DUAG.. JEDER.. BOOM.. DES.. TEK.. DUNG.. TAK.. DUNG.. JRENG JRENG JRENG(?).. MEONG (?)
"Kenapa ada kucing disini-nodayo! Keluarkan!" Midorima pusing sendiri, bisa gila ini..
"Lalu, suruh keluar juga titisan dari bang haji begadang-jangan-begadang-toreroret itu!"
"JANGAN DISUNTIK-SSU! TAKUUTT!"
"Kise tenang! Kapan kau bisa melahirkan, kalau kau lari kesana kemari-nanodayo!"
"KYYAAA!"
Keluarga Aomine dan Kise serta Momoi Satsuki, Kagami Taiga plus Tetsuya, Hanamiya Makoto sweatdrop.
"Apaan-apaan itu? Benarkah dia mau melahirkan?" Hanamiya menginterupsi kegiatan sweatdrop berjamaah itu.
"Katanya, sih, iya.." Aomine memandang pintu ruang operasi, "Tapi kok kaya Ryouta masih sehat walafiat ya, bisa lari-lari pula"
Semuanya terheran-heran.
Padahal sudah sekitar 15 menit, mereka –Midorima dan Ryouta– didalam ruangan operasi, tetapi Ryouta masih sadar, belum dibius juga.
"Astaga, Ryou-chan ribet amat ya" komen sang kakak pertama Ryouta dan disusul oleh anggukan dari ibu-ayahnya.
"Semoga anak Ki-chan selamat ya.." Momoi berdoa.
Aomine speechless diluar, perasaan kemarin waktu istri Midorima dan Akashi melahirnya mereka tenang-tetang aja, ga heboh kaya Ryouta.
Beberapa menit kemudian, suara menjadi tenang, sepertinya operasi telah dimul–
"KYYAAA! JAUHKAN! JAUHKAN-SSU"
GUBRAK. GABRUK(?)
Yang diluar terjungkal komikal, dikirain sudah mulai ternyata Ryouta masih sadar juga..
Kakak kedua Kise matanya mulai berkedut kesal, dia pusing melihat kelakuan sang adik yang luar biasa itu, ia melangkahkan kakinya, mendekat keruang operasi, menarik nafas panjang.
"RYOUTA! MENURUT DAN CEPATLAH MELAHIRKAN! AKU SUDAH LELAH MENUNGGU DAN MENDENGARKAN KEHEBOHANMU DISINI, BAKA!"
Semuanya kembali sweatdrop, tidak hanya yang menunggu diluar, yang didalam ruang operasi juga ikutan sweatdrop.
"Taiga-kun, bagaimana jika kita beli es doger dulu?" Kagami menatap istrinya yang seolah berkata apa-kau-tak-sadar-dengan-situasi-disini, Tetsuya membalasnya dengan tatapan datar.
"Ahh, aku juga mauuuu" Kakak kedua Ryouta tiba-tiba nimbrung, "Habisnya, aku haus sekali, Ryouta pasti akan lama"
"Aku juga mau dong" Ibu Aomine ikut nimbrung, "Oii" Aomine senior berusaha menghentikan istrinya.
"Tak masalah, Aomine-san, Ryouta-chan pasti akan lama kok" Ibu Kise mulai bersuara.
Aomine senior menghela nafas, "Kalau begitu aku juga mau deh, titip nasi uduk ya"
"Aku juga titip, Tetsu-kun, dua ya, untuk Aku dan Mako-chan" Hanamiya melirik tajam Momoi, "Jangan panggil aku dengan embel-embel '-chan', Satsu"
Mereka semua pesan makanan dan minuman pada pasangan Kagami ini, "Aomine-kun kau tidak mau memesan sesuatu? Aku yakin kau lapar" Tetsuya menepuk bahu si dim.
"….Nasi padang dua bungkus plus es teh, Satsuki yang bayar" Satsuki berjenggit, "Mou, selalu deh Dai-chan"
Selesai mencatatan pesan dan membaca ulang pesanan ala pelayan restoran, pasangan Kagami dan dibantu dua kakak Ryouta pergi untuk membeli.
Hanamiya mendengus pelan, ada ya, nunggu orang ngelahirin sambil pesan makanan kaya gini..
Memang benar deh, sebutan Kiseki no Sedai tidak hanya isapan jempol belaka, mereka benar-benar manusia pengidap kejaiban.
Begitulah Kiseki no Sedai..
Berisi manusia absurd.
.
.
.
Problems
Pair
"AkaFuri! MidoTaka! AoKise! MuraHimu! KagaKuro!"
Disclaimer
"Kuroko No Basuke belongs to Tadatoshi Fujimaki-sensei and story belongs to Kiriko Saki"
Genre
Romance, Humor, Parody
Warning
Typo(s), Shonen-ai content, MPreg, OOC, Humor FAILED.
DLDR
.
.
.
Setelah pesanan datang, mereka segera lesehan didepan ruang operasi dan mulai makan dengan tenang dan sedikit bercanda untuk memecahkan keheningan.
"Nee-san, menurutmu, bayinya perempuan apa laki-laki?" si kakak kedua bersuara, Kise Ryouko.
"Mmm, mungkin laki-laki" jawab si anak pertama, Kise Ryouka.
"Hee? Padahal aku berharap laki-laki, kalau begitu, menurut Aomine-kun apa?" Ryouko menyenggol si dim pelan.
Aomine berpikir sebentar, kalau dilihat dari acara ngidam Ryouta dia terlihat seperti mengandung anak perempuan, tetapi perasaannya berkata kalau istrinya mengandung anak laki-laki, ah dia dilema.
"Mungkin…Laki-laki" Aomine menggidikkan bahunya.
Ryouko langsung menggebungkan pipinya, "Mou.."
"Dai-chan, mungkin anakmu memang laki-laki deh" celetuk Momoi, "Seyakin itu?" Hanamiya menyindir kekasihnya, Momoi hanya mengangguk yakin.
"Ikatan perasaan anak dan ayah itu sangat kuat, Mako-chan"
Aomine dan Kise senior mengangguk setuju dengan perkataan Momoi, "Tuh, kan, ayah Dai-chan dan ayah Ki-chan setuju" Momoi nyengir, "Kebetulan kali" Hanamiya masih tak mau kalah.
"Ih, Mako-chan gitu" Momoi cemberut.
Semuanya terkekeh melihat perdebatan kecil yang terjadi pada satu pasangan kekasih.
"Anoo, aku mau bertanya satu hal" Tetsuya menyeruput es dogernya.
Sebentar, inikan settingnya ceritanya dini hari gitu ya, kok mereka semua bisa beli makanan gitu, padahal ya pesenannya aneh-aneh. Ah, mungkin mereka beli di warung serba ada –warteg 24jam.
Oke, kembali kecerita, kasian Tetsuya sedang kepo akan sesuatu.
"Apa Tetsu?" Semua memandang kearah Tetsuya.
"Sejak kapan Momoi-san dan Hanamiya-san berpacaran?" Tanya Tetsuya dengan muka datar tetapi disana tersirat kekepoannya.
Momoi membelalak dan Hanamiya masih sibuk mencomot kentang goreng yang ada didepannya, entah milik siapa, "Permisi, ini punya saya.." Ryouko menatap tajam Hanamiya sedangkan yang ditatap hanya melirik sekilas, seolah tak peduli.
"Mmm sudah hampir 1 tahun sih hehe" Hanamiya mengangguk-angguk setuju.
Kagami dan Aomine kaget, "Serius? Waw"
"Lalu, kapan kalian akan menikah?"
BLUSH.
Pertanyaan Tetsuya sukses membuat Momoi dan Hanamiya blushing, "K-Kalau itu…. mmm… eetttooo" Momoi salah tingkah sendiri.
"Sebentar lagi" Hanamiya mencuri kentang milik kakak Kise sekali lagi, "Heii.." Ryouko memukul tangan Hanamiya pelan dan menjauhkan kentangnya. Dasar.
Momoi kaget mendengar jawaban dari Hanamiya, jujur selama ini, Hanamiya tak pernah menyinggu tentang pernikahan dengan Momoi, tetapi sekarang, dia tiba-tiba berkata kalau sebentar lagi ia akan menikah bersama Momoi.
"He-Hei, kau belum berbicara denganku Mako-chan"
"Kalau begitu.. Bagaimana menurutmu? Apa kau mau?"
STOP!, jeritnya dalam hati, aku dilamar dirumah sakit nih, posisi lagi nungguin Ki-chan selesai melahirkan, astaga didepan orang tua dan mertua Dai-chan? Momoi stres dengan pikirannya sendiri.
"Terima saja, Satsuki-chan, ba-san dan ji-san sudah setuju loh, iya, kan, tou-san?" Ibu Aomine menyenggol suaminya yang masih sibuk makan nasi uduknya, "A? I-Iya, anggap saja kami walimu disini hahhah– uhuk uhuk"
"Makan dulu baru ketawa, tou-san" Ibu Aomine menyerahkan minumnya pada suaminya sembari mengelus punggungnya.
Momoi merona, "Ah, ba-san jangan begitulah.." Momoi malu-malu sendiri.
"Jadi, jawab dia Satsuki" kata Aomine, Momoi hanya gelagapan.
"Iya, Momoi-chan, aku setuju jugaa" Ryouka pun ikut-ikutan, padahal dia tidak tau apa-apa.
Kagami menepuk pundak Momoi, "Ya, walaupun saat bermain basket dia brengsek sekali, tapi jika saat bersamamu, dia menjadi sangat berbeda dari biasanya" Momoi diam dalam kebingungannya.
Seketika semua mengangguk setuju, aduh, seakan aku sedang dipojokkan untuk menerima lamaran Mako-chan, tapi ya sudahlah..
"Kalau kau mau menerima lamaranku hanya karena sekarang sedang terpojok, aku menarikknya kembali, aku tak jadi melamarmu" sejak kapan Hanamiya bisa membaca isi hati Momoi.
"E-Eee? Bukan, bukan begitu" Momoi menggeleng-geleng kepalanya–
"Leng Geleng geleng geleng geleng" Kagami dan Aomine tiba-tiba joget geleng-geleng.
1 detik..
KRIK
2 detik..
KRIK
3 det– "Jangan sekarang Kagami-kun, Aomine-kun, nanti saja saat.."
Tadinya Tetsuya ingin ikut joget tapi ia urungkan, karena tiba-tiba ia mengingat seorang renterneir yang datang kerumahnya pagi-pagi untuk menangih uang pada Kagami –membayar biaya rumah sakit yang hancur akibat acara berdendang bersama dulu.
Aku tak mau Taiga-kun membayar lagi..
"Sekarang, jawab dia Momoi-san"
Momoi menarik nafasnya, "Iya aku mau. Ini bukan karena terpaksa." Diucapkannya dengan mantap dan yakin, Hanamiya membelalakkan matanya, tak disangka, lamarannya diterima.
"CII–" Ibu Kise membekap kedua anaknya, "Sst, masih dirumah sakit" Ryouka dam Ryouko mengangguk, "Gomennasai.."
Lagi senang-senangnya membahas tentang pasangan Momoi-Hanamiya, pintu ruang operasi terbuka dan makluk hijau –bukan shrek– bin tsundere muncul, wajahnya menunjukan seperti habis melakukan one-on-one bersama Ryouta, penuh peluh dan sangat lelah.
Semua mata tertuju pada Midorima Shintarou –makhluk hijau bin tsundere– sedangkan Midorima menatap pandangan didepannya dengan mata berkedut.
"Apa yang kalian lakukan-nanodayo?!"
"Menunggu Ryouta/Kise/Ryou-chan/Ki-chan/istri kuning Aomine Daiki" jawab mereka secara berjamaah, perempatan pun muncul dipelipis Midorima.
"Maksudku, apa yang kalian lakukan disini sampai menimbulkan kebisingan dan sampah-sampai itu-nodayo?!" Midorima mulai kesal.
Lihat saja, sampah nasi bungkus dan minuman tercecer didepan mereka, "Tolong bersihkan segera, ini rumah sakit, jaga kebersihan-nanodayo"
Midorima melenggang pergi, "O-Oi.. kau belum memberi tau bagaimana keadaan Ryouta dan anakku!?"
Midorima membalikkan badannya, "Mereka sehat, ah mungkin Kise akan pingsan cukup lama, tadi aku memberikan bius kebanyakan karena dia banyak tingkah-nodayo," ia menarik nafasnya sebelum melanjutkannya, "Anakmu laki-laki, rambutnya biru sepertimu, matanya kuning seperti milik Kise, selanjutnya kau bisa melihat sendiri nanti"
"Waaahh, benarkan, anaknya laki-laki.." Momoi senang, "Selamat" Hanamiya menepuk bahu sahabat kecil kekasihnya.
Mereka senang, kelewat senang sampai-sampai sampah itu diinjak-injak dan terlupakan dengan kasihannya.
.
.
Besoknya..
Ryouta belum membuka matanya, dia masih pulas dalam bius zone-nya.
"Oi, Midorima-teme! Kapan istriku akan bangun?" Aomine mulai kesal.
Midorima menggidikkan bahunya, "Mungkin besok-nodayo," jawabnya asal.
"Eh? Selama itu Shin-chan?" Kazunari nimbrung, "Perasaan aku dan Kazunari-san dulu tidak begitu lamanya, ya kan, Sei?" Akashi mengangguk, Midorima hanya mengangkat bahunya dan kembali bermain bersama Zurou.
Aomine menatap Kazunari dan Kouki bergantian, mereka sedang bersama dengan anak masing-masing, ia juga ingin melihat senyum Ryouta bersama dengan anaknya.
Dikarenakan Ryouta belum bangun, maka anak Aomine pun belum dibawa ke kamar mereka.
Aomine menatap tajam Midorima sedangkan yang ditatap hanya merinding ngeri.
"Jangan salahkan aku, Aomine. Salahkan Kise, dia sendiri yang tidak bisa diam dan harus membuatku bingung diruang operasi, untung saja aku cuma melakukan kesalahan kecil-nanodayo"
Aomine mendengus kesal, "Iya iya.." ia harus melewati hari ini dengan sepi, kenapa nasibnya ikut-ikut warna kulitnya, gelap begini.
"Ngghh"
Ryouta melakukan sedikit pergerakan, "Akh.." rintihnya pelan, "Ryouta, jangan bergerak dulu"
Aomine mencabut pikirannya yang berkata bahwa hari ini suram, karena kini Ryouta telah membuka matanya, "Daikicchi, sakit-ssu" bagaikan anak kecil yang barusan jatuh sedang melapor pada orang tua, terlihat sangat imut.
"Salahkan saja si Midorima itu"
"Oi Aomine, itu salahnya-nodayo!"
Ryouta menghela nafas, "Sudah-ssu, aku tak mempermasalahkannya lagi, yang penting mana anakku?" tanyanya dengan antusias.
"Ryouta-kun kau lebih baik beristirahat dulu"
"UUWAA!"
Tetsuya muncul dengan misdirection-nya dan sukses membuat Aomine berjenggit kaget, "Aomine-kun ini dirumah sakit, aku mohon jangan berteriak"
"Teme! Kagami urusi istrimu, bilang untuk tidak muncul secara tiba-tiba!" Kagami hanya menggaruk kepalanya dan nyengir, "Sejujurnya aku juga kaget kenapa dia sudah sampai itu, padahal tadi disebelahku"
Aomine mendengus kesal.
"Kalau mau melihat bayimu, aku bisa membawanya kesini-nodayo"
Ryouta menatap Midorima penuh harapan, "Aku mau, aku mau-ssu.."
Selang beberapa menit kemudian, Midorima muncul membawa anak berambut biru, ia berdiri didepan Aomine, sedangkan Aomine hanya menatap Midorima dan bayinya dengan bingung, "Gendong dia-nanodayo! Jangan menyuruhku jadi baby sitter dadakan."
Aomine menatap Midorima dengan tatapan ciyus-nyuruh-aku-buat-gendong-dia, Midorima membalas tatapan itu sudahlah-cepat-nodayo, ini kenapa mereka malah telepati begini.
Aomine meraih anaknya yang baru saja lahir tadi pagi, astaga kulit milik Aomine bersentuhan dengan kulit anaknya, lembut sekali seperti kapas..
"Jangan menyuruh Kise untuk menggendongnya dulu, dia masih belum pulih, jahitannya cukup panjang-nodayo." Aomine mengangguk.
Ryouta senang sendiri melihat pemandangan didepannya, Aomine sedang mencium puncak kepala anak itu, "Daikicchi aku terharu-ssu" air matanya terjun dari ekor matanya.
"Anaknya lucu sekali Mine-chin,"
"Jadi siapa namanya Daiki?" Akashi bertanya kalem.
DEG
Nama. Nah itu, sedari tadi Aomine merasakan sesuatu yang terlupakan tetapi saking bodohnya ia membiarkan 'sesuatu yang telupakan' itu, menganggapnya tak penting.
"Ah, iya nama, Daikicchi yang pikirkan ya.." Aomine bingung seketika, "Eh tap–"
"Aku mau Daikicchi yang kasih nama-ssu" potong Ryouta cepat dan tak ingin dibantah.
Si dim memandangi anaknya yang tertidur dengan nyaman digendongannya.
"Mm tapi sebelum itu…..Midorima tolong taruhkan anakku dikeranjang bayi ini, aku tak bisa bergerak ini, takut anakku jatuh!"
GUBRAK.
Pantas saja sedari tadi Aomine tak bergerak sedikitpun dari posisi semulanya, ternyata dia kaku ditempat.
"Taruh tinggal taruh-nodayo."
"OI! Lu pikir ini kek naroh karung beras, tinggal taroh gitu aja" Aomine mencak-mencak.
Kouki beranjak dari kasurnya, "Sei, tolong gedong Ueta-chan sebentar" Kouki menyerahkan anaknya pada Akashi lalu berjalan menuju Aomine, "Sini aku bantu, Aomine-san."
Kouki mengambil alih gendongan Aomine kecil itu, "Uwaa, lihatlah anakmu tampan sekali" Kouki mendekatkannya pada Ryouta.
Si Aomine kecil pun membuka matanya, "Waahh seperti mataku-ssu"
Tatsuya mendekat, "Benar-benar perpaduan Aomine-san dan Ryouta-san yang sempurna, lucu sekali ya.."
Saking sibuknya mereka memuji anaknya, sampai tak ada yang sadar bahwa Aomine telah pundung dipojokkan,
"Kau kenapa Aomine?" Kagami menghampirinya, "Nama" tiba-tiba Kagami ikut pundung disana.
"Ngapain lu ikutan geblek?!"Aomine menangis dengan muka jeleknya.
"Gua juga disuruh buat mikirin nama buat anak coeg"
"Anjir.. Samaan coey"
"Nasib melas amat ye" Kagami pun ikutan menangis dengan jeleknya.
Apa-apaan ini, kenapa mereka jadi salah gaul begini..
Hiraukan saja mereka berdua, biarkan sekali-kali pikiran mereka digunakan untuk berpikir dengan benar tidak hanya berpikir tentang basket saja.
Aomine berdiri secara tiba-tiba, "Ah ketemu!"
"Ryouta.." Aomine berjalan menuju istri kuningnya, "Nama dia sekarang Aomine …. Basuke"
"Ih tidak bagus-ssu! Ntar anak kita malah dipanggil Basuki!" Aomine kembali pundung bersama Kagami.
"Ditolak coey"
"Lu geblek, sih, mana ada nama macem begitu! Lu kira anak lu bola basket, nama Basuke gitu"
Aomine diam, dia berpikir lagi.
"Ketemu!" Aomine menghampiri istrinya sekali lagi, "Aomine.. Mai-chan"
BLEK. (suara macam apa ini, author bege?!)
Ryouta pingsan seketika, stress mendengar usulan nama untuk anaknya.
Plis, Aomine tidak butakan? Kau bisa cek jenis kelamin anakmu sekarang, dia punya t*itid begini. (sensornya masih kebaca ya? Yaudin, author gagal sensor/?)
Midorima menendang Aomine agar kembali ke pojokan bersama Kagami, "Pikirkan dengan benar, dia itu laki-laki-nodayo!"
"Lu begonya ga ketulungan ya"
Aomine tak membalasnya dan lebih memilih untuk memikirkan nama selanjutnya.
Beberapa menit kemudian istrinya sadar dari pingsannya. Aomine mendekat lagi, "Pikiranku buntu Ryouta." Berakting menangis-hitam.
"Alasan saja, aku maunya Daikicchi yang pikir-ssu" Aomine menunduk sedih dan berpikir, "Aomine…Izuki"
"Anjir itu nama senpaiku Aho!" Kagami menjitak kepala Aomine, "Itte!"
BRAK
Tiba-tiba pintu terbuka, "KITAKORE!"
Kouki, Akashi, Midorima, Kazunari langsung menutup telinga anak mereka.
"Doumo, senpai.." sapa Tetsuya dengan wajah datar, "Hai Kuroko, aku mau melawak disini, agar kalian semua terhibur, kitakore."
"Ahomine, gara-gara lu sebut namanya dia jadi muncul, kan" bisik Kagami sembari menjitak kepala Aomine lagi, "Eh, ngaruh emang?" balas Aomine dengan berbisik juga.
"Ngaruh, dia kan kaya jin gitu, tapi kadang kaya jelangkung, datang tak diantar pulang tak diantar juga"
Aomine bergidik ngeri lalu berbisik lagi, "Senpai lu ngeri"
Ini AoKaga sedang bisik-bisik tetangga.
"Hai kalian semua, aku mau kasih tebak tebakan baruku" Izuki mengibaskan poninya, Akashi menutup mata Ueta yang terbuka dengan segera, "Ueta-chan sayang jangan lihat ya, nanti kamu kena katarak dini" bisiknya, sedangkan anaknya hanya menggeleng-geleng kepala dan meraih tangan ayahnya agar menyingkir dari wajahnya.
"Apa kalimat yang kalau dibaca dari kanan ke kiri sama?"
"Senpai, itu mudah, kasur ini rusak" jawab Tetsuya.
"Eh, kok tau?"
Tetsuya mendengus, "Senpai sudah pernah bertanya seperti itu pada Hyuuga-senpai" Izuki hanya mengangguk-angguk.
"Masih ada lagi, Lagu apa ya disukai banyak wanita cantik?"
Semua berpikir,
"Lagu campur sari?" tebak asal Kazunari.
"Salah." Jawab Izuki cepat.
"Lagu…..cinta?" Akashi pun ikut nimbrung pemirsa.
"Salah."
Semua –kecuali Izuki– langsung bergidik horror, "Maaf.. tapi aku tak pernah salah, perkataanku selalu benar adanya, kecuali saat Winter Cup dulu, sisanya aku selalu benar."
Akashi merogoh saku celananya, ia menarik keluar gunting merah laknatnya, "Sei! Jauhkan guntingmu itu, kau sedang bersama Ueta-chan. Aku tak mau jika ia kenapa-kenapa karena guntingmu." Sei menurut dan menaruh gunting itu dimeja.
Akashi Seijuurou hanya tunduk pada 2 orang, Ayahnya dan Akashi Kouki, mereka lebih mutlak daripadanya.
"Oke, ini hanya tebak-tebakan Akashi..hehe" Izuki mencairkan suasana.
"Lagu dangdut, eh tapi bukan karena aku terpancing oleh tebak-tebakanmu, aku hanya ikut-ikutan menjawab-nodayo" Midorima menaikkan kacamatanya.
"Salah, tsundere-kun."
"Aku tidak tsundere-nanodayo!"
"Lalu apa jawabannya?" Tatsuya nyeletuk, dia mulai kepo.
"La gua ini. Haha.. Kitakore!" Izuki heboh sendiri, "Mati sana!" Aomine kesal.
"Nee senpai-nya Kuro-chin.." Murasakibara mendekat kearah Izuki, "Apa Murasakibara?"
"Tau bahasa mandarinnya garing tidak?"
"Tidak. Apa itu?"
"Ga Lu Chue." Kata Murasakibara dengan muka polosnya, "Wah, KITAKO–"
DUAG. WEERR. BUG.
Izuki telah ditendang keluar dari rumah sakit melalui jendela oleh Aomine dan Kagami, "Yosh"
Dasar kouhai tak sayang dengan senpai, jangan ditiru ya minna.
Mereka kembali ke suasana sebelum Izuki Shun si raja tampan suka ngelawak-tapi-garing.
"Jadi.. namanya-ssu?"
Aomine menghela nafas, "Kali ini semoga kau suka, aku dapat ide barusan,"
"Aomine ….. Ga Lu Chue"
DUUAG. WEER. BUG.
Aomine berakhir tragis sama seperti Izuki, tertentang keluar dari jendela karena tendangan Kagami dan Murasakibara.
"Yah, dasar.." Tatsuya terkekeh, "..somplak" Kazunari ikut terkekeh geli.
Aomine memanjat dinding dan masuk melalui jendela, "Aku tau.. Aomine COEG"
DUAG. DUAG. WEER. BUG.
Kali ini tidak hanya dua orang yang menendangnya tetapi tiga orang, tambah Midorima.
Aomine memanjat dinding lalu bertengger dijendela dengan muka lusuh-lesu-lunglai-tak-berdaya, "Aomine Shota"
Hening seketika.
Lalu terjadi bisik bisik diantara para istri dan suami yang ada disana.
"SETUJU-SSU!"
Aomine bahagia, saking bahagianya dia melepaskan pegangannya pada daun jendela,
BUG.
"Yah, Mine-chin jatuh sendiri, padahal aku pengen nendang dia sekali lagi loh" Murasakibara mencomot kripik kentangnya yang entah sejak kapan sudah berada didekapannya.
.
Mereka yang ada disana sedang dilanda kebahagian, tetapi kegalauan hinggap di Tetsuya dan Tatsuya.
Mereka pundung dikolong kasur, "Kita kapan kaya gitu?"
"Aku sedih Tatsuya-kun"
"Sama, huueee"
"huueeee"
Kagami sweatdrop. Murasakibara tetap fokus makan kripik kentangnya.
Kouki, Kazunari dan Ryouta menatap mereka sedih, "Tetsuyacchi, Tatsuyacchi jangan sedih gitu dong"
"Kalian sebentar lagi bakal nyusul kok, ga ada selang satu hari, percaya deh.."
"Kazunari jangan belajar mem-php orang-nanodayo."
Tatsuya dan Tetsuya semakin pundung, mereka niatnya mau guling-guling dikolong tapi gara-gara perutnya yang besar ini mengganjal jadi mereka mengurungkan niatnya.
Tetsuya dan Tatsuya ingin sekali segera melihat anaknya lahir kedunia, ingin anak mereka melihat betapa absurd bin gila-nya Kiseki no Sedai.
Mereka ingin anaknya melihat dunia yang indah nan tenang ini, tapi hati-hati jika Akashi mengeluarkan gunting laknatnya, dunia menjadi mengerikan.
"Tat-chin, keluar deh, jangan dikolong terus, nanti mukanya kaya nenek-nenek oplas loh"
GA NYAMBUNG OI!, jerit Kagami, Aomine dan Midorima dalam hati.
Tatsuya dan Tetsuya keluar dari kolong, "Tetsuya, tidurlah, kau kurang beristirahat"
"Tat-chin juga ikut bobok aja ya, kemarin kan abis begadang"
Tatsuya dan Tetsuya menempatkan diri dikasur dengan tentram dan damai, mereka langsung terjun ke dream zone.
Selang 2 jam kemudian, datanglah rombongan mantan tim basket Kaijo dan Touou.
Mereka datang untuk menjenguk Ryouta dan tiba-tiba duo kembar Zurou Shirou menangis dengan kencang sampai membuat seisi rumah sakit dengar semua.
Kira-kira, apa yang membuat mereka menangis ya?
"OOEEKKK"
Oke, Akashi Ueta sang putri tunggal kaisar Seijuurou juga ikut menangis, sebenarnya apa yang terjadi..
Author bingung sendiri..
.
.
.
TBC
.
.
.
KITAKORE! Hai minna, maaf ya apdet lama..tetapi terima kasih sudah mau menunggu..
Aku tau chapter ini kepanjangan, jadi maaf ya, tadi terlalu semangat ngetiknya, maaf juga tiba-tiba ada crack pair HanaMomo disini –cuma iseng sih hehe, maaf kalau ada yang tak suka..
Kalau humor garing….ya, salahkan otak author yang tak pandai merangkai kata lucu.. dari tebak tebakan Izuki, aku terinspirasi dari temanku hehe.
Ah maaf untuk typo besar-kecilnya ya, anggap aku sedang khilaf /ganyambung.
Sekali lagi terima kasih dan tolong review ya^^
Kalau ada yang mau usul tentang cerita dichap selanjutnya boleh, syukur-syukur buat nambah ide biar ga macet.. Terima kasih minna-san.
Thanks to
Indah605; shaakun; Zhang Fei; Anak nyasar; Plum Fox; ; miyunakamura9; Miharu348; Hana Ma-chan; Kurohime; Lingkaeru; RisaSano; blackeyes947; Coletta Black Beat; ByuuBee; uzumaki himeka; Midorissu; citrusfujo; URuRuBaek; Yozorra; Rhymos-Ethereal; Joy; AoKeisatsukan; Midorima Liu Kths.
