BarbieLuKai's Present
.
.
Mengejar Cinta Kim Jongin
.
.
End of Survive?
.
.
Akhirnya, rombongan kelas 11 itu sudah sampai di Busan. Mereka mengendarai bus sehabis dari kereta api, menuju penginapan tempat mereka akan tinggal sementara, yaitu di dekat pantai.
"Jongin?" panggil Sehun membangunkan Jongin pelan. Namja manis yang bersandar di bahunya itu tersentak sedikit.
"Hm?"
"Kita sudah sampai," jawab Sehun agak canggung. Sejak Jongin duduk di kursinya, Sehun tidak berbicara sepatah kata apapun padanya.
"Hoaahhmm.."
"Kajja!" bisik Sehun pelan, Jongin tersenyum seraya meregangkan lengannya, ia melingkarkan jemarinya dengan jemari Sehun yang terkejut.
"Kita sekamar kan?"
Pertanyaan Jongin itu seperti mengundang birahi Sehun untuk meniduri Jongin sekarang juga. Namja berkulit putih kepucatan itu menghela napas pelan-pelan seraya mengiringi Jongin menuju kamar mereka.
Semoga saja ia tidak bertemu Luhan atau siapapun yang akan mengganggu mereka.
.
.
.
.
"Bagaimana jika aku menembak Luhan?"
"Uhuk. Uhuk."
"Sehuna, gwaenchanayo?"
Sehun masih terbatuk-batuk, cemilan yang ia santap harus menyumbat kerongkongannya ketika mendengar pertanyaan Jongin yang menusuk.
"Ini belum jam makan malam Jongin dan berhenti bicara yang tidak-tidak!"
"Aku serius! Aku ingin menembak Luhan malam ini," Jongin menatap dinding kamar mereka seraya membayangkan ia dan Luhan pergi ke pantai bersama, kemudian memuji betapa cantiknya Luhan, mencium bibir yeoja itu lembut lalu menyatakan perasaannya.
Seandainya namja bermarga Kim itu melihat apa yang diperbuat Sehun sekarang...
Sehun sedang mengepalkan tangan yang berisi keripik, terdengar bunyi remukan kripik itu dan geramannya yang rendah.
Tuhan memang selalu tidak adil.
Buru-buru Sehun berdiri, kemudian pergi berlalu begitu saja meninggalkan Jongin yang termangu-mangu di kasur mereka.
'Sehun kenapa?'
Dasar Jongin tidak peka!
.
.
.
.
Sampai makan malam Sehun juga tidak datang. Jongin mencuri pandang pada kedua 'jalang'-nya Sehun kalau menurutnya yang tengah bercanda dengan kekasih mereka.
Sudah jelas kan? Dua yeoja itu tidak mengincar Sehun, Jonginnya saja yang terlalu parno. Namja bermarga Kim itu bergerak gelisah karena tidak menemukan Sehun di mana-mana.
Ruang makan tampak ramai, beberapa gosip dan fakta mulai bertebaran di sisi para yeoja sedangkan beberapa namja menghiasi suasana dengan tingkah laku mereka yang usil.
Namun, berbeda dengan Jongin.
Dia menyantap makan malamnya amat lesu, sehingga Luhan yang begitu mengamatinya langsung menggenggam tangan namja manis itu.
"Wae? Ada yang salah dengan makan malammu?" tanya Luhan lembut.
Jongin memandang yeoja itu, ia tidak dapat menyembunyikan kemuramannya sehingga Luhan semakin bingung, "Aniya, gwaenchana.."
"Kau tidak menyuap makananmu.." Luhan ikut menyendok makan malam Jongin lalu bergerak menuju mulut Jongin, "setidaknya kau harus makan,"
Mau tak mau Jongin menerima suapan itu. Perutnya juga tidak bisa diajak kompromi, padahal niatnya tadi dia akan makan kalau Sehun muncul. Tapi sepertinya, dia harus memakan kata-katanya sendiri.
"Nah, begitu dong.." senyum Luhan mengembang, Jongin ikut tersenyum seraya mengunyah apa yang Luhan suapkan.
"Kau tidak makan?" tanya Jongin disela-sela kunyahannya. Luhan mengelap sisa makanan yang melumuri sudut bibir namja tersebut.
"Aku sih gampang.."
Jongin menghela napas, ia menahan suapan Luhan sembari menaruh kembali sendok itu, "Kau saja yang makan, aku sudah kenyang.."
"Jongin.."
Buru-buru Jongin beranjak berdiri dan meninggalkan Luhan. Yeoja cantik itu termangu-mangu memandang punggung Jongin yang samar-samar menghilang.
.
.
.
.
Angin malam di pesisir pantai itu terasa dingin. Menusuk tulang punggung Sehun yang saat itu hanya memakai kaos saja. Sendal yang menjadi alas kakinya sudah raib ia lempar ke laut yang sedang pasang.
Namja bermarga Oh tersebut berhenti sejenak lalu duduk di atas pasir sambil menikmati dinginnya semilir angin dan ombak laut yang menghempas beberapa batu karang. Mereka berlomba-lomba menyentuh kaki Sehun yang tak jauh dari situ.
Sehun menghela napas, sudah malam dan ia masih memikirkan bagaimana Jongin yang akan menembak Luhan. Perutnya berbunyi sedikit nyaring tapi tak bisa mengalahkan suara air laut.
Dia tersenyum tipis ketika ingatannya tertuju pada Jongin. Namja manis itu selalu bersamanya, dari mereka duduk di bangku SD sampai sekarang. Jongin yang polos dan bodoh soal perasaan tapi lincah serta cerdas dalam pelajaran. Bibirnya melebarkan senyuman saat mengingat kembali Jongin yang memaksanya untuk mengaku soal pacar baru Sehun.
Di sisi lain ia juga sakit.
Jongin tidak akan menjadi miliknya, selamanya dia tidak akan memiliki Jongin. Hati Jongin bukan untuknya, melainkan buat Luhan. Mantan sekaligus musuhnya dalam memperjuangkan cinta Jongin.
Angin malam tak lagi diubrisnya. Sepi dan damai menyeruak di benaknya sampai...
"Sehuna!"
Sehun terkesiap.
Siapa yang barusan memanggilnya? Kedengarannya seperti suara Jongin, tapi bukankah Jongin tengah-
"SEHUNAAA!"
Sehun menoleh, mendapati Jongin yang berdiri sekitar 70 meter darinya sambil memegang lutut, ia bisa melihat bagaimana Jongin mengatur napas yang terengah-engah. Namja bermarga Oh itu masih mematung memandang Jongin yang berusaha berlari ke arahnya.
Ketika Jongin hampir dekat, buru-buru Sehun bangkit dan berlari menjauhi jangkauan Jongin. Terjadilah kejar-kejaran tapi Jongin tersandung gundukan pasir sehingga ia tersungkur.
"Sehhh... Uhnn..."
Sehun menghentikan larinya, ia menoleh ke Jongin yang berusaha bangun. Tidak ada niatan untuk membantu Jongin, karena ia takut bertemu dengan namja manis itu. Padahal dalam hati ia ingin sekali membantunya.
Persetan!
Sehun berlari menghampiri Jongin dan mendarat di dekatnya.
"Wae Jongin?! Wae?!"
Jongin belum menjawab tapi Sehun sudah melayangkan tinju padanya.
Bugh
Jongin memegangi rahangnya yang membiru. Dia terbelalak karena mendapat serangan dari sahabatnya sendiri.
Bugh
"Kenapa kau di sini?! Kenapa kau mencariku?!"
"Sehun, dengarkan aku dulu!"
Sehun yang sudah diliputi amarah dan emosi mengepalkan tangannya kuat-kuat agar menahan rasa inginnya untuk menghajar Jongin kembali. Bahunya naik turun seraya pergerakan napasnya yang memburu. "Apa?!"
Jongin bangun dari tempat ia terjatuh, dia mengigit bibir. "Aku tidak bisa menembak Luhan,"
Sehun diam saja.
"Karena aku tahu pasti ada orang yang lebih sakit dariku,"
Kepalan Sehun melemah sedikit, ia ingin sekali memeluk Jongin dan menyatakan perasaannya. Namun, perkataan Jongin selanjutnya membuat amarah Sehun bangkit.
"Dia tidak ingin aku bersama Luhan karena dia mencintai Luhan."
BUGH
.
.
.
.
"KIM JONGIN PABBOYA!" teriak Sehun keras. Sudah berapa banyak tinju yang ditujukan pada wajah manis dan cantik Jongin dari sahabatnya sendiri.
"Mianhae Sehun, kau boleh mengambilnya. Aku rela kau bersama Luhan asal kau bahagia!"
"AKU MENCINTAIMU, BODOH! BUKAN NENEK LAMPIR SEPERTI LUHAN! AKU MENCINTAI KIM JONGIN! KIM JONGIN! ORANG YANG TIDAK ADA BANDINGANNYA DENGAN SEMUA MANTANKU, BRENGSEK!"
Kini Jongin yang terdiam membatu. Dia tidak membalas ketika Sehun memeluknya erat, berteriak untuk menulikan pendengaran Jongin kalau Sehun itu mencintainya, bukan mencintai Luhan.
"Kau... Mencintaiku?" tanya Jongin tidak yakin.
Napas Sehun tidak teratur, suaranya menjadi serak akibat berteriak terus, "NE! AKU MENCINTAIMU! APA GUNANYA AKU MEMINTA BANTUAN PADA SEMUANYA AGAR BISA MENGEJARMU?! APA GUNANYA AKU MEMBUATMU CEMBURU AGAR KAU MENYADARI PERASAANKU?!"
Jongin menangkup kedua sisi wajah Sehun. Dia memandang iris kecokelatan Sehun yang masih membara karena ulahnya, namja manis itu mengigit bibir.
"Gomawo."
JONGIN INI RASANYA PENGEN DITIDURIN AJA ASLI!
"Yak! Setelah aku capek-capek berteriak, menjerit, dan menyatakan perasaanku, jawabanmu hanya GOMAWO?!" Sehun mengguncang tubuh Jongin keras, apa sih yang ada di pikiran Jongin sampai ditembak orang, responnya cuma begitu?!
Namja bermarga Kim itu menyunggingkan senyumnya dan tiba-tiba mengecup bibir Sehun duluan, "Nado.." bisiknya lalu kabur dari rengkuhan Sehun.
Kini giliran Sehun yang mematung. Namja tampan berkulit putih pucat itu terdiam selama beberapa detik hingga ia sadar kalau Jongin hilang.
"YAK! KIM JONGIN!"
Sehun mengejar Jongin yang sudah lari duluan. Mereka kejar-kejaran seperti artis india dan akhirnya Sehun berhasil menangkap Jongin. Mengurung tubuh yang sedikit lebih pendek darinya itu sambil melumat bibirnya lembut.
Jongin mengalungkan lengannya di leher Sehun seraya menekan agar Sehun memperdalam ciuman mereka. Asyik saja mereka berciuman, tidak memikirkan bahwa malam semakin larut dan anginnya membuat mengigil.
Sehun melepaskan ciuman mereka, ia tampak bahagia sekali, "Kau tidak marah aku mencintaimu?"
"Untuk apa marah kalau aku juga ingin menyadarkanmu tentang perasaanku.." Jongin mengecup bibir Sehun kembali.
"So," Sehun berdeham, "sekarang kita resmi?"
"Dari dulu kita memang sudah resmi kok,"
Keduanya melanjutkan ciuman mereka tanpa menyadari Luhan yang melihat dari jauh.
Yeoja itu menghembuskan napas seraya tersenyum tipis, "Chukkae, Sehun-ah."
Hey, Lu. I can feel the same way :(
.
.
.
.
Pagi-pagi sekali Sehun ingin keluar untuk jogging. Dia tadi sudah membangunkan Jongin untuk menemaninya, tapi sahabat sekaligus kekasihnya itu hanya memunggungi sosok Sehun lalu mendengkur lebih keras.
Ketika ia membuka pintu kamar, ia dihadapkan Luhan secara langsung. Otomatis dia kaget, untuk apa Luhan menemuinya pagi buta seperti ini?
"Ikut aku!" ajak Luhan memberi sinyal. Dia berjalan duluan sedangkan Sehun mengikuti di belakang.
Mereka sampai di pantai kemarin malam Sehun bergulat dengan Jongin, tapi dengan suasana yang berbeda.
Luhan duduk di pasir, sehingga Sehun mau tak mau duduk di sebelahnya.
"Sekarang, apa yang mau kau katakan?" tanya Sehun menoleh pada Luhan.
Yeoja cantik itu tersenyum sedikit, "Chukkae.."
Sehun tertegun. Terdiam beberapa saat, berusaha mencerna apa yang diucapkan Luhan.
"Kau berhasil memenangkan taruhan, Jongin milikmu, seutuhnya. Dan aku tidak akan mendekatinya lagi," jawab Luhan yang seolah mengerti pertanyaan Sehun di benaknya. Suaranya bergetar seperti menahan tangis.
Namja bermarga Oh itu menatap pemandangan laut terhampar luas. Matahari belum beranjak dari ufuk timur, tapi bias cahayanya sudah mulai nampak.
"Aku tahu.."
Luhan mengulurkan tangan, bermaksud sportif untuk menjabat tangan lawan yang menang. Namun, Sehun hanya menatap tangan itu bingung.
"Kau mau aku mencium tanganmu?" tanya Sehun, Luhan memukul kepalanya sambil tertawa kecil.
"Ani. Ini tanda bahwa kita sudah menyelesaikan taruhan kita, bukti kau sudah menang,"
Sehun pada akhirnya mengikuti aturan main Luhan. Mereka saling berjabat tangan, dan Sehun bisa merasakan bahwa Luhan gemetar. Bukan karena kedinginan, tapi seperti menahan rasa sakit ingin menangis.
"Kalau begitu, urusan kita sudah selesai," Luhan melepaskan jabatan tangan mereka. Dia beranjak bangun dan kabur sebelum Sehun sadar dia hampir menangis.
"Ey, Lu."
Ini adalah sebuah keajaiban.
Oh Sehun, namja playboy yang bisa melafalkan 'S' dengan benar, yang membenci Luhan karena dicintai Jongin, kekasihnya sendiri, menahan pergelangan tangan Luhan yang hendak kabur begitu saja.
Luhan terkesiap. Dia menatap lengannya yang ditahan Sehun, "Ada apa?"
Sehun melepaskan genggamannya, lalu tersenyum tulus. Tidak. Tidak untuk menggoda Luhan karena hati Luhan sudah tertutup untuk Sehun. "Semoga berhasil!"
'Maksud lo, semoga berhasil move on dari Jongin? Hah, mana mungkin bisa!' gerutu Luhan emosi, tapi ia tidak mau menampakkan rautnya di depan Sehun, ia hanya tersenyum tipis.
"Ya, kau juga."
Atmosfer menjadi canggung, Sehun beranjak berdiri dan langsung pergi untuk melanjutkan jogging paginya. Sedangkan Luhan juga pergi sambil menggaruk rambutnya yang tak gatal.
"Hey, Luhan! Kudengar Jaesoon menyukaimu!" gema suara Sehun terdengar jelas di telinga Luhan yang memanas ketika nama kapten basket yang tentu saja Jongin kalah tampan darinya disebut-sebut. Sial! Setampan apa Cho Jaesoon jadi Luhan langsung cepat berpaling dari Jongin?
.
.
.
.
"Kau darimana?" suara Jongin khas bangun tidur terdengar di balik selimut saat Sehun menutup pintu kamar mereka.
"Jogging.." jawab Sehun mengusap peluh di keningnya.
"Hm.." gumam Jongin, matanya menutup kembali membuat Sehun menaikkan alis. "Kenapa tidak membangunkanku?"
"Apa?" ulang Sehun tak mendengar pertanyaan Jongin lantaran namja manis itu bergumam tak jelas.
"Kenapa tidak membangunkanku?"
"Tsk, butuh waktu yang lama untuk menyeretmu dari tempat tidur," jawab Sehun lalu menyalakan televisi.
Jongin tak menjawab, melainkan dengkuran yang Sehun dapatkan.
"Yaelah.." gerutu Sehun, kemudian ia menarik selimut Jongin, "bangun Princess! Matahari sudah terik.."
"Engghh..."
"Yak! Bangun! Kau tidak mau kita terlambat untuk sarapan kan?"
"Hm..."
"Kau mau makan apa, Jong?"
Jongin hanya mendengkur.
"Aku tidak tahu harus sarapan apa, dari tadi malam aku belum makan," keluh Sehun seraya mencari snack di ransel. Siapa tahu ada yang masih tersisa.
Selagi Sehun dibingungkan dengan menu sarapan, Jongin tetap pada posisinya, yaitu ngebo di kasur.
Ujung-ujungnya, Sehun kesal juga. Biarpun ia terbiasa dengan Jongin yang kayak kebo begini, tetap saja dia kelaparan. Apalagi energinya ia habiskan untuk jogging tadi.
Akhir kekesalan, Sehun menarik kasar selimut Jongin dan ternganga.
Astaga. Dia baru ingat kalau Jongin tidur cuma pake boxer. Spongebob, yeah!
Sial! Pagi-pagi sudah disuguhi pemandangan laknat!
Bodohnya, Sehun tidak mengembalikan selimutnya, melainkan menatap lapar tubuh Jongin yang terbaring miring tersebut.
"Jongin..."
"Hm.."
"Aku tahu sekarang mau makan apa.. Kekeke.."
"GYAAAA!"
.
.
.
.
Intinya sih Sehun bukan pendusta ataupun pendosa. Jongin berhasil menendangnya jauh-jauh dan berlari masuk kamar mandi. Meninggalkan Sehun yang tergeletak tak bernyawa di atas lantai.
Sehun memakan sarapannya kasar, ia melirik Jongin yang makan dengan kalem. "Kejam."
Jongin mendongak, "Ada ngomong sesuatu?"
Jongin itu tetap sama. Polos dan bodoh secara bersamaan. Mereka baru pacaran 10 jam dan Jongin tampak biasa sekali.
"Oh tidak apa-apa, tadi ada lalat nakal terbang," jawab Sehun ketus menyuap sarapannya lagi.
Namja bermarga Kim itu menatap Sehun sebentar lalu mengangkat bahu, "Terserahmu aja, Huna.."
'Bahkan dia masih memanggilku Huna!' batin Sehun kesal. 'kapan dia memanggilku Baby, Honey, Sweety, iyuh..
Lo uke apa seme Hun -_- galau amat.
Saking senangnya dia karena mendapatkan hati Jongin, ia tidak memerdulikan celetukan author.
"Maaf ya.." terdengar Jongin berucap sesudah mereka ngomongin lalat.
Sehun menaikkan alis, ia berdeham. "Untuk apa?"
Pasti dia merasa bersalah karena baru menyadari perasaanku sekarang. Itu sudah pasti.
"Maaf ya kutendang tadi.."
PRAK
Oh Sehun memang pembualan yang benar-benar kepedean.
"Oh yang tadi ya?"
'Ini pacaran atau apaan sih? Kok jadi canggung ya?' pikir Sehun. Benar saja, status berubah bisa mengubah sikap dan prilaku seseorang.
Lihat saja Jongin yang kelihatan cemas sekaligus khawatir. Padahal pas sahabatan dulu, Jongin mukulin Sehun pakai wajan juga nggak bakal merasa bersalah begini.
"Jong, kok kita jadi canggung gini?" Sehun menyuarakan protesnya.
Jongin menggigit bibir, "Habis... Statusnya udah berubah sih, hehehe.."
Cengiran Jongin membuat suasana kembali normal. Sehun sudah berani memegang tangan Jongin atau sekedar menyuapinya. Padahal sebelumnya, mereka kayak batu, diam mulu.
"Oh ya.." baiklah Sehun kau bisa! Ini pertanyaan kritis, jika kau salah bicara maka Jongin akan merajuk. "Ehm, bagaimana dengan Luhan?"
Jongin yang tadinya tertawa-tawa karena lelucon Sehun langsung terdiam bagai disambar petir di siang bolong. Oh iya.. Luhan.
"Luhan ya?"
Sehun berharap Jongin tidak gegabah dalam mengambil keputusan. Atau bisa saja dia mengusulkan sesuatu yang gila seperti... Threesome?
Memikirkannya sudah membuat Sehun merinding. Ini aja taruhan dapetin hati Jongin susah payah, masa mau dibagi lagi sama nenek lampir!
"Hey, Sehuna!"
Namja tampan tersebut tersadar dari lamunannya. Dia menatap Jongin yang memandangnya serius.
"Ya?"
"Kenapa melamun?"
Sehun menggeleng sambil tersenyum. Membuat Jongin tambah curiga.
"Kau memikirkan yeoja lain ya?"
Kampret.
"Aniya!" bantah Sehun mantap. Demi apa dia tidak pernah sedikitpun melirik yeoja lain selain Jongin.
"Trus kenapa melamun?"
"Hanya memikirkan sesuatu yang absurd.." yeah threesome pfftt.
Jongin hanya menggeleng-geleng, sedangkan Sehun mengalihkan pandangan ke sekeliling ruang makan. Dan pandangannya tertuju pada Luhan yang sedang tertawa bersama Kyungsoo, Kris, dan... Jaesoon?
Wow.
Sejak kapan hobaenya itu di sana? Bukankah ini liburan khusus kelas 11?
Dan dia juga melihat beberapa anak kelas 10 yang lewat-lewat seperti Seonma dan Taehyung. Oke kalau itu nggak usah dikasih tau. Sehun langsung baperan.
"Jong, anak kelas 10 ke sini juga?"
Jongin mengangguk, "Baru saja mereka datang,"
Sehun hanya ber'ooh' saja. Dia masih memandang Jaesoon yang sibuk menggoda Luhan dan Luhan terlihat malu-malu.
Cepat banget Luhan move on.
"Sudahlah, Luhan tidak usah terlalu dipikirkan," ucap Sehun masih memandangi meja seberang. Tergerak ekor mata Jongin untuk melihat apa yang menjadi objek Sehun.
"Hm.." balas Jongin kalem. Sehun menaikkan satu alis.
"Kau tidak cemburu?"
Jongin menggeleng polos.
"Untuk apa? Luhan itu hanya kupakai sebagai objek biar kau peka dan tidak main yeoja mulu,"
Mendengarnya, Sehun seperti tersedak garpu dan sendok. Jongin yang ia kira polos sepolos pantat bayi ini ternyata memiliki hati yang tidak bisa ditebak. Siapa yang menyangka Jongin bisa juga memanfaatkan hati yeoja? Famous pula.
"Kau tahu maksudku kan?" Jongin menatap Sehun dengan matanya yang menggemaskan itu. Sehun menelan makanannya bulat-bulat.
Jadi, jadi, jadi siapa yang-
Sehun menghembuskan napas, lalu mengusap wajahnya kasar.
"Kenapa kau melakukan itu, Jong?" tanya Sehun, sedangkan Jongin mengendikkan bahu.
"Kan sudah kubilang, aku ingin kau menyadari perasaanku, Sehuna!" ucap Jongin gemas, ia hampir melempar baki di atas meja kalau ia tidak sayang pada Sehun.
Sedangkan Sehun hanya menyengir sempak.
Intinya, perjuangan Sehun mengejar cinta Kim Jongin nggak sia-siakan?
.
.
END
or
TBC?
.
.
Thanks to :Kokoro no Nyan, KaiNieris, SognatoreL, putrifibrianti96, jonginisa, aliyya, Silent Reader, Mizukami Sakura-chan, askasufa, ChubbyMinLand, jongin48, Guest, bublewk96, afranabilacantik, siangels kai, Wiwitdyas1, cute, BabyWolf Jonginie'Kim, youngimongi, Vioolyt, jungdongah, namegyu23, DwiKkamjong, , junghanbi, Bocah Lanang, parkhara, cherry, kimm bii, miszshanty05,dhantieee, novisaputri09, ren chan, AprilianyArdeta, Akasuna no Akemi, , LM90, utsukushii02, Guest, Misyel, cheonsa3424, guestimut (?), Kentan VJ 151
Mohon maaf apabila author salah menulis nama atau gelar (?) atau nama suami atau istri (?)
DAN THANKS FOR READERS YANG SUDAH MAU MENYEMPATKAN BACA FF AUTHOR, ending cerita ini hanya perlakuan semata, dengan konflik yang tidak sama sekali angst atau anti-klimaks hehe
Without you guys, asfjlasdjkgkasjfgkajdhfadf *author gak bisa bahasa inggris* :*
Intinya, terima kasih
Sebenarnya, author mau balas review, tapi... malas, muehehehe
AND!
This is the ending?
or
not?
Annyeong ^^
