Testosterone Attack!

Chapter 9

Naruto © Masashi Kishimoto

magnifiken

Mata Sakura mengerjap-kerjap karena sinar matahari pagi yang menyilaukan dari jendelanya membuat matanya silau. Sakura menggeliat sebentar dan bangun dari posisi tidurnya. Kakinya turun dan memakai sandal selop di bawah dipannya dan melangkah ke kamar mandi di lantai dua. Rupanya Sakura adalah penghuni pertama yang bangun, karena kamar Ino dan Hinata masih tertutup rapat saat dilewatinya tadi.

Sakura memandangi bayangan dirinya di cermin kamar mandi kemudian tersenyum kecil. Jemarinya yang lentik menyelusuri lipatan bibirnya yang kemarin malam dihajar Sasuke sebelum pemuda tampan itu meneriakinya untuk tidur setelah menciumnya dan Sakura balas meneriakinya untuk tidak berteriak. Sakura merasakan perasaannya menghangat lagi mengingat tindakan Sasuke tadi malam. Tanpa dirasa, Sakura jadi menyikat giginya tidak pakai odol melainkan pakai sabun cair karena tidak fokus. Dan ketika menyadarinya, Sakura hanya tersenyum cool. Salah menyikat gigi dengan sabun cair tidak bisa menurunkan mood Haruno Sakura yang resmi menjadi kekasih Uchiha Sasuke saat ini.

Dengan keadaan segar setelah mandi, Sakura turun ke dapur. Kakashi belum datang dari tugas dinasnya di Sunagakure, jadi Sakura harus menyiapkan sarapan sendiri beberapa hari ini. Sakura membuka kulkas dapur dan mengambil dua butir telur ayam yang nanti akan disulapnya menjadi omelet sederhana.

Selagi berkutat membalikkan telur-telurnya di wajan, Sakura mendengar pintu kamar mandi lantai bawah terbuka. Sakura melongok. Dan mata hijau bundarnya membesar mendapati Sasuke keluar dari kamar mandi tersebut mengenakan training abu-abu dan kaus putih tipis. Tetesan air dari rambut raven-nya dapat dibendung dengan handuk putih yang tersampir di bahunya yang kokoh. Sakura menegang seketika tapi tidak dapat dipungkiri hatinya meledak-ledak bahagia.

"Ohayou." sapa Sasuke sambil berjalan ke arah dapur dan membuka pintu lemari es mencari jus tomat kemasan kesukaannya.

Sakura berdesir mendengar suara Sasuke yang berat.

"Oohayou, Sasuke-kun…" kata Sakura pelan.

Sasuke sedikit menurunkan laju aktivitasnya menelan jus tomat segar dalam kerongkongannya ketika mendengar suffix tambahan pada akhir namanya.

"Hn? Terdengar menyebalkan." Sasuke mencibir. Rona merah samar sedikit tercipta di wajahnya.

Sakura mengerutkan keningnya. "Kenapa? Kau tidak suka?" Sakura terlihat berpikir keras.

"Bagaimana kalau Sasu-kun?"

Sasuke terhenyak. "Sama saja tahu!" seru Sasuke.

"Sasu-chan?" tanya Sakura.

"JANGAN panggil aku Sasu-chan!" Bulu kuduk Sasuke berdiri mengingat cara Ibu dan Kakaknya memanggilnya sewaktu kecil.

"Sasu-kyun?"

"Sasu-nyan?"

"Sasu-tan?"

"Sasu-cchi?"

"Sakura, hentikan!" peringat Sasuke.

"Sasu…"

"HENTIKAN!" potong Sasuke.

Sakura sedikit terbelalak dan berkacak pinggang.

"Bukannya normal kalau aku ingin memanggilmu dengan nama panggilan seperti itu?!"

"Memangnya aku anjing?!" nada Sasuke meninggi.

"Apa yang terjadi…?" Naruto dan Sai mendatangi dapur, masih dengan wajahnya yang penuh belek.

"HOOOOH…." Sakura tertawa mencibir. "Jadi dirimu menganggap perlakuan istimewaku ini hanya untuk menganggapmu anjing?" balasnya.

"Aku tidak merasa diistemewakan!" kata Sasuke pada Sakura tidak menanggapi pertanyaan Naruto. "Tapi malah sebaliknya!"

"Ada apa sih, ribut-ribut?" Ino dan Hinata turun dari tangga.

"Kau ini sama sekali tidak berubah! Setidaknya aku kan berhak memanggilmu dengan nama-nama spesial!" bentak Sakura.

"Apa yang membuatmu merasa memiliki hak penuh untuk memanggilku dengan istilah-istilah aneh seperti itu?!" teriak Sasuke.

"Yang benar saja, kau mengatakan ini setelah apa yang kita lalui tadi malam?!" Semua hening. Kenapa pertanyaan Sakura ini berkesan erotis sekali?

Sasuke terdiam. "Aku tidak mengerti apa maksudmu." kata Sasuke dingin.

"Sasuke, kita ini pacaran kan?!" Sakura menggebrak meja counter dapur membuat semua yang ada di ruangan itu terlonjak kaget.

Hening.

"PACARAN, NDASMU!" Semprot Sasuke penuh emosi. Sakura menutup matanya saat terjadi badai topan menguar dari dalam tubuh Sasuke. Semburat otot muncul di pelipis Sasuke demi menghadapi gadis kacrut di hadapannya ini.

"Bu…bukannya kau tadi malam bilang kalau kau suka padaku?!" bentak Sakura. Naruto, Sai, Ino, dan Hinata menganga. Ingin rasanya Sai membeli popcorn dan melihat sinetron pagi live di dapur rumah sewanya ini.

Sasuke mendengus sambil memegangi kedua pelipisnya. "Iya, memang benar. Tapi bukan berarti kita berpacaran kan? Aku sama sekali tidak mengajakmu untuk berpacaran!" tandasnya.

"Tega sekali kau bicara seperti itu?!" suara Sakura bergetar.

"Sudah kubilang, aku sama sekali tidak memiliki niat untuk berkencan denganmu!" kata Sasuke tajam.

Swing… klotak!

Sasuke merasakan dahinya nyeri karena lemparan sendok plastik oleh Sakura yang memandang penuh amarah pada dirinya.

"Argh! Sakit tahu!" teriak Sasuke sambil mengelus dahinya.

"Hatiku lebih sakit!" tandas Sakura.

Sasuke melempar botol jus tomatnya yang sudah kosong, mengenai dahi Sakura.

"Argh! Sakit! Aku tidak melempar secepat itu!" protes Sakura.

"Aku hanya melempar botol kosong, sedangkan kau melempariku sendok!" balas Sasuke.

Sakura geregetan. Tangannya meraih garpu dan melemparkannya pada Sasuke. Sasuke mengaduh kesakitan ketika benda itu mengenai pundaknya. Sasuke melempar sumpit yang biasa dipakai Naruto dan mengenai bahu Sakura. Sakura membalas melempar sebongkah bawang bombay, Sasuke membalas melempar hiasan magnet kulkas.

"Rasakan ini!"

"Terima ini!"

Talenan melayang. Gelas melayang. Selop Sakura melayang. Handuk Sasuke melayang.

…sedangkan keempat anak manusia lainnya yang baru bangun tidur hanya sweatdrop melihat adegan absurd di pagi hari antar dua muda-mudi yang seharusnya tidak terjadi –mengingat mereka sudah berciuman mesra tadi malam.

.

.

.

Sakura melenguh panjang saat menyaksikan artikel kesehatan yang sudah beres dan terpampang manis di layar laptopnya. Artikel kesehatan yang telah membuat pantatnya panas karena kebanyakan duduk itu merupakan tugas pemberian dosennya untuk bahan ujian terakhirnya. Sakura sudah menyiapkan materi-materi untuk bahan belajarnya. Diam-diam Sakura merasa beruntung karena sistem kurikulum di Universitas Tsuyoshi lebih menitik beratkan pada praktikum dan pendekatan masyarakat daripada teori, sehingga Sakura hanya membuat beberapa artikel kesehatan berdasarkan jurnal dan membuat laporan berdasarkan data statistik pasien rumah sakit lokal untuk ujian. Presentasi pertanggungjawaban akan diadakan empat hari lagi, sehingga Sakura dan segenap mahasiswa Tsuyoshi tidak perlu bersusah payah mengerjakan soal tertulis di ruangan yang membuatnya stress.

Sakura merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku setelah bersemedi di depan laptop dan tumpukan referensi di kamarnya. Dia merasa sangat bosan karena menjalani aktivitas melelahkan ini selama kurang lebih 3 hari. Dia hanya memakan permen jahe dan meminum jus alpukat tanpa memasak sekalipun. Sakura sudah merasa seperti berang-berang yang tidak pernah keluar dari sarangnya.

Tangan Sakura meraih ponsel. Sepi. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Tiba-tiba dia teringat akan seseorang. Seseorang yang membuatnya kecewa 3 hari lalu, karena mengatakan tidak ada hubungan spesial di antara keduanya. Siapa lagi kalau bukan si Uchiha Sasuke kampret. Sudah 3 hari Sakura tidak bertemu dengan Sasuke. Sakura sedikit terenyuh. Dulu saat Sasuke jarang pulang, dia begitu merindukannya. Sekarang saat Sasuke sudah pulang, Sakura malah cuek bebek padanya. Ironis sekali.

Sakura menggelengkan kepalanya. Dia kangen pada pemilik helaian raven itu. Entah mau dianggap pacar atau tidak, dia ingin bertemu.

Sakura mengendap-endap menuruni tangga mengingat ini sudah hampir tengah malam. Disusurinya lorong lantai bawah dan hatinya bersorak gembira didapatinya pintu kamar Sasuke sedikit terbuka.

'Lampunya masih menyala, dia belum tidur?' pikir Sakura keheranan.

Sakura mendorong pintu kamar Sasuke pelan. Matanya melihat Sasuke sedang berkutat dengan laptopnya di meja belajar dan pemuda itu tampak melihat laptopnya dengan serius.

"Hei…" sapa Sakura pelan.

Sasuke melihat ke arah pintu.

"Hei…" balasnya pelan.

"Boleh aku masuk?" tanya Sakura.

Sasuke terdiam sebentar. "Boleh. Masuklah."

Sakura melangkah ke dalam kamar Sasuke yang sudah lama tidak dimasukinya ini. Tidak banyak berubah, hanya ada beberapa barang baru dan ada seorang penghuni tampan yang membuat kamar ini terlihat lebih hidup. Sakura duduk di kasur Sasuke, tempat awal pertemuan mereka berdua. Sedikit aneh memang, tapi seperti itulah kenyataanya.

"Sedang apa?" tanya Sakura.

"Hn? Tidak ada. Hanya melihat situs beasiswa." jawab Sasuke.

"Kau sedang mencari beasiswa?"

"Hn." jawab Sasuke. "Sebenarnya aku sudah apply pada salah satu beasiswa yang kurasa cocok denganku di Otogakure dan aku baru saja mengetahui informasi bahwa aku diterima."

"Jauh sekali." jawab Sakura. "Untuk apa?"

"Di fakultasku ada semacam kebijakan bagi mahasiswa untuk mengikuti kegiatan internship di perusahaan atau instansi tertentu selama beberapa saat, minimal selama setahun. Bisa dibilang magang."

"Kenapa kau tidak mencari beasiswa internship di Konoha saja?" tanya Sakura.

Sasuke menghela nafas. "Nilaiku sedikit jatuh pada semester kemarin karena aku terlalu banyak absen. Kau tahu, gara-gara kerja di klub itu aku jadi susah bangun pagi. Jadi aku memilih di Otogakure, disana terdapat akademi entertainment broadcasting yang bisa langsung magang setelah 6 bulan perkuliahan. Lagipula, di akademi ini tidak terlalu mementingkan nilai teori, namun nilai praktikum. Jadi, aku ingin magang sekaligus memperbaiki nilaiku."

"Kau akan meninggalkan Konoha?" tanya Sakura pelan.

Sasuke mengalihkan pandangannya ke Sakura. "Toh aku tidak akan tinggal disana selamanya." kata Sasuke.

"Tapi tetap saja…" Sakura menunduk.

"Hidupmu tidak akan berubah tanpa aku. Masih ada Naruto dan yang lainnya disini. Kau tidak akan pernah kesepian." kata Sasuke mengingatkan betapa berisiknya penghuni rumah Kakashi satu itu.

"Meskipun begitu pasti akan terasa sepi jika tidak ada kau." kata Sakura.

Sasuke tersenyum samar. "Kau tahu, Sakura? Aku melakukan ini kan demi dirimu juga."

"Maksudmu?"

"Aku ingin menjadi seorang suami yang sukses demi dirimu." Sumpah mati Sasuke ingin membakar lidahnya sendiri karena meluncurkan kalimat gombal level greget itu dari mulutnya.

Sakura terbelalak, kemudian merengut. "Suami? Jangankan suami, bukannya kau sendiri yang bilang kau tidak mau pacaran denganku?"

Kalimat Sakura membuat Sasuke terdiam. Sasuke memutar kursinya pelan menghadap Sakura, kemudian tangan kanannya menarik pelan tangan Sakura untuk mendekat ke arahnya.

"Sini."

Sasuke menarik Sakura agar gadis musim semi itu duduk di pangkuannya. Sakura sedikit kaget dengan ulah Sasuke barusan dan mencoba diam sampai pemuda Uchiha itu mengutarakan maksudnya.

"Banyak temanku yang berpacaran dan bergonta-ganti pasangan hanya untuk bermain-main. Aku memang tidak ada niat berpacaran denganmu karena aku tidak ingin menganggapmu sebagai mainanku saja, Sakura." kata Sasuke sambil menyibakkan helaian merah muda Sakura.

Sakura hanya terdiam. "Kalau kau benar-benar serius kenapa baru memberitahu kalau akan pergi dengan mendadak seperti ini?" tanya Sakura.

"Maafkan aku. Beberapa hari ini aku sangat sibuk mengurus banyak berkas dan harus mengejar-ngejar dosen untuk meminta tanda tangan. Aku tidak sempat memberitahumu karena aku pikir kau masih marah padaku." kata Sasuke pelan.

Sakura menatap mata jelaga Sasuke.

"Maafkan kejadian di dapur tempo hari. Dahimu masih sakit?" tanya Sasuke sambil mengecup dahi Sakura lembut.

"Tidak." jawab Sakura.

"Sakura, aku memang tidak memintamu jadi pacarku atau semacamnya. Karena aku memang tidak paham dengan hal-hal seperti itu, sungguh. Tapi aku serius memilihmu. Saat aku pulang dari Otogakure, aku sudah mendapat ijazah kesetaraan dan akan mencari pekerjaan. Bila sudah mendapatkan penghasilan sendiri, aku akan mendatangi orang tuamu untuk memintamu jadi istriku. Jadi, jangan pernah meragukanku ya?" pinta Sasuke.

Wajah Sakura merona seketika mendengar kalimat Sasuke barusan. Demi apa, ingin rasanya Sakura memeluk dunia sekarang juga.

"Iya, aku tahu. Maafkan aku. Aku tidak akan meragukanmu, Sasuke…-kun." Sakura melingkarkan tangannya di bahu Sasuke dengan pelan. Sasuke tersenyum tipis dan membalas perlakuan Sakura. Sasuke bersumpah demi selusin buku Icha Icha Paradise milik Kakashi, panggilan Sakura yang dapat membuat telinganya tergelitik malu barusan ini lebih merdu dari nyanyian surgawi manapun.

Mereka berdua tetap pada keadaan seperti itu. Perlahan hidung Sasuke menangkap aura asing. Perpaduan unik antara bau cherry matang, bunga gladiol, dan wangi kue lapis legit terdeteksi indera penciumannya. Sasuke memejamkan matanya mencoba meresapi wewangian yang menstimulasi indera perasanya untuk menelan sesuatu. Sasuke menelan ludahnya berusaha membuat dirinya kenyang dengan wewangian itu. Tapi, demi setiap cup ramen instan simpanan Naruto, Sasuke tidak ingin meminta –bahkan membayangkan lebih dari ini.

"Sakura, kau bau." Sasuke beralibi.

"Eh?" Sakura menarik pelukannya. "Hehe… Maaf… Aku sudah 2 hari tidak mandi."

"APA?!" Sasuke mendorong Sakura hingga hampir terjengkang. Pantat Sakura kembali mendarat di kasur empuk Sasuke.

"Kau ini kenapa sih?!" teriak Sakura.

"Kau ini jorok sekali jadi perempuan!" bentak Sasuke berkacak pinggang.

"Aku sibuk! Lagipula akhir-akhir ini dingin sekali, aku jadi malas mandi!" alasan Sakura.

"Halah! Meskipun dingin, aku tetap mandi!" tukas Sasuke

"Suka-suka aku dong kalau aku tidak mandi!" bentak Sakura tidak terima.

"Kau sudah 2 hari tidak mandi dan masih berani masuk ke kamar laki-laki?!" teriak Sasuke tidak sabaran.

"Apa masalahmu?!" bentak Sakura.

"Kau dan bau badanmu itu lebih baik pergi dari sini!" usir Sasuke.

Mata Sakura berkilat. "Cintamu dangkal sekali hanya terbatas aku mandi atau tidak!" balas Sakura sengit.

"Oh, begitu kesimpulanmu?" cibir Sasuke.

"IYA!" Sakura menubruk Sasuke kasar dan berlari meninggalkan kamar bungsu Uchiha itu.

"Aku peringatkan lagi, jangan sekali-kali memasuki kamarku jika kau berbau seperti itu! Camkan itu, Sakura!" teriak Sasuke dari dalam kamar ketika Sakura sudah menghilang di balik pintu.

"TERSERAH!" teriak Sakura dari luar. Terdengar bunyi gedebuk di lorong hasil langkah kaki Sakura yang melangkahkan kakinya penuh emosi. Sasuke memasang telinganya baik-baik menangkap suara deritan kayu tangga yang diinjak-injak Sakura tanpa ampun itu. Perlahan suara langkah kaki itu mengecil dan menghilang di lantai tiga.

Sasuke menghempaskan pantatnya di kursi putarnya lagi sambil menghela nafas –mencoba menenangkan dirinya dan lonjakan hasrat aneh yang membuat keadaan fisiologisnya kacau. "Gadis bodoh itu…" gumamnya frustasi. "…dia sadar tidak sih, kalau bau badannya itu menggairahkan?"

.

.

.

Uchiha Sasuke sedang memasukkan beberapa helai pakaian pada tas ransel merahnya. Populasi pakaiannya yang ada di lemari kamar rumah Kakashi menurun tajam. Ternyata, setelah Sasuke selidiki, pengaruh hidup nomaden dan musafir selama beberapa waktu lalu itu membuat pakaiannya berceceran di beberapa tempat. Sebagian ada di lemari kamar, sebagian ada di loker pribadinya di klub Orochimaru, dan sebagian ada di apartemen sang Kakak, Uchiha Itachi, yang sekarang sedang mengawasi Sasuke sedang menjejalkan helaian kain milik adiknya sambil meminum kopi di pagi hari.

"Sepertinya masalahmu di rumah sewa itu sudah selesai?" tanya Itachi sambil melipat koran.

Sasuke mendongak. "Semacam itulah." jawab Sasuke pendek.

"Siapa orang hebat yang bisa meyakinkanmu untuk pulang?" tanya Itachi lagi.

Aktivitas Sasuke terhenti. Wajahnya merona samar. "Aku tidak tahu apa maksudmu." katanya datar.

Itachi terkekeh perlahan. "Ngomong-ngomong, aku bisa meliat biasan rona wajahmu yang malu-malu dari sini." katanya kalem.

Sasuke terhenyak sambil menutup wajahnya dengan punggung tangan. "Aku tidak malu-malu, baka aniki!" sanggahnya sangar.

"Karena perempuan?" tembak Itachi langsung.

Mata Sasuke melotot. "Sok tahu." katanya sinis.

"Kalau begitu, karena laki-laki?" tanya Itachi menggoda adiknya.

"Hentikan!" kata Sasuke dingin.

Itachi tertawa. "Sasuke, kau tahu? Aku suka sekali menggodamu sampai kau malu seperti ini." katanya sambil berdiri dan menghampiri adiknya. Itachi duduk di sofa, berhadapan dengan Sasuke.

"Tapi aku harus memberitahumu satu hal." kata Itachi mendadak serius. Sasuke kembali tersita perhatiannya.

"Apa?" tanya Sasuke penasaran.

Ita menghela nafas. "Ayah melarangku menceritakan ini padamu. Tapi aku pikir aku harus memberitahumu agar tidak gegabah."

"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Sasuke tidak sabaran.

"Ayah…bagaimana ya…um… Ayah memiliki seorang sahabat yang memiliki seorang putri. Mereka sepertinya berasal dari keluarga yang berada. Dan… Ayah akan mempertemukanmu dengan putri sahabatnya itu." kata Itachi.

Sasuke mengerutkan dahinya. "Yang benar saja…"

"Iya, ini memang benar. Sepertinya mereka sudah mengatur agar kalian dijodohkan atau semacamnya. Sayangnya, Ayah tidak memberitahuku siapa nama sahabatnya atau nama putrinya itu."

Sasuke menegang.

"Kau sedang tidak menjalin hubungan spesial, kan, Sasuke?" tanya Itachi memastikan.

Sasuke terdiam, kemudian menggeleng lemah.

"Baguslah. Setidaknya berilah kesempatan pada Ayah dan menyanggupi bertemu dengan putri sahabatnya itu. Siapa tahu kalian cocok. Ayah pasti akan sangat senang jika kau dan gadis itu cocok. Lagipula, kata Ayah, gadis itu memiliki potensi untuk menjadi penerus rumah sakit Uchiha. Ayah bilang bahwa putri sahabatnya itu adalah calon dokter." kata Itachi.

Sasuke masih mematung di tempatnya.

"Jangan bilang Ayah kalau aku memberitahumu ya, Sasuke?" kata Itachi memohon.

"Hn."

"Baguslah! Kalau begitu aku berangkat ke rumah sakit dulu!" kata Itachi sambil beranjak dan berjalan ke arah pintu sampai menghilang di baliknya, meninggalkan Sasuke yang masih terdiam di posisi awal seperti arca candi setelah mendengar perkataan Itachi barusan.

Ayah menjodohkanku? Dengan seorang gadis, putri dari sahabatnya?

Sasuke bersumpah demi apapun, dia tidak akan berpikir panjang untuk menyanggupi permintaan Ayahnya –bahkan tanpa keraguan sedikit pun. Karena Sasuke sangat menyayangi dan menghormati sang Ayah –yang artinya disini : Sasuke akan rela menjaring bulan sekalipun demi menerangi malam sang Ayah yang gelap gulita. Sasuke pasti tidak akan berpikir dua kali untuk menemui gadis itu. Itu semua pasti akan dia lakukan, namun itu sebelum Sasuke bertemu dan mencintai seseorang yang tinggal di loteng rumah Kakashi.

Sasuke terduduk lemas. Dia pernah mengecewakan sang Ayah karena masuk ke Fakultas Kesenian. Sasuke sempat mengurung diri dan mogok makan dan hanya minum air putih serta batang sayur sawi selama seminggu karena merasa sangat bersalah telah mengecewakan Ayahnya. Walaupun begitu, akhirnya sang Ayah tetap bangga mendukung kuliah Sasuke. Kali ini, Sasuke terancam akan mengecewakan Ayahnya lagi. Bukan karena masalah akademik, tapi masalah hati. Apalagi Itachi menyebutkan mengenai sesuatu yang membuat Sasuke bagai kejatuhan beban mora. Gadis pilihan Ayahnya itu calon dokter.

Sasuke dilema.

.

.

.

Beberapa hari kemudian. Tepatnya hari ini, Haruno Sakura sudah melalui ujian presentasi yang memuakkan dan dibantai oleh dosen-dosen pengujinya sampai sore. Setelah pulang dari kampus, Sakura langsung mandi dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin berharap rasa suntuknya ikut larut terbawa air. Selepas mandi, Sakura menuju ke dapur untuk membuat teh hijau hangat yang bisa menenangkan urat-urat kepalanya yang tegang sejak tadi pagi.

Haruno Sakura sedang memijit-mijit pelipisnya yang terasa berat. Mata zamrudnya melongok ke arah lorong ruang tamu ketika mendengar suara pintu depan terbuka, menandakan seseorang masuk. Senyumnya mengembang mengetahui bahwa itu adalah Uchiha Sasuke. Sama seperti dirinya, Sasuke juga baru pulang dari kampus. Terlihat dari wajahnya, tubuh Sasuke sedikit kelelahan.

"Sasuke!" Sakura berlari kecil dan menyeruak masuk ke pelukan Sasuke, membuat pemuda itu sedikit kaget.

"Hai…" kata Sasuke pelan sambil tersenyum manis. Dielusnya punggung Sakura lembut. "Sudah mandi?" tanya Sasuke.

"Sudah, tahu!" jawab Sakura sewot.

Sasuke tersenyum. "Bagaimana presentasinya hari ini?"

"Lancar. Tapi masih ada banyak kekurangan…" keluh Sakura lalu menatap mata hitam Sasuke. "Kau sudah mengajukan proposal internship-mu?"

"Hn." gumam Sasuke. "Sekarang hanya menunggu persetujuan akhir." jawabnya sambil mengecup pelan pucuk kepala Sakura.

"Kalau begitu, kita kan sudah bebas tugas dan ujian. Bagaimana kalau kita bersenang-senang? Kita pergi ke bioskop, misalnya? Atau makan bersama di suatu tempat?" ajak Sakura dengan mata berbinar.

Sasuke terdiam sambil menimang-nimang ajakan Sakura. Sasuke sangat ingin menerima ajakan Sakura, toh Sakura adalah gadis yang dicintainya. Siapa yang tidak ingin menghabiskan waktu bersama seseorang yang dicintai? Sasuke tersenyum getir karena tiba-tiba teringat perkataan Itachi tempo hari. Sasuke ingin sekali membuat Ayahnya senang, tapi perasaan Sasuke pada Sakura juga tidak bisa berbohong. Sasuke harus memantapkan salah satu.

"Hn. Kurasa aku tidak bisa. Hari ini aku sangat lelah. Aku mau langsung istirahat." katanya sambil melepaskan Sakura berjalan memasuki kamar.

"Bagaimana kalau besok?" tanya Sakura.

"Aku tidak bisa." jawab Sasuke tanpa berbalik.

"Kalau begitu, kau bisanya kapan?" tanya Sakura.

"Sakura, sebenarnya aku malas untuk pergi keluar dan bertemu banyak orang. Tidak usah pergi keluar juga tidak apa-apa." kata Sasuke lalu masuk ke dalam kamarnya.

BLAM.

Sakura termangu.

"Kenapa dia?" gumam Sakura pelan.

"Kenapa? Kalian bertengkar lagi?" sebuah suara mengejutkan Sakura dari belakang. Sakura berbalik.

"Kakashi-san!" pekik Sakura. "Kapan anda kembali?" tanya Sakura.

"Tadi pagi. Saat semuanya telah berangkat ke kampus. Lalu aku istirahat dan sore ini baru bangun." kata Kakashi sambil berjalan ke dapur.

"Ini teh buatanmu?" tanya Kakashi menunjuk segelas teh hijau di atas meja makan.

"Iya. Kakashi-san mau aku buatkan?" tanya Sakura.

"Boleh."

Sakura menuangkan air panas pada gelas tradisional yang terbuat dari tanah liat. Lalu mengambil teh hijau celup dan memasukkan beberapa tetes madu murni ke dalam larutan itu.

"Wah, enak…" puji Kakashi. Sakura tersenyum.

"Kau tadi sedang membicarakan apa dengan Sasuke?" tanya Kakashi penasaran.

"Tidak ada…hanya… aku mengajaknya untuk pergi keluar. Tapi dia menolak." kata Sakura sambil menunduk.

"Oh, begitu…" kata Kakashi.

"Kakashi-san, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Sakura.

"Boleh, apa?"

"Bagaimana Sasuke bisa menyewa kamar di rumah ini? Aku tahu dari seseorang, Sasuke berasal dari keluarga dokter yang artinya mereka memiliki derajat sosial yang tinggi. Tapi, Sasuke yang ini bahkan kerja part time di klub malam untuk mendapat uang." tanya Sakura.

Kakashi terdiam sebentar sambil berpikir. "Um… kelihatannya Sasuke memiliki masalah dengan keluarganya dulu sehingga dia memutuskan untuk tinggal di luar dan membiayai kuliahnya sendiri. Kakaknya dulu cukup sering datang kesini untuk mengantar makanan dan uang."

"Apakah keluarga Uchiha yang lain sering mengunjunginya kemari?" tanya Sakura.

"Tidak. Hanya kakaknya. Sasuke pernah memberitahuku kalau dia memberikan alamat rumah ini hanya pada kakaknya saja."

"Apa hubungan Sasuke dengan keluarganya baik-baik saja?" tanya Sakura."

"Aku rasa begitu. Mereka sudah baik-baik saja. Sasuke sering pulang ke rumah keluarga Uchiha kok. Malahan, bila keluarga Uchiha sedang ada event-event tertentu, Sasuke selalu hadir."

Sakura terdiam mencoba mengingat-ingat saat Sasuke mengunci dirinya di kamar mandi dan pada saat mengunjungi pembukaan hotel Takegawa dulu. Pemuda itu memakai setelan tuksedo yang membuatnya ganteng luar biasa. Apakah itu yang dimaksud 'event-event tertentu'? Tapi yang paling penting dari itu semua, kenapa Sasuke tidak pernah bercerita padanya?

"Kenapa kau bertanya tentang Sasuke? Kau menyukai Sasuke ya?" tanya Kakashi berniat menggoda Sakura.

Sakura merona. "Sebenarnya kami sudah pacaran…um bukan pacaran sih… Apa ya? Aku menyukai Sasuke dan dia juga begitu. Mungkin hanya dua orang yang saling suka. Itu saja."

Kakashi terbelalak.

"Terima kasih atas infonya, Kakashi-san. Aku ke kamar dulu." Sakura beranjak dari duduknya dan menaiki tangga menuju kamarnya, meninggalkan Kakashi yang masih sibuk dengan gelas teh hijaunya.

Kakashi merogoh sakunya, mencari ponsel. Pria berambut perak itu mencari daftar kontak di ponselnya yang akan diberinya kabar mengejutkan ini.

"Halo?" sapa suara dari seberang.

"Kizashi-senpai?" tanya Kakashi.

"Apa apa, Kakashi?"

"Apa rencana tentang menjodohkan anakmu itu masih tetap berlanjut?" tanya Kakashi to the point.

"Apa maksudmu, tentu saja." kata Kizashi.

"Kalau begitu, aku beri kau peringatan. Sakura sudah menjalin hubungan dengan seseorang di rumah sewa ini."

"Apa?! Dengan siapa?"

"Aku tidak bisa memberitahumu, karena kau juga tidak mau memberitahu dengan siapa Sakura dijodohkan." kata Kakashi.

"Apa Sakura masih berhubungan dengan Sakeuchi?!" tanya Kizashi sengit.

"Sakeuchi…siapa?" tanya Kakashi heran.

"KONOYAROU!" teriak Kizashi. "Ini tidak bisa dibiarkan. Aku akan menyusul Sakura untuk pulang!"

"Terserah Senpai saja…"

.

.

.

Mungkin memang benar bahwa Sasuke telah berhasil meyakinkan Sakura bahwa pemuda Uchiha benar-benar memilihnya. Sakura juga yakin bahwa Sasuke telah serius, sehingga saat pemuda itu menghilang beberapa saat dan terus berkesan menghindarinya, Sakura hanya bisa berpikir positif. Sasuke memang sangat sibuk mengejar ketertinggalan demi nilainya dan demi beasiswa itu, Sakura bisa maklum. Sakura hanya bisa mengamati punggung Sasuke yang menjauh dan memasuki kamarnya setelah setiap kali semua anggota rumah sewa melingkari meja makan untuk menjejali mulut mereka dengan masakan Kakashi.

Sakura tidak bisa berbuat apa-apa. Sesekali dia memasuki kamar Sasuke untuk mengecek apakah Sasuke baik-baik saja. Sesekali Sasuke memeluknya sekilas dan bahkan mengecup dahinya singkat. Hanya sesekali. Dan memang hanya itu yang bisa Sasuke lakukan.

Dan seperti malam ini, Sakura hanya bisa merasa iri dengki pada Sai dan Ino yang sedang pergi berkencan entah kemana. Naruto bilang malam ini dia pulang ke rumahnya. Hinata sudah tidur sejak sejam lalu karena habis mengerjakan jurnalnya, jika menjadi Hinata, Sakura pun bisa langsung tertidur saat disuguhi kitab Undang-Undang Hukum Baku Konohagakure. Shikamaru…jangan ditanya. Sasuke sedang pergi sejak tadi sore. Sasuke bilang akan bertemu dengan keluarganya karena suatu acara, dia melangkah keluar dari rumah Kakashi setelah mencium pipi Sakura untuk berpamitan.

Hanya tinggal Sakura sekarang. Kesepian. Merana. Nganggur.

"Sakura, ada yang mencarimu."

Suara Kakashi membuat Sakura bangun dari leyeh-leyehnya dan berjalan ke arah pintu kamar. Sakura disambut Kakashi begitu dia membuka pintu kamar dengan lebar. Matanya membulat begitu menyadari ada seseorang di samping Kakashi yang sangat ia kenal.

"Papa?!" seru Sakura mendapati Kizashi sedang berada di sana. Di luar kamarnya.

"Halo, sayang!" Kizashi tersenyum sambil melambai ringan.

"Apa yang... apa yang Papa lakukan disini?" tanya Sakura.

"Untuk menjemputmu pulang." kata Kizashi sambil menyentuh pundak Sakura.

"Kenapa Papa bisa tahu aku tinggal disini?"

"Aku diberitahu Kakashi." Kizashi mengerling pada Kakashi. Sakura menatap Kakashi dengan heran, meminta kejelasan.

"Terlalu cepat untuk kabur dari Papamu ini, Nona Haruno." Kizashi menengahi. "Kakashi adalah adik tingkatku sewaktu kuliah. Dan percaya atau tidak, Kakashi yang memberitahu keadaanmu padaku selama ini."

Sakura mengerutkan kening.

"Kakashi-san…" Sakura kehabisan kata-kata. Kakashi hanya bisa tersenyum kecut.

"Kau lupa kalau Papa memiliki banyak kenalan dan relasi, Sakura? Papa sudah memantaumu sejak kau kabur dari rumah."

"Kenapa Papa melakukan itu?"

"Karena Papa dan Mama khawatir padamu." tukas Kizashi. "Mama sangat merindukanmu. Ayo pulang bersama Papa. Kau boleh tinggal di rumah selama beberapa hari. Papa janji tidak akan membuat Sakura tidak nyaman lagi seperti dulu. Maafkan Papa."

Sakura termangu mendengar penjelasan Kizashi. Dalam hati Sakura juga sebenarnya sangat merindukan kedua orang tuanya. Dan jangan lupakan fakta berikut : Kakashi merangkap menjadi mata-mata Kizashi di rumah ini.

"Maafkan aku juga, Papa. Sebentar, aku akan berkemas…" kata Sakura.

"Tidak usah. Kau bisa langsung pulang. Masih banyak bajumu di rumah dan bila kau memerlukan sesuatu, pasti akan Papa belikan." kata Kizashi.

Sakura mengangguk lalu mengikuti Kizashi turun dari tangga sampai di pintu depan.

"Kakashi, terima kasih sudah menjaga anakku." kata Kizashi sambil menepuk pundak Kakashi.

"Iya, senpai." balas Kakashi lalu beralih pada Sakura. "Sakura, maaf jika selama ini aku tidak memberitahumu."

Sakura menggeleng. "Tidak apa-apa, Kakashi-san. Terima kasih untuk semuanya."

Sakura membungkuk pada Kakashi dan keluar rumah, kemudian mengikuti Papanya yang berjalan ke arah mobil sedan berwarna hitam yang terparkir di depan rumah Kakashi. Kizashi merangkul bahu mungil putri kesayangannya itu. Diam-diam dia merutuki kenapa dia melihat batang hidung Sakeuchi keparat itu agar bisa menghajarnya sampai mampus.

.

.

.

Langit-langit bercat putih tulang dan dibatasi dinding bercat serupa yang penuh dengan poster film, tokoh superhero, kertas-kertas berisikan motto hidup, dan poster event tentang dunia perfilman serta profil entertainer. Kesanalah mata jelaga bak obsidian milik Uchiha Sasuke menuju. Di dalam kamar yang jarang ditempatinya lagi, Sasuke sedang tiduran di atas kasurnya yang empuk. Sasuke bisa membayangkan bagaimana kehidupannya dulu saat tinggal di kamar ini sebelum menyewa kamar di rumah Kakashi. Kamar yang nyaman dan damai –kecuali saat Itachi dengan seenaknya nyelonong masuk untuk meminjam DVD seenak jidatnya. Inilah kamar Sasuke yang berada di kediaman keluarga Uchiha. Cukup manly dan berantakan –padahal Mikoto sudah merapikannya beberapa kali, mengingat banyaknya barang di dalamnya.

Dahulu, rumah ini terasa begitu hidup. Namun saat Fugaku diangkat oleh almarhum sang kakek, Uchiha Madara, menjadi kepala rumah sakit Uchiha, semuanya berubah. Setiap hari Fugaku hanya berada di rumah selama 3-4 jam lamanya. Mikoto juga begitu, sebagai dokter anak, Mikoto membuka layanan praktik di klinik depan rumah selama 24 jam (dan hanya buka 12 jam pada hari Minggu). Semuanya bertambah parah saat Itachi masuk ke sekolah kedokteran. Sasuke berasa sendirian. Terkepung dalam keluarga workaholic berotak kiri penghafal letak nadi, pecinta anatomi, dan pengagum sistem imun. Sasuke merasa bertambah buruk saat menyadari bahwa dirinya tidak memiliki gen doctorable pada kromosomnya.

Memang, beberapa saat kemudian keadaan sedikit berubah. Mikoto memutuskan untuk pensiun dini. Itachi mulai magang di rumah sakit dan membantu Fugaku. Setidaknya membuat jam rumahan bapak dua anak itu bertambah. Saat Itachi berpikir bahwa Sasuke dapat membantunya untuk bisa meng-handle beberapa hal di rumah sakit, Sasuke mundur.

Masih Sasuke ingat di malam itu. Sasuke menunjukkan surat keterangan bahwa dia diterima di Universitas Tsuyoshi jurusan broadcasting. Pada saat keluarga Uchiha makan malam, Fugaku sama sekali tidak menyentuh makanannya dan bergegas pergi kamar tanpa berkata apa-apa. Tindakan Fugaku sudah cukup 'keras' walaupun hanya diam tanpa kata bagi telinga Sasuke. Sasuke merasa down selama beberapa waktu. Tidak terasa dia melangkah keluar dari rumah dan berakhir di kamar lantai bawah rumah milik seorang dekan nyentrik yang dilihatnya melalui iklan di internet. Sasuke mengira Fugaku membencinya, namun saat melihat Ayahnya datang bersama keluarganya di acara tahunan kompetisi film dokumenter yang diadakan fakultas, Sasuke kehilangan kendali dan memeluk Fugaku sambil menangis karena dua hal. Pertama, dia merasa terharu. Kedua, dia mendapatkan juara pertama.

Apapun yang diinginkan Fugaku, Sasuke akan menurutinya.

Tapi sepertinya dia terancam untuk tidak menurutinya kali ini.

Sasuke menutup matanya. Dia berharap perasaannya pada Sakura akan menghilang begitu membuka mata. Tapi Sasuke tidak menginginkan hal itu. Dia malah berharap perjanjian perjodohan yang diikrarkan Ayahnya dengan seseorang itu akan hilang. Sasuke memang bukan orang yang pesimis, tapi dia tahu waktu untuk pesimis. Fugaku membutuhkan kedua putranya untuk mengelola rumah sakit. Saat Sasuke mundur, tentu Fugaku akan mencari seseorang yang dapat menggantikan posisi yang hilang. Dan sepertinya Fugaku sudah menemukan orang yang sepertinya tepat. Masalahnya, Sasuke juga sudah menemukan orang yang tepat baginya.

Sasuke bangkit dari posisinya dan membenarkan letak dasi di kemejanya. Dia mengambil jas hitam dan memakainya. Sasuke mematut dirinya di depan cermin. Seorang pemuda dengan rambut raven tersisir rapi ke belakang yang memakai setelan jas resmi berwarna hitam elegan. Keluargnya bersiap bertemu dengan keluarga gadis itu. Mikoto dan Fugaku menunggunya di bawah.

.

.

.

Haruno Sakura sedang berkutat dengan ponselnya. Sakura sedang berkirim pesan pada Ino yang menanyakan keberadaan Sakura selama dua hari ini sekaligus menagih hutang dua bungkus mie instan miliknya yang telah Sakura masak selama Kakashi tidak ada tempo hari. Dengan sebal, Sakura menyuruh Ino untuk meminjam uang pada Hinata dulu kalau ingin membeli mie instan, karena Sakura tidak bisa pulang ke rumah Kakashi malam ini. Malam ini keluarganya mengajak makan bersama. Sakura sedikit heran mengapa dia harus memakai gaun selutut dengan warna fushchia yang baru dibelikan Mebuki tadi siang.

Panjang umur, Mebuki memasuki kamar Sakura. "Sudah siap, Sayang?" tanya Mebuki.

"Kenapa kita berpakaian rapi, Mama?" tanya Sakura.

"Karena kita akan bertemu orang penting, Sakura." Kata Mebuki sambil menyisir rambut Sakura yang belum rapi.

"Dengan siapa?" tanya Sakura.

"Kau akan mengetahuinya nanti."

"Kenapa Mama dan Papa merahasiakan ini padaku? Memangnya apa yang terjadi?"

"Kita akan bertemu dengan sebuah keluarga. Dan keluarga itu memiliki seorang putra. Dia seorang ikemen –lelaki tampan, yang menurut Papa dia akan cocok denganmu." jelas Mebuki.

"Apa?! Kalian menjodohkanku?" Sakura berbalik menghadap Mebuki.

"Kami hanya ingin mempertemukan kalian. Papa dan Mama serta keluarga itu sudah saling cocok satu sama lain."

"Kenapa Papa dan Mama berbuat seenaknya sendiri?!" nada suara Sakura meninggi.

Mebuki terdiam. "Sakura, Mama dan Papa telah memberikanmu kebebasan kemarin. Sekarang Mama dan Papa bisa saja memberimu kebebasan lagi dan sama sekali tidak mengekangmu. Kami memang ingin melihatmu bahagia. Tapi untuk berapa lama? Mama dan Papa tidak akan hidup selamanya. Papa tidak akan menjadi direktur televisi selamanya. Pada saat Papa mundur, siapa yang akan menggantikannya jika kau sibuk membuat daftar keluhan orang sakit? Kau adalah putri kami satu-satunya."

Sakura terbelalak.

"Pernahkah kau berpikir siapa yang akan menggantikan posisi Papamu saat dia pensiun?" tanya Mebuki.

"Papamu tidak mendapatkan tidur yang cukup saat kau kabur dan saat tahu kau masuk ke sekolah kedokteran. Papamu tidak bisa tenang sebelum memastikan kau baik-baik saja walaupun dia tidak memastikan secara langsung. Yang paling parah, Papamu mulai mengonsumsi obat penenang saat menyadari bahwa kau tidak bisa menjadi penerus OneKOH TV yang dirintis Papamu dari nol."

Sakura masih terdiam.

"Sakura, Papa membutuhkan pewaris. Dan syarat pewaris itu dia adalah suamimu. Papa sudah menemukan orang yang sepertinya tepat. Dan kita akan bertemu dia dan keluarganya malam ini."

"Bagaimana kalau aku juga sudah menemukan orang yang tepat, Mama?" tanya Sakura pelan.

Mebuki terdiam sesaat. "Lebih baik kau bertemu dengannya dulu. Dia adalah anak yang baik dan berasal dari keluarga baik-baik. Jika memang… kemungkinan terburuknya, kau tidak cocok dengan anak itu…" Mebuki berhenti sebentar. "…Papa akan menjual seluruh sahamnya saat pensiun."

Sakura terbelalak. Mebuki tersenyum lembut dan mencium dahi lebar putrinya.

"Kami menunggumu di bawah, Sayang." ucapnya sebelum menutup pintu –meninggalkan Sakura dan perasaanya yang tercampur aduk.

.

.

.

"Mereka sudah sampai." Fugaku menutup ponselnya.

"Bagaimana, Sayang? Mereka mau menunggu?" tanya Mikoto pada Fugaku yang duduk di kursi depan mobilnya. Sasuke hanya terdiam di samping Mikoto.

"Mereka sudah menunggu selama 15 menit. Ck, tidak kusangka jalanan akan sedikit macet malam ini." kata Fugaku kesal. "Tidak adakah jalan alternatif?" tanya Fugaku pada sopir pribadinya.

"Saya akan mencoba, Tuan." jawab lelaki paruh baya itu.

Mobil berbelok pada jalan kecil yang lumayan sepi, mengingatkan Sasuke pada jalan di depan rumah Kakashi. Mobil itu berbelok pada gang-gang sempit dan kadangkala harus mengalah jika berpapasan dengan mobil lainnya. Sasuke merasa gugup dan kedinginan. Tangannya terkepal kuat ketika menyadari mereka sudah tiba di tempat tujuan mereka.

Sasuke keluar dari mobil dan mengikuti Fugaku dan Mikoto menuju ke dalam restoran hotel. Sasuke berjalan beberapa meter di belakang mereka. Tangannya masih terkepal kuat. Keringat dingin menetes dari dahinya.

Sasuke penasaran dengan gadis itu –sejujurnya.

Apakah dia juga ceroboh seperti Sakura? Apakah dia juga bodoh seperti Sakura? Apakah dia juga bermulut tajam dan kasar seperti Sakura? Apa dia juga tersenyum seperti Sakura? Apa dia juga tertawa seperti Sakura? Apa dia juga punya bau badan afektif seharum Sakura? Terpenting dari semua itu, apakah dia seperti Sakura?

Sasuke gamang. Dia juga ingin bahagia dengan pilihannya sendiri.

.

.

.

Sakura memainkan kukunya tanpa henti ketika duduk di salah kursi empuk yang melingkari meja makan bergaya Eropa klasik. Mebuki sibuk selfie dengan kameranya, sedangakan Kizashi sibuk dengan ponselnya yang dari tadi berbicara dengan seseorang yang mengaku akan sedikit terlambat karena macet. Sakura menggerakkan lututnya karena gugup dan langsung berhenti saat Mebuki menggeram memberikan peringatan untuk berhenti.

Sakura menghela nafas. Pendingin ruangan pada restoran itu sudah bekerja maksimal, tapi Sakura merasa gerah. Membayangkan Sasuke yang mungkin sedang berada di kamar rumah Kakashi, membuatnya bertambah gugup.

Sakura menggigit bibir bawahnya sambil membayangkan siapa ikemen yang disebutkan ibunya.

Apa dia menyebalkan seperti Sasuke? Apa dia bodoh seperti Sasuke? Apa dia suka marah dan membentak seperti Sasuke? Apa dia bisa memeluknya seperti Sasuke? Apa dia bisa mencium dahi Sakura dengan lembut sama seperti Sasuke? Apa Sakura bisa menyukainya seperti Sasuke?

Potongan adegan berkelebat di benak Sakura. Seketika semuanya terhenti saat terdengar keributan kecil di depan restoran. Ponsel Kizashi berdering, lalu Kizashi mengangkatnya dan memekik tertahan. Kizashi berlari ke arah sumber keributan. Mebuki berdiri dan mengikuti suaminya berlari keluar, sedangkan Sakura masih cengo dengan keadaan sekitarnya.

Beberapa saat kemudian, gadis musim semi itu bangkit dan berlari keluar. Keributan –oh bukan, hanya beberapa orang yang berbicara terpotong-potong yang menyebabkan adanya kumpulan gelombang frekuensi tidak beraturan. Sakura berhenti di balik pintu utama restoran yang setengah terbuka. Mencoba mencuri dengar.

"…bagaimana ini bisa terjadi?" itu suara Kizashi.

"Saat aku menoleh ke belakang, dia sudah tidak ada." jawab suara berat seorang pria yang kira-kira seumuran dengan Kizashi.

"Kami sangat menyesal. Kami tidak tahu dia akan melakukan itu. Kami memasuki gedung hotel ini bersama-sama." kata seorang wanita.

"Apa kalian sudah bertanya pada sopir?" tanya Mebuki.

"Kami sudah bertanya pada sopir kami, tapi dia tidak melihat kemana putra kami pergi." kata pria asing tersebut.

Deg! Sakura mundur perlahan dari pintu. Dirinya termangu sesaat mencoba menerjemahkan kalimat yang diluncurkan pria itu. Jelas sudah. Ikemen itu mundur, bahkan sebelum mereka bertemu. Bukankah Sakura sudah tidak memiliki alasan untuk tetap berada disini?

Sakura juga harus berjuang demi kebahagiannya.

"Sungguh, kami sangat malu dan menyesal atas kejadian ini." kata wanita itu penuh penyesalan.

"Sudahlah, tidak apa-apa. Kita akan memecahkan masalah ini bersama-sama." ujar Kizashi menenangkan suasana.

"Lebih baik kita masuk ke restoran dan membicarakan ini. Putriku sudah menunggu di dalam." kata Mebuki.

Kizashi membimbing tamunya memasuki restoran. Serta merta, kepanikan pasangan suami istri yang baru kehilangan putra mereka itu berpindah pada Kizashi dan Mebuki yang kini menyadari bahwa putri mereka juga tidak ada di tempat semula.

.

.

.

Sakura telah melepas gaun fuschia-nya dan berganti celana training dan t-shirt. Sakura menyimpan gaunnya itu di bagian terdalam lemari di kamar rumah Kakashi. Untunglah, Sakura membawa kunci loteng rumah Kakashi di dalam pouch-nya sehingga Sakura bisa langsung masuk melalui tangga teras. Sakura sudah mengecek kamar Ino dan Hinata. Kamar mereka berdua kosong. Mungkin Ino pergi bersama Sai, mengingat ini adalah akhir pekan. Sakura tidak tahu dimana Hinata dan semua penghuni lelaki lainnya.

Sakura melemaskan ototnya di atas kasur. Gadis itu sengaja mematikan ponselnya guna menghindari telepon dari Kizashi yang membuat kepalanya overload. Kepala Sakura sudah terasa penuh dengan hal-hal yang sudah terjadi pada hari ini. Fakta bahwa dia ditolak sebanyak dua kali oleh lelaki. Pertama, oleh Sasuke, saat Sakura mengutarakan cintanya dulu (walaupun pada akhirnya Sasuke mengaku dia menyukai Sakura juga). Kedua, oleh lelaki asing yang bahkan tidak Sakura kenal sama sekali yang bahkan mereka belum bertemu yang bahkan Sakura tidak ingin bertemu juga. Kenapa kehidupan cintanya bisa menyedihkan seperti ini.

Tubuh Sakura berjingkat sesaat karena terkagetkan ketukan di pintu luar loteng. Sakura mendekati pintu yang berhubungan dengan teras itu dan menyibak tirainya sedikit, was-was jika itu adalah Ayahnya. Ternyata bukan.

"Sasuke…" mata Sakura berbinar mendapati seorang pemuda berkemeja putih dan celana formal hitam ada di luar pintu lotengnya.

"Hai…" Sasuke menepuk dahi Sakura pelan.

"Kau dari mana?" tanya Sakura.

"Tidak dari mana-mana. Hanya dari suatu acara." jawab Sasuke melenggang memasuki kamar Sakura.

Sakura sedikit keheranan dan menutup pintu.

"Sepi sekali rumah ini. Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Sasuke berbalik menghadap Sakura.

Sakura menggeleng.

"Aku tidak melakukan apa-apa. Aku hanya mengerjakan beberapa tugas dan ini baru selesai." tentu saja Sakura berbohong. Mana mungkin Sakura mengatakan bahwa dia baru saja kembali dari acara pembatalan sepihak dari calon mempelai pria asing yang akan dinikahkan dengannya?

"Begitu?" tanya Sasuke.

"Iya… Aku sedikit bosan malam ini…" keluh Sakura.

Sasuke mengamati Sakura dengan intens, membuat gadis itu merasa heran. Sakura merasa risih dengan tatapan tajam Sasuke menusuknya bagaikan hieroglif Mesir –begitu indah, namun tidak bisa diartikan. Perlahan Sasuke menghilangkan jarak diantara mereka berdua dan mengurung Sakura dengan pelukannya.

"Sasuke?" Sakura tidak mengerti kenapa Sasuke tiba-tiba berbuat seperti ini.

"Sakura, kau adalah gadis yang bodoh, ceroboh, tolol, dan kasar." kata Sasuke.

"Kau memelukku untuk memberitahuku hal ini?" tuduh Sakura.

"Hn." gumam Sasuke.

"Tindakan dan ucapanmu tidak sinkron!" Sakura protes.

"Tidak ada gadis diluar sana yang sama bodohnya dengan dirimu." gumam Sasuke di telinga Sasuke.

"Kau ini kenapa sih?!" Sakura mendorong tubuh Sasuke, namun Sasuke menahannya.

"Tidak ada gadis diluar sana yang membuatku sama bodohnya dengan dirimu."

Sakura terdiam. Barusan…suara Sasuke bergetar?

Sasuke melepaskan pelukannya dan memandang Sakura. Sakura menjadi lebih heran saat melihat ada leleran air mata tipis meluncur dari sudut mata Sasuke melewati pipinya. Sasuke hanya memandangi Sakura membiarkan air matanya terjatuh secara elegan.

"Sasuke, kenapa kau menangis? Apa ada masalah? Ceritakan padaku." ujar Sakura panik.

Sasuke menunduk dan menghapus air matanya sekilas.

"Sasuke, apa yang terjadi?" tanya Sakura.

"Bolehkah aku meminta sesuatu padamu, Sakura?"

Sakura mengangguk.

"Apapun yang terjadi, tetaplah bersamaku untuk sementara waktu." kata Sasuke pelan sambil menunduk.

"Iya…" jawab Sakura pelan.

Sasuke menggenggam kedua tangan Sakura erat. "Sakura, aku… Aku… Aku tidak ingin hidup bersama gadis lain."

Sakura terenyuh, walaupun masih sedikit bingung dengan statement Sasuke barusan

.

.

.

"Ah, shit!" Naruto mengumpat saat menjumpai kata-kata YOU LOSE pada layar di depan matanya. "Padahal sudah hampir berhasil…" keluhnya. Naruto memasukkan sebuah koin lagi dan memencet tombol reset pada mesin permainan itu. Layar permainan kembali menampilkan jajaran mobil-mobil mewah beragam warna dan bentuk dengan tulisan Need For Speed Ultra sekali lagi. Dipilihnya sebuah mobil virtual jagoannya lalu dengan lihai, Naruto memainkan simulasi setir, gas, dan rem di mesin itu.

"Ya…ya! Kejar! Ngebut!" pekiknya kegirangan. "Bajinguk, salah jalur! Putar balik!" Tinggal beberapa putaran lagi, Naruto akan menjadi juara dalam race babak pertama ini. Tiba-tiba paha kanannya terasa geli karena merasa ada getaran di saku celananya.

"Aduh, siapa sih yang telepon! Ganggu saja!" teriaknya parau. Dengan susah payah Naruto merogoh ponselnya yang bergetar setelah dia menyelesaikan race pertama.

"Halo?!" sapanya kasar.

"Naruto, kau dimana?" ujar seseorang dari seberang.

"Aku sedang main. Ada apa, Sasuke?" tanya Naruto.

"Bisa kau pulang sekarang? Aku butuh bantuanmu!"

"Seenaknya sendiri menyuruh orang untuk pulang!" Naruto emosi. "Memangnya kau siapa?!"

"Aku butuh bantuanmu!"

"Aku tersanjung kau butuh bantuanku, tapi aku sedang sibuk." tolak Naruto.

Hening.

"Kau pasti menyukai artis Haruna Kojima dan Mayu Watanabe sehingga kau mengoleksi majalah mereka di bawah tempat tidurmu." ujar Sasuke kalem.

"Bagaimana kau tahu?!" tanya Naruto.

"Mereka akan berakhir di tong sampah kalau kau tidak pulang dalam waktu 10 menit." ancam Sasuke.

Naruto mendengus. "Buang saja kalau berani!" tantang Naruto.

"Mereka akan berakhir di tempat sampah setelah aku menyobek-nyobek mereka." tandas Sasuke.

"Lakukan saja!"

"Potongan majalahmu akan berakhir di tempat sampah dalam bentuk abu setelah aku membakarnya."

Hening.

"Naru…"

"AKU PULANG SEKARANG! DASAR KAU UCHIHA SIALAN!" Naruto menutup teleponnya dan berlari pulang.

.

.

.

"ADA APA?!" Naruto memasuki kamar Sakura setelah diberitahu Sasuke lewat telepon. "Lagipula, kenapa kau ada di kamar Sakura-chan?!"

"Aku butuh bantuanmu untuk menyembunyikanku sementara ini." kata Sasuke sambil menggendong tas ranselnya.

"Buat apa tas ransel itu? Sasuke? Sakura-chan, kenapa kau memakai tas ransel juga? Kalian mau kemana?" tanya Naruto bertubi-tubi.

Sasuke dan Sakura hanya berpandangan.

"Naruto…" Sakura mencoba menjelaskan.

"Tidak ada waktu untuk menjelaskan, Naruto. Aku ingin kau membawa kami ke suatu tempat. Aku harus bersembunyi untuk sementara waktu dan Sakura memutuskan untuk ikut bersamaku. Hanya untuk sementara." jelas Sasuke.

"Lalu kemana aku harus membawa kalian?!" teriak Naruto.

"Terserah kemana saja! Aku tidak tahu harus menuju kemana selain klub tempat aku bekerja. Kau adalah seorang cassanova, kau pasti memiliki jangkauan main yang luas. Kau pasti tahu suatu tempat." kata Sasuke.

"Aku…"

"Yang paling penting, kita harus keluar dari rumah ini sekarang!" kata Sakura merasakan suatu firasat buruk. "Jangan sampai ketahuan Kakashi-san!"

Sasuke dan Naruto terdiam.

"O…oke…" kata Naruto . "Akan kupikirkan saat kita sudah diluar."

Mereka bertiga menuruni tangga menuju lantai satu. Naruto masih tidak mengerti dengan apa yang akan dilakukan kedua temannya itu. Mereka bertiga mendadak berhenti mendapati sesosok pria berambut perak berdiri menghalangi pintu depan. Kakashi.

"Apa yang kalian lakukan dengan mengendap-endap seperti itu?" suara Kakashi terdengar seperti melodi kematian bagi mereka.

"Aku, Sasuke, dan Sakura…kami akan pergi keluar." kata Naruto mencoba berlogat wajar.

"Kalian boleh keluar." kata Kakashi dingin. "Tapi Sakura tetap tinggal."

"KENAPA?!" pekik Sasuke dan Naruto bersamaan. Tubuh Sakura menegang.

"Haruno Sakura barusan kabur dari orang tuanya…lagi." Kakashi memberi penekanan di akhir kalimat sambil melotot pada Sakura. "Aku tidak ingin rumahku hanya menjadi pelarian anak-anak pembangkang seperti kalian."

"Barusan kau bilang kau habis mengerjakan tugas?" tanya Sasuke pada Sakura.

"A…akan kujelaskan nanti." jawab Sakura.

"Dan kau, Sasuke. Aku baru saja berpikir aku akan menelepon kakakmu untuk menjemputmu pulang!" kata Kakashi dingin.

"Apa yang sebenarnya terjadi disini?" tanya Naruto.

"Kakashi-san, ini bukan seperti yang kau pikirkan." cicit Sakura.

"Aku berubah pikiran." kata Kakashi. "Kalian semua TIDAK DIIZINKAN keluar melalui pintu ini sebelum orang tua kalian datang menjemput." Kakashi merogoh ponselnya. "Aku sudah menelepon orang tua Sakura dan mereka sedang dalam perjalanan kemari. Sekarang, tinggal menelepon kakak Sasuke."

"Apa?!" Sakura menjerit.

"Apa yang terjadi?!" jerit Naruto menagih jawaban.

"Kakashi, aku akan menendangmu jika berani menelepon kakakku!" ancam Sasuke.

"Apa ini ada hubungannya dengan masalahmu hingga tadi kau menangis?" tanya Sakura pada Sasuke.

"Um…akan kujelaskan nanti." elak Sasuke.

"APA YANG TERJADI?!" jerit Naruto frustasi.

"AKAN KUJELASKAN NANTI!" bentak Sasuke. "Sekarang bantu aku dan Sakura kabur dari sini!"

"Kalian tamat." Kakashi tersenyum miring.

"Kakashi-niisan! Biarkan kami lewat! Aku tidak tahu apa yang terjadi disini, tapi aku harus membantu teman-temanku!" teriak Naruto.

"Kalau kau membantunya, kau juga akan tamat!" kata Kakashi sambil memencet tombol dial nomor Itachi.

"TELEPONNYA!" teriak Sasuke.

"TIDAK!" teriak Sakura.

Refleks, Naruto menerjang tubuh Kakashi hingga mereka berdua kehilangan keseimbangan jatuh kelimpungan menabrak daun pintu. Naruto berjibaku merebut ponsel dari tangan Kakashi namun Kakashi dapat membalik keadaan. Mereka berdua menggelinding menubruki lemari tempat buku Kakashi hingga buku-buku itu jatuh berserakan. Sakura menjerit nyaring saat perkelahian Kakashi dan Naruto menyebabkan kaca meja ruang tamu pecah karena terhantam selusin buku yang meluncur dari lemari.

"SASUKE! Ambil kunci mobil Shikamaru di atas tempat tidurku!" titah Naruto.

Sasuke mengangguk dan secepat kilat lalu berlari ke dalam kamar Naruto. Sasuke bergidik melihat melihat tumpukan pakaian dalam –yang entah itu kotor atau bersih berserakan di atas sana. Sasuke memunguti pakaian dalam itu dengan rasa jijik.

"Fuck you, Naruto! Dimana kuncinya!" teriak Sasuke frustasi.

"Bajirut!" Naruto masih sibuk berduel dengan Kakashi. "Di atas kasur, didekat bantal!" teriak Naruto.

Sasuke melemparkan bantal Naruto yang bau dan menemukan seonggok kunci mobil di bawah sana.

"TIDAK AKAN KUBIARKAN!" Kakashi melepaskan kunciannya pada lengan Naruto dan berlari menyusul Sasuke. Sasuke berhasil keluar dari kamar Naruto dan Kakashi menghadangnya. Sasuke menjerit saat Kakashi menepis tangannya dengan kasar, membuat kunci mobil itu terlempar ke ruang tamu. Sasuke dan Kakashi langsung tiarap dan merangkak berlomba menggapai kunci yang terlempar di bawah sofa. Naruto bangkit dan menghampiri Kakashi lalu diseretnya kedua kaki Kakashi menjauhi sofa. Naruto mencengkeram kerah Kakashi dan merebut ponselnya.

Tangan Sasuke berhasil menggapai kunci mobil Shikamaru. Kakashi membanting tubuh Naruto dan mencoba merebut kunci itu kembali. Sasuke berontak. Mereka jatuh dan menabraki meja pajangan barang koleksi Kakashi dan barang-barang kaca itu berjatuhan membuat suasana semakin kacau.

Sakura berlari ke dapur karena tidak tahan melihat perkelahian mereka. Kaki Sakura menaiki counter dapur mencari sebuah ember plastik yang diletakkan Kakashi rak atas dapur. Sakura sempat terpeleset dan terjatuh menyebabkan pegangannya pada rak ikut terlepas sehingga koleksi ember, gelas, sendok, garpu, wajan, dan semua peralatan masak Kakashi semuanya terjun bebas ke lantai. Sambil menahan nyeri di kakinya, Sakura memungut ember dan mengisinya dengan air dari wastafel. Lalu dengan susah payah, Sakura berlari ke kamar Kakashi dan matanya berkilat melihat lemari kayu yang menampung koleksi buku deluxe Icha Icha whatsoever itu.

BYUR!

Sakura menumpahkan seluruh volume air di embernya. Seketika buku-buku itu menjadi lembek dan Sakura tersenyum puas.

"MY BABY…!" Kakashi menjerit nyaring kala menyadari apa yang Sakura lakukan pada koleksi berharganya itu. Kakashi melepaskan Naruto dan Sasuke lalu terbirit-birit menuju kamarnya, sedangkan Sakura berhasil menyelinap keluar dari jendela Kakashi dengan tubuhnya yang mungil.

Sasuke dan Naruto terkesiap lalu berlari ke arah pintu. Sasuke membanting pintu depan, sedangkan Naruto menendang pot bunga nomor tiga dan menemukan kunci pintu di bawahnya. Kenop pintu telah terkunci, namun bisa Naruto merasakan gerakan Kakashi di balik pintu.

"Naruto, Sasuke, Sakura! Kalian tidak tahu apa yang kalian lakukan!" pekik Kakashi dari dalam. Kakashi menoleh sekeliling, dia berlari menaiki tangga dan berusaha keluar dari pintu loteng kamar Sakura yang langsung terhubung dengan teras.

"Semuanya, masuk ke mobil!" teriak Naruto. Mereka bertiga langsung melesak masuk ke mobil Shikamaru. Naruto duduk di kursi kemudi. Tangan Naruto memasukkan kunci dengan gemetar. Tiba-tiba pandangan mereka kabur karena silau. Sebuah lampu mobil di depan rumah Kakashi yang menyilaukan menyorot mereka.

"ITU MOBIL PAPAKU!" pekik Sakura.

"KAKASHI SUDAH BERHASIL KELUAR, NARUTO!" Sasuke meremas lengan Naruto sambil menunjuk Kakashi yang tergopoh-gopoh menuruni tangga teras.

Naruto menyalakan mobil.

"PAGARNYA BELUM TERBUKA, BODOH!" teriak Sasuke nyaring di telinga Naruto.

"JANC*K! AKU SUDAH TAHU! JANGAN BERTERIAK-TERIAK!" teriak Naruto emosi sambil menginjak pedal gas.

Mobil Shikamaru melompat kaget membuat ketiga orang di dalamnya hampir terjengkang. Naruto dapat menguasai kemudi kembali lalu menginjak pedal gas dan mobil itu berputar lalu mendekati pagar dengan kecepatan penuh.

"AAAAAARRGH!" Sasuke dan Sakura berteriak horor.

Kakashi melotot sempurna saat mobil yang dikendarai Naruto menabrak pagar besinya hingga mencuat dari tanah dan terlempar beberapa meter. Pagar besi dan bemper depan mobil itu ringsek seketika.

"Maaf, Shikamaru!" pekik Naruto. Naruto menekan persneling mengubah gigi mobil dan memutar kemudi sebanyak 90 derajat. Mobil itu berputar menabrak bemper mobil sedan Kizashi dan berhasil memunggunginya. Naruto berhasil menghentikan putaran mobil dan kembali menginjak pedal gas dengan kecepatan penuh membuat mobil Shikamaru berlari menjauh dengan tidak konstan sambil menubruki beberapa tong sampah di pinggir jalan.

"DI DALAM MOBIL ITU ADA ANAKKU!" pekik Kizashi. "AKU MELIHAT ADA SAKEUCHI-YAROU! KEJAR, SISHIMARU!"

Sishimaru menekan persneling dan langsung menginjak pedal gas, tidak memedulikan bemper mobil yang sebagian terjatuh dan menyapu aspal menimbulkan suara gesekan yang mengerikan.

"Mereka mengejar kita!" teriak Sakura.

"KITA MAU KEMANA?!" tanya Sasuke panik.

"JANGAN TANYA AKU!" bentak Naruto. "BANGKE, AKU TIDAK TAHU APA YANG TERJADI DISINI. DAN AKU TIDAK TAHU MOBIL INI AKAN MENUJU KEMANAAA!"

Mereka bertiga sedikit terlempar kedepan karena Sishimaru dapat menyenggol bagian belakang mobil di depannya dengan bemper sedannya yang ringsek. Sishimaru menambah kecepatan dan berhasil mendahului Naruto.

"SAKEEUCHIIII~~rg!" pekik Kizashi seperti orang kesurupan sambil membuka kaca mobil.

"AAAARRGH!" Naruto, Sasuke, dan Sakura berteriak.

"DEMI PETIS IKAN, AKU TIDAK TIDAK MENAMATKAN GAME NEED FOR SPEED UNTUK INI!" Naruto berteriak nyaring. Naruto menginjak pedal rem mendadak, membuat mereka bertiga terjungkal ke depan. Naruto memundurkan persneling dan menginjak pedal gas. Mobil itu bergerak mundur dengan cepat menjauhi Sishimaru dan Kizashi.

"AAAAAAARGH!" Sasuke dan Sakura berteriak nyaring ketika mobil Shikamaru menabraki kotak pos milik warga dan sedikit melenceng dari badan jalan. Mobil Shikamaru bergerak mundur dengan cepat, membuat sedan Kizashi tertinggal jauh di depan.

Tiba-tiba Naruto menginjak rem sekali lagi, membuat Sasuke dan Sakura jatuh kelimpungan berjungkir balik ke belakang jok mobil.

"FUCK!" umpat Naruto.

Naruto memutar kemudi dan menikung tajam berbelok ke suatu jalanan sepi. Meninggalkan mobil Kizashi dan rumah Kakashi. Sekarang Naruto punya tujuan untuk menyembunyikan mereka berdua.

Tambahkan di catatan Naruto, dia akan mencekik Sasuke untuk ini.

.

.

.

-bersambung-

magnifiken

Halo semuanya…!

Magnifiken disini.

Pertama-pertama biarkan author mengecup kalian satu persatu untuk Fav, Follow, Review, dan segala jenis partisipasi kalian. Maafkan author kalau tidak sempat membalas review. Tapi review kalian selalu author baca. Segala kritik dan saran yang membangun selalu author pertimbangkan dan dicerna baik-baik… Terima kasih ya… #bow90degree

Beberapa dari reader nanyain sumber inspirasi fict ini. Well, if I can say, fict ini terinspirasi dari kehidupan asli author (uhuk). Ada yang bener-bener terjadi, ada yang cuma fiksi. Jadi author mix jadi satu biar greget. Daripada author simpen, mending dijadiin fict kan mayan bisa menghibur. #weleh

Author habis seminar penelitian nih #curhat. Jadi muuph kalo apdetnya lamaaa. Habis ini mungkin apdetnya cepet. Mungkin.

Pokoke, Testosterone Attack! kembali dengan chapter 9!

Monggo diorder… #eh Monggo dibaca.

Jangan lupa bahagia!

Kiss Kiss :* :*