Saat masa laluku perlahan mulai menepis

Dan kita yang mulai menorehkan cerita baru

Mengapa harus ada masa lalumu yang datang mengusik?

.

.

This Love

Disclaimer: cerita ini punya Flow & Hana, member NCT punya Tuhan, SM dan orang tua mereka

Warnings: Jaeyong, Top! Jaehyun, Bottom! Taeyong, slight Yuten, typo(s), BL, DLDR!

(tolong AN-nya dibaca sampai akhir ya guys. Ada pemberitahuan penting)

.

.

Flashback

(Mark POV: ON)

Tujuan awal yang ingin pergi ke dapur harus kutelan bulat-bulat saat melihat Taeyong-hyung masuk ke kamarnya dan menutup pintunya kemudian. Perlahan aku mengendap-ngendap mendekati kamarnya. Menempelkan telingaku ke daun pintu, mencoba mencari tahu apa yang sedang terjadi.

Rasa penasaranku ini tidak akan bangkit jika tidak ada hal yang terlihat menarik ataupun aneh. Dan malam ini Taeyong-hyung berhasil membuatku penasaran dengan penampilannya yang terlihat rapi. Bukan setelan resmi dan lebih terkesan kasual, memangnya Taeyong-hyung mau pergi kemana? Tadi pagi aku sudah bertanya pada Chanyeol-hyung dan dia memberitau bahwa Taeyong-hyung tidak ada jadwal hari ini.

Pasti ada sesuatu yang Taeyong-hyung tidak ceritakan kepadaku, oh, lebih tepatnya sesuatu yang aku lewatkan karena nyatanya dia jarang bercerita kepadaku yang membuatku harus mati-matian mencari informasi tentang Taeyong-hyung sendiri.

Ya! Jung Jaehyun apa kau sedang mencoba membodohiku?

Itu suara Taeyong-hyung, aku mengernyitkan dahi heran. Apa telingaku ini tidak salah dengar? Taeyong-hyung baru saja menyebut Jung Jaehyun. Apa Jaehyun-hyung yang itu? Apa yang mereka bicarakan?

Oke, jika ini diteruskan pertanyaan lain pasti akan bermunculan di otakku satu per satu. Akan lebih baik jika aku mendengarkan apa yang ia bicarakan dan menemukan jawabannya.

Baiklah, aku akan ke sana lima menit lagi. Awas saja kalau kau berbohong.

Itu suara hyung lagi. Buru-buru aku menegakan tubuhku dan memasang wajah biasa. Tak ada waktu untuk bersembunyi karena gagang pintu didepanku sudah diputar pertanda pintu ini akan dibuka oleh seseorang sebentar lagi.

Ceklek.

"Ya!" Taeyong-hyung terlihat kaget dengan keberadaanku di sini.

"Hai, hyung." sapaku kikuk.

"Apa yang sedang kau lakukan di sini? Aku hampir jantungan melihatmu!" Hmmm sepertinya hyung akan mulai dengan omelannya.

"Aku tahu, dongsaeng-mu ini memang tampan jadi tidak usah terkejut begitu melihatku, hyung."

Bletak!

"Aw sakit, hyung!" aku menjerit. Megaduh dan mengusap kepalaku yang baru saja dipukul oleh Taeyong-hyung. Kali ini tidak terlalu keras tapi sudah cukup membuatku merasakan yang namanya rasa sakit.

"Percaya dirimu tinggi sekali, huh. Bahkan kau tidak menjawab pertanyaanku, kuulangi sekali lagi ada apa kau berdiri di depan kamar hyung, Mark? Hyung tidak punya banyak waktu untuk berdebat denganmu."

Aduh bagaimana ini, pertanyaan yang sudah aku duga akan terlontar tapi aku sama sekali belum mempersiapkan jawabannya. Seluruh alat indraku kini bekerja ekstra, mencari sesuatu yang bisa dijadikan objek alasan yang dapat diterima oleh Taeyong-hyung. Hingga suara tetesan air dari dalam kamar hyung menghadirkan sebuah ide di pikiranku. Terima kasih kran air sudah bersedia menjadi inspirasiku kali ini.

"Ah, kran air di kamar mandi milikku sepertinya rusak hyung, airnya tidak bisa keluar. Padahal aku sedang kebelet sekali untuk—"

"Oke-oke pakai saja kamar mandi hyung dulu, besok kita panggilkan tukang ledeng." Setelah berucap demikian, hyung buru-buru berjalan melewatiku. Seseorang sedang menunggunya di luar dan aku yakin seratus persen jika orang yang menunggunya itu pasti Jaehyun-hyung.

"Ngomong-ngomong hyung mau kemana?"

"Bukan urusanmu."

Jleb.

Aku hanya bisa mendengus mendengar jawaban itu. Selalu seperti itu, yang membuatku harus berusaha keras mencari tahu sendiri.

Ya, mencari tahu. Begitu tersadar dengan apa yang harus kulakukan, cepat-cepat aku berlari ke kamar, mengambil coat hitam hadiah ulang tahun dari salah satu teman di sekolah, namanya Donghyuck. Saat melewati ruang tamu aku menyambar kunci mobil milik Taeyong-hyung, persetan dengan larangannya yang tidak memperbolehkanku membawa mobil. Padahal kan aku sudah bisa, tapi Taeyong-hyung selalu melarangku dengan beribu alasan yang sama; kau masih kecil, belum cukup umur.

Ah, sudahlah, mengingat itu hanya akan membuatku kesal saja dengan sifat overprotective Taeyong-hyung.

Dapat kulihat Taeyong-hyung yang sedang berbicara dengan seseorang. Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas karena tubuh Taeyong-hyung yang membelakangiku itu menutupinya. Dengan segera aku menuju ke garasi, menyalakan mobil milik Taeyong-hyung.

Saat mobil yang dinaiki Taeyong-hyung dan orang itu mulai melaju aku pun mulai mengikutinya dari belakang. Ah, aku akan memanggilnya Jaehyun-hyung saja dari sekarang, orang itu pastilah Jaehyun-hyung, instingku tidak pernah salah. Jika itu bukan Jaehyun-hyung akan kubuat dia menjadi Jaehyun-hyung.

Dengan tetap menjaga jarak, aku mengikuti mobil Jaehyun-hyung. Sesekali mobil itu berhenti di lampu merah, aku masih belum bisa menebak akan kemana mereka pergi.

Mobil Jaehyun-hyung berhenti di pinggir jalan, pintu sebelah kanannya terbuka yang berarti itu Taeyong-hyung yang akan keluar. Benar saja, Taeyong-hyung terlihat mendatangi penjual jajanan di sana. Entah apa yang ia beli, aku tidak tertarik untuk itu.

Mobil Jaehyun-hyung melaju kembali, membelah jalanan kota Seoul yang terlihat ramai di malam hari. Sebentar-sebentar sepertinya aku tahu jalan ini, bukankah ini jalan menuju Lotte World? Aku memang sudah pernah ke sini sebelumnya, waktu itu bersama dengan Donghyuck, Jeno dan Jaemin.

Nah, benar kan dugaanku, mobil milik Jaehyun-hyung mulai memasuki kawasan Lotte World. Dengan segera kuparkirkan mobil milik Taeyong-hyung ini tidak jauh dari Jaehyun-hyung memarkirkan mobilnya.

Senyumku langsung mengembang ketika melihat siapa yang keluar dari pintu sebelah kiri. Jaehyun-hyung. Dugaanku 100% tepat. Bisa kulihat tangan Jaehyun-hyung yang menggenggam erat tangan Taeyong-hyung. Astaga apa mereka pacaran? Kenapa aku tidak tahu akan hal ini? Oke, aku tidak ingin menduga untuk masalah yang satu ini.

Lagakku sudah seperti Sherlock Holmes sekarang, mungkin pantasnya aku dijadikan sebagai rajanya paparazzi. Oh, buru-buru aku hilangkan pemikiran gila itu dan kembali fokus dengan pekerjaanku.

Mataku membulat sempurna, mulutku membuka lebar. Aku berani taruhan pasti wajahku sangat konyol sekarang. Jika Donghyuck melihatku sudah pasti dia akan memotretnya dan mempostingnya di akun sosial media miliknya. Jangan lupakan dengan caption yang begitu menggelikan. Ya ampun bisa-bisanya aku memikirkan bocah itu di saat seperti ini.

Kembali ke alasanku membuat ekspresi seperti itu tak lain adalah karena kehadiran sosok yang menghampiri Taeyong-hyung dan Jaehyun-hyung.

Bukankah itu Yuta-hyung? Sedang apa dia di sini? Bukankah seharusnya dia berada di Jepang? Mendadak aku menjadi cemas dengan Taeyong-hyung, tentu saja cemasku beralasan. Aku tahu betul apa yang terjadi dulu, kelewat mengerti malah dengan perasaan Taeyong-hyung.

Mereka berempat terlihat sedang terlibat dalam suatu pembicaraan. Aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas karena jarak yang memang tidak bisa dibilang dekat. Aku bilang berempat karena ada namja lain yang dibawa oleh Yuta-hyung. Dilihat dari gerak-geriknya aku menduga itu pasti kekasihnya.

Apa mereka akan melakukan double date? Astaga ini begitu menggelikan, aku tidak bisa berheti tersenyum membayangkannya. Berbicara mengenai Taeyong-hyung, aku yakin dia pasti baik-baik saja, lagipula ada Jaehyun-hyung di sisinya. Aku percaya Jaehyun-hyung pasti akan menjaganya.

Aku terus mengikuti kemana mereka pergi. Hingga mereka berpencar, Taeyong-hyung dan Jaehyun-hyung pergi bersama sedangkan Yuta-hyung bersama namja yang tidak aku ketahui namanya.

Aku mendengus geli, double date macam apa itu, mengapa mereka berpencar? Ini sih namanya pacaran sendiri-sendiri.

Sudah pasti pasangan yang aku ikuti adalah Taeyong-hyung dan Jaehyun-hyung, sebenarnya aku sedikit penasaran juga dengan Yuta-hyung. Sudah sangat lama kita tidak bertemu, dulu Yuta-hyung sangat baik kepadaku, sering mengajakku jalan-jalan bersama dengan Taeyong-hyung juga.

Tawaku tak kunjung reda, orang-orang pasti melihatku seperti orang gila sekarang. Keluar dari wahana rumah hantu bukannya ketakutan malah tertawa sendiri tidak jelas. Namun percayalah aku tidak gila, bagaimana bisa aku menahan tawaku ketika melihat Taeyong-hyung yang terlihat begitu ketakutan itu. Aku jadi heran, hyung-ku itu penakut sekali, sih. Terlalu banyak phobia dalam daftar kamus hidupnya.

Mereka menuju area ice skating, wah jika iya aku kasian kepada Jaehyun-hyung yang harus dengan sabar memegangi Taeyong-hyung selama bermain. Ya, Taeyong-hyung memang tidak terlalu mahir dengan permainan itu.

Aku pikir mereka akan masuk, tapi hal yang terjadi selanjutnya benar-benar diluar dugaanku. Taeyong-hyung menangis dan Jaehyun-hyung yang datang memeluknya. What happen?! Aku melirik sekitar mencoba mencari tahu sesuatu yang bisa dijadikan alasan.

Apa karena itu? Mataku memandang sepasang kekasih yang sedang berciuman di tengah area ice skating. Apa Taeyong-hyung iri? Jika iya, itu begitu memalukan dan tidak masuk akal. Aku melangkah lebih dekat ke area ice skating. Sekarang aku paham, ternyata pasangan itu adalah Yuta-hyung dan kekasihnya, pantas saja Taeyong-hyung menangis, setahuku hyung-ku itu memang belum bisa move on. Malam-malam saja kadang aku sering mendengar lagu milik Yuta-hyung diputar, tentu saja sumber suara berasal dari kamar Taeyong-hyung.

Melihat itu rasa simpatiku kepada Yuta-hyung lenyap sudah, tidak bisakah ia memikirkan perasaan hyung-ku barang sedikit? Aku kembali menolehkan wajahku ke arah Taeyong-hyung dan Jaehyun-hyung.

Tunggu, dimana Jaehyun-hyung? Kenapa Taeyong-hyung ditinggal sendirian? Oh astaga, jika Jaehyun-hyung berani menyakiti Taeyong-hyung aku akan membencinya melebihi rasa kesalku pada Yuta-hyung.

Untung saja kali ini dugaanku salah. Cukup ironis memang baru pertamakalinya seorang Mark salah memperkirakan, tapi aku senang karena Jaehyun-hyung kembali dan membawa Taeyong-hyung ke suatu tempat.

Cepat-cepat aku mengikuti mereka berdua jika tidak ingin berakhir dengan kehilangan jejak.

Comelot Carrousel?! Aku tidak percaya ini, Jaehyun-hyung mengajak Taeyong-hyung ke sini. Tapi mengapa begitu sepi, setauku ini salah satu wahana favorit yang paling banyak dikunjungi. Waktu itu saja aku harus mengantri saat pergi ke sini bersama Donghyuck, Jeno dan Jaemin.

Apa Jaehyun-hyung menyewa tempat ini untuk mereka berdua? Mengingat apartemennya yang mewah itu aku menduga Jaehyun-hyung pastilah orang yang kaya raya, dan tidak begitu masalah untuknya menyewa Comelot Carrousel ini.

Oh, sepertinya aku telah berubah menjadi fanboy mereka berdua malam ini. Aku tak henti-hentinya menjerit—tentu saja tidak terlalu keras—ketika melihat interaksi mereka berdua. Senyum tak pernah hilang dari wajah manisku ini. Ngomong-ngomong aku pasti terlihat sangat unyu sekarang.

WHHHHHAAATTTTTTTT! Aku tidak sedang bermimpi sekarang, kan!?

"Aw." Aku mencubit pipiku keras dan ini sakit, berarti ini nyata. Buru-buru aku merogoh saku coat yang aku kenakan dan mengambil ponsel hitam milikku di sana. Aku tidak mungkin melewatkan momen indah yang satu ini. Akan kujadikan ini sebagai alat untuk memeras Taeyong-hyung. Aku tersenyum puas membayangkannya, dengan ini Taeyong-hyung pasti akan menuruti semua permintaanku.

Pipiku memerah melihat mereka. Bagaimana tidak, Jaehyun-hyung mencium Taeyong-hyung dengan begitu intens. Setauku ini ciuman pertamanya Taeyong-hyung, entah bagi Jaehyun-hyung aku tidak mengetahuinya. Aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan tapi sepertinya Jaehyun-hyung sedang menyatakan perasaannya kepada Taeyong-hyung

"Terima... terima... terima..." Aku bergumam kecil, merapalkan kata yang sama berulang-ulang. Aku sedikit terkejut dengan Taeyong-hyung yang turun dari Comelot Carrousel dan meninggalkan Jaehyun-hyung sendirian di sana.

Apa Taeyong-hyung menolaknya? Jika iya, Taeyong-hyung begitu bodoh menolak namja yang mendekati kata sempurna seperti Jaehyun-hyung. Aku saja mau jadi pacarnya, sudah tampan, kaya, baik, romantis, astaga itu definisi dari idaman dan semuanya terdapat pada sosok Jaehyun-hyung.

Oke sepertinya aku harus menelan kekecewaan tidak bisa menjadi kekasih Jaehyun-hyung, karena Taeyong-hyung menerima Jaehyun-hyung. Itu terlihat jelas dari reaksi Jaehyun-hyung yang amat bahagia. Membopong tubuh Taeyong-hyung dan berteriak bahwa Taeyong-hyung menerimanya menjadi—astaga kenapa Taeyong-hyung membekap mulut Jaehyun-hyung, sih. Tapi tenang saja aku sudah tahu apa kelanjutannya.

Mmmm ngomong-ngomong tentang kekecewaanku tidak bisa menjadi kekasih Jaehyun-hyung itu sebenernya tidak benar juga sih, aku lebih senang jika Jaehyun-hyung bersama Taeyong-hyung. Lagi pula aku masih ada Donghyuck. Astaga pemikiran macam apa itu, kenapa lagi-lagi bocah itu merasuki pikiranku, aigoo.

Aku mengambil gambar mereka lagi. "Tidak menyesal aku mengikutimu sampai sejauh ini, hyung. Aku mendapatkan informasi yang sangat penting."

"Informasi yang sangat menguntungkanku." Aku bergumam sendiri, setelah itu aku berbalik. Hendak pulang tentu saja, kurasa sudah cukup sampai di sini peranku menjadi Sherlock Holmes. Aku harus tiba di rumah lebih dulu agar Taeyong-hyung tidak curiga tentu saja. Dan selama di perjalanan aku tak henti-hentinya tersenyum, acara berburuku hari ini mendapat tangkapan yang sangat besar. Puas? Tentu saja.

(Mark POV : OFF)

Flashback end

.

.

.

.

.

Malam semakin larut. Bulan semakin meninggi bertengger di antara bintang-bintang. Maka Jaehyun dan Taeyong memutuskan untuk pulang. Sebelumnya Jaehyun sudah mengirimkan pesan kepada Yuta di seberang sana kalau mereka akan pulang terlebih dahulu, dengan alasan karena Taeyong yang tiba-tiba tidak enak badan. Alasan klise, tentu saja.

Tapi mau bagaimana lagi? Mengingat mereka baru saja jadian dan mood Taeyong yang membaik tentu Jaehyun tak ingin hyung-nya yang satu itu menangis lagi. Dan beruntungnya ia karena Yuta mengiyakan dan tak mempersulit keadaan.

Jaehyun melirik sebelahnya. Dan menemukan Taeyong yang tertidur pulas di kursi mobilnya. Sepertinya beberapa menit menangis membuatnya mengantuk dan tanpa sadar jatuh tertidur dalam perjalanan. Jaehyun tersenyum geli. Dilihat dari sisi manapun wajah Taeyong akan selalu manis, bahkan saat ia tertidur pun dunianya tak akan pernah berpaling darinya.

Jaehyun dengan usil mendekatkan dirinya dan meniup telinga Taeyong, membangunkan si putri tidur yang tak kunjung bangun saat Jaehyun menghentikan mobilnya di depan rumah Taeyong.

"Ngh..." lenguh Taeyong, merasakan geli yang menghampiri telinganya. Matanya sontak terbuka dan menemukan Jaehyun yang... uh, kenapa tatapannya seperti ingin menerkamnya?

"Kita sudah sampai, hyung. Tidurmu nyenyak sekali, ya." Jaehyun memberinya smirk. Kontan Taaeyong merasakan panas menerpa kedua pipinya. Tapi ia berusaha menutupinya dengan melemparkan pandangan risih. "Astaga, Jung. Bisa tidak sih jangan membangunkanku dengan cara seperti itu? Kalau aku gagal jantung bagaimana?"

"Tidak mungkin. Lagipula, jantung hidupmu sekarang itu aku, hyung. Aku akan selalu berdetak di hatimu. Aku yang akan selalu mengisi kekosongan di hatimu."

Ya Tuhan. Debaran jantungnya malah semakin tidak bisa dikontrol. Ia malu sekali. Taeyong memilih membuang muka menyembunyikan rona merahnya setelah mendengar gombalan dari kekasih barunya. Jung Jaehyun satu ini ada-ada saja. "Sudah, ah. Aku mau turun. Selamat malam, Jaehyun-ie. Terima kasih untuk hari ini."

Taeyong sudah hampir membuka pintu mobil sebelum Jaehyun menariknya dan kembali mengecup bibirnya kilat. "Selamat malam juga, hyung. Aku mencintaimu."

Sesaat Taeyong terkejut karena tingkah anak yang satu itu, tapi untung saja dirinya bisa mengendalikan tubuhnya. "Ya-Ya. Aku juga mencintaimu."

Jaehyun tersenyum mendengar Taeyong. "Kali ini percayalah padaku. Aku tak ingin melihatmu bersedih lagi. Air matamu itu terlalu berharga untuk tumpah begitu saja, hyung." ucapnya. Sementara Taeyong menjadi terperangah sendiri. Ada sesuatu yang meletup-letup di dadanya tapi Taeyong tak tahu itu apa. Seolah udara dingin yang daritadi menerpanya menghilang begitu saja digantikan perasaan hangat yang menghampirinya.

Tapi Taeyong malah memajukan wajahnya dan membalas kecupan yang diberikan Jaehyun tadi. "Aku percaya padamu, Jaehyun-ie. Selalu. Akan selalu percaya padamu."

Kali ini ia berhasil keluar dari mobil tanpa halangan. Sebelum menutup pintu mobil Taeyong menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman kepada Jaehyun. Ah, jangan lupakan juga wajahnya yang semerah tomat saat menatapnya. "Hati-hati di jalan."

Jaehyun membalasnya dengan senyum tampan andalannya. Membuat Taeyong meleleh saat itu juga. "Hu'um. Nanti akan kuhubungi kalau sudah sampai apartemen, hyung."

Taeyong mengangguk. Lalu mobil hitam itu meluncur menembus jalanan yang sepi, meninggalkan Taeyong yang menatap dari belakang sampai mobil itu menghilang ditelan malam.

.

.

.

.

Taeyong baru saja menutup pintu rumah ketika Mark datang menghampirinya sambil melayangkan ekspresi jahil. "Bagaimana kencannya? Menyenangkan tidak?"

Taeyong mengerjap kaget melihat adiknya itu sudah berdiri di depannya. "Siapa yang berkencan?"

"Jangan bohong, hyung. Kau habis berkencan dengan Jaehyun-hyung, kan?" Mark menatap lekat-lekat hyung-nya itu. Sudut bibirnya masih membentuk seringai kecil. Kau tidak bisa membohongiku, hyung. Batinnya.

Taeyong menimang-nimang bagaimana adiknya yang satu ini tahu kalau dia pergi dengan Jaehyun. Lalu ia teringat kalau Mark punya hobi aneh yang membuatnya bisa dijadikan pusat informasi. "Ya! Kau pasti mengikutiku kan, Mark?!" Agaknya Taeyong tidak dapat menahan suaranya yang meninggi itu. Biarlah para tetangga sebelah mendengar teriakannya. Toh, mereka juga sudah biasa mendengarnya berteriak-teriak ketika menghadapi adiknya ini.

"Teehee. Soalnya heran saja hyung tiba-tiba pergi dengan pakaian biasa. Lalu saat kuikuti ternyata kau bersama Jaehyun-hyung. Lagipula hyung kan sudah lama tidak pergi dengan orang lain selain aku dan Chanyeol-hyung." kelakarnya sembari menatap kakak satu-satunya yang tengah menyilangkan tangan di atas dadanya itu.

"Dan ciumanmu dengan Jaehyun-hyung benar-benar luar biasa, hyung! Mesra sekali. Dan kau tidak menolak saat ia menciummu. Hahaha! Apa ada setan yang merasukimu saat kau bersamanya tadi, hyung?" Mark tertawa puas mengingat adegan dewasa yang diperankan kakaknya dengan Jaehyun di Lotte World. Pasalnya kakaknya yang tsundere akut itu jarang sekali menampilkan sisi manisnya di hadapan siapapun. Tapi sepertinya jika berhadapan dengan Jung Jaehyun lain lagi ceritanya.

Mark terus terbahak, tidak sadar bahwa ada hawa gelap yang perlahan menyebar di sekitarnya. Ia terlihat sangat menikmati saat-saat menggoda hyung-nya yang satu itu. Kapan lagi sih bisa ngetawain Taeyong-hyung?

"Mark Lee!" Habis sudah. Taeyong antara jengkel dan malu ketika tahu adiknya mengikutinya sampai melihat ia dan Jaehyun berciuman. Siapa yang tak menyangka kalau Mark nekat sekali seperti itu. Jadi ia memiting kepala adiknya itu sampai Mark jatuh terduduk di lantai.

"Aw! Hyung! Appo! Lepaskan akuuu!"

"Biar tahu rasa kau! Dasar adik kurangajar!"

Mark terus mengaduh kesakitan sambil mencoba merenggangkan lengan Taeyong yang melilit lehernya. Tapi tenaganya kalah. Lehernya seakan mau patah. Lalu Mark terpikir satu-satunya cara untuk mengalahkan kakaknya itu.

"Hyung, kalau kau tidak melepaskanku saat ini juga aku akan menebar foto ciumanmu dengan Jaehyun-hyung."

Taeyong membatu. "Apa?" Ia benar-benar terperangah dengan adiknya ini. Demi Dewa, remaja yang empat tahun lebih muda darinya itu benar-benar licik.

Sementara Mark menggunakan kesempatan itu untuk membebaskan diri. Tapi lehernya benar-benar nyeri sekarang.

"Ya! Dimana kau menyimpannya? Berikan padaku!" Mark dapat melihat kakaknya yang membulatkan kedua matanya. Aduh, ekspresinya lucu sekali.

"Kalau kau mau menghapusnya percuma saja, Taeyong-hyung. Soalnya sudah ku-copy ke berbagai folder di laptopku. Gyahahaha." Ia tertawa puas setelah mengucapkannya. Membuat Taeyong menggeram kesal dan akhirnya memilih untuk mengabaikan Mark dan berjalan terhentak-hentak menuju kamarnya.

Tawa Mark bahkan masih menggelegar setelah Taeyong membanting pintu kamarnya.

.

.

.

Begitu bertemu kembali dengan ranjang empuknya, Taeyong langsung menjatuhkan diri di sana. Menghirup dalam-dalam bau kamarnya yang sangat ia rindukan ketika ia letih. Haah… Mark Lee benar-benar membuatnya pusing. Setidaknya dengan berbaring di kasurnya mampu menghilangkan kedutan di kepalanya.

Hampir saja ia jatuh tertidur ketika ponsel di sakunya bergetar. Sebelum membuka layarnya Taeyong tahu itu pasti dari Jaehyun, sebagaimana Jaehyun memberitahunya tadi sebelum ia masuk ke rumahnya.

Tapi ia terkejut ketika menyadari itu bukanlah sebuah pesan, tapi telepon.

"Halo, hyung."

"Katamu tadi pesan, kenapa jadi telepon?" Taeyong mengangkat alisnya heran walaupun mereka tak bertatap muka.

"Aha. Apa kau tak tahu kita jarang menelpon satu sama lain? Baru pernah sekali lho, hyung." nadanya terdengar jenaka. Taeyong tak sadar bibirnya diam-diam membentuk seulas senyum.

"Ya... ya... aku tahu itu. Jadi, kau sudah sampai apartemenmu?" Taeyong dapat membayangkan Jaehyun sedang dalam posisi yang sama dengannya di apartemennya. Berbaring nyaman di kasur empuknya setelah acara kencan mereka.

"Sudah, hyung." Jeda sejenak sebelum suara Jaehyun kembali memenuhi pendengarannya. "Kau belum mengantuk, hyung?" Mendengar sahutan dari Jaehyun membuatnya menoleh ke arah jam di dinding. Taeyong tak menyangka sudah selarut ini.

"Belum. Kau sendiri?"

"Aku akan tidur setelah ini. Sebaiknya kau juga langsung tidur. Kau besok ada jadwal, kan? Aku harap tidurmu nyenyak, hyung." Taeyong hanya bisa terkikik geli mendengar perkataan Jaehyun. Kekasihnya pengertian sekali.

"Roger, Tuan Muda Jung Jaehyun. Kau juga sebaiknya tidur. Sudah malam. Semoga mimpi indah, Jaehyun-ie."

"Kau juga, hyung. Semoga kau memimpikanku. Aku mencintaimu." Ya Tuhan. Taeyong tak bisa menghitung berapa kali Jaehyun menyatakan cinta padanya. Terlalu banyak. Taeyong diam-diam memekik senang. Jung Jaehyun terlalu manis.

"Hmm. Nado saranghaeyo." Lalu sambungan dimatikan. Taeyong menghela napas sambil menerawang langit-langit kamarnya. Banyak hal yang terjadi malam ini. Mulai dari double date dengan mantan kekasihnya yang juga membawa mantan kekasih Jaehyun. Lucu sekali. Dunia ternyata memang sempit. Bagaimana bisa mereka semua dipertemukan dalam satu waktu dan satu tempat. Dan semuanya memiliki cerita masa lalu yang pahit.

Tapi Taeyong tak mau memikirkannya pusing-pusing. Jaehyun sudah bersamanya. Dan mengingat bagaimana reaksinya ketika bertemu dengan Ten takkan membuatnya khawatir karena Taeyong yakin Jaehyunnya pasti tak akan berpaling. Taeyong sangat optimis.

Lalu Taeyong merutuki dirinya sendiri ketika dia menangisi Nakamoto Yuta entah untuk yang keberapa kalinya. Dirinya benar-benar menyedihkan. Harusnya ia sadar begitu pertama kali bertemu dengan Jaehyun. Harusnya ia menyadari seberapa besar laki-laki itu mencintainya dengan tulus. Bukannya malah mengingat-ingat cinta pertamanya itu.

Ingatan Taeyong kembali pada saat Jaehyun akhirnya mengungkapkan perasaannya. Taeyong akhirnya dapat meluapkan rasa senangnya dengan menempelkan kedua bibir mereka. Menyalurkan perasaan masing-masing melalui beberapa kecupan di bibir. Dan Taeyong tak menyesal sama sekali kendati dirinya pernah yang mencium Jaehyun duluan. Blush.

"Aaah kenapa aku terus mengingat itu, sih?" racaunya sembari menyembunyikan muka merahnya dengan kedua tangannya. Padahal hanya ada dirinya sendiri di ruangan itu.

Lama-lama Taeyong jatuh tertidur. Tentu saja dengan harapan Jaehyun datang ke bunga tidurnya. Dan ia akan melupakan Mark kali ini. Biarlah ia bereskan masalah adiknya itu besok.

.

.

.

Jaehyun masih tersenyum tidak jelas seusai percakapannya dengan kekasihnya melalui ponsel. Dirinya berjingkrak-jingkrak di atas kasurnya seperti anak kecil, padahal tubuhnya bongsor begitu. Untung ranjangnya tidak ambruk. Ia tidak menyangka hari ini akan tiba. Laki-laki yang sudah sekian lama kau kagumi akhirnya jatuh ke pelukanmu. Luar biasa, bukan?

Bahkan Jaehyun menampar pipinya sendiri demi membuktikan bahwa apa yang dialaminya malam itu benar-benar nyata. Oh, uforianya tak berhenti di situ saja. Ia harus memberitahu Doyoung sekarang juga. Pasti dia akan terkejut.

Baru saja ia akan mengirim pesan ke sahabatnya itu sebelum nomor tak dikenal muncul di layar ponselnya. Jaehyun mengangkat alisnya bingung. Siapa yang mau menelponnya tengah malam begini?

Tapi Jaehyun tetap mengangkatnya juga. "Yoboseyo?"

Butuh beberapa detik untuk seseorang di sana membuka suaranya yang sedikit familiar. "Yoboseyo, Jaehyun-ah. Ini aku, Ten."

What? Jaehyun tak salah dengar, kan?

"Ten? Ada apa malam-malam begini?" Mau tak mau Jaehyun menjawabnya juga.

"Um… Ada satu hal yang ingin kuberitahu padamu."

Entah kenapa Jaehyun merasa jengah dengan namja asal Thailand itu. "Tak usah bertele-tele, Ten. Apa maumu?"

"Bisakah kita bertemu besok di café yang dulu sering kita kunjungi? Kau masih ingat, kan?" suaranya terdengar lirih.

Tentu saja Jaehyun masih ingat. Teramat ingat sampai setiap kali ia berkunjung ke sana akan selalu mengingatkannya pada Ten. "Ya. Memangnya ada apa sampai kau ingin bertemu denganku? Bukankah tadi malam kita sudah saling menyapa?"

"Aku ingin kita mengobrol lebih banyak. Sudah lama sekali kita tidak bertemu. Aku jadi rindu ketika kita masih akrab."

Kata 'rindu' yang diucapkan Ten terasa aneh di pendengarannya. Seperti sebuah sihir yang mencoba mengelabuhinya.

"Kita bisa mengobrol saat ini juga, Ten. Lagipula besok aku ada kuliah, sepertinya aku tak bisa memenuhi permintaanmu itu." ucap Jaehyun memberi alasan. Tapi ia benar-benar ada kuliah besok siang.

"Kumohon, Jaehyun. Sekali saja. Aku akan menunggumu jam tiga sore. Ah, jangan ajak Taeyong, ya. Aku juga tidak akan mengajak Yuta-kun."

"Tapi, Ten–"

"Pokoknya akan kutunggu kau di sana. Selamat malam, Jaehyun-ah." Lalu sambungan diputus begitu saja.

Argh. Jaehyun mengerang frustasi sambil mengacak-acak rambutnya kasar. Kenapa Ten jadi keras kepala? Tidak bisakah ia hidup tenang bersama Taeyong saat ini?

Pandangannya sontak saja tertuju pada poster kekasihnya yang masih menempel indah di dindingnya. Baru sebentar ia menelpon Taeyong dan saling mengucapkan kalimat-kalimat manis. Tapi Ten menghancurkan segalanya dan membuat urat-urat pelipisnya berkedut.

.

.

.

Hari itu Jaehyun bimbang. Apakah ia akan datang ke tempat yang diminta Ten atau tidak. Kuliahnya baru saja selesai dan masih ada waktu setengah jam sebelum waktu yang ditentukan Ten.

"Kau tidak pulang?" Sebuah suara mengagetkannya. Tak terasa ternyata ia melamun saat mahasiswa yang lain memutuskan untuk meninggalkan ruang kelas setelah sang dosen menyudahi waktu kuliah mereka.

"Tidak. Kau duluan saja, Doyoung. Taeil-hyung pasti sudah menunggumu. Aku akan tetap di sini sebentar."

Doyoung memukul bahunya pelan. Dan Jaehyun bisa melihat rona kemerahan menjalar di wajah sahabatnya itu. "Tahu saja kau. Ah! Biar kutebak kau mau berkencan dengan Taeyong-hyung, ya? Ciye ciye ciye." Sahabatnya itu memang sudah tahu perihal hubungannya dengan Taeyong sekarang. Tadi Jaehyun sudah menceritakan apa yang terjadi semalam. Kontan saja Doyoung meminta traktiran pada temannya itu.

Dan dasar sok tahu sekali. "Tidak, bodoh. Lagipula Taeyong-hyung sedang ada pemotretan sekarang. Jadi aku tidak bisa mengajaknya pergi. Sudah. Pulang sana. Hush hush!" Ia mengibas-ngibaskan tangannya di hadapan Doyoung. Membuat pria kelinci itu memanyunkan bibirnya dan bergumam 'Iya, iya, aku pergi. Cih.'

Setelah Doyoung pergi Jaehyun memain-mainkan ponselnya. Membuka kontak pesannya dengan Taeyong dan mengetik sederet kalimat di sana.

To : Taeyong-hyung

Hyung, kau sudah selesai?

Butuh beberapa menit sampai sebuah balasan ia terima.

From : Taeyong-hyung

Sebentar lagi aku selesai. Memang kenapa?

Jaehyun tersenyum, jari-jarinya menyentuh layar dan mengetik sesuatu.

To : Taeyong-hyung

Aku kangen, hyung.

Ya, semenit saja tidak melihat kekasihnya membuatnya rindu setengah mati. Pasangan yang baru kasmaran memang begitu. Dasar.

From : Taeyong-hyung

Aish. Padahal kemarin kita baru saja berkencan. Masa sudah kangen, sih?

To : Taeyong-hyung

Tapi aku benar-benar kangen, hyung. Jangan-jangan kau tidak rindu padaku? :(

Sebuah emoticon cemberut menjadi pelengkap. Padahal nyatanya Jaehyun sedang tersenyum sekarang. Menggoda pacarnya ini memang sangat menyenangkan.

From : Taeyong-hyung

Bukan begitu. Aku juga merindukanmu. Tapi aku tidak sepertimu yang langsung menyatakannya seperti itu.

Sudah ya, Jaehyun-ie. Setelah ini pemotretan terakhirku. Nanti kita bisa mengirim pesan lagi sampai puas. Annyeong~

Jaehyun tak henti-hentinya menatap huruf-huruf yang ada di layar ponselnya itu. Sungguh Taeyong-hyung merindukannya? Dan lihat itu. Dia tsundere sekali. Jaehyun jadi gemas ingin mencubit pipinya kalau mereka bertemu.

Jaehyun jadi teringat lagi tentang percakapannya dengan Ten tadi malam. Jaehyun sedikit khawatir kalau Ten akan tetap menunggunya walaupun ia tak datang. Jadi ia memutuskan untuk mengiyakan permintaan Ten, dan bergegas ke tempat yang sudah dijanjikan.

.

.

.

Jaehyun baru saja tiba di café itu ketika hujan tiba-tiba turun dengan derasnya. Jaehyun menilik kursi-kursi yang ada di sana dan menemukan Ten dengan pakaian merahnya tengah menatapnya. Langsung saja ia menarik kursi dan mendudukkan pantatnya di sana.

Jaehyun tahu ia terlambat lima belas menit dan Ten tersenyum aneh kepadanya. "Aku bersyukur kau mau ke sini, Jaehyun."

Jaehyun pun menjawab, "Ya. Berterimakasihlah kepada jadwal kuliahku yang selesai lebih awal."

"Ah, begitu ya. Maaf kalau aku memaksamu ke sini. Tapi kita benar-benar harus membicarakan ini." Jaehyun dapat menangkap tingkah laku Ten yang gugup. Ia meremas-remas kedua tangannya di atas meja. Matanya juga sedikit-sedikit melirik seluruh café, seperti takut ada yang datang. Apa dia khawatir Yuta akan melihat mereka?

"Hei, Ten. Darimana kau dapat nomorku?" Jaehyun memilih untuk menanyakan sesuatu yang sedari tadi malam mengganggu pikirannya.

"Dari Yuta. Sebenarnya aku merencanakan ini diam-diam. Aku takut kalau Yuta curiga padaku."

Benar dugaannya. Tapi untuk apa dia menyembunyikannya?

Keheningan melanda mereka sampai seorang waiter menghampiri meja mereka dan menanyakan pesanan. "Greentea milkshake dan mocchacino latte." ucap Jaehyun asal tanpa menanyakan Ten apa yang ingin ia pesan. Waiter itu mengangguk dan meninggalkan mereka berdua. Café jadi terasa hening kembali. Padahal hujan sudah mulai reda. Walaupun rintik-rintik kecil masih jatuh ke tanah.

"Jaehyun-ah." panggil Ten. Jaehyun hanya menjawabnya dengan gumaman. Ten yang melihatnya tersenyum sedih. "Aku tahu kau pasti membenciku. Aku sadar aku seharusnya tak melepasmu dulu. Aku sungguh menyesal. Aku…"

"Aku tak membencimu, Ten." potong Jaehyun.

"Tapi kenapa kau jadi dingin, Jaehyun?" terdapat nada getir dalam suaranya. Ten berharap-harap cemas kalau laki-laki di hadapannya ini makin bersikap dingin kepadanya.

Sementara itu Jaehyun menghela napasnya berat dan angkat bicara. "Dengar, Ten. Kau sudah memiliki Yuta-hyung. Dan aku memiliki Taeyong-hyung. Yuta sangat mencintaimu, baik aku dan Taeyong tahu itu dari caranya menatapmu." Diseberangnya, Ten makin menunduk. "Kau tidak boleh berbuat jahat pada kekasihmu itu. Sadarlah, Ten. Yuta-hyung adalah yang terbaik untukmu. Bukan aku."

Tiba-tiba Ten menggenggam tangannya erat, membuatnya terkejut. "Apakah tidak ada kesempatan untukku? Apakah kita tidak bisa bersama lagi?" Ten menahan suaranya agar tidak terdengar seperti ingin menangis.

"Ten!" Jaehyun sebenarnya tidak ingin membentaknya. Tapi sikap Ten yang seperti itu membuatnya mau tak mau memarahi pria berwajah manis itu. Tangannya gantian menyentuh tangan Ten, mencoba menyadarkannya dengan sapuan halus di kulit putihnya. "Kau tidak mencintaiku lagi, Ten. Kau mencintai Yuta-hyung. Kau mencoba menutupi masa lalu kita dengan ungkapan-ungkapan barusan. Hubungan kita sudah berakhir sejak lama."

Bahu Ten bergetar. Air mata perlahan turun dari wajahnya. Dan itu membuat Jaehyun salah tingkah.

"Ya ampun. Tolong jangan menangis. Aku tahu kata-kataku terdengar jahat. Tapi itulah yang sebenarnya terjadi, Ten." Jaehyun mencoba menenangkannya dengan mengusap air mata Ten dengan sapu tangan yang dibawanya. Menghapus setiap jejak air mata yang mengalir di sana.

Jaehyun menatap Ten lembut. "Jangan begini, Ten. Yuta-hyung tidak akan senang kalau ia tahu kau menangis. Apalagi kalau dia tahu aku yang jadi penyebabnya. Dia benar-benar mencintaimu, Ten." Setidaknya setelah itu Ten berhenti menangis, namun ia masih sesenggukan. Jaehyun menghela napas lega.

Kata-kata Jaehyun berhasil menohok hatinya. Ia tidak mengerti dengan perasaannya sendiri. Kadang ia memang masih mendambakan Jaehyun. Tapi mengingat setiap detik yang telah ia lewati bersama Yuta membuatnya tersenyum tipis. Ketika Yuta selalu ada di sisinya ketika ia tinggal di Jepang. Ketika Yuta selalu berhasil membuatnya tertawa dengan leluconnya. Dan betapa romantisnya pria Nakamoto itu ketika bersamanya. "Aku… akan mencoba melupakanmu, Jaehyun-ah. Aku akan kembali pada Yuta-kun."

Ten menampilkan senyum tipisnya. Refleks Jaehyun juga ikut tersenyum melihatnya. Satu masalah selesai sudah. "Setelah ini kau harus bilang ke Yuta-hyung bahwa kau mencintainya. Buat ia percaya padamu, Ten." Ten mengangguk mengiyakan.

.

.

.

"Haaah. Kapan gerimisnya berhenti?"

"Hanya Tuhan yang tahu."

"Ish, Chanyeol-hyung apa-apaan, sih. Kalau itu sih aku juga tahu." Taeyong memanjukan bibirnya. Manajernya memang aneh. Apalagi telinga lebarnya itu. Membuatnya makin mirip karakter Yoda dari film Star Wars yang pernah ditontonnya.

Saat ini mereka sedang di perjalanan pulang sehabis pemotretannya untuk sebuah majalah. Akhir-akhir ini Taeyong memang sering diminta berpose untuk mengisi di majalah bulanan. Dan manajernya tentu setuju-setuju saja menggunakan artisnya untuk model sampul majalah.

Tapi sore ini perjalanan mereka dihiasi dengan rintik-rintik hujan yang membasahi kota Seoul. Dan Taeyong benci hujan. Sekecil apapun tetesnya jatuh dari langit. Hujan membuatnya terasa lemah. Hujan membuatnya merasa sedih.

Terlalu fokus memperhatikan jalanan ketika mobil yang membawanya berhenti karena lampu merah, atensinya tiba-tiba melekat pada sebuah café di pinggir jalan. Dan matanya membulat ketika melihat dua laki-laki yang saling menyatukan kedua tangan mereka di atas meja dari balik kaca mobil. Mereka terlihat mesra. Apalagi ketika salah satunya menyentuh pipi laki-laki lain dan tersenyum lembut padanya. Ya Tuhan. Taeyong tak salah lihat, kan?

Apa kekasihnya itu memutuskan untuk kembali pada orang yang mereka temui tadi malam? Apa ungkapan-ungkapan mesra dan ciuman yang saling mereka bagi sudah tak ada artinya? Apa ia mulai dilupakan?

Apa ini? Kenapa ada sesuatu yang hangat mengalir dari kedua matanya? Pandangannya jadi buram.

"Jaehyun-ie…"

Jantungnya seperti ditusuk bilah tajam. Taeyong jadi makin benci hujan.

.

.

TBC


AN:

Annyeong~

oh ya dari review yang kita baca, chap kemarin pada nebaknya Hana yang buat ya? kok ga ada yang nebak Flow si? hahaha XD padahal ya kemarin Flow yang buat loh, makanya an sama balesan reviewnya gila banget XD

oke lupakan masalah kemarin, This Love kali ini akan dibawakan oleh duo kesayangan yang lagi baper2nya sama jaeyong. Flow dan Hana~

oke Flow duluan deh ya yang ngomong hihihi. jadi buat yang kangen sama dede Mark, di sini udah kita buatin spesial Mark pov loh. ini juga gara2 Flow yang lagi tergila-gila banget sama Mark, abis unyu banget hohoho. gimana tanggapan kalian tentang album nct 127? Flow suka semuanya~ hacep2 suka suka suka XD dan tentang nct life sama smtown lemarin mungkin Hana akan nyerocos lebih banyak :p

Hello everyone, this is Hana! wkwk kalian jangan heran kenapa lama ga update karena chap ini diawalin sama Flow dan diakhiri sama Hana. jadi gitu deh :P

karena Hana lebih ngutamain fg-an dan ngebaperin otp moments jadi makin sulit buat nulis disaat-saat itu hiks. Terus liat isi twitter smtown doang jadi sedih hiks kapan gue bisa nonton konser. dan pas nct life uri mommy ty nangis ya ampun syit hampir ikutan nangis. apalagi yg nct life in seoul ga nguatin banget nangisnya. bayangin abis itu jae nenangin dia dan meluk2 ty biar ga nangis lagi uhuhuhu. apalagi banyak yg ngeshare soal jae yg pernah bilang kalo ty itu sempurna di nct on air show xDDD baper abiss

udah deh drpd kepanjangan mending langsung ke balesan review~

Katelunya Poop: awww makasih udah baca, telat gpp kok dari pada engga sama sekali hihihi nah bener itu, keturunan HOLKAY jadinya gitu. ini udah dilanjut ya~

Meanie Jaeyong: ini udah di next :)

Kwon Aulyani269: ini udah dilanjut. hayoo udah ketawan kan siapa yang nguntit

woojae: aduh apa lagi Flow yang nulis, ngetiknya sambil bayangin yang itu2 /plak

blackpearl: sisain dua deh kayaknya, yang satu buat Hana hahahahaha

Ollasuke: ihhhh padahal yang buat chap kemaren si Flow loh. jangan salah dia itu kaya punya kepribadian ganda, kadang sadis tapi ya kadang gitu bisa buat yang manis2 XD makanya Hana sabar bgt kalau ngadepin Flow. konflik? kita liat aja nanti hohohoho. dan menurut Hana official couple itu menurut pribadi masing2 ya soalnya aku mikir yang namanya official kan resmi tuh. kalo jaeyong official berarti di kehidupan asli mereka emang bener2 pacaran. mungkin pada ngiranya official karena mereka banyak moment dan banyak yg ngeship. udah itu aja menurut aku sih, gatau kalo menurut yang lain :))

That x: UDAH DILANJUUTTTTTT

Lianattaaa: WOAAAHHH BENARKAH? syukurlah kita berhasil membangkitkan rasa penasaranmu hihihi. siapa yaa yang ngikutin? itu kesayanganya si Flow XD ini sudah di lanjut~

troalle: nah bener itu, pengen rasa njedotin tuh kepalanya mereka trus bibirnya jae yang mendarat di itunya tae :p ini sudah dilanjut ya

suki-chan07: iya gpp, kita makasih banget loh udah nyempetin review. iya nih, udah official harus makan2 nih, mintain pjnya yoookkk. fb? kita bicarakan dulu ya ;)

cumatemen: aahhh suka sama uname kakak yang baru XD CUMA TEMEN hahahaha. makasih kak, ini Flow langsung kesemsem gara2 dibilang kemarin chap yg paling disuka hihihi. ini udah di lanjut ya kak~

chocomilkshake: ah si Ten lagi galau tuh, hatinya mulai labil dia. tapi nanti Flow sama Hana bakal coba ngomong ke Ten suruh sama Yuta aja ya XD belok? mmm belok ga yaaa, kita liat aja nanti udah update, kayaknya si ga asap ya :p btw, yang kemarin update si Flow loh

nurulhanifah22 : gampar aja si Flow kan dia yg buat wkwk but dollarnya buat Hana ye. buat masa lalu couple masing2 vote aja ya mau Jaeten apa yutae

capungterbang : tebakanmu salah karena itu adalah uri dedeq markeu teehee. Wakakak jaehyun sudah mulai terkenal dengan julukan holkay-nya gegara papih suho sama kakek siwon /eh

esti.94 : sudah~

dtime : waaah tebakanmu benar. Selamat kamu dapet ciuman mautnya ty dari layar gadgetmu :D /digampar

saekirenichi : disini kita bereksperimen dengan jaeyong hahaha /ketawa setan/ GUE BERSYUKUR SM NGESHIP MEREKA JADI NEMPEL TERUS HAHAHA MAKIN BANYAK MOMENT MEREKA YAAAAAY JAEYONG BERJAYA

Byunki : si jahe ngerapp tambah seksi suaranya bikin eargasm. ten sedih karena dia ga se-unit sama yuta-kun jadi melampiaskannya ke jaeyong /loh

Shim Yeonhae : aihh tau aja kamu /kecup /eh

Dorkie Serenada : iya mereka jaeyong shipper wkwk yuta udah balik ke mode takoyaki prince tenang wae

Kaisoojaeyongiee : wakakak aku ngakak baca reviewmu. Samaan lah disini juga teriak2 sampe ditanyain org di rumah. Yes, itu dedek mark

jaefuckingyong : awkwkwk astaga mereka yang main tapi kenapa kamu yang napsu xDD

.

Btw, kita ada rencana mau buat side story lagi dari This Love. kan yg yuten waktu itu udah. Tapi kali ini kita cuma bakal bikin satu, sedangkan ada 2 pilihan pair yaitu jaeten dan yutae. menurut kalian mau yang mana nih? Jaeten/yutae? kita tunggu jawaban kalian yaaa.

RnR juseyo~

Flow X Hana