Fairy Tail © Hiro Mashima

A Fairy Tail Fanfiction

Is He Really That Nerd?

By Nnatsuki

Warning: AU, Typo(s), OOC, Failed romance, Weird Topic, The Nerd Natsu

Chapter 8 Part 2

.

Kota Magnolia memang tak pernah tidur. Berapapun angka yang ditunjuk jarum panjang, yang menjadi jantung kota Magnolia akan terus hidup berkat lampu-lampu papan iklan neon yang menyilaukan. Berbagai macam baliho, spanduk dan billbroad terpampang gagah merengek minta diperhatikan pejalan kaki yang hilir mudik bagaikan semut―jika dibandingkan dengan gedung-gedung tinggi yang memanjati langit.

Nampaknya malam hari ini Magnolia akan lebih ramai, berkat hari libur nasional yang membebaskan semua pelajar dan pekerja dari aktivitas sehari-hari mereka.

Sebuah taksi berhenti di depan sebuah hotel kenamaan, pintunya terbuka otomatis. Penumpangnya―seorang pemuda berambut pink dan seorang gadis berambut blonde langsung meloncat keluar dari kendaraan itu dengan napas terengah-engah.

Natsu menghembuskan napas panjang, melirik ke kanan dan kiri secara bergantian, mengawasi jikalau di tengah jalan besar ini muncul dua sahabat mereka yang telah bertransformasi menjadi dewa kematian.

"Mereka tak mengikuti kita, 'kan?" Tanya Lucy. Iris matanya menyipit, memerhatikan sekelilingnya dengan waswas.

"Saat ini tidak …" Jawab Natsu lambat-lambat.

Lucy mengurut dada. Setengah jam yang lalu, dirinya hampir terkena serangan jantung─dikejar pasangan yang menggila itu benar-benar pengalaman paling menyeramkan dalam hidupnya.

Bagaimana mereka bisa meloloskan diri dari … maut?

Keberuntungan. Hanya itu, tidak lebih.

Natsu menggaruk kepalanya tanpa sebab, ekspresinya tidak bisa dibaca. Mungkin sedang menghapus memori setengah jam yang lalu.

"Setelah kejar-kejaran dengan pasangan gila itu … aku jadi lapar."

Tentunya tak ada yang bisa menghentikan gairah makan seorang Natsu. Natsu Dragneel memang pemakan segala sejati.

Lucy yang mendengar kalimat polos sahabatnya itu hanya bisa tertawa renyah, "Mau mengisi perut terlebih dahulu sebelum menyusun rencana?"

Natsu bertanya dengan wajah bingung, "Rencana? Rencana apa?"

Sebuah seringai ditunjukkan siswi bermata cokelat ini, "Rencana efisien dalam menguras uang Gray tentunya~ Hohohoho!" Natsu bergidik ngeri melihatnya. Satu lagi sahabatnya yang menggila ….

Gray mungkin perlu dilarikan ke rumah sakit jika melihat tagihan banknya besok ….

Kedua pemenang ini mulai berjalan sembari melihat sekeliling. Pemandangan Magnolia di malam hari itu sangatlah sayang dilewatkan, sekaligus menyusuri nama-nama bangunan di sisi kiri mereka.

"Ah! Restoran piza—eh? Apa ini benar-benar menjual piza?" Lucy menyipitkan matanya membaca nama sebuah restoran yang berjarak sepuluh meter dari posisi awal mereka. Natsu pun mengikuti arahan mata Lucy.

"Huh? The Delinquent?" Natsu membaca nama restoran itu dengan nada tak yakin.

"Yup! Benar sekali, Tuan! Bagaimana jika menikmati beberapa potong piza lezat di restoran kami?"

Sebuah suara feminim datang menyisip di antara kedua sahabat ini, milik seorang gadis berambut hitam panjang dengan gaya rambut unik─ diikat dengan dua bagian, di setiap bagian ada helain rambut tipis yang di kepang dan di bentuk melingkar di belakangnya. Rambutnya panjang ke bawah melingkar, berpakaian pelayan berwarna paduan merah dan putih.

Natsu yang segera mengendalikan keterkejutannya menjawab, "Kami memang sedang mencari restoran yang tepat …."

Mata cokelat tua yang seperti buah kakao yang sudah masak itu semakin berbinar mendengar penuturan Natsu, "Pilihan Anda tepat! Piza yang disediakan restoran kami akan membuat Anda ketagihan! Apa lagi yang bisa memanjakan lidah selain lelehan keju terbaik, garingnya garlic bread, dan lezatnya salad khas restoran kami?" Gadis berpakaian pelayan itu sudah menarik Natsu dan Lucy mendekati restorannya. Pintu restoran bernama aneh itu dibukakan oleh seorang gadis berambut merah muda panjang yang mencuat alami dengan kedua mata berwarna hitam memandang calon pengunjungnya antusias.

"Cosmos, untuk dua orang!" gadis yang rupanya bernama Cosmos itu mengangguk mantap. Dia berjalan ke arah sebuah meja untuk dua orang yang bersebelahan dengan jendela.

"Silakan!" Cosmos tersenyum ramah yang dibalas Lucy dengan senyum kecil setelah gadis blonde ini telah duduk nyaman. Natsu tidak duduk, justru berbisik agak keras ke arah Cosmos dan menanyakan letak kamar kecil. Cosmos segera memanggil pelayan yang membawa (atau mungkin menyeret) mereka―yang rupanya bernama Kamika─untuk mengantar Natsu.

"Ne Lucy, pilihkan untukku juga." Pesan Natsu sebelum berangkat mengikuti Kamika. Lucy mengangguk kecil. Segera saja siswi itu memberikan pesanannya kepada Cosmos.

Lima menit kemudian Natsu telah duduk di hadapan Lucy. Tangannya meraih sebuah buku menu yang sengaja ditinggalkan Cosmos. Sebuah kopi dari daftar pesanan mereka tertempel di tepi meja. Natsu mengamati daftar-daftar makanannya sesaat sebelum mengecek makanan tersebut ke buku menu.

Dua piza chef's premium collection, empat salad, dua choco lava, dua garlic bread, dan dua lychee tea

Natsu beralih memandang Lucy dengan tergangga. Sulit dipercaya bahwa Lucy yang senang mengkampanyekan makan makanan seimbang bisa memesankan makanan sebanyak ini

Lucy mengangkat alisnya, menutup dan membuka matanya dengan pelan dan dramatis.

"Boros itu memang tidak baik, tetapi boros dalam menghabiskan uang Gray itu sangat disarankan." Seringai seram kembali menghiasi wajah siswi ini. Natsu menelan ludahnya, tertawa hambar sebelum kembali melihat daftar pesanan.

"Hey? Kenapa kau memesan empat salad, Lucy?"

"Tiga untukmu, satu untukku."

"Hey! Kenapa aku yang paling banyak!?"

"Oh, sadarlah Natsu! Jika kau terus memakan makanan tinggi lemak dan karbohidrat, tinggal menunggu waktu penyakit-penyakit menyusahkan seperti diabetes melitus tipe 2 dan dislipidemia datang menggerayangimu! Makan makanan dengan gizi seimbang itu sangat penting! Perbanyak makan buah dan sayur! Apalagi kau bilang kau tidak terlalu menyukai olahraga, bukan? Harusnya diet seimbang itu diikuti dengan aktivitas fisik yang baik!" Lucy berceramah seperti seorang ibu kepada hanya mengangguk-angguk kecil setiap kalimat. Tangan kirinya menggaruk kepalanya.

'Sayang kau belum boleh tahu, Lucy,' Batin Natsu berbicara. Senyum merekah di wajah siswa ini ketika Lucy mulai bercerita tentang konsumsi makanan yang salah dapat meningkatkan resiko beberapa penyakit metabolik.

'Bersabarlah. Cepat atau lambat kau akan tahu ….'

Sebuah tawa kecil keluar dari pemuda ini disela-sela cerita Lucy tentang kesehatan salah satu kerabatnya. "Apa!? Jangan tertawa! Apa yang kukatakan ini penting dan—" Omelan Lucy berhenti ketika mata cokelatnya melihat sahabat berambut pink-nya mengangkat tangan sopan.

"Tak pernah ada yang pernah berbicara seperti ini kepadaku. Aku sangat menghargainya." Sebuah senyum lembut terlukis di wajah pemuda berkacamata tebal itu.

"Terima kasih Lucy Heartfilia, sahabatku yang baik hati." Rona-rona merah memolesi pipi pualam Lucy. Kepalanya tertunduk malu.

"Ti—tidak kok. Sudah seharusnya sahabat saling mengingatkan." Jawaban yang logis terlontar begitu saja tidak merontokkan senyum lembut pemuda di hadapannya.

"Permisi!" suara ramah datang menengahi suasana canggung di antara pelajar ini. Cosmos datang membawakan minuman pesanan.

"Maaf merusak momen manis kalian!" Senyum jahil Cosmos membuat rona merah Lucy semakin menjadi-jadi.

"Silakan, dua lychee tea-nya." Cosmos meletakkan satu gelas di depan Lucy dan Natsu.

"Terima kasih," ucap Lucy sopan. Cosmos berkedip jahil ke arah Lucy, "Silakan kembali memulai pembicaraannya, semoga hubungan Anda berdua semakin jelas!" Seperti sebuah granat, rona merah meledak dan mewarnai pipi siswi ini.

Cepat-cepat diliriknya Natsu, pemuda itu tengah menatapi minumannya dengan ekspresi wajah yang tidak bisa dibaca oleh Lucy.

"Natsu …?" Lucy mencoba memanggilnya. Wajah gadis ini bertanya-tanya akan ekspresi asing di wajah sahabatnya. Dirinya tidak salah dalam menentukan minuman Natsu, 'kan?

"Ada yang kurang …" ucap Natsu lirih. Lucy mendekatkan wajahnya ke minuman Natsu, mencari kesalahan di minuman yang di matanya sangat normal dan bersahaja.

"Ah, ya!" Natsu beralih menatap ke arah keranjang kecil tempat menyimpan sambal dan saus yang terletak di sebelah kiri Lucy.

Pemuda berkacamata tebal itu mengambil sebotol kecil Tabasco. Dengan santai, dimasukkannya taasco tersebut ke dalam lychee tea sebanyak mungkin.

"Huwaaa! Natsu! Apa yang kau lakukan!?" Pekik Lucy luar biasa kaget. Natsu menatapnya keheranan.

"Memasukkan Tabasco ke dalam lychee tea, 'kan?" jawabnya polos.

"Aku juga tahu, tetapi kau bisa sakit perut!"

Natsu berdecak, "Tak perlu khawatir. Kamu lihat sendiri waktu festival makanan sebulan yang lalu, aku masih hidup setelah memakan ramen gila itu."

Kepala Lucy terangguk-angguk mengerti. Pikirannya menghantam memori sebulan yang lalu―Natsu yang sukses menyantap ramen ternista itu memang kejadian yang menakjubkan.

"Hm? Kau juga mau mencobanya, Lucy?" Natsu menyodorkan botol Tabasco ke arahnya.

"Haha. Tidak, terima kasih karena aku masih cukup waras," Cibir Lucy begitu ketus.

Natsu tertawa keras, "Aku hanya bercanda, ok?" Tangan kirinya datang mengacak rambut blonde Lucy.

Natsu mengangkat sebelah alisnya melihat Lucy memandangnya sinis, "Hei … apa kamu yakin akan terus memasang wajah seperti itu kepada Tour Guide-mu hari ini, Luce…?" Sindir Natsu seraya tersenyum jahil.

Lucy mendengus keras, "Sejak kapan aku membutuhkanmu sebagai Tour Guide?"

"Ow, Lucy! Jangan berpikir naif …" siswa bersurai sewarna gulali itu menggoyangkan telunjuknya.

"Seperti yang biasa digambarkan di novel … night life sangatlah jahat! Gelapnya langit dipergunakan untuk menyamarkan kejahatan dan tindakan asusila mereka …. Bisa gawat jika kau terjerat mereka, kau tak akan pernah bisa kembali lagi …." Lucy menjengit mendengar penuturan Natsu. Nada suara yang begitu horor semakin menegakkan bulu kuduknya.

Sebuah tawa renyah dari sahabatnya membuat Lucy bertanya-tanya, "Yang barusan kukatakan memang ada benarnya," sebuah cengiran ramah dikeluarkan pemuda itu, "tetapi tidak semua night life sejahat itu. Night Life juga punya dunia yang sangat menakjubkan, aku jamin kau tak akan menyesal." Natsu menepuk-nepuk kepala Lucy, menenangkan gadis yang sudah dihantui kekalutan.

"Kau yakin?" Lucy ingin benar-benar diyakinkan.

Natsu mengangguk mantap, "Tentu saja, aku tak akan berbohong,"

Natsu kembali menambahkan, "sejak setahun yang lalu Aku dan Gray menghabiskan akhir pekan atau hari libur nasional dengan mengelilingi kota hingga tengah malam." Natsu menambahkan.

Lucy berdecak kagum, "Kalian berdua enak, ibu kalian tidak akan menceramahi kalian jika pulang larut karena kalian laki-laki!"

Natsu menggosok dagunya, "Mungkin ada benarnya, tetapi itu juga karena aku dan Gray tidak melakukan hal-hal yang kurang baik." Pemuda berambut pinkish itu kembali tersenyum lebar.

"Kalau itu yang kamu risaukan, jangan khawatir. Aku ada bersamamu."

Lucy tersenyum lembut. Selama ada Natsu di sisinya, tidak ada yang perlu dicemaskan bukan? Natsu sahabat yang bisa diandalkan.

"Permisi." Kamika datang mengantarkan empat mangkuk salad ke meja mereka. Wajah keduanya seketika berubah sumringah.

Kamika memeriksa kopi dari daftar pesanan pelangannya, "Sekitar sepuluh menit lagi, piza Anda akan segera siap!"

"Terima kasih, Kamika-san," ucap Natsu sopan. Kamika tersenyum kecil sebelum bergegas pergi.

Percakapan mereka terhenti. Masing-masing individu menggunakan mulutnya untuk melahap makanan penuh sayur itu. Tak perlu butuh lama, keempat mangkuk berwarna cokelat tua itu telah ditumpuk dan diletakkan agak ke tepi. Natsu mengelus perutnya yang sudah mulai terpenuhi. Lucy menghabiskan minumannya dalam diam.

"Aha! Kama-san! Dozzo!" suara keras Kamika dan Cosmos mengundang tanya. Natsu dan Lucy segera menolehkan kepala, melihat Kamika dan Cosmos merentangkan tangan mereka―gaya memberikan seseorang jalan.

Setelahnya, muncul suara berat langkah kaki―membuat Natsu dan Lucy agak menyipitkan mata mereka, suara langkah kaki itu tidaklah membuat telinga siapapun nyaman.

Ketika sosok pemilik langkah berat itu muncul, jantung kedua pemenang ini benar-benar nyaris copot.

Seorang pria bertubuh tegap berjalan pelan ke arah mereka. Mata abu-abunya yang dikelilingi lingkaran hitam tipis menatap mereka tajam. Dagunya agak terbelah, bergerak naik turun seolah membisikkan mantra.

Dan yang membuat suasana restoran yang bersahabat ini berubah menjadi mengerikan adalah … pria asing itu membawa dua sabit raksasa. Benar-benar seperti seorang tukang jagal.

"Hidup itu singkat …." Tukang jagal itu berbicara dengan nada lamban, membuat dua pelajar ini semakin merinding disko.

"Karena itu … pergunakanlah untuk memusnahkan dosa-dosamu!" Kedua sabitnya diangkat tinggi-tinggi.

"KYYAAA!" Lucy menjerit keras. Dia dan Natsu memicingkan mata. Tak kuasa melihat langsung akhir hidup mereka. Suara dentingan dari kedua sabit itu semakin membuat keringat dingin mereka menganak sungai.

"Hoho! Selesai!" suara berat yang sebelumnya mencengkam itu telah berubah menjadi kegirangan.

Pelan-pelan mata para pemenang kita dibuka. Keduanya mendapati tiga loyang piza berukuran sedang yang masih hangat telah tersaji di meja.

"Hoho! Terima kasih sudah menyaksikan atraksi restoran kami yang khusus diperankan oleh kepala koki, Kama-san!" Suara ceria Cosmos datang dari belakang pria bersabit itu.

"Silakan menikmati piza spesial restoran kami!" Kamika menambahkan.

Tercenggang, itulah yang bisa dilakukan kedua pelajar ini.

-XXXOOOXXX-

"Gila …." kata itulah yang meluncur dari mulut Natsu Dragneel semenjak mereka meninggalkan restoran luar binasa itu.

Lucy mengangguk. Tangannya mengusap kepalanya yang kehilangan akal untuk menjelaskan kejadian lima belas menit lalu. Restoran yang menyajikan ataksi yang begitu membahayakan … benar-benar gila.

"Maaf jika terdengar kasar… tapi aku tak heran jika tak ada yang datang memakan piza mereka di tempat." Komentar Natsu. Lucy kembali mengangguk. Sekalipun piza yang mereka hidangkan rasanya sangat enak, dia tidak akan kembali datang.

"Nah, kita sudah kenyang. Sekarang kita mau kemana lagi Lucy?" Natsu bertanya.

"Aku ingin berbelanja!" Teriak Lucy tiba-tiba dengan suara keras sehingga separuh jalan menengok ke arahnya.

Natsu hanya sweat dropped sambil mengalihkan pandangannya ke jalan, tak kuat melihat sahabatnya melompat kecil kegirangan seperti anak-anak. Kata berbelanja itu benar-benar kata magis, bisa mengangkat gadis blonde ini dari kesuraman.

"Baiklah. Kita coba lihat yang di sekitar lokasi ini dulu," ujar Natsu, "sebelumnya boleh aku pergi sebentar ke sana?" Natsu menunjuk vending machine yang menjual minuman kaleng.

Lucy mengangguk. Mereka berdua berjalan mendekati vending machine tersebut. Natsu langsung merongoh kantung celana untuk mengambil beberapa koin dan memasukkannya ke dalam lubang uang.

Seraya menunggu Natsu, Lucy memandangi toko-toko di seberang jalan tempat mereka berada. Matanya membaca satu-satu nama toko dan barang yang mereka jual. Hingga matanya jatuh pada sebuah nama toko.

"Natsu! Natsu!" Natsu yang tengah meminum sodanya terbatuk-batuk karena tersedak. Namun, belum selesai derita tersedak yang dialaminya Lucy datang menggunjangkan tubuhnya.

"Natsu! Natsu! Ayo, cepat!" Lucy serta merta menarik Natsu yang masih terbatuk-batuk menuju ke tepi jalan. Mereka terpaksa berhenti karena lampu belum memberi kesempatan pejalan kaki menyeberang.

Natsu yang terus mengumpat dalam hati merasa luar biasa kesal dengan si sahabat yang nyaris membuatnya mati tersedak. Siswa malang itu menyipitkan matanya ke arah toko yang dipandang Lucy seolah toko penjual harta karun.

'Ya ampun Lucy! Sudah sejauh ini, kau ingin mengunjungi toko buku!?' kecam Natsu dalam hati.

Apa yang di jual toko buku di manapun tetaplah sama, 'kan? Jadi untuk apa menyia-nyiakan waktu mereka yang berharga–untuk menghabiskan uang Gray—hanya demi sebuah buku!?

Namun, wajah bahagia Lucy membuat Natsu tak tega untuk tidak memenuhi keinginan sahabatnya.

Dan begitu lampu lalu lintas berubah warna, Natsu langsung diseret oleh Lucy dengan kekuatan yang menyamai Erza saat menyeret dirinya, Gray, dan Jellal secara bersamaan (mengerikan? Sangat. Rasanya seperti menaiki roller coaster di jalan raya).

Natsu hanya bisa menahan napas selama sepersekian detik untuk pengalaman yang menggunjang jiwa raganya. Darah Natsu kembali mengalir lancar setelah Lucy melepaskan cengkeraman di bagian punggung varsity jacket-nya.

Natsu segera berdiri tegak, menatap nanar botol sodanya yang sudah kosong tak bersisa. Mata pemuda kutu buku ini menatap sedih jalan yang diseberanginya. Jalan yang menjadi tempat terakhir soda alih-alih perutnya.

Upacara penghormatan terakhirnya pada soda itu berakhir ketika Lucy–kembali—menyeretnya masuk ke dalam toko. Pemuda berambut pink ini hanya bisa menghembuskan napas pasrah.

"Selamat da-tang?" Si pegawai toko buku menatap heran Lucy yang tersenyum riang dan tengah menyeret Natsu yang bermuram durja kehilangan soda. Betapa unik dan anehnya pengunjung tokonya, begitu pikir si pegawai toko.

"Natsu,tunggu di sana!" Titah Lucy menunjuk sebuah bangku di dekat kasir. Natsu dengan ogah-ogahan melangkah ke bangku, tidak menggubris tatapan penasaran si penjaga kasir.

Natsu tetap diam, menundukkan kepala dalam-dalam dan menyesal tidak bisa menyelamatkan sodanya. Bayangan hitam menyelimuti Natsu, tangannya menggengam botol soda itu kuat. Melihat tingkah aneh Natsu membuat si penjaga kasir mulai membuat hipotesis bahwa Natsu telah mendapatkan penolakan cinta yang kejam.

Dan beberapa menit kemudian ….

"Natsu!" Mendengar suara ceria sahabatnya memanggil, Natsu pelan-pelan mengangkat kepalanya.

"Luce!? Apa-apaan ini!?"

"Tenang saja! Ini belum seberapa kok!"

"Apanya yang belum seberapa!?"

Rasanya Lucy akan menjadi orang pertama yang dicatat rekor dunia karena membeli buku di malam hari dengan jumlah puluhan. Puluhan, kau dengar?

"Hei, jangan bilang padaku jika itu semua hanya novel …." Ucap Natsu yang masih melebarkan mulut dan matanya menatapi tumpukan buku di kasir.

Lucy menggeleng, "Di sini ada novel karya pengarang favoritku, novel pengarang favorit Juvia, novel pengarang favorit Jellal, buku masak rekomendasi Juvia, buku tentang rasi bintang rekomendasi Jellal, buku soal untuk latihan sebelum ujian, majalah fashion rekomendasi Erza, dan masih banyak lagi!" Lucy menepukkan kedua tangannya dengan begitu bergairah.

Natsu dan si penjaga kasir hanya bisa terpana menatap tumpukan buku itu.

"Lucy," Natsu mengangkat tangan, "Apa menurutmu kita kuat membawa puluhan buku itu selama berjalan-jalan? Kuingatkan, kita tidak membawa kendaraan pribadi."

Kriik ... Krikk …. Krrikk … Kriikk ….

Lucy hanya diam menatap Natsu dengan senyum datar.

"Maaf sebelumnya …" Natsu dan Lucy menoleh ke arah si penjaga kasir, "Kami memiliki jasa khusus pengiriman barang-barang pesanan pembeli dalam waktu dua hari dari waktu pembelian barang." kata Lucy berkaca-kaca penuh harap.

"Dengan syarat pembelian minimal 150.000 Jewel dan saya rasa Anda sudah memenuhinya …." Tentu saja.

"Yey, saatnya memilih lagi!" Lucy melesat kembali memburu buku baru.

Lalu tujuh belas menit kemudian, mereka keluar dari toko itu. Lucy tersenyum senang menatap bukti pembelian yang harus disimpan untuk diperlihatkan saat barang sampai ke rumahnya.

Sedangkan Natsu menatap bukti pembayaran buku Lucy dengan pandangan teramat syok. Puluhan buku itu berhasil menembus angka jutaan Jewel! Syukurlah Lucy membawa kartu kredit untuk membayar uang muka. Dia benar-benar harus menyiapkan ambulan untuk Gray.

"Hei, Natsu. Apa kamu tidak menyadari sesuatu? Jalanan terlihat lebih sepi."

Natsu melongok ke depannya, memerhatikan jalan raya yang dimaksud Lucy.

Memang benar. Jalan raya yang tadinya padat dengan kendaran kendaraan umum maupun pribadi kini dipenuhi oleh sepeda dan pejalan kaki. Tak ada satupun mobil dan motor yang melaju di salah satu jalan terbesar di Magnolia ini.

"Kau benar, Luce. Kira-kira kenapa, ya…?" gumam Natsu seraya berpikir.

"Karena malam ini adalah Car Free Day, Anak muda …"

Suara serak a la orang tua tertangkap kedua murid ini. Mereka menoleh ke arah sumber suara yang berada di sebelah kanan posisi mereka. Seorang kakek yang duduk di dekat sepeda-sepeda yang terjejer rapi.

"Maaf mengganggu, tetapi bukankah Car Free Day hanya berlaku untuk hari minggu?" Tanya Natsu ketika sudah mendekati si kakek.

"Benar. Namun, dua hari yang lalu diumumkan bahwa Car Free Day akan diberlakukan untuk malam sebelum hari libur nasional pukul sembilan malam tepat. Besok adalah hari libur nasional, bukan?" jelas si kakek. Natsu dan Lucy mengangguk mengerti.

"Perjalan kami masih panjang dan kami tidak punya kendaraan untuk melanjutkan perjalan." Ungkap Lucy.

"Tenang saja, Nona. Kakek di sini menawarkan jasa penyewaan sepeda. Kalian bisa menyewa sepeda dan memakainya sampai tengah malam," Ujar si kakek sambil mengerling ke arah sepeda di sebelahnya.

"Apa kami harus mengembalikan sepedanya di tempat yang sama?" Tanya Natsu.

"Ada beberapa teman kakek yang juga menyewakan sepeda di tempat berbeda. Kakek tidak keberatan kalian mengembalikan sepeda di sana." Jelas kakek.

Natsu mengangguk mengerti, "Kami akan mengembalikannya di sini saja. Kebetulan rumah saya dan teman saya melewati jalan ini. Kalau begitu, kami mau—"

"Tu-tunggu dulu, Natsu!" Potong Lucy. Natsu dan kakek menoleh ke arah Lucy.

"A-aku tidak bisa membawa sepeda!" Ungkap Lucy dengan wajah memerah malu.

Natsu hanya melongo mendengarnya, "Bukan masalah, kok. Aku bisa memboncengmu."

"EH!?"

"Tapi Natsu—" Lucy tak bisa mematahkan keputusan Natsu yang sudah membayarkan uang muka ke kakek dan tengah memilih sepeda yang cocok untuk mereka.

"Lucy, ayolah. Waktu kita tidak banyak. Kemarikan tasmu biar, akan kutaruh di keranjang." Lucy yang tidak juga bergerak karena masih berkhayal tak jelas membuat Natsu datang mengambil tas tangan tersebut, meletakkannya di keranjang depan, dan menarik Lucy mendekat ke sepeda.

Lucy yang tidak berkutik, mau tidak mau menaiki sepeda itu. Entah karena malu atau takut, wajahnya memerah menyerupai buah stroberi.

"Ingat ini. Lihatlah ke arah depan. Peganglah bahuku supaya tidak jatuh. Tak perlu takut, ok?" Natsu menyakinkan sahabatnya.

"Y-ya …" Lucy hanya mengangguk kecil sebelum pelan-pelan meremas bahu Natsu yang terlapis jaket dengan kedua tangannya. Gadis manis ini terus menghebuskan napas panjang.

"Baik. Aku siap!" seru Lucy yakin. Natsu yang mendengar tanpa melihat wajah Lucy hanya mengeluarkan cengiran senang.

"Yosh!" Natsu menaikkan kakinya yang menjejak di tanah untuk mulai mengayuh kedua pedal.

Lucy yang memekik kecil justru membuat Natsu menyeburkan tawa geli.

"Hei! Jangan menertawaiku!" Lucy melepas pegangan tangan kanannya lalu menjitak kepala sahabatnya. Jitakan tiba-tiba tersebut membuat Natsu hampir kehilangan keseimbangan.

"Kyaa!" Lucy yang terkejut bergerak refleks melingkari pinggang sahabatnya, memeluknya kuat-kuat.

Datanglah kehengingan. Keduanya hanyut dalam pikiran masing-masing. Natsu tetap mengayuh sepeda dengan mimik wajah yang sulit diartikan. Lucy diam tanpa merubah posisinya―terus memeluk pinggang Natsu dan mengubur wajah merahnya di punggung lebar sahabatnya dengan perasaan tak karuan.

Lihat ke arah depan? Apa yang bisa dilihat gadis ini? Pandangannya tertutup punggung lebar Natsu, membuat Lucy tidak punya pilihan selain diam dan memeluk punggung sahabatnya yang luar biasa hangat.

Dua sahabat ini terus terus diam karena tak tahu cara untuk memadamkan suasana super canggung ini.

Lucy yang wajahnya mulai kembali ke warna normal, hanya diam sambil memulai debat batinnya.

'Bagaimana ini …? Aku tidak bisa bergerak sama sekali … jadi aku harus terus memeluk Natsu seperti ini? Apa boleh buat ... bisa-bisa karena gerakan cerobohku, kami terjatuh! Bisa juga karena aku terlalu panik, sepatuku jadi tersangkut di roda sepeda dan kami akan terjatuh di tempat umum? Huwaaa! Bayangkan betapa memalukannya itu! Kau harus tenang, Lucy! Ya! Jangan khawatir! Natsu bersamamu! Tak ada yang perlu—hei! Jangan-jangan karena aku tidak bisa bergerak, aku akan jatuh tertidur!? Terus terus, Natsu berusaha memanggilku dan karena aku tidak menjawab, dia akan menoleh ke belakang lalu konsentrasinya kacau membuat kami menabrak tiang listrik!? Tapi bagaimana jika yang kami tabrak itu seorang nenek dan nenek itu pingsan!? Jadi kami harus—'

Jiwa penulis Lucy mendadak mendominasi. Gadis itu terus melanjutkan novel di dalam pikirannya hingga tidak mengindahkan panggilan Natsu.

"Lucy! Jika tidak menjawab juga, kita bisa-bisa—" Belum sempat kalimat Natsu selesai, Lucy menjerit sambil memukul-mukul punggung Natsu.

"Tunggu, Natsu! Tetap fokus ke depan! Jangan sampai kau menabrak seorang nenek dan membuat dia pingsan dan dia harus dilarikan ke rumah sakit dan harus dioperasi dan kita habiskan waktu berharga kita untuk menunggui nenek itu dan hancur sudah harapanku untuk memperbarui ruang tamu rumah!" Jerit Lucy terus meninju punggung Natsu tanpa mengenal ampun. Natsu hanya diam, menahan malu karena hampir semua pengguna jalan di dekat mereka tengah menatapi mereka berdua sembari tertawa.

"Lucy …! Lucy!" Natsu setengah berbisik setengah berteriak, membuat Lucy menghentikan sumpah serapahnya dan membuat si gadis blonde ini menyadari dirinya dan sahabatnya tengah menjadi tontonan lawak gratis para pengguna jalan.

"Maaf …." Lucy segera kembali memeluk pinggang Natsu untuk menyembunyikan wajah malunya. Natsu yang juga tak tahan mendapat tatapan aneh para pengguna jalan lain segera mempercepat laju sepedanya.

Setelah memastikan tidak ada lagi pengguna jalan yang tahu tragedi tadi, Lucy angkat bicara, "Emm ... apa yang ingin kamu katakan tadi, Natsu?"

"Aku ingin memberitahumu, di dekat sini ada toko kue yang enak sekali. Aku ingin membeli strawberry cheseecake di sana. Kue itu salah satu best seller mereka." Natsu menjelaskan.

Lucy mendesah panjang, "Padahal sudah makan! Kau ini tidak tahu yang namanya menahan diri ya?"

Natsu membalasnya dengan cibiran keras, "Ini bukan buatku! Itu buat Erza!"

"Erza, kenapa?"

Natsu menghela napas, "Kaupikir aku bisa pulang dengan selamat dan tidur dengan damai jika Erza masih berdiri di depan kamar apartemenku bersama pedangnya itu?"

Lucy tertawa hambar, "Ada benar juga …." Bahkan Jellal yang menyandang pangkat sebagai kekasih Erza sekalipun tidak bisa menghentikkan keganasan gadis berambut merah itu. Hanya strawberry cheesecake yang bisa. Puja strawberry cheesecake!

"Baiklah! Nanti aku juga mau melihat-lihat kue di sana! Terus … yang membayar …."

"Siapa lagi kalua bukan Gray," Natsu menyeringai lebar.

Lucy balas menyeringai sambal mengangguk-angguk, "Ayo, Natsu! Nanti kita juga beli beberapa kue! Jangan hanya Erza saja yang bisa makan kue enak!" Seru Lucy sambal tertawa-tawa dengan begitu bangganya.

Natsu hanya bisa terkekeh pelan. Lihat siapa yang ingin makan lagi?

"Baiklah. Tak masalah jika aku lebih cepat?" Sebelum Lucy sempat memberi jawaban, Natsu langsung melajukan sepeda lebih cepat.

Lucy menjerit keras. Jantungnya memompa darah begitu cepat, efek ganda dari kejutan dan kemarahan. Gadis blonde itu terus memarahi sahabatnya. Natsu justru semakin senang dan semakin mempercepat laju sepeda, membuat Lucy semakin kesal dan terus memaki pemuda pink ini.

Berhentilah sepeda yang dilajukan Natsu di depan toko kue yang dituju. Lucy segera melompat turun dan memerangi kepala pink pemuda itu dengan jitakan bertubi-tubi.

"Hei! Apa yang—aw! He-hei!" Natsu melindungi kepalanya dengan kedua tangannya dan Lucy terus mengejar kepalanya.

Lagi-lagi mereka lupa tempat …. Mereka tidak menyadari keberadaan mereka telah dijadikan tontonan romansa gratis bagi pejalan kaki.

Semua itu berlangsung selama lima menit hingga Lucy puas memukuli kepala Natsu yang telah diberi penghormatan berupa benjol di setiap sisi.

Lucy mendengus kesal sambil menyambar kasar tasnya dan berjalan meninggalkan Natsu yang tengah memarkirkan sepeda di parkiran sepeda.

"Kau mau kemana? Tokonya di sebelah sini." Tanya Natsu sambil menunjuk sebuah toko di belakangnya. Lucy tak menggubrisnya dan terus berjalan menjauhi Natsu.

"Silakan jika ingin pergi sendiri, tetapi jangan salahkan aku jika kau tersesat."

Lucy berhenti. Dengan sebuah hendakan keras, gadis muda tersebut berbalik dan berjalan cepat ke arah pemuda berkacamata tebal itu. Tanpa merasa bersalah, Lucy memberi tambahan hadiah satu jitakan di kepala Natsu.

Natsu mengaduh sakit sembari mengusap sayang kepalanya. Apakah itu semua salahnya?

"Luce… aku minta ma-" Lagi-lagi kelimat Natsu dipotong oleh Lucy yang menjambak rambut pink-nya untuk memaksa si pemuda menggerakkan kepalanya ke arah mata Lucy.

"Kalau kaumelakukannya lagi, aku benar-benar akan mengirimkanmu kembali ke Erza! Kaumengerti, Natsu!?" Seru Lucy sambil melipat tangan di depan dada. Mata cokelat lembutnya melotot seram.

Natsu buru-buru menganggukkan kepala. Keringat dingin membanjiri pelipisnya, "Aye, aye! Maafkan aku, Lucy-san!"

Lucy mendengus sebal sebelum berbalik meninggalkan Natsu memasuki toko kue. Natsu menepuk-nepuk dadanya. Pemuda berambut pink itu terbatuk-batuk keras karena tersedak rasa takut. Catatan, jangan lagi coba-coba mengerjai Lucy. Gadis cantik itu bisa menjadi Erza kedua jika ada yang membuatnya marah.

Natsu memarkirkan sepedanya yang sempat terlupakan. Memasuki toko, Natsu sudah mendapati Lucy tengah melahap chocoholic cake dalam diam. Roman wajahnya terlihat dongkol, sudah pasti sahabatnya ini masih sebal.

Natsu mendekati petugas kasir, "Saya yang memesan strawberry cheesecake tadi. Apa sudah dikirimkan?"

"Oh, atas nama Natsu-san bukan? Sudah kami kirimkan ke alamat Erza-san. Mana mungkin kami mau membuat pelagan setia seperti Erza-san menunggu. Strawberry cheesecake sejumlah lima puluh potong, benar?" Di belakangnya, Natsu bisa merasakan Lucy tengah menepuk keras dadanya karena tersedak.

"Iya, benar. Boleh minta air?" Karyawan lain segera datang membawakan segelas penuh air. Natsu menerimanya dan langsung melesat mengantarkannya ke Lucy. Lucy menerima gelasnya dan meminumnya habis dalam satu tegukan.

"Si-siapa yang mau memakan lima puluh kue malam-malam ini!?"

"Teman kita yang bernama Erza Scarlet tentunya," Natsu menjawabnya dengan malas, "Dan juga, jumlah tepat yang akan dimakan Erza itu empat puluh sembilan potong. Satunya akan diberikannya ke Jellal." Natsu kembali ke kasir, meninggalkan Lucy yang kehilangan kata-kata. Tak lama pemuda itu telah duduk di depan Lucy setelah melunaskan semua pembayaran, ditambah dengan kue yang dimakan Lucy dan dua cangkir kopi.

"Kau sudah membayarnya semua, Natsu?" tanya Lucy.

"Iya, sudah semua kok. Kau mau menambah sesuatu, Lucy?"

"Kau sendiri tidak memesan apa-apa selain kopi."

Natsu tersenyum kecil, "Aku tak terlalu makan makanan manis seperti kue, tetapi aku juga ingin makan lagi setelah ini."

Lucy menghela napas. Sepertinya dia belum terbiasa pada fakta bahwa sahabat-sahabatnya ini adalah manusia yang dilahirkan dengan perut karet.

Tunggu sebentar. Natsu membayar kue sebanyak itu? Lucy ingat jelas harga kue di toko ini tidaklah bisa dibilang murah.

"Natsu, apa uangmu tadi cukup untuk membayar semuanya tadi?" Lucy memastikan dugaannya. Natsu sedikit tersentak mendengar pertanyaan yang tidak dia duga-duga.

"Tenang saja, Lucy. Kupastikan Gray menggantinya kok." Jawab Natsu sambil menggaruk belakang kepalanya dengan asal.

Lucy hanya mengangguk. Dalam diam, gadis blonde mengamati Natsu yang tengah menyesap kopinya. Kenapa dia baru sadar sekarang? Fiore Academy termasuk sekolah dengan biaya yang cukup mahal. Lucy ingat Natsu pernah bilang bahwa dia, Jellal, Gray, dan Erza tinggal di apartemen yang sama. Dia baru saja ke apartemen tersebut. Apartemen itu ada kawasan elit.

Lucy memotong-motong kuenya sembari membiarkan alam bawah sadarnya mengalir.

Lucy baru saja menyadari, dirinya tidaklah benar-benar tahu sosok Natsu Dragneel.

"Natsu?"

"Hmm?"

"Kau … tinggal sendirian?"

Punggung Natsu menegak pelan-pelan. Dia sadar kemana perginya arah pertanyaan itu.

"Ya …." Lucy menatap Natsu sesaat. Pemuda itu begitu tenang sekalipun dirinya sempat terlihat tegang.

"Apa tidak terasa sepi? Jika sudah punya teman seberisik mereka, tentu saja tidak. Bahkan terkadang aku berharap mereka bisa dibawa ke luar angkasa selama sehari supaya aku bisa mendapat kedamaian sesaat." Natsu menambahkan sambil tertawa. Lucy tak bisa menahan senyumnya ketika melihat cengiran lebar yang hanya dimiliki Natsu.

Cengiran yang sama yang menjadi awal persahabatan mereka ….

"Mungkin … kalau kau tak keberatan, akan kukenalkan kepada orang tuaku—mereka tinggal di luar negeri, jadi agak jarang mengunjungiku." Natsu memperlebar cengirannya ketika mendapati wajah antusias Lucy.

Natsu tidak berusaha menghindari pertanyaannya.

Ada. Ada kesempatan untuk mengetahui Natsu lebih banyak.

Lucy menyendok sepotong kue cokelatnya dan menyodirkannya kepada Natsu.

"Janji, ya?" Lucy menggoyangkan sendoknya pelan. Senyum lebar menghiasi wajah ayunya.

Natsu mengiyakannya dengan anggukan. Tanpa ragu mulutnya menyambar sendok Lucy, mengunyahnya sesaat sebelum menelannya dengan sekali telan.

"Tentu, Lucy. Setelah ini kau mau kemana lagi? Tadi saat kau berteriak soal aku menabrak nenek, kaubilang mau membeli barang-barang baru untuk ruang tamumu."

"Ti-tidak usah mengukit masalah nenek itu!" Lucy menghardik sahabatnya. Haruskah pengalaman sememalukan itu perlu diingatkan pada dirinya?

"Aku memang ingin berbelanja itu. Aku bisa digantung hidup-hidup oleh mamaku jika membiarkan rumah kami seperti diterjang puting beliung." Lucy bergidik, "Namun, sebaiknya kita berbelanja untukmu sebelum itu. Kau belum membeli apa-apa, Natsu."

"Aku sudah memesan semuanya kok."

"Eh, sejak kapan?"

"Saat … kita sedang di taksi. Aku memesannya di online shop yang biasa digunakan Erza. Lensa baru, tripod baru, flash baru, tari kamera baru, tas kamera baru …. Apa aku tambahkan juga drone juga ya?" Natsu menyeringai. Jari panjangnya mengusap-ngusap dagunya.

Sambil menepuk keningnya melihat kelicikan sahabatnya, Lucy memikirkan ide Natsu yang membeli semua barangnya melalui online shop. Tidak buruk. Dia bisa menghemat tenaga dan perlu terburu-buru.

"Natsu, aku juga akan membeli semuanya secara online saja." Lucy menuturkan keputusannya.

"Baiklah. Jadi kita tak punya tujuan lagi setelah ini …. Apa kau mau pulang atau kau ingin lanjut berjalan-jalan?"

Lucy menggelengkan kepalanya kuat-kuat, "Sudah sejauh ini pergi, aku takkan puas kalau hanya sampai sini! Kaubilang night life itu menyenangkan! Tunjukkan aku betapa asiknya itu!"

Natsu melongo mendengarnya hingga sebuah tawa keras tertembak keluar, "Baiklah, baiklah. Kautahu? Rupanya alasan dibalik diadakannya car free day malam-malam begini karena ada sebuah acara akbar di jalan utama. Kau mau melihatnya, Luce?"

Lucy mengangguk antusias, "Tentu saja!"

Natsu meneguk habis kopinya, "Yosh! Ayo habiskan kuemu sebelum kumakan."

Lucy menjulurkan lidahnya dan segera menghabiskannya karena dia tetap tidak rela kuenya diambil alih perut karet Natsu.

Acara apa itu? Yang jelas akan Lucy pergunakan kesempatan ini untuk memperoleh kepingan informasi tentang Natsu.

Natsu Dragneel, sahabat baiknya.

~To Be Continued~

HAI, HAI! Siapa yang nggak nyangka seorang Nana bakal nggak ada angin, nggak ada duit (?) mendadak update cerita multi ini :")

So … lama nggak ketemu, wahai readers saya yang masih aja mau baca cerita jamuran ini ;_; apa kabar smeuanya? ^^ saya baik banget kok kabarnya. Cuma stress sama tugas diagnosis gizi sama laprak kok #mulaideh

Kenapa saya update cerita yang saya pasang plang discontinued? Gegara saya ngobrol sama temen saya yang juga Author di FTTI, berkat dia saya baru inget saya dulu udah pernah membuat chappy ini beberapa tahun yang lalu. Yang berhenti di tengah jalan karena jujur saya nggak tau mereka mau belanja apa muahahah. Setelah baca ulang chappy ini saya bikin aja mereka belanja online muahahah. Dan saya inget kayaknya ada something happen pas mereka datengin acaranya. Sedikit bocoran, sudah pasti acaranya nyeleneh kayak food hunting day muahaha~~

Hanya karena saya update chappy ini, plang discountinued tetep saya pasang ya :" saya nggak tau apakah saya bakal lanjut apa nggak huhuhu

Sting: Hayolo, Na~ masa udah bikin cerita panjang-panjang nggak dilanjutin. Payah ah!

Nana: Eh, diem! Kok lu muncul nggak ada badai, sana!

Sting: Lu amnesia kan sama plotnya? Ngaku deh~

Nana: Stinky, lu pergi nggak!

Sting: Makanya coret aja natsu dari pemeran utama. Sini gue gantiin!

Nana: Yhalord, kalo sama lu makin nggak mood gue lanjutin ni cerita! Pergi sana, atau gue iket lu terus gue bawa ke kamarnya obaba.

Sting: #Kaburbeneran

Terima kasih sudah membaca, mereview, mefavorite, dan memfollow cerita ini ;A; maaf saya nggak sempet balesin review seperti dulu lagi, waktu saya sudah kepenuhan sama tugas-tugas dan lainnya. Saya bacain kok ^^ makasih atas analisis soal siapa natsu itu! Jujur itu agak membantu saya yang emang lupa apa alesan natsu jadi nerd #NA

Ada satu dua analisis yang ada benernya dan sudah saya iyain di chappy~ silakan ceritakan analisis kalian lagi XDD kita liat h berapa yang diterima #NA(2)

Salam maso,

Nnatsuki