I am Back for You

.

.

.

Summary : Setelah 17 tahun hidup di Cina, Kim Kibum kembali ke Korea Selatan demi

memenuhi janji semasa kecilnya.

Declaimer : Super Junior milik diri mereka sendiri, keluarga dan SMEnt.

Pairing : KiHae (Kibum Donghae) or KyuHae (Kyuhyun Donghae) ?

Other cast : HanChul (orang tua angkat Kibum), Leeteuk, YunJae, yang lain menyusul sesuai dengan kebutuhan cerita :D

Rating : T semi M

Genderswitch : Donghae, Heechul, Leeteuk, Jaejoong, maybe more.

Warning : ceritanya semakin aneh dan menyimpang.

Don't like don't read, don't flame the casts, just flame the author, no copas, review please.

^^ Saranghaeyo Super Junior ^^

Senyum manis terus mengembang di bibir plum seorang yeoja cantik, mengiringi keanggunan derap langkah kaki jenjangnya yang beralaskan high heels. Kedua tangannya menenteng dua buah bingkisan kue dari toko bakery ternama di Seoul, sementara tas elegannya ia sampirkan(?) di pundak. Diayunkan langkahnya menuju sebuah ruangan yang ia yakini menjadi tempat di mana seseorang yang ia sayangi berada. Kedua matanya berbinar senang saat bayangan seorang yeoja paruh baya yang masih terlihat cantik di usianya itu tengah berkutat dengan peralatan dapur dan berdiri memunggunginya. Diletakkannya bingkisan yang dibawanya di meja makan, kemudian dihampirinya yeoja paruh baya itu dengan mengendap-endap.

"Annyeongi, eomma. Bogoshippoyo~" Yeoja cantik yang lebih muda itu melingkarkan tangannya di pinggang yeoja yang ia panggil eomma dari belakang yang tak lain adalah Leeteuk itu berjengit kaget dengan tindakannya.

"Omona, Hae-ya! kau mengagetkan eomma. Apa tidak ada kata lain yang bisa kau katakan pada eomma selain itu –bogoshippo- eoh?" gurau Leeteuk yang masih berkutat di depan kompor.

"Ada, eomma. Saranghaeyo~" balas Donghae dengan suara manjanya.

"Aish, kau ini." Leeteuk terkekeh geli dengan sikap manja Donghae.

"Eomma, mau aku bantu memasak?" tanya Donghae.

"Tidak usah, eomma sudah hampir selesai. Kau bantu eomma menyiapkan piring dan peralatan makan lainnya saja, Hae-ya."

"Siap, eomma." Ujar Donghae semangat seraya membentuk pose hormat, Leeteuk dibuat tersenyum dengan tingkah childish Donghae yang sudah ia anggap anaknya sendiri.

Di tengah-tengah keasyikan Donghae membantu Leeteuk menyiapkan peralatan makan di meja makan, datanglah sosok namja tampan dari arah pintu samping yang menghubungkan dapur sekaligus ruang makan dengan taman belakang yang cukup luas.

"Eomma, apa makan siangnya sudah siap? Mereka- noona?" perkataan namja bernama lengkap Tan Kibum itu terpotong saat retina matanya menangkap siulet yeoja yang tengah mengisi hatinya sejak belasan tahun lalu. Onyx nya berbinar bahagia, reflex killer smile andalannya langsung terkembang di bibir kissablenya.

Donghae yang mendengar suara familiar di telinganya sontak menghentikan aktivitasnya, manic dark brownnya membulat kaget mendapati sosok yang belakangan ini ingin dihindarinya kini muncul di hadapannya. Namun keterkejutannya hanya berlangsung sebentar, sedetik kemudian ia sudah bisa mengendalikan dirinya dan kembali memasang raut muka yang biasa saja.

"Anda di sini juga, Kibum-ssi." Donghae sedikit menundukkan kepalanya sopan.

Kibum terperanjat kaget dengan sikap Donghae yang menurutnya tidak wajar, Leeteuk pun tak kalah kaget juga. Apa yang membuat Donghae bersikap sekaku itu dengan Kibum yang notabene merupakan salah satu orang terdekatnya -selain Leeteuk dan Kyuhyun.

"Yah! Kenapa noona seformal itu, eoh?"

"Chagiya! Kau curang sekali menyuruhku yang membawa ini semua." Suara teriakan terdengar menggela diiringi derap langkah menuju ruangan di mana ketiga orang dewasa itu berada.

Nampaklah sosok jangkung dengan rambut ikal coklat madunya yang tak kalah tampan dari Kibum –Kyuhyun. Bidikan obsidian Kyuhyun bertemu pandang dengan onyx Kibum. Mungkin telah tampak percikan api transparan di antara mereka. Tidak disangka oleh keduanya kalau mereka akan bertemu dengan rival cinta mereka di panti asuhan Sapphire Blue. Kyuhyun mengenakan topeng angkuhnya, begitu juga dengan Kibum yang telah kembali pada citra dingin dengan stoic face nya.

"Ada Kibum-ssi juga ternyata. Annyeong, Kibum-ssi." Sapa Kyuhyun basa-basi.

"Annyeong, Kyuhyun-ssi."

"Annyeong, ahjumma." Sapa Kyuhyun pada Leeteuk setelah meletakkan kedua bingkisan yang lebih besar dari yang dibawa Donghae tadi, kemudian memberikan pelukan singkat pada Leeteuk.

"Kyuhyun-ah, kajja kembali ke kantor." Ajak Donghae lalu mengambil tasnya.

"Tidak usah buru-buru, chagiya. Aku sedang ingin makan di sini, sudah lama aku tidak merasakan masakan Teukie ahjumma yang lezat." Tolak Kyuhyun. "Bolehkan, ahjumma?"

"Tentu saja, Kyuhyun-ah." Balas Leeteuk tersenyum.

"Tapi jam makan siang sudah hampir habis, Kyu-ah." Donghae mengingatkan Kyuhyun akan waktu mereka yang terbatas. Rencananya mereka hanya akan mengantarkan chocolate cheese cake untuk anak asuh Leeteuk lalu kembali ke kantor.

"Kau lupa siapa bos nya, chagiya? Oh iya, gamsahamnida sudah menemani Donghae ku ke Mokpo, Kibum-ssi." Ujar Kyuhyun pada Kibum seraya menekankan kata kepemilikannya pada Donghae, direngkuhnya pinggang ramping Donghae dengan possessive.

"Cheonma, Kyuhyun-ssi." Kibum memalingkan wajahnya saat Kyuhyun mendaratkan kecupan mesra di pipi porselen Donghae yang mulus.

"Makan siang sudah siap. Kita panggil anak-anak yang sudah kelaparan itu." Leeteuk menengahi guna menyudahi perbincangan yang memunculkan aura gelap dari kedua namja itu.

.

.

.

Kibum bersender pada dinding dan menyilangkan kedua tangannya di dada, onyx nya tak pernah lepas melayangkan tatapan pada dua sosok yang berada beberapa meter di hadapannya. Kyuhyun dan Donghae yang tengah menemani anak-anak asuhan Leeteuk bermain, mereka berdua terlihat bahagia dan harus Kibum akui mereka juga tampak serasi. Sadar bahwa sepasang mata sedang mengawasi gerah-geriknya, Kyuhyun dengan sengaja dan terencana menambah intensitas kemesraannya pada Donghae. Tak jarang ia menggoda Donghae yang tengah melantutkan sebuah cerita fiksi istanasentris pada dongsaengdeulnya, kecupan ringan di pipi pun tak segan-segan Kyuhyun layangkan pada Donghae.

Kibum merasakan dadanya yang berdenyut sakit, dialihkan pandangannya pada objek lain. Kini kedua retina matanya menangkap refleksi Leeteuk yang duduk tak jauh dari Donghae melambaikan tangannya seraya menampilkan angelic smile nya, meminta Kibum untuk menghampirinya. Kibum pun menuruti perintah Leeteuk, ia pun ingin mendengarkan celoteh Donghae yang ia rindukan.

Kyuhyun yang mengetahui Kibum hendak menghampiri Leeteuk pun bangkit dari duduknya, berpamitan pada Donghae kalau dirinya akan pergi ke toilet. Di tengah perjalanan mereka masing-masing Kyuhyun mencekal lengan Kibum menahan langkahnya, posisi mereka sekarang bersampingan dengan arah yang berlawanan. Jika berada dia antara Kyuhyun dan Kibum saat ini, hawa seram menusuklah yang dirasa. Bara api kebencian tak kasat mata tampak berkobar di antara keduanya.

"Dia milikku. Lee Donghae milikKU." kata Kyuhyun penuh penekanan di setiap katanya. "Jangan banyak berharap, Kibum-ssi." Tambahnya dengan tajam, dari nada suaranya terlihat sekali kalau dia sedang menahan amarahnya.

"Benarkah?" Kibum terkekeh –sebentar- meremehkan. "Kalau begitu aku akan merebutnya." Tantang Kibum.

"Tidak akan kubiarkan kau menyentuhnya seujung rambut pun."

"Tapi aku sudah 'menyentuh'nya." Balas Kibum ringan disertai seringai kecil di bibirnya.

Kyuhyun menggertakkan giginya geram, tangannya yang tidak mencengkeram lengan Kibum mengepal erat terlihat dari buku-buku kukunya yang memutih.

"Aku tidak akan pernah melepasnya. Camkan itu, Tan Kibum!"

"Kita lihat saja nanti, Kyuhyun-ssi." Ujar Kibum sinis, dilepasnya tangan Kyuhyun yang menahannya lalu pergi meninggalkan Kyuhyun yang tengah diliputi kemarahan.

.

.

.

Tok tok tok.

Yeoja bernama Donghae itu melayangkan ketukan pada pintu bercat coklat dengan ukiran sederhana tapi elegan di sudut pintu. Tanpa menunggu jawaban dari seseorang yang berada di dalam, dibukanya pintu yang menghubungkan sekaligus membatasi ruang kerjanya dan ruangan pribadi bosnya –Kyuhyun. Tangannya membawa beberapa berkas laporan kinerja pegawai Kyuhyun yang harus diserahkan pada sang sajangnim. Donghae terbelalak saat didapatinya Kyuhyun yang bersender pada kursinya dengan tangan memegangi dadanya dan tak lupa wajahnya yang pucat pasi.

"Kyuhyun-ah!" pekik Donghae panic bukan main, segera dihampirinya Kyuhyun –dengan berlari kecil- yang tengah menahan sakit –tampak dari raut wajahnya. Diletakkannya –dilempar tepatnya- berbagai dokumen yang tadi dibawanya di meja.

Dengan pikiran kalut Donghae segera membuka laci meja kerja Kyuhyun dan mengobrak-abriknya, mencari sesuatu yang sangat Kyuhyun butuhkan. Tangannya dengan segera menyambar tiga botol obat yang berbeda begitu bidikan matanya berhasil menemukan apa yang ia cari. Dengan tangan gemetar, dibukanya tutup botol obat itu dan mengambil isinya kemudian memberikannya pada Kyuhyun.

"Ini. Minum, Kyu." Kedua tangannya terulur untuk memberikan obat dan segelas air putih pada Kyuhyun. Sementara Kyuhyun langsung menelan obat itu sesuai titah Donghae.

"Eottae, Kyu?" raut kekhawatiran sangat jelas tercetak di paras cantik Donghae, sementara cairan bening sudah mengumpul di pelupuk matanya.

"Nan gwaenchana, noona." Jawab Kyuhyun seraya bangkit dari duduknya hendak menuju sofa.

Namun belum sampai tujuannya, tubuh Kyuhyun oleng dan hendak jatuh jikakalau Donghae tidak cepat tanggap menahan Kyuhyun –dengan cara memeluknya dari depan. Tubuhnya yang lebih kecil dari Kyuhyun membuatnya kesulitan menahan tubuh Kyuhyun yang berat baginya. Dengan susah payah, dipapahnya Kyuhyun menuju sofa panjang yang berada tak jauh darinya.

"Kau minum ya?" tanya Donghae dengan kedua mata menyipit, siap mengintrogasi Kyuhyun.

"Hanya beberapa gelas." Bohong Kyuhyun, sebenarnya dia hampir menghabiskan 2 botol red wine.

"Kyu! Jangan lakukan itu!" Donghae mendengus kesal. "Kau tidak ingat kata dokter, eoh? Jangan pernah sentuh minuman beralkohol lagi, arra?" Donghae meminta Kyuhyun berjanji dengan paksaan tentunya.

"Aku sedang ingin minum karena stress." Kyuhyun tidak menghiraukan Donghae yang khawatir setengah hidup. Atau memang itu tujuan Kyuhyun? Membuat Donghae mengkhawatirkannya dan memperhatikannya, hanya dirinya.

"Wae? Katakana padaku apa yang membuatmu stress." Perintah Donghae. Sepertinya kini posisi mereka terbalik, Donghae lah yang menjadi bos.

"Neo!" Kyuhyun menatap Donghae tajam.

Donghae yang mendengar pernyataan singkat Kyuhyun bahwa dirinya lah penyebab kondisi Kyuhyun yang buruk tadi memundukkan kepalanya. Selama ini Kyuhyun menjadi pasien yang baik, mengikuti semua anjuran dokter, di bawah pengawasan Donghae tentunya. Dan kondisi buruk seperti tadi pun sangat jarang menimpa Kyuhyun.

"Mianhae." Lirih Donghae, tersirat penyesalan dalam kata itu.

"Sudahlah. Aku ada meeting." Kyuhyun berdiri dari duduknya. Tetapi belum sempat ia melangkahkan kakinya, rasa nyeri di dadanya kembali mendera.

"Aarrrght!" pekik Kyuhyun seraya memegangi dadanya.

Donghae yang mendengar jerit kesakitan Kyuhyun pun sontak mendongakkan kepalanya. Didudukkannya kembali Kyuhyun, ditangkupnya kedua pipi Kyuhyun dan berkata, "Gwaenchanayo?" dengan penuh kekhawatiran, sedangkan Kyuhyun hanya menganggukkan kepalanya. Donghae yang tidak yakin dengan jawaban Kyuhyun mengeluarkan ponsel dari saku roknya hendak menghubungi seseorang.

"Aku akan memberi tahu Yesung oppa untuk menggantikanmu."

"Tidak usah, aku sudah bilang kan aku baik-baik saja." Kyuhyun bangkit dari duduknya. Dengan secepat kilat Donghae menahan tangan Kyuhyun.

"Jangan semakin membuatku menjadi wanita jahat, Kyu." Suara Donghae terdengar sedikit parau.

Kyuhyun terpaku. Apakah Donghae hendak menangis? Sumpah demi apapun, Kyuhyun sangat benci Donghae yang menitikkan air matanya. Dibatalkan niatnya untuk menghadiri meeting dan mendudukkan kembali dirinya di samping yeojachingunya itu.

"Uljima." Pinta Kyuhyun tanpa menoleh pada Donghae. Donghae tersenyum tipis, Kyuhyun tidak menghiraukan permintaannya.

"Berbaringlah, Kyu, kau butuh istirahat sebentar. Aku akan menghubungi Yesung oppa." Kyuhyun melakukan apa yang diinstruksikan Donghae.

Donghae mencari sebuah nama di kontak ponselnya kemudian menekal icon 'call' setelah menemukan nama Yesung.

"Yeobboseo, Yesung-ssi."

"…"

"Bisakah kau menggantikan sajangnim dalam meeting 10 menit lagi? Beliau ada pekerjaan lain yang tidak bisa ditinggalkan." Donghae berbicara formal pada Yesung mengingat mereka masih dalam jam kerja.

"…"

"Gamsahamnida, Yesung-ssi."

Donghae mengakhiri perbincangan singkatnya dengan Yesung.

"Aku sudah menghubungi Yesung oppa." Donghae melapor pada Kyuhyun yang terntu saja Kyuhyun sudah mengetahuinya.

"Hemm." Kyuhyun hanya menanggapinya dengan gumaman.

Donghae melepaskan sepatu Kyuhyun, membuka jasnya dan satu kancing atas kemeja Kyuhyun serta melonggarkan dasinya agar Kyuhyun lebih rileks.

"Beristirahatlah." Donghae menampilkan angelic smilenya yang mempesona.

Donghae hendak berajak pergi namun hal itu tidak terjadi dikarenakan Kyuhyun mencengkram pergelangan tangannya dan menariknya sehingga Donghae kembali terduduk di sofa panjang tempat yang sama di mana Kyuhyun berbaring.

"Gajima." Kyuhyun menatap Donghae dengan lembut, menatap lurus ke dalam manic dark brown Donghae yang selalu bisa memerangkapnya pada pesona seorang Lee Donghae.

"Temani aku." Imbuh Kyuhyun lagi.

"Arraseo, Kyunnie." Kembali Donghae mengembangkan senyum manisnya. Donghae mengambil sapu tangannya kemudian diulurkan tangannya mengusap –sedikit- peluh di wajah Kyuhyun dengan lembut.

"Tetaplah di sampingku. Apapun yang terjadi, jangan pernah pergi dari sisiku, Donghae-ya. Hanya kau yang kubutuhkan. Hanya kau Lee Donghae." ucap Kyuhyun –sangat- serius. Ditatapnya Donghae dengan intens, menyelami dua bola mata teduh Donghae.

Donghae terperangah mendengar perkataan –permintaan tepatnya- yang terlontar dari bibir Kyuhyun. Hal itu semakin menyadarkannya bahwa Kyuhyun lah yang harus ia prioritaskan, ia harus bisa menekan keegoisannya dan juga ehm-memendam cintanya.

Kyuhyun meraih tangan Donghae yang mengusap keringat dingin di paras tampannya kemudian dibawanya tangan halus itu di dadanya.

"Aku akan mati jika tidak ada dirimu di sampingku. Saranghae. Jeongmal saranghaeyo." Ungkap Kyuhyun yang ingin mengikat Donghae hanya untuk dirinya. Sekali lagi, hanya untuk Kyuhyun seorang. Sangat egois bukan?

"Sssttttt!" Donghae meletakkan jari telunjuknya yang mana tangannya tidak digenggam Kyuhyun di mulut sang namjachingu guna menghentikan celotehnya.

"Kita akan selalu bersama. Jadi kau harus berusaha bertahan. Arrachi?"

"Temani aku sampai waktuku tiba, Hae-ya."

"Kau akan hidup, Kyu-ah. Sepuluh tahun lagi, dua puluh tahun lagi, lima puluh tahun lagi, bahkan seratus tahun lagi saat wajahmu sudah sangat jelek dipenuhi keriput di sana-sini." Donghae mengakhirinya dengan tawa ringan, berusaha melempar candaan untuk menghangatkan suasana.

"Noona yang akan terlihat lebih jelek daripada aku, aku selalu tampan." Kyuhyun balas mengejek Donghae.

"Ya! aku akan tetap cantik. Kecantikanku ini abadi, Kyunnie." Kyuhyun tertawa menanggapi kenarsisan Donghae yang mungkin tertular dari Kyuhyun karena terlalu sering bersamanya –mungkin.

"Nyanyikan aku sebuah lagu pengantar tidur dengan suara cemprengmu, noona."

"Yack! kalau kau merasa suaramu itu merdu kenapa tidak bernyanyi sendiri, eoh?" Donghae memasang raut kesalnya.

"Suaraku mahal. Ayolah, noona~" rengek Kyuhyun dengan puppy evil eyesnya.

"Aish. Baiklah. Jangan tatap aku seperti itu, ekspresimu mengerikan." ejek Donghae.

Donghae memposisikan duduk di sofa itu dan Kyuhyun menggunakan paha Donghae sebagai bantalnya. Kyuhyun menggenggam tangan kiri Donghae dan meletakkannya di dadanya. Sementara tangan kanannya Donghae gunakan untuk mengelus-elus surai ikal Kyuhyun dan tak jarang memberi pijitan kecil pada kelapa Kyuhyun untuk menghilangkan penat Kyuhyun. Donghae melantunkan salah satu lagu favorit Kyuhyun yang berjudul Hope is a Dream that Never Sleeps.

Na oerowododoe neol saenggakhalddaen, misoga naui eolgule beonjyeo..

Na himdeuleododoe niga haengbokhalddaen, sarangi nae mam gadeukhi chaewo..

Oneuldo nan geochin sesangsoke saljiman, himdeuleodo nungameumyeon ni moseubbun..

Ajikgo gwitgae deulryeooneun kkumdeuli, naui gyeoteseo neol hyanghae gago itjana..

Kyuhyun memejamkan matanya, rasa kantuk mulai menyapa alam bawah sadarnya saat suara merdu Donghae singgah di gendang telinganya.

Eonjena neowa hamgge irugopeun kkum ango..

(I'll always hold on to the dreams I want to fulfill with you)

Galsu eobdeon jeopyeoneseo neoreul bulreobolgge..

(I'll try to call for you at the place I can not reach)

Nae maeum dahae saranghaneun neoreul..

(I love you with all my heart)

Donghae mengakhiri nyanyiannya. Dilihatnya Kyuhyun yang ternyata sudah terlelap dalam tidurnya. Manic kelam Donghae menatap kosong ke depan, menerawang entah ke mana.

"Mianhae, Kibummie." Dan seiring terucapnya dua kata itu, setitik(?) air mata meluncur ke pipi porselen Donghae.

.

.

.

Pintu lift terbuka dan nampaklah sosok yeoja cantik dengan surai coklat emas sepundaknya yang ia biarkan tergerai dan melambai-lambai(?) seirama dengan langkahnya yang anggun. Dianyunkan kaki jenjangnya yang beralaskan high heels putih dengan sedikit motif pink yang senada dengan dress diatas lututnya yang berwarna senada. Sesekali yeoja dengan name tag Lee Donghae itu melemparkan senyum ramahnya dan menundukkan kepalanya saat berpapasan dengan orang-orang yang diketahui sebagai rekan kerjanya dan atasannya ataupun dengan tamu yang datang di perusahaan di mana ia curahkan tenaganya untuk bekerja.

Namun langkah kakinya terhenti seketika dan senyum yang sedari tadi ia tampilkan pun lenyap kala bidikan matanya menangkap sosok tegap, tampan nan sempurna yang hanya berjarak dua meter di hadapannya. Kedua mata Donghae membulat sempurna, kebingungan pun melandanya, hanya satu pertanyaan Donghae yang terbersit di benak Donghae. Mengapa namja ini ada di hadapannya? Namja yang telah menyita perhatiannya dan memenuhi pikirannya err-mungkin hatinya juga.

"Annyeong, Donghae-ssi." Sapa namja yang sukses membuat Donghae terkejut itu, tak lupa ia tampilkan killer smile andalannya yang mampu melelehkan hati yeojadeul.

"Annyeong, Kibum-ssi." Donghae menundukkan kepalanya pada namja yang ternyata adalah Kibum. Tanpa ingin berbasa-basi lagi, Donghae pun beranjak pergi. Namun hal itu tidak pernah terjadi karena lengannya dicekal oleh Kibum.

"Manager Ahn, kembalilah ke kantor dulu, aku masih ada urusan." Kibum memberi instruksi pada orang yang ada di belakangnya yang adalah salah satu pegawai Kibum.

"Baik, sajangnim." Manager Ahn menundukkan kepalanya dan berlalu pergi sesuai apa yang diperintahkan oleh sang atasan.

"Lepaskan aku, Kibum-ssi." Ucap Donghae datar.

"We need to talk." Dihiraukannya permintaan Donghae.

"I have nothing to talk to you." kata Donghae –terlihat- acuh. Namun siapa yang tahu apa yang tengah ia rasakan.

"But I have." Kibum membawa err-menyeret Donghae ke salah satu pintu darurat yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.

Kibum menutup pintu itu kasar dan menghempaskan tubuh Donghae ke dinding. Rasa dingin yang berhasil menempus bajunya pun menyergap tubuh Donghae. Kibum memerangkap tubuh Donghae dengan dua tangan di kanan-kiri Donghae, menghimpitnya dengan tubuhnya dan dinding.

"Kenapa kau menjauhiku, eoh?" Kibum menatap Donghae yang membuang pandangannya ke arah lain.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Donghae mengacuhkan pertanyaan Kibum dan balik mengajukan pertanyaan padanya.

"Apalagi selain berbisnis dengan Cho Kyuhyun. Sebenarnya aku juga ingin bernegosiasi dengannya, apa yang harus kuberikan padanya untuk mendapatkan wanitaKU kembali." Kibum membelai pipi kiri Donghae dengan tangan kanannya.

"Hentikan pikiran konyalmu, Tan Kibum!" titah Donghae –berusaha- memasang wajah dinginnya.

"Aku tidak akan berhenti sebelum kau jatuh ke tanganku. Apa alasanmu menjauh dariku, hm?" kembali Kibum mengajukan pertanyaan yang sama, rasa penasarannya belum terjawab, pertanyaan besar yang belakangan ini mengganggu pikirannya.

"Menjauh?" Donghae terkekeh meremehkan. "Memang seberapa dekat kita?"

"Sangat dekat. Apa aku perlu mengingatkanmu kejadian dua minggu lalu di Mokpo, Hae-ya?" bisik Kibum dengan suara seksinya tepat di depan wajah Donghae yang hanya berjarak kurang dari 5 cm darinya.

"Aku tidak pernah mengingatnya. Itu sebuah kesalahan terbesar yang pernah kulakukan. Lupakanlah." Kata-kata yang meluncur dari mulut Donghae itu telah menorehkan luka tersendiri bagi Kibum.

"Datanglah padaku. Tinggalkan Kyuhyun." Kibum terus mendesak Donghae.

"Tidak akan pernah." Ucap Donghae mutlak.

"Kau tidak mencintainya."

"Kau salah. Aku mencintainya." Ratusan pisau tak kasat mata seolah telah mencabik-cabik jantung Kibum.

"Bohong!"

"Tidak!"

"Tatap mataku dan katakana kau mencintainya." Kibum meraih dagu Donghae dan memaksa manic kelam Donghae beradu pandang dengan obsidiannya.

"Aku.." Donghae mengepalkan tangannya, menahan segala rasa yang berkacamuk dalam dirinya. Dia merutuki kebodohannya yang tidak bisa melakukannya. Hanya berkata 'Aku mencintai Cho Kyuhyun' tapi entah mengapa lidahnya terasa kelu hendak mengucapkannya saat bertemu tatap dengan Kibum. Inilah Donghae takutkan. Ia tak akan bisa jika menatap obsidian dari sosok sempurna di hadapannya.

"Aku.. ak-HMMMPHH!" Donghae tidak menyelesaikan pernyataannya karena bibirnya dibungkap oleh bibir kissable Kibum.

Donghae memberontak namun tentu saja bukan Kibum namanya jika dia kalah dari Donghae. Tangannya menyusup ke dalam surai halus Donghae yang Kibum suka dengan aroma harum shampoo nya dan menekannya guna menahan kepala Donghae dan mempertahankan ciumannya. Kibum mulai melumat bibir Donghae dengan lembut, sangat lembut. Hal itu menyebabkan kaki Donghae terasa lemas dan tenaganya hilang seketika, menunjukkan betapa mahirnya seorang Tan Kibum dalam hal berciuman.

Donghae pun mengalah, ia kalungkan kedua tangannya di leher Kibum untuk menopang berat tubuhnya. Kibum tersenyum penuh kemenangan di balik lumatan-lumatan yang ia berikan pada Donghae. Dimiringkan kepalanya bertujuan untuk mempermudah dirinya mengeklaim bibir manis Donghae yang tak pernah berubah sejak terakhir kali ia rasakan –tetap manis. Donghae mulai membalas pagutan Kibum yang lidahnya sudah berhasil menerobos masuk mulut hangat Donghae.

Tangan nakal Kibum mulai berani meraba punggung Donghae lalu turun meremas pantat kenyal Donghae. Sesekali Kibum memberi celah pada ciumannya yang bisa dibilang –sangat- bergairah, sekedar memberi ruang bagi Donghae untuk tetap dapat bernapas dengan baik. Puas dengan pantat Donghae, kini tangan Kibum beralih pada bagian depat tubuh Donghae –lebih tepatnya dada Donghae- sementara tangan lainnya masih setia tersesat dalam surai lembut Donghae.

Donghae terperanjat ketika dirasakannya pijatan-pijatan pelan pada area sensitive di dadanya. Dan bisa dihindari lagi, lenguhan nikmat pun terlontar dari bibir Donghae, serasa ada ribuan kupu-kupu beterbangan di dalam perutnya. Donghae berusaha keras mengembalikan kesadarannya, didapatinya tangan Kibum yang telah berhasil menerobos masuk ke dalam bajunya.

'Ani! Sadar Lee Donghae! kau tidak boleh membuat keadaan semakin rumit.' Inner Donghae.

Didorongnya sekuat tenaga dada bidang Kibum namun sia-sia. Apa daya, kekuatan Donghae memang lebih kecil dibandingkan Kibum, jelas saja ia kalah. Donghae tak kehabisan taktik. Digigitnya bibir Kibum sekuat mungkin sehingga Kibum menjauhkan bibirnya dari bibir Donghae dan menyisakan ringisan kecil dari Kibum.

'Plak'

Donghae mendaratkan tangannya dengan sangat keras di pipi Kibum yang berkulit seputih salju.

"Jangan lakukan hal itu lagi, Kibum-ssi. Kita tidak memiliki suatu hubungan yang berarti." Donghae memandang tajam Kibum setelah menemparnya.

Dengan segera dirapikannya pakaian dan tatanan rambut yang sedikit berantakan dan berlalu pergi menekan gejolak rasa yang bergemuruh di dadanya, menyisakan Kibum yang memandang nanar punggung Donghae yang telah menorehkan luka baru untuknya.

"Aku tidak akan pernah menyerah atas dirimu, Hae-ya."

.

.

.

Donghae mendongakkan sedikit kepalanya untuk menahan air mata yang tengah menggenang di kedua pelupuk matanya. Ia kembangkan kembali senyumnya, mencoba menstabilkan emosinya.

'Hwaiting Lee Donghae!' batinnya menyemangati dirinya sendiri, berusaha mengumpulkan kekuatan untuk melawan keinginan hati kecilnya.

'Sret'

Donghae dikejutkan dengan sebuah tangan yang menggenggam tanganya dan menghentikan langkahnya di balik tikungan. Sosok itu langsung memeluk Donghae erat.

"Aku merindukanmu, noona." Bisik suara yang sudah sangat Donghae hafal.

"Kyu-ah, lepas! Ini di kantor." Pinta Donghae.

"Biar saja orang-orang melihatnya." Ucap Kyuhyun acuh.

"Jangan kekanakan, Kyu, profesionallah." Dengan berat hati Kyuhyun menuruti keinginan Donghae –melepas pelukannya.

Donghae menengok kanan-kirinya. 'Untung saja sepi,' napasnya berhembus lega.

"Sedang apa kau di sini?" tanya Donghae –dibuat- kesal pada Kyuhyun.

"Mencari yeojachinguku." Jawab Kyuhyun sok innocent.

"… huufh, Cho sajangnim itu sangat kejam. Dia hanya bisa memerintah."

"Kau benar. Temperamennya buruk sekali. Mengerikan."

"Dasar diktaktor."

Kyuhyun dan Donghae menangkap perbincangan pegawai Kyuhyun. Hal itu sukses membuat mood Kyuhyun menjadi tidak baik dan membangkitkan kekesalannya. Kyuhyun hendak menghampiri yeojadeul penggosip itu namun tangannya ditahan Donghae.

"Kyu." Donghae menatap Kyuhyun dengan mata yang seolah berkata 'gajima, biarkan saja' lalu diarahkannya kedua tangannya ke telinga Kyuhyun.

"Jangan dengarkan, eoh?" kata Donghae disertai angelic smile nya yang mampu mengurung kembali iblis dalam diri Cho Kyuhyun, suara Donghae masih bisa menembus gendang telinganya.

"… Lee Donghae. Aku yakin dia bisa bekerja di sini dengan memanfaatkan hubungannya dengan sajangnim."

"Apa yang dia iming-imingi pada sajangnim ya?"

"Tentu saja tubuhnya, apalagi."

"Apa yang sajangnim lihat dari dirinya? Banyak yeoja cantik dan seksi di luar sana dengan asal-usul keluarga yang jelas. Tidak seperti dia yang sebatang kara."

"Sekretaris Lee? Malas sekali aku memanggilnya seperti itu. dia lebih cocok menjadi office girl."

"Aish! Dia benar-benar memuakkan. Tidak pintar tapi sok benar. Selalu tersenyum untuk menyembunyikan keburukannya."

"Benar-benar yeoja licik bermuka dua."

Donghae menundukkan wajahnya. Kata-kata itu sukses mencabik-cabik hati Donghae. Ia menggigit bibir bawahnya untuk menahan isakan yang ingin keluar, pandangannya buram dikarenakan cairan bening yang sudah berkumpul siap meluncur. Apa mereka menyalahkan keadaan Donghae yang yatim piatu? Donghae pun tak ingin mengalaminya, tak ingin kehilangan orang tuanya di usia belia. Apa ia harus menyalahkan takdir? Kyuhyun pun melakukan hal yang sama seperti yang Donghae lakukan pada dirinya –menutup telinganya- tapi kata-kata keji itu tetap mampu menerobos ke gendang telinganya.

"Jangan dengarkan. Semua itu bohong. Kau yang terbaik." Hibur Kyuhyun. Tentu saja Kyuhyun memilih Donghae menjadi sekretaris pribadinya bukan hanya semata-mata Donghae kekasihnya, melainkan karena kemampuan Donghae. Yah walaupun terselip alasan lain Kyuhyun yaitu ingin terus bersama Donghae, tapi selama ini kinerja Donghae dinilai bagus.

Kyuhyun tidak tahan lagi. Tanduk iblisnya tumbuh, amarahnya telah sampai di ubun-ubun. Kyuhyun bisa menerima cercaan yang tertuju pada dirinya –dengan Dongahe yang mendamaikan hatinya tentunya- tapi jika menyangkut Donghae, Kyuhyun tidak bisa mentoleransinya. Tidak ada yang boleh menghina, menjelekkan, mencemooh (sama makna-_-) dan menyakiti hati yeoja yang amat ia cintai. Kyuhyun bersumpah akan langsung menendang keluar –memecat- penggosip-penggosip itu dari perusahaannya.

Dengan wajah garang dan amarah yang telah membuncah, Kyuhyun hendak menghampiri mereka, mencaci-maki mereka, meluapkan kemurkaannya. Tapi kembali tangannya digenggam oleh Donghae yang mencegahnya.

"Gwaencahana." Ucap Donghae lirih dengan suara sedikit parau.

"Mereka tidak bisa dimaafkan." Kyuhyun mencoba tetap lembut pada Donghae.

"Aku baik-baik saja." Donghae mendongakkan kepalanya. Menampakkan senyumnya, senyum terpaksa yang tersirat kepedihan, dan tak lupa kedua matanya yang telah berair. Sekuat apapun Donghae menahannya, pada akhirnya air matanya terjatuh juga.

"Uljima." Kyuhyun menghapus air mata Donghae dengan lembut. Hatinya sungguh sakit melihat malaikatnya terluka seperti itu.

Kyuhyun kembali ingin melangkah pergi, menghampiri mereka lalu membungkam mulut berbisa mereka. Namun kembali Donghae mencegahnya.

"Kyu." Donghae menggelengkan kepalanya memohon pada Kyuhyun dengan mata polosnya yang tampak sendu yang tidak bisa Kyuhyun tolak dan mampu meluluhkan kekerasan hatinya.

Kyuhyun mendengus sebal, ia mengalah pada Donghae. Dikecupnya kening Donghae penuh cinta, ingin menyampaikan segala rasa cinta dan sayang tanpa akhir yang Kyuhyun punya pada yeoja berhati malaikat itu. sementara Donghae memejamkan matanya menikmati sentuhan dari namjachingunya itu.

"Saranghae." Kyuhyun mengakhiri kecupannya dan menatap Donghae lembut seraya menampilkan senyum tulusnya.

.

.

.

Donghae menepukkan kedua tangannya, senyum puas terpatri di bibir tipis nya. Dipandanginya maha karya yang tengah tersaji di hadapannya. Akhirnya Donghae berhasil menyelesaikan misinya membuat strawberry cheese cake yang memakan hingga tiga jam dan tak lupa dengan beberapa fail product yang dihasilkannya. Donghae melangkahkan kakinya ke ruang tamu di mana Kyuhyun tengah menunggunya sambil menonton televise di Minggu sore itu.

"Kyu, cakenya sudah ja- YA TUHAN KYUHYUN!" kata-kata Donghae tidak terselesaikan dan digantikan dengan pekikan histerisnya.

.

.

.

T~B~C

.

.

.

Kok sepi? *tengok kanan-kiri*

Krik

Krik

Eotteohkae?

Tambah aneh ya? tambah jelek? Tambah membosankan?

Jangan salahkan diriku!

Hehehe..

Painfully Loving You sudah jadi, aku update di blog nya temenku –lirik Mea Hae- dikarenakan isi ceritanya yang bikin aku minder, tidak pantas untuk dibaca. Setelah lebaran kalau ada waktu akan aku update. Nggak janji tapi ya… *ditimpuk readers*

Ada yang menanti My Only Girl? ff itu terbengkelai karena belum menemukan konflik yang hot untuk diteruskan. Sebenarnya kalau dibuat END juga sudah bisa. Donghae kan sudah melahirkan.

Balasan Review :

Isfa. Id : eonni maunya gitu deh.. *aku juga kok, eon.. hehehe*

Mrs. Kim : gimana ya? ini sudah lanjut, chingu..

Ryani : mian nggak bisa lanjut kilat, Donghae nya belum mau hamil tuh. Hehe..

Ika. zordick : carikan siapa ya? Bunny Ming?

MinahHaeELF : haha, mian mengganggu puasamu, chingu.

Cloudyeye : peran tambahan buat Kyu? *mikir2* ini sudah lanjut.

Evil Thieves : KyuHae ya? kita lihat nanti ya.. *nyengir kuda*

Cicyjarje : makasih sudah suka cerita gajeku. Harga Donghae berapa? Kalau murah aku mau beli #plak *ditendang Donghae sampai kutub utara*

DS : aku nggak bosen baca ocehanmu, chingu.. nantikan saja dugaan chingu benar atau nggak. Hehehe..

Kika is back : aduh jangan lumutan dong, chingu, nanti dimakan ulet lho(?) ff lain? Yang mana ya? *sok pabbo*

Cloud3024 : ini sudah lanjut. Hehehe..

MISS : wah, baca marathon ya? makasih.. aku juga suka ocehan panjangmu, chingu, suka suka suka. Hehehe..

Lullu48129 : nasib Kyuhyun ya? nantikan saja ne?

Dewi : sekarang update nya. Hehehe. Aku juga mau secepatnya mengakhiri ff ini. mian update nya lama.

Rehaefy : panas ya? sini aku kipasin. Hehehe..

Aniimin : jangan bingung, chingu, tunggu aja chap selanjutnya ne? hehehe

Raihan : ne, choneun Kim Eun Byeol imnida.. bangapseumnida, chingu^^ ini sudah lanjut..

Hyukssoul : wah, makasih sudah baca ff gajeku, eonn^^ KiHae nggak ya? *ditendang eonnie*

Runashine88 : sudah ada kan scene yang chingu mau –lirik atas- gomawo atas semangatnya..

#ngos-ngosan habis balas review, hehehe

Gomawo yang sudah bersedia review *peluk kalian satu-satu*

Eun Byeol terlalu banyak ngoceh ya? mianhae..

Mau protes?

Silahkan…

Sampaikan pada Eun Byeol ne?

Pay pay!