Tittle : Boy In Luv

Author :Mr_KHC and AL_quilis

Genre : Romance, Drama, Action, Hurt, Crispy Lay's, YAOI, Slice Of Life, etc.

Main Cast :

-Kim Jongin

-ByunBaekhyun

-Park Chanyeol

Other Cast : U will find inside there

Pair :ChanKai, ChanBaek, KaiBaek, HunKai, E-CoBaek

Rate : T semi M

Disclaimer : Ide cerita adalah hasil pemikiran otak saya dan sahabat saya, no plagiarism, bila ada kesamaan tempat, jalan cerita, dll, mohon dimaafkan, karena otak manusia tak dapat ditebak. Semua cast hanya milik Tuhan, dan saya hanya meminjam...

Enjoy it!

Warning : typo menyebardantercecer, bagi yang takSuka YAOI silahkanhengkang.. :D

Annyeong... /lambai-lambai

Kekeke...kali inisayadatingbawa FF barulagi, tapiinikolabbarengtemensaya, sebutsajaAL_quilisentahapa yang adadiotakkami, tiba-tibatercetusuntukmembuatfanfictsemacemini.

Happy read all..love u all..

SUMMARY..?

Untuk part ini saya memang sengaja khususkan untuk hubungan antara E. Co / E-Co dan Baekhyun, karena jujur saya gregetan, dan juga banyak yang bertanya apa Baekhyun bakalan jadian dengan Chanyeol atau E-Co, dan bagaimana kelanjutan Chanyeol yang patah hati dengan Jongin

===========KHC-N-AL============

.

.

.

.

.

Chanyeol berjalan lambat menyusuri jalanan Cheondamdong sembari memsakukkan kedua tangannya dalam saku celana jeansnya. Poni rambut bergelombang miliknya sesekali tersibak tertiup angin musim semi, sesekali pula ia menghela nafas berat. Mencoba mengusir sesuatu yang menyesakkan di dadanya. Kejadian tempo hari di acara kelulusan masih ia ingat, seperti tertusuk jarum. Seakan berusaha membuat hatinya kebas.

Chanyeol tidak pernah mengira pemuda manis yang disukainya itu sudah menikah setahun lamanya, dan sudah menjalin hubungan sekian lama bahkan sebelum mengenal Chanyeol. Sungguh Chanyeol serasa dihempas dalam lautan berjurang dan tak dapat berenang keatas kembali. Ia sudah kalah telak oleh pemuda bernama Oh Sehun itu sejak awal. Dan lagi, ketua mafia? Yang benar saja! Ya ampun, Chanyeol benar-benar kalah sejak awal! Apalagi ternyata sang ayah merupakan salah satu anggotanya.

Ia gusar, bercampur rasa bersalah mendalam pada Baekhyun. Terlebih pengakuan Baekhyun yang menyukainya. Sungguh Chanyeol merasa benar-benar jahat. Bagaimana bisa ia tidak peka pada temannya sendiri? Betapa Baekhyun menderita tatkala harus melihat Chanyeol yang selalu berusaha memenangkan hati Jongin -yang tidak pernah berhasil-, dan dengan bodohnya Chanyeol meminta solusi pada namja imut itu.

Argh!

Semuanya hilang sudah!

Tak adakah yang mengejutkannya lagi? Rasanya Chanyeol sudah remuk, tak adakah yang lebih membuatnya berkeping-keping lebih dari ini? Kalau bisa sampai musnah saja, menjadikannya butiran debu yang tertiup angin. Chanyeol sudah tidak tahan lagi.

Kembali Chanyeol menghela nafas berat, dengan kepala menunduk sembari terus berjalan. Dadanya terlampau sakit hingga harus menghela nafas terus-menerus.

"Kau memang bodoh, Park Chanyeol. Idiot!" Chanyeol bergumam mengumpat dirinya sendiri, sembari menjambaki rambutnya, tanpa ia sadari bahwa ia tengah melintas diatas jalan beraspal. Beruntunglah ini jalanan sepi mengingat sudah pukul 10 malam lebih.

Sejenak Chanyeol berhenti, tepat di 3 langkah dari tepi jalan. Ia mendongak, menatap langit bertabur kemilau bintang yang sangat indah. Sejenak ia terkesima, menikmati pemandangan alami yang terbentang luas, mengabaikan sejenak kesakitan batin yang mendera. Meski tak ada senyum dibibir itu.

Hingga-

Brrmm- suara deru mobil dipacu dalam kecepatan diatas rata-rata, melaju cepat diatas jalan raya Cheondamdong. Sebuah seringai terukir angkuh pada wajah tegas bak bule dengan rambut pirang itu.

Ia semakin memacu mobilnya setelah melewati belokan tajam, namun-

"Astaga!"

Tinnnn!

Ckkittttt...

"KYAAAAA!"

Ssrrr...

Brukk...

Kris mengatur napasnya tidak karuan, jantungnya berpacu begitu cepat serasa mau copot. Matanya membulat liar. Kejadian barusan seperti slow motion dimana ia mendengar teriakan dan gesekan ban mobilnya dengan aspal.

Ia- baru saja menabrak orang! Ya Tuhan!

Kris segera melepas shift belt-nya tidak sabaran kemudian bergegas keluar dari mobilnya, menengok sesuatu di depan mobilnya dengan raut tak terkendali. Jujur, ia kaget. Sangat.

Mata Kris kembali melotot kaget ketika mendapati seseorang tengah terduduk dengan tubuh bergetar, dan mata ketakutan. Seorang pemuda berambut ikal terlihat tegang. Ya ampun, hanya tinggal beberapa centimeters saja tamat sudah!

"Kau tidak apa-apa?!" Tanya Kris panik seraya menghampiri pemuda itu. "Hei! Hei, sadarlah!" Kris menepuk pelan pipi pemuda itu ketika tak mendapati respon, padahal pemuda asing ini membelalakkan matanya. Napasnya juga tersengal. "Ayo kerumah sakit!" Kris menarik sebelah tangan pemuda itu agar mengalung dilehernya. Namun, tangan itu bergerak menolak.

Chanyeol mengatur napasnya agar kembali teratur. Sungguh kejadian barusan hampir saja merenggut nyawanya.

"Bagus! Iya begitu, tarik nafas dan hembuskan perlahan. Fuhh... fuhh..." Ucap Kris seolah menuntun Chanyeol untuk mengontrol napasnya. Yang bodohnya, Chanyeol menurut.

Namun tak berapa lama, Chanyeol menoleh cepat, menatap nyalang pada pemuda pirang di sebelahnya.

"Bagus kepalamu! Kau sudah gila, hah?! Mengemudi secepat itu! Aku hampir mati tahu!" Chanyeol berseru tepat didepan wajah Kris. Kris yang kaget, sontak membulatkan matanya bahkan hingga terjengkang kebelakang, memasang wajah cengo disana.

"Kau tidak apa-apa? Maafkan aku." Ucap Kris gelagapan.

"Tidak apa-apa bagaimana?! Kau tidak lihat aku terlalu kaget?!" Chanyeol masih berteriak.

"Hei, aku 'kan sudah minta maaf. Galak sekali!" Kris balas mengumpat. "Coba kuperiksa." Kris memeriksa tubuh Chanyeol, memastikan ada luka atau tidak. "Tidak ada yang terluka. Artinya kau baik-baik saja. Berhenti berteriak, atau kusumpal mulutmu!"

"Hei! Disini kau yang bersalah!"

"Kau juga bersalah! Berdiri ditengah jalan! Kau frustasi dan ingin bunuh diri?!"

"Sembarangan!"

Dan keduanya berakhir dengan dengusan sebal. Sebelum Kris terperanjat ketika sebuah mobil sport melaju kencang melewati mereka.

"Astaga! Balapannya!" Kris memekik nyaring, seraya berdiri bermaksud menghampiri mobilnya. Namun gerakannya terhenti ketika sebuah tangan menariknya.

"Kau ingin melarikan diri, hah?! Kau harus bertanggung jawab! Siapa tahu aku luka dalam!" Ujar Chanyeol marah. Membuat Kris kembali mendengus.

"Tidak ada waktu untuk itu! Kau ikut aku saja! Aku akan membawamu kerumah sakit jika aku memenangkan balapan." Dan dengan itu Kris menarik tangan Chanyeol, memasukkannya paksa pada kursi penumpang sebelah kemudi.

"Ya! Ya! Apa yang kau lakukan!" Chanyeol memekik.

Brrrmmm...

Namun pekikannya tak diindahkan oleh Kris, pemuda itu langsung tancap gas. Melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.

Chanyeol melotot, dengan segera ia memegang sebuah benda yang menempel disisi jendela -benda untuk pegangan tangan pada mobil-. Chanyeol merasa dejavu, ia pernah berada dalam mobil yang melaju kencang seperti ini sebelumnya, bersama- Kim Jongin. Dan cara mengemudi pemuda pirang ini serasa mirip dengan Jongin.

"Jika kau ingin selamat, pakai sabuk pengamanmu!" Kris berseru sembari fokus mengemudi.

"Pakai bagaimana?! Mobil ini tidak bisa tenang! Cepat sekali! Huwaaaa~"

"Berisik~! Jangan berteriak! Kau mengganggu konsentrasiku tahu!"

"Cepat akhiri ini!"

"Tanpa kau suruh pun akan aku akhiri, bodoh!"

"Apa katamu?!"

"Diam!"

Brrmmm...

.

*** Boy In Luv ***

.

Kris dan Chanyeol nampak keluar dari dalam mobil dengan tergesa, bergegas menghampiri satu sama lain ketika mobil sport yang mereka tumpangi sempurna berhenti. Yang mencengangkan adalah, sang pemimpin balap liar kalah! Hei! Tsk!

Kris menatap sengit Chanyeol yang tingginya tak jauh berbeda di depannya. Ia menggeram kesal. Matanya melotot kearah Chanyeol yang juga menampilkan ekspresi sama.

Srett!

Sebelah tangan keduanya terayun, saling mencengkeram kerah mereka. Bahkan keduanya hampir bersamaan berdecak jengkel.

"Ini gara-gara kau! Aku kalah balapan! Tsk!" Seru Kris tak terima, ekspresinya nyalang menghujam Chanyeol.

"Kenapa aku! Setidaknya ini setimpal karna kau hampir menabrakku!" Balas Chanyeol sengit.

"Siapa suruh berdiri di tengah jalan!"

"Hei, Kris! Cepat bayar kekalahanmu!" Seseorang memotong -orang yang menjadi lawan Kris tadi-. "Dan siapa pemuda asing ini?" Lelaki itu menunjuk pada Chanyeol.

"Diam kau!" Lelaki itu tersentak kaget dengan wajah cengo, diteriaki secara kompak oleh dua pemuda yang sepertinya tengah berperang.

Tangan Kris yang semula mencengkeram kerah Chanyeol kini beralih cepat menjambak rambut belakang Chanyeol, menariknya mendekat hingga berbenturan dengan dahi kerasnya.

"Auch!" Chanyeol memekik sakit. Tak selang lama, Chanyeol melakukan hal yang sama hingga Kris mendongak karna tarikan Chanyeol dirambutnya. Disaat yang bersamaan, keduanya saling melepaskan jambakan dengan hempasan kasar. Jangan lupakan ekspresi cengo para penonton.

"Aduh! Jidatmu keras sekali, sih!" Umpat Chanyeol seraya mengusap dahinya yang memerah. Ya ampun, ini sekali.

"Jambakanmu seperti wanita!" Kris memaki seraya mengusap belakang kepalanya.

"Ya! Kau minta dihajar, ha!"

"Memangnya kau bisa berkelahi?!"

"Heh! Aku pernah berhadapan dengan kelompok pembunuh bayaran tahu!"

"Ck! Aku tidak percaya!"

"Kau meremehkanku?! Sini biar kuhajar kau!" Chanyeol bergerak maju, tangannya mengepal memukul.

Namun Kris menghindar cepat. Chanyeol berdesis kesal, ia kembali melayangkan tinjunya.

Kris menangkisnya, hingga pukulan Chanyeol hanya membentur telapak tangannya. Dengan segera Kris mencengkeram kepalan tangan Chanyeol itu, bergerak cepat dan berakhir tubuh Chanyeol berbalik memunggungi Kris, dengan tangan yang dikunci oleh Kris.

"Aduduh! Lepaskan!" Chanyeol merintih.

"Kau bilang bisa berkelahi?!" Kris meremehkan seraya mendorong tubuh Chanyeol hingga terhuyung hampir jatuh.

"Ya! Kau! Aku ini korban! Kau seharusnya bertanggung jawab!" Maki Chanyeol.

"Aku 'kan tidak menang, dan ini karnamu!"

"Heh! Sudah untung aku tidak mati, jika aku mati, kau pasti dituntut habis-habisan oleh keluargaku!"

"Cih! Yang benar saja!"

"Aku serius! Ayahku jendral militer!"

"Heh?" Kris membulat kaget dengan wajah bodoh. "Kau bercanda?"

"Aku SERIUS, bodoh!"

"Astaga! Jangan berteriak! Suaramu jelek tahu!"

"Hei! Kau-"

"Yifan hyung!" Suara lain memotong. Keduanya menoleh sengit, lagi-lagi acara perang mulut mereka diganggu oleh seseorang.

Niat hati ingin mengumpat pada si pengganggu, jadi urung setelah tahu orang yang mengganggu adalah orang yang sangat familiar bagi keduanya. Yang tercipta adalah ekspresi bodoh ketika anak muda dengan kemeja kotak-kotak biru itu berlari semangat menghampiri Kris.

"Jongin?!"

Hap! Dapat!

Kris menangkap tubuh Jongin cepat ketika anak itu melompat untuk memeluknya. Jongin memeluknya bahagia.

Sejenak Kris terdiam, iya hanya masih belum tersadar.

Iya benar, ini Kim Jongin. Yang beberapa bulan ini tidak menampakkan batang hidung di markas ini untuk sekedar berkunjung. Ya, hanya itu. Jongin sudah memutuskan untuk berhenti balapan, jadilah hanya berkunjung.

"Aku merindukanmu, hyung. Maaf, ya, baru datang sekarang." Jongin berujar riang. "Bagaimana kabarmu?"

"Aku baik. Kau kemana saja, eoh?" Tanya Kris seraya mengusak rambut Jongin gemas.

"Aku persiapan ujian akhir, memilih universitas, dan ada sedikit kecelakaan beberapa waktu lalu." Jawab Jongin seadanya.

"Kecelakaan?" Kris mengernyit. "Kecelakaan apa?"

"Aku diculik kelompok pembunuh bayaran. Sempat berjalan dengan tongkat untuk beberapa saat. Hehehe... kakiku retak." Jongin nyengir.

"Mwo?! Yang benar?" Kris melotot kaget. "Kau tidak apa-apa?" Tanya Kris panik.

"M'hm.." Jongin mengangguk. "Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja." Jongin tersenyum manis membuat Kris menghela nafas lega.

"Mana si albino itu, biar kuhajar dia! Tidak becus menjaga adik kecilku!"

Jongin terkikik geli melihat ekspresi marah Kris yang menurut Jongin lucu.

"Kau tidak akan bisa menghajarku..." Kris menoleh kesamping mendapati Sehun yang berjalan kearahnya bersama Baekhyun dan E-Co. Lihat ekspresi datar itu, menyebalkan. Tidak pernah berubah.

"Kemari kau! Biar kuhajar!" Kris menggebu.

"Ck! Lihatlah, adik kesayanganmu itu tidak apa-apa, kau berlebihan, Kris hyung." Cebik Baekhyun menengahi.

"Dasar kalian selalu berkomplot!" Kris mencibir, menciptakan gelak tawa dari orang-orang familiar itu minus Chanyeol yang tengah memasang ekspresi terkejut melihat interaksi akrab mereka.

"Maaf, bos, tapi kau harus segera membayar taruhanmu." Seseorang menyela.

"Iya, cerewet, ambil saja di brankas." Kris melempar kunci brankasnya pada salah satu anak buahnya itu.

"Ya ampun, Kris! Jangan bilang kau-" mata Sehun menyipit penuh selidik.

"Iya, aku kalah balapan!" Potong Kris cepat. Membuat keempat orang itu membulat tak percaya.

"Mwo?" Jongin memekik.

"Bagaimana bisa?!" Sambung Baekhyun.

"Ck! Semua ini -gara dia!" Kris menunjuk Chanyeol yang masih mematung dengan geraman sengit.

"Hah?!"

"Chanyeol!"

"Eh? Kalian kenal dia?"

*** Boy In Luv ***

Chanyeol mendengus lirih, sembari menyesap minuman kaleng dalam genggamannya. Kemudian memainkan kaleng itu sembari memandang kosong. Disampingnya, Kris nampak diam menerawang langit malam. Ya, sepertinya mereka hanya tengah menerka perasaan masing-masing, yang kemungkinan sama. Iya, mengenai pemuda tan yang muncul beberapa saat lalu. Yang datang membawa pasukannya -Sehun, Baekhyun, E-Co-, yang sekarang sedang menikmati paket ayam delivery dan beberapa minuman kaleng bersama orang-orang terdekat, bercengkrama dengan beberapa anggota Kris. Jongin terlihat mesra dengan Sehun -Sehun mencubiti pipi Jongin gemas- yang membuat Kris dan Chanyeol sakit mata!

Hahh... menyakitkan!

"Tidak bisakah mereka itu tidak mengumbar kemesraan begitu. Membuat iri saja!" Kris mencebik, kemudian meneguk minumannya kembali.

Chanyeol menoleh cepat, memandang Kris bingung. "Kau sepertinya cemburu."

"Ya, sedikit." Ungkap Kris dengan ekspresi aneh.

"Kau menyukai Jongin? Atau Sehun?" Tanya Chanyeol selidik.

"Sehun? Yang benar saja! Mana mungkin." Kris mengelak cepat. "Tentu saja Jongin!" Sambungnya. "Tapi, ya-... tidak berbalas."

"Oh, Ya ampun!" Chanyeol mendesis gusar. "Fakta apa lagi ini!" Chanyeol mengacak rambutnya frustasi.

Kris mengernyit, menatap Chanyeol aneh. Pemuda seumuran Jongin ini tidak gila 'kan? "Kau kenapa?" Tanya Kris heran.

"Argh!" Chanyeol menjambak rambutnya kuat-kuat.

"Hei, kau gila?!" Kris memegang lengan Chanyeol, takut-takut rambut ikal itu rontok.

"Kau tahu? Rupanya kita senasip." Ucap Chanyeol frustasi. Kris menatapnya bingung. "Cinta tak berbalas. Aku juga menyukai Jongin."

"Astaga!" Dan setelahnya Kris-pun ikut menjambak rambutnya sendiri dengan frustasi.

"Ini menyakitkan! Aku menyukainya sejak tiga tahun lalu, dan mengetahui fakta hubungannya dengan Sehun baru kemarin. Ya ampun, aku merasa benar-benar bodoh!"

"Kau memang bodoh! Tapi sepertinya aku lebih bodoh." Kris menghela nafas. "Aku sampai berniat merebut Jongin dari Sehun, berkelahi, mengajak taruhan diatas trek." Kris menatap kosong. "Tapi, ya-... semua itu gagal. Sehun benar-benar mencintai Jongin. Usahaku tak sebanding dengan usahanya yang berhadapan langsung dengan ayah Jongin. Yang katanya mati-matian menolak hubungan mereka setelah tahu latar belakang Sehun. Kau pasti tahu 'kan siapa Sehun sebenarnya?"

"Usaha seperti apa maksudmu?"

"Ya, yang kudengar, dia dihajar oleh ayah Jongin dan diusir dengan tidak sopan,"

"Wow!" Chanyeol membulat.

"Tapi, Sehun tidak menyerah, dia berlutut di depan rumah Jongin ditengah hujan salju. Sedangkan Jongin dikurung," lanjut Kris sambil mencoba membayangkan adegannya. "Kalau tidak salah 3 hari dia seperti itu."

"Mwo?! Sekuat itu?!" Chanyeol melotot kaget.

Kris mengangguk samar, "Ketua mafia itu memiliki keistimewaan dalam segi kemampuan dan daya tahan."

"Lalu selanjutnya?"

"Ya, seperti yang kau lihat, mereka sudah bersama 'kan?" Kris melirik sebentar pada sosok Jongin dan Sehun. "Ayah Jongin akhirnya luluh, menerima hubungan mereka, tapi setelahnya, Sehun koma karna hypothermia. Jongin sampai uring-uringan, tidak mau meninggalkan Sehun yang dirawat di rumah sakit, meski hanya sejengkal sekalipun. Padahal dia mau ujian."

Chanyeol menunduk, merasakan sesak yang tiba menjalar. Mendengar cerita Kris, ia menjadi sadar bahwa ia memang bukan siapa-siapa bagi Jongin. Tidak mungkin Jongin akan beralih padanya sampai kapanpun. Hanya teman, tidak lebih. Chanyeol harus segera move on.

"Sehun itu memang gila," Kris terkekeh kecil, kemudian menepuk bahu Chanyeol dan mengusapnya lembut, "Tidak apa-apa, nanti kau juga akan terbiasa." Ucap Kris dengan senyumnya. "Awalnya aku juga sama sepertimu, terpuruk dan frustasi. Namun lama-kelamaan aku bisa bangkit. Karna setidaknya Jongin tidak menjauhiku. Dia-... menjadi adik kesayanganku. Bagiku itu masih lebih baik daripada tidak melihatnya sama sekali. Lagipula, Sehun tidak terlalu kejam juga. Dia menghargai aku sebagai hyung Jongin."

"Akan menjadi sangat kejam, ya, jika kita mengusik mereka tanpa memperhatikan bagaimana perjuangan mereka?" Chanyeol berujar lirih. Terluka.

"Hm... kau bisa berpikir dewasa rupanya," Kris beringsut cepat, merangkul bahu Chanyeol dengan tidak sopan. "Kenapa kita tidak membuat sebuah perkumpulan saja? Kumpulan manusia yang dicampakan Jongin. Hahahaha..."

"Astaga! Kau gila..." setelahnya Chanyeol ikut tertawa kecil. Tidak saling mengetahui bahwa interaksi mereka terlalu akrab untuk ukuran orang yang baru saja berkenalan, bahkan cara berkenalan yang tidak elit. Mungkin karna persamaan nasip. Hahaha...

"Kau bisa sering-sering main kemari. Asal tidak membawa ayah jendralmu itu. Aku akan menemanimu jalan-jalan jika kau bosan. Atau mengajarimu mengemudi. Dulu aku juga yang mengajari Jongin. Ya, hitung-hitung permintaan maafku." Ujar Kris tenang.

"Pantas, cara mengemudimu serasa familiar tadi. Ternyata mirip Jongin." Chanyeol terkekeh.

"Jongin itu muridku,"

"Iya, aku tahu,"

.

.

.

Jongin menyikut Baekhyun dan Sehun bersamaan, sembari menunjuk arah pandangnya dengan dagu. Menunjuk pada Kris dan Chanyeol tepatnya, yang terlihat akrab.

"Mereka itu sudah kenal lama, ya?" Tanya Baekhyun sambil mengunyah ayamnya.

"Kurasa, tidak. Seharusnya kita semua tahu 'kan?" Jawab Jongin tenang.

"Hei, mereka cocok juga. Sama-sama ditolak olehmu, kurasa mereka akan saling mengerti." Sahut Sehun sembari merangkul bahu Jongin.

Jongin melotot kearah Sehun dengan bibir manyun tidak terima, "Aku lagi masalahnya," protesnya.

"Siapa suruh kau semanis ini. Jadi banyak yang suka 'kan? Sampai aku kualahan." gerutu Sehun sembari mencubit gemas pipi Jongin.

"Aduh, sakit, hun~"

"Hahaha..."

*** Boy In Luv ***

12.00 tepat tengah malam, Namja cantik bermata sipit ini masih enggan merubah mimik wajah sedihnya. Sesekali aliran air mata membasahi pipinya yang putih bak porselen, dan suara sesenggukan dari bibir mungilnya. Serta kepalanya yang ia biarkan bersandar pada bahu tegap seseorang, dan sesekali orang itu mengusap punggung serta kepalanya.

"Masih ingin menangis..? Kau telah menghabiskan 8 jam waktumu hanya untuk menangisi seorang Park Chanyeol yang bodoh itu..?" Ucapnya lembut namun terdengar sarkatis.

"Yha..! Tak tahukah kalau aku sedang sedih..dia benar-benar tak melirikku sedikitpun.."

"Itu artinya kau sudah ditolak secara tak langsung olehnya.."

"Tapi-"

"Berhentilah berkata tapi...aku sedikit muak mendengar kata 'tapi' dari bibir manismu itu" Seketika Baekhyun-namja berparas cantik itu mengangkat kepalanya, melebarkan kedua mata sipitnya dengan semburat rona merah terlihat di daerah pipinya, ia masih mengingat jelas kejadian dimana ciuman pertamanya direbut oleh orang yang duduk di sampingnya ini-walau sudah berbulan-bulan yang lalu, namun masih terasa bagaimana bibir hangat itu menempel pada bibir Baekhyun.

"Hei! Kau melamun..?"Pertanyaan E-Co seketika menyadarkan Baekhyun dari lamunannya.

"Membayangkan ciuman waktu itu, hm?" goda E-Co

"A-aniya..yha!" Elak Baekhyun

"Benarkah..? Atau kau ingin itu lagi..?"

"Berhenti menggodaku!" Baekhyun memukul lengan E-Co dengan brutal dan membuat E-Co tertawa, sambil menghindari pukulan Baekhyun.

Tangan panjang E-Co terulur menarik kedua bahu Baekhyun, mendekapnya erat. Membuat Baekhyun bungkam dengan wajah memerah. Dan entah mengapa rasanya ia sangat nyaman dengan pelukan E-Co

"Kurasa ini terakhir kalinya kau bisa dengan leluasa berbicara denganku.." ucap E-Co pelan.

"Apa maksudmu..?"

"Karena besok aku akan berangkat ke Paris, dan menetap disana.." Baekhyun mendongak, menatap wajah E-Co

"Kenapa tiba-tiba sekali..?"

"Karena aku ada kontrak dengan sebuah perusahaan fashion di sana..untuk beberapa tahun, dengan sangat terpaksa juga, aku harus mengundurkan diri menjadi ketua devisi"

"Begitu ya.." kepala Baekhyun tertunduk, membayangkan bagaimana nanti dirinya jika tak ada E-Co, namja yang selama ini ada di sampingnya, selalu mendukungnya dalam hal apapun, yang selalu memberinya semangat, dan mendengarkan curhatnya, walaupun mereka tak memiliki suatu hubungan.

Hingga sebuah kecupan mendarat di pucuk kepala Baekhyun, menghentikan lamunannya. E-Co memeluk erat tubuh Baekhyun, menyalurkan perasaan sayang. "Kau bisa menghubungiku bukan..?"

"Tapi..akan berbeda jika tak berbicara langsung seperti ini.."

"Emm...atau..kau ikut denganku.., bagaimana?"

"Eh..?"

"Ah...aku tahu..aku tahu.., kau pasti tak mau pergi jauh dari Chanyeol.." ucap E-Co sembari melepas pelukannya dari Baekhyun. Dan kembali menyamankan duduknya.

"Kau benar.., aku tidak akan..menolaknya...hehe..boleh aku ikut..?" ucap Baekhyun ceria sembari memberikan puppy eyes andalannya kearah E-Co.

"Alasannya..?"

"Aku ingin move on.."

*** Boy In Luv ***

E-Co membereskan pakaiannya kedalam koper, untuk keberangkatannya ke Paris besok, tak lupa ia memasukkan passport dan 2 lembar tiket pesawat tujuan Paris kedalam tas selempangnya.

'Ting..Tong..'

E-Co mengehentikan acara berkemasnya, dan segera membuka pintu apartemennya.

Dapat ia lihat sepasang suami-istri ah atau lebih tepatnya suami-suami yang sangat mereka kenal berdiri tepat di pintu apartemennya, E-Co memperhatikan keduanya hingga mata sipitnya menangkap sebuah tas koper berukuran besar di sisi kiri dari namja yang lebih pendek dari namja sebelahnya.

"Ada apa kemari..? dan apa-apaan itu..?" tanya E-Co sembari menunjuk koper berbahan jeans yang berukuran besar.

"Bisa aku titip Jongin padamu..?" jawab namja berambut blonde, yakni Sehun.

"Kau pikir aku tempat penitipan manusia..?" ucap E-Co malas.

"Bukankah besok kau akan pergi ke Paris, maksudku dia juga akan kuliah di Paris.. dan kebetulan kau juga kesana bukan..? jadi sekalian saja..dan aku juga sudah membeli tiketnya.. kuambil penerbangan yang sama denganmu.."

"Kau memata-mataiku lagi..?"

"Begitulah.."

"Masuklah.." E-Co mempersilahkan kedua pasangan tersebut untuk masuk kedalam apartemen mewahnya, ia berjalan kearah dapur, mengambil minuman dingin di dalam kulkasnya dan kembali ke ruang tamu, mempersilahkan keduanya untuk minum setelah ia meletakkan nampan berisi jus dan beberapa cemilan diatas meja.

"Seperti biasa..apartemenmu selalu bersih dan rapi.. ahh.. aroma nya tak berubah..aroma ocean escape.." ucap Sehun sembari menyandarkan punggungnya di sofa.

"Jadi.., ada apa kalian kemari..?" tanya E-Co

"Karena ia tahu, kalau Baekhyun akan ikut denganmu ke Paris.." Sehun menunjuk Jongin dengan dagunya

"What..?!"

"Karena tadi Jongin tidak sengaja melihat Baekhyun sedang membereskan pakaiannya, dan yeah kau tahu..-"

"Aku memaksanya untuk bicara..hoho.." sahut Jongin

"Lagipula tadinya ayah akan mengirimku kuliah disana..jadi sekalian saja aku ikut dengan kalian dan kuliah disana"

"Dasar licik.." E-Co mulai memasang wajah malas untuk kedua orang yang ada dihadapannya.

.

"Yeaahh, Paris...!" teriak Jongin girang sesaat ia keluar dari pesawat dengan tujuan bandara Charles de Gaulle – Paris.

"Jangan banyak berteriak Kim Jongin, kau akan disangka wisatawan sinting" seketika Jongin menutup mulutnya dan berjalan mengekori E-Co dan Baekhyun yang berjalan mendahuluinya.

"Kalian harus belajar menggunakan bahasa Perancis, karena di Paris, hanya sedikit orang yang bisa menggunakan bahasa inggris, kalian mengerti.?" Ucap E-Co saat mereka sedang santai duduk di tempat tunggu untuk menunggu jemputan, setelah mereka mengurus surat imigrasi mereka, yang akan menetap di Paris dalam waktu yang lama.

"Désolé,si vous attendezlongtemps? (maaf, apakah anda telah menunggu lama)" ucap seseorang yang baru saja berlari kearah mereka bertiga, sepertinya orang asli Paris, karena wajah bulenya dan ucapannya yang menggunakan bahasa yang tak dimengerti oleh Baekhyun, serta Jongin.

"Non,nous venons de terminerl'immigration(Tidak, kami baru saja selesai mengurus imigrasi)" jawab E-Co santai

"Ce est bon, nous avons préparél'appartement commehôte désiré ( baguslah, kami sudah menyiapkan apartemen sesuai keinginan tuan.)" ucap lelaki asing itu.

"Ayo kita pergi.." titah E-Co sembari menyeret kopernya. Diikuti Baekhyun dan Jongin.

"Kalian tadi bicara apa..?" tanya Baekhyun penasaran saat mereka telah berada di dalam van

"Dia hanya minta maaf karena telat menjemput.., dan dia sudah menyiapkan apartemen untuk kalian"

"Lalu bagaimana denganmu..?"

"Aku ada di sebelah kalian"

*** Boy In Luv ***

beberapa bulan mereka berada di Paris, Baekhyun, serta Jongin telah memasuki bangku kuliah dan mengambil jurusan yang berbeda, dengan Jongin yang mengambil kelas desain otomotive yang khusus untuk mendesain mobil, karena ia pasti akan menggantikan sang ayah untuk mengurus perusahaannya, bukan?, dan Baekhyun mengambil jurusan desain fashion, mengikuti jejak E-Co dulu saat ia kuliah di Paris, yang sekarang memilih untuk menjadi model. Atau mungkin ia akan menjadi perancang busana? Siapa tau. Dengan E-Co yang sibuk dengan karirnya sebagai model majalah Vogue dari sebuah brand fashion Polo yang terkenal seantero dunia dan nama E-Co juga semakin melejit, dengan banyaknya fans dan media yang membuatnya tak bisa sebebas dulu. Membuat kedua orang yang bertetangga dengannya juga sulit untuk sekedar mengunjunginya.

Hingga pada suatu malam, Baekhyun berjalan lunglai keluar dari area kampusnya dengan kantung mata terlihat jelas dimata sipitnya karena baru saja ia menyelesaikan desainnya di kampus, dan membuatnya menguras habis idenya untuk sebuah setelan baju pengantin yang akan digunakan pada pameran fashion perdana untuk mahasiswa baru dengan batas waktu hanya satu minggu untuk sketsa saja. Mereka harus menampilkan gaun yang berbeda dari biasanya, dengan itu sukses membuat Baekhyun seharian berada di dalam sebuah perpustakaan karena hari ini terakhir penyerahan untuk sketsa desainnya dan dalam seminggu kemarin ia benar-benar tak mendapat ide sedikitpun. Beruntung Baekhyun mendapat ide pada detik-detik terakhir tenggat waktu pengumpulan. Dan itu berkat bantuan ide dari seseorang yang meneleponnya tadi saat ia berada di perpustakaan, Baekhyun terkejut memang, saat ada panggilan dimana orang itu pasti sangat sibuk dengan jadwal pemotretannya. E-Co. Meneleponnya dan memberinya sedikit ide padanya, anugerah untuk Baekhyun dan ia tak salah mengatakan jika E-Co memang jenius.

'Tiin'

Suara klakson menyeruak di pendengaran Baekhyun, ia memicingkan kedua matanya melihat siapa pelaku yang mengendarai mobil dan membunyikan klakson mobil. Baekhyun masih memperhatikan mobil yang berhenti didepannya, otaknya masih meloading, hingga sang pemilik mobil akhirnya keluar dari dalam mobilnya, dan itulah saat dimana Baekhyun sadar kalau pengendara mobil itu adalah sang model terkenal E-Co, Baekhyun membelalakkan kedua matanya, dan berharap ini bukan mimpi, karena akhir-akhir ini sangat sulit baginya untuk hanya sekedar meneleponnya, mendengar curhatannya yang sepertinya tidak bermutu itu – menurut Jongin.

"E-Co-sshi.." dengan wajah aneh Baekhyun melihat E-Co dari atas kebawah, ia melihat bentuk tubuh E-Co benar-benar berubah, rambut coklat dengan highlight pink metalik, tubuh yang sedikit berisi dan wow! Dia semakin tampan dengan balutan kemeja hitam dengan garis putih di kerah bajunya dan tercetak jelas bentuk tubuhnya, dengan celana jeans yang senada dengan kemejanya, dan sepatu sneaker putih.

Tampar Baekhyun sekarang, apakah ia sadar atau sedang bermimpi, oke ini sedikit berlebihan, namun kenyataan yang ada saat ini Baekhyun melongo melihat E-Co berjalan semakin dekat dengannya, karena benar saja ia tak melihat E-Co selama 7 bulan ini, walaupun mereka bertetangga sekalipun, tentu karena jadwal E-Co yang luar biasa padatnya, dan tak sekalipun Baekhyun melihatnya kembali ke apartemennya.

E-Co tersenyum melihat tingkah aneh Baekhyun, ia menunduk melihat wajah Baekhyun, mendekatinya, dan – Cup! – satu kecupan mendarat di bibir tipis Baekhyun, dan itu membuatnya sadar sepenuhnya.

"Yha!" teriak Baekhyun, karena ini kali kedua ia kecolongan ciuman dari E-Co. Sepertinya E-Co tak main-main dengan perasaannya, dan entah kapan ia akan menyatakan bahwa Baekhyun adalah miliknya.

"Mau pulang bersamaku..?" ajak E-Co

"Kau tidak sibuk..?" tanya Baekhyun. E-Co menggeleng "Aku mengambil cuti seminggu kedepan" dari 7 bulan ia hanya mendapat cuti seminggu? Itu lebih baik daripada tidak sama sekali.

Mata Baekhyun berbinar mendengar ucapan E-Co, yang artinya ia bisa curhat sepuasnya kepada lelaki kelebihan gizi ini.

"Ayo kita pulang" E-Co menggandeng tangan Baekhyun dan mempersilahkannya untuk masuk kedalam mobil, sebelumnya ia membukakan pintu untuk Baekhyun pula. Memastikan Baekhyun telah masuk kedalam mobil tanpa ada luka, ia segera menutup pintunya dan berjalan memutar, memasuki mobil di bagian kemudi. Menjalankan mobilnya pada kecepatan sedang.

"Sehun sudah datang, dia memberitahuku tadi" ucap E-Co memulai pembicaraan, Baekhyun hanya menganggukkan kepalanya mendengar E-Co berbicara, dan E-Co menyadari bahwa lelaki imut di sampingnya ini sedang lama dalam memproses ucapannya.

"Tidurlah..jika sampai, akan kubangunkan.." Baekhyun mengangguk dan segera menyamankan duduknya, memejamkan matanya dan tidur.

*** Boy In Luv ***

"Baek, bangun" ucap E-Co sembari menepuk pelan pipi Baekhyun yang tertidur lelap di mobilnya,niatnya E-Co menggendongnya hingga apartemen mereka, namun ia harus berhati-hati dengan media, siapa tahu saja ada mata-mata di sekitar apartemennya.

E-Co kembali menepuk pipi Baekhyun, Baekhyun menggeliat tak nyaman karena tidurnya diganggu, akhirnya membuka matanya.

"Kita sudah sampai, mau sampai kapan kau akan tidur disana..? cepat bangun, dan tidurlah dikamar" ucap E-Co menarik tangan Baekhyun agar segera berdiri dan ia bisa menutup pintu mobilnya.

Baekhyun dengan wajah masih mengantuk dan mata yang sedikit terbuka, berjalan sambil menyeret tas selempangnya, E-Co yang melihat hanya menggelengkan kepalanya tanpa ada niat membantu Baekhyun berjalan. Hanya jika saja Baekhyun salah arah ia akan menarik Baekhyun kejalan yang benar.

'Ting'

Pintu lift terbuka, Baekhyun berjalan malas menuju apartemennya, diikuti E-Co di belakang alih-alih jika saja Baekhyun berjalan di arah yang salah. Baekhyun berhenti di sebuah kamar bernomor 88 mulai memencet password untuk membuka pintu. E-Co menyandarkan tubuhnya di pintu apartemen yang ada di samping kamar Baekhyun dan Jongin, melihat Baekhyun, yang kebingunan karena ia merasa memencet angka yang benar, mata Baekhyun terbuka sempurna, karena sedari tadi ia mencoba membuka pintu apartemennya, selalu salah "Apa-apaan ini..?!" kesal Baekhyun sembari mencoba memencet tombol angka.

E-Co yang melihatnya, hanya terkekeh "Kau lupa tadi aku berkata apa?" ucap E-Co akhirnya.

Baekhyun menoleh kearah E-Co yang masih bersandar di depan pintu apartemennya "Kau bilang apa?" tanya Baekhyun penasaran

"Sehun berada di dalam sana..dan itu artinya..hak privasi mereka" ucap E-Co menunjuk apartemen yang berada di samping miliknya.

"Apa?!" Baekhyun benar-benar lupa ucapan E-Co tadi, karena jujur saja ia dalam keadaan mengantuk saat E-Co mengucapkannya. Pantaslah ia tak bisa memasuki apartemennya. Baekhyun membenturkan kepalanya pelan di tembok

"Jja.." E-Co memencet password apartemennya lalu memasukinya, diikuti Baekhyun di belakangnya

"Setidaknya biarkan aku mengambil bajuku" gerutu Baekhyun mempoutkan bibirnya sembari melepas sepatunya dan meletakkannya di rak yang disediakan

"Kau bisa meminjam bajuku.. apa kau sudah makan malam..?" ucap E-Co sembari menyalakan televisi. Baekhyun hanya menggeleng "Aku tak lapar, hanya sedikit mengantuk saja.., kurasa tidur lebih enak daripada makan untuk saat ini" ucap Baekhyun duduk di sofa empuk milik E-Co.

E-Co tersenyum, kemudian berjalan kearah dapur, hanya sekedar membuat coklat panas untuk mereka berdua, setidaknya agar perut Baekhyun tidak kosong.

Tak lama ia kembali dengan membawa nampan berisi dua gelas coklat panas dan beberapa bungkus chocopie, meletakkannya di meja depan sofa dan membuat Baekhyun kaget dan segera menegakkan tubuhnya.

"Makanlah setidaknya agar perutmu tak kosong.." ucap E-Co mengambil salah satu gelas yang berada di nampan itu, sembari duduk menikmati acara televisi.

"Terima kasih.." Baekhyun mengambil sebungkus chocopie, membukanya, dan memakannya perlahan, sambil sesekali memperhatikan E-Co yang sedang fokus menonton televisi dan meminum pelan hot choconya.

"Wae..? sedari tadi kau melihatku terus, apa ada yang aneh..?" ucap E-Co tanpa melepaskan fokusnya pada televisi. Baekhyun yang ketahuan, akhirnya salah tingkah, dalam hatinya merutuki kebodohannya, bagaiaman ia bisa sebodoh itu memperhatikan lelaki yang ada di sampingnya itu, apa dia lupa bahwa E-Co adalah anak buah kepercayaan sekaligus sahabat Sehun yang ketua mafia itu. Ketua devisi yang ahli dalam mata-mata dan menggunakan senjata canggih, serta kemampuan beladirinya yang setara dengan Sehun.

"T-tidak..tidak ada..hanya saja kau sedikit berubah.." ucap Baekhyun sembari menggigit chocopienya

"Berubah bagaimana..?" tanya E-Co santai

"Yaa.. tubuhmu lebih berisi daripada sebelumnya, dan wajahmu terlihat lebih ehem..tam-pan" kedua pipi Baekhyun merona, sedikit malu atas pengakuannya sendiri. E-Co tersenyum mengalihkan pandangannya kearah Baekhyun yang malu-malu "Benarkah..?" Baekhyun mengangguk

"Ah..berarti programku berhasil.."

"Program..?" tanya Baekhyun

"Ya.. agensi memintaku untuk melakukan program pembentukan badan, karena menurut mereka tubuhku perlu sedikit asupan agar terlihat bagus di kamera" jelas E-Co

"Ooh.."

"Dan juga untukmu.."

"Eh..untukku..?" tanya Baekhyu bingung akan ucapan E-Co baru saja

"Kau tak menyadarinya, tidak peka, atau atau kau pura-pura akan keduanya?"

"Apa maksdunya?"

E-Co mendekati Baekhyun dan memajukan kepalanya kearah Baekhyun "Apa kau sadar kalau aku menyukaimu..?" kedua mata sipit Baekhyun terbuka sempurna, otaknya mencoba meloading kata-kata E-Co

"Sejak dulu.. saat aku pertama kali bertemu denganmu di arena balap"

"Sejak dulu..? bukankah itu sangat lama.. kau memendamnya selama itu?"

"aku hanya menunggu waktu yang pas, dan aku bukan Sehun, yang melakukannya tanpa persiapan.., kau tahu buah yang matang akan terasa lebih manis daripada yang mentah bukan..?"

"Lalu jika saja Chanyeol lebih dahulu mendapatkanku, bagaiama?"

"Entah.. karena sejak dulu aku tak pernah bisa menebak isi hatiku sendiri, tapi..setelah aku bertemu denganmu, entah kenapa rasanya sangat berbeda.. aku bisa menentukan pilihanku.. dan jika saja Chanyeol mendapatkanmu lebih dulu.. maka kupastikan sebelumnya akau akan mendapatkanmu.."

"Memaksa sekali.., jika aku tidak mau..?"

"Aku tidak akan memaksa.. karena kau yang menentukannya, dan aku tak memiliki hak untuk mencampuri urusan hatimu"

"Eh.?"

"Mandilah, lalu lekas tidur, aku tahu kau lelah, kau bisa menggunakan kamar depan seperti biasa, jika kau membutuhkanku, aku ada dikamar.. baiklah, sampai jumpa besok.." E-Co berdiri dan berjalan meninggalkan Baekhyun dengan pikirannya.

Baekhyun berpikir, sesekali menyeruput hot choconya, ia harus menentukan pilihan, bertahan untuk tetap mencintai Chanyeol, berpaling mencari kekasih yang mirip dengan Chanyeol, atau menyerah untuk keduanya, dan memilih untuk bersama dengan orang yang selama ini selalu memperhatikan, dan mencintainya. Tanpa sadar jari lentik Baekhyun mengusap bibirnya.

*** Boy In Luv ***

"E-Co-sshi ayo bangun..!" teriak Baekhyun sembari mengguncang tubuh E-Co yang masih terlelap di tempat tidurnya, dan bagaimana Baekhyun dapat memasuki kamarnya, sepertinya hanya ia, dan Tuhan yang tahu, karena ia akan mengajak E-Co menikmati hari liburnya, dan beruntung hari ini adalah hari minggu.

E-Co menggeliat, perlahan membuka kedua matanya, mengerjapkannya, beradaptasi dengan cahaya matahari yang masuk melewati celah jendela apartemennya.

"Ayo bangun, kita jalan-jalan.." ucap Baekhyun, yang sudah duduk bersila di kasur E-Co yang berukuran king size itu. E-Co medudukkan badannya menyandarkan punggungnya di kepala tempat tidurnya, menatap Baekhyun dengan wajah poker face nya, dan ia melihat Baekhyun yang ternyata memakai kemejanya yang ia hafal betul, pasti akan kebesaran saat Baekhyun memakainya, entah sengaja atau apa, Baekhyun hanya mengenakan kemeja putih yang sedikit transparan itu tanpa bawahan, E-Co menghembuskan nafasnya panjang, sepertinya semalam Baekhyun tidur di kasurnya, karena ia melihat tas selempang Baekhyun berada di meja yang tak jauh dari kasurnya. E-Co mengurut pangkal hidungnya, dan berfikir, betapa polosnya pemuda yang sedang berada di sampingnya ini padahal usianya sudah menginjak 19 tahun. Bagaimana hal semacam itu tak membuat milikknya berdiri? Oke tahan itu, E-Co masih waras, dan bisa menahan miliknya.

"Kau ingin kita kemana..?" tanya E-Co

"Em..ke taman hiburan.." E-Co melebarkan kedua matanya, bagaimana bisa ia berada di tempat umum? Menggunakan penyamaran? Oke, ini hari minggu dan pasti banyak orang yang berkunjung kesana.

"Ayolah.. aku akan membantumu menyamar.." rengek Baekhyun, tak tahan dengan rengekan Baekhyun, akhirnya E-Co mengangguk menyetujui ide Baekhyun.

.

"God..bagaimana bisa kau mendandaniku dengan wig panjang ini.?" Geram E-Co menarik-narik wignya.

"Yha! Aku melakukan ini, agar kau tak ketahuan.." ucap Baekhyun membenarkan letak wig E-Co, oke penampilan E-Co memang terlihat seperti perempuan, ya..tak jauh dari kata, perempuan tomboy, dengan kaos v neck berwarna putih, blazer terbuat dari kulit, dan celana jeans hitam, dan sepatu sneaker berwarna hitam dengan garis putih di beberapa sisinya, kaca mata hitam, dan sebuah wig panjang ikal berwarna pirang bertengger di kepalanya, sebagian orang memang tak curiga siapa dia, namun, bagaimana bisa ada seorang perempuan yang memiliki badan setinggi itu. Dan akan banyak yang mengatakan kau dia perempuan jejadian.

Mereka berjalan santai menyusuri taman bermain, E-Co menemani kemanapun Baekhyun pergi, dan menaiki hampir seluruh wahana permainan di tempat ini.

"Hah..bisakah kita istirahat..? aku lelah.." ucap E-Co sembari melepas kacamatanya dan menggunakan tangannya sebagai kipas.

"Baiklah, kita duduk disana.." ucap Baekhyun menunjuk sebuah kursi panjang yang disampinya ada sebuah pohon rindang.

.

"Tunggu sebentar, aku akan membeli ice cream untuk kita.." ucap Baekhyun dibalas anggukan oleh E-Co yang masih menggunakan tangannya untuk menjadi kipasnya. Baekhyun berjalan meninggalkan E-Co sendirian di sana.

"Bagaimana bisa hal bodoh ini kulakukan" gumam E-Co merutuki nasibnya. Hingga akhirnya dia berhenti melakukan kegiatannya, karena ada beberapa wanita yang mengepungnya. Oke ini gawat!

"Benar bukan, dia E-Co, model yang terkenal itu!" teriak salah satu perempuan diantara mereka menggunakan bahasa Perancis. E-Co yang waspada, sepertinya penyamarannya terbongkar, ternyata mereka sangat jeli, E-Co mencoba mencari celah untuk melarikan diri.

"Est-il vrai?! (benarkah?!)"

"Aku mau tanda tangannya!"

"Kyaa...Beau! (tampan!)"

"Aku mau berfoto dengannya!"

Para kerumunan perempuan itu semakin mempersempit jarak mereka kepada E-Co yang sedikit panik.

Sebelum ia menjadi makanan dari para fans-nya, ia menerobos kerumunan dengan cepat, dan berlari menjauhi kerumunan, namun sialnya, wig yang ia pakai terlepas akibat jambakan salah satu perempuan yang mengerumuninya, dan membuat semakin jelas bahwa itu adalah E-Co, model terkenal yang sedang naik daun di sebuah majalah terkenal di Paris. Kerumunan itu akhirnya berlalri mengikuti E-Co yang berlari sekuat yang ia bisa, hingga akhirnya ada kerumunan yang telah menghadangnya di depan, maju, mundur, semua fans mengepungnya, oke ini sial untuk E-Co, karena ini semua kesalahan Baekhyun yang mengajaknya ke tempat umum seperti ini.

"Kemana E-Co-sshi.?" Ucap Baekhyun sesaat setelah ia kembali dari membeli ice cream, dan dilihatnya seeonggok wig tegeletak begitu saja di tanah, dan Baekhyun baru menyadari bahwa E-Co dalam bahaya, ia segela membuang ice creamnya entah kemana. Dan mecoba mencari keberadaan E-Co. Baekhyun melihat kerumunan perempuan, dan ia dapat menebak jika yang mereka kepung adalah orang yang ia bawa kemari, model terkenal yang sedang naik daun, E-Co.

Baekhyun menembus keramaian, dan sesegera mungkin menemukan E-Co, ia khawatir jika saja E-Co akan habis ditangan para fansnya, Baekhyun akhirnya menemukan E-Co yang masih kewalahan menangani fansnya. Dengan segera Baekhyun menarik tangan E-Co mereka berhadapan. Mempersempit jarak, E-Co menunduk dengan Baekhyun melingkarkan kedua tangannya di leher E-Co dan kedua tangan E-Co yang melingkar di pinggang Baekhyun, memiringkan wajahnya, dan mencium bibir Baekhyun, tanpa diduga Baekhyun membalasnya. Seluruh fans yang berada disana, segera mengabadikan momen bersejarah ini, dan sepertinya E-Co akan masa bodoh dengan artikel yang dimuat di koran esok harinya, toh cuti liburannya masih panjang, ia bisa mematikan handphonenya, dan tak peduli dengan managernya yang kelimpungan.

Mereka melepas ciuman, "Je dis, oui (aku bilang, ya)... aku sudah memutuskannya, aku akan menghabiskan sisa hidupku bersamamu.. je te aime, trop(aku juga mencintaimu)" Baekhyun menarik tangan E-Co, dan berlari menembus kerumunan yang mengepung mereka tadi. Baekhyun tersenyum bahagia di tengah acara berlarinya, begitu dengan E-Co tersenyum lepas, karena ia telah berhasil mencapai apa yang ia inginkan selama ini. Dan penantian panjangnya berbuah manis, bukan?

.

.

.

.

.

.

-E-coChanBaek SEQUEL END-

Terima kasih untuk reader yang sangat sabar menanti kehadiran ff ini... kami sangat berterima kasih untuk para reader yang setia meninggalkan jejak review untuk ff ini.

Dan semoga di edisi ini, kalian menikmatinya, dan kami berharap akan banyak yang suka..hehe..walaupun pairnya jauh banget

-KHC- -AL_Quilis-