Cerita Sebelumnya:

"Perekrutan untuk menjadi sukarelawan," baca Jimin sembari meletakkan cangkir berisi teh di depan Jihoon yang telah duduk manis menghadap mejanya.


BGM: "Don't You Know" by Davichi

Myka sarankan untuk baca sambil dengerin lagu itu. GAK BAKAL NYESEL! DIJAMIN!

#yoonmin #bts #t #gs featuring #seventeen

Based on drama "Descendant of The Sun"

WARNING!
GS!

.

.

.

MONOLOG

A Romance in War
(YoonMin)

Dua tahun lalu. Di Urk.

Jimin sangat ingat dia meninggalkan Seoul saat langit masih bermendung, pepohonan nyaris tadi berdaun, dan tumpukan salju nampak putih menutupi area "Dilarang Menginjak Rumput!". Namun begitu dia menginjakkan kaki di Urk, yang pertama menyapanya adalah tamparan keras angin kering padang pasir serta sengatan ultraviolet yang nyaris memanggang hitam kulitnya yang sudah berwarna tan sejak lahir.

Gadis itu mengeluh tidak habis-habis. Sia-sia saja dia membawa baju musim dinginnya ke tempat yang kebanyakan hanya mengenal musim panas ini.

Seharusnya aku membawa bikini, pikir Jimin kala itu.

.

"Dokter Park." Sebuah suara terdengar lembut memanggil nama Jimin diikuti oleh seraut wajah cantik muncul di antara deretan rak obat-obatan. Kim Seokjin, dokter sekaligus ketua tim medis di barak tentara yang menjaga perbatasan Urk, adalah orang pertama yang dikenal Jimin dan langsung akrab dengannya. Jimin menyukainya karena pembawaannya yang ramah serta menyenangkan meski kadang Seokjin sedikit jahil.

"Bisa kau membantuku?" tanya Seokjin sambil menyerahkan kotak berisi alkohol dan antibiotik. "Ada tentara yang harus mengganti perbannya tapi sepertinya dia sangat sibuk dan tidak sempat datang kemari. Aku ada meeting jadi aku mohon gantikan aku mengobatinya. Tak apa 'kan?"

"Tentu saja!" ujar Jimin sambil tersenyum tanpa tahu jawaban simpelnya itu akan membawanya pada awal sebuah cerita yang sangat panjang.

.

"Permisi," sapa Jimin pada seorang tentara yang sedang membereskan tali tambang. Dia sudah berada di tempat latihan militer, Seokjin yang mengatakan jika dia akan menemukan pasiennya jika pergi ke sana. "Yang mana yang bernama Min Yoongi?"

Tanpa banyak bicara, tentara itu mengarahkan telunjuk pada seorang pria berseragam yang sedang berdiri mengawasi barisan push up di depannya. Jimin mengikuti titik tunjuk yang dimaksud lalu tersenyum.

"Terima kasih," ujarnya sebelum beranjak pergi.

.

Min Yoongi adalah orang yang menurut Jimin tidak pantas menjadi tentara. Badannya kecil, tingginya pas-pasan, dan kulitnya pucat—bagaimana mungkin bisa seorang tentara yang selalu berpanas-panasan punya kulit seputih itu? Jimin benar-benar iri pada gen-nya.

Namun ketika dilihat lebih dekat, Jimin kembali memikirkan kesan pertamanya pada pria tersebut. Dia mungkin kecil, tapi tangannya dipenuhi oleh urat yang menonjol. Matanya tajam. Ekspresinya sangat tidak bersahabat. Dan suaranya—Jimin hampir semenit dibuat kaku oleh suara itu—begitu dalam dan tegas layaknya seorang wakil kapten.

"Siapa kau?" tanya Yoongi sekali lagi melihat gadis di hadapannya hanya terpaku tanpa menjawab pertanyaannya yang pertama.

"Eh? Oh? Aku—aku Park Jimin. Dokter baru—"

"Ah, anggota tim baru," sela Yoongi. "Kim Seokjin memborgolku di tempat tidur dan tidak membiarkanku ikut upacara penyambutan," lanjutnya dengan gerutuan.

Untuk beberapa saat suasana hening. Yoongi terus mengawasi anak buahnya latihan dan Jimin sibuk memperhatikan helai pirang rambut namja berponi di depannya sambil berpikir, apa seorang tentara diperbolehkan mewarnai dan memanjangkan rambut? Setahunya tidak. Kalau tidak boleh, kenapa rambut Yoongi bisa berwarna pirang? Apa dia tipe pemberontak?

"YAH!" tegur Yoongi—yang lebih mirip dengan bentakan—membuat tubuh mungil di depannya melompat kaget di tempat.

"Eh? A-ap-apa?" jawab Jimin gugup.

Yoongi menyeringai. "Kalau kau tidak fokus seperti itu, kau tidak akan sadar kau sudah dibidik musuh dan BANG! Detik selanjutnya kau membuka mata di surga, itupun kalau kau masuk surga."

Hening sejenak.

"Kh," kali ini giliran Jimin yang menyeringai. "Terima kasih untuk leluconmu tapi itu tidak lucu."

Smirk kembali muncul di bibir tipis Yoongi. "Baguslah, aku juga sedang tidak melucu," balasnya membuat Jimin berdecak.

Namja ini menyebalkan!

"Lalu apa keperluanmu di sini?" pertanyaan Yoongi mengingatkan Jimin pada tugas yang diberikan padanya, sekejab gadis itu tersentak.

"Aku diminta untuk menggantikan Dokter Kim mengganti perbanmu karena Ketua sedang ada meeting."

Yoongi menoleh, memandang Jimin dan kotak obat yang dia bawa.

"Tidak perlu, aku sudah menggantinya," ujar namja itu.

"Dan aku juga diminta meski kau bilang kau sudah menggantinya aku tetap harus menggantinya lagi."

Kembali Yoongi memandang Jimin, kali ini dengan sorot mata aneh. Antara kesal dan habis kesabaran.

"Apa kau akan melakukan semua permintaan yang diberikan padamu?"

Jimin memutar mata sejenak lalu mengangguk.

"Kalau aku memintamu untuk pergi dari sini, apa kau juga akan melakukannya?"

Kali ini Jimin menggeleng. "Tidak," jawabnya membuat air muka Yoongi berubah.

"Kenapa?" tanya namja itu kaget.

"Kau bukan atasanku, kau tidak bisa memintaku melakukan ini-itu seenaknya. Dan lagi, aku dokter-kau pasien, justru kau-lah yang harusnya patuh padaku," jawab Jimin dengan lancar.

Ekspresi Yoongi mengeras seketika. Matanya menajam. Dan jika dia tidak merasakan nyeri menggigit dadanya, dia pasti sudah membopong dokter berisik tersebut kembali ke kantor tim medis.

.

Yoongi melepas kemeja, meletakkannya di tepi ranjang, dan duduk diam hingga Jimin selesai mempersiapkan semua peralatan medisnya. Gadis itu berbalik dan terkejut saat matanya langsung bertemu dengan manik Yoongi yang sedang menatapnya masih dengan kilat yang sama. Jengkel.

"Kenapa?" tanya Jimin. Apa salahnya hanya mengganti perban? Kenapa namja itu sangat kesal sudah dibuat duduk di dalam ruangan dan diobati?

"Kau jelek," cetus Yoongi membuat gerakan Jimin yang sedang melepas perekat perban yang membalut dadanya terhenti. "Apa tidak ada dokter lain yang lebih cantik yang bisa ditemukan Kim Seokjin? Kenapa dia malah mengirimmu?" gerutu namja tersebut.

Jimin tak menjawab, terus melakukan pekerjaannya membuka perban yang masih nampak baru itu dengan hati-hati. Agaknya Yoongi tidak bohong tentang dia sudah mengganti perbannya. Namun tetap saja, Jimin harus memeriksa kondisi lukanya dan memastikan jika tidak ada kesalahan yang bisa mengakibatkan infeksi lanjutan.

"Apa kau tidak punya mulut? Kenapa diam saja?" tegur Yoongi setelah hening beberapa saat.

"Dokter Kim memintaku untuk tidak merisaukan semua kata-katamu karena kau memang bermulut kasar dan suka mengomel seperti kakek-kakek," jawab Jimin tanpa melepaskan fokusnya dari belitan perban terakhir.

"Kh," Yoongi menyeringai tidak percaya. "Dokter menyebalkan itu—" desisnya. "Yah, apa kau sadar kau baru saja mengatakan kata-kata kasar padaku?" sambung Yoongi. "Berapa umurmu?"

Jimin memandang Yoongi sementara tangannya membuang perban bekas ke dalam kantong plastik. "Kenapa kau ingin tahu umurku?" balasnya heran.

"Karena cara bicaramu sangat tidak sopan dan aku mau memastikan apa kau memang pantas begitu atau sebaliknya."

Jimin terdiam sejenak. "Memangnya setelah memastikan, kau mau apa? Aku 23 tahun."

"Kalau begitu kau harus sopan padaku," ujar Yoongi.

"Ne, Oppa," sahut Jimin, membuat ekspresi kaget muncul di wajah Yoongi.

"Kenapa memanggilku 'Oppa'?"

Si dokter balik memandang pasiennya dengan tatapan heran, tidak bisa mengerti jalan pikiran namja satu itu. Dia meminta kesopanan dan malah kaget saat dipanggil 'Oppa'? Maunya apa coba?

"Bukankah kau memintaku untuk sopan padamu karena kau lebih tua dariku ... Oppa?"

Mata Yoongi melotot kali ini. "Berhenti memanggilku 'Oppa', itu menggelikan," tukasnya. "Maksudku adalah aku wakil kapten di sini, tidakkah kau seharusnya menghormatiku?"

Sudut bibir Jimin naik dengan mimik tidak percaya merata di permukaan chubby pipinya. "Yah, orang-orang seperti akulah yang sudah menyelamatkanmu dari maut dan kau masih meminta lebih? Aku pikir aku sudah cukup sopan karena tidak memakimu sekarang." Suara gadis tersebut terdengar lebih tinggi dari sebelumnya, agaknya dia sudah mulai hilang kesabaran.

"Aku tidak minta diselamatkan oleh kalian," ucap Yoongi datar. "Luka seperti ini," dia menunjuk jahitan bekas terserempet peluru yang terlihat memerah basah di bagian samping dada kanannya, "Bisa aku urus sendiri."

"Aigoo~" Jimin memegang belakang lehernya untuk menghindari tangannya meraih gunting lalu menusukkannya pada Min Yoongi. "Mulut namja ini bekerja dengan sangat baik, kenapa aku masih perlu mengobatinya, jinjja!?" gadis mungil tersebut mengeluh. "Jangan-jangan meeting itu hanya alasan Dokter Kim. Jangan-jangan dia hanya tidak mau bertemu denganmu—"

Yoongi mengangguk. "Dia dan aku musuh bebuyutan," ucapnya santai yang membuat mulut Jimin ternganga tidak percaya.

Park Jimin, kau pasti orang yang sangat berdosa di kehidupanmu yang sebelumnya sampai hidupmu yang sekarang harus menanggung hukuman seperti ini, batin Jimin putus asa.

.

Seminggu berlalu dan sudah tiga kali Jimin datang ke tempat Yoongi untuk merawat lukanya. Agaknya tebakan gadis itu tentang Seokjin yang menjauhi Yoongi ada benarnya, sebab setiap kali tiba waktu harus menemui sang wakil kapten, Seokjin akan menghilang dengan berbagai alasan—kebanyakan karena ada meeting mendadak dengan kapten Kim Namjoon yang notebene-nya adalah suaminya sendiri—lalu mau tidak mau Jimin-lah yang kemudian pergi disebabkan tidak ada dokter lain yang mengenal Yoongi—adapun yang tahu soal namja itu tapi tidak mau berurusan dengannya karena dia terkenal menyebalkan.

Grak! Jimin membuka pintu dengan tergesa-gesa namun sekejab tubuhnya mematung saat melihat pasiennya tengah terbaring di atas tempat tidur. Baru saja seorang tentara melapor ke kantor tim medis dan memberitahu kalau wakil kapten mereka tiba-tiba pingsan ketika mengontrol pasukan yang sedang latihan. Tidak ada pendarahan pada tubuhnya namun suhu badannya sedikit tinggi. Dengan perkiraan Yoongi mungkin hanya kelelahan atau terkena heat-shock, Jimin menawarkan diri datang sendirian untuk memeriksanya.

"Aku akan langsung menghubungi Eonnie kalau ada hal yang lebih parah," janjinya pada Seokjin sebelum memanggul ransel berisi obat-obatan dan segera pergi ke tempat Yoongi.

Jimin meletakkan ransel dengan hati-hati di samping nakas, memperhatikan ekspresi Yoongi dan mata cermatnya jatuh pada keringat yang membasahi kening namja tersebut. Jimin menyentuhkan punggung tangannya ke dahi Yoongi. Panas. Tapi keringat yang keluar adalah keringat dingin. Demamnya bukan disebabkan gejala flu. Gadis itu meraih kancing kemeja paling atas Yoongi, bermaksud untuk mengecek luka di dadanya namun dengan cepat sebuah tangan memegang jemarinya.

Jimin terlonjak, dia melotot kaget memandang Yoongi yang perlahan membuka lemah kedua matanya.

"Mau apa kau?" suara bass namja tersebut terdengar parau, segelintir rasa sakit tersirat dari sudut matanya namun sangat terlihat jika dia sedang berusaha untuk menahannya.

"Aku mau memeriksa lukamu," jawab Jimin.

"Aku sudah mengganti kain kasanya, kau tidak perlu memeriksanya lagi," ujar Yoongi. "Pergilah."

"Aku harus tetap melihatnya. Kau demam dan kau—"

"Tinggalkan saja obatnya di sini, aku bisa mengurus diriku—AARGHH!" kalimat Yoongi berakhir dengan teriakan kesakitan karena Jimin menusukkan jarinya tepat dimana lukanya berada. "YAH! KAU GILA!?" bentak namja itu dengan marah.

"Kau tidak akan berhenti bicara kalau tidak aku beginikan," ujar Jimin tenang. "Buka bajumu atau aku akan mengguntingnya."

Yoongi mendengus keras, meski begitu dia melakukan apa yang dibilang Jimin. Sambil menahan sakit di dadanya dan tubuhnya yang terasa berat oleh demam tinggi, pria itu melepas kancing kemejanya satu per satu dan dibantu sang dokter dia menanggalkan seragamnya.

Dengan hati-hati Jimin membuka kain kasa yang merekat menutup luka Yoongi. Alisnya seketika mengerut melihat bekas memanjang jahitan yang sebenarnya sudah hampir mengering dan sebuah helaan napas keluar mengiringi sorot khawatir di matanya.

"Lukamu terinfeksi," desis Jimin bergegas meraih kapas dan cairan alkohol. "Kau mungkin bisa mengganti perban ataupun kain kasanya, tapi setidaknya kau juga harus membersihkannya."

"Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas." Yoongi menggigit bibir tatkala merasakan sensasi dingin sekaligus perih cairan alkohol menyentuh bekas lukanya.

"Itulah alasan kenapa aku di sini. Kau perlu mata tambahan untuk melihatnya," ujar Jimin dengan telaten merawat pasien yang dia nobatkan sebagai yang paling bandel dan sok tahu disejarah perjalanannya sebagai seorang dokter.

Menit berlalu, Jimin begitu fokus pada pekerjaannya hingga tidak sadar jika Yoongi sudah tidak lagi bersuara. Dokter muda itu menutupkan kain kasa baru pada luka yang sudah dia sterilkan dan untuk pertama kalinya dalam sepuluh menit, bibir merahnya tersenyum.

"Aku akan menginfusmu dan memberimu suntikan penurun panas—" kalimat Jimin terhenti saat kedua matanya jatuh pada kelopak Yoongi yang tertutup. Wajahnya nampak tenang dengan dengkur samar terdengar dari bibir tipisnya yang membentuk celah kecil. Kembali Jimin tersenyum.

"Ternyata, kau bisa tidur juga," ujarnya merasa seolah baru saja menemukan sisi baru kepribadian Min Yoongi yang berkebalikan dengan dia yang biasanya.

Nyaris tanpa suara, Jimin membentangkan selimut untuk menutupi tubuh sang wakil kapten, mempersiapkan tiang tempatnya menggantungkan botol infus, dan meraih lengan Yoongi. Jimin berhasil menusukkan jarum infus dan ketika dia memandang wajah pasiennya, namja itu nampak sama sekali tidak terganggu oleh rasa sakit yang barusan sempat menggigitnya. Meski saat terjaga dia orang yang sangat waspada, ternyata dia tipe yang akan berubah jadi mayat kalau sedang tidur. Sekali lagi Jimin tersenyum. Sisi baru Min Yoongi kembali terkuak.

Perlahan sang dokter meletakkan tangan pasiennya di atas tempat tidur, mengambil alat suntik dan mengisi tabungnya dengan cairan penurun panas untuk kemudian ikut dimasukkan ke dalam selang cairan infus.

"Kau tidak hanya butuh obat, kau butuh istirahat," desis Jimin, mengumpulkan semua peralatan medis yang barusan dia gunakan di atas nampan terpisah lantas meraih tisu. Dengan lembut gadis tersebut mengeringkan keringat yang mulai deras membasahi kening serta leher Yoongi. Dia juga menyeka minyak di wajahnya, hidungnya, ujung kelopak matanya yang terpejam, dan Jimin bergeming. Dia tidak sadar sudah berapa lama dirinya menatap Yoongi tanpa berkedip.

Kalau dilihat begini, Jimin mendesis dalam hati. Dia tampan...

Mendadak gadis itu merasa wajahnya memanas. Gawat, apa dia demam juga?

.

"Yah, Min Yoongi," sapa Seokjin ketika melihat sosok Yoongi berjalan masuk ke dalam ruang informasi tanpa mengindahkan keberadaan ketua tim medis dan kapten timnya seolah mereka tidak ada di sana. Bahkan setelah Seokjin menyebut namanya pun, namja pirang tersebut masih sok menyibukkan diri dengan memilah-milah kertas laporan yang menumpuk di dekat komputer.

"Kau sudah baikan? Lukamu sudah sembuh?" tanya Seokjin masih memperdengarkan suaranya yang riang. "Jangan pura-pura seolah kau tidak mendengarku, Min Yoongi. Aku bisa membuatmu benar-benar tuli," desis wanita itu ketika melihat namja yang lebih muda darinya tersebut masih saja tidak menghiraukannya.

Yoongi menghentikan gerakan tangannya dan menoleh pada Seokjin dengan mata menajam. "Berhenti mengirim anak itu padaku selagi kesabaranku belum habis, Kim Seokjin," ucapnya.

Di sisi lain, sang dokter malah tersenyum manis. "Lalu kau mau aku yang mengobatimu? Sambil mencubit dan memukulmu seperti biasa?"

Di sebelah Seokjin, Namjoon hanya menahan senyum mendengar percakapan istri serta wakilnya. Dia sama sekali tidak membuka suara, tidak ingin memperburuk aura panas yang sudah menyebar di dalam ruangan.

"Anak itu adalah dokter yang paaaling sabar di tim medis. Dia tidak pernah mengeluh selesainya mengobatimu. Bahkan saat aku tanya apa kau sudah membentaknya, dia cuma bilang 'Pasien marah-marah karena rasa sakit itu sudah biasa'. Hebat 'kan? Kau pikir kau bisa menemukan gadis seperti itu dimana lagi?"

Yoongi berdecak. "Jangan coba-coba mencomblangkan aku dengan dia," ancam namja tersebut.

"Aku tidak bilang begitu." Dengan innocent Seokjin menggelengkan kepala. "Dia sudah punya tunangan, untuk apa aku susah-susah menjodohkannya dengan orang kasar sepertimu."

"Park Jimin sudah bertunangan?" kali ini Namjoon yang menyahut dengan nada suara dipenuh rasa kaget.

Seokjin mengangguk. "Aku dengar tunangannya dokter juga. Gosipnya mereka akan menikah usai masa magang ini selesai."

"Kapan magang Jimin selesai?" tanya Namjoon.

"Sepuluh hari lagi."

Namjoon langsung menoleh pada Yoongi yang sedari tadi diam, melihat perubahan raut muka wakilnya yang sejatinya lebih tua dari dia dan menyadari jika ada kekosongan di kedua mata tajam yang nampak terkejut itu.

.

"Delapan! Sembilan! Sepuluh!"

Siang itu terik—seperti biasa—dan Yoongi berdiri memperhatikan anak buahnya tengah push up dengan ransel besar berada di punggung mereka. Sang wakil kapten memainkan batu kerikil di tangannya seolah itu adalah bola pingpong sambil tidak melepaskan pandangan mata sayunya dari para namja berbaju tentara yang sudah bercucuran peluh di tengah lapangan.

"Sudah 20 hitungan, bersemangatlah," ujar Yoongi. "Tinggal 80 kali lagi dan kalian bisa makan siang," lanjutnya yang secara literal bukanlah sebuah penghiburan.

"Siap, Pak!" jawab semua barisan dengan kompak dan melanjutkan menghitung bersama-sama.

"Dua puluh satu! Dua puluh dua!"

"Jimin-ah!" sebuah teriakan riang terdengar dari kejauhan, membuat Yoongi menoleh ke arah sesosok gadis yang berlari kecil meraih lengan gadis lain yang lebih mungil, sosok yang familiar bagi Yoongi. Kedua wanita tersebut nampak bertukar obrolan singkat lalu berjalan bersama-sama menuju kantin barak. Tanpa Yoongi sadari kedua matanya mengikuti gerakan Jimin hingga gadis itu menghilang masuk ke dalam bangunan kantin, kemudian dengan pelan namja tersebut menghela napas.

"Dia sudah punya tunangan...mereka akan menikah usai masa magang ini selesai..."

Yoongi menutup mata, menggenggam batu di tangannya dengan kuat saat merasakan sakit yang mendadak menyerang dadanya. Namun kali ini berbeda. Nyeri yang dia rasakan kali ini berbeda dari biasanya. Bukan berasal dari lukanya yang sudah kering berkat perawatan telaten Jimin. Bukan berasal dari demamnya yang sudah lama turun. Yoongi tidak ingin mengakui ini, tapi bayangan wajah Jimin yang sedang terlelap tidak mau meninggalkan pikirannya dan semakin mengejar-ngejar dia bagai mimpi buruk setelah mendengar perkataan Seokjin kemarin.

Yoongi menelan ludah dengan seret. Dia tahu dia tidak bisa seperti ini. Memikirkan orang yang sudah bertunangan tidaklah sesederhana membidik kepala musuh dan menembaknya dari jarak jauh. Imbas ke depannya tidak akan selesai semudah itu, baik untuk Jimin maupun untuk hati Yoongi sendiri.

Baguslah masa magang selesai sembilan hari lagi, kalau perlu dipercepat juga tidak apa-apa, membuat Yoongi tidak akan bertemu lagi dengan Jimin dan bisa melupakannya. Itu yang dipikirkan Yoongi. Tapi di sisi lain hatinya berkata yang sebaliknya. Dia ingin Jimin menjadi dokter tetap di barak, selalu ada di jarak pandangnya, dan datang untuk mengobatinya.

Yoongi mendesah frustasi, mulai menyalahkan diri sendiri kenapa dia harus melihat wajah tertidur gadis itu ketika sedang menjaganya yang demam akibat infeksi di lukanya. Kenapa dia harus terbangun dan menangkap tubuh limbung Jimin yang nyaris terjatuh dari kursi saking si dokter mengantuk dan tidak dapat menahan diri untuk tidak tertidur. Kenapa Yoongi harus membiarkan gadis mungil itu bersandar di dadanya, bernapas di kulitnya dan seolah tengah memeluknya mengira dia adalah satu dari guling imajinasi di dalam mimpi.

Yoongi tidak bisa berhenti merutuk kebodohannya sudah mencium wangi sampo stroberi dari rambut coklat Jimin dan memperhatikan dari dekat bagaimana kedua mata sipitnya terpejam tenang dengan bibir merah chubby yang sedikit terbuka menjebak udara. Alis Yoongi mengerut, dia harus berhenti memikirkan itu semua sebelum hatinya kehilangan kewarasan.

Melihat fokus sang wakil kapten tiba-tiba mengendor dan menjadi seperti orang yang sedang resah akan sesuatu, membuat para prajurit saling berpandangan heran. Entah siapa yang mulai, hitungan push up mendadak berlompatan sedikit demi sedikit.

"Tiga puluh satu! Tiga puluh tujuh! Tiga puluh sembilan!"

CTAK! Yoongi melemparkan batu asal-asalan yang mana mengenai salah satu helm keras anak buahnya. Namja itu lantas menoleh dengan wajah datar dan mata dingin.

"Kalian melompati enam angka," ujar Yoongi. "ULANGI DARI AWAL!"

"BAIK, PAK! Satu! Dua! Tiga!"

-o-

"Dokter Park," suara Jihoon sedikit mengagetkan Jimin.

"Hm? Apa?" balas wanita itu agak gugup, mencoba untuk menutupi rasa terkejutnya.

"Anuu, kalau tidak merepotkan, aku mau mampir ke minimarket sebentar. Ada barang yang ingin aku beli," ujar Jihoon sambil memasang senyum canggung, merasa tidak enak pada Jimin yang hanya menanggapinya dengan seulas senyum lembut.

"Oke," jawab dokter muda tersebut sembari menyalakan lampu sign kanan dan mulai menepikan mobil.

"Aku tidak akan lama," pamit Jihoon sebelum menutup pintu dibalas anggukan oleh Jimin. Seperginya gadis berambut sebahu itu, keheningan kembali menyeruak di dalam spasi mobil, kali ini lebih kuat dengan tidak adanya suara mesin yang terdengar. Sedikit menimbulkan rasa sesak di dalam dada Jimin.

Aku tidak percaya aku akan kembali ke sana, batin wanita tersebut sembari menyentuh cincin di jarinya perlahan.

-o-

Satu minggu sebelum tim magang dikembalikan ke Korea.

"Nae sarang sarang sarang~" Yoongi berdendang kecil di sepanjang jalan sambil tangannya membawa sebuah kardus berisi paket obat-obatan untuk tim medis yang baru saja diterima oleh pihak informasi tentara. Sesekali namja itu akan bersiul-siul dan menendang kerikil-kerikil kecil mengabaikan langit yang menghitam dengan kondisi barak hanya diterangi lampu-lampu neon tempat serangga berkumpul. Malam selalu membawa kedamaian. Malam selalu berhasil melemaskan kelelahan. Malam adalah saat santai itu datang. Itulah alasan Yoongi selalu lebih ceria ketika malam.

"Hormat, Pak!" seorang prajurit langsung berdiri tegak dan meletakkan telapak tangan di keningnya ketika berpapasan dengan Yoongi, dibalas anggukan kecil oleh sang wakil ketua.

"Bisa saya bantu membawakan barangnya, Pak?" prajurit tersebut menawarkan bantuan.

"Aniya, lanjutkan saja pekerjaanmu," tolak Yoongi yang langsung kembali mendapat seruan tegas.

"Siap, Pak!"

Kantor tim medis sudah terlihat dan mendadak Yoongi merasa dia tidak ingin ke sana. Dia tidak ingin bertemu seseorang, dia tidak ingin DENGAN SENGAJA bertemu seseorang yang berkesan seolah dia TIDAK SENGAJA bertemu dengannya.

"Aish, Min Yoongi kau benar-benar pecundang," desis Yoongi menyalahkan diri sendiri. Dan ketika dia sedang berdiri gamang seperti itu, lamat sebuah suara tertangkap oleh telinganya.

"Ne, Oppa. Kami akan pulang minggu depan. Setahuku pesawat take off siang jadi mungkin aku akan sampai di Korea malam hari." Jimin bicara dengan ponsel menempel di telinganya.

"Andweyo~ Oppa tidak perlu menjemputku kalau Oppa sibuk. Bukankah presentasi untuk ujian profesornya sebentar lagi?" gadis itu bicara sambil tersenyum. "Darimana aku tahu? Aku 'kan serba tahu, Oppa." Jimin tertawa renyah.

"Ne, jaga kesehatanmu. Tugas dokter mengobati, bukan diobati," suara Jimin melembut. "Salam untuk Tante. Ne, aku juga akan merindukanmu. Ne Oppa, sampai jumpa~" gadis mungil itu menjauhkan ponsel dari daun telinganya bersamaan dengan ekspresi wajahnya yang berubah drastis, senyuman hilang tak berbekas berganti dengan garis lurus di bibirnya. Dia mengusap layar dan sebentar kemudian sudah kembali menempelkan ponsel ke telinga.

"Sampai dimana tadi?" tanya Jimin kali ini dengan nada suara yang biasa, tidak dibuat lembut seperti sebelumnya.

"Huh? Apa yang dia katakan? Tentu saja yang biasanya." Jimin melengos. "Bagaimana kabarmu? Sudah makan atau belum? Kapan kau pulang? Aku merindukanmu, blablabla. Aigoo, itu sangat menggelikan! Apa? Tidak, aku tidak mengatakan apa-apa. Eyy, bagaimana bisa aku mengatakannya sekarang? Kurang greget kalau aku mengatakannya lewat telpon. Aku ingin meneriakkannya di depan mukanya lalu menamparnya dan menendang kemaluannya! Aku benar-benar ingin melakukan itu!" terdengar suara tawa keras di seberang sambungan telpon, suara seorang wanita yang membuat Jimin ikut tertawa riang.

"Lucu 'kan? Bayangkan bayangkan! Aku sudah merasa senang hanya dengan membayangkannya saja." Gadis itu terus bicara tanpa sadar seseorang sudah berdiri di belakangnya.

"Sudah sudah, aku tidak mau membahas dia lagi—" Jimin membalikkan badan dan langsung disambut oleh seraut wajah pucat dengan ekspresi dingin yang nampak menyeramkan karena posisinya yang membelakangi cahaya.

"EOMMAAA!" Jimin memekik kaget dengan tubuh terlonjak di tempat. Ponsel terlepas dari tangannya dan jatuh ke tanah tanpa perlawanan.

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Yoongi simpel tidak peduli dia sudah membuat anak orang kaget setengah mati.

"OPPA, KAU MENGAGETIKU! AISH!" pekik Jimin kesal.

"Jimin-ah? Yah! Kau baik-baik saja? Park Jimin!?" lamat terdengar suara dari speaker ponsel yang telungkup di atas bebatuan. Jimin mengambil ponselnya, mengatakan kalimat 'Aku akan menelponmu lagi' dan mengakhiri sambungan. Dengan mata tajam dia menoleh pada Yoongi.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Yoongi mengulangi pertanyaannya.

"Aku menelpon! Kelihatannya bagaimana!?" balas Jimin judes.

"Jangan keluar sendirian waktu malam. Kau tidak hapal wajah semua prajurit. Kau bisa diculik penyusup nanti," ujar Yoongi datar, namun cukup untuk membuat ekspresi wajah Jimin berubah.

"Be-benarkah?" desis gadis mungil itu ragu.

"Terserah kalau kau tidak percaya." Yoongi mengedikkan bahu lalu berbalik.

"O-Oppa! Tunggu!" Jimin berlari mengekor.

.

"Mobil? Untuk apa?" tanya Yoongi sambil meletakkan setumpuk kertas dokumen di meja Namjoon.

"Tim medis punya proyek baru soal perbaikan gizi di daerah sekitar sini dan untuk mencapai daerah-daerah itu kami butuh kendaraan," jawab Jimin.

"Proyek jangka panjang?" tanya Yoongi dibalas anggukan gadis berkuncir kuda di depannya, rambut Jimin nampak sedikit lebih panjang dari saat pertama dia tiba di Urk.

"Kau harus punya laporan rinci dan ber-stempel kalau mau minta fasilitas."

"Kami sedang membuatnya—"

"Lalu?" sela Yoongi.

"Untuk membuat detail tahap-tahap proyeknya kami harus melihat sendiri kondisi masyarakat dan melakukan observasi langsung, tidak hanya berdasar informasi yang kami dapat saja. Dan untuk observasi itu, aku butuh mobil ke sana," jelas Jimin.

"Kau yang pergi?" tanya Yoongi, menyandarkan pinggul di tepi meja dan melipat tangan memandang Jimin.

"Eum," sang dokter mengangguk.

"Kenapa?"

"Apanya?" mata Jimin melebar tidak mengerti.

"Kenapa kau yang pergi? Ini proyek jangka panjang 'kan? Bukankah kau akan pulang ke Korea tiga hari lagi?" mata tajam Yoongi nampak menyelidik.

"Ngng, itu..." Jimin mendesis.

Suasana hening sejenak.

"Aku tidak ikut pulang ke Korea."

Mata Yoongi terbeliak, terkejut, namun sebentar kemudian kembali datar memandang wajah Jimin. "Kenapa?"

"Karena aku terlibat proyek jangka panjang untuk memperbaiki gizi masyarakat Urk." Sang dokter tersenyum, memunculkan bulan sabit di tempat dua matanya berada.

"Itu cuma alasan," desis Yoongi penuh tuduhan yang langsung membuat senyuman Jimin menghilang.

"Terserah aku dong!" mendadak si gadis merasa kesal.

"Kalau kau mau tetap tinggal di sini, setidaknya kau harus punya alasan yang lebih bagus."

"Misalnya?" tanya Jimin.

Yoongi menerawang. "Misalnya ... bintang di langit Urk lebih indah dari Seoul?"

Wajah Jimin flat seketika. "Kau harus berhenti melucu, Oppa. Rasa humormu jelek."

-o-

Klep, pintu mobil terbuka dan sosok mungil Jihoon segera masuk, mendudukkan pantatnya di kursi penumpang sembari salah satu lengannya memeluk kantong plastik berisi barang belanjaannya. Jimin segera menyalakan mesin mobil, menginjak gas perlahan sementara Jihoon mengencangkan sabuk pengaman.

"Apa yang kau beli?" tanya si dokter berbasa-basi.

"Snack," jawab Jihoon singkat. "Biskuit, wafer, susu botol, semua yang tidak aku temui di Urk. Aku sangat merindukan mereka," lanjut gadis itu sembari memeluk kantong plastiknya dengan gaya imut yang menggemaskan dan karenanya Jimin tertawa.

-o-

Cuurr, Yoongi mencolek sedikit cairan berbau menyengat yang mengalir dari selang saluran bensin, diciumnya bau itu dari dekat dan dijilatnya. Namja tersebut menutup mata, mengepalkan tangan dengan alis tebal bertaut kesal. Dia mengembalikan ujung selang ke tempatnya semula dan bangkit berdiri.

"Ada apa? Bagaimana?" sambut Jimin dari dalam mobil begitu mendengar pintu pengemudi berderak dibuka dari luar. Yoongi masuk, mendudukkan diri di kursi sambil menghela napas panjang.

"Seseorang mengisi tankinya dengan air. Bensinnya bercampur dengan air, benda ini tidak akan bisa bergerak." Dengan gemas namja itu meninju pelan kemudi.

Kedua bahu Jimin lemas seketika. "Lalu bagaimana? Apa kita tidak bisa pulang? Apa kita akan terjebak di sini sampai pagi? Kelaparan, dirampok, diculik, dibunuh—"

"Yah," sela Yoongi, mata sayunya nampak menyorot jengah. "Jangan berlebihan."

"Tapi Oppa sendiri bilang mobilnya mogok dan jalanan sekitar sini rawan kejahatan!" Jimin mulai berkaca-kaca. "Eotteoke..." gadis tersebut mencicit. "Aku harus mengabari Eomma selagi sempat!" dengan buru-buru dirogohnya saku mantel untuk mengambil ponsel sementara Yoongi hanya diam memperhatikan. Sedetik kemudian Jimin memekik.

"Apalagi!? Kau ini sangat berisik—" ketus Yoongi semakin kesal. Dia sedang memikirkan jalan keluar namun Jimin selalu mengganggu konsentrasinya.

"TIDAK ADA SINYAL, OPPA!" rengek Jimin sambil mengangkat ponselnya hingga menyentuh langit-langit mobil. "Ah, eotteokeee~~~"

"Tsk." Yoongi hanya berdecak jengkel, ikut memandang walkie-talkie di tangannya yang juga kehilangan koneksi sama sekali. Tak ada jalan lain selain membiarkan malam turun, berlalu, dan menumpang kendaraan masyarakat lokal besok pagi.

Siapapun yang merencanakan ini aku akan memukulnya sampai rahangnya lepas! geram Yoongi dalam hati sembari menurunkan sandaran kursi mobil, menyamankan duduk, membiarkan telinganya pekak oleh suara keluhan serta rengekan Jimin yang masih belum berhenti berdengung.

Sementara itu di barak...

"Yoongi belum pulang?" tanya Seokjin begitu masuk ke kantor informasi dan hanya melihat Namjoon yang sedang duduk sendirian mengetik sesuatu di laptopnya.

"Eum, bukankah dia pergi ke desa dengan Jimin? Memangnya Jimin sudah pulang?" balas Namjoon mengalihkan pandangan sejenak pada Seokjin yang langsung menyodorkan setumpuk dokumen berisi laporan ke depan hidungnya. Dengan gusar namja itu menerima kertas-kertas tersebut, sudah hampir seharian dia mengetik laporan dan sekarang malah diberi laporan untuk dibaca. Betapa dermawannya hidup ini.

Seokjin menggeleng menjawab pertanyaan suaminya barusan. Dia mengambil sebutir apel dari piring di samping laptop Namjoon dan melompat naik duduk di meja sebelahnya. Wanita tersebut makan apel sambil menggoyang-goyangkan kedua kaki jenjangnya seperti anak kecil.

"Apa kau sudah dengar? Jimin tidak ikut pulang ke Korea," ujar Seokjin.

"Aku tahu. Dia bilang padaku dia ikut proyek jangka panjang perbaikan gizi makanya dia tidak bisa kembali ke Korea sekarang," sahut Namjoon kembali melanjutkan mengetik.

"Ah, itu cuma alasannya saja." Seokjin mengibaskan tangan, membuat Namjoon menghentikan gerakan jarinya dan menoleh pada sang istri.

"Maksudmu? Dia tetap tinggal di sini karena hal lain?"

Seokjin mengangguk, memunculkan senyuman jenaka di bibirnya yang chubby memerah.

Namjoon termenung sejenak sebelum kemudian membelalakkan mata, "Apa mungkin dia di sini karena—"

"Aniya." Seokjin menggeleng. "Bukan karena Min Yoongi," sambungnya.

"Lalu?" buru Namjoon penasaran.

"Dia bilang dia tidak mau menikah."

"Park Jimin bilang begitu padamu!?"

Seokjin mengangguk, "Tunangan anak itu berselingkuh, tepat setelah dia pergi magang ke sini. Sahabat baiknya yang tinggal di Korea yang memergoki mereka. Jimin bilang dia juga tidak terlalu suka pada namja itu, dia mau bertunangan untuk menyenangkan ibunya. Ayah Jimin sudah meninggal dan dia tidak punya saudara, makanya dia tidak ingin membuat ibunya kecewa."

"Tapi sekarang dia tidak mau pulang dan membatalkan pernikahan, bukannya itu tetap saja membuat ibunya bersedih?" tanya Namjoon.

"Ibunya sudah diberitahu bagaimana kelakuan tunangan Jimin dan setuju untuk membatalkan pernikahan. Ibunya sendiri yang menyuruhnya untuk tetap di sini selagi beliau menyelesaikan masalah keluarga mereka di Korea."

"Wow, ibunya hebat," puji Namjoon tulus.

Seokjin tersenyum, "Jimin juga." Dia menggigit apel di tangannya.

"Apa kau sudah tahu hal ini sejak awal? Makanya kau mendekatkan Jimin dengan Yoongi Hyung?" selidik Namjoon tidak lagi tertarik untuk melanjutkan pekerjaannya.

"Aku tidak bermaksud mencomblangkan mereka." Mata bulat Seokjin membesar. "Aku cuma berpikir Jimin akan cocok menghadapi Yoongi. Gadis itu memang sangat cantik dan kelihatan cengeng tapi dia juga orang yang ngotot dan tidak mau mengalah. Dia pasti bisa menaklukkan Min Yoongi yang keras kepala, aku hanya berpikir begitu. Mana aku tahu kalau akhirnya Yoongi malah menyukainya."

"Apa Hyungnim sudah tahu soal pembatalan pertunangan Jimin?"

"Sepertinya belum." Seokjin mengedikkan bahu. "Apa kau pikir Yoongi akan berbuat nekad dan merebut Jimin?" wanita itu balik bertanya.

"Hyungnim bukan orang seceroboh itu." Namjoon sanksi.

"Bro, ini masalah hati," tuding Seokjin. "20 tahun aku mengenal Min Yoongi dan aku belum pernah melihat dia menatap mata wanita sekali pun. Aku bahkan sampai yakin jika dia dilahirkan gay. Tapi sekarang dia menemukan wanita yang dia mau, apa kau pikir dia akan melepaskannya begitu saja? I think no no no~" Seokjin menggerakkan telunjuknya ke kanan dan ke kiri.

"Tapi Hyungnim adalah gentleman yang tidak akan menggunakan kesempatan dalan kesempitan," tukas Namjoon.

"Ini namanya 'memanfaatkan kesempatan yang ada'."

"Mana ada logika seperti itu." Namjoon melengos.

"Taruhan denganku. Uang belanja dua kali lipat," tantang Seokjin kemudian.

"Aniya." Sang kapten membuang muka.

"Kenapa? Kenapa kau tidak mau taruhan? Kau 'kan menentang hubungan mereka—"

"Aku tidak bilang aku menentangnya!" sela Namjoon. "Aku cuma bilang Yoongi Hyung tidak mungkin menusuk seseorang dari belakang. Kami tentara yang tidak diajari seperti itu."

"Tentara 'kan juga laki-laki," dengus Seokjin.

Suasana hening sejenak hingga kemudian suara wanita berambut coklat sepinggang tersebut kembali menggema.

"Yah, apa Jimin dan Yoongi belum pulang sampai sekarang itu karena ulahmu? Apa yang kau lakukan pada mereka!?" nada Seokjin meninggi.

"Aku tidak melakukan apa-apa!" balas Namjoon dengan alis mengerut, ditatapnya sang istri yang ceriwis dengan kesal. "Aku cuma berpikir Yoongi Hyung mungkin butuh waktu untuk bicara berdua dengan Jimin, mengutarakan perasaannya atau apalah itu. Aku tidak tega melihatnya bertepuk sebelah tangan dan kecewa sendirian."

Seokjin terdiam, hanya memandang suaminya dengan datar. "Apa yang kau lakukan?" tanyanya kemudian.

"Aku mengisikan air ke tanki bensinnya. Sekarang pasti mobil mereka sedang mogok di suatu tempat dan melihat tidak ada yang menghubungi berarti mereka ada di tengah-tengah jarak antara barak dan desa yang tidak ada sinyal. Nanti malam aku akan menyuruh orang untuk menjemput mereka."

"Jangan!" sahut Seokjin dengan cepat, kembali menuai kerutan alis sang suami namun wanita tersebut hanya tersenyum jenaka.

"Besok pagi saja, agak siang baru menjemput mereka. Apa kau tidak penasaran Yoongi akan mengatakan perasaannya atau tidak?"

Namjoon menyeringai, "Hyungnim bukan orang yang seperti itu," ucapnya mantap.

Seokjin hanya mengangkat bahu, "Tentara paling disiplin pun sejatinya hanya pria biasa yang punya kelemahan pada wanita." Dengan centil dia mengedipkan sebelah mata.

.

Matahari merambat turun seiring dengan derajat celcius tanah berpasir negara Urk yang juga turut merunduk. Dengan erat Jimin memelukkan kedua lengannya pada lutut. Ini bukan rasa dingin yang tidak bisa dia tahan, musim dingin di Korea jauh lebih beku dari ini namun entah kenapa rasa menggigilnya sedikit berbeda. Ada getar sedih dan kesepian. Tentu saja kau akan merasakannya jika posisimu sedang ada di tepi jalanan lengang dan sunyi yang tidak kau kenal, duduk sendirian di bagian belakang mobil yang kabnya dibiarkan terbuka, memandang senyap langit dengan tubuh seseorang yang terkapar layaknya mayat di sebelahmu.

Entah sudah berapa jam Yoongi tidur, Jimin berhenti menghitung angka di jam tangannya sejak keadaan di sekitarnya mulai gelap dan baterei ponselnya terlalu lemah untuk memancarkan cahaya. Gadis tersebut tidak habis pikir, mereka sedang ada di tempat asing, di alam terbuka yang tidak menutup kemungkinan kedatangan binatang buas ataupun perampok, namun Yoongi malah dengan santainya melipat kursi belakang mobil dan membuat spasi untuk tidur siang.

Jimin terngiang kata-kata Yoongi saat matahari masih tinggi tadi: "Namjoon pasti sadar kita belum kembali ke barak. Dia akan mengirim orang untuk menjemput ke sini."

Awalnya gadis itu percaya dan mencoba tenang, namun hingga bulan muncul dan naik sepenggalah langit tidak ada tanda-tanda orang datang menyelamatkan mereka ditambah dengan Yoongi yang juga tidak kunjung bangun mau tidak mau membuat Jimin kembali cemas dan rasanya ingin menangis. Wanita tersebut memeluk lututnya semakin erat, menundukkan kepala, menyembunyikan wajah ke lengannya menahan isakan, hingga tiba-tiba dia merasa sesuatu yang hangat menaungi kedua bahunya. Jimin mendongak, menatap ke samping dan menemukan sosok Yoongi sudah duduk di sebelahnya sedang menggeliat. Namja itu hanya memakai kaos pendek, menyadarkan Jimin jika yang menghangatkan pundaknya barusan adalah kemeja seragam Yoongi.

"Belum ada bantuan datang?" tanya Yoongi lantas menguap lebar.

Jimin menggeleng lemah, kedua matanya berkaca-kaca.

"Jangan menangis. Kita bisa menumpang orang besok pagi," desis Yoongi sudah memasang muka keruh melihat gadis di depannya hampir meneteskan air mata. Dia paling rikuh jika berhadapan dengan wanita yang menangis.

Jimin tidak menjawab, hanya mengangguk dan kembali menenggelamkan wajah di lengannya. Melihat itu, Yoongi berdecak keras.

"Kau keras kepala tapi begini saja kau menangis. Ini belum ada apa-apanya."

"Oppa bisa bilang begitu karena Oppa terbiasa. Aku, hiks ... 'kan tidak..." Jimin mulai terisak.

"Aish, sudah 'ku bilang jangan menangis," dengus Yoongi membuat isakan di sampingnya semakin mendengung. Pria itu mengacak rambut pirangnya dengan gusar. Tanpa sengaja dia menengadahkan kepala.

"Yah, berhenti menangis," perintah Yoongi. "Lihatlah ke atas."

Jimin menyeka kedua matanya dengan lengan baju dan menengadahkan kepala seperti yang dikatakan Yoongi lalu seketika gadis itu terpana. Sejak senja dia terlalu sibuk memikirkan ponsel, sinyal, dan kemalangannya hingga tidak sadar pada bentangan permadani kelam langit malam yang ditaburi begitu banyak kilauan bintang-bintang. Jimin terdiam, matanya melebar dan bersinar layaknya bintang yang berkelipan di atasnya sekarang.

Yoongi mengulum senyum, tidak menyangka jika yang sedang bersamanya sekarang adalah anak kecil. Anak kecil yang bisa berhenti menangis hanya dengan diperlihatkan pada benda bersinar sederhana, contohnya bintang kejora.

"Aku tidak bercanda waktu bilang padamu bintang di Urk lebih indah daripada di Korea," ujar Yoongi.

Jimin mengangguk. "Aku ingin memotretnya," desisnya.

"Foto saja," sahut Yoongi yang langsung mendapat balasan helaan napas panjang.

"Ponselku mati. Batereinya habis..."

"Tsk." Yoongi berdecak. "Kau buat apa ponselmu sampai kehabisan baterei? Sudah tahu di sini tidak ada sinyal," gerutunya sembari merogoh saku celana.

"Aku cuma berjaga-jaga. Kalau tiba-tiba muncul sinyal setidaknya aku bisa dengan cepat memberi kabar!" bela Jimin.

"Ini bukan Korea, jangan kau samakan," tukas Yoongi menyodorkan benda datar berlayar hitam pada Jimin. Sebuah ponsel. Dengan kaget gadis itu menerimanya.

"Oppa, kau punya ponsel!?" tanya Jimin dengan mata membelalak.

"Yah, aku bukan orang dari jaman batu," ketus Yoongi. "Aku malas memakainya. Walkie-talkie lebih praktis."

Jimin menekan tombol power ponsel Yoongi hingga benda itu berkedip dan menampilkan screen logo. "Tapi kau bisa memakainya untuk memberi kabar orang rumah 'kan?"

Yoongi melengos. "Kau pikir aku anak SD yang akan dicari orang rumah hanya karena belum pulang waktu sore?"

Jimin merengut, menunggu hingga loading ponsel selesai lalu buru-buru membuka aplikasi kamera. Ckrek, ckrek, terdengar suara shutter lensa menangkap gambar berkali-kali dibarengi oleh senyuman lebar yang menghias cantik di wajah Jimin ketika memeriksa hasil bidikannya. Melihat itu Yoongi ikut tersenyum, merasa lega, setidaknya gadis tersebut tak lagi ketakutan sekarang.

"Oppa, foto aku!" pinta Jimin, menyerahkan ponsel pada Yoongi dan melompat turun dari mobil. Dia merapikan rambut dan bajunya, berdiri menghadap Yoongi, memakai bentangan langit hitam bertabur berlian bintang sebagai latar belakangnya. Dengan suara pelan Yoongi menggerutu namun tetap saja dia memberi aba-aba satu-dua-tiga dan menekan tombol kamera, menekannya lagi untuk kesekian kali ketika Jimin berganti pose. Merasa sudah cukup dengan sesi pemotretannya, gadis mungil tersebut berlari riang menghambur pada Yoongi dan merebut ponsel dari tangannya. Jimin memeriksa setiap gambar yang diambil namja itu dan 'wah!' kagum tak berhenti terucap dari bibirnya.

"Oppa, hasil fotomu bagus," puji Jimin membuat smirk bangga tersungging di bibir Yoongi.

"Selca, selca, ayo selca." Jimin memindah posisi lensa menjadi kamera depan, menampilkan wajahnya dan Yoongi yang berada di belakangnya. "Say kimchi~" gadis tersebut memasang V sign dengan jarinya sementara Yoongi hanya tersenyum simpul.

Ckrek, gambar mereka berdua terpampang bersama menjadi satu file sederhana.

"Hoo~" mulut Jimin membulat melihat fotonya berdua dengan Yoongi. "Oppa tampan juga kalau seperti ini." Gadis itu membalikkan badan dan terlonjak saat menyadari Yoongi sudah mengikis jarak di antara mereka. Namja tersebut tak lagi duduk di mobil melainkan telah berdiri tepat di depannya, menatapnya lekat, tidak bicara, hanya sorot matanya yang seperti memerangkap pandangan Jimin.

"O-Oppa...?"

.

Tuk, cangkir berisi cairan pekat kopi hitam yang masih mengepulkan asap tergeletak tanpa cakap di sebelah keyboard Namjoon yang langsung diraih namja tersebut dan diseruput isinya dengan nikmat.

"Sedang apa Jimin sekarang ya?" desis Seokjin sambil merebahkan pantat di meja di sebelah suaminya yang masih tekun mengetik barisan panjang laporan yang seperti tak pernah habis. "Dia itu paranoid, takut gelap, dan sangat kagetan. Dia juga menangis kalau melihat kecoak. Ah, aku harap dia baik-baik saja."

"Kalau kau memang khawatir, seharusnya kau pergi melihat sendiri keadaannya," jawab Namjoon tanpa mengalihkan pandangan dari monitor komputer.

"Dan mengganggu waktu Yoongi? Eyy, aku bisa ditembak mati Yoongi kalau melakukan itu," cibir Seokjin.

"Lalu aku yang akan balik menembaknya," sahut Namjoon asal-asalan.

"Kapan itu Jimin pernah bertanya padaku." Mata lebar Seokjin tersebut menerawang.

"Apa?" tanya Namjoon, masih mengetik. Pasangan suami istri tersebut bercengkerama layaknya kriminal dan polisi. Seokjin sedang mengakui kesalahannya sedangkan Namjoon mengetik semua pengakuannya ke dalam dokumen laporan.

"Dia bilang, 'Eonnie, untuk tetap menjadi dokter tentara, apa ada pelatihan khusus?"

Namjoon menghentikan gerakan jarinya dan menoleh pada sang istri dengan alis bertaut. "Dia bilang begitu?"

Seokjin mengangguk, meminum kopi di cangkir di tangannya, "Dia mengatakan itu dengan wajah serius." Wanita tersebut memandang Namjoon. "Menurutmu, apa Jimin juga menyukai Yoongi?"

.

"Oppa, kenapa?" suara Jimin menyadarkan Yoongi, namja itu berkedip beberapa kali, terkejut pada jarak mereka yang begitu dekat dan langsung mengambil beberapa langkah ke belakang.

"Ma-maaf..." desis Yoongi sambil mengusapkan telunjuk ke bawah hidungnya, kedua pipinya memerah. "S-sudah malam, kau tidur saja. Biar aku yang berjaga," ujarnya salah tingkah, tidak berani menatap wajah Jimin yang masih mengarah padanya.

Jimin melipat bibir bawahnya ke dalam mulut, "Aku belum mengantuk," gumam gadis itu lantas berjalan mendekati mobil dan duduk di bagian buntutnya yang memiliki ruang lebih lebar karena Yoongi telah menggeser semua kursi ke tengah. Jimin memainkan ponsel Yoongi di tangannya, memeriksa setiap foto yang dia ambil sedangkan sang pemilik gadget hanya berdiri di tempatnya semula, memikirkan apa yang baru saja dia lakukan dan bagaimana itu bisa terjadi.

"Oppa." Suara Jimin memecah keheningan. "Kenapa Oppa menjadi tentara?"

Yoongi menoleh, heran mendengar pertanyaan itu. Namun reaksinya malah membuat Jimin memandangnya tidak nyaman.

"Apa ... aku salah bicara?" desis gadis tersebut takut.

"Tidak," jawab Yoongi. "Aku jadi tentara karena aku sudah memukul banyak orang."

"Hah?" mata Jimin membulat tidak mengerti.

"Saat lulus SMA, aku dan teman-temanku membuat onar di game center. Karena takut diburu, akhirnya aku memutuskan kabur ke akademi militer. Seingatku, geng preman yang aku pukuli dulu cukup punya pengaruh di Seoul."

Jimin ternganga, sama sekali tidak menduga akan mendapatkan jawaban se-klise itu. Menjadi tentara karena tidak mau dipukuli preman? Alasan macam apa itu?

"Kau percaya?" tanya Yoongi kemudian. Smirk menggantung jenaka di wajahnya.

"Hah!?" sekali lagi Jimin terkejut.

Yoongi tertawa kali ini. "Tak 'ku sangka kau sangat mudah ditipu," gelaknya. "Aku jadi tentara karena itu satu-satunya pekerjaan yang bisa memukul orang tapi tidak ditangkap polisi. Kau pikir aku benar-benar kabur dari preman? Eyy, Min Yoongi bukan orang pengecut. Meski harus satu lawan seribu, aku akan menghadapi mereka semua."

Puk! Sebuah sepatu melayang mengenai punggung Yoongi hingga pria tersebut mengaduh.

"Yah!" gertak sang wakil kapten kesal.

"Salah siapa membohongiku," ketus Jimin.

"Salah siapa kau mudah dibohongi," balas Yoongi sembari mengusap-usap punggungnya membuat sepatu lain kembali mengenainya.

"Kau sendiri, kenapa kau menjadi dokter?" tanya Yoongi setelah diam beberapa saat.

"Karena Appa-ku dokter," jawab Jimin. Mata gadis tersebut menerawang, "Aku selalu ingin menjadi seperti Appa yang menolong orang tanpa melihat status sosialnya dan menjadi dokter hingga akhir hayatnya," kenangnya.

Yoongi terdiam.

"Appa juga pernah menjadi relawan di medan perang seperti ini," ujar Jimin.

"Benarkah?" desis Yoongi, merasa sedikit tidak enak karena sudah membuat gadis di hadapannya mengenang seseorang yang sudah tiada.

Jimin mengangguk. "Appa bilang medan perang itu keren, tentara itu keren, dan tidak ada yang perlu ditakuti."

Yoongi tersenyum kecil. Jadi karena itu kau menjadi sangat pemberani?

"Dokter teman Appa juga bilang kalau beliau sedang dalam misi penyelamatan ketika meninggal. Aku selalu berpikir, misi seperti apa yang dilakukan Appa hingga dia mempertahankannya sampai seperti itu. Hingga dia mengorbankan dirinya sendiri dengan sangat keren begitu. Itulah yang membuatku akhirnya bercita-cita menjadi dokter." Jimin tersenyum, tak ada kesedihan di matanya, tak ada sesal yang terkias, hanya ada rasa bangga. Bangga dengan kisah yang dia tuturkan, bangga dengan pilihan hidup yang dia lakukan. Senyuman cerah gadis itu, sikap cerianya, sifat positifnya, membuat sesuatu yang hangat mengalir di dalam dada Yoongi, memenuhinya dengan perasaan meluap-luap dan tanpa sadar membawa kedua kakinya bergerak mendekati tempat Jimin duduk.

Yoongi berhenti di depan Jimin, menghalangi sinar bulan dengan badannya, memberikan bayangan pada tubuh gadis mungil yang hanya terdiam menatapnya dengan mata bertanya-tanya. Yoongi tidak bicara dan masih tidak bicara ketika dia mencondongkan badan pada Jimin, melayangkan sebelah tangannya ke atap mobil untuk menjaga keseimbangan tubuhnya, namja tersebut menghentikan wajah tepat di ujung hidung gadis yang sudah memerah sampai ke pipi serta telinga itu.

Yoongi masih diam, menatap setiap bagian wajah Jimin dari jarak dekat. Lengkungan rapi alisnya, bulu matanya yang melentik, kornea matanya yang berwarna coklat, komedo di hidungnya, bibirnya yang memerah pucat kehabisan sentuhan lipstik, dan hembusan hangat napasnya yang bercampur dengan udara dari Yoongi sendiri.

Beberapa detik berlalu dalam senyap seperti itu. Muka Jimin sudah mematang sempurna rasanya dia bisa meledak seperti kompor gas tapi kedua matanya menolak untuk lepas dari cengkeraman tatapan Yoongi yang juga sama sekali tidak beralih darinya. Jantung Jimin berdegup kencang, menggelepar seperti orang ayan meminta pertolongan, namun tak ada yang bisa gadis tersebut lakukan selain tenggelam dan semakin menenggelamkan diri pada mata jernih Yoongi yang menatap sayu padanya.

Gemetar, tangan Jimin terangkat. Yoongi melihatnya. Jemari chubby itu mengarah ke kaosnya dan dia mempersiapkan diri. Bersiap jika sewaktu-waktu Jimin mendorongnya menyingkir, menolaknya, bahkan menampar dan memakinya. Dia tidak mau hanya memikirkan hal-hal yang menyenangkan, dia tidak mau menutup mata pada perkiraan terburuk yang lebih memungkinkan terjadi sebab dia tahu siapa Jimin, bagaimana keadaan gadis itu, bagaimana posisinya sebagai seseorang yang sudah bertunangan. Yoongi tidak keberatan apabila kali ini dia ditolak dan dicampakkan, setidaknya perasaannya tidak akan pernah digantung lagi.

Namun jemari Jimin hanya berhenti di sana, menggenggam erat kain baju Yoongi tanpa ada usaha mendorong maupun menariknya. Gadis tersebut membuka mulut, memandang Yoongi dengan pipi memerah dan mata merona yang teramat sangat cantik.

"Aku bilang pada Eomma-ku," desis Jimin. "Aku tidak pulang karena bintang di Urk lebih indah." Dia mengeratkan pegangan tangannya pada Yoongi saat mengatakan 'bintang' dan itu cukup bagi namja tersebut untuk membiarkan kilat di matanya terlepas. Tali tambang yang selama ini terasa sesak mengikat dadanya setiap kali melihat Jimin, entah kenapa sekarang terasa sedikit melonggar.

"Tunanganmu?" bisik Yoongi dibalas gelengan oleh gadis di depannya.

Dan tambang itu benar-benar telah terlepas. Melegakan, sangat lega.

"Aku mungkin akan menciummu," desis Yoongi antara memberi isyarat dan meminta ijin. Jimin tersenyum tipis, menutup kedua matanya, dan langsung merasakan sesuatu yang empuk memerangkap bibirnya, bergerak lembut memijat mulutnya, membasahi jalan bicaranya yang seharian dijemur oleh angin gurun. Gadis itu merasakan sebuah telapak tangan memegang bagian belakang rambutnya, menuntunnya untuk sedikit memiringkan kepala dan dia mengerti, dengan sukarela membuka mulut tapi Yoongi malah melepaskan pagutan mereka. Namja itu terengah di hadapan Jimin yang juga susah payah melahap udara. Mata mereka bertemu, saling mengenali kilat yang sama-sama dipahami keduanya.

"Aku cuma seorang prajurit," desis Yoongi. "Gajiku tidak sebanding dengan pekerjaanku. Ada banyak misi yang mungkin bisa membuatku mati kapan saja. Ada banyak musuh yang mungkin akan menempatkanmu dalam bahaya. Di tempatku, pengorbanan lebih besar daripada jasa. Aku tidak akan menahanmu kalau kau mau pergi sekarang," bisik pria itu sambil lekat menatap ke dalam mata Jimin yang hanya memandangnya lembut.

Jimin terdiam, mengevaluasi setiap gurat di wajah Yoongi, membawa sebelah telapak tangannya untuk naik dan meraih pipi namja tersebut.

"Aku selalu berpikir," desis Jimin. "Apa aku wanita yang cukup baik untuk menemanimu?"

Dan dengan itu mata Yoongi meleleh. Nama Jimin terucap ketika dia kembali merengkuh gadis tersebut ke dalam ciuman yang panjang. Yoongi melepaskan tangan dari atap mobil, sebagai gantinya dia meraih pinggang Jimin. Genggaman tangan Jimin di pakaian Yoongi terlepas sepenuhnya, berpindah memeluk leher namja itu, menariknya mendekat. Jimin membuka kedua kakinya, membiarkan Yoongi semakin erat mendekapnya. Dan saat pagutan mereka makin menuntut, Jimin tidak menyalahkan siapapun ketika tubuhnya melemas dan rebah di dalam mobil dengan Yoongi masih mencumbu di atasnya.

-o-

"...ter. Dokter? Dokter Park!" suara Jihoon mengagetkan Jimin.

"Eh? Apa? Kau bicara padaku?" tanya wanita itu gagap.

"Anda melamun? Atau lelah? Mau aku gantikan?" mata Jihoon menyorot was-was.

"A-ah tidak perlu. Aku cuma teringat sesuatu tadi. Ada apa? Kau mengatakan sesuatu?" balas Jimin sedikit malu karena ketahuan nge-blank saat mengendara.

"Kita mau kemana?" tanya Jihoon.

"Ke rumahku," jawab Jimin.

"Eeh!?" gadis mungil di sebelahnya terkejut. "K-kenapa...?"

"Kau bilang kau tidak punya tempat menginap 'kan? Kau bisa tidur di rumahku dan besok kita berangkat bersama-sama." Jimin tersenyum namun tidak dengan Jihoon yang memberinya sepasang mata yang melotot kaget luar biasa.

"A-aku tidak bisa ... anu, aku akan turun di hotel saja—"

"Dimana rumahmu?" tanya Jimin.

"Busan."

"Busan..." wanita tersebut mendesis. Dia memandang arloji yang melingkar di pergelangan tangannya lantas mengangguk-angguk. "Masih ada waktu," ujarnya lalu menaikkan persneling dan tancap gas.

-o-

"Jangan keluar sendirian waktu malam. Kau tidak hapal wajah semua prajurit. Kau bisa diculik penyusup nanti..." adalah kalimat Yoongi yang paling diingat Jimin malam itu selain kenyataan jika dia sedang menelpon temannya di luar bangunan tempat tim medis menginap, lalu seorang tentara menyapanya dan menanyakan dimana Namjoon hingga tiba-tiba sepasang lengan kuat melingkari tubuhnya dari belakang serta menutup mulutnya dengan kain berbau menyengat. Itu bau obat bius, Jimin mengenalinya, namun pandangannya sudah terlanjur gelap sebelum dia sempat berteriak.

.

"Jimin hilang!" adalah hal yang diteriakkan Seokjin di kantor Namjoon pagi-pagi buta bahkan sebelum suaminya tersebut sadar dari kantuk akibat begadang menulis laporan semalaman. Sirene darurat segera dibunyikan, seluruh anggota medis dan prajurit bergegas berkumpul di lapangan untuk dimintai keterangan.

Yoongi yang juga selaku orang yang selalu mengawasi latihan para prajurit menjadi yang pertama sadar jika jumlah anak buahnya berkurang. Dibantu beberapa orang dia menggeledah setiap sudut barak dan menemukan dua orang tentara diikat tali di dalam gudang dengan kondisi tanpa pakaian.

Penyusup telah menyamar menjadi prajurit dan menculik sandera.

"Kita harus segera melaporkan hal ini pada komandan pusat—" ujar Namjoon begitu mendengar laporan Yoongi mengenai dua orang prajurit yang baru saja dia temukan.

"Jangan." Dengan cepat Yoongi menyela.

"Tapi, Hyung—"

"Sepertinya mereka cuma ingin berkenalan." Namja pirang tersebut menyodorkan secarik memo yang dia temukan di antara belitan tali pada Namjoon yang membaca tulisannya sekilas sebelum melayangkan mata penuh tatapan tidak percaya pada wakilnya.

"Hyung, kenapa kau sangat tenang? Mereka menculik Jimin—"

"Lalu?" potong Yoongi, memandang lurus Namjoon dengan kilat andalannya. Datar.

"Oleh karena yang mereka bawa adalah Jimin, aku tidak akan membiarkan siapapun mengambil alih misi ini. Termasuk komandan," ujar Yoongi sembari melepas medal yang menggantung di saku kiri kemejanya yang menjadi identitas jika dia memiliki pangkat tertinggi kedua setelah kapten di tempat itu.

"Maaf, Namjoon. Tapi sepertinya aku tidak bisa menjadi wakilmu untuk sementara," desis pria berambut pirang tersebut bersamaan dengan pintu kantor terbuka dan masuk empat orang prajurit yang langsung mengambil posisi berbaris.

"Semua anggota tim khusus sudah berkumpul, Kapten Min Yoongi!" salah satu dari mereka memberi laporan.

Yoongi mengangguk. "Aku, Min Yoongi Kapten tim khusus Gamma, atas persetujuan Kapten Kim Namjoon selaku pimpinan di barak pertahanan Urk, dengan ini menyatakan mengambil alih perintah atas tim khusus Gamma. Waktu libur kita sudah selesai, persiapkan diri kalian untuk 'kompetisi menepuk nyamuk' lagi."

"SIAP, KAPTEN!"

Yoongi menoleh pada Namjoon yang memberinya tatapan cemas. "Terima kasih selama ini sudah mengijinkan kami bergabung dengan timmu, Namjoon-ah." Dia tersenyum.

"Kau perlu berapa orang, Hyung? Akan aku berikan prajurit yang paling hebat—"

Yoongi menggeleng. "Timku sudah lebih dari cukup. Kami sudah biasa menghadapi yang seperti ini," sekali lagi pria tersebut tersenyum lalu menepuk pundak Namjoon baru kemudian beranjak pergi diiringi hormat tegap dari keempat anak buahnya yang juga memberikan hormat serupa pada Namjoon sebelum mereka berbalik mengikuti Yoongi keluar ruangan.

.

Tak banyak yang Jimin ingat selama hampir 24 jam berada di dalam ruangan kumuh nyaris mirip gudang dengan orang-orang memegang senjata di sekitarnya. Dia terlalu takut untuk bahkan sibuk-sibuk menyuruh otaknya merekam setiap detil hal yang dia lihat maupun alami. Jimin sudah biasa melihat tentara memegang senapan dan menemani Yoongi mengawasi mereka latihan menembak, namun rasanya dia tidak pernah setakut ini meski yang dia hadapi sama-sama orang bersenjata.

Sambil terduduk di sudut ruangan yang ubinnya berwarna hitam dan berbau pesing, entah sudah berapa kali Jimin ditanyai, dirayu, dan bahkan ditampar karena menolak untuk menjawab walau dia jelas-jelas mengerti setiap kata yang para penculik itu lontarkan. Nilai bahasa Inggris-nya semasa sekolah tidak terlalu buruk.

Jimin menangis, membiarkan air mata dan ingusnya mengering lengket di wajahnya karena kedua tangannya terikat kuat di belakang punggung, serta harus rela merasakan perih di sekitar mulutnya akibat plester yang bolak-balik dilepas-rekatkan setiap kali para kriminal tersebut mulai menginterogasinya.

Belasan jam tidak ada makanan maupun setetes air yang mengisi perutnya namun Jimin tidak merasa lapar. Dia tidak sempat merasakan hal lain kecuali takut dan takut. Jika tidak sedang ditanyai Jimin akan diam-diam menangis, menyalahkan kecerobohannya yang tidak bisa menuruti peringatan Yoongi. Dia akan terisak hanya karena mengingat Yoongi, mengucap tolong pada namja itu di dalam hati, berharap dalam sekejab mata sosok Yoongi akan muncul menyelamatkannya seperti seorang power ranger.

Dan dia benar-benar muncul seperti power ranger.

Tak ada suara berisik berarti, bahkan tak ada suara tembakan, namun mendadak pintu ruangan didobrak dari luar disusul oleh acungan sebuah pistol berperedam. Dengan menggunakan tubuh seorang penjahat yang sepertinya sudah mati, Yoongi melindungi diri dari berondongan peluru sementara tangannya dengan cekatan mengarahkan satu per satu timah panas pada orang-orang yang mengepungnya di dalam ruangan. Beberapa detik terlibat baku tembak yang tidak imbang, dari belakang Yoongi melompat dua orang berbaju hitam yang juga mengacungkan pistol yang dipasangi peredam.

Melihat bantuan sudah datang, sang kapten melempar mayat yang menjadi perisai pelindungnya lalu segera mendekat ke arah Jimin. Di belakangnya, kedua anak buahnya menyusul tanpa sekali pun menurunkan senjata di tangan mereka.

"Maaf aku lama," desis Yoongi sambil memotong tali yang mengikat pergelangan tangan Jimin dengan belati. Begitu kedua tangannya terbebas, gadis tersebut memeluk erat tubuh Yoongi dan meraung di dadanya. Tak ada yang bisa Yoongi lakukan selain balik mendekap kekasihnya dan merasakan hatinya ngilu menyadari jika tubuh mungil tersebut sedang gemetar hebat.

"Maafkan aku, maaf maaf..." hanya itu yang dapat Yoongi katakan.

"Kapten! Mereka memanggil bantuan!" seseorang berteriak dari earphone bersamaan dengan telinga Yoongi menangkap suara mesin mobil yang berdatangan.

"Kapten?" kedua anak buahnya menoleh menunggu perintah. Dengan pelan Yoongi mengajak Jimin untuk berdiri.

"Anggap pintu depan sudah tertutup," desis Yoongi ketika suara tembakan terdengar bersahut-sahutan dari tempat dia masuk. Agaknya anggota yang dia tinggalkan berjaga di sana sudah melepas peredam di senjata mereka yang berarti pertempuran ini naik ke level yang berbahaya.

"Pasang bom," perintah Yoongi kemudian memberikan Jimin pada salah satu anggotanya yang menuai tatapan terkejut gadis itu. "Kau bawa dia keluar, akan aku alihkan perhatian mereka."

"Oppa—" Jimin tidak kuasa berkata-kata. Yoongi memandangnya, sorot kedua matanya nampak teduh berkebalikan dengan keadaannya sekarang yang bersenjata lengkap dan siap membunuh orang.

"Kau pernah bertanya padaku, apa kau wanita yang cukup baik untuk menemaniku 'kan?" ujar Yoongi. "Aku tidak perlu wanita yang baik untuk bersamaku. Cukup dengan yang tidak takut, tidak menangis, dan tetap mempercayaiku."

Yoongi tersenyum. "Dan terima kasih, karena kau tidak menuntut lebih dari diriku yang seperti ini. Kau yang terbaik, Park Jimin." Dengan sayang dia mengacak rambut coklat Jimin yang sudah kusut. Gadis di depannya meneteskan air mata lagi.

"Oppa harus kembali. Berjanjilah padaku kau harus kembali," isaknya.

"Tentu. Aku akan kembali," jawab Yoongi dengan senyum di bibirnya.

Bersama dengan salah satu anak buahnya, Jimin keluar dari dalam gudang melalui jendela. Mereka bergerak perlahan di balik semak-semak menuju mobil yang terparkir agak jauh dari markas para penculik.

"Bomnya sudah aktif! Akan meledak dalam lima menit! Semua anggota, keluar!" terdengar suara Yoongi memberi perintah dari earphone yang masih dipakai orang yang bersama dengan Jimin. Gadis itu menoleh ke belakang dan dapat melihat orang-orang berpakaian hitam seperti Yoongi satu per satu bermunculan di balik kaca jendela sambil tetap mengacungkan pistol.

"Tiga menit!" suara Yoongi menggelegar.

Dapat Jimin lihat sosok kekasihnya sudah muncul di jendela tempatnya keluar tadi namun dengan cepat tubuhnya berganti dengan siluet lain yang memegang benda panjang berkilat seperti ... pedang? Mata Jimin membelalak.

"Oppa—umph!" teriakan Jimin dihentikan oleh tangan bawahan Yoongi yang mendekap mulutnya kuat.

"Aku mohon jangan berisik. Mereka bisa menemukan kita," bisik tentara itu sedangkan di dekapannya, Jimin kembali terisak.

"Aku akan kembali..."

Kau harus kembali, Oppa...tangis Jimin dalam hati.

"SEPULUH DETIK!"

10

Belum ada tanda-tanda anggota mengakhiri tembakan.

9

Sosok yang muncul di jendela terus-menerus berganti antara tentara dan penjahat.

8

Akhirnya, satu per satu anggota berseragam hitam melempar diri mereka keluar melalui jendela.

7

Dengan cepat mereka semua bangkit lalu segera mengacungkan senjata kembali.

6

Baku tembak masih berlanjut meski jelas-jelas anggota Yoongi telah mundur.

5

Jimin diajak untuk merunduk serendah mungkin ke tanah guna menghindari peluru nyasar yang sejatinya sedang mengarah ke tempatnya.

4

Sebuah tubuh ambruk tak jauh dari tempat Jimin berada dan nyaris membuatnya memekik kaget jika dia tidak melihat pakaian serba hitam orang itu serta kode OK yang dia berikan.

3

Beberapa orang lain juga menjatuhkan diri di sekitar Jimin dan langsung ikut tiarap.

2

Jimin baru menyadari jika berada di dekatnya hanya empat orang.

1

Oppa...

0

"OPPAAA!"

DHUARR! BLARR! PRANGG!

Jimin menjerit keras, tubuhnya dibawa merunduk oleh anggota di sebelahnya, didekap erat ketika ledakan susulan yang lebih hebat menggelegar tidak hanya menghancurkan kaca jendela namun juga dinding beton, atap, serta menggetarkan bumi di sekitarnya.

Saat suara ledakan tidak lagi terdengar, barulah masing-masing dari para prajurit berani mengangkat wajah.

"Satu, dua, tiga ... mana kapten?" mereka tersadar akan jumlah yang berkurang sementara Jimin sudah meraung, menangis pada bumi.

.

"Tentu. Aku akan kembali..."

Tapi Yoongi tidak kembali.

-o-

Jimin meletakkan kunci mobil di telapak tangan Jihoon yang mendapat tatapan tidak mengerti gadis itu.

"Perjalanan ke Busan akan sedikit jauh. Menyetirlah dengan hati-hati. Ne?" ujar wanita tersebut.

"Anu—"

"Jarang-jarang kau bisa pulang ke Korea. Temuilah keluargamu meski cuma semalam, biarkan mereka melihat anak perempuannya baik-baik saja dan jangan buru-buru ke sini karena besok kita berangkat malam hari." Jimin mengedipkan sebelah matanya.

Jihoon tersenyum, maniknya berkaca-kaca, dengan erat digenggamnya kunci mobil di tangannya. "Terima kasih..." desis gadis itu tulus.

Jimin hanya mengangguk, melihat Jihoon mengucapkan terima kasih sekali lagi dan berbalik masuk ke dalam mobil, duduk di kursi kemudi.

"Hati-hati menyetirnya, jangan melamun!" pesan Jimin dijawab 'ne' lantang oleh Jihoon lantas mobil krem tersebut melaju perlahan kembali ke jalanan.

Jimin menunggu hingga mobilnya tidak terlihat setelah membelok ke tikungan menuju jalan tol, baru dia berbalik masuk ke lobi apartemen.

.

Pintu rumah terbuka, memperlihatkan sosok seorang wanita paruh baya dalam balutan daster dan tengah memandang tajam pada Jimin yang sedang melepas sepatu.

"Aku pulang~" ucap Jimin malas-malasan dan berlalu begitu saja seolah ibunya tidak ada di sana untuk mencegatnya.

"Park Jimin—"

"Minguk-ah~ Eomma pulang~" Jimin menyela kalimat ibunya, melempar tas dan mantel ke sofa ruang tamu lantas berjalan semakin dalam ke bagian rumahnya.

"Jangan pura-pura tidak mendengar Eomma, Jimin-ah!" wanita berusia setengah abad tersebut mengikuti anak perempuannya yang masuk ke dapur.

"Eomma, aku lelah. Kita bicara nanti saja, ne?" ujar Jimin setelah meminum kandas isi gelasnya dan berjalan meninggalkan dapur, seperti sedang kabur dari ibunya sendiri.

"Minguk-ah~" panggilnya sekali lagi. Dia membuka pintu demi pintu kamar namun tidak juga menemukan orang yang dia cari.

"Eomma, Minguk dimana?" tanya Jimin begitu kembali ke ruang duduk dan melihat sang ibu tengah melipat tangan di salah satu sofa.

"Keluar dengan Yongguk." Suara wanita itu terdengar ketus.

"Oh? Oppa sudah pulang? Tumben." Jimin mengikat rambut panjangnya dengan asal lantas ikut merebahkan badan yang terasa penat ke atas sofa. Dia menggeliat sejenak kemudian dengan merdeka menjatuhkan diri pada bantal duduk yang empuk dan mulai memejamkan mata.

"Apa benar yang Yongguk bilang itu? Kau akan pergi ke Urk lagi?"

"Haaah~ Oppa benar-benar bermulut ember," desis Jimin. "Sebagai seorang ketua rumah sakit tidak seharusnya dia membocorkan rahasia bawahannya ke sana-sini. Teman dekatku bahkan tidak tahu kalau aku pergi—"

"Jadi kau benar-benar akan pergi!?" suara ibu Jimin meninggi, membuat anaknya menepuk mulut dengan khilaf.

"Kau pun ternyata juga ember, Park Jimin," tuduh Jimin pada dirinya sendiri. "Eomma, aku capek. Aku mau tidur—" gadis tersebut hendak melipir pergi.

"DUDUK DI TEMPATMU, PARK JIMIN!" titah sang ibu yang membuat putrinya kembali diam di sofa.

"Kau sudah lupa apa yang terjadi padamu saat kau di Urk dulu? Kau mau mengulanginya, hah!?"

"Eomma~" Jimin merengek. "Makanya aku sudah pernah mengalaminya, aku lebih berpengalaman, aku bisa menjaga diri, aku akan berhati-hati, Eomma."

"Tidak. Yongguk bilang berkasmu masih bisa dibatalkan, Eomma tidak setuju kau pergi." Wanita tambun itu membuang muka.

"Eomma, aku harus ke sana." Jimin memasang wajah paling memelas yang dia miliki. "Tim medis di sana butuh bantuan dan—"

"Kenapa harus kau!?" suara ibu Jimin kembali melengking. "Apa tidak ada orang lain? Kenapa harus kau? Apa mereka tidak tahu kalau kau punya tanggungan seorang anak? Apa tidak ada dokter lajang lain yang bisa ke sana dan memberi bantuan!?"

Jimin terdiam, menghela napas panjang sejenak.

"Ini bukan masalah ada atau tidak ada orang, Eomma," ujarnya. "Ini soal ketrampilan dan pengalaman. Mengatasi bencana alam bukanlah hal main-main yang bisa semua orang lakukan. Aku pernah bekerja di sana, aku tahu situasi di sana, oleh karena itu akulah yang mereka panggil."

"Tapi kau punya anak! Minguk. Apa yang akan kau lakukan pada Minguk!?"

"Minguk punya seorang nenek yang hebat dan sangat bisa diandalkan. Aku yakin dia akan baik-baik saja. Ne, Neneknya Minguk?" Jimin mengulum senyuman jenaka yang hanya dibalas dengusan oleh ibunya.

"Yongguk tidak akan membiarkanmu pergi," ketus wanita paruh baya itu.

Jimin mengedikkan bahu. "Oppa sudah tanda tangan semua berkas, sudah memberi stempel, dengan atau tidak dengan ijinnya secara lisan aku tetap bisa pergi hanya berbekal kertas-kertas itu."

"Jimin," sang ibu memandang putrinya dengan lekat, membiarkan dia tahu jika masalah ini tidak layak ditanggapi dengan main-main seperti itu.

"Eomma sudah kehilangan satu orang. Apa sekarang kau ingin Eomma kehilangan orang lain? Apa kau ingin Minguk kehilanganmu juga? Pikirkanlah lagi, jangan hanya menuruti egomu. Anakmu masih sangat kecil, Jimin-ah. Biarkan dia merasakan bersama ibunya lebih lama. Jangan seperti ini..." ibu Jimin mengakhiri kalimatnya dengan tangan mengusap basah di sudut matanya.

Jimin beranjak, duduk berlutut di sebelah kaki ibunya. "Eomma, aku ke sana untuk mengobati orang, bukan untuk dihukum mati. Aku hanya pergi dua minggu dan akan segera pulang begitu tim bantuan tambahan dikirim. Eomma jangan khawatir, aku akan berhati-hati dan pulang dengan selamat. Hm?"

Dengan gemetar ibu Jimin mengambil tangan anaknya. "Eomma tidak kuat, Jimin-ah. Eomma tidak kuat kalau harus kehilangan lagi. Appa-mu, Yoongi—"

"Eomma~" Jimin menggenggam erat tangan ibunya, matanya berkaca-kaca mendengar nama seseorang yang disebut dalam getar tangis oleh wanita paling dikasihinya tersebut. "Aku akan baik-baik saja. Eomma jangan khawatir. Yoongi Oppa juga pasti akan menjagaku di sana."

"Jimin..." tangisan sang ibu luruh, badan penuh ketegaran serta ketabahan yang tak pernah berubah meski sudah dikikis usia tua itu untuk sekarang melemah di hadapan tekad kuat putrinya, hanya dapat memeluk tubuh yang dia besarkan dengan keringat serta tangannya sendiri sejak si gadis bahkan belum bisa membuka mata. Sambil menahan isakan Jimin mengusap pelan punggung ibunya, dapat merasakan kesedihan wanita itu yang akan ditinggalkan oleh anaknya karena dia sendiri juga sudah punya anak dan dapat membayangkan bagaimana kepedihannya.

"Aku akan baik-baik saja, Eomma..." bisik Jimin menghibur.

"Anakku..." sang ibu masih terus menangis.

Pelukan keduanya baru terlepas ketika terdengar suara pintu beranda dibuka. Jimin mengusap kedua matanya dan tersenyum pada sang ibu.

"Itu pasti Yongguk Oppa dan Minguk, aku akan menyambut mereka," ujarnya dibalas anggukan lemah ibunya. "Besok sebelum berangkat, aku akan berkunjung ke pemakaman untuk berpamitan," lanjutnya lalu bergegas merapikan rambut serta wajah dan berusaha untuk tidak terlihat seperti orang menangis baru kemudian berjalan keluar ruang duduk.

"Minguk-ah~" Jimin merentangkan kedua tangannya lebar-lebar pada bayi di gendongan seorang namja yang langsung memekik senang begitu melihatnya.

"Aigo aigoo aigoo~ anak Eomma main sama siapa, hm?" dengan terampil Jimin menerima tubuh anaknya yang baru berusia satu tahun dari lengan kekar pria berkulit gelap yang menjatuhkan tatapan tajam menembus tempurung kepalanya.

"Apa?" tanya Jimin menantang balik pandangan menusuk dari Yongguk.

"Kau benar-benar akan pergi?" tanya namja itu dengan suara beratnya.

"Kau sudah menanda-tangani semua berkasnya," jawab Jimin sambil menimang-nimang Minguk yang mengusap-usapkan hidung ke dadanya.

"Aku bisa membatalkannya dengan banyak alasan," ujar Yongguk.

"Aku bisa tetap pergi dengan banyak alasan," balas Jimin.

"Yah—"

"Minguk mau minum. Oppa mandilah dulu, aku nanti saja setelah menyusuinya." Jimin memotong kalimat Yongguk lantas ngeloyor pergi ke kamar tidurnya meninggalkan namja tersebut yang hanya bisa mendengus kesal.

.

"Aku tidak perlu wanita yang baik untuk bersamaku. Cukup dengan yang tidak takut, tidak menangis, dan tetap mempercayaiku..."

-next to EPILOG-


Bukan salah Myka :"
Tulisannya beranak-pianak sendiri :" *elap ingus*

Dan maapin kalo malah jadinya ngebosenin :""

Masih mau review kan? ._.