"Apa yang sedang kalian lakukan?!"
.
.
,
Ruangan yang sebelumnya redup makin mencekam saat terdengarnya baritone sang kapten yang bergaung mematikan, tak terima dengan pemandangan yang tersaji di depan matanya. Bocah mungil yang merupakan tanggung jawabnya mengurai senyum tipis ke arah pemuda yang menjulang di depan pintu.
"K- Ka- Kami bisa menjelaskannya –ssu," gagap sang model, kedua tangannya diangkat ke udara, menyatakan kalah, mengakuan mohon ampun, permohonan untuk keringanan hukuman.
"Semua yang kau lihat tidak seperti yang kau bayangkan," pemuda berkulit tan mencoba menjelaskan dengan kapasitas otaknya yang pas-pasan. Dan sayangnya, pemilihan kata yang diucapkannya lebih terdengar seseorang yang tengah ketahuan selingkuh.
"Aku tidak tahu apa-apa Akachin, Kisechin dan Minechin bilang bahwa dengan melakukan ini dapat membuat Kurochin kembali seperti semula, jadi aku mengikuti mereka," dan penjelasan kelewat polos dari sang raksasa pecinta cemilan, menambahkan kilat marah pada heterochome sang kapten dan membuatnya mendapat bonus death glare dari kedua sahabatnya.
"Ryota, Daiki, Atsushi—" sang pemilik nama hanya membeku di tempat, sinis yang terselip dalam nada saat pemuda yang tidak lebih tinggi dari mereka bertiga mengabsen satu persatu-satu. Seolah-olah mengurutkan nama terpidana mati yang akan diseret ketiang ekskusi.
Rasanya seperti menelan obat dengan kadar tinggi saat mereka bertiga mencoba membasahi kerongkongan dengan saliva, hanya demi membalas panggilan sang kapten dengan satu kata "Iya," ketiganya kembali diam menanti kelanjutan dari pahitnya hidup mereka di tangan sang kapten tirani.
"Ikut aku," titahnya tanpa ampun.
Alih-alih menukar pakaian mereka kembali, bahkan ketiganya tak cukup punya nyali untuk menurunkan kapuco yang menutupi helai rambut warna-warni mereka. Tak ayal mereka nampak seperti kumpulan algojo yang siap meretas nyawa, yang mengincar jiwa suci seorang bocah yang tingginya di bawah garis rata-rata seorang pemain basket. Namun jika ditelaah dari sudut pandang yang berbeda, mereka bertiga adalah malaikat tak berdosa yang sedang digiring raja iblis menuju neraka jahanam karena berani menggoda kekasih raja iblis, dan menjadikan mereka salah satu pajangan dalam neraka bentukan si raja iblis.
Jika diijinkan, ingin sekali mereka menguliti manusia kunten di depannya. Namun itupun jika mereka masih selamat setelah ini.
.
.
.
.
.
*HOCUS FOCUS*
Disclaimer:
Kuroko No Basuke © Fujimaki Tadatosi
Story by Aoi-Umay
Pairing:
Chibi!Kuroko x GoM
Warning:
Typo, OOC yang berlebihan, sedikit Humor, AU
DLDR, R&R please...
Enjoy Reading Minna... ^^
.
.
.
.
.
Bocah yang terabaikan di atas lantai mengeliat sejenak, menyelipkan kain untuk melindungi area pribadinya dari jilatan pendingin ruangan, azurenya berkeliling dan mendapati pemuda bersurai lumut dalam keadaan yang sangat memprihatinkan. Kedua tangan dan kakinya terikat, dengan bonus lakban yang mencekal setiap suara yang akan keluar.
Perlahan kaki mungil sang bocah meniti lantai yang penuh dengan simbol-simbol aneh, mendekatkan diri pada pemuda yang diabaikan keadaannya oleh sahabatnya yang lain.
SRET
Lakban ditarik paksa, membuat shooter andalan Teiko sedikit mengaduh dan dibalas dengan kekeh sang bocah. Selesai dengan lakban, jemari mungil itu mencoba mengurai temali yang melilit pergelangan tangan dan kaki sang penganut oha-asa.
"Kuroko," merasa ada yang memanggil dirinya, sang bocah mendongak menatap sang pemuda bermanik zamrud di depannya.
"Bukannya aku peduli, nanodayo—" sang pemuda terdiam sejenak, mencoba kembali menyusun kalimat agar tidak terkesan peduli dan lebih memilih untuk menyembunyikan rasa khawatirnya.
"Aku hanya ingin memastikan kecurigaanku—" wajah datar sang bocah tetap datar, walaupun sorot matanya menampakkan ketertarikan pada kalimat yang akan dilontarkan sahabatnya.
"Apa fenomena mengecilnya tubuhmu itu adalah ulahmu sendiri Kuroko?"
OoO
Tiga remaja yang sedang menuai maut dari kapten pendek merah Teiko, sedang berjalan patuh bagaikan lembu yang dicocok hidungnya, tiga anggota Kiseki no Sedai yang memiliki tinggi di atas rata-rata anak seusianya, tanpa bantahan, tanpa perlawanan melangkah mengekor pemuda pemilik manik heterocrome.
"Kita sampai," ucapnya singkat, manik topas, safir dan violet yang selama perjalanan hanya tertunduk sambil memandangi jalanan dan sepatu kini mengonggak untuk memperhatikan sekeliling.
Dan demi guning milik sang kapten yang selalu tersimpan rapi di saku celana, hukuman macam apa yang diterima dari kapten tirani mereka, ketiganya kini berdiri sejajar di depan sebuah taman dengan ratusan orang yang tengah menikmati hari libur mereka sambil menikmati es krim yang dibagikan secara gratis.
"Apa lagi yang kalian tunggu, hibur aku."
Telak, mereka sudah tidak bisa menghindar, apalagi meminta belas kasihan untuk keringanan hukuman. Otak beku ketiganya mencoba mengurai setiap perintah yang terlontar dari bibir merah sang kapten, mencoba menganalisis setiap analogi yang tersimpan dalam jajaran kalimat perintah yang baru saja masuk ke dalam gendang telinga mereka bertiga.
"Kalian menunggu apa? Aku belum melihat pertunjukan kalian, jadi hibur aku di sini!"
Sebuah seringai kejam ditunjukan Akashi pada tiga bawahan tercintanya, sebuah bangku taman terdekat dijadikan singgasana sementara untuk menyaksikan kebolehan tiga rakyat jelatanya melakukan pertunjukan, menghibur dirinya yang dalam masa ini sedang tidak bersemangat karena fenomena yang terjadi.
Tiga manik berbeda warna saling tatap satu sama lain, kemudian menatap heteocrome di depannya, mencoba mengais rasa belas kasihan yang diharapkan masih sedikit tersimpan untuk mereka bertiga. Namun setelah merasakan aura pekat yang semakin mencekik atmosfir di sekelilingnya, mereka bertiga tahu dan yakin jika apa yang diharapkan sang kapten tidak mereka laksanakan maka hukuman yang lebih kejam akan mengintai ketiganya sepanjang sisa kehidupan remajanya.
Napas dihembuskan panjang-panjang, selain untuk mengulur waktu, hal remeh seperti itu setidaknya dapat meredakan sedikit gugup. Berharap para pengunjung yang sedang antri es krim gratis segera beranjak atau setidaknya sedikit berkurang, sayangnya harapan itu tidak terkabulkan. Bahkan sedikit keinginan untuk tidak menjadi pusat berhatian pun nampaknya hanya ada dalam anggan belaka karena tanpa mereka meminta, kini para remaja yang sedang mengenakan jubah hitam di tengah musim panas yang terik, sukses membuat para pengunjung taman semakin membludak, membuat ketiganya menjadi salah satu daya tarik dari taman.
Manik heterocrome terus menghujam dendam, mengamati para remaja berjubah yang masih bergerumbul saling himpit satu sama lain, seolah-olah tengah menghindari sorot tajam bagai laser dari para mengunjung sekaligus dari sang kapten yang kini terlihat sedang bersantai di atas singgasana kayu berwarna putihnya.
Ragu-ragu, takut, malu dan terpaksa, tiga pasang kaki jenjang mulai bergerak satu persatu, dimulai dengan kaki Kise dan pada detik kemudian Aomine serta Murasakibara turut bergerak seirama mengikuti setiap gerakan sang model. Canggung jelas terlihat, namun tepuk meriah dan seruan membahana dari para penonton tak dikenal memberikan satu suntikan semangat tersendiri bagi ketiga remaja itu. Sambutan tak terduga membuat ketiganya makin bergerak atraktif, berbeda dengan ritual yang tadi mereka lakukan di dalam apartemen sang kapten yang syarat akan kesakralan dan misterius, gerakan mereka sekarang lebih tepat dengan gerakan peserta festival, seruan-seruan mantra dilanjutkan keras dan bersemangat, rasa malu mereka terkikis habis, tergantikan dengan semangat yang membara. Canggung telah runtuh dan terganti dengan percaya diri tinggi setelah menyadari penampilan yang awal tujuannya untuk menjalankan hukuman sang kapten malah menjadi hiburan tersendiri bagi para pengunjung yang berujung pada decak kagum.
Entah apa yang ada dalam benak para penonton yang nampak menikmati setiap gerakan memutar, saling teriak mantra serta saling jalan berkeliling yang dilakukan tiga remaja dengan jubah hitam. Mungkin mereka merasa sedang menonton pertunjukan dari seniman jalanan atau mereka berharap pertunjukan di depannya merupakan salah satu acara televisi. Walaupun nyatanya satu-satunya orang yang tidak terhibur di sana adalah sang pemberi perintah, tak ada satu detikpun digunakannya untuk menikmati pertunjukan yang tersaji, manik matanya tak fokus, otaknya digunakan terus untuk berpikir tentang fenomena yang melibatkan salah satu anak buahnya, tiga hari sudah berlalu dan belum nampak ada hal yang berubah, belum terlihat bahwa fenomena aneh itu akan berhenti.
Lamunan sang kapten terganggu saat sesosok remaja tidak diundang tiba-tiba menghempaskan diri untuk duduk di sampingnya. Heterocromenya menyipit dan melirik tajam satu remaja yang dengan tidak sopannya mendaratkan diri di sampingnya tanpa permisi, surai hitam legamnya yang disisir ke atas, membuat sang kapten yang menjaga kerapian bergidik samar.
"Mereka benar-benar bodoh jika serius melakukan hal itu," gumam sang pemuda seraya terkekeh pelan, sedikit menarik perhatian Akashi yang masih menatapnya tidak suka.
"Kau mengenal mereka?" tanya pemuda bersurai merah itu tajam, dan mendapat balasan sebelah lengan asing merangkulnya sok dekat.
"Beberapa waktu yang lalu aku bertemu dengan mereka, dan yang mengusulkan melakukan gerakan itu adalah aku," kekeh itu makin membahana, membuat telinga pemuda di sampingnya secara ingin dilepas dari tempatnya, membuat aura pemilik heterocrome itu makin pekat berbahaya.
"Kau? Yang menyuruh mereka?" tanya itu bergulir tanpa perlu lagi diolah melalui otak, pikiran yang berkabut menuntut Akashi untuk meneliti setiap kejanggalan yang ditemuinya, "Apa yang kau katakan pada mereka?" berondong tanya kembali Akashi lontarkan, manik heterocromenya kini menatap tajam pemuda yang duduk di sampingnya.
"Mereka bodoh karena langsung percaya dan melakukannya, padahal mantra itu tidak akan ampuh jika ada sedikit saja keraguan dalam pengucapannya," pemuda berpenampilan punk yang sebelumnya dikenal sebagai Masamoto Shugo, terpaksa menjawab lontaran kalimat pemuda berusia lima belas tahun di depannya, manik heterocrome yang meniliknya tajam membuat lidahnya kelu untuk sekedar berbohong.
"Jelaskan apa yang kau ketahui tentang buku dan mantra itu," tuntun Akashi garang, membuat sang lawan bicara tersentak, dan terpaksa patuh dalam ancaman tanpa kata yang dihunus oleh pemuda di depannya.
OoO
"Apa makcud Midoli-nii, Kuloko tidak mengelti," kepala bersurai baby-blue itu digelengkan dengan bonus bibir yang mengerucut lucu sebagai tanda kebingungan.
"Jangan pura-pura lagi, nanodayo. Aku punya beberapa fakta yang menunjukkan bahwa kaulah orang yang membuat fenomena ini terjadi—" pemuda berkaca mata itu memalingkan wajah, kabut masalah yang ada di kepalanya harus di cerahkan, dan sebelum mengirim fakta itu untuk kapten tiraninya, setidaknya dia harus lebih dahulu mengetahui alasan mahluk mungil di depannya ini membuat keonaran.
"—mungkin Akashi terlalu bersalah pada dirinya sendiri sehingga tidak menyadarinya, tapi setelah hari ini aku semakin yakin bahwa hanya kau satu-satunya orang yang paling memungkinkan untuk menjadi tersangka, nanodayo."
Ekspresi datar itu masih tetap mempertahankan kedatarannya, walalupun terlihat samar beberapa titik keringat dingin mulai merembes melalui pelipisnya.
"Jika kau tidak mau memberitahukannya padaku, aku akan beberkan fakta yang ku temukan ini langsung pada Akashi, nanodayo—"
Begitu nama sang kapten disebut tubuh mungil itu reflek menegang sempurna, hal buruk pasti akan menantinya jika Akashi sampai mengetahui hal yang sesungguhnya, apalagi jika bukan langsung dari bibirnya.
"—aku melakukan ini bukan karena aku peduli padamu, nanodayo. Aku hanya penasaran dan karena hal itu aku jadi tidak bisa tidur," emerald Midorima menatap lurus azure sang bocah, berharap belah bibir mungil itu segera menjawab rasa penasarannya secepatnya.
"Apa saja hal yang sudah Midorima-kun ketahui?"
Emerald itu melebar sempurna, cadel akut sang bocah mendadak sembuh, bahkan panggilan yang masuk ke telinganya pun sama seperti sebelum fenomena ini terjadi. Dan hal itu semakin menyakinkan pemuda penganut Oha-Asa bahwa apa yang selama ini dicurigainya merupakan kebenaran. Dan sayangnya kaptennya terlalu larut dengan kalut pikirannya sendiri sehingga membuat tak ada satu tuduhan pun mengarah pada korban.
OoO
Sepasang kaki itu berlari membelah jalanan, tujuan adalah satu tempat. Tempat dimana beberapa minggu yang lalu manik heterocromenya menemukan buku yang berujung pada malapetaka tiga hari ini. Meninggalkan tiga anggota Kiseki no Sedai yang masih dengan bersemangat menjalankan hukumannya di taman, pemuda bersurai merah itu melenggang pergi tanpa memberi tahu ketiganya yang masih terus melakukan persembahan tidak masuk akal.
Informasi yang didapatnya dengan paksa dari pemuda yang tidak dikenalnya dan tiba-tiba datang serta duduk di sebelahnya membuat kedua belah matanya terbelalak, secercah cahaya menyinari pemikirannya yang selama ini terbalut kabut kalut, tak pernah terbayang dalam benaknya jika hal-hal sepele yang diabaikannya akan mengarahkan pada fakta yang dapat mengejutkannya, mengantarkannya pada kebenaran yang selama ini coba disingkirkan, kilas balik setiap peristiwa selama tiga hari ini berputar bagaikan slide show yang bergerak pelan.
Akashi mengutuk dirinya sendiri, merasa tidak mengenali siapa sosok dirinya. Perubahan yang terjadi pada Kuroko membuatnya kalut dan sulit berpikir jernih, membuatnya tenggelam pada rasa bersalah, larut dalam pemikirannya sendiri dan melupakan sepenggal fakta yang tercecer. Dan sekarang sang kapten sudah siap untuk mengubrak abrik seisi kota untuk menyatukan setiap keping fakta menjadi satu kebenaran yang akan diseret ke depan pemuda manis yang sekarang menjadi seorang bocah dan mendekam di apartemennya.
OoO
"Hal yang pertama adalah kau satu-satunya orang yang nampak tenang dalam menyikapi fenomena ini, padahal yang seharusnya panik adalah kau, nanodayo," pemuda penganut Oha-Asa yang baru saja terlepas dari kekang kali yang menjeratnya merenggangkan otot badannya yang terasa kaku, "Walaupun kau mengaku bahwa ingatanmu tercampur, hal itu tidak akan bisa membuatmu setenang ini, selain bahwa kaulah sutradara dari semua drama konyol ini."
Bocah berkulit pucat yang menjadi tertuduh kini mencoba merangkak menuju sofa terdekat setelah mengambil celana pendeknya dari kamar dan mengenakannya.
"Yang kedua, kau tidak keberatan saat Akashi menyuruhmu untuk menginap di tempatnya, dan kau pun tidak merengek minta pulang, ataupun menerima telpon saat ibumu menelpon."
Sang bocah nampak dengan tenang mendengarkan semua pendapat Midorima, kepala mungilnya nampak pengangguk sekilas, tidak terlihat ingin menyela ataupun membenarkan, kedua paha mungilnya sudah tertutup garmen berwarna gelap, kini sepasang tangan mungil itu mencoba menutupi badan bagian atasnya dengan t-shirt berwarna cerah.
"Dan yang ketiga—" pemuda bersurai zamrud itu menatap sang bocah lekat-lekat sebelum menyelesaikan kalimatnya. "Tidak biasanya kau menjadi manja padaku, dan setelah aku pikir-pikir. Kau berpura-pura manja padaku kerena kau tahu jalan yang kita lalui kemarin adalah jalan yang biasa dilewati ibumu, dan aku —yang belum mengenal ibumu, pasti menjadi orang yang tepat untuk melindungimu dari kecurigaan ibumu."
Bibir mungil itu masih menyatup rapat, tubuh mungilnya duduk dengan nyaman di atas sofa berwarna merah marun, seutas senyum samar disunggingkan hanya sekedar untuk mengapresiasi keberanian si kaca mata atas analisisnya yang mengagumkan.
"Apa kau tidak ingin membantah atau menyangkal semuanya Kuroko," enggan menatap manik azure yang berminar manis, Midorima lebih merasa menatap dinding lebih baik daripada tertawan pesona bocah mungil di depannya.
"Tidak Midorima-kun, aku tidak akan menyangkalnya, aku tidak akan membantah."
Midorima tersentak mendengar penuturan sang bocah, tak ada nada kalut yang terdengar olehnya, menandakan bahwa sang pelaku menginginkan teman-temannya menyadari semua kejanggalan yang terselip dalam fenomena yang mengusik kehidupan mereka.
"Lalu apa yang akan kau lakukan Midorima-kun? Apa kau akan mengatakan semuanya pada Akashi-kun?"
Bocah pendek manis itu menenglengkan kepalanya, membuat helaian baby-blue lembut itu tergerak berantakan pada dahinya.
"Tidak, nanodayo. Aku tidak akan mengatakan apapun pada Akashi. Ini semua salahmu, dan kau sendiri yang harus mempertanggung jawabkannya di depan A—"
BRAK...
Kedua penghuni apartemen lantas segera menatap pendatang baru yang membuka pintu dengan kasar, pemuda bermandi peluh itu adalah pelakunya, surai merahnya lepek kerena peluh dan menempel pada dahinya, dada sang kepten naik turun mencoba meraup oksigen sebanyak-banyaknya, manik heterrocromenya menatap penuh amarah dan kekecewaan. Semua kata cercaan kembali ditelan Midorima saat melihat ekspresi sang kapten dan Kuroko mencoba menelan salivanya yang terasa getir begitu menyadari ada rasa sakit yang membumbung menyelimuti aura di dekat kaptennya.
"Sepertinya aku harus meninggalkan kalian berdua, nanodayo," pamit Midorima seraya melenggangkan kaki menuju pintu dengan tubuh Akashi yang masih bersandar di sana.
"Sekalian jemput Ryota, Daiki dan Atshushi, aku meninggalkan mereka di taman." Perintah sang kapten saat Midorima melenggang di dekatnya, dan sebagai jawaban pemuda berkaca mata itu hanya mendesah samar.
Berat rasanya meninggalkan kedua orang itu, tak pernah terbayangkan apa yang akan di lakukan Akashi pada Kuroko jika mereka hanya ditinggal berdua, namun dari sorot mata Akashi, mereka dapat merasakan bahwa sang kapten merah mereka sudah selesai menyusun keping fakta dan menemukan satu kebenaran.
BLAM...
Pintu tertutup, memisahkan Midorima yang masih sibuk mendesah di dekat pintu, dan Akashi yang melangkah dengan hentak keras mendekati sang bocah yang kini beringsut menjauh dari raihan tangan sang kapten yang murka.
.
.
.
.
.
TBC
A/N :
No banyak coment, no banyak cingcong. Jika mau mencincang saia karena keterlambatan update dipersilahkan... tapi sebelumnya saia akan kabur terlebih dahulu. ^^
Waktunya balas review...
[Shizuka Miyuki]
Terima kasih sudah review... ^^
Yeah... aku tahu siapa kamu, kamu adalah reader paling kedje karena selalu review. XD
Waktu aku baca ulang juga ngakak, dan setelah dipikir-pikir memang persembahannya jadi kaya film animasi itu. XD
Dan kenapa Midorima disekap adalah jika dia di biarkan bebas dia akan menghalangi upacara persembahan. Karena di sini aku bikin Midorima satu-satunya chara yang paling waras (?) XD
[Nigou-i]
Terima kasih sudah review... ^^
Terima kasih juga untuk pujiannya, walaupun aku sangat tidak pantas untuk dipuji. Untuk AkaKuronya sepertinya harus menunggu sampai chapter depan. Khuhuhuhu~
Mukkun bukannya labil, dia hanya akan mengikuti siapa saja yang memberikannya segunung cemilan. XD
[rea]
Terima kasih sudah review... ^^
Midorima disekap karena jika dia dibiarkan bebas hanya akan menghalangi acara persembahan, karena bagi Midorima persembahan itu tidak pernah dianjurkan ramalan Oha-Asa. XD
Akhir kata...
See you last chapter...
Ada keluhan, kritikan, saran, omelan, atau pujian (?)
Silahkan klik Review... ^^
