POLAR

.

.

a story by minseokmyass

www asianfanfics com/story/view/1016240/polar-mingyu-seventeen-meanie-wonwoo-meaniecouple

Disclaimer : I do not own this story. I got the permissions to translate and post the fic here.

Rate : T

Kim Mingyu

Jeon Wonwoo

and the others SVT members

Happy reading!


#12 Him


Seisi kelas terdiam mendengar deklarasi yang diucapkan berandalan sekolah itu yang kini berdiri dengan bangga di samping kekasihnya. Air mata yang tergenang di mata Wonwoo, berubah menjadi sebentuk bulan sabit setelah mendengar pengakuan Mingyu. Mingyu menatap sekeliling kelasnya, pada wajah murid-murid yang terkejut karena tahu kalau mereka berdua benar-benar berkencan. Ia lalu berjalan mendekati Jaesuk, dan memiringkan kepalanya, lalu dengan nada suara yang mengejek ia berkata,

"Kau punya masalah dengan itu?"

Gadis di sebelah Jaesuk yang setuju dengannya mengalihkan tatapannya ketika Mingyu membuat kontak mata dengannya. Mingyu lalu mengalihkan tatapannya pada Jaesuk yang memperlihatkan ekspresi wajah menyebalkan. Bel untuk pelajaran pertama berbunyi, dan semua orang membubarkan diri kecuali Jaesuk dan Mingyu yang masih saling bertatapan. Tidak ada satupun dari mereka berdua yang mengalah, dan Mingyu hanya bergerak untuk duduk di kursinya ketika ia melihat guru mereka memasuki kelas. Saat istirahat makan siang, Jaesuk mencoba untuk bicara pada Mingyu, yang mengabaikannya dan hanya memperhatikan ketiga temannya. Setelah sekolah usai, Mingyu berada di pintu depan, menunggu Wonwoo yang sedang berada di ruang guru. Kebetulan, Jaesuk juga ada di situ, seorang pria asing melingkarkan tangannya di sekitar pinggang Jaesuk. Ketika ia melihat Mingyu sedang mendengarkan musik dan menyandarkan tubuhnya pada tembok di belakangnya, ia menyuruh pria itu untuk pergi lebih dulu dan berkata kalau ia akan menyusul. Jaesuk berlari kecil ke arah Mingyu, yang mendengar suara langkah kaki mendekat, lalu membuka matanya perlahan. Mingyu langsung menyesalinya begitu ia tahu kalau orang yang berjalan ke arahnya adalah Jaesuk. Jaesuk memasang senyum terbaiknya, dan berkata,

"Hai, Mingyu-ya!" dan Mingyu menaikkan volume suara musiknya, yang membuat Jaesuk menarik sebelah earphonenya.

"Mingyu-ya. Bagaimana kalau kau ikut denganku? Aku akan membawamu ke suatu tempat, yang dengan wajahmu yang menarik itu, kau bisa mendapatkan banyak pria-pria menarik lainnya."

Mingyu memberikan pandangan menjijikan, dan berkata sarastis,

"Kedengarannya seperti penawaran yang sangat menyenangkan, tapi aku tidak tertarik."

"Aw, c'mon man. Aku tahu kau sepertiku, aku langsung tahu saat aku pertama melihatmu,"

Mingyu menaikkan alisnya,

"Maaf?"

Jaesuk memutar bola matanya, dan menjelaskan,

"C'mon, kita berdua sama-sama tahu kalau Wonwoo bukan satu-satunya yang membuatmu tertarik..."

Mingyu mengabaikan komentar itu,

"Maksudku, apa yang bagus dari dia? Apa yang kau suka dari dia?", Jaesuk bertanya.

"Tampangnya biasa saja, dan dia nerd. Apa yang orang sepertimu lakukan dengan orang sepertinya."

Mingyu mulai merasa terganggu, menatap playboy di hadapannya tepat di matanya, menantangnya untuk meneruskan perkataannya.

"Ah~. Aku rasa aku tahu kenapa..."

Jaesuk tersenyum miring, dan memajukkan badannya mendekat, supaya ia bisa berbisik di telinga Mingyu.

"Ia sangat ahli dalam urusan ranjang, kan?" dan Mingyu kehilangan kesabarannya. Ia menarik kerah seragam Jaesuk, dan menarik wajahnya mendekat. Menggeretakkan giginya dan berkata,

"Jika kau tidak menutup mulutmu, aku akan menyakitimu." dan Jaesuk terkejut melihat reaksi Mingyu yang kelihatan benar-benar marah.

Mingyu melepaskan Jaesuk tepat ketika Wonwoo berbelok di koridor dan memanggilnya,

"Mingyu-ya!"

Dan Jaesuk mendengus begitu melihat kekasih dari pria yang benar-benar menarik di hadapannya berjalan mendekati mereka. Mingyu langsung mengabaikan kehadiran Jaesuk, dan berjalan menuju Wonwoo, membawakan tasnya, seperti biasa. Mereka berdua berjalan melewati Jaesuk, yang masih terguncang pasca melihat amarah siswa berandalan yang sialnya sangat tampan itu. Saat mereka berpapasan, Mingyu memberikan Jaesuk tatapan tajam, lalu kembali menatap jalanan di depannya, berjalan bergandengan tangan dengan kekasihnya, keluar sekolah.

"Tch. Dia akan segera menyadarinya cepat atau lambat, kalau terikat dalam suatu hubungan itu rasanya seperti dipenjara."

Jaesuk lalu berjalan kembali pada pria yang kini sedang menunggu di mobilnya. Lalu, mereka berdua pergi ke suatu tempat yang hanya mereka berdua dan Tuhan yang tahu.

.

Keesokan harinya, pelajaran pertama adalah pelajaran olahraga, Minghao dan Mingyu, keduanya merasa sangat bersemangat, dan berhi-five satu sama lain seperti anak kecil ketika guru mereka mengumumkan kalau hari itu mereka akan bermain basket. Ketika mereka berganti pakaian di ruang ganti, beberapa anak menatap Mingyu dan melihat bekas luka dan memar yang terlihat di sekitar area perutnya. Wonwoo menatap pria tan yang baru saja melepas kemejanya itu, memamerkan absnya yang juga berwarna kecokelatan, dan ia merasa sedikit iri. Ketua Kelas itu berakhir dengan terus memandangi kekasihnya yang shirtless, absnya membuat Wonwoo tergoda untuk terus menatapnya, membuat Mingyu yang menyadarinya menggodanya,

"Apa kau 100% yakin tidak mau fotonya?"

Wonwoo memalingkan wajahnya yang memerah. Mingyu terkekeh dan menutup pintu lokernya setelah ia memakai pakaian olahraganya, dan mengedipkan sebelah matanya saat ia berjalan melewati Wonwoo.

Ketika pelajaran olahraga dimulai, semua gadis berteriak-teriak heboh melihat Minghao, Mingyu, dan Jaesuk memakai seragam olahraga. Seperti biasanya, Mingyu hanya mengabaikan mereka, dan Minghao menggoda gadis-gadis itu sedikit. Sifatnya yang dulu senang menggoda gadis-gadis itu sudah sedikit berkurang sejak ia tertarik pada seseorang. Sedangkan, Jaesuk, benar-benar menyombongkan dirinya sendiri pada gadis-gadis itu. Jika kalian melihat tingkah pria ini, mungkin kalian tidak akan bisa menebak kalau ia adalah gay. Jaesuk benar-benar menyukai perhatian, dan senang ketika ia disukai banyak orang, itulah kenapa ia begitu tertarik pada Mingyu, yang sama sekali tidak tertarik padanya, bahkan untuk sekedar memberinya sedikit perhatian.

Para siswa lalu dibagi menjadi dua tim, dan kebetulan Mingyu dan Jaesuk adalah kapten dari masing-masing tim. Di tim Mingyu, untungnya, ia satu tim dengan orang-orang yang ia inginkan, Minghao, Junhui, dan Wonwoo. Semua orang di tim Jaesuk merasa sedikit terintimidasi dengan komposisi tim lawan mereka, dan hanya sepenuhnya bergantung pada Jaesuk. Para gadis terbagi dua, ada yang menyemangati tim Mingyu dan ada pula yang menyemangati tim Jaesuk. Tapi, karena Wonwoo, orang yang kini menjadi sumber kecemburan dan kemarahan gadis-gadis di kelasnya, berada satu tim dengan Mingyu, kebanyakan dari gadis-gadis itu berpindah untuk menyemangati tim Jaesuk. Pertandingan itu dimulai saat guru mereka meniupkan peluit, dan bola dilemparkan ke udara. Jaesuk dan Mingyu hampir sama tingginya, hanya saja Mingyu sedikit lebih tinggi. Kedua pria itu melompat dan Mingyu berhasil merebut bola. Minghao langsung berlari membantu Mingyu, dan kerja tim mereka berdua benar-benar terlihat saat bola basket berpindah dari Mingyu kepada Minghao, lalu kembali lagi pada Mingyu dan sukses mendarat di ring lawan mereka hanya 30 detik setelah pertandingan dimulai. Suara yang terdengar di lapangan itu hanyalah suara bola yang beradu dengan lantai, dan suara langkah kaki Mingyu dan Minghao yang kembali ke posisi semula. Semua orang menatap mereka berdua terpesona, dan gadis-gadis mulai menjerit histeris, dengan cepat berpihak pada Mingyu.

"Wow~. Tampan, dan hebat dalam olahraga?" Jaesuk berkata, lalu tersenyum menggoda ke arah Mingyu.

Mingyu menghiraukan komentar itu, dan memberikan Minghao sebuah hi-five karena sudah membantunya.

Setelah tim Mingyu berhasil mencetak poin, Jaesuk memutuskan kalau ia akan benar-benar mencoba, untuk menunjukkan pada Mingyu betapa berbedanya ia dengan Wonwoo, dan untuk menunjukkan dengan siapa seharusnya Mingyu bersama. Jaesuk mengambil alih bola dan mendribble dengan tenang, membawa bola ke arah Wonwoo. Ia menghadang Wonwoo, mendribble bola di antara kedua kakinya, menantang Ketua Kelas yang terlihat nerd itu. Ia sama sekali tidak tahu kemampuan olahraga Wonwoo, dan bukan menjadi satu-satunya orang yang terkejut ketika Wonwoo berhasil merebut bola itu, menggiringnya menuju ring lawan, dan mencetak poin dengan sebuah layup. Mingyu tersenyum mengejek, dan berkata pada Jaesuk,

"Aku tahu, bukankah dia hebat?"

Wonwoo kembali ke posisinya di bagian samping lapangan dan berhigh-five dengan teman satu timnya.

Seiring dengan berjalannya pertandingan, Jaesuk merasa semakin frustasi terhadap tim lawan, dan dirinya sendiri karena hanya ia yang mencetak poin di timnya. Karena rasa frustasinya, ketika ia hendak melakukan layup, ia bergerak terlalu kasar dan berakhir dengan melakukan pelanggaran pada Wonwoo yang tubuhnya sekarang terjatuh ke lantai, membuatnya meringis kesakitan. Jaesuk merasa tidak perlu repot-repot meminta maaf, sebelum ia dihentikan oleh Mingyu,

"Kau tidak akan meminta maaf?"

Jaesuk mendengus, dan menatap Wonwoo dengan tatapan mengasihani,

"Dia seharusnya tidak berdiri di sana."

Mingyu baru akan melanjutkan berurusan dengan Jaesuk, ketika Minghao menghentikannya dan menunjuk Wonwoo yang masih berada di lantai. Mingyu berjalan mendekati Wonwoo, dan tersenyum lembut, sembari mengulurkan tangannya untuk membantu kekasihnya bangun. Pertandingan diulangi dengan lemparan penalti dari Wonwoo, yang berakhir sempurna masuk ke ring lawan. Skor saat ini adalah 45-51, tim Mingyu memimpin. Saat ini, Jaesuk dan Mingyu saling berhadapan, keduanya memiliki kemampuan bermain yang hampir sama. Mingyu mendribble bola dengan tangan kirinya, ia mengunci tatapannya pada lawannya yang berada dekat dengannya, berdiri dalam posisi bertahan. Jaesuk memutuskan untuk bicara pada pria yang lebih tinggi di depannya, bukan untuk mengalihkan perhatian Mingyu, tapi karena ia yakin kalau Mingyu bisa berjalan menjauh dan mengabaikannya kemanapun,

"Mingyu-ya."

Mingyu tetap menatap lawannya,

"Ayo pergi berkencan denganku 1 kali."

"Fuck no.", Mingyu menjawab, sambil terus mendribble bola, memikirkan cara untuk mencetak angka dengan waktu 2 menit yang tersisa,

"Lalu kenapa harus Wonwoo? Apa dia sebegitu hebatnya dalam urusan sex, karena jika tidak, aku tidak mengerti kenapa kau memilih bersamanya."

Kemarahan Mingyu memuncak, mendengar kekasihnya dibicarakan secara tidak terhormat seperti itu. Berbicara tentang sesuatu yang sama sekali tidak pernah ia dan Wonwoo lakukan, dan dengan mudahnya membuat asumsi bahwa Mingyu menyukai Wonwoo hanya untuk kepuasan dirinya sendiri membuat tekanan darah Mingyu meningkat.

"Semua orang berpikir kalau kita memang cocok bersama... Dan, aku pikir kau juga tahu itu. Penampilan kita cocok untuk satu sama lain. Hanya satu kali, aku akan menunjukkan padamu-" kalimat Jaesuk terpotong ketika Mingyu berlari ke arahnya, menerjangnya, lalu berlari menuju ring basket dan melemparkan bola di tangannya, membuat permainan berakhir dengan skor 45-53. Jaesuk jatuh ke lantai, dan ketika Mingyu berjalan melewatinya, ia merunduk, dan membawa wajah mereka berhadapan. Mingyu berbisik, suaranya rendah dan terdengar mengintimidasi,

"Ini adalah peringatan terakhirku. Jangan membicarakan Wonwoo dengan cara yang membuatku ingin memukuli wajahmu sampai otakmu keluar dari kepalamu... Kau mengerti itu?"

Jaesuk anehnya merasa semakin tertarik melihat sikap dominan yang ditunjukkan Mingyu. Yang lebih tinggi bangkit dari posisinya, meninggalkan Jaesuk yang masih terdiam di tanah.

Kembali ke ruang ganti, para siswa melepas kaus penuh keringat mereka, kecuali Wonwoo yang merasa sedikit tidak percaya diri dengan tubuhnya. Ia benar-benar kurus, dan tidak memiliki abs seperti kebanyakan teman-temannya di sini, jadi ia dengan ragu membuka kausnya, setelah memakai kembali seragamnya, lalu menarik kausnya dari bawah. Mingyu saat ini sedang berada di kamar mandi, jadi Jaesuk mengambil kesempatan untuk mengkonfrontasi Wonwoo.

"Malu pada tubuhmu sendiri?", ia berkata sambil mendengus.

Wonwoo mencoba mengabaikannya, tapi perkataan itu mengganggunya dan itu terlihat di wajahnya saat ia menaruh baju olahraganya ke lokernya.

"Kau benar-benar kurus..."

Jaesuk mengangkat seragamnya, menunjukkan absnya, dan berkata,

"Sedangkan aku jauh berbeda denganmu... Sebenarnya dari segi apa kau lebih baik dariku?"

Wonwoo menutup lokernya, dan membereskan barang-barangnya. Ia menatap tepat mata Jaesuk dan tersenyum miring,

"Well. Yang sebenarnya sedang berkencan dengan Mingyu adalah aku."

Lalu berjalan pergi, setelah selesai berurusan dengan Jaesuk. Mingyu yang mendengar sebagian besar percakapan itu, berjalan melewati Jaesuk dengan senyum bangga di wajahnya,

"He got you there.", dan mulai tertawa sambil berlari kecil untuk mengejar Wonwoo.

Ketika mereka tiba di kelas, mereka kembali duduk di bangku masing-masing dan bersiap untuk pelajaran selanjutnya. Sisa hari itu terlewati dengan cepat, wali kelas mereka masuk dan berkata kalau ia memiliki pengumuman.

"Anak-anak! Seperti yang kalian tahu, acara Festival Musim Gugur tahunan sekolah kita sebentar lagi akan digelar, dan karena kalian semua adalah murid-murid senior, kami para guru berharap kalau kalian akan berpartisipasi untuk mempersiapkan malam bersejarah ini."

Semua murid menatap guru mereka dengan tatapan tidak tertarik, maksudku, tidak ada seorangpun yang mau menghabiskan malam di sekolah untuk mempersiapkan sesuatu, ketika mereka bisa melakukan hal lain yang menyenangkan bersama teman-teman mereka.

"Kami akan butuh total 5 orang untuk membentuk kepanitiaan untuk para alumni, dan untuk membantu acara festival."

Semua murid mengalihkan tatapan mereka, menghindari kontak mata, kalau-kalau mereka yang terpilih. 'Pengorbanan' pertama dilakukan oleh seseorang yang para guru tahu, kalau ia tidak akan bisa mengatakan tidak, karena posisinya,

"Ketua Kelas! Wonwoo-ssi, kemarilah dan pilih 4 orang lainnya."

Wonwoo dengan perlahan bangun dari duduknya, dan berdiri di depan kelas.

"U-uh... Apa kita punya sukarelawan?"

Tidak ada seorangpun yang mengangkat tangan mereka, dan suasana di kelas sangat sepi sampai-sampai kau bisa mendengar suara detak jantung murid-murid yang gugup karena takut terpilih. Lalu, tiba-tiba sebuah tangan terlihat mengacung di udara, menarik perhatian Wonwoo, dan ia tersenyum, merasa bersemangat dan senang karena akhirnya ada seseorang yang mau mengajukan diri. Tapi senyum itu dengan cepat menghilang ketika ia melihat siapa pemilik tangan itu. Jaesuk mengangkat tangannya tinggi-tinggi, sebuah senyum terpasang di wajahnya, yang kelihatan sekali kalau ia menyembunyikan maksud lain di baliknya. Lalu, setelahnya semua terjadi begitu cepat. Setelah melihat tangan Jaesuk terangkat tinggi, Mingyu menatap Jaesuk, lalu menatap kekasihnya, lalu pada akhirnya ia ikut mengangkat tangannya. Melihat sahabatnya melakukan itu, Minghao secara tidak sadar mengangkat tangannya, yang akhirnya menghasilkan sukarelawan terakhir, Junhui. Kelima anak itu saling berpandangan, masih dengan tangan yang terangkat.

"Bagus! Ini ternyata berjalan lebih cepat dari yang aku bayangkan. Oke, jadi anak-anak, rapat pertama kalian akan diadakan hari Jum'at ini. Dan, aku mengharapkan kalian semua datang, karena festivalnya hanya tinggal 2 minggu lagi!"

Wali kelas mereka berjalan keluar kelas, setelah menyelesaikan pengumumannya. Setelah itu, bel pulang sekolah berbunyi, dan semua siswa meninggalkan sekolah sambil tertawa dan tersenyum, merasa lega karena mereka tidak terpilih menjadi salah satu panitia festival itu.

2 hari kemudian, hari Jum'at, empat siswa yang menjadi bagian dari panitia festival sekolah merasa takut dengan apa yang akan mereka hadapi. Hari itu berakhir dan semua siswa pulang ke rumah masing-masing, kecuali 5 orang siswa yang dengan menyesal harus tetap berada di sekolah setelah jam pelajaran berakhir. Mingyu dan Minghao sedang berbicara tentang apa yang mereka lakukan dua hari sebelumnya,

"Yah, idiot, kenapa kau mengangkat tanganmu?"

"Aku idiot katamu? Kau tidak harus ikut-ikutan mengangkat tanganmu sepertiku."

"Aku hanya memainkan peran sebagai sahabat yang baik, berterima kasihlah padaku." Minghao protes, membuat satu orang lainnya tertawa.

"Ya, terima kasih banyak, karena sudah menemaniku disini, aku tidak tahu apakah aku bisa bertahan menghadapi ini tanpa kehadiranmu." Mingyu berkata sarkastis sambil memutar bola matanya.

"Dan kau! Kenapa kau juga ada disini?" Minghao berkata, ke arah Jun.

"Karena kau mengangkat tanganmu!" ia beralasan.

Minghao membuat wajah aneh dan berkata,

"I-itu alasan yang tidak masuk akal!"

Mingyu menatap dua orang di depannya dan tersenyum miring pada Minghao yang langsung memukul lengannya. Mereka bertiga sedang menunggu 2 anggota panitia lainnya, yang sedang berada di ruang guru untuk mencari tahu ruangan mana yang akan mereka gunakan untuk rapat. Dua orang yang sedang mereka tunggu masuk, Wonwoo yang pertama memasuki kelas, menerima senyuman dari semua orang. Jaesuk mengikuti di belakangnya, dan tidak ada seorangpun yang mau repot-repot menyapanya.

"Ruang 108" Wonwoo berkata kepada ketiga temannya yang langsung bangkit dari posisi duduk mereka, dan mulai mengikuti kedua anak di depannya. Selama perjalanan, satu-satunya yang berbicara adalah Jun dan Minghao, di belakang. Sedangkan, di bagian depan, Jaesuk berdiri di antara Mingyu dan Wonwoo, yang sama sekali tidak dihiraukan Mingyu, dan Wonwoo juga melakukan hal yang sama. Saat rapat dimulai, mereka baru tahu kalau mereka akan bertanggung jawab untuk satu booth yang akan ada di acara festival itu. Jadi mereka berlima berdiskusi, dan akhirnya menyetujui booth dan permainan yang akan mereka buat di festival sekolah mereka, setelah melalui diskusi panjang dan melelahkan. Booth yang akan menjadi tanggung jawab mereka adalah booth Ring Toss, dan mereka akan menghabiskan beberapa hari selanjutnya untuk mengerjakan poster untuk mempromosikan festival itu, dan booth mereka. Setelah rapat pertama selesai, Mingyu memutuskan untuk mengkonfrontasi Jaesuk,

"Kenapa kau mau mengikuti kepanitiaan bodoh ini?"

"Karena aku sangat menyukai acara-acara sekolah seperti-"

"Hentikan omong kosong itu." Mingyu berkata, mencari motif Jaesuk yang sebenarnya.

Jaesuk tersenyum miring,

"Bagaimana denganmu, hm? Takut aku akan melakukan sesuatu pada kekasih kecilmu ini?"

"Wonwoo tidak akan pernah membiarkanmu melakukan sesuatu padanya." Mingyu berkata, dengan ekspresi puas di wajah tampannya.

"Aku tidak akan seyakin itu... Aku sama menariknya denganmu, bahkan mungkin, lebih. Kepribadian kalian berdua sama sekali tidak cocok, lalu seberapa yakin kau kalau dia menyukaimu bukan hanya karena wajahmu saja?" Jaesuk berkata. Dan Mingyu menjadi sedikit gugup,

"Sebuah hubungan tidak harus selalu melibatkan perasaan di dalamnya. Kalau wajah dan tubuhmu saja sudah cukup, lalu..." ia tersenyum miring pada Mingyu dan berjalan menjauhi mereka.

Mingyu mengetatkan wajahnya, dan ia benar-benar merasa ingin meninju wajah Jaesuk, tapi ia menahan amarahnya dan berakhir dengan pergi ke markas dimana ia biasanya menggunakan salah satu dinding di sana sebagai samsaknya. Tidak pernah sekalipun ia mempertanyakan perasaan Wonwoo, tapi perkataan Jaesuk di sekolah tadi membuatnya sedikit khawatir. Ia memikirkan tentang itu, dan semakin ia memikirkannya, semakin ia menyadari kalau ia dan Wonwoo memang benar-benar kutub yang berlawanan. Pria tinggi itu berhenti memukuli tembok, dan membaringkan tubuhnya di sofa, menutup matanya. Ketika ia melakukannya, kegelisahannya semakin meliputi dirinya dan ia mulai berpikir tentang kejadian-kejadian selama ini yang mendukung pernyataan Jaesuk. Wonwoo pernah berkata kalau ia tidak percaya pada hal-hal seperti opposites attract, lalu kenapa ia mau berkencan dengan Mingyu? Mereka tidak memiliki banyak interaksi sebelumnya, tapi Wonwoo tidak melarikan diri ketika Mingyu menciumnya, tidak seperti yang ia lakukan saat Jun menciumnya. Mingyu mulai berpikir lebih jauh, dan hampir setiap hal, seperti saat Wonwoo memandangi tubuhnya yang shirtless, menjadi semakin masuk akal. Yang paling mengganggu pikiran Mingyu adalah ketika mereka sedang berbicara tentang apa yang mereka sukai dari satu sama lain. Mingyu tahu kalau ia menyukai Wonwoo dengan tulus, jadi ia tidak bisa menjawab kenapa ia menyukai Wonwoo saat itu. Tapi, Wonwoo langsung tahu jawabannya, dan Mingyu mulai berpikir kalau alasan itu adalah hanya karena penampilannya. Mingyu menggelengkan kepalanya dan dengan kasar mengacak rambutnya, kesal. Ia memutuskan kalau ia hanya berpikir terlalu berlebihan, dan berkata dalam hati kalau ia harus lebih percaya pada Wonwoo. Jadi, ia memutuskan untuk tidur siang di markas seperti yang biasanya ia lakukan.

.

Di rapat panitia selanjutnya, Mingyu datang terlambat, jadi semua orang memutuskan untuk memulai rapat itu dan mengerjakan poster festival mereka tanpa Mingyu. Jun dan Minghao pergi untuk membeli cat yang habis, meninggalkan Wonwoo dan Jaesuk berdua.

"Kau tahu, aku pikir Mingyu benar-benar tergila-gila padamu." Jaesuk berkata, menatap Wonwoo dengan manis, memasang senyuman yang menipu.

Wonwoo tetap memusatkan perhatiannya pada kertas poster di hadapannya.

"Aku tidak butuh kau untuk mengatakan itu padaku.", ia membalas dingin.

"Ouch," Jaesuk berkata sambil meremas dada bagian kirinya, tempat jantungnya berada, berpura-pura sakit hati atas perkataan Wonwoo, "Tapi aku pikir aku tahu kenapa dia menyukaimu."

"Itu aneh, karena bahkan Mingyu sendiri tidak tahu kenapa ia menyukaiku." Ketua Kelas menjawab.

Jaesuk tersenyum miring melihat sikap Wonwoo, "Tidak, maksudku, aku pikir aku mengerti kenapa dia menyukaimu."

Wonwoo berhenti membuat sketsa, dan menatap Jaesuk, yang sekarang wajahnya semakin mendekat ke arahnya.

.

Mingyu berlari kecil menuju sekolah, dan berlari ke ruang kelas yang ia tahu dijadikan tempat rapat. Pintu ruangan itu sudah terbuka, dan semakin Mingyu mendekat, ia melihat sesuatu yang ia harap bisa ia hapus seluruhnya dari ingatannya. Berdiri tepat di pintu masuk, ia bisa melihat pemandangan jelas bibir Wonwoo dan Jaesuk saling bersentuhan, terkunci dalam sebuah ciuman. Kedua orang yang masih berciuman itu akhirnya memisahkan diri dan begitu mereka memisahkan diri, Wonwoo langsung menyadari kehadiran Mingyu,

"Mingyu-ya," Suara Wonwoo berkata, hampir terdengar putus asa.

"Aku tahu kenapa kau lebih memilih bersamanya sekarang, Mingyu... Dia benar-benar ahli dalam hal berciuman."

Mingyu tetap diam mendengar pernyataan itu, dan tetap berdiri sambil memikirkan kejadian yang baru saja ia saksikan. Satu-satunya hal yang ada di pikirannya sekarang adalah,

"Really, Wonwoo?", ia tidak ingin menuduh kekasihnya tapi ia tidak bisa menahannya setelah melihat kejadian ini,

"Dia?"

.

.

.

To Be Continued...


Ini tadinya mau post sabtu kemarin... tapi... belum beres HEHE.-. jadi baru bisa sekarang huehehe

Buat yang nunggu seokmin... masih ya lumayan sih chapternyaa ditunggu aja, tapi ceritanya worth it bgt buat ditungguin kokk hahaha

Udah liat OFD eps 2 belum? DUHHHH Mingyu dependable bgt ngga sih jadi kapten tim:( ingin nangis wkwkwk best leader deh dia huhu:( trs kan episode selanjutnya yg jadi kaptennya wonwoo minghao gitu... i can't help but think kalau mereka berdua jadi kapten terus saingan ngedapetin mingyu gitu HAHAHAHAHAHAHAAHAHA #bye

Next chapter disatuin lagi deh 2 chapter biar cepet... kujuga gasabar ingin cepet-cepet ke konflik inti:3

Basically, ff ini sih fluff ya meanienya parrrrraaahhhhh fluff bgt wonwoonya juga ooc ngga tsundere:3 /that's why translatenya jadi makin ngaret karena akhir-akhir ini lagi suka baca ff meanie yg wonwoonya tsundere supperrrr tapi disini kan engga jadi feelnya belum dapet/

Makasih banyak buat yg review! much luv from me!:*

Makasih juga buat yang udah fav, follow;)

Read n Review?

Love,

seulgibear