~Natsu POV


"BODOH!"

Ya memang.

"Untuk apa kau kesini lagi?"

Sudah ku bilang aku ingin memperbaiki keadaan.

"Menghilanglah seperti kemarin!"

Inginnya juga begitu. Tapi ada sesuatu yang bodoh dalam diriku, yaitu hatiku, berteriak aku harus menemuinya lagi. Apapun yang terjadi.

"Kenapa kau diam? Bicaralah! Agar aku bisa menyalahkanmu lagi!"

Entahlah. Aku tidak yakin. Apakah membuka mulutku adalah pilihan terbaik saat ini.

"Hei! Kau mengabaikanku?" raungnya lagi. Ia membanting gelas minumnya di atas meja.

Aku harus pergi. "Maaf. Aku harus pergi." Aku melesat pergi dan menutup pintu. Aku mendengar suara teriakan. Tapi aku tidak peduli. Aku akan menemuinya. Tidak peduli kau sahabatnya. Aku hanya perlu dengan gadisku.


Unlucky?

.

Fairy Tail (c) Hiro Mashima

Warning: AU, OOC, Typo(s), Bad Diction, Mature Content, dan segala keanehan lainnya yang menyertai

.

^DLDR^

.

Aquaflew

present

.


Aku memiliki nomor ponselnya. Aku tahu tempatnya bekerja. Aku tahu seluruh profilnya. Tapi yang aku lakukan adalah menunggu di depan apartemennya. Dan meskipun aku tahu kode password pintu masuk apartemennya, aku tetap menunggu di sini. Udara sedikit dingin, tapi aku tidak peduli. Aku tidak peduli pada diriku sendiri.

Aku menyadari musim dingin sangat berbahaya. Apalagi di penghujung tahun. Sebentar lagi akan memasuki perayaan penutupan akhir tahun di Fiore. Masa bodoh. Aku tidak peduli dengan perayaan semacam itu. Tapi sepertinya akan menyenangkan mengajak gadisku ke perayaan. Uh, aku harus menyusun kata-kata terlebih dahulu. Payah kau.


Ini hampir tengah malam, dan gadisku belum kebali. Ah, aku menyebutnya gadisku seolah-olah dia milikku. Aku. Memang. Ingin. Memiliknya.

Aku terlalu naif.

Kemudian aku mendengar langkah kaki. Pelan tapi pasti semakin mendekat. Kemudian berhenti. Aku dapat melihat ujung bayangannya. Aku menatapnya. Iris mata karamel yang terbelalak menyambutku. Wajahnya sedikit pucat. Ekspresinya seperti melihat hantu.

"Hai, Luce," sapaku. Membuyarkan lamunannya.

Gadis blondie di depanku masih terdiam. Tetapi kemudian ia membuang muka dan terburu-buru mengeluarkan kunci apartemennya. Aku siaga dengan pergerakannya. Ia seperti buronan yang ingin kabur, jadi aku menangkap lengannya.

"Kumohon, dengarkan aku, Luce," ucapku serak. Sial.

Ia masih terdiam. Kemudian kepalanya menggeleng. Ia berusaha menyentakkan lengannya, tetapi tenagaku lebih besar. Ia menunduk. Dan aku mendengar ia mulai terisak. Sial, sungguh sial. Lagi-lagi aku yang membuatnya menangis.

"Lucy..."

Ia menggeleng. Masih berusaha memberontak.

"...Aku mencintaimu, Luce."

Ia terkejut. Lagi. Tapi ia masih belum mau menatapku. Jadi aku mengangkat dagunya. Iris karamel indahnya terlihat bening dan berkilauan karena air mata. Aku memantapkan hatiku.

"Aku mencintaimu," ucapku lagi. Dan kali ini aku mengecup bibirnya. Aku sedikit berhati-hati, takut ia menolakku. Tapi kemudian Lucy membalas ciumanku. Aku sedikit tersenyum dan menariknya dalam pelukan.

Aku sungguh merindukan gadis ini. "aku mencintaimu," ucapku sekali lagi.


"Ini," ucapnya memberikan segelas minuman hangat.

"Terima kasih," aku mengambil dan meminumnya. Tubuhku seketika di banjiri kehangatan. Menunggu di luar berjam-jam saat musim dingin memang tidak bagus. Ku sarankan jangan melakukannya.

Lucy duduk di sampingku dan menatapku malu-malu. Sedikit salah tingkah. Ehem. Aku juga agak canggung. Demi janggut Makarov, aku bukan anak remaja lagi. Kenapa rasanya sangat memalukan?

"Jadi..." ucap Lucy, "berapa jam kau menungguku di luar? Kau hampir terkena hipotermia."

Benar. Hipotermia sialan. Memalukan. Seandainya tadi aku tidak memeluk Lucy, sudah di pastikan tubuhku tumbang. Aku memalukan ketika kau menyatakan cinta, lalu kau terkena hipotermia.

"Entahlah, Luce. Aku tidak menghitungnya," aku sedikit tersipu. Mana mungkin aku mengakuinya bukan? Harga diriku!

Lucy berdeham. "Kau bilang kau mencintaiku," dia terlihat merona dan salah tingkah, "tetapi mengapa kau mematahkan hatiku?" disini pandangannya berubah. Terlihat menuntut. Dan terluka. Aku tahu cepat atau lambat aku harus berbicara.

Ada sedikit jeda ketika aku menghabiskan minumanku.

"Aku akan meminta maaf padamu, Luce. Aku minta maaf." Ia terlihat akan membuka mulutnya, tapi aku menghentikannya. "Pertama, perkenalkan. Aku Natsu Dragneel. Agen spesial FBI dari unit kriminalitas penyalahgunaan obat-obatan."

Lucy terlihat terkejut. Tentu saja. Tapi ia menguasai keterkejutannya dengan cepat. Wajahnya menampilkan ekspresi penasaran.

"FBI? Fiore Bureaou of Investigation? Itu benar-benar ada?" tanyanya antusias.

"Itu benar," aku mengeluarkan lencana identitasku dan Lucy mengambilnya untuk memeriksa.

"Wow. Aku tidak menyangka agen yang beroperasi di bawah perintah langsung presiden benar-benar ada. Aku pikir itu hanya ada dalam film-film action. Pekerjaan mereka sangat rahasia."

Lucy terdiam menyadari sesuatu.

"Kau benar, Luce. Pekerjaanku sangat rahasia. Identitasku juga rahasia. Oleh karena itu, aku tidak bisa memberitahumu. Karena aku melakukan banyak misi-misi rahasia. Seperti terakhir kali aku menghilang."

Ia masih terdiam. Aku bersandar ke arahnya. "Pekerjaan. Itu alasanku menghilang. Aku tidak ingin kau salah paham. Dan sebelumnya aku tidak ingin kau khawatir, karena itu aku tidak memberitahumu. Tapi aku malah menyakitimu. Aku minta maaf."

"Natsu..."

"Aku sangat mencintaimu, Luce. Aku tidak akan menyembunyikan apa-apa lagi darimu. Kau bisa bertanya apapun," ucapku tepat menatap iris karamel favoritku.

Ia tersenyum. Lucy tersenyum hingga kedua matanya menyipit. Pipinya merona. Ia terlihat sangat manis. Aku akan merengkuh dan menciumnya kalau saja ucapannya tidak menghentikanku.

"Aku juga mencintaimu, Natsu."

Dan tidak ada malam penghujung tahun seindah ini selama hidupku.


"Jadi, apa kau sekarang kekasihku, Lucy Heartfilia?"

Kami berbaring bersama di sofa. Aku memeluknya lebih erat. Wangi lembut Lucy memenuhi indra penciumanku. Aku sekarat merindukan wangi ini selama tiga bulan lebih.

"Bagaimana menurutmu?" gumam Lucy.

"Menurutku lebih baik kita langsung menikah," usulku. Lucy mencubitku dan aku berteriak. "Ada apa, Luce? Apa kau tidak ingin menikah denganku?"

Wajah Lucy memerah padam. "Itu terlalu cepat bodoh!"

Aku terkekeh. Kami benar-benar seperti remaja yang kasmaran. Masa bodoh. Saat ini aku sedang berbahagia.

"Ceritakan!" pinta Lucy.

"Cerita apa?"

"Awal pertemuan kita. Kau sangat misterius, kau tahu. Bagaimana kau bisa mengenalku? Menyelamatkanku berkali-kali? Bagaimana semua itu terjadi?"

Aku menarik napas panjang. "Baiklah. Untuk kekasihku, Lucy Heartfilia, aku akan menjadi pendongeng yang baik."

"Jadi sekarang kita sepasang kekasih?"

"Memangnya kau tidak setuju?" ujarku menatapnya.

Lucy tersenyum kecil, "tentu saja setuju. Baiklah, lanjutkan ceritamu, Agen."

Aku mengecup bibirnya dan menyeringai. "Saat itu kami sedang di markas. Tepatnya awal tahun. Kami akan membicarakan misi baru. Menangkap komunitas kriminal pembuat obat-obatan terlarang. Pembuatan obat ini bermacam-macam, salah satunya obat perangsang dengan dosis tinggi," aku menyadari tubuh Lucy sedikit menegang. Mungkin teringat insiden itu. Aku membelai punggungnya dan melanjutkan cerita.

"Saat itu kami di berikan tugas membuntuti beberapa orang. Mereka membawa sample obat yang kami cari. Kami tahu salah seorang dari mereka mengincarmu, ia adalah pria mesum yang menguntitmu seminggu sebelumnya. Tapi kami tidak bisa menangkapnya karena ia sangat lihai menguntit. Dan meskipun kami penegak hukum, kita tidak bisa begitu saja menangkap dan menyita barang orang lain yang kita anggap kriminal. Semua itu harus ada bukti.

Secara tidak sengaja kau ke klub malam. Padahal dalam profilmu kau jarang ke tempat seperti itu. Ini membuat kami sedikit resah karena penguntit itu bisa bebas mengincarmu di sana. Kau juga tampil luar biasa seksi hari itu," wajahku memerah mengingat pertemuan pertamaku dengan Lucy.

"Aku tidak bisa membiarkan si brengsek itu melakukan rencananya padamu. Aku harus melindungi penduduk Fiore dari ancaman, lagipula di luar itu, aku tahu kau gadis baik-baik. Aku telah mengamatimu sebanyak penguntit itu lakukan. Oh, jangan menatapku seolah aku juga penguntit, Luce. Aku juga mengetahui kebiasaanmu. Secara tidak langsung membaca karakter kepribadianmu. Mungkin itu awal mula aku tertarik padamu."

Aku merasakan tubuh Lucy beringsut lebh dekat. Dan meskipun aku merasakan kelembutan tubuhnya, aku berusaha meneruskan ceritaku. Aku berdeham. Sial, celanaku menyempit.

"Jadi aku mendekatimu. Aku sudah tahu taruhan konyol yang di minta temanmu. Ponselku terus-menerus berdering, rekanku terus memperingatkan agar aku berhati-hati. Mereka juga mengawasi si brengsek dan melaporkannya padaku. Tetapi ada sesuatu di luar rencana, yaitu kau. Aku jatuh dalam pesonamu. Aku melalaikan tugas. Aku menidurimu. Target yang seharusnya kulindungi."

"Ah, pagi itu aku mendengarmu menelpon seseorang. Um... apa itu rumahmu? Aku lupa tempatnya, tapi aku yakin itu bukan hotel atau semacamnya," bisik Lucy dengan pipi merona.

Aku mengecup pelipisnya. "Ya itu bukan hotel, itu rumah milik pamanku. Aku tidak memiliki rumah menetap. Kebanyakan berada di markas."

"Hm-mmm.. setelah kau menolongku tentang taruhan. Apa yang terjadi? Aku sedikit malu mendengarnya, tapi aku ingin tahu.."

"Aku menemui atasanku. Dia orang yang hebat. Hanya saja karena aku telah mengacau, dia bertindak tegas dengan meliburkanku dari tugas. Skors. Aku hanya tidak boleh muncul di sekitarmu lagi. Rekanku menggantikan aku mengawasimu jarak dekat. Lalu insiden itu terjadi karena kecerobohan rekanku. Ia seharusnya mengawasimu, tetapi tergoda oleh wanita," tanganku terkepal mengingat kecerobohan Loki. Aku melirik Lucy, ia hanya menatapku. Aku mengecupnya lagi, agar dia tidak mengingat kejadian menyebalkan itu.

"Aku tidak apa-apa, Natsu. Lanjutkan kisahmu.."

"Kami mencarimu. Lalu aku menemukanmu meskipun terlambat. Aku hampir membunuh si brengsek itu dengan tanganku, kalau saja rekanku tidak menghentikanku. Sampai sekarang rasa ingin membunuhnya masih ada," aku tertawa hambar. "Kemudian karena ketidakbecusan rekanku, aku memaksa atasanku untuk membiarkanku menjagamu secara langsung. Permintaanku diterima, tetapi dengan catatan bahwa aku siap bertugas kapanpun karena misi masih berlangsung. Aku menghubungi sahabatmu, sementara kau masih belum sadar. Aku menjelaskan insiden yang menimpamu dan meminta ijin bahwa aku akan menjagamu. Tapi temanmu tidak percaya padaku. Lalu aku memberitahunya identitasku. Untuk jaminan."

"Jadi itu sebabnya Cana tahu tentang identitasmu yang sebenarnya.. aku pikir kalian saling mengenal?"

"Tidak. Aku tidak mengenalnya. Tapi aku memintanya merahasiakan identitasku darimu. Awalnya dia menolak, tapi aku berjanji padanya akan memberitahumu. Kemudian dia setuju setelah perdebatan alot. Aku merawatmu. Dan sebelum hari kau pulang, aku di beritahu bahwa misi kami akan berlanjut. Misi ini akan memakan waktu yang panjang. Bahkan tidak ada jaminan kami akan selamat. Jadi, aku tidak bisa memberitahukanmu. Aku bahkan tidak bisa bercinta denganmu meskipun aku ingin. Aku mengantarmu pulang, lalu pergi berkemas. Kau tahu, saat itu aku memang sudah menyukaimu. Dan karena takut memberi harapan palsu atau menyakitimu.. sebelum semuanya terlambat.. aku berpikir bahwa keputusan yang tepat meninggalkanmu sekarang. Agar kau dapat melupakanku. Atau aku melupakanmu."

Aku meraih tangan Lucy. Membawanya ke bibirku, dan mengecupnya. Kemudian meletakkannya di dadaku, mengajaknya merasakan denyutan dadaku yang berpacu.

"Tetapi saat misi panjang tersebut kami lakukan. Semakin ingin aku menyelesaikannya. Aku merindukanmu. Perasaan itu kian membengkak di hari berikutnya. Dan berikutnya. Rekan-rekanku juga mengatakan aku seperti robot pembunuh. Aku tidak banyak bicara dan hanya bekerja secepat mungkin. Pikiranku hanya ingin bertemu denganmu secepatnya. Ingin mendengar suaramu, tawamu, senyumanmu. Aku haus akan kehadiranmu meskipun kita hanya beberapa kali bertemu. Kemudian aku di beritahu bahwa aku jatuh cinta. Aku mencintaimu. Dan ketika aku mengetahui jawaban itu, bebanku terasa terangkat.. seolah aku mengetahui tujuan hidupku selama ini.." aku menatap iris karamel di sampingku, "aku mencintaimu, Luce," ucapku seraya menciumnya.

Lengan Lucy menarik leherku dan kami berciuman dengan sangat dalam. Ini adalah ciuman sesungguhnya. Bukan hanya ciuman tentang hasrat seperti pertemuan kami di awal. Karena perasaan kami mengalir melalui ciuman ini.

Lenganku melingkari tubuh hangat Lucy dan menariknya lebih dekat ke dadaku. Dadanya menekan dadaku. Dan jatung kami berpacu seirama. Kemudian kami menarik diri dan bernapas.

Wajah dan bibir Lucy memerah. Tapi bibirnya terlihat sangat menggoda karena warnanya seperti buah ceri merah. Bibir Lucy tampak berkilau karena basah dan sedikit terbuka.

"Saat aku pulang dari misi, aku berencana menemuimu. Tapi kau bekerja, tentu saja. Jadi aku menemui Cana. Untuk sekedar menyapa dan mungkin bertanya tentang dirimu. Tapi dia marah padaku. Dia bilang aku membuatmu hancur. Membuatku semakin sadar bahwa aku membuatmu lagi-lagi terluka.. aku minta maaf," ucapku sekali lagi. Permintaan maaf yang akan ku ucapkan seribu kali pada gadisku.

Lucy meraih wajahku. Ia menggeleng, "aku tidak apa-apa. Sungguh. Aku bukan seorang putri lemah yang harus kalian lindungi. Tiga bulan lalu tidak seburuk yang Cana atau kalian katakan!" Lucy tersenyum geli. "Aku tidak lemah, justru karena saat itu kau pergi, aku jadi mengetahui seberapa besar perasaanku padamu. Ternyata aku tidak hanya menyukai, tapi mencintaimu. Bukankah itu suatu pembelajaran yang luar biasa?"

Dan aku mengecupnya. Membawanya ke dalam ciuman panjang yang aku tidak akan pernah bosan merasakannya.

Seolah langit merestui hubungan kami, butiran benda putih cantik yang berguguran terlihat dari jendela kaca. Salju turun menutupi Fiore dengan warna putihnya yang suci.


FIN


Terima kasih banyak:

Krama kp, Lightning Shun, lily-chan, dhimasowen , KatoNamiga29, umaru-chan, nataliafenni4 , Guest, , Natsu489, AmaranthAmbrosia , Hoshizora Ran , dindachan06 , Kikyu RKY , dark blue and pink cherry , Miyu Mayada , Fic of Delusion, Morita Naomi , yudi arata

Saya mohon maaf apabila ada kekurangan dalam cerita ini..Dan semua teman-teman yang telah mendukung cerita saya, untuk kesabaran dan tiada hentinya menagih saya update saya ucapkan TERIMA KASIH BANYAAK #ogiji

Chapter 10 akan saya gunakan sebagai penutup (epilog) :9 hehe.. sampai jumpa!


Hipotermia adalah suatu kondisi di mana mekanisme tubuh untuk pengaturan suhu kesulitan mengatasi tekanan suhu dingin. Hipotermia juga dapat didefinisikan sebagai suhu bagian dalam tubuh di bawah 35 °C. Tubuh manusia mampu mengatur suhu pada zona termonetral, yaitu antara 36,5-37,5 °C.