar mirip Ratu Zao wei yang tidak takut terhadap apapun. Mereka tetap diam karena tidak akan ada untungnya membantah Jaejoong jika wanita muda itu sudah memutuskan.
"Sekarang kita perlu mencari senjatamu terlebih dahulu."
"Aku sudah bertanya kepada prajurit lain dan mereka mengatakan tidak melihat pedang seperti milikmu setelah pertandingan itu di lakukan." Kyuhyun kembali memberitahu.
Dan Jaejoong sepertinya tahu dimana harus mencarinya." Aku tahu dimana pedang itu berada, aku tidak akan pergi tanpa pedang Merak milik ibuku." Ia berkata yakin.
Yang lain menatapnya terlejut. "Dimana."
"Di kediaman Pangeran Yunho." Mata para sahabatnya itu menatap Jaejoong terbelalak.
"Jangan katakan padaku kau akan kesana untuk mengambilnya."
"Tentu saja aku akan mengambilnya."
"Tidak, kau akan tetap disini sampai aku mengambilkanya untukmu." Yoochun menahan Jaejoong ketika wanita itu sudah akan berlari pergi.
Yoochun, menyelinap? Oh, pria itu akan ketahuan sebelum membuka pintu dan Jaejoong tidak akan membahayakan nyawa Yoochun demi pedangnya, meskipun pedang itu sangatlah berharga.
"Aku sendiri yang akan masuk, kalian mengawasi di luar dan aku akan kembali dengan cepat." Meskipun menyelinap kedalam kediaman seorang pangeran sangatlah beresiko, Jaejoong yakin dirinya tidak akan ketahuan, dan meskipun Yunho menyadari kehadiranya, Jaejoong sudah memikirkan hal apa yang akan dilakukan atau dikatakanya nanti.
"Aku pastikan aku akan segera kembali." Wanita itu kembali berjalan mengendap ngendap menuju kediaman Pangeran Yunho yang tidak begitu jauh dari kediaman Jaejoong, tanpa menunggu yang lain yang juga mengikutinya di belakang.
Seperti dugaan mereka tempat itu dijaga banyak prajurit meskipun malam sudah lewat dari dua dentungan suara waktu tengah malam. Jaejoong mengisyaratkan untuk menyuruh mereka diam dan menunggu disana dengan dirinya melompat dari atas gerbang dan turun kesemak semak taman yang tidak begitu tinggi.
Mata keempat sahabat Jaejoong mengawasi sekeliling ketika melihat Jaejoong berhasil menyelinap masuk melewati gazebo di sebelah kiri bangunan utama dan saat Jaejoong menghilang di belakang bangunan utama Yoochun melihat bayangan lain dari sisi lain wanita itu masuk.
"Sial, ada penyusup lain di dalam sana." Yoochun melompat turun tanpa menunggu yang lain, dan tidak lama setelahnya mereka semua mengikuti pria itu, karena mereka tidak melihat bayangan yang di katakan Yoochun barusan.
.
.
.
Kediaman utama Pangeran Yunho masih terlihat terang disisi kiri sayap bangunan dengan pelayan dan prajurit menunggu di luar pintu.
Ragu ragu Jaejoong menatap sekeliling untuk mencari kira kira di tempat mana Yunho menyimpan pedang miliknya. Ia sudah memeriksa sayap kanan dan tidak menemukan apapun kecuali ruang buku dan aula rapat yang mungkin digunakan untuk rapat kecil di kediaman pangeran dan kamar Pangeran Yunho yang cukup besar untuk Jaejoong geledah dan sayangnya ia tidak menemukan pedang Merak miliknya disana.
Sekarang hanya tinggal sayap kiri yang masih terang itulah yang belum ia periksa dan Jaejoong yakin disanalah pedang miliknya di sembunyikan. Melompat kesisi gazebo yang lebih gelap, Jaejoong mengendap endap kearah pintu geser dan ia masuk dengan menutup pintu dengan pelan di belakangnya.
Cahaya obor hanya menerangi sebagai ruangan dan Jaejoong berjalan hati hati dari perabotan satu dan perabotan lain untuk memeriksa ruangan yang jauh dari cahaya dan menempel pada dinding kayu. Jaejoong tidak menemukan apapun kecuali puluhan atau bahkan ratusan lukisan berbeda beda di setiap ruangan dan peralatan lukis yang tak terhitung jumlahnya. Astaga, ini ruang lukis dan apakah Pangeran Yunho menyukai seni. Sungguh tidak terduga.
Di ruang berikutnya kosong, tidak apapun kecuali lukisan lukisan yang terpasang rapi di dinging. Begitu banyak lukisan dan mata Doo Jaejoong jatuh pada salah satu lukisan seorang putri yang berada di sebuah taman. Sungguh indah, lukisan itu menunjukkan kecantikan alami juga keangkuhan seorang putri yang berwibawa dan patut disegani, ia tidak menduga Yunho sangatlah berbakar di bidang seni lukis sampai mampu menonjolkan karakter seseorang di atas lukisanya. Ia menutup pintu dan menuju ruangan berikutnya.
Tidak buruh waktu lama untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan itu karena pria itu saat ini berada di hadapanya. Yunho duduk di depan lukisan yang sedang pria itu gambar, pria itu memakai pakaian santai dengan jubah bernoda tinta berwarna warni. Sejenak Jaejoong memperhatikan ekspresi Yunho dalam pantulan cahaya yang entah mengapa membuat pangeran menyebalkan itu terlihat semakin mempesona. Sejenak Jaejoong melupakan tujuanya datang kesini ketika memperhatikan Yunho.
Garis wajah Yunho terlihat tenang saat mata musangnya beralih antara lukisan dan model di sana yang Jaejoong tidak dapat lihat karena terhalang oleh tirai ranjang yang menjuntai lebar di sekelikingnya.
Mengikuti rasa penasaran akan apa yang dilukis Pangeran, tanpa sadar kaki Jaejoong melangkah ringan ketempat yang lebih redub untuk melihat apa yang membuat pria itu begitu sangat berkonsentrasi, Jaejoong membelalak lebar ketika melihat seorang wanita tanpa sehelai benangpun berbaring miring di atas ranjang menghadap kearah Yunho, dan wanita yang Jaejoong akui cukup cantik dengan tubuh menggoda itu memasang senyum menawan di bibirnya, jenis senyuman wanita yang pernah Jaejoong lihat tanpa sengaja ketika dirinya menyelinap di suatu acara hiburan pribadi kerajaan yang di adakan oleh Hankyung.
Jaejoong mundur beberapa langkah, tanganya mendekap mulutnya sendiri ketika ia sudah akan menjerit dan bersiap untuk kabur ketika merasakan sesuatu yang kokoh menyentuh punggungnya, melirik dari ujung matanya ia mendapati seseorang berdiri di belakangnya dengan wajah tertutup cadar, sama seperti dirinya.
Pria itu mengacungkan pedang di leher Jaejoong dan berbisik. "Bergeraklah maka aku tidak akan segan untuk memisahkan kepala mungilmu itu dari tubuhmu."
Rasa dingin menjalari tubuh Jaejoong saat pria itu mendorong tubuhnya untuk maju ketempat yang lebih terang. Ia menggeleng dan pria itu mengangkat dagu seakan menunjuk Jaejoong untuk menghampiri Pangeran Jung Yunho. Dan itu adalah hal terakhir yang akan Jaejoong lakukan.
"Siapa kau." Pangeran Yunho bertanya tanpa mengalihkan pandanganya dari lukisan yang belum diselesaikan Pria itu jemari Yunho bergerak lincah di atas kertas.
Jaejoong merasakan pedang menekan leher bagian belakangnya hingga ia terpaksa maju lebih ketengah ruangan yang di terangi lampu minyak ketempat Pangeran Yunho duduk dengan kitmad di tengah ruangan.
Pria lain mengikat tangan Jaejoong kebelakang, dan Jaejoong terserembab kedepan ketika pria itu menendang lutut bagian belakang. Setelah memastikan Jaejoong tidak dapat bergerak Pria berpakaian serba hitam itu menurunkan cadar dan menekuk kaki memberi horman kepada Yunho.
Sial. Bagaimana bisa dirinya terkecoh dengan permainan mereka sedangkan di Kerajaan Sanko dirinya selalu dapat menyelinap kemana saja tanpa ketahuan.
"Maaf mengganggu, Pangeran."
Yunho memutar rubuh dan menatap dua orang berpakaian hitam dihadapanya dengan pandangan terkejut. "Apa yang kau lakukan disini Jin Yihan." Suara pria itu terdengat terkejut dan Jaejoong tahu, bukan dirinya yang ketahuan hanya saja kebetulan mereka datang disaat yang, sialnya sama.
"Maafkan hamba pangeran, Baginda Raja mengirim hamba untuk menyampaikan surat beliau, dan baru saja hamba sampai untuk melihat apakah Pangeran masih terjaga atau Pangeran sudah beristirahat dan mendapati penyusup ini masuk ke kediaman Pangeran."
Yunho menatap pria lain yang lebih pendek dan bertubuh kecil dari Jenderal Jin Yihan yang menunduk menyembuyikan wajahnya. Yunho tidak tahu jika ada penyusup karena dirinya tidak pernah berlatih dengan indra pendengaranya mengingat para pengawal sudah pasti memastikan keselamatanya di manapun dirinya berada.
"Tunjukan wajahmu." Yunho berkata tepat saat terdengar suara gaduh dari luar dan bunyi pedang beradu kemudian disusul suara pintu di tendang dengan seorang prajurit terlempar kedalam ruang lukis.
Jaejoong mendengar wanita yang berbaring di atas ranjang menjerit dan menarik sesuatu untuk menutupi tubuhnya juga suara sahabatnya yang menerjang masuk. Oh, sial, bodohnya mereka, seharusnya mereka membiarkan Jaejoong tertangkap bukanya menyerahkan diri mereka untuk kembali di tahan di ruang bawah tanah.
Amarah segera menguasai Yunho, tempat ini terlarang untuk siapapun masuk tanpa ijin dan lihatlah mereka, menghancurkan beberapa lukisan koleksinya.
Puluhan prajurit lain mengepung kediaman Pangeran Yunho dan menyudutkan keempat pria bercadar itu di dalam ruangan bersama yang lain. Yunho merebut pedang Yihan dan mengarahkanya kearah pria yang berada di sisi Jin Yihan sebelum mereka menghancurkam tempat berharga ini dan Yunho berkata dengan penuh wibawa."Begeraklah jika ingin teman kalian ini mati."
Ujung pedang itu berhenti tepat di depan hidung Jaejoong dan wanita itu seketika terjerembab kebelakang, ia melupakan Yihan disisinya dan tentu saja mereka tidak akan membiarkan penyusup lolos begitu saja. Keempat sahabat Jaejoong menyerah seketika Yunho berkata seperti itu.
"Menyerahlah atau aku akan benar benar membunuhnya dan selanjutnya kalian." disaat yang sama Yihan menarik cadar yang menutupi wajah Jaejoong.
Terlambat untuk Jaejoong berpaling ketika wajah terkejut Yunho membuat bulu roma di tubuhnya berdiri ngeri.
"Kim Jaejoong, Ya Tuhan apa yang kau lakukan." Di luar perkiraan Jaejoong, Pangeran Yunho menghampirinya dan menarik lepas cadar dan menarik lenganya menjauh dari pria bernama Jin Yihan untuk mendekat ketubuh Yunho.
Benturan keras antara tubuhnya dengan dada bidang pria itu membuat payudara Jaejoong nyeri," Sialan, bisakah kau berperasaan sedikit ketika menarikku."
Pangeran itu menggeram marah memutar tubuh Jaejoong untuk melepaskan ikatan di pergelangan tangan wanita itu dan menyuruh prajurit lain untuk mundur. "Changmin bawa mereka semua ke Aula untuk disidang." perintahnya ketika Changmin berhambur masuk.
Tanpa menunggu penjelasan Jaejoong, Yunho menarik wanita itu keluar dengan langkah lebar sampai harus memaksa Jaejoong sedikit berlari untuk menjajarkan langkah mereka. Yunho mengabaikan umpatan dan teriakan Jaejoong sampai mereka di Aula dan mendorong Jaejoong sampai wanita itu terjerembab kelantai. Disusul keempat prajurit lain yang Yunho yakin adalah sahabat wanita itu.
Yunho berjalan menuju tempat duduk di singgasana miliknya dengan murka. " Kau telah melanggar kesepakatan kita jangan salahkan aku jika aku juga melanggar janji untuk tidak menyentuhmu."
"Kau berani, maka aku akan membunuhmu." Tanpa rasa takut Jaejoong menjawab, dengan kaki bergetar ia mencoba untuk berdiri di atas kakinya.
"Tidak ada yang tidak mungkin untukku lakukan di daerah kekuasaanku sendiri, dan kau wanita keras kepala yang susah di atur apa yang kalian lakukan di kediamanku."
Yihan menyodok perut Changmin dengan keras. "Katakan padaku siapa mereka, jangan katakan padaku wanita itu simpanan baru Pangeran." Yihan terkekeh geli. Oh, ini suatu pemandagan yang baru untuknya, seorang wanita keras kepala yang menantang Pangeran berkuasa seperti Jung Yunho.
"Ceritanya panjang."
"Aku punya banyak waktu sebelum kita semua kembali ke Istana."
"Kembali," Changmin mendelik ngeri, Istana adalah tempat yang dibencinya, Changmim lebih suka di tugaskan di luar kerajaan. "Tidak termasuk aku bukan?"
"Dan kau harus siap Putri Kim Heechul menyeretmu sendiri kesana."
"Jadi paduka Raja menyuruhmu kesini untuk menyampaikan pesan kepada Pangeran bahwa Putri Heechul akan berkunjung ke Istana Gogueryeo."
"Tepat."
"Celaka."
"Ada lagi." Changmin melirik Yihan asal. "Pernikahan pangeran tentunya."
"Seingatku tahun depan, dan itu masih sangat lama."
"Kau harus protes kepada Raja Silla kalau begitu." Yihan tertawa dan kembali fokus kepada dua orang yang berdebat di hadapanya. "Wanita mungil cantik dan pemberani."
"Ya, dia memang cantik." Tanpa sadar Changmin tersenyum ketika membenarkan ucapan Yihan dan mendapati pelototan pria itu.
"Teman, jangan katakan kau juga menyukainya."
"Aku tidak akan berani, Pangeran menginginkan wanita itu." Yihan mengabikan ucapan Changmin saat mendengar Jaejoong berteriak membantah Pangeran Jung Yunho.
"Tidak akan pernah, aku tidak akan pernah sudi menjadi wanita simpananmu."
"Aku tidak memberimu pilihan, disini aku yang memutuskan."
Jaejoong menghela nafas mencoba menenangkan debaran dadanya yang menggila entah karena takut atau marah. "Aku tidak yakin kau menginginkanku ketika ada wanita telanjang di atas ranjang di depan mata kepalamu."
Yunho mengepalkan tangan di atas kursi singgasananya. "Berani beraninya ada yang akan melarang atau menolak seorang pangeran, tidak juga dirimu."
"Apakah kau akan menikahiku."
Hening. Seluruh mata menatap Jaejoong terkejut atas pertanyaan yang di lontarkan wanita itu. "Aku bersedia menjadi wanitamu jika kau bersedia menikahiku, bukankah kau menginginkanku dan aku ingin kau hanya melihatku tidak ada wanita lain dalam pernikahan kita."
Rahang Yunho mengeras. Sialan wanita itu dan juga kekeras kepalaanya, Yunho memang menginginkan Jaejoong dari apapun yang pernah ia inginkan di dunia ini. Membayangkan Jaejoong bersikap lembut ketika di atas ranjang hampir membuatnya gila karena harus menahan keinginanya untuk menyeret wanita itu sekarang juga keranjang bersamanya.
Menikah! Demi Tuhan, wanita itu benar benar polos atau bodoh mengharapkan Yunho menikahinya. Yunho menghela nafas dan menatap Jaejoong dengan kepusan barunya. "Aku akan menikahimu dan menjadikanmu selirku dan jangan berharap lebih kepadaku dengan menjajikan kesetiaan dariku."
Ya. Itulah seorang calon Raja, selalu memiliki banyak wanita untuk menemaninya, akan tetapi Jaejoong tidak suka itu. Yang diinginkanya hanyalah hidup seperti ibunya, Ayahnya hanya memiliki Ratu Zao wei seorang sebagai wanita yang dicintainya dan mengabaikan puluhan selir yang di berikan secara suka rela oleh Ayah mereka yang menginginkan tempat istimewa di sisi raja.
Apakah Jaejoong berharap muluk saat menginginkan suami seperti Ayahnya dan, Cinta pria itu. Yunho tidak mencintainya dan pria itu tidak akan pernah mencintai Jaejoong yang diinginkanYunho hanyalah tubuh Jaejoong, tidak lebih.
~TBC~
Kamsahamnida. Semua RCL dan dukunganya. Terimakasih buat yang sudah ngasih tau kesalahan
