Apakah ini keputusan yang tepat?

Kupandangi pantulan diriku di cermin. Gaun putih tanpa lengan membalut setiap lekuk tubuhku hingga sepuluh senti di atas lutut—yang omong-omong, sudah kulepas perbannya. Aku memadukan terusan itu dengan kardigan sutra berwarna cream, belt coklat, dan sedikit aksesori bernada pastel untuk memberi kesan lembut dan kasual pada kulitku yang putih pucat. Rambut coklat bergelombangku kukepang dengan model waterfall. Aku tidak memakai riasan apapun, kecuali ulasan bedak tipis dan lip gloss yang memberi sentuhan peach pada bibirku.

Untuk ke sekian kalinya, aku bertanya pada diriku sendiri; apakah ini keputusan yang tepat?

Beberapa hari yang lalu, aku menyetujui tawaran Kise tanpa memikirkan apa yang dapat menimpa kami—atau lebih tepatnya aku—setelahnya. Aku tidak bermaksud untuk menerimanya begitu saja, sungguh. Tapi aku merasa permintaan maafnya tulus, dan matanya menyiratkan niat bahwa ia ingin memperbaiki kesalahannya. Walaupun secara teknis, itu adalah kesalahan fans-fansnya. Dan membuatku secara tidak langsung menyalahkannya sebagai si sumber perhatian, sekaligus alasanku direkrut menjadi manajer. Hanya saja, ia sudah berjanji—atau setidaknya meyakinkanku—kalau tidak akan ada penggemar dan orang-orang semacam itu pada pertemuan kami hari ini.

Tapi apa aku bisa mempercayai kata-katanya?

Kise baik dan mudah sekali bergaul dengan semua orang.

Andai di perjalanan nanti kami tidak sengaja berpapasan dengan orang-orang itu, mungkin ia akan tetap menyapa mereka.

Lantas, bagaimana denganku...?

Mendadak, segala pemikiran negatif itu terpotong oleh dering ponsel di atas ranjang. Ada pesan masuk.

.

.

From: Kise-kun

Aku akan menjemputmu. Mungkin sekitar lima belas menit lagi aku sampai. Tunggu aku-ssu~

.

.

Aku tersenyum samar. Melihat pesan singkatnya, entah kenapa dapat kusimpulkan moodnya sedang baik. Yah, walaupun ini hanya dugaan semata. Semua pikiran burukku yang baru saja berkecamuk tiba-tiba lenyap.

Ini masih jam sebelas siang. Waktu itu dia memang berkata ingin mentraktirku, tapi Kise sama sekali belum memberitahu tempat tujuannya. Ia hanya menentukan hari apa dan jam berapa, setelah itu kami bertukar nomor ponsel dan pulang. Jujur saja, aku senang dia masih mau bersikap ramah padaku setelah aku membentaknya saat itu di ruang kesehatan. Tapi hati kecilku tetap meraung tak karuan, berharap pertemuan ini tidak memakan waktu lama dan dapat segera selesai.

Aku memasukkan ponsel, dompet, dan beberapa barangku ke dalam sebuah tas kecil, lalu keluar kamar dan menuruni tangga. Setelah memastikan pintu kamar serta seluruh jendela rumah terkunci, aku mendengar suara bel.

Kulirik jam dinding di ruang tamu. Tepat lima belas menit setelah Kise mengirimkan smsnya. Jadi, itu pasti dia. Aku bergegas menuju genkan*, mengeluarkan sepasang wedges yang bernada sama dengan dress putihku dari rak sepatu, memasangnya, kemudian membukakan pintu.

Kise berdiri persis di hadapanku, mengenakan kaos kuning yang dilapis dengan kemeja hitam lengan panjang. Celana denim biru dan sepatu kasualnya menambah kesan segar pada penampilannya yang maskulin.

"Ng," mendadak dia memalingkan wajah seraya menggaruk lehernya salah tingkah. Tunggu dulu. Salah tingkah?

"Ada apa, Kise-kun?"

"Eh? Anu, itu.. kau-" Laki-laki bersurai kuning ini semakin gelagapan. "Kau... tampak berbeda."

Salah satu alisku terangkat. "Hn?"

"Aah—bukan, bukan itu maksudku!" Dia mengacak-acak rambutnya dengan satu tangan. "Kau berbeda... tapi dalam artian baik-ssu! Ini—ini pertama kalinya aku melihatmu dengan pakaian seperti itu."

Aku diam, tidak mendapat inti dari kata-katanya.

"Ng..." Semburat merah muda samar-samar menghiasi pipinya yang semulus porselen. "Hari ini kau... cantik."

Kali ini kedua alisku terangkat. Mungkinkah aku salah dengar?

"Tapi bukan berarti hari-hari lainnya kau tidak cantik! Ah—maksudku bukan itu! Aku hanya... astaga, apa yang sedang kukatakan?"

Apa aku baru saja menerima pujian?

Sepertinya iya.

Tapi tidak.

.

Kenapa aku?

Ia bisa menebar pujian pada semua gadis di luar sana. Tidak harus aku.

Dan apa yang akan kudapatkan bila fans-fansnya tahu idola mereka sedang memuji gadis sepertiku?

Jelas, bukan sesuatu yang menguntungkan.

.

.

Kami-sama. Sepertinya aku bisa gila jika setiap saat dihantui rasa paranoid begini.

.

.

"Um—terima kasih," balasku canggung, berusaha mengalihkan topik. Aku tidak ingin kami berlama-lama hanya karena persoalan ini. "Jadi, kemana tujuan kita sekarang?"

"Oh." Kise seperti baru sadar dari lamunannya. Dia mengecek sekilas jam tangan yang bertengger di pergelangannya. Sejurus kemudian, keluarlah seringaian khasnya. "Ikut saja denganku."

Aku menurut bagai anak kucing yang mengekori induknya. Kukunci pintu dan mengikutinya keluar, menuju mobil yang ia parkirkan di depan rumah. Aneh, tumben sekali. Aku tidak ingat Kise mengendarai mobil.

"Aku meminjam mobil kakak perempuanku-ssu. Kalau kita mengambil rute jalan biasa atau kereta, ada kemungkinan kita akan berpapasan dengan orang-orang yang mengenalku. Kau tahu, 'lebih baik mencegah daripada menyesal'." Pemain basket ini menjelaskan semuanya seolah dia bisa membaca pikiranku. Rupanya dia masih ingat dengan janjinya kemarin.

Hanya.. ada satu masalah kecil.

"Kau bahkan belum punya SIM, Kise-kun." Mataku menyipit.

"Tapi, aku bisa mengendarainya dengan baik. Bukankah itu sama saja?" Seringai tipis bermain-main di bibirnya. Dia membukakan pintu penumpang depan untukku. "Kau aman, Shizukacchi. Tenanglah dan masuk."

Walau belum sepenuhnya yakin, aku tetap mengikuti perintahnya dan masuk ke dalam mobil. Tak berapa lama, kami melintasi jalan raya. Sepanjang perjalanan, Kise terus dan terus berbicara. Apapun topiknya, ia masukkan ke dalam percakapan kami—walaupun sebagian besar aku hanya mendengarkan dan merespon sesekali.

Dari situ, aku mulai tahu beberapa hal kecil tentang dia. Hobi karaoke, benci cacing tanah, senang Bahasa Inggris, tidak menyukai unagi*, dan punya dua kakak perempuan. Aku sama sekali tidak bisa mengeluh atau menghentikan obrolan ini. Walaupun bukan berarti aku punya keberanian untuk memotongnya. Maksudku, dia adalah Kise Ryouta. Tidak ada yang bisa menghentikan ocehan pebasket pirang satu ini sekali dia memulainya. Tidak ada.

Kise memang benar-benar mudah merasa akrab dengan orang lain. Dapat dengan entengnya menciptakan pembicaraan, dan dengan ringannya berteman dengan semua orang. Dia mudah membuat orang lain jengkel, namun juga tidak sulit untuk membuat mereka memaafkannya.

Misalnya aku. Beberapa hari yang lalu, aku dibuat kesal setengah mati olehnya—bahkan sempat terpikir olehku untuk meninjunya. Tapi, sekarang? Lihatlah, aku bahkan mulai menikmati percakapan kami.

Aku heran. Sekaligus iri pada Kise.

Perasaan seperti ini.. persis sama seperti yang kurasakan saat Kasamatsu-senpai dan model ini mengobati cederaku di ruang klub.

Kenapa dia bisa, dan aku tidak?

.

.

.

"Bagaimana menurutmu, Shizukacchi?"

Aku mengedipkan mata dan mengalihkan pandangan dari jalan di depanku, menuju kedua bola mata Kise. "Ah, apa?"

"Kau melamun lagi." Dia terkekeh. "Bukan apa-apa. Aku hanya bertanya, apa kau suka dengan tempat bernuansa klasik?"

Aku berpikir sejenak, lalu mengangguk. "Aku suka."

"Bagus-ssu." Kise tersenyum lebar, kemudian memarkirkan mobilnya—aku bahkan tidak sadar kami telah memasuki wilayah lapangan parkir. "Karena kita sudah sampai."

Sampai? Kemana?

Kulirik sang model di sebelahku tengah memasang topi hitam yang entah dia dapat darimana, menyembunyikan sebagian besar surai emasnya dan hanya menyisakan poni serta helaian rambut belakang untuk dapat kulihat. Tanpa diberi aba-aba, ia keluar dari mobil dan berjalan menuju pintuku untuk membukakannya. Tipikal gentleman.

Aku menghargai usaha kecilnya dan keluar dari mobil seraya mengumamkan terima kasih.

Kuperhatikan bangunan yang melintang di hadapanku. Sebuah restoran.

Dari luar, restoran itu terlihat seperti restoran biasa. Tidak terlalu besar, tidak terlalu kecil, bahkan tidak terlalu ramai. Aku pun tidak ingat ada restoran semacam ini di Kanagawa. Kendati begitu, saat kami melangkah masuk, aroma manis menyergap indra penciumanku. Sebagian besar dari dekorasinya tersusun dari berbagai jenis kayu—mulai dari lantai, dinding, hingga meja kursinya—memberikan corak natural dan klasik, seperti yang dikatakan Kise. Salah satu pelayan muda kemudian membimbing kami menuju sebuah meja di dekat jendela kaca besar.

"Jadi," pemain basket di depanku mulai membuka salah satu buku menu yang disodorkan pelayan itu tatkala kami duduk. "Kau mau pesan apa, Shizukacchi?"

"Mm.." Aku ikut membolak-balik halaman buku menuku sendiri. "Fettuccine carbonara."

"Kalau begitu kami pesan satu fettuccine carbonara, dan satu onion gratin soup," ujar Kise pada pelayan tersebut. "Untuk minumnya, aku pesan lemon tea. Bagaimana denganmu-ssu?"

"Ah, samakan saja."

Pelayan wanita berseragam dominan hitam itu mengulang pesanan kami sebelum akhirnya pergi. Ada yang ganjil disini. Tidakkah pelayan itu sadar bahwa yang dilayaninya barusan adalah Kise Ryouta? Atau setidaknya, terpesona oleh ketampanannya. Sepengetahuanku, itulah yang biasa dilakukan hampir semua kaum hawa jika bertemu atau berpapasan dengan model rupawan ini. Dengan seksama, kuperhatikan pemuda di depanku.

Oh.

Setelah kuamati, ternyata paras tampan wajahnya sukses terhalangi bayangan yang dihasilkan topi tersebut. Jadi, ini arti dari 'tidak akan ada fans atau paparazzi yang mengikuti'? Sebuah penyamaran sederhana.

Tiba-tiba saja dia mendongakkan kepalanya yang tertunduk dan bola mata kami beradu. Senyum cerah seketika terlukis di bibirnya. "Biar kutebak, kau baru pertama kali makan di restoran ini, 'kan?"

Aku memberinya anggukan singkat.

"Sudah kuduga. Tidak banyak yang tahu keberadaan restoran ini," pandangannya beralih keluar jendela. "Aku juga baru tahu dari manajerku. Dia bilang, suasana disini tenang karena tidak banyak pelanggan, namun pelayanannya sangat baik. Itu sebabnya aku mengajakmu kesini." Dia kembali menatapku dengan senyuman khasnya.

Mataku mengerjap. Dia benar-benar masih ingat dengan janjinya.

"Terlebih," senyumnya semakin lebar. "Onion gratin soup disini sangat enak-ssu! Kau harus mencobanya sesekali."

Dapat kusimpulkan, dia menyukai masakan itu. Refleks, aku mengulas sebuah senyum. "Lain kali akan kucoba. Terima kasih rekomendasinya, Kise-kun."

Kedua mata Kise sedikit membulat. Entah ekspresi kagum, atau kaget, atau senang yang bertengger di wajahnya saat ini. Tak bisa diungkapkan. "Woah... rasanya sudah lama sekali aku tidak melihatmu tersenyum."

Sayangnya, senyum yang baru saja membuatnya kaget sirna dalam sekejap.

.

.

Kalau dipikir-pikir, kata-kata Kise ada benarnya.

Kapan terakhir kali aku tersenyum?

Semenjak insiden di gym?

Tidak, tidak.

Sudah jauh sebelum itu.

Aku bahkan tidak ingat kapan.

.

.

"Hei, kenapa melamun?" Lambaian tangan kanan Kise membuatku tersentak. "Ayo, tersenyum lagi. Kau lebih cantik kalau tersenyum-ssu."

Aku baru saja membuka mulut, berniat menjawab—dan berusaha mengabaikan hangat yang mulai menjalari pipi. Namun seorang pelayan datang menghampiri meja kami, membawa sajian di atas sebuah nampan.

Atmosfir kikuk yang mengambang di udara dipatahkan oleh suara bariton Kise. "Itadakimasu, Shizukacchi."

"Ah, itadakimasu, Kise-kun."

Kami menyantap hidangan kami masing-masing dalam diam, yang kemudian disusul oleh kicauan ceria Kise. Aku tidak tahu apa kemampuan semacam ini sebelumnya memang ada, tapi nampaknya ia selalu paham bagaimana caranya mencairkan suasana. Aku tidak bisa memungkiri fakta itu, karena pada dasarnya aku bukanlah orang yang banyak bicara. Mendengar seseorang dapat bercerita santai padaku pun, bukan hal yang biasa kualami. Rasanya janggal.

Kise, Kana, para senior tim basket Kaijou. Setelah bertahun-tahun, semua terasa janggal dan baru dalam hidupku.

Terkecuali aura mengerikan dari fans-fans Kise.

Aku hampir tersedak.

Bagaimana mungkin aku bisa lupa dengan mereka?

Sadarlah, Niina!

Setelah semua ini berakhir, kau akan dihadapkan pada kenyataan yang lebih kejam.

Mereka tidak akan berhenti mengusikmu. Kau tahu itu.

Tidak akan.

Tapi, sampai kapan?

Sampai aku menyerah?

Sampai aku keluar dari klub?

.

.

Keluar dari klub?

.

.

"Shizukacchi," panggil Kise, membuat spekulasiku buyar. Dia mengarahkan jari telunjuk ke pipinya, agak ke kiri dari bibir. "Ada saus menempel disitu."

"Eh?" Aku berusaha mengelap tempat yang kuanggap ditempeli saus dengan telunjukku sendiri. Tapi nihil yang kudapat.

"Bukan. Ke kiri sedikit."

"Disini?" Masih nihil.

Dia tersenyum geli. "Biar aku."

Pemuda di hadapanku mencondongkan tubuhnya yang tegap dan mengulurkan lengan kanannya ke arahku, dengan sukses membuatku beku. Perlahan tapi pasti, jemarinya menyentuh pipiku. Jari-jarinya hangat dan panjang, juga besar. Dalam dua detik, jempolnya sudah mengusap lembut bagian wajahku yang ditempeli saus. Persis pada daerah yang ia peragakan.

Panas. Tiap inci kulitku yang disentuhnya terasa panas. Dan menggelitik.

Namun sensasi itu perlahan-lahan memudar, seiring menjauhnya dia dari posisi barusan. Kise lalu menjilat saus putih pada ibu jarinya sambil tersenyum kecil. Bila aku adalah salah satu fansnya, mungkin aku sudah mimisan dan pingsan menyaksikan pemandangan kecil ini. Sayangnya, aku bukan fans Kise.

Hanya saja..

Sensasi itu.

Ya. Sensasi yang sudah tidak asing.

Pernah kurasakan, tapi...

Sudah lama sekali.

Lebih lama dari bayanganku.

.

Dia.. pria itu..

Bagaimana keadaannya sekarang?

.

.

Tidak. Tidak. Tidak. Tidak! Untuk apa pula aku peduli padanya?

Bukankah kau sudah bersumpah akan melupakannya? Kau terlalu bodoh, Niina!

.

.

.

"Ini enak." Kise masih memasang senyumnya. Sedangkan aku masih membatu dengan aksinya barusan.

"Um," ucapku akhirnya. "Terima kasih bantuanmu."

Ditutup satu anggukan, kami melanjutkan kegiatan kami yang tertunda. Waktu berjalan dengan cepat dan selesai sudah acara makan siang kami. Akhirnya, aku bisa pulang dan bernafas lega.

Kami berjalan menuju kasir dan sesuai janjinya, Kise memang mentraktirku. Kami telah berada di dalam mobil, ketika dering nyaring ponsel membelah kesunyian. Ponsel milik Kise.

"Halo?" ujarnya pada seseorang di seberang telepon. "Ah? Manajer? Ada apa?"

Diam melanda sekali lagi.

"Apa?" Matanya sedikit membelalak, kemudian menoleh ke arahku. "Harus sekarang?"

Aku menatapnya bingung.

"Tapi aku sedang—baik, baiklah. Kau tidak perlu cerewet seperti itu-ssu," bibirnya mengerucut masam. "Aku segera kesana."

"Ada sesuatu, Kise-kun?" tanyaku begitu dia memutus sambungan.

Kise terlihat ragu sesaat. "Begini.. manajer memintaku untuk datang ke studio sekarang juga. Ada sebuah kontrak yang harus aku tandatangani dan pemotretan mendadak dari sebuah majalah. Jadi..."

Begitu rupanya. "Tidak apa-apa, Kise-kun. Kau pergi saja ke tempat pemotretan. Aku bisa naik bus dari sini."

"Bukan, bukan itu—! Lagipula, sangat tidak pantas aku meninggalkanmu begitu saja pulang naik bus."

Sebelah alisku terangkat. "Lantas?"

"Apa kau mau pergi ke tempat pemotretan bersamaku? Aku janji tidak akan lama-ssu! Lalu setelah itu aku akan mengantarmu pulang. Bagaimana?" Sorot matanya jelas menyiratkan permohonan.

Kini giliranku untuk gelisah. "Dimana tempatnya?"

"Tokyo."

Dengan mobil, perjalanan dari Kanagawa ke Tokyo membutuhkan waktu tempuh kurang lebih 40 menit.

.

.

.

Takdir iseng padaku.


*Genkan= Daerah pada bagian dalam pintu masuk rumah-rumah di Jepang, apartemen, atau bangunan. Fungsi utama dari genkan; sebagai daerah untuk melepas sepatu sebelum memasuki bagian utama dari rumah atau bangunan, agar kotoran dari luar rumah tidak mengotori lantai bagian dalamnya.

*Unagi= Sejenis belut air tawar. Merupakan salah satu makanan favorit di Jepang dan banyak yang mengkonsumsinya.

Hello! Sorry for the late post. Well finally I've decided, there'll be two chapters of their supposed-to-be-date; this one and the coming-soon one. (I wonder is this even a date? Niina doesn't really think that way, does she? She's too dense.) *ditendang*

Sorry for the OOCness however.

Review, minna? XD