Chapter 09
Love on IOI
Kiba's Plan
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : SasuHina, ShikaTema
Rated : T
Hinata's POV
"Ingat ya, Hanabi-chan. Jangan katakan apapun tentang aku saat berada didepan umum" Kataku sambil menunjuk kearah Hanabi ketika aku benar-benar lelah dikejar-kejar media setelah Hanabi yang salah ucap didepan Sai.
"Iya, iya, aku ingat. Gak usah khawatir, Onee-chan" Kata Hanabi sambil mengedipkan sebelah matanya kearahu. Aku langsung merinding begitu melihat kedipan yang tak beralasan tersebut. Pasti gadis berambut coklat ini merencanakan sesuatu pada kakaknya yang imut ini.
"Ya sudah, Onee-chan. Aku ada kuliah beberapa saat lagi" Kata Hanabi-chan sambil mengambil handuknya dan langsung berjalan menuju kamar mandi dengan bersenandung riang. Hatiku makin ketar-ketir mendengar senandungannya tersebut.
"Haaah...! Ngapain dipikirin coba" Kataku sambil merebahkan tubuhku di ranjangku. Kupejamkan mataku untuk mengusir rasa lelah yang menerpa tubuhku beberapa saat yang lalu.
"Siapa anak itu ?" Gumamku sambil memikirkan kembali bayangan anak yang tersenyum sinis dengan baju yang berlumuran darah berwarna merah didepan box telepon umum. Siapakah anak itu ?
Ugh...! Kepalaku terasa sakit begitu memikirkan bayangan-bayangan aneh tersebut.
Tok...! Tok...! Tok...! Sebuah bunyi ketukan pelan didepan pintu menyadarkanku dari lamunanku barusan. Ku beringsut dari ranjangku dengan perasaan malas dan juga kepala yang masih sedikit sakit.
"Sebentar" Kataku sambil berjalan kearah pintu kamar apartemenku dan bergegas membuka pintu.
Terlihat sosok dengan jas hujan yang menutupi hampir seluruh wajahnya, kecuali bagian bawah mulut dan juga hidungnya. Jas tersebut tampak basah dan beberapa tetes air hujan menetes dari tepi jas tersebut.
"Kiba-kun ?" Kataku begitu menyadari bahwa sosok berjas hujan itu ternyata adalah Kiba. Kiba pun membuka tudungnya dan kemudian menampakkan wajahnya yang ceria dan gigi taringnya yang cukup panjang.
"Masuklah" Kataku sambil mempersilahkan teman band ku tersebut untuk masuk kedalam kamar apartemenku.
Kiba langsung mencopot jas hujannya dan kemudian menggantungkannya di gantungan topi didepan pintu.
"Brrrr...! Hujannya deras banget" Kata Kiba sambil menggigilkan tubuhnya. Aku hanya terkikik pelan mendengar ucapan tersebut.
"Mau minum apa, Kiba-kun ?" Tanyaku sambil masuk kedalam dapur mini yang berada disamping toilet.
"Gak usah repot-repot. Kamu punya Whiskey ?" Uh...! Sialan juga dia. Mana punya aku minuman macam begituan.
"Gak ada" Jawabku dengan nada jutek pada cowok berambut coklat jabrik tersebut.
"Just kidding" Katanya sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya kearahku. Kutuangkan secangkir kopi dan juga secangkir teh untuh menghangatkan badan ditengah hujan yang begitu deras diluar apartemenku.
"Jadi, kau ada urusan atau cuma mampir sebentar kesini ?" Tanyaku langsung to the point begitu selesai menuangkan minuman dan membawanya kedepan Kiba.
"Dua-duanya" Kata Kiba sambil menyeruput sedikit kopi buatanku. Aku gak begitu suka kopi sehingga aku tuangkan teh dalam cangkir milikku.
"Kopi buatanmu sangat enak, Hinata ?" Kata Kiba. Sudah banyak sekali dia memuji kopi buatanku tersebut. Meskipun pujiannya sudah sering, bahkan setiap kali dia minum kopi buatanku selalu memuji seperti itu. Tapi aku masih serasa melayang aja mendengar pujiannya tersebut.
"As Usual" Kataku dengan nada sarkastik kearah Kiba yang hanya dijawab dengan cengiran lebar dari bibirnya tersebut.
"Gak gitu juga sih. Tiap kali aku minum kopimu itu, kayak ada yang gimana gitu" Kata Kiba sambil tertawa geli mendengar ucapannya sendiri. Jangan kaget bila dia sering bertengkar dengan Sai yang notabene anak yang sangat serius dan sarkastik. Orang dianya aja kayak gini.
"Jadi, apa urusanmu ?" Tanyaku langsung to the point. Kiba mengeluarkan selembar kertas dari dalam saku bajunya. Kertas yang sudah lusuh dan tampaknya basah oleh air hujan.
"Kayaknya gak basah-basah amat nih" Kata Kiba sambil menyerah kertas yang agak basah kepadaku sambil nyengir kearahku. Kuambil kertas tersebut dari atas tangan Kiba dan kubaca tulisan lecek dalam kertas tersebut. Kukernyitkan dahiku begitu melihat tulisan tersebut.
"Ini tulisanmu ya ?" Tanyaku sambil menatap Kiba dngan pandangan mengejek. Kiba hanya nyengir innocent kearahku.
"Ah...! Tau aja" Kata Kiba sambil memamerkan barisan gigi putihnya kearahku. Kubaca tulisan yang lebih mirip cakar ayam tersebut dengan sangat susah payah, sampai harus mengorbankan mata minusku.
Ternyata sebuah puisi yang entah dikarang oleh Kiba sendiri. Kupandangi wajah dari Kiba, wajah yang lucu dan pastinya mencerminkan kepribadian orangnya yang suka bercanda. Tak kusangka dia akan mengarang puisi seperti ini.
"Aku menemukannya di atas meja belajarku. Mungkin karanganku dulu waktu aku masih sekolah di SMA. Tapi mungkin jjuga aku menulisnya tanpa sadar" Kata Kiba sambil tersenyum kearahku, senyuman yang sangat misterius. Apa yang dia maksudkan ? Dia memang suka begitu, kadang-kadang dia langsung merubah sikapnya. Bahkan tanpa alasan yang jelas. Katanya itu akan menarik perhatian wanita lebih kuat. Tapi nyatanya dia gak pernah dapet cewek tuh.
"Whatever you say. Terus, mau kuapakan puisi ini ?" Kataku yang menyerah duluan menghadapi makhluk semacam Kiba yang bisa menjadi gila saat dia sedang waras dan menjadi waras saat semua temannya menjadi gila (apaan coba ?).
"Ya, kali aja tuh puisi bisa menginspirasi saat buat lagu" Kata Kiba sambil tersenyum penuh misteri disertai sebuah cengiran tajam kearahku. Kuberpikir sejenak sambil membaca puisi tersebut. Idenya tentang seorang gadis yang tak dapat diraihnya.
Yah...! Meskipun aku suka banget buat lagu, tapi kalo udah ilang feeling lagu tersebut, kayaknya mending gak usah deh. Masa aku yang gadis harus mengejar gadis yang tak dapat kuraih, kan aneh jadinya ?
"Gimana kalo kamu aja yang nyanyi ?" Tawarku pada Kiba sambil menyerahkan potongan puisi tersebut. Kiba tampak terkejut dengan ucapanku barusan sambil mencoba untuk tetap tenang.
"Yee...! Kamu kan vokalisnya, kok jadi aku yang nyanyi ?" Kata Kiba. Ketahuan banget kalo nih anak gak mau diajak nyani karena suaranya fals banget.
"Tapi, ini bagus lho. Puisimu sungguh menyentuh hati, seorang pria. Tapi maaf, aku seorang wanita" Kataku sambil menyerahkan lembaran berisi puisi tersebut dengan seulas senyuman geli di bibirku.
Krieetttt...! Terdengar suara pintu berderit terbuka dan munculah sosok Hanabi yang memakai setelah mandinya, tanktop ketat dengan celana pendek setengah paha. Kiba yang melihatnya langsung mupeng mendadak dan langsung kuberikan tatapan mematikan.
"Apa yang kau lihat, baka ?" Kataku sambil mengarahkan wajahnya agar tidak terlalu lama memandangi Hanabi yang seksi tersebut.
"Nee-chan, siapa dia ?" Tanya hanabi sambil mengusah-usapkan handuk kerambutnya yang berwarna coklat dan kemudian tersenyum manis kearah Kiba. Kiba hanya mengangguk canggung melihat senyuman Hanabi tersebut.
"Masak kau gak tau sih ? Dia kan Kiba" Kataku sambil menunjuk Kiba dengan sangat tenangnya sambil erkikik geli karena ternyata oh ternyata si Sai lebih terkenal daripada Kiba.
"Ya udah deh. Bodo amat, aku mau kuliah dulu. Entar diomelin dosen. Males...!" Kata Hanabi sambil melenggang pergi menuju kearah kamarnya. Kiba tampak memandangnya dengan muka sepet.
"Asem, adikmu kok acuh gitu sih" Kata Kiba sambil measang wajah sepet kearahku. Aku hanya tersenyu geli mendengar omelan Kiba tersebut.
"Palingan cuma buat kamu aja. Buat Sai enggak kok" Kataku disela-sela senyumanku. Tampak sepertinya Kiba makin dongkol dengan ucapanku barusan yang tampaknya cukup pedas.
"Udah-udah, jangan dipikirin. Aku tadi ngomong sama dia supaya tidak bicara sembarangan bila aku ada di dekat media. Kau tahu kan gosip yang selama ini beredar ?" Kataku sambil memasang wajah menenangkan Kiba yang tampak seperti oang patah hati.
"Apa kau punya rencana buat lagu di IOI ?" Tanya Kiba yang langsung mengalihkan pembicaraannya pada main topic. Aku hana tersenyum sambil berdiri dan mengambil seusatu dari lemariku yang berada tak jauh dari tempat dudukku.
Kubuka sesuau tersebut, yang ternyata adalah laptop dan kemudian kuhidupkan. Beberapa saat kemudian laptop sudah ready untuk digunakan.
"Aku beli software Muse ini beberapa waktu lalu agar aku bisa lebih mudah merancang music. Dan tampaknya aku berhasil" Kataku sambil membuka sebuah software MuseScore yang diperuntukkan bagi paa komposer dalam mengolah musik. Software ini bisa memiliki alat musik yang lengkap. Yaah..! Meskipun entar yang kugunain cuma tiga sih, tapi gak papalah. Buat menghemat waktu.
"Putar aja lah" Kata Kiba yang tampaknya tak sabar dengan musik yang kurancang sendiri di laptop tersebut. Kuputar lagu yang kurancang sendiri tersebut dengan perasaan bangga sambil tersenyum senang mendengar lagu yang selama dua minggu sudah kurancang dengan air mata dan darah (lebay...!).
Suara bass terdengar rendah sebagai intro dari lagu yang akan kunyanyikan tadi. Kemudian suara drum yang tampak mengalun lembut dan kemudian suaraku langsung mengalun dengan nada tinggi yang enak didengar.
"Liriknya kok kayak gak pas ?" Kata kiba begitu mendengar suaraku mengalun lembut di laptopku denan diiringi bunyi ketiga alat musik yang secara harmonis msilih berganti dan mengiringi lirik tersebut dengan serasi.
"Aku belum dapat ide buat liriknya, jadi kubuat kata-kata yang lainnya yang sekiranya pas. Rencananya aku mau mengganti lirik tersebut sekalian rekaman saat Hanabi tidak ada dirumah. Kalo Hanabi ada dirumah katanya berisik dan mengganggu" Kataku sambil terus menikmati alunan suara merduku melalui speaker yang ada pada laptopku, meskipun liriknya sama sekali gak jelas dan beda dari temanya.
"Bagus juga sih" Puji Kiba sambil ikut menikmati lagu yang masih setengah jadi tersebut.
"Jadi, aku masih bingung dengan liriknya. Ngomong-omong, apakah kita dua minggu ini free ?" Tanyaku pada Kiba. Kiba hanya mengangkat bahunya sambil memandangku dengan tatapan datar.
"Tanya saja pada manager" Kata Kiba sambil berdiri dari tempat duduknya untuk melongok sebentar kearah jendela.
"Rupanya hujan sudah berhenti, apakah aku bisa pulang sekarang ?" Tanya Kiba yang hanya kujawab dengan anggukan kepala pelan sambil ersenyum dan memasukkan laptopku kedalam mode sleep dan menutupnya. Lalu aku bergegas berjalan menuju pintu untuk merapikan jas hujan Kiba yang tampaknya sudah kering. Hanya saja, lantai yang berada dibawah jas hujan terssebut menjadi becek karena airnya menetes melalui jas hujan.
"Aku harap kau bisa menyelesaikannya dua minggu lagi. kita akan punya cukup waktu untuk latihan selama sebulan dan kemudian ada free time beberapa minggu. Tapi jangan memaksakan dirimu, kau harus terlihat fit saat pembukaan IOI nanti" Kata Kiba sambil mengambil jas hujan yang berada ditanganku. Aku hanya mengangguk pelan.
"Sepertinya kau serius ama menghadapi acara pembukaan ini. Apa kau mau puisimu tadi kubuatkan sesuatu ?" Tanyaku sambil tersenyum kearahny.
"Kalo kau sempat, silahkan saja" Kata Kiba sambil memberikan kertas lusuh dan lecek tadi kepadaku dengan eksprresi serius. Jarang banget bocah kayak kiba bisa berekspresi seserius ini. Dia kan suka sekali membuat banyolan hanya untuk membuat temannya tertawa.
"Karena aku mempunyai rencana tersendiri" Katanya sambil menyeringai kearahku.
Wajahku langsung pucat. Apa yang dia maksudkan ?
TBC
Wah...! Kayaknya Shikamaru ama Sasuke udah punya saingan sama-sama nih.
Gomen kalo elihatan mbulet banget. Auhor gak tau kehidupan artis terkenal itu gimana (author bukan artis sih).
Happy Read
