"Kadangkala cinta yang kau nanti, Sudah ada dalam genggaman tanganmu. Hanya saja kau belum menyadarinya."

-BROWN AFTERNOON-

Ryeowook merasakan napasnya sesak ketika air laut mulai menenggelamkannya, asin yang panas memasuki tubuhnya, membuatnya megap-megap mencoba meminta pertolongan untuk terakhir kalinya, lalu semuanya hampir terasa gelap.

Lalu lengan kuat itu mengangkatnya, menempelkan tubuh lemasnya ke dada telanjangnya yang keras. Aroma itu… Aroma parfum yang sangat dikenalnya... Yesung? Ryeowook tersenyum dalam hati, menyadari Yesung telah menyelamatkannya. Lalu kesadarannya hilang.

BROWN AFTERNOON

Ketika terbangun, Ryeowook ada di rumah sakit. Yang dirasakan pertama kali adalah pusing dan kehilangan orientasi, lalu dia mengenali wajah itu, ibunya dan Sungjae di belakangnya. Yang duduk di tepi ranjangnya dan menatapnya dengan cemas.

Dia terbangun dan langsung terbatuk-batuk, membersihkan tenggorokannya yang terasa panas, Ibu Ryeowook berusaha menepuk-nepuk pundak Ryeowook untuk membantunya, sementara Sungjae berlari keluar untuk memanggil dokter.

Ryeowook menatap sekeliling ketika kesadarannya sudah kembali, dimana Yesung? Itu yang terpikir olehnya pertama kali. Bukankah waktu itu Yesung yang menyelamatkannya? Kenapa sekarang dia tidak ada? Tiba-tiba sebersit rasa kecewa memenuhi dirinya.

Sungjae masuk kembali dengan dokter dan Joy yang mengikuti dengan cemas di belakangnya. Dokter memeriksa Ryeowook sejenak lalu pergi dan tampak becakap-cakap dengan ibu Ryeowook dan Sungjae, sementara Joy duduk di tepi ranjang.

"Syukurlah eonni, kau sudah sadar, kami cemas sekali menanti di sini." Joy duduk di pinggiran ranjang dan menggenggam tangan Ryeowook.

Ryeowook tetap memandang ke sekeliling, masih susah berbicara. Dimana Yesung? pikirnya.

Joy sepertinya menyadari apa yang ada di benak Ryeowook, dia tersenyum.

"Yesung oppa sedang membeli kopi di bawah. Kami yang memaksanya supaya menyingkir karena seharian dia seperti orang gila, mondar mandir di koridor, keluar masuk kamar, menunggumu sadar."

Yesung mencemaskannya sampai seperti itu? benarkah? Sejenak dada Ryeowook membuncah oleh perasaan hangat.

Lalu dia teringat akan kejadian sebelum dia tenggelam, kedatangan Yuri, sikap acuh tak acuh Yesung ketika Yuri terang-terangan menggodanya, dan kemudian kemarahan Ryeowook yang kekanak-kanakan.

Astaga, kenapa dia marah? Kalau dia tidak mempunyai perasaan terhadap Yesung, dia tidak perlu semarah itu. Omong kosong kalau Yuri memang tidak menghargai keberadaannya, seharusnya hal itu tidak akan mengganggunya kalau dia tidak mempunyai perasaan apa-apa kepada Yesung.

Pipi Ryeowook memerah malu menyadari betapa kekanak-kanakan sikapnya sebelum tenggelam, Yuri pasti menertawakannya, karena dia seolah menunjukkan kalau dia cemburu berat kepada Yesung.

"Yesung oppa tampak sangat menyesal karena eonni sampai tenggelam." Joy menyambung, tidak menyadari

perubahan ekspresi Ryeowook.

Lalu pintu terbuka dan Yesung masuk, lelaki itu langsung menghampiri Dokter dan bercakap-cakap dengannya, dan setelah dokter pergi, langsung melangkah mendekati ranjang. Joy, yang melihat ibu Ryeowook serta Sungjae melangkah keluar, langsung ikut berpamitan keluar dulu, memberi kesempatan kepada Yesung berduaan dengan Ryeowook.

Lelaki itu tampak letih. Ryeowook menyimpulkan. Apakah karena dirinya?

"Bagaimana perasaanmu?" yesung menarik kursi mendekat dan duduk di samping ranjang, mengamati Ryeowook dengan cermat.

"Aku baik." jawab Ryeowook pelan, suaranya masih serak dan tenggorokannya masih sakit. Tetapi secara keseluruhan dia baik-baik saja.

"Maafkan aku," suara Yesung berbisik, "Aku memaksamu berenang. Pada akhirnya aku tidak menjagamu."

Karena aku yang lari darimu, karena aku cemburu dan kekanak-kanakan. Ryeowook mendesah dalam hati, tetapi kata-kataitu tidak bisa keluar dari bibirnya. Dia hanya menggelenglemah. Yesung tersenyum tipis sambil menatap Ryeowook, lalumenghela napas.

"Aku… Kau bilang pernikahan ini seperti di neraka." mataYesung tampak muram, "Aku tidak menyadari kalau kau begitu tersiksa dengan pernikahan ini. Karena aku… Karena aku sendiri mungkin bisa dikatakan menikmatinya." lelaki itu mendesah, lalu seolah tidak tahan duduk lama disitu dia berdiri dan memasukkan tangan ke saku celananya, "Nanti setelah kau sembuh, kita bicarakan perihal perceraian. Aku akan memikirkan cara terbaik untuk menjelaskan kepada semuanya. Memang tidak adil menahanmu ke dalam pernikahan sandiwara ini."

Yesung mendekat ke tepi ranjang, lalu membungkuk dan tanpa diduga, ia mengecup dahi Ryeowook dengan lembut.

"Cepatlah sembuh." bisiknya pelan sebelum melangkah pergi, meninggalkan Ryeowook yang tertegun tanpa mampu berkata-kata. Perasaannya berkecamuk, dan dia bingung harus bagaimana.

BROWN AFTERNOON

Perceraian.

Ryeowook memejamkan matanya. Bukankah itu jalan keluar yang terbaik dari pernikahan sandiwara ini? Dari awal mereka menikah untuk mencegah perjodohan yang dilakukan eomma yesung untuk yesung dan joy, demi kebahagiaan adik-adik mereka. Dan memang benar, setelah eomma yesung meninggal, tidak ada yang perlu dipertahankan dari pernikahan ini.

Tetapi meskipun ini adalah jalan keluar yang terbaik, entah kenapa Ryeowook merasa ini tidak benar. Hatinya

memberontak ketika mendengar kata perceraian, dan itu karena alasan yang tidak dia tahu. Kenapa? Kenapa dia tidak menginginkan perceraian? Apakah itu karena dia merasa nyaman menjadi isteri Yesung, dan ingin terus menjadi isterinya. Apakah sebenarnya... Tanpa disadarinya, dia telah jatuh cinta kepada lelaki itu?

Ryeowook memejamkan matanya ketika gemuruh perasaannya membuat kepalanya terasa pening. Jatuh cintakah dia kepada Yesung? Ryeowook tidak berpengalaman dalam hal jatuh cinta. Dia hanya pernah satu kali menyerahkan hatinya kepada laki-laki. Kepada Dongwoon, dan itupun dia telah dilukai sedemikian rupa.

Perasaannya sekarang kepada Yesung berbeda, bukan perasaan berbunga-bunga, jantung berdegup kencang ataupun terasa melayang-layang ketika membayangkan Dongwoon seperti dulu. Perasaannya kepada Yesung ini tumbuh dengan pelan seiring berjalannya waktu. Muncul ketika menyadari betapa sayangnya Yesung kepada adik dan eommanya, muncul ketika dia merengkuh Yesung yang rapuh menangis dalam pelukannya, muncul dari kebersamaan mereka ketika Yesung tanpa ragu menopangnya ketika dia butuh dorongan, muncul di setiap detiknya bersama laki-laki itu. Dan mungkin inilah cinta, karena dia merasakan cemburu luar biasa atas kehadiran Yuri.

Oh astaga. Aku benar-benar telah jatuh cinta kepada Yesung.

Tapi bagaimana sekarang? Karena dorongan cemburu yang kekanak-kanakan, dia telah mengatakan kepada Yesung bahwa pernikahannya seperti di neraka. Padahal sesungguhnya, dia bahagia. Dia bahagia.

Haruskah dia mengungkapkan semuanya kepada Yesung? Tapi perasaan Yesung kepadanya sangat misterius. Lelaki itu mengatakan bahwa dia menikmati pernikahan mereka. Tidak lebih. Belum lagi kejadian malam itu, yang menunjukkan bahwa ketertarikan Yesung kepadanya hanya sekedar nafsu.

Ataukah jangan-jangan... Yesung memang menginginkan perceraian ini? Karena ada Yuri? Karena dia merindukan kebebasannya bercinta dengan semua perempuan tanpa harus dibebani tanggung jawab kepada seorang isteri?

Benak Ryeowook dipenuhi berbagai pikiran, membuat dadanya semakin sesak.

BROWN AFTERNOON

Pagi itu Ryeowook pulang dari rumah sakit, Yesung yang menjemputnya di-jam makan siang, masih mengenakan jas kerja yang membuatnya tampak elegan dan begitu tampan. Mereka diam dalam perjalanan pulang.

Mereka masuk ke kamar dan Ryeowook duduk di pinggiran ranjang, menatap Yesung yang meletakkan tas-tas berisi pakaian Ryeowook ke depan meja rias.

"Kau tidak berangkat kerja lagi?"

Yesung menoleh dan tersenyum, "Tidak, aku tidak kembali lagi. Aku pikir mungkin kau perlu ditemani hari ini."

Ryeowook mendesah, "Tidak apa-apa, aku bisa istirahat dan tidur seharian."

"Aku sudah memintakan izin ke TK tempatmu mengajar," Yesung termenung, "Kau akan bosan kalau berbaring seharian disini tanpa teman, jadi aku akan menemanimu. Joy masih kuliah sampai sore, dan aku juga sudah meminta ibu untuk sementara tinggal di sini menemanimu besok kalau aku bekerja dan rumah kosong sementara kau masih harus istirahat di rumah, beliau baru bisa menginap disini nanti malam, aku sudah menyuruh supir menjemput beliau."

"Terima kasih Yesung." bisik Ryeowook dengan tulus.

Yesung tersenyum, lalu duduk di sofa di sudut kamar, menatap Ryeowook dengan miris.

"Kita harus mulai mempersiapkan bagaimana menjelaskan kepada mereka semua kalau kita akan berpisah."

Kenapa kau tampak sangat ingin segera berpisah denganku?

Hati Ryeowook dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya pedih, tetapi dia tidak mampu mengutarakannya.

"Mungkin kita harus mengutarakan yang sebenarnya kepada mereka," gumam Ryeowook akhirnya.

Yesung tersenyum, "Joy akan mengamuk kepadaku. Dia pasti berpikir aku sudah menodaimu, mengingat reputasiku selama ini."

"Aku akan menjelaskan kepadanya," Ryeowook tersenyum, "Bahwa kau berlaku bagai malaikat terhadapku setiap malam."

"Malaikat?" Yesung menatap Ryeowook dengan pandangan misteriusnya lagi, seakan ingin berkata sesuatu tetapi tertahankan, "Aku sebenarnya tidak ingin perceraian ini terjadi, apalagi dalam waktu-waktu dekat."

Jantung Ryeowook berdegup, merasakan harapan tumbuh di dalam dirinya. Yesung tidak menginginkan perpisahan dengannya? Apakah itu karena Yesung ingin bersamanya? Yesung...mencintainya?

"Kenapa?" suara Ryeowook serak oleh antisipasi.

"Kalau kita bercerai kau akan menyandang janda di usia muda, diceraikan hanya dalam beberapa bulan pernikahan... Aku laki-laki, beban sosialku tidak akan seberat dirimu," yesung mendesah, "Aku mencemaskanmu. Itulah alasanku menunda-nunda perihal pernikahan ini."

Tetapi kau tidak mencintaiku. Ryeowook mendesah lagi dalam hati. Seandainya kau bilang kau tidak menginginkan perpisahan karena kau mencintaiku, aku akan mengaku kalau aku mencintaimu...

"Aku tidak apa-apa. Aku sudah lelah dengan sandiwara ini." Ryeowook mendesah, akhirnya.

"Kenapa kau begitu ingin perceraian?" Yesung menatapnya lurus-lurus, "Apakah kau tidak bahagia?"

Bukankah kau yang menginginkan perceraian? Ryeowook menjerit dalam hati. Tetapi lalu memalingkan muka, bingung harus menjawab apa.

"Aku minta maaf kalau sudah membuat hidupmu bagai di neraka. Sungguh aku tidak berencana menyiksamu seperti itu. Kau mungkin ingin bebas dan menemukan cinta sejatimu di luar sana, dan itu tidak akan terjadi kalau kau masih terikat sebagai isteriku." Yesung mendesah, "Aku tidak berhak menghalangi kebahagiaanmu."

Ryeowook memejamkan matanya, tak sanggup lagi mendengar.

"Kau tidak apa-apa?" Yesung tampak cemas melihat Ryeowook memejamkan matanya sambil mengerutkan dahi.

"Aku hanya sedikit pusing." jawab Ryeowook pelan. Pusing dan patah hati, pastinya.

Yesung mengangkat bahunya dan beranjak pergi. "Yah… Istirahatlah, kita bicarakan nanti kalau kondisimu sudah lebih baik. Kalau kau butuh apa-apa, aku ada di ruang kerjaku." lelaki itu beranjak dan meninggalkan ruangan.

BROWN AFTERNOON

Ibunya datang di sore harinya, seperti yang dikatakan oleh Yesung. Sang ibu mengurusnya dengan baik, membantunya mandi dan menyuapinya, lalu duduk di pinggir ranjang dan menatapnya prihatin.

"Bagaimana kondisimu, sayang?"

Ryeowook tersenyum, "Aku baik-baik saja ibu." Dia menghela napas dengan sedih. Memikirkan ke depannya. Bagaimanakah perasaan ibunya kalau tahu bahwa Ryeowook dan Yesung akan bercerai? Ibunya pasti sedih luar biasa, belum lagi kalau ibunya mengetahui bahwa pernikahan ini hanyalah sandiwara semata. Ryeowook meringis, tiba-tiba merasa takut akan masa depan yang akan dihadapinya.

Sang ibu rupanya menyadari perubahan ekspresi Ryeowook, dia menatap anaknya dengan cemas.

"Kenapa sayang? Kau tampak kesakitan."

Ryeowook langsung mencoba tersenyum kepada ibunya, "Tidak apa-apa ibu, aku… Aku sedikit pusing."

"Berbaringlah." ibunya mendorongnya berbaring dan menyelimutinya, "Tak kusangka kau akan mengalami hal yang sama seperti dulu, hampir tenggelam karena kakimu kram. Tetapi untunglah Yesung sigap menolongmu sehingga kau tidak celaka."

"yesung juga yang membuatku mencoba berenang." Yeowook cemberut mengingat pemaksaan Yesung waktu itu.

"Tetapi dia sangat menyesal. Kau tidak tahu betapa paniknya dia ketika kau belum sadar. Dia terus menerus menggenggam tanganmu, terus menerus merapalkan kata maaf bagaikan mantra." ibunya tersenyum lembut, "Ibu senang dengan pernikahanmu ini nak, kau tampak bahagia dan Yesung sangat bertanggung jawab dan mencintaimu. Pernikahan ini tampaknya benar-benar menjadi lembaran baru untukmu, membuatmu melupakan masa lalu. Bahkan Sungjay cerita bahwa kau datang ke pernikahan Dongwoon dengan tegar, didampingi oleh Yesung."

Ryeowook memalingkan muka. Tak tega membayangkan perasaan ibunya nanti kalau mengetahui semuanya, "Iya ibu, Yesung mengantarku datang ke pesta pernikahan dongwoon dan menghadapi semuanya, menghadapinya, menghadapi isterinya, menghadapi eommanya dan keluarganya."

"Dan sekarang bagaimana perasaanmu mengenai itu?"ryeowook tersenyum lembut, "Lega ibu. Ternyata aku sudah benar-benar melepaskan Dongwoon."

"Tentu saja." sang ibu tertawa, "Kau kan sudah bersuami, dan suamimu seratus kali lebih baik daripada Dongwoon." Gumam ibunya menggoda.

Ryeowook ingin menanggapi candaan ibunya itu dengan senyum, tetapi yang berhasil dikeluarkannya hanyalah seringai kecut.

"Untunglah insiden kemarin terjadi ketika kau dalam kondisi belum mengandung." ibunya mengalihkan topik pembicaraan, "Kalau kau mengandung nanti, kau harus berhatihati."

"Mengandung?" Ryeowook menelan ludah dengan susah payah.

"Ya. Setiap pasangan yang bahagia pasti ingin segera mempunyai bayi. Lagipula ibu sudah tidak sabar menimang cucu." gumam ibunya ringan. Tidak menyadari perasaan yang berkecamuk di dada Ryeowook.

Bagaimana mungkin dia bisa mengandung? Mereka tidak pernah melakukan hubungan suami-isteri. Lagipula, sebentar lagi mereka akan bercerai bukan? Dada Ryeowook sakit membayangkan betapa kecewanya ibunya.

BROWN AFTERNOON

"Bagaimana keadaanmu?"

Yesung datang larut malam setelahnya, sepertinya lelaki itu datang malam-malam, sengaja menunggu setelah ryeowook tertidur, dan agak terkejut ketika melihat Ryeowook masih terbangun dan membaca.

"Aku baik-baik saja." Ryeowook menurunkan bukunya, dan menatap Yesung dengan pedih, "Bagaimana kita akan menjelaskan semuanya kepada ibuku? Kepada Sungjae dan Joy?"

"Kita akan mencari cara." dengan canggung, Yesung naik ke atas ranjang, dan duduk di sebelah Ryeowook, bersandar pada kepala ranjang, "Bagaimanapun juga saat ini akan tiba. Kita membuat perjanjian pernikahan ini dengan sadar, dan sekarang kita harus menghadapi konsekuensinya."

Ryeowook menghela napas panjang, tiba-tiba buku yang dipegangnya terasa tidak menarik lagi. Diletakkannya buku itu dan lalu berbaring. Yesung menyusulnya kemudian. Lama mereka berbaring di kegelapan, dengan mata nyalang dan pikiran yang berkecamuk di benak masing-masing.

BROWN AFTERNOON

Ketika keadaanya membaik dan sudah diperbolehkan masuk kerja, Ryeowook langsung mengunjungi Garden Cafe itu sepulangnya kerja di sore hari, dia sangat merindukan cokelat panas yang bisa menenangkan hatinya.

Seperti biasa, Shindong pulalah yang mengantarkan minumannya. Lelaki itu hampir selalu ada di cafe ini. Cafe ini adalah rumahnya, katanya. Dia tinggal di lantai dua cafe ini seorang diri karena kehilangan isteri dan anaknya dalam sebuah kecelakaan. Sejak itu dia menjadi pengurus cafe ini karena kebetulan pemilik cafe ini mengenalnya sejak dulu, dan menyibukkan diri menjadi pelayan cafe ini.

"Lama sekali kau tidak muncul Ryeowook, aku sampai berpikir kalau kau mulai bosan dengan cokelat panas kami."

Ryeowook tertawa, menerima cangkir yang berisi cokelat yang masih mengepul itu dengan tangannya, "Aku tidak pernah bosan kemari. Cokelat di sini paling enak di dunia." jawabnya, membuat Shindong terkekeh.

"Bagaimana dengan pernikahanmu? Aku harap kau sudah menyelesaikan segala permasalahan di sana."

Ekspresi Ryeowook langsung berubah sedih, "Semua tidak berjalan seperti yang semestinya, Shindong... Mungkin keputusan akhirnya adalah kami akan berpisah."

"Apa?" Shindong setengah berseru, menatap Ryeowook dengan serius, "Kau akan berpisah dengan Yesung? Apakah kau serius? Kalian sepertinya pasangan yang sangat cocok."

Mereka memang beberapa kali makan malam di cafe ini kalau Yesung kebetulan ada waktu dan menjemputnya sepulang kerja. Dan tentu saja di depan umum, mereka berpura-pura seperti pasangan bahagia yang mesra. Mungkin hal itu juga yang ditangkap Shindong selama ini.

Ryeowook tersenyum sedih, "Hubungan kami sangat rumit, saking rumitnya sampai kami tidak bisa menemukan jalan keluar untuk saling bertemu."

Shindong menatap Ryeowook menyelidik, "Apakah ada orang ketiga di antara kalian?"

Bayangan yuri langsung terlintas di benak Ryeowook. Membuat rasa nyeri itu kembali menyerang dadanya. Yuri yang begitu cantik dan menggoda. ryeowook tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Yuri. Dan meskipun yesung mengatakan tidak ada apa-apa antara dirinya dengan Yuri, bahwa hubungan mereka sudah berakhir sejak lama, tetap saja Ryeowook merasa ragu.

"Ada seorang perempuan dari masa lalu. Dia sangat cantik," Ryeowook tercenung.

"Apakah Yesung berselingkuh darimu?"

"Tidak." Ryeowook membantah cepat, "Yesung tidak berselingkuh, tetapi perempuan itu tidak berhenti mengejarnya dan aku takut... Aku takut…" Ryeowook menelan ludahnya, "Aku takut pada akhirnya Yesung akan tergoda."

Shindong terkekeh, "Itu berarti kau cemburu dan jika kau cemburu berarti ada cinta di dalamnya." Suara Shindong berubah serius, "Apakah kau mencintai suamimu, Ryeowook?".

Ryeowook tertegun lama mendengar pertanyaan Shindong, Apakah dia mencintai Yesung? Yesung yang begitu kuat sekaligus rapuh? Yesung yang penuh kasih sayang dan siap menopangnya ketika dia membutuhkan?.

Ryeowook memejamkan matanya, "Ya Shindong. Aku mencintai suamiku. Sangat."

Shindong tersenyum, "Kalau begitu perjuangkanlah pernikahanmu. Kau tahu kata-kataku tentang cokelat dan pernikahan? Bahwa kepahitan cokelat bisa menjadi nikmat dengan takaran gula dan susu yang pas? Dalam pernikahan, cintalah bumbu penyedap itu. Selama kau masih punya cinta, kau masih punya kesempatan untuk memaniskan pernikahanmu." Shindong menepuk pundak Ryeowook lembut sebelum melangkah pergi, "Berjuanglah, jangan menyerah begitu saja." gumamnya.

BROWN AFTERNOON

Ketika Ryeowook pulang malam itu, Suasana rumah sunyi senyap, dengan pelan dia menaiki tangga dan menuju kamarnya.

Jas Yesung tampak tersampir di kursi di kamar itu, menunjukkan kalau lelaki itu sudah pulang dan berada di suatu tempat di rumah ini. Ryeowook teringat perkataan Shindong tentang mempertahankan pernikahan.

Dia memang punya cinta untuk pernikahan ini. Tetapi apakah Yesung juga mempunyainya?

Yesung menghela napas panjang, dia tidak akan tahu kalau dia tidak menanyakannya. Setidaknya kalau ternyata cinta Ryeowook bertepuk sebelah tangan, dia tidak meninggalkan pernikahan ini dengan perasaan bertanya-tanya.

Rumah tampak lengang, tidak ada siapapun di sana. Para pelayan mungkin sedang sibuk di dapur. Dan Yesung...mungkin ada di ruangan kerjanya.

Ryeowook melangkah menuruni tangga dengan pelan, kemudian tertegun ketika berada di ruang tamu dan menatap ke luar jendela. Ada mobil warna kuning cerah yang diparkir di halaman. Apakah Yesung sedang menerima tamu?

Ryeowook melangkah penuh ingin tahu ke ruang kerja Yesung, terdengar suara percakapan samar-samar di sana. Pintu ruang kerja tidak tertutup sepenuhnya sehingga suara di dalam masih bisa keluar. Itu suara perempuan... Suara Yuri!

Oh Ya ampun! Bahkan perempuan itu masih mengejar kemari, di rumah Yesung. Bertamu pada malam hari pula, dengan kemungkinan Ryeowook sudah ada di keterlaluan!

Tetapi kemudian, percakapan yang terdengar olehnya membuatnya tertegun.

BROWN AFTERNOON

"Apakah tujuanmu pada akhirnya tercapai?" itu suara Yuri dengan ciri khas genit dan bercampur logat kebarat baratannya.

"Tidak. Belum. Dan aku masih membutuhkan bantuanmu." itu suara Yesung, terdengar tegas dan dingin.

"Ah, Yesung yang keras hati ternyata masih membutuhkan bantuanku." Yuri terdengar terkekeh geli, lalu suaranya merendah sensual, "Seperti malam itu, ketika kau menyuruhku menyusul ke cottage tempatmu berada, tepat setelah kau bertengkar dengan Ryeowook... Ternyata aku masih berguna juga untuk menyenangkanmu."

Yesung yang menyuruh yuri menyusul ke cottage itu? Jadi bukan Yuri yang menyusul dengan inisiatifnya sendiri karena obsesinya terhadap Yesung?

Wajah Ryeowook memucat. Astaga, betapa keterlaluannya Yesung. Pada satu titik dia merayu Ryeowook karena terdorong nafsu di atas ranjang dan ketika Ryeowook menolaknya, dengan mudahnya Yesung memanggil perempuan lain untuk memuaskan nafsunya!

Ryeowook mungkin telah salah menilai Yesung, lelaki ini bermoral bejat, dia tidak seharusnya mencintai Yesung!

"Ryeowook?" suara Yesung membuat Ryeowook yang berdiri terpaku di pintu terlonjak dari lamunannya, "Sudah sejak kapan kau ada di situ?"

Suara Ryeowook bergetar karena emosi, "Sudah sejak aku mendengar betapa tidak bermoralnya dirimu!" Ditatapnya Yesung yang terpaku dengan tatapan cemas dan Yuri yang memandangnya dengan senyuman aneh berganti-ganti, "Aku menginginkan perceraian. Segera." air mata mulai membuat matanya terasa panas. Tidak! Yesung tidak boleh melihatnya menangis!

Dengan segera, dia membalikkan badan, hendak meninggalkan tempat itu. Tetapi Yesung bergerak cepat dan meraih tangannya, menahannya dengan keras.

"Tunggu dulu!" serunya marah, "Kau salah paham! Biar aku jelaskan."

"Menjelaskan apa?" Kali ini Ryeowook tidak bisa menahan air matanya, "Aku mendengar sendiri, ternyata kau yang menyuruh Paula menyusulmu ke pantai itu. Bukan Yuri yang mengejarmu! Aku jijik kepadamu Yesung! Aku tidak menyangka kau tidak bisa menahan nafsumu, padahal status kita masih suami isteri. Setidaknya kau harus menghormatiku, meskipun pernikahan ini hanya sandiwara!" Ryeowook berteriak tidak peduli ada Yuri di sana, mendengar semuanya. Toh pernikahan ini akan berakhir bukan?

"Kau salah paham! Aku tidak menyuruh Yuri menyusul untuk menidurinya!" Yesung berseru setengah emosi, "Aku menyuruhnya untuk membantuku! Untuk membuatmu cemburu!"

Apa? Ryeowook tertegun. Pernyataan terakhir Yesung… Apakah dia tidak salah dengar? Yesung meminta Yuri membantu membuatnya cemburu? Kenapa Yesung melakukannya? Ditatapnya Yuri yang melihat pertengkaran mereka sambil mengangkat alis dan senyum menghiasi bibirnya yang berlipstick merah menyala itu.

"Wah… Wah, sepertinya ini pertengkaran pribadi suami isteri, dan aku tidak berhak ikut campur." Yuri meraih tasnya yang tergeletak di meja, "Seharusnya kau berbangga hati Ryeowook, seorang Yesung, yang tidak pernah peduli pada seorang perempuan, sampai memohon bantuanku, hanya untuk membuatmu cemburu." Yuri mengedipkan sebelah matanya sebelum melangkah pergi, "Dulu aku dan Yesung memang kekasih, tetapi sekarang tidak lagi. Kami hanya bersahabat, aku sudah menikah secara rahasia dengan kekasih sejatiku, bahkan Yesung yang menjadi saksi pernikahan kami. Aku berutang kepada Yesung, karena itulah aku setuju untuk membantunya."

Yuri lalu melempar senyum kepada Yesung, "Sepertinya sampai di sini aku bisa membantumu, Yesung sayang. Semoga kau bisa membereskan masalah rumah tanggamu dengan baik dan berujung bahagia." lalu perempuan itu melangkah pergi meninggalkan ruangan.

BROWN AFTERNOON

Ryeowook tertegun, menatap kepergian Yuri, lalu berbalik menatap Yesung dengan marah, dihempaskannya tangan Yesung yang masih menahan tangannya, kali ini Yesung menyerah dan melepaskannya. Mereka berdiri berhadap-hadapan di depan ruang kerja Yesung.

"Apa maksud semua ini?"

Yesung mengacak rambutnya frustrasi, lalu melangkah memasuki ruangan kerjanya, "Duduklah, dan aku akan menjelaskan semuanya."

Tanpa suara Ryeowook mengikuti Yesung dan duduk di sofa ruang kerja itu, di depan Yesung.

"Jelaskan padaku." Gumam Ryeowook dengan suara bergetar ketika Yesung tetap tidak bersuara.

Lelaki itu memejamkan matanya, lalu menghembuskan nafasnya.

"Seperti yang kau bilang tadi, aku meminta bantuanYuri untuk membuatmu cemburu."

"Kenapa?" sela Ryeowook cepat.

Yesung menatap Ryeowook dengan tajam, "Karena aku ingin kau cemburu kepadaku."

"Lalu apa tujuanmu? Apakah untuk memuaskan ego lelakimu ketika isterimu cemburu kepadamu?" gumam Ryeowook jengkel. Sialan! Semua ini direncanakan dan dia terpancing dengan mudahnya. Mungkin Yesung dan Yuri menertawakan sikapnya diam-diam di belakangnya. Pemikiran itu membuat hatinya terasa sakit.

"Bukan, astaga Ryeowook, kenapa kau selalu berpikiran buruk kepadaku?" gumam Yesung marah, "Aku ingin kau cemburu kepadaku karena aku mencintaimu."

Kali ini Ryeowook benar-benar ternganga, itu tadi… Apakah itu pengakuan cinta Ryeowook kepadanya?

Yesung melirik Ryeowook yang terpaku, lalu tersenyum kecut.

"Yah, semua karena aku mencintaimu, mau dibilang bagaimana lagi. Kau mungkin tidak percaya. Tetapi aku sudah menyimpan perasaan kepadamu sejak di pesta itu, ketika aku melihatmu pertama kali, berdiri dengan cantiknya di sana sendirian. Lalu dengan angkuhnya menolak rayuanku. Aku menyelidiki masa lalumu lebih karena aku ingin tahu tentangmu, bukan karena kau adalah kakak Sungjae. Dan aku semakin mencintaimu ketika tahu kisahmu, masa lalumu bersama Dongwoon, segalanya..." Yesung mendesah frustrasi, "Kau mungkin tidak akan percaya, tetapi bahkan aku menawarkan perjanjian sandiwara gila itu lebih karena aku terdorong oleh perasaanku, daripada akal sehatku. "

Ketika Ryeowook tetap tidak berkata-kata, Yesung melanjutkan.

"Seiring berjalannya waktu perasaanku semakin dalam. Pernikahan ini adalah saat paling membahagiakan dalam hidupku. Ketika aku bangun di pagi hari dan menyadari kau sedang bergelung mencari kehangatan di tubuhku, ketika aku bergegas pulang dari kantor karena tidak sabar bertemu denganmu. Ketika aku menatapmu dan bergumam dalam hati, memanggilmu sebagai isteriku. Aku merasa terlalu bahagia, sehingga menyimpan harapan konyol bahwa pernikahan ini akan berlangsung selamanya."

Yesung menatap Ryeowook lekat-lekat, matanya tampak sedih, "Tetapi aku tidak bisa membacamu. Aku tidak bisa menebak perasaanmu, karena itulah aku meminta Yuri membantuku, untuk melihat apakah kau cemburu kepadaku." Yesung mendesah, "Cara kau memarahi Yuri di makam itu membuatku bahagia luar biasa, kau dengan gigih mempertahankanku. Karena itulah malam itu aku berharap lebih, terlalu percaya diri, aku memutuskan untuk merayumu..." Yesung mengerjapkan matanya, "Tetapi kau tahu hasilnya seperti apa bukan? Bukannya merayumu, aku malah menunjukkan kepadamu bahwa aku hanyalah bajingan yang menyimpan nafsu tak bermoral kepadamu."

Ryeowook menggelengkan kepalanya, tetapi tak bisa berkata-kata.

"Malam itu aku begitu marah," gumam Yesung "Aku ingin membuatmu menunjukkan kalau kau juga menyimpan perasaan yang sama kepadaku. Dalam kemarahanku aku menelepon Yuri, untuk menyusul ke pantai, untuk memancing cemburumu lagi. Mungkin dengan kehadiran Yuri kau bisa menyadari bahwa kau sebenarnya juga tertarik kepadaku." Yesung tertawa pahit, menertawakan dirinya sendiri, "Pada akhirnya kau malahan mengatakan kepadaku bahwa pernikahan kita bagaikan di neraka untukmu. Dan kemudian aku malahan membuatmu celaka... Oh astaga padahal yang kuinginkan hanyalah mengetahui perasanmu kepadaku. Aku akan sangat senang kalau kau juga mencintaiku, tetapi kalau kau belum mencintaiku pun aku bertekad akan membuatmu mencintaiku."

"Bukan salahmu kalau aku tenggelam..." desah Ryeowook cepat.

Yesung mengangkat bahu, "Jangan membelaku, semua salahku. Aku yang memaksamu mencoba berenang di laut, aku berjanji untuk menjagamu tetapi pada akhirnya kau malah tenggelam. Aku tidak ingin membuatmu menderita, karena itulah aku menyerah. Kau akan kuberikan perpisahan yang sangat kau inginkan itu. Tetapi... Aku hanya ingin kau tahu, aku mencintaimu Ryeowook, dan aku tidak peduli kau membalas cintaku atau tidak. Aku ingin kau tahu, cintaku ini milikmu, bahkan nanti ketika kita sudah bercerai. Tetapi seandainya kau memberiku kesempatan, aku ingin menunjukkan bahwa aku mencintaimu, lebih dari yang pernah kau tahu."

Mata Ryeowook mulai berkaca-kaca. Semua informasi ini terlalu mendadak, sekaligus terlalu membahagiakan. Ryeowook tidak pernah menyangka kalau Yesung menyimpan perasaan kepadanya. Bahwa lelaki itu memupuk perasaannya pelanpelan, diam-diam dan semakin dalam selama pernikahan mereka.

"Tetapi aku tidak ingin bercerai," gumam Ryeowook pelan.

Yesung mengerutkan keningnya mendengar jawaban Ryeowook, "Tetapi kau bilang kau tidak bahagia, karena pernikahan ini seperti di neraka?"

Ryeowook berdehem, jantungnya berdegup liar, "Itu semua luapan perasaan kekanak-kanakanku, karena aku cemburu."

Ryeowook berdehem, jantungnya berdegup liar, "Itu semua luapanperasaan kekanak-kanakanku, karena aku cemburu."

"Apa?" suara Yesung menjadi dalam, dan was-was, "Apa Ryeowook?"

"Aku mengatakan itu karena aku cemburu." kali ini suaranya lebih mantap.

"Dan itu karena...?" suara Yesung semakin tegang, Ryeowook bisa merasakan jantung Yesung berdegup liar, sama sepertinya.

"Karena aku sepertinya juga menyimpan perasaan kepadamu."

"Ryeowook!" Yesung berseru, lalu melangkah cepat ke arah Ryeowook dan menariknya berdiri menghadapnya, "Katakan sekali lagi! Apa maksudnya itu?"

"Karena aku juga mencintaimu." kali ini Ryeowook tersenyum lebar, "Dan terima kasih kepada Yuri, di memang membantumu, karena kalau tidak ada dia, aku tidak akan menyadari perasaanku."

Yesung berseru pelan, lalu memeluk Ryeowook erat-erat. "Ah. Ya Tuhan Ryeowook." suara lelaki itu bergetar, "Kau tidak menyadari betapa seringnya aku mencoba membaca hatimu, menebak-nebak apa yang ada di dalam kepala cantikmu itu. Aku tidak pernah merasa begini kepada wanita lain sebelumnya. Tidak pernah!"

Dengan lembut, Ryeowook membalas pelukan Yesung, lelaki itu kini terasa lebih dekat, tanpa penghalang saat mereka sudah saling mengungkapkan perasaan masing-masing.

"Jadi kita harus bagaimana?" gumam Ryeowook dalam senyuman.

Yesung menatapnya serius. "Tidak ada perceraian. Sudah pasti tidak akan ada!" Yesung menjauhkan tubuhnya sedikit dari Ryeowook, lalu mengecup dahi Ryeowook, mengecup pipi Ryeowook, mengecup bibir Ryeowook dengan kecupan ringan yang lembut. "Suka atau tidak suka kau akan menjadi isteriku selamanya."

Ryeowook terkekeh, "Kau sangat arogan, Yesung."

Lelaki itu balas tersenyum, "Aku sudah memilikimu sebagai isteriku, dan akan kupertahankan." mata Yesung bersinar sensual dan suaranya menjadi parau, "Mungkin sekarang kita bisa membahas masalah malam pertama."

Ryeowook memukul lengan Yesung sambil tertawa, "Apakah hal itu tidak jauh-jauh dari otak kotormu selama ini?"

Yesung tertawa, tawanya lepas, tampak bahagia. "Kau tidak tahu betapa susahnya untukku menahan diri tidak menyentuhmu di ranjang itu. Setiap pagi aku bangun dengan nyeri yang menyiksa. Tetapi saat itu kupikir semua sepadan, karena pada akhirnya aku akan memilikimu."

"Tetapi kau menyerah untuk melepaskanku tadi."

"Karena aku mencintaimu, karena aku ingin kau bahagia." Yesung menundukkan kepalanya, lalu mengecup bibir Ryeowook dengan lembut, "Sekarang setelah aku mengetahui perasaanmu kepadaku, jangan harap kau akan kulepaskan." Ryeowook membalas kecupan Yesung, sejenak mereka hanyut dalam ciuman yang panas, sampai Yesung mengangkat kepalanya dengan napas terengah, "Aku merencanakan bulan madu di Paris dengan suasana romantis, tetapi sepertinya aku tidak mau menunggu." matanya bersinar penuh pertanyaan, membuat Ryeowook terharu sekaligus merasa sangat dihargai.

Ketika Ryeowook menganggukkan kepalanya dengan lembut, Yesung meraih dan menggendongnya, seolah Ryeowook begitu ringan di tangannya, "Kalau begitu sekarang." Gumamnya penuh hasrat, lalu mengangkat isteri yang belum pernah disentuhnya, dan membawanya menaiki tangga menuju kamar.

Ryeowook mengalungkan lengannya di leher Yesung dengan bahagia, tak pernah disangkanya pernikahan sandiwara karena perjanjian ini akan berakhir seperti ini. Berakhir menjadi penyatuan hati, menjadi perjanjian hati.

Ryeowook memejamkan matanya, tidak ini bukan akhir. Ini adalah awal segalanya, bisa dibayangkannya dia dan Yesung bergandengan di usia senja, menatap wajah anak cucu mereka dengan bahagia.

Tuhan memang selalu memberikan skenario misterius bagi umatnya. Dulu dia pernah begitu mencintai Dongwoon hingga merasa tidak mampu mencintai lelaki lain. Tetapi kemudian Tuhan memberikan Yesung untuknya, yang dicintainya dengan begitu saja. Yang juga mencintainya dengan begitu saja.

Dan dia yakin bahwa mereka akan bahagia sampai akhir. Karena mereka saling mencintai, dan hati mereka sudah saling berjanji.

END