Chapter 9 : Takdir Sang Jendral.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
.
Selamat Membaca :) ^^v
.
Sudah satu minggu berlalu, Hinata maupun Naruto telah kembali menjalankan aktivitas seperti dulu lagi dengan tugas dan kegiatan masing-masing. Selama seminggu ini pula Hinata mencoba untuk tidak terus-terusan bertemu dengan Naruto untuk bisa sedikit demi sedikit melupakan perasaannya. Namun apa bisa dikata, Naruto selalu hadir dimana pun ia berada. Di sesi latihannya, di taman, dalam istana bahkan ia sendiri yang harus menemuinya untuk melaporkan segala kejadian apapun pada Naruto.
Hinata juga tidak menampik jika dirinya sangat sulit merelakan dan melupakan Naruto begitu saja. Bahkan setiap saat Hinata sering melihat kebersamaan Naruto dengan Sakura dan harus embali hatinya harus terluka, semakin dalam dan tidak dapat ia obati. Tetapi rasa dihatinya susah untuk ia lepaskan.
Di tengah-tengah istirahat usai latihan pedang bersama Ino, Hinata duduk sendirian ditaman menikmati semilir angin ditambah banyaknya bunga-bunga bermekaran membuat ia nyaman berlama-lama berada disana.
"Hah~" ia menghela nafas berat.
Senja perlahan-lahan mulai datang, lavendernya menangkap pemandangan indah yang berada diatas langit. Cantik, dan itu mengingatkannya akan seseorang yang ia cintai.
"Sampai kapan aku akan seperti ini terus?" gumam Hinata seraya menekan dadanya, "sampai kapan pun rasa ini tidak akan pernah sampai padanya"
Lama Hinata berdiam diri disana, sampai seseorang yang tidak sengaja melihat ia tengah sendiri itu datang mendekat dan sekarang duduk disamping Hinata.
"Hyuuga Hinata" ujarnya begitu saja.
Hinata yang tengah menikmati pemandangan sore hari itu tersentak dengan kedatangan seseorang yang sudah berada disampingnya "Menma?" ujarnya menatap Menma bingung.
Menma tersenyum kearah Hinata "sedang apa kau disini? Apakah tempat ini membuatmu nyaman?" tanya Menma lagi.
Hinata kembali mengalihkan tatapannya "iya, disini adalah tempat yang paling nyaman buatku"
"Emm. Berapa lama kau sudah menjadi seorang jendral di kerajaan ini?"
"Aku telah hidup disini sejak umurku masih 5 tahun, dan menjadi jendral saat usiaku menginjak 19 tahun"
"Wow, kau sudah selama itu hidup disini. Kau lebih tahu istana ini dibanding aku ya. Emm menarik…. menarik. Jadi kau pasti sangat dekat dengan Nii-sanku bukan?" sindir Menma kemudian.
Hinata terdiam beberapa saat memikirkan pertanyaan Menma. Apakah ia benar-benar dekat dengan Naruto? Atau hubungan seperti apa yang ada diantara mereka? Hinata tidak bisa mengartikannya.
"Kami hanya dekat sebatas teman kecil saja" balas Hinata cuek.
"Hmmm. Ah benar saja, hubungan kalian tidak mungkin sedekat itu. Narutokan sudah memiliki Putri Sakura. Bukan begitu?"
Kembali Hinata bungkam, tidak langsung menjawab pertanyaan Menma yang satu ini. Hingga "aku permisi dulu" hanya itu yang bisa Hinata ucapkan, dan dia pun pergi meninggalkan Menma sendiri disana.
Menma tersenyum melihat punggung Hinata yang semakin menjauh darinya "ini semakin menarik" gumamnya.
.
Kakinya terus melangkah menuju perpustakaan yang terletak didalam istana, entah kenapa Hinata sangat ingin pergi kesana sekarang "mungkin dengan membaca buku aku bisa sejenak melepaskan perasaan ini" gumamnya. Setiap maid yang berpapasannya selalu membungkuk hormat melihat sang jendral kerajaan. Hinata hanya tersenyum membalas mereka. Sampai pada akhirnya ia pun tiba di perpustakaan.
Brakk! Pintu dibuka, menampilkan deretan rak-rak besar yang terdapat banyak buku disana. Hinata melangkahkan kaki masuk kedalam, menatap kagum setiap kali ia datang. Hinata mulai mencari buku untuk dibaca. Langkahnya terhenti pada sebuah rak yang menjulang tinggi didepannya. Ia pun menengadah melihat sebuah buku bersampul coklat diatasnya. Hinata menggapa-gapai buku itu dan berhasil ia dapatkan.
Hinata membawa buku itu dan duduk di sofa samping kaca. Perlahan dia mulai membuka buku tersebut.
"Ah ternyata ini hanya album foto" gumamnya saat lavender itu menangkap gambar demi gambar keluarga dari Kerajaan Uzumaki.
"Sang ratu memang sangat cantik" lanjutnya ketika melihat potret Kushina yang tengah menggendong bayi berambut hitam "apakah ini Menma? Sangat mirip dengan Naruto-kun. Ahh benar saja merekakan kembar kau ini Hinata"
Ocehan demi ocehan keluar dari mulutnya melihat satu persatu potret keluarga Uzumaki "Naruto-kun saat kecil. Jadi teringat masa itu" senyuman hadir diwajahnya kala kenangan masa kecilnya bersama Naruto kembali terulang dalam memorinya.
Tes… tanpa ia sadari air mata mengalir begitu saja.
"E…eehhh ada apa denganku? Apakah kenangan ini telah membuat mataku berair?" lirihnya. Begitulah sisi lemah yang dimiliki oleh seorang jendral seperti Hinata. Dia kembali mengingat tentang kenangan bersama Naruto dimasa lalunya. Kenangan yang tidak akan pernah Hinata lupakan sampai kapanpun. Mereka selalu bermain, menghabiskan waktu berdua hingga merasakan sakit akibat kehilangan kedua orang tuapun selalu bersama. Semua itu Hinata lalui dengan Naruto yang ada disisinya. Tidak ada yang tahu disaat usianya menginjak remaja perasaan itu mulai tumbuh. Bukan perasaan sebagai teman masa kecil melainkan sebuah rasa yang membuatnya nyaman dan tidak ingin kehilangan Naruto. Namun sekarang semua telah berubah. Sang raja tidak seperti dulu lagi, terlebih sudah ada pengganti diri Hinata disampingnya.
Brughh! album foto itu terjatuh. Hinata menangis sesenggukan memikirkan takdir yang terjadi padanya. Akibat perasaan yang seharusnya tidak ia miliki.
.
Bosan dengan pekerjaannya, Naruto kembali kabur dari Shikamaru yang terus-terusan mendesak ia untuk bekerja tanpa lelah.
"Dia pikir aku robot apa terus-terusan bekerja aku juga perlu istirahat" dumelnya yang tengah berjalan dilorong.
Brugg! Telinganya mendengar suara menggema benda jatuh di perpustakaan yang berada disampingnya. Langkah itu pun terhenti, ia mengalihkan pandangan melihat pintu besar disisinya. Naruto berjalan masuk untuk melihat suara apa barusan.
Disinilah ia sekarang, berjalan diantara rak-rak besar dengan banyaknya buku-buku yang tersusun rapih. Dia mulai merasa bingung dengan tumpukan buku yang ada disana dan memutuskan untuk pergi kembali. Namun sebelum ia benar-benar pergi, telinganya mendengar sayup-sayup seseorang yang tengah menangis.
Tiba-tiba suasana disana menjadi tegang, bulu kuduknya meremang merasakan aura mistis yang paling ia benci 'si…siapa itu? Siapa yang menangis? Kenapa tiba-tiba aku menjadi takut' batinnya histeris. Meskipun begitu Naruto tetap berjalan dengan perlahan untuk melihat siapa yang menangis disana. Namun sedetik kemudian, Naruto terkejut melihat seseorang menekuk kepalanya diatas meja dengan rambut panjang berwarna lavender yang tergerai.
"Jika dilihat-lihat sepertinya aku tahu siapa dia" gumamnya dan mulai berjalan untuk mendekat.
Puk! Tepukan lembut ia layangkan pada wanita itu.
"Hinata?" panggilnya lembut.
Hinata yang masih menangis langsung terdiam saat merasakan seseorang menepuk pundaknya 'suara ini…. Naruto-kun'
Buru-buru Hinata menghapus air matanya dan segera menegakan kepala. Namun pergerakan yang ia lakukan sekarang malah membuatnya tidak bisa berkutik apa-apa.
Mereka begitu dekat. Wajah keduanya hanya berjarak 5 cm.
Deg…. Jantung mereka berdetak dengan cepat. Nafas keduanya mulai terasa diwajah masing-masing. Entah 'setan' apa yang sudah merasukinya sehingga Naruto perlahan-lahan semakin mendekatkan wajahnya pada Hinata.
Hinata tidak bisa menolaknya, ia mengerti dengan apa yang akan Naruto lakukan padanya. Ia pun mulai memejamkan kedua matanya. Melihat Hinata yang tidak menolak, Naruto pun memegang kedua bahu Hinata. Tapi sebelum semua itu terjadi sekelebat bayangan wajah Sakura yang tengah tersenyum padanya membuat Hinata kembali membuka kedua mata dan mendorong dada bidang Naruto untuk menjauh.
Suasana disana sangat canggung. Setelah tindakan yang akan Naruto lakukan barusan, tidak ada yang berbicara sekarang. Mereka duduk saling memunggungi satu sama lain.
'Baka….. apa yang akan aku lakukan tadi? Aarrgghhhh baka….. baka….. baka'
'Kenapa Naruto-kun melakukan itu? Bakaaaa'
Keduanya saling meredakan emosi mereka. Hingga pada akhirnya Naruto pun mengalah saat teringat ketika tadi melihat kedua mata Hinata yang memerah.
'Apakah Hinata menangis? Kenapa?'
Dia kembali melihat Hinata yang masih enggan untuk menatapnya. Naruto beranjak dari kursi dan mendekati Hinata lagi.
Naruto berlutut dihadapan Hinata. Melihat hal itu Hinata kembali kaget dengan kelakukan Naruto sekarang ini. Dia pun hendak beranjak dari kursinya tetapi ditahan oleh Naruto.
"Sebentar Hinata, ada yang ingin aku tanyakan padamu"
"A…..apa itu?" gugupnya saat melihat raut wajah Naruto yang serius.
"Kau menangis? Apa yang kamu tangisi Hinata?. Apakah ada seseorang yang menangisimu? Jika iya, katakan padaku siapa orang itu akan aku beri pelajaran untukm" cerocosnya begitu saja.
Hinata menunduk hingga poni rata itu menutup kedua matanya "tidak ada yang menyakitiku. Jika pun itu ada kau tidak perlu repot-repot untuk memberi pelajaran untuknya karna aku bisa melakukan hal itu sendiri" balas Hinata dengan dingin.
Naruto yang tidak mengerti dengan ucapan Hinata langsung memegang kedua tangannya "bohong, kamu bohong Hinata. Apakah sekarang kamu sudah tidak menganggapku sebagai temanmu lagi bukankah kita sudah seperti saudara Hinata? Jadi katakan apa yang telah mengganggu pikiranmu"
Bisa dirasakan kedua tangan besar yang menggenggam tangannya terasa hangat dan begitu erat, namun dalam iris lavender hal itu terlihat menyakitkan "ya kita memang teman masa kecil bahkan kedekatan kita sudah seperti saudara. Kau tidak perlu mencemaskan siapa yang telah mengganggu pikiranku karna… karna orang itu ada didepanku sekarang"
Plass! Hinata menarik tangannya dengan kasar dan beranjak dari sana meninggalkan Naruto tanpa sepatah kata pun.
Naruto yang menerima hal itu terdiam tidak mengerti sama sekali "orang yang mengganggu pikiran Hinata ada dihadapannya? Dihadapannya? E….ehh apakah itu aku?" tunjuknya pada diri sendiri "kenapa? Apa yang telah terjadi aku tidak mengerti. Dan…. Dan kenapa hatiku terasa sakit?" gumam Naruto setelah kepergian Hinata. Tatapannya tidak sengaja menangkap sebuah album yang tergeletak di bawah meja. Buru-buru Naruto merangkak dan mengambilnya.
"I…inikan…. Apakah Hinata menangis setelah melihat ini? Tapi kenapa?"
Dibawah cahaya senja yang masuk melalui jendela besar itu Naruto merenungkan apa yang telah terjadi pada Hinata. Juga tentang rasa sakit yang ia rasakan….
.
.
Malam kembali menjelang, sejak kejadian tadi sore Naruto terus berada dikamarnya. Mengacuhkan omelan demi omelan Shikamaru yang datang padanya. Naruto masih saja memikirkan ucapan Hinata.
"Apakah aku melakukan kesalahan padanya? Jika dipikir-pikir lagi waktu itu dia pernah berteriak padaku dan sekarang ucapannya mengarah padaku juga. Jadi sebenarnya aku sudah melakukan kesalahan apa padanya? Aarrgghhh aku tidak tahu" ujarnya dengan mengacak-ngacak rambut pirangnya frustasi.
Tok… tok… pintu kamar itu diketuk oleh seseorang dan otomatis mengalihkan tatapannya.
"Masuk" ujarnya siangkat.
"Naruto-kun" ujar seorang wanita yang berjalan menghampirinya.
"Ah Sakura"
Ya benar itu adalah Sakura. Dia duduk dikursi yang ada disana, Naruto pun mengikutinya dan duduk besebrangan dengannya.
"Hm, ada apa?" tanya Naruto.
"Tidak, aku hanya ingin mengunjungimu saja. Apakah kamu tidak merindukanku?" tanya Sakura dengan wajah cemberut.
"Aku banyak pekerjaan" acuh Naruto begitu saja.
"Ada apa, apakah ada sesuatu yang mengganggumu Naruto-kun?"
'Apakah lebih baik aku ceritakan saja pada Sakura ya tentang Hinata? Mereka kan berteman aku yakin Sakura tahu apa yang sedang terjadi pada Hinata' pikirnya.
"Ne, Sakura apakah kau tahu ada apa dengan Hinata?"
"Hinata? Memangnya dia kenapa?" tanya Sakura pura-pura tidak tahu.
"Tadi sore aku melihatnya menangis di perpus. Aku takut sesuatu telah terjadi padanya"
Sakura nampak berpikir "benarkah? Ah mungkin dia sedang jatuh cinta. Seorang wanita jika sedang jatuh cinta pasti emosinya sulit terkendali"
Mendengar hal itu Naruto mengerutkan dahinya bingung 'Hinata jatuh cinta? Pada siapa? Aku tidak pernah melihat pria yang dekat dengannya selain yang ada di istana ini'
"Apakah kamu mengetahui dengan siapa dia jatuh cinta Sakura?" tanya Naruto lagi memastikan.
"Hmm…. Kalau masalah itu aku tidak tahu. Lebih baik kita makan malam saja sekarang tidak baik membicarakan wanita yang sedang jatuh cinta" ucap Sakura seraya menarik Naruto begitu saja dari kamarnya.
'Gomen ne aku telah berbohong. Mana mungkin aku mengatakan jika Hinata jatuh cinta padamu bukan?' batin Sakura.
.
Hinata sudah kembali duduk ditaman, melihat langit gelap dengan banyaknya bintang-bintang disana. Suasana hatinya sedang kacau sekarang ditambah dengan kejadian tadi sore saat di perpus yang membuatnya kembali sulit untuk melupakan perasaan itu pada Naruto.
Tidak jauh dari keberadaan Hinata, Menma yang tengah berjalan dilorong menatap kearahnya. Dia pun berhenti, melihat kearah Hinata yang sedang menikmati pemandangan malam seorang diri lagi. Menma tersenyum dan kembali berjalan menghampirinya.
"Tidak burukan iika seseorang duduk disampingmu" ujarnya mengagetkan Hinata.
"Hah~ kau lagi. Ada apa?" tanya Hinata sinis.
"Hohoho tenang jendral aku tidak akan mengajakmu berperang ko. Aku hanya ingin menemanimu saja. Hmm… jika dilihat-lihat kau cukup cantik juga ya"
Bugh! Pukulan telak dilayangkan kewajahnya. Menma terjungkal dari bangku "huh…. Aku tidak butuh pujianmu" kesal Hinata seraya melipat kedua tangannya.
Menma kembali bangkit dan duduk disamping Hinata "cih, pukulanmu cukup kuat juga. Tapi apa yang aku katakan barusan itu memang benar tahu"
Mendengar ketulusan Menma, Hinata pun mulai merasa tidak enak hati setelah menonjoknya begitu saja "a….arigato. Gomennasai" sesalnya dan tidak lagi melipatkan kedua tangan.
"Hm aku memaafkanmu. Kenapa kau suka berada disini?"
"Itu bukan urusanmu"
"Cih, dasar wanita ini benar-benar merepotkan" gumamnya yang sempat terdengar oleh Hinata "apa katamu?"
"Haha tidak-tidak"
Setelah obrolan ringan itu mereka terdiam merasakan hembusan angin malam yang menyapanya lembut. Menma yang beberapa hari ini telah melihat kebersamaan sang raja dan jendralnya ini telah memutuskan apa yang sebenarnya terjadi 'aku yakin raja akan menderita kali ini. Karna jendralnya yang paling berharga akan segera menjadi milikku' batin Menma yang diam-diam melirik kearah Hinata.
Sejauh ini Menma memang sudah merencanakan hal baru untuk Naruto 'aku yakin dengan menggunakan dia Naruto akan tersiksa. Bukan fisik melainkan hatinya hahahahah' lanjutnya tertawa nista didalam hati.
"Hyuuga-sama"
"Panggil aku Hinata saja Yang Mulia"
"Baiklah Hinata"
"Hm" acuh Hinata.
"Menikahlah denganku"
"E..EEHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH"
Di suasana malam hari yang sepi ditaman itu terdengar teriakan Hinata menggema disana, bahkan serangga yang kebetulan berada disana pun menutup kedua telinga mereka dengan suara Hinata yang menggelegar.
Apakah Hinata tidak salah dengar? Apakah telinganya sudah tidak berfungsi dengan baik? Apakah Menma tertimpa sesuatu?
"A….apa maksudmu mengatakan itu?"
Sebuah senyuman manis hadir diwajahnya "aku tidak main-main dengan ucapanku, Hinata menikahlah denganku"
"Ta…..tapi kenapa? Kenapa? Aku tidak mencintaimu, jadi kenapa aku harus menikah denganmu?" bingung Hinata.
"Cih kau ini. Jika kau tidak mau menikah denganku maka aku akan benar-benar membunuh sang raja kali ini."
"APA? Jadi kau sedang bermain-main denganku? Kau mengancamku sekarang"
"Tidak aku benar-benar ingin menikahimu. Bukankah kau tidak mau melihat Naruto menderita bukan?" Hinata mengangguk begitu saja, "jadi terimalah lamaranku maka aku tidak akan lagi menyakiti Narutomu itu"
"Ta…..tapi kenapa?"
"Kau mencintai Narutokan?" lagi-lagi Hinata mengangguk begitu saja tidak ada penyangkalan disana karna memang seperti itulah yang Hinata rasakan, "kau bisa melupakannya dan menikah denganku. Lagi pula dia sudah bersama dengan Sakura, kau mau apa? Menunggu Naruto sampai mengungkapkan cinta padamu? Ahahha jangan konyol itu tidak mungkin terjadi"
Jleb! Seolah sebuah pedang sudah menancap dihatinya sekarang, menyobek dan mengoyak-ngoyakannya. Perkataan Menma barusan memang tidak bisa Hinata tampik lagi.
"Benar apa yang kau katakan. Mau sampai kapan aku mencintainya yang tidak pernah mengerti perasaanku sedikitpun" Menma mengangguk-anggukan kepalanya mendengar Hinata berbicara "dia sudah bersama Sakura, mereka saling menyukai satu sama lain. Sakura telah mengatakan perasaannya dan dia mengangguk mengiyakan ucapan Sakura. Dan sekarang mereka sudah berbahagia….. sedangkan aku….. aku hiks…. Hiks…. Hanya bisa menunggu dia yang entah kapan bisa mengerti dengan perasaan yang ku punya ini. Tapi….. aku benar-benar mencintainya"
Jedukk! Sekali lagi Menma jatuh terjengkang dari kursinya "kau ini benar-benar wanita yang tidak menyayangi perasaan sendiri ya. Hah~ lebih baik menikahlah denganku dan lupakan dia"
"Tidak semudah apa yang kau katakan" balas Hinata dengan suara dinginnya.
Menma terkejut dengan perubahan Hinata yang tiba-tiba 'wow, wanita yang sedang jatuh cinta menakutkan'
"Hahaha baiklah-baiklah aku mengerti. Aku akan memberikan waktu padamu untuk menjawabnya. Kalau begitu, jaa aku pergi dulu. Oyasumi, Hime" ucap Menma dan pergi darisana.
Hinata menghapus air matanya yang mengalir. Tatapannya kembali menatap langit seraya bergumam "aku akan memikirkan tawaranmu"
.
Pagi-pagi sekali Hinata sudah berada diarena latihan. Pedangnya kembali mengayun dengan lihai, rambutnya yang dikuncir kuda meliuk-liuk mengikuti setiap gerakan yang Hinata lakukan. Ino yang baru bangun terkejut melihat jendralnya yang sudah ada disana.
"Jika kau sudah seperti ini pasti ada sesuatu yang telah terjadi" ujarnya mengalihkan konsentrasi Hinata.
Hinata pun berhenti dan menatap kedatangan Ino "urusaii, aku tidak apa-apa" elaknya.
"Hahaha kau tidak bisa membohongiku Hinata. Jika ada sesutu hal terjadi padamu katakanlah"
"Aku tidak bisa memberitahukannya padamu Ino"
"Hm, sudah ku duga kau akan mengatakan hal itu. Baiklah aku akan menemanimu" ucap Ino dan bersiap untuk memulai latihannya.
Hinata hanya tersenyum tanpa membalas ucapannya lagi dan mulai berlatih bersama Ino.
Tidak lama setelah itu, Naruto tiba-tiba saja datang kesana bersama dengan Sakura.
"Bisakah aku berlatih bersama kalian?" tanya Naruto yang sudah siap dengan pedangnya.
Melihat Naruto yang datang kesana, Ino dan Hinata pun langsung membungkuk hormat "ah Yang Mulia. Suatu kehormatan bisa berlatih bersama anda" ucap Ino.
Tanpa memperdulikannya Naruto pun berjalan menghampiri Hinata "bisakah kau melatihku lagi?" tanyanya.
"Ha'i"
Mereka berdua mulai beradu pedang. Ino yang tidak diharapkan ada disana langsung duduk dibangku bersama dengan Sakura.
Naruto dan Hinata kembali berlatih pedang bersama, dalam situasi seperti ini Hinata harus mencoba tenang supaya mereka yang ada disana tidak tahu apa yang ada didalam hatinya. Tidak lama setelah itu Naruto mencoba untuk berbicara padanya.
"Hinata apakah kau sedang menyukai seseorang?" tanya Naruto polos tanpa membaca situasi.
Sett! Hinata terdiam mendengar pertanyaan itu sehingga pedang Naruto hampir mengenai kepala Hinata jika tidak segera ia hentikan. Dan sedetik kemudian ia pun kembali menerjang Naruto.
"Anda tidak perlu tahu apa yang terjadi pada diri saya Yang Mulia"
"Jika memang benar kau seperti ini karna sedang menyukai seseorang aku harap kau bisa sabar menunggunya, aku sebagai seorang pria memang tidak terlalu mengerti dengan sebuah perasaan tapi aku yakin pria yang kau sukai itu akan membalas perasaanmu"
"Hm" hanya itu yang bisa Hinata gumamkan 'baka, kaulah orang yang ku cintai'
Ino yang diam-diam melirik kearah Sakura merasa bingung dengan sebuah senyuman yang tidak pernah luntur dibibirnya.
"A…ano Yang Mulia, apakah disana ada yang lucu?"
"Eh" Sakura tersentak mendengar pertanyaan Ino, "hahaha bukan sesuatu yang lucu tapi aku senang melihat mereka berdua begitu akur"
Ino kembali memfokuskan pandangannya kearah Naruto dan Hinata 'Jika dilihat-lihat lagi mereka berdua memang sudah akur dari dulu. Ahhh aku tidak mengerti mereka'
Latihan pun akhirnya selesai, Sakura menghampiri Naruto seraya memberikannya handuk dan air minum untuknya. Melihat hal itu Hinata sudah tidak perduli lagi meskipun masih sama hatinya kembali terluka.
"Apakah kau tidak apa-apa dengan hal itu?" tanya Ino yang duduk disampingnya.
"Apa yang kamu maksud?"
"Tentu saja kedua bangsawan itu"
"Sudahlah aku tidak mau memikirkannya lagi"
"Baguslah"
.
Setiap hari, setiap saat, setiap waktu yang tertangkap oleh matanya adalah kebersamaan Naruto dan Sakura yang semakin hari semakin dekat saja. Dimana ada Naruto disitulah Sakura pun berada. Lukanya semakin bertambah, namun Hinata masih belum bisa melupakan Naruto sedikitpun.
Tersirat pemikiran untuk pergi meninggalkan Istana Uzumaki disaat suasana hatinya tidak terkendali. Tapi jika dia keluar bagaimana janjinya dengan sang ayah? Hinata tidak bisa mengingkarinya dan akan terus melindungi Naruto meskipun sekarang sang raja sudah menjadi kuat.
Tapi ketika ia tengah berjalan di lorong untuk kembali kekamarnya, Hinata melewati taman dan teringat akan lamaran yang beberapa hari lalu ditawarkan oleh Menma.
Hinata terdiam disana, memandang taman dan memikirkan sebuah jawaban yang akan ia berikan untuk Menma. Kedua tangannya mengepal erat setelah menemukan apa yang akan dia ucapkan pada Menma.
"Kali ini aku yakin akan melupakanmu Naruto-kun" gumamnya dan berlari darisana.
Brakk! Pintu ruangan Menma dibuka paksa oleh seseorang.
Menma sudah bersiap untuk menyerang siapa saja yang datang kesana dengan brutal, namun sedetik kemudian dia menghentikan aksinya saat melihat siapa yang datang.
"Hime, akhirnya kamu datang juga" ucapnya berjalan mendekati Hinata.
"Baiklah aku akan memberikan jawaban atas lamaranmu waktu itu….. aku…"
Menma tersenyum, didalam hatinya dia sudah bersorak penuh dengan kemenangan "baiklah kalau begitu besok aku akan mengumumkannya"
.
Pada keesokan harinya semua penghuni istana sudah berkumpul didalam aula. Tidak ketinggalan Sang Raja Uzumaki Naruto pun turut hadir disana setelah pagi-pagi sekali Menma datang kekamar dan menyeretnya untuk segera pergi keaula. Bisik-bisik mulai terdengar dari para maid saat tidak tahu akan ada hal apa mereka dikumpulkan disana.
Setelah beberapa saat berselang, Uzumaki Menma datang dan berjalan menuju podium.
"Baiklah minna sudah saatnya aku memberitahukan berita penting ini pada kalian"
"Berita penting? Berita penting apa?" gumam Naruto melihat kearah kembarannya itu.
"Tidak berapa lama lagi kita akan kedatangan seorang putri baru di istana ini"
"APA? Putri baru siapa?" tanya Naruto lagi.
"Sabar Nii-san dan dengarkan baik-baik. Minna, aku akan segera menikah"
"APA?"
"Benarkah?"
"Yokatta, akhirnya pangeran Menma akan menikah"
"Aku tidak sabar menanti acara bahagia itu"
Itulah yang terucap dari para maid dan pengawal yang berada disana.
"Dengan siapa kau akan menikah?" tanya Naruto yang tidak mengetahui bahwa saudaranya itu akan segera melepas masa lajangnya.
Menma tersenyum bahagia "Calon istriku adalah…"
Tak…. Tak… tak… suara high heals terdengar. Gaun panjang berwarna lavender sangat cocok dikenakan olehnya, rambut panjang yang sengaja ia gerai semakin menambah kecantikan Hinata hari itu. Semua mata memandangnya tidak percaya, terutama Uzumaki Naruto yang sekarang sudah membelalakan kedua matanya seraya menganga tidak percaya dengan apa yang ia lihat dan ia dengar.
"Hi….hinata"
Dan Hyuuga Hinata hanya tersenyum diatas podium
.
"Baiklah aku akan memberikan jawaban atas lamaranmu waktu itu….. aku menerimanya"
Tbc…
Semoga suka, arigato gozaimasu sudah mampir :) Gomen jika masih ada typo bertebaran :D
.
Balasan reviews :
ranimiablue : hehehe sepertinya begitu :) maksih banyak ya ^^ iya semoga hyugana terus berkarya :D arigato udah ngereviews :))
uzuhyu hinaru : hahaha makasih loh :D gomen gomen typo masih bertebaran wkwk :D udah lanjut semoga suka :) arigato udah ngereviews :))
Valentinexxx : sudah ko tenang saja :) arigato udah ngereviews :))
Tsukasa : haha iya gomen tidak full action dan juga Shikamaru tidak ikut terlibat wkwk :D arigato udah ngereviews :))
