Sona tak tau harus menggunakan cara apalagi, manusia yang ia lawan bersama budak-budaknya lebih kuat dari mereka.
Ah! Ngomong-ngomong, orang yang di lawan oleh Sona bukanlah pria yang pertama mereka temui, melainkan manusia yang juga berkelamin laki-laki.
Manusia itu tiba-tiba datang dan menghalangi serangan yang mereka arahkan pada pria yang pertama yang tak lain adalah Naruto.
Kembali ke waktu sekarang, saat ini hanya Sona yang masih berdiri, meski pakaian yang ia pakai agak robek dan luka lecet sana-sini di kulit mulusnya.
Sona agak melirik ke arah budak-budaknya yang sudah pada pingsan di belakangnya, sama seperti dirinya, pakaian yang mereka kenakan juga robek di beberapa bagian dengan luka lecet, tapi Sona tau apa yang membuat mereka kehilangan kesadaran.
Itu karena sebuah jarum es kecil yang tertancap di tenguk mereka, Sona tentunya tau berada di titik mana ujung jarum es itu menancap, yaitu syaraf.
Jika syaraf otak yang terhubung ke seluruh tubuh tertutup, tentu itu akan membuat yang terkena menjadi lumpuh dan hilang kesadaran, mereka masih baik-baik saja, Sona tak perlu khawatir.
Ya, Sona sedikit khawatir sih, kemungkinan terburuknya mereka akan benar-benar mati jika di biarkan terlalu lama, mungkin.
Sona kemudian kembali memfokuskan pandangannya pada sang lawan, manusia itu masih terlihat santai, manusia itu juga memperhatikannya dari atas ke bawah.
Entah kenapa, tatapan manusia itu jadi semakin aneh, bukankah itu terlalu... Aneh untuk mengobservasi musuhnya, dan kenapa mata lelaki itu menyipit?
-di sisi lain-
Naruto memijat pelipisnya di balik punggung lelaki yang menggantikan ia untuk bertarung dengan kelompok kecil dari Iblis remaja itu.
Dia adalah manusia yang masuk dalam jajaran 12 Greatest Thing, manusia yang menyandang gelar The Equality, dia makhluk ke 11 yang bergabung ke dalam 12 Greatest Thing.
Naruto tentunya tau apa yang sedang di Pikirkan pelayannya itu, yah~ Naruto tak mempermasalahkannya sih, pelayannya yang satu ini memang lelaki yang sehat dan Normal, jadi tak ada salahnya tertarik dengan errr... Tubuhnya lawan jenis.
"Ha~ah... Aku pergi dulu, kau harusnya tau di mana aku berada"ucap Naruto, memang sebaiknya ia pergi sebelum Sona datang saja, dengan begitu ini kan berakhir dengan cepat.
"Ha'i!"lelaki manusia itu pun menjawabnya, memang sih ia tak bisa merasakan keberadaan Masternya secara langsung, tapi ia masih bisa merasakan hawa keberadaannya Tet dan Tohru, ia yakin pasti Masternya akan pergi ke mereka, jadi nanti ia bisa menyusul.
Setelah mendengar jawaban pelayannya, Naruto pun langsung menghilang dalam kedipan mata, ia menghilang bagaikan hantu, seolah-olah tak pernah ada di sana.
"Hehehe~ sekarang tinggal kita berdua, Ojou-chan"ucap lelaki itu, ia mengatakannya seperti om-om.
Perasaan Sona makin tak enak mendengar perkataan orang tadi, dan juga sepertinya targetnya sudah pergi entah kemana, sial! Ini sia-sia.
Harusnya ia tadi langsung pergi saja ke Mekkai dan melaporkan informasi ini ke para petinggi di Mekkai, ia benar-benar ceroboh kali ini.
Ia seharusnya tau kalau melawan musuh seperti mereka adalah hal yang mustahil untuk ia atasi, terbukti dari para Maou yang terluka dan kalah setelah melawan salah satu dari mereka.
Iya, seharusnya tadi ia melakukan itu, kalau saja ia tidak terpancing perihal kakaknya, pasti sekarang ia sudah kembali ke Mekkai.
"Siapa sebenarnya kalian, tiba-tiba muncul ke permukaan dan membuat kekacauan!?"Sona memberikan pertanyaan itu pada sang musuh.
"Biru..."namun hanya itu balasan yang Sona dapat dari pertanyaan yang ia Ajukan pada lawannya.
"Biru... Apa maksudmu!?"Sona kembali bertanya, ia tak tau apa maksud dari 'biru' yang di maksud lelaki ini.
"Daleman mu warnanya biru"ucap lelaki itu melengkapi perkataannya.
Untuk sesaat, pikirkan Sona terasa agak blank mendengar ucapan manusia di depannya, namun sekian detik selanjutnya ia langsung tersadar dan memasang ekspresi garang pada wajahnya.
"Kau! Dasar bejat sialan!"teriak Sona, gadis itu kemudian membuat lingkaran sihir dan mengarahkannya pada musuhnya.
Sring!
Swush~
Lingkaran sihir yang Sona ciptakan mengeluarkan seekor Naga air, Naga itu tidak langsung menyerang melainkan mengelilingi Sona, kira-kira panjangnya sepuluh meter.
Untung saja bangunan tempat mereka berada lumayan luas dan masih kokoh, jadi sepertinya tak ada masalah.
Sona kemudian mengarahkan tangan kanannya pada sang lawan, Naga yang ia ciptakan langsung membuka mulutnya dan menembakan jarum air dalam jumlah banyak dengan cepat, cukup cepat.
Namun serangan itu tertahan oleh dinding es yang tiba-tiba muncul di depan lawannya, 'seperti sebelumnya, dia tidak merapal mantra ataupun membuat lingkaran sihir'batin Sona.
Sona tau, meskipun apa yang di Lawannya hanya manusia, tapi cara dia menggunakan sihir dan tingkat pengontrolan mananya sangat luar biasa, 'sial... Dia hanya menggunakan mata dan batinnya untuk menciptakan dan mengendalikan sihirnya'seperti itulah kesimpulan yang Sona dapatkan.
Atau mungkin ada yang lain? Meskipun ia pintar, bukan berarti dia bisa mengetahui banyak hal, lagipula ini juga pertama kalinya ia melawan musuh seperti ini.
"Apa kau serius mau melawan ku hanya dengan itu, Ojou-chan?"musuhnya masih terlihat santai dan malah bertanya, sepertinya Sona di remehkan.
Sona kembali berpikir, untuk melawan orang seperti ini, oh ya, ada satu cara yang ia pikirkan.
"Kau butuh usaha yang lebih keras untuk-"saat si lelaki manusia menghilangkan dinding esnya, matanya langsung melotot ketika Melihat sebuah hal indah di depan matanya.
Gadis Iblis yang tengah ia lawan saat ini, yaitu Sona, kini telah menanggalkan pakaiannya dan hanya tersisa pakaian dalam yang melekat di tubuhnya.
"Uuooohh!!!! Tubuh yang bagus-"kalimatnya terpotong, ketika ia akan mengutarakan apa yang ia rasa setelah melihat itu, sebuah Naga air tiba-tiba menghantam tubuhnya dengan kencang.
Blarrr!
Sona yang melihat serangannya mengenai musuh dengan telak pun senang, tapi ia harus fokus, masih terlalu cepat untuk senang, Sona yakin kalau serangan barusan masih belum cukup untuk menumbangkan lawannya.
Tap Tap Tap
Seperti yang Sona pikirkan, lawannya masih baik-baik saja, bahkan sekarang pakaian yang musuhnya kenakan sudah kering lagi.
"Heh! Boleh juga kau, Ojou-chan"ucap Manusia itu sambil mengusap darah yang keluar dari hidungnya, sepertinya dia mimisan.
Namun sepertinya itu bukan mimisan karena serangan yang barusan, melainkan mimisan karena hal lain.
Sona sudah kembali siap bertarung, pakaiannya juga sudah ia pakai kembali, meski kancing bajunya belum ia kancingkan, Sona sebenarnya sengaja, mungkin hal ini bisa mengacaukan fokus musuhnya saat bertarung.
Lagipula sekarang tidak ada orang di dalam bangunan besar ini selain mereka, budak-budaknya juga tengah pingsan, jadi Sona tak perlu ragu ataupun malu.
"Baiklah, sekarang giliran ku untuk menyerang"ucap Manusia itu, lelaki itu pun mengarahkan tangannya ke depan, tepat ke arah Sona.
Sona pun semakin siaga ketika musuhnya bilang akan menyerang, ia harus ekstra hati-hati, Manusia yang ia lawan ini lebih kuat darinya.
Meski begitu, Sona sepertinya masih mampu memikirkan banyak cara untuk menyerang musuhnya, contohnya seperti tadi, meskipun ia agak malu melakukannya.
Kali ini, apa yang akan manusia itu lakukan untuk menyerangnya, apakah akan seperti sebelumnya? Sepertinya tidak, apapun itu ia harus bisa menghindarinya.
Sona bisa melihat, telapak tangan manusia itu mengeluarkan cahaya, dan selanjutnya manusia itu pun mengucapkan nama jurusnya dengan agak keras.
"STEAALLLL!!!"
-skip time - malam hari-
Malam hari di rumah Naruto, semuanya berkumpul di ruang keluarga, Vali dan yang lainnya juga sudah pulang, begitu juga dengan manusia yang sebelumnya bertarung dengan sekelompok Iblis remaja.
Naruto baru saja menjelaskan banyak hal pada kelompok Vali dan pelayan Naruto yang baru saja bergabung, dan mereka pun langsung paham, jadi Naruto tak perlu repot-repot menjelaskan lagi pada mereka.
Naruto juga mengenalkan Para pelayannya pada kelompok Vali, meski tak semuanya, hanya yang ada di sini saja yang ia kenalkan.
Dan sekarang adalah giliran pelayannya yang baru saja menyusulnya, manusia lelaki itu berdiri dan mulai berbicara.
"Perkenalkan semuanya, namaku Satou Kazuma, kalian boleh memanggil ku Kazuma, seperti yang sudah kalian tau, aku adalah anggota dari 12 Greatest Thing, yang berarti aku juga pelayannya Master"Manusia itu mengenalkan dirinya sebagai Satou Kazuma, atau sekarang kita panggil Kazuma.
Ia adalah seorang remaja yang tampak normal, tak ada yang mencolok, memiliki rambut coklat acak, mata berwarna hijau, ia memakai pakaian seorang butler berwarna hitam dengan sebuah pedang berjenis Katana yang tergantung di pinggang kirinya.
"Anu, Kazuma-san?"Arthur mengangkat tangan kanannya, ia sepertinya ingin menanyakan sesuatu.
"Hm?"Kazuma pun menengok ke arah Arthur, dan memberi tanda 'silahkan bertanya' pada Arthur.
"Apakah kau seorang pengguna pedang?"tanya Arthur, Arthur penasaran tentang itu, makanya ia bertanya.
"Ah, iya tentu saja, meski aku jarang menggunakannya"Kazuma menjawabnya, ia memang bisa bertarung menggunakan pedang meski tak sering.
Sebenarnya ia bisa menggunakan banyak tipe senjata sih, tapi Kazuma lebih suka menggunakan tangan kosong beserta skillnya, lagipula jika ia menggunakan pedangnya, ia akan melihat keadaan dulu.
Ia ingin membuat lawan mengeluarkan seluruh kekuatan dan kemampuannya saat bertarung dengannya, dengan itu Kazuma bisa mengecek, ia akan menggunakan pedangnya atau tidak.
Tergantung dari kekuatan lawan, jika lawannya sekuat dirinya, mungkin Kazuma akan menggunakan pedang kebanggaannya yang ia anggap partner, nama pedangnya adalah Chunchunmaru.
Hoho~ jangan salah, meskipun namanya agak aneh, pedang ini tingkat kekerasannya melebihi Excalibur, pedang ini terbuat dari Adamantium yang di perkeras dengan Vibranium, pedang ini di tempa di Nidavelir yang merupakan tempat penempaan terbaik sejagat raya.
Lagipula... Chunchunmaru adalah nama yang di berikan oleh orang yang sangat berarti baginya, dia adalah seorang perempuan dengan senyuman paling manis sedunia, baginya sih.
Jika Kazuma menyayangi Masternya sebagai seorang anak yang menyayangi ayahnya, maka Kazuma menyayangi perempuan itu sebagai seorang pria yang menyayangi wanita, dengan kata lain, Cinta.
"Ngomong-ngomong... Kazuma, bagaimana kau bisa kemari?"Tohru juga ikut bertanya, ia penasaran bagaimana Kazuma bisa kesini.
"Pakai teleportasi antar dimensi tentunya"Kazuma pun menjawab seadanya, ia tak bohong.
"Bukan itu maksud ku, yang ku maksud adalah bagaimana kau bisa datang kemari dengan persetujuan anggota yang lain, kau tau sendiri bagaimana sikap mereka jika menyangkut Master"Tohru menjelaskan maksud dari pertanyaannya agar Kazuma paham.
"Ah! Kalau itu..."
-Flashback-
10 anggota 12 Greatest Thing masih duduk di kursi mereka masing-masing, mereka semua terdiam dengan raut serius, mereka sedang memikirkan tentang siapa yang akan menyusul Master mereka.
(Srek...)
Ketika sebuah suara gesekan kecil terdengar, semua pasang mata langsung menatap ke sumbernya, dan itu berasal dari seorang lelaki dengan pakaian hitam.
Yang di tatap pun jadi gugup, 'aku hanya melakukan pergerakan kecil Oi! Jangan menatap ku seperti itu!'batinnya, ia hanya menggeser sedikit sikunya karena merasa pegal, tapi sepertinya pergerakan kecil saja bisa membuat yang lainnya curiga, aneh memang.
"Baiklah, aku sudah memutuskannya, kita akan melakukan Janken, yang menang boleh menyusul Master"dia, yang terkuat dari 12 Greatest Thing pun memutuskan hal tersebut.
Yang lainnya mengangguk setuju, dengan begini, siapapun yang pergi mereka tak bisa protes, karena pemilihan ini dilakukan dengan adil.
-Flashback off-
"Baiklah, stop! Aku mengerti apa yang terjadi selanjutnya"Tohru menghentikan cerita Kazuma, entah kenapa ia tau ceritanya berakhir seperti apa.
"Hehehe... "Kazuma hanya tertawa kecil sambil mengelus bagian belakang kepalanya, yah mau bagaimana lagi, ceritanya sudah ketebak.
"Baiklah, sudah cukup untuk perkenalannya"ucap Naruto, "selanjutnya... Vali, ada yang ingin kau sampaikan?"tanya Naruto, Vali sudah kembali dari pengawasannya terhadap Kokabiel, mungkin Vali ingin memberi tau sesuatu mengenai itu.
"Ha'i!"Vali mengiyakan pertanyaan Naruto, "seperti yang sudah kita duga sebelumnya, Kokabiel berniat untuk membunuh adik Maou dan melimpahkan perbuatannya pada pihak malaikat jatuh untuk mengibarkan bendera perang"lanjut Vali kemudian.
Naruto tak terkejut mendengar itu, ia sudah tau, itu adalah cara tercepat untuk memicu perang, dengan membunuh keluarga dari pemimpin ras, itu tentunya akan lebih efektif.
"Lalu, apa Kokabiel sudah mengetahui perubahan para bawahannya?"tanya Naruto, yang ia maksud adalah Fred dan yang lainnya, apakah Kokabiel sudah mengetahui hal itu?
"Sepertinya sudah, namun tampaknya Kokabiel mengabaikan itu, malah Sepertinya ia terlihat sedikit senang atas hal itu"jawab Vali, ia sudah lama mengamati Kokabiel, jadi ia tau.
Mendengar itu, Naruto tersenyum tipis, Naruto tau apa yang di rasakan Kokabiel, sebagai sesama makhluk yang mencintai keberadaan manusia, tentunya Naruto tau bagaimana perasaan itu.
"Jadi, apa yang akan kau lakukan selanjutnya, Master?"tanya Tet, yang kini duduk di pangkuan Naruto.
"Hm... Entahlah, mungkin selanjutnya aku akan turun tangan untuk membawa Kokabiel"ucap Naruto, "aku tak ingin membiarkannya mati"lanjutnya.
Tet mengerti kenapa Masternya ingin menyelamatkan Kokabiel, yah~ pilihan apapun yang di ambil oleh Masternya, ia akan selalu mendukung, apapun itu.
Ophis dan Tohru sedari tadi hanya diam mendengarkan, mereka berdua duduk di sisi kiri dan kanan Naruto, mereka memasang wajah netral, meski nampaknya agak cemberut entah kenapa.
"Bagaimana dengan organisasi mu, Ophis?"Naruto kemudian menanyai Ophis, mungkin saja ada kabar baik.
"Menurut Clone yang aku tinggalkan di sana, semuanya masih baik-baik saja, tak ada yang aneh"Ophis menjawabnya, hanya itu yang ia tau, ia juga tidak terlalu yakin sih, mungkin saja ada sesuatu yang terjadi di luar sepengetahuannya.
Satu-satunya yang Ophis khawatirkan hanyalah kelompoknya Rizevim, kelompok yang di pimpin oleh keturunan Lucifer itu kadang bergerak tanpa perintahnya.
Mungkin saja mereka merencanakan sesuatu yang berbahaya, mereka memang tak lebih kuat darinya, tapi ia harus waspada dan hati-hati, ada berbagai kemungkinan yang bisa terjadi.
-di sisi lain-
Sona, kini gadis Iblis itu sudah kembali ke Mekkai, ia juga sudah melaporkan apa yang terjadi padanya ke Maou Lucifer.
Budak-budaknya juga sudah di beri pertolongan dan kemungkinan akan siuman besok, sekarang mereka pasti sudah baik-baik saja.
Saat ini ia sedang beristirahat di kediaman Sitri, di kamarnya, ia tiduran dengan kesadaran yang masih terjaga.
Mata violet-nya memandang datar ke arah langit-langit kamarnya, pandangannya semakin menyempit, dan kemudian matanya ia pejamkan.
Tak lama kemudian salah satu matanya terlihat berkedut, raut wajahnya yang tenang kian berubah, keringat juga mulai keluar dari kulitnya.
"Aarrkkhhh!!!"Sona berteriak agak keras dan bangun terduduk dari tidurnya sambil kedua tangannya memegangi kepala.
"Sial!"Sona mengumpat, ia sepertinya tengah memikirkan sesuatu yang mengesalkan.
"Manusia itu... "Sona mendesis berbahaya ketika mengucapkan kalimat menggantung itu.
Sepertinya heiress klan Sitri itu masih kepikiran akan manusia yang mengalahkannya, di lihat dari ekspresi wajahnya, mungkin itu sesuatu yang tidak enak untuk di ingat.
Terlihat semburat merah tipis tiba-tiba muncul di pipinya, "sial! Kenapa aku terus mengingatnya!"umpatnya, entah apa yang terjadi, sepertinya itu bukanlah hal yang ingin Sona simpan dalam ingatannya.
Ia butuh sesuatu yang membuatnya bisa melupakan hal memalukan itu, kalau tidak, mungkin itu akan menjadi mimpi buruknya setiap ia terlelap.
Ya... Ia harus menemukan Manusia yang ia lawan sebelumnya, ia akan menyiksanya lalu menyembuhkannya, kemudian menyiksanya lagi dan menyembuhkannya lagi, dan terus seperti itu sampai ia puas dan melupakan kejadian itu.
Ia juga harus merahasiakan hal ini dari siapapun, pokoknya tak boleh ada yang tau mengenai hal memalukan yang terjadi padanya.
"Ha~ah... Apa yang kupikirkan sih, ini bukan seperti diri ku saja"Sona menghela nafas dan mengatakan itu, dia sudah tenang.
Pada akhirnya, ia tak bisa melakukan apapun untuk membantu kakaknya, ia tak bisa menahan orang-orang yang merupakan rekan dari Naga yang menyerang Mekkai.
Sona kemudian menekuk kakinya dan memeluknya, dan membenamkan wajahnya di antara lutut, tatapan matanya juga terlihat meredup.
Ia memang sebuah individu yang pintar, namun tingkat kekuatannya masih kurang, menurutnya.
Ia ingin bertambah kuat, lebih kuat dari siapapun, setidaknya sampai ia bisa membantu kakaknya, atau memenangkan Rating Game.
Dengan begitu ia bisa mewujudkan keinginannya, ia bisa membuat sekolah dimana para Iblis dari berbagai golongan belajar bersama tanpa memandang status.
Ia ingin mewujudkan itu, tempat dimana semuanya bisa bersama dan hidup berdampingan, tapi... Bisakah ia melakukannya?
Ya! Tentu saja bisa! Ia pasti akan berhasil, ia tidak akan menyerah dan terus melangkah maju mau seperti apapun jalan yang akan ia lalui.
Sona kemudian menengok ke arah jendela, di sana ia bisa melihat bulan dan bintang yang bertebaran di sekitarnya dengan jumlah banyak, terlihat sangat indah meski itu cuma buatan.
Bibir merah muda-nya yang tipis itu membentuk senyum simpul, untuk sekarang dia harus beristirahat, untuk masalahnya dengan Manusia itu akan ia urus belakangan.
Untuk kedepannya ia akan berpikir lebih logis, ia tak ingin ceroboh dan berakhir dengan cara yang memalukan seperti itu lagi.
Sona kemudian kembali merebahkan tubuhnya, ia menarik selimut putih tebalnya untuk menutupi tubuhnya, lalu memejamkan mata dan tertidur.
-skip time - ke esokan harinya-
Srek!
Naruto membuka gorden kamar, cahaya mentari yang menyilaukan pun masuk ke dalam ruangan dan menyinari 3 sosok anak perempuan yang masih terlelap dalam tidurnya.
Naruto kemudian mendekat ke arah kasur yang di tempati ketiga anak perempuan itu, lalu mendudukkan dirinya di pinggiran kasur.
Naruto tersenyum dengan ekspresi wajah yang meredup, ia memandang ketiga wajah damai mereka, wajah yang terlihat tak ada beban, namun sebenarnya mereka telah mengalami trauma yang mungkin tak akan pernah mereka lupakan.
Mereka... Sekarang tak punya siapa-siapa, keluarga mereka sudah tak ada lagi di dunia ini, itu karena Iblis liar, Monster itu membunuh semuanya.
"Hm?"Naruto kembali dari pemikirannya dan memasang wajah cerianya dengan senyum ke arah ketiga anak perempuan itu.
Salah satu anak perempuan, yang kemarin dengan beraninya mencoba menghalangi Iblis liar mulai menunjukkan tanda-tanda akan bangun, matanya mengerjap pelan dan terbuka secara perlahan.
"Emh~"tubuh kecil itu bangun terduduk, sambil melenguh dan mengucek matanya yang masih terasa agak berat untuk di buka.
"Ohayou~"Naruto pun mengucapkan selamat pagi dengan suara yang lembut.
Dan yang di sapa juga menengok, ia menatap Naruto, ah~ dia orang yang kemarin menyelamatkan mereka, kemarin...
Matanya melebar ketika mengingat apa yang terjadi kemarin, namun untuk sekian detik selanjutnya matanya terlihat sendu, terlihat ada genangan air pada pelupuk matanya.
"Jadi... Itu bukan mimpi, ya?"dia bertanya pada Naruto, entah akan di jawab atau tidak, setidaknya ia ingin kepastian, ia masih berharap kalau semua ini cuma ilusi.
"Ya, semua yang terjadi pada kalian... Itu nyata"jawab Naruto, ia mengatakan yang sebenarnya, Naruto tak ingin berbohong dan membuat anak perempuan ini tambah sedih.
"Begitu ya"ternyata bukan mimpi, tapi kenyataan, mendengar jawaban itu, ia tak tau harus bereaksi seperti apa.
Menangis? Tidak, menangis tak akan membuat semuanya kembali seperti semula, itu hanya akan membuatnya terlihat semakin menyedihkan.
Greb!
Agak terkejut, ketika dirinya di peluk, tapi ia menerima pelukan ini, saat ini ia memang butuh sesuatu untuk menenangkan dirinya.
Biasanya ia akan memeluk ibu, tapi sekarang tidak, karena ibunya sudah tak ada lagi.
"Tenang saja, aku akan merawat kalian, aku akan pastikan kalian untuk hidup dan bahagia, aku menjadi ayah kalian"Naruto mengucapkannya dengan lembut, dan sedikit mengeratkan pelukannya.
Cup
Naruto mencium pucuk kepala itu,"apapun yang terjadi aku akan melindungi kalian"ucapnya kemudian.
"Hiks... Hiks..."anak perempuan itu menangis kecil, ia membenamkan wajahnya di dada Naruto dan menumpahkan air matanya di sana.
"Terima kasih, Ayah"
Bersambung~
chap 9 up! hehehe... author sudah mulai menjalani aktivitas sekolah lagi di tahun ketiga author bersekolah, banyak pikiran ngurusin ini dan itu, jadi gak fokus buat nulis.
tapi tetep nulis pas lagi di rumah sambil istirahat, ide yang sudah author siapin untuk fic ini jadi lenyap entah kemana, jadi author membaca lagi dari awal lagi fic ini, dan melanjutkan menulis.
seperti yang klean lihat di chap ini, author memasukkan Lord Kazuma ke dalam fic sebagai anggota dari 12 Greatest Thing, maaf yah, mungkin ada reader yang gak suka.
semoga aja kalian suka, meski fic ini jadi semakin aneh, dan untuk chap selanjutnya... entahlah, tapi author akan tetep nulis kok, dan mengaplodnya setelah selesai.
sekian dari author, jan lupa review yah, jika ada sesuatu yang salah atau aneh entah itu jalan ceritanya ataupun penulisannya, tolong tulis di kolom review, agar author bisa membenarkannya.
Bai~
