Haloha~ akhirnya kita memulai awal Phase 3~ *tebar-tebar confetti*

Setelah event campuran XS di Phase lalu, di phase 3 ini akan memasuki event baru yaitu menemukan sisa ingatan Reyvateil kesayangan kita, Mukuro-tan; dan juga perkembangan cerita menuju lebih se-ri-us—bukan hanya inti cerita tapi juga 10069-nya. :'D

Chapter ini semacam prologue dari Phase 3, jadi lumayan pendek. Banyak juga pairing serta chara yang bakalan nongol sana-sini. Dan... oh ya, orang-orang terakhir muncul di chapter sebelumnya bukan OC. XD

PERINGATAN : ADA (SLIGHT) YAOI. Baiklah, mari lanjut!

Fandom/ Disclaimer : credited to GUST-BANPRESTO, Akira Amano. For KHR & Ar Tonelico

Special Thanks to: Orang yang setuju ama ide fic ini…nama dipalsukan *dihajar*

Warning: OOC-ness, Alternate Timeline dan (pasti ada) AU… cerita juga (sangat) aneh, kalau gak suka tinggalkan saja!~

Sorry for miss-typo yah ^^


Phase 3. FALSE=ANSUL


Phase 3-1. Divided Skies

Beberapa minggu dengan berlalu bagai angin setelah peristiwa di bagian paling barat Sol Infel terjadi. Kurang lebih setelah itu, keadaan Sol Infel berangsur damai dan tidak ada kekacauan yang berskala besar. Squalo—admin dari Sol Infel kembali ke tugasnya—dengan Xanxus sebagai pengawas Tower menggantikan researcher yang sudah dikabarkan meninggal dalam ledakan. Enma—pemimpin, atau sebagai 2nd Infel Phira Maiden—sudah dikembalikan untuk bekerja dan mengoperasikan Infel Phira seperti semula. Tsuna sebagai Emperor turut kembali ke meja kerjanya di Cloudshine Tower—kantor pusat pemerintahan Sol Infel yang tepat dibawah Sol Infel sattelite.

Bagaimana dengan sang Knight Byakuran, dan juga si Reyvateil Mukuro?

Setelah mereka berdua meminta Dino untuk merawat Chrome sementara, mereka sudah dua minggu satu atap di rumah sangat sederhana milik Knight penyuka makanan manis itu. Sudah dua minggu pula sang Reyvateil menjadi pembantu tak resmi Byakuran. Banyak alasan yang mendesak Mukuro untuk tinggal disana; pertama, ingatannya masih belum kembali sepenuhnya dan kedua, ia tidak mengenali siapapun di Sol Infel yang punya tempat tinggal selain Byakuran. Memang ada Xanxus, tapi ia benci dengan bawahan-bawahan (baca : Lussuria dan Levi) yang mengurusi mansion pribadi sang researcher sangar itu. Bagaimana kalau Dino? Oh, buat apa ia tinggal seatap dengan seorang Pippen Freak seperti Kyouya Hibari?

Dengan alasan itulah, ia dengan (sangat) terpaksa menempati rumah Byakuran.

"Mukuro-kun, apakah kau sudah membuatkan sarapan~?" suara merayu Byakuran selalu terdengar tiap pagi. Tiga urat muncul di pelipis Mukuro yang tengah itu berusaha memanggang Chocolate Cake dan mendinginkan Chocolate Parfait—untuk kepuasan pribadi, bukan untuk dibagi-bagi.

Reyvateil itu menggunakan celemek putih—ia sekilas tampak seperti seorang maid. Tidak lama, kuenya sudah matang dan sesegera mungkin ia mengangkatnya dari loyang—harumnya mulai memenuhi rumah. Ia sudah menyiapkan krim buatan tangan untuk mendekorasi kue tersebut.

"Jangan lupa, hari ini aku mau pakai marshmallow melon di parfaitku!" rasanya sang reyvateil ingin membumi hanguskan tempat tersebut, tapi tidak akan mungkin karena efek sampingnyanya bisa saja membakar satu kota.

Tiba-tiba, Byakuran sudah menghinggapi Mukuro dari belakang, tanpa Mukuro menyadarinya. Tangan Byakuran bertengger di punggung Mukuro."Lama sekali, mana sarapanku?" ucapnya ditelinga pembantu tak resminya tersebut.

"Lepaskan. Kau itu berat, Byakuran-'sama'." Seperti biasa kata-kata manis tapi bermakna pahit meluncur dari bibir sang reyvateil.

Sayangnya, bukan Byakuran namanya kalau ia menuruti kata-kata seorang Mukuro. Tangan kanan Reyvateil yang penuh krim karena sibuk menyusun dekorasi cake itu disambar oleh Byakuran, dengan pelan ia memasukkan jemari Mukuro ke dalam mulutnya, mencicipi rasa krim buatan sang Reyvateil.

"Manis sekali, seperti dirimu dengan celemek itu," senyum melingkar di wajah Byakuran.

"Kufufu, aku anggap itu sebagai pujian," ia menarik kembali tangannya dan kembali sibuk dengan cake coklatnya. Byakuran juga sudah sibuk mencolak-colek cake yang baru jadi—tapi ia masih menghinggapi Mukuro hingga Mukuro akan memindahkan cake tersebut ke satu-satunya meja yang ada di rumah sangat sederhana itu.

Sembari masih mengutili cake yang baru jadi, Mukuro meninggalkan Byakuran untuk menyusun Parfait. Tetapi ia terhenti untuk menuju dapur ketika ia menyadari sesuatu.

"Hei, jangan makan sambil belepotan begitu," Mukuro mendekati sisi bibir Byakuran dan menjilati lelehan coklat yang tersisa di mulut Byakuran.

"Di dalam mulutku juga banyak sisa coklat kok, Mukuro-kun~" Byakuran menunjuk rongga dalam mulutnya.

"Tidak, ciuman dariku hanya untuk Dio," komentar sang Reyvateil pendek, kontan sang vanguard menaikkan alisnya, kebingungan. Ia pernah mendengar nama itu juga di Cosmospehere partnernya itu, tapi... siapa orang itu.

"...Dio?" ulang Byakuran, tampak ia agak cemburu. "Siapa...dia?"

"Kufufu, kau pasti akan tahu dia nanti," ucapnya seraya menuju dapur—tapi dengan cepat tangan Byakuran sudah menahan—tepatnya, menarik—tangan Mukuro. Tarikannya terlalu kuat, sampai mereka berdua jatuh—dengan posisi Mukuro dibawah Byakuran.

"Aku minta jawabanmu sekarang, Mukuro-kun." Byakuran menahan kedua tangan Mukuro dengan cengkeraman yang sangat kuat serta menahan pinggang Mukuro dengan badannya sendiri. "Atau aku akan membuatmu menjawab,"

"Kufufu, kau cemburu?" Mukuro tertawa. "Kau dan aku kan hanya sebatas partner sampai ingatanku kembali, kau ingat?"

"Akan kubuat kau menjadi milikku, Mukuro-kun." Byakuran menurunkan kepalanya, semakin mendekatkan fokus matanya ke mata tak serasi milik partnernya. "Siapa Dio itu?"

"Aku takkan bilang sebelum waktunya, dan kau takkan bisa membuatku mengucapkan siapa dia sebenarnya," Mukuro tetap dengan senyum liciknya.

"Oya...?" Byakuran merasa kalimat tersebut sebagai sebuah tantangan. "Akan kubuat kau menjerit-jerit meminta diriku,"

"Mau apa kau—mph!"

Byakuran mengencangkan cengkeramannya pada pergelangan tangan Mukuro, dan dalam hitungan seperdetik, mulut mereka berdua tengah menyatu, membentuk sebuah ciuman.

Reyvateil berambut ungu itu meronta untuk melepaskan diri, sayangnya Byakuran tengah berhasil menindihnya di posisi yang tepat untuk tidak membuatnya kabur. Vanguard itu menggigit bibir bawah Mukuro, meminta untuk masuk. Mukuro tidak membuka bibirnya sama sekali, tetapi akibat sesuatu hal curang yang dilakukan bagian kaki Byakuran di bagian bawahnya, ia membuka bibirnya dan di kesempatan dalam kesempitan itu Byakuran menyisipkan lidahnya ke dalam areal mulut Mukuro—mengajak lidah partnernya berduel memperebutkan dominasi. Mukuro merasakan manis dari lidah Byakuran yang berlumur coklat buatannya saat pertarungan dominasi tersebut.

Ciuman panas itu seketika berakhir ketika mereka mendengar ada suara telemo—telemo Byakuran berdering kencang sekali. Byakuran melepaskan bibirnya, seutas saliva tergambarkan diantara mereka.

"Anggap saja hari ini kau sedang beruntung," Byakuran tersenyum penuh kemenangan seraya menjilati sekitar mulutnya, Mukuro hanya bisa mendengus. Ia tidak kalah, tetapi ciumannya sudah direbut oleh serigala nafsu tersebut. Ia harus berterimakasih pada si pengontak telemo itu, siapapun orangnya.

"Ini aku, Giotto."

"Ah, ada masalah apa, Giotto-sama?"

"Aku memintamu dalam sebuah misi. Detailnya akan kujelaskan nanti di kantorku, semoga kau bisa sampai kesini dengan cepat."

"Roger,"

Byakuran mematikan telemonya, ia kembali keruang tengah dimana Mukuro masih membereskan diri dari penyerangan barusan.

"Mukuro-kun, kuberi waktu 2 menit untuk menyiapkan sarapan atau nanti sore kau akan 'kuajak' ke Dive Shop~"

Sekejap sang Reyvateil pengidap Divophobia—yang tampaknya masih belum sembuh juga—melaksanakan tugas, sementara Byakuran hendak berbenah diri. Tugas seperti apa sebenarnya yang ingin diberikan Giotto—pemimpin Rebel Knight—untuknya?

Beralih ke sebuah rumah sakit di daerah Vongola Town, di sebuah kamar yang terletak paling ujung di lorong lantai dua. Kita dapati seorang berambut pirang tengah bersenandung seraya membawakan bunga, buah-buahan sekeranjang dan juga sebuah boneka Pippen. Dengan senang ia menggeser pintu kamar rumah sakit tersebut untuk menemukan seseorang yang ia jenguk sedang berdiri menghadap jendela.

"Kyouya~ aku datang~" ucapnya pada si pasien. Pasien yang disebut hanya merengut seperti biasa—memang jarang sekali bibirnya membentuk sebuah senyuman.

"Ah, Cavallone." komentarnya pendek begitu dia masuk, tidak ada sapaan basa-basi sama sekali.

"Kyouya, bukankah kau masih lemah untuk jalan-jalan?" Dino mengerutkan keningnya. "Kata suster juga kau butuh banyak istirahat, baru kemarin kau sadar setelah peristiwa Dive itu,"

"Kaupikir aku selemah itu?" Hibari memicingkan matanya pada Dino. "Besok juga aku sudah bisa keluar dari si—ngh,"

Reyvateil berambut hitam itu menahan kepalanya dan hendak terjatuh ke lantai, untungnya sang teru Cavallone bermata emas itu dengan sigap menahannya.

"Kubilang apa, Kyouya?" senyumnya pada si Reyvateil. "Kau masih butuh banyak istirahat,"

"Aku bosan disini," desahnya, nafasnya agak memburu. "Aku ingin keluar dari sini,"

"Tidak sekarang," Dino mendekatkan matanya pada mata raven sang Reyvateil yang berada di dekapannya. "Sekarang, tidurlah."

"Nnh, Ha-Haneuma..." ia meronta ketika teru Cavallone sudah membopongnya ke kasur rumah sakit. Ia lalu mengecup pipi dan dahi Hibari dan mencari tempat duduk untuk tetap disamping sang Reyvateil—agar tidak kabur, tentu saja.

"Mau kupotongkan buah, Kyouya?" ucapnya seraya menyambar pisau terdekat. "Apel yang dipilih Chrome-chan manis sekali lho,"

"Hmph!" Hibari membenamkan wajahnya yang agak merona pink dalam selimut.

Sementara, Sol Infel Tower. Seperti biasa—dan memang setiap hari selalu seperti ini—teriakan seseorang sudah membahana di lorong antara tempat researcher dan sleeping pod bagaikan orkestra seribu Reyvateil yang dipimpin oleh Pippen—sama kacaunya.

"VOI, XANXUS!" Sol Infel Admin itu memang bersuara sangat merdu, terutama di pagi hari.

"Apa sih! Kau tidak lihat aku sedang menyeduh kopi pagiku, sampah!" balas sang researcher tak kalah kasarnya.

"KAU KEMANAKAN SHARK CHAMBER-KU, VOI!"

"Ohh, maksudmu ruangan penuh dengan besi sampah itu? Sudah ku-purge daripada memakan memori otakmu,"

"VOOOI! BILANG-BILANG DULU DONG! ITU KAN RUANGAN PENTING TEMPAT MAKANAN IKAN HIU-IKAN HIU-KU DI DASAR TOWER INI!"

Sebaiknya kita beralih dari pertengkaran suami istri pagi-pagi ini sebelum semua orang mengganti gendang telinganya masing-masing. Beralih ke kondisi Byakuran dan Mukuro yang sudah sampai di depan kantor Rebel Knight. Nama kasar tempat ini adalah Rebel Knight Hound, dengan nama resmi Cloudshine Tower—pusat pemerintahan seluruh Sol Infel Continent dan juga pusat dari Rebel Knight.

Sampai saat ini, pemerintahan masih dipegang oleh Giotto Sawada—kakak dari Emperor Tsunayoshi yang sudah menjabat selama 4 tahun—seorang ksatria hebat dengan kharisma yang tinggi. Sebagai divisi kelas atas, divisi Rain Sky sudah tentu sering berhadapan dengan Giotto untuk menerima misi-misi khusus. Ternyata, begitu Byakuran dan Mukuro sampai ke kantor Giotto, mereka dikejutkan oleh kehadiran seseorang...

"Yo~ Ini kami!" sahut sang pendekar berambut hitam itu, ya, Yamamoto Takeshi yang tengah ditugaskan bersama Byakuran diawal paruh cerita kembali ada disini bersama seorang...partner?

"G-Gokudera-kun?" partner dan vanguard itu hanya bisa melongo ketika Yamamoto dan Gokudera ada di ruangan Giotto dengan keadaan baik-baik saja—ah, kecuali tangan Gokudera masih diperban.

"O,Oya...bukannya kau sudah mati saat di tower itu, Gokudera-chan?" Byakuran masih melongo.

"...Akan kujelaskan saat Giotto-sama menjelaskan," ucapnya seraya menaikkan kacamata dan menyibak rambut silver yang menutupi sebagian penglihatannya.

"Semuanya sudah disini?" dari balik tirai, seorang berambut merah dengan newsboy cap berwarna hitam beserta jet suit berwarna hitam bertanya pada mereka. Ia adalah tangan kanan sekaligus sahabat Giotto yang bernama Cozart Shimon.

"Semua sudah siap, tuan Cozart!" seru Yamamoto.

Dalam hitungan menit, sang pemimpin Rebel Knight muncul ke permukaan—Giotto Sawada—seperti biasa dengan rambut pirang yang tak ada gubahannya seperti Tsuna dan cape hitam yang selalu disisinya serta pakaian serba formal walaupun pertemuan seperti ini tidak resmi. Ia duduk di sofa yang berada di balik meja kerjanya, sementara tamunya setia berdiri mendengarkan.

"Semua sudah disini, eh...?" ucapnya seraya mengabsen satu-per-satu tamu dengan sorot matanya. "Akan kujelaskan misi kalian, Rain Sky. Ini misi penting, silahkan kalian duduk."

Para tamu sesegera memposisikan diri di sofa hitam panjang di sisi ruangan. Giotto memang orang yang to the point, semua orang sudah bisa mengetahuinya dari sorot matanya.

"Kalian tahu dengan tipe Reyvateil FALSE=ANSUL?" Giotto berdehem.

Gokudera menaikkan kacamatanya, "FALSE=ANSUL, Reyvateil yang dibuat mendekati Origin (ANSUL). Mereka bukan Origin, mereka juga bukan beta-type Reyvateil. Kekuatan, daya tahan dan lifespan-nya sedikit lebih tinggi dibanding beta, mereka sangat sulit dibuat karena proses rekayasa genetika. Reyvateil ini dibuat untuk kebutuhan perang ratusan tahun lalu, tetapi akhirnya mereka tidak digunakan karena waktu itu sudah ada beta-type Mule yang mengatur di Silver Horn." Ia sedikit memberi jeda. "Sampai saat ini masih ada 4 FALSE=ANSUL yang masih hidup; aku, tuan Cozart, dua lagi tidak diketahui."

"Jadi kau itu FALSE=ANSUL, Gokudera-kun?" imbuh Mukuro. "Kenapa kau bisa lolos dari ledakan tower beberapa bulan silam?"

"Ya...aku hanya kebetulan ingat hymn teleportasi. Aku terluka berat, tapi aku berhasil menteleport sampai ke arah Cloudshine," jelasnya. "Hymn code-ku TEMPESTA_FALSE=FRELIA=ANSUL_SOLMARTA,"

"Tako-he-do butuh 2 minggu sampai dia sadar, dan 2 minggu untuk bisa bergerak lagi," tambah Yamamoto.

"Aku tidak meminta komentarmu, Yakyuu-baka," balas Gokudera tajam.

"Giotto-sama, anda mau berkata kalau anda ingin melenyapkan 2 FALSE=ANSUL lain, bukan?" insting Byakuran bekerja.

"Tepat, aku khawatir potensi kedua FALSE=ANSUL ini disalahgunakan..." Giotto berpangku tangan. "Apalagi setelah mendengar dari beberapa Researcher bahwa FALSE=ANSUL berbasis Origin, mereka bukan kopian seperti beta, tetapi memang mereka tidak seharusnya menjadi Origin. Mereka mempunyai kekuatan sesuai darimana tower mereka berasal, mereka seperti 'meminjam' kekuatan Origin."

"Oya, berarti Gokudera-chan ini aset yang hebat," Byakuran menafsirkan. "Tapi lumayan juga mencari 2 orang yang lain,"

"Menurut Cozart, salah satu dari mereka ada di Shimon City, kota tua yang berada di utara Sol=Infel Continent," jelas Giotto. "Tugas ini tidak memiliki tenggat waktu, kalian harus memproses segalanya dengan teliti, ingat, kegagalan bukanlah pilihan."

"SIAP!"


Setelah hampir setengah hari mempersiapkan diri dengan memutar-mutar di sekitar toko milik Shoichi serta menyiapkan perbekalan, mereka berempat menuju stasiun Axis Train yang bertujuan ke arah Shimon City. Shimon City—seperti yang disebutkan, adalah kota tertua di Sol=Infel Continent. Kota itu dibuat pertama kali sebagai ladang Researcher, sayang akibat ledakan besar di suatu percobaan, kota itu bersejarah dengan banyak bangunan bekas disana-sini—hampir tak bisa dibedakan dengan Slums Pastalia dengan beberapa kawasan apartemen dan rumah tinggal yang nyaris terbengkalai.

Mereka berempat—dengan Mukuro yang tak berkata apapun dan hanya melihat ke arah jendela—sudah berada dalam Axis Train yang berjalan lumayan cepat.

"Tempat-tempat disana penuh apartemen murah ya, kan?" Yamamoto berusaha mengingat. "Sudah lama aku tidak kesana semenjak aku pindah ke Cloudshine,"

"Kau berasal dari sana, toh?" tanya Byakuran.

"Ya, aku dan Tako-he-do ini asal Shimon City. Kami dipindahkan ke Cloudshine karena sebuah alasan yang sampai saat ini kami tidak tahu," jelas sang pendekar lagi. "Rasanya seperti pulang kampung,"

"Hmph, sudah lama sekali." Gokudera menambahkan. "Sudah seperti apa kota bobrok itu ya...?"

"Memangnya kau berasal darimana, Byakuran-san?" tanya Yamamoto.

"Oya...aku?" Byakuran memutar bola matanya. "Aku dari tempat yang jauh, yang sudah kulupakan namanya,"

"Wah, wah. Manusia lupa daratan," sindir Mukuro yang sedari tadi menutup mulutnya.

"Memangnya kau sendiri darimana, Mu-ku-ro-kun? Kau amnesia kan?" balas Byakuran tak mau kalah.

"Mana mungkin aku lupa! Aku berasal dari Tsuki...kanade..."

ZRAAAAAAKK!

Tepat ketika Mukuro menghentikan kata-katanya entah kenapa kereta ikut berhenti—tentu saja berhenti dengan tidak wajar—kereta di rem mendadak, hampir saja mereka berempat terjerembap ke depan kalau Yamamoto tidak bertumpu pada tiang kereta.

"Ada apa ini!" sahut Gokudera seketika kereta benar-benar berhenti. "Jangan-jangan—"

Byakuran, Mukuro dan Yamamoto memeriksa gerbong belakang dan depan mereka, tidak ada satupun batang hidung yang bisa terlihat—semuanya sepi.

"Hati-hati, jangan bergerak dulu." Byakuran mengayunkan sebelah tangannya tanda komando. "Tampaknya kereta ini dibajak,"


TBC.


Next Chapter = Phase 3.2 . Emperor of Wailing Thunder

Saya no comment deh, rating tidak akan dinaikkan sebelum Cosmosphere 7-8-9 Muku-tan. See you next chapter abis UN~!