FF YunJae YAOI~ You're Not Alone ~ [Part 8]

Pairing: The REAL couple in this world, YunJae! Slight Yuntoria (-_-'')

Other cast: Park Yoochun, Mrs Jung, and Mrs Song.

Genre: Drama, Romance, Hurt, Little bit Angst

Rate: T

Part: 8 of ?

Disclaimer: Yunho belongs to Yunho and Yunho belongs to Jaejoong!

Warning: It's YAOI, Gay, MalexMale, BoyxBoy, Shoneun-ai story. So, if you don't like YAOI story, just go back and don't read this story. Arraseo?!

.

.

.

You're Not Alone

.

.

.

''Saat kebohongan demi kebohongan kau torehkan padaku. Mengapa dengan mudahnya aku percaya?''

.

.

.

You're Not Alone

.

.

.

Jaejoong terdiam. Namja cantik itu menatap tak percaya pada Yoochun. Bagaimana bisa namja itu kembali ke Korea? Bukankah dulu Yoochun berjanji bahwa dia tidak akan pernah kembali ke Korea?

Lalu, kenapa namja itu kembali ke Korea? Ada urusankah dia di sini?

Jaejoong merasa ponselnya bergetar. Dia mengambil ponselnya dari dalam tasnya, kemudian membaca pesan singkat yang ternyata berasal dari Yunho. Raut wajahnya seketika berubah menjadi sendu saat membaca pesan singkat itu.

[From: Yunho

Subject: Mianhae

Jaejoong-ah, sayang, mian aku tak bisa makan malam bersamamu malam ini. Ada urusan penting yang harus ku selesaikan. Maaf aku membatalkan janji kita. Ku mohon kau mengertilah.]

Kenapa?

Kenapa dia merasa bahwa Yunho mulai menjauh darinya? Apa yang membuat Yunho menjauhinya?

Apa urusan itu lebih penting darinya?

Dia merasa takut sekarang. Takut jika lambat laun Yunho akan meninggalnya. Ketakutannya bukan tanpa alasan. Yunho selalu pulang malam dengan alasan lembur, dan sering membatalkan janji mereka –seperti sekarang ini-. Memang, namja itu masih bersikap hangat padanya. Namun, siapa tahu jika sikap hangatnya itu hanya kamuflase?

Jaejoong meremas ponselnya. Wajahnya memanas, air mata menggenang di pelupuk matanya, dia menundukkan kepalanya.

Ternyata dia tak setegar yang dia kira. Benar kata Yunho, sikap tegarnya hanya akan semakin menunjukkan jika dia sebenarnya sangat rapuh.

Jaejoong mengusap air mata yang akan meleleh dari kedua matanya menggunakan kedua telapak tangannya, kemudian dia mendongak, mencoba tersenyum pada namja yang memandang bingung kepadanya. Park Yoochun.

Setelah tadi Yoochun menabraknya, namja cassanova itu mengajaknya untuk makan es krim di sebuah gelato es krim. Dia tidak mungkin menolak tawaran namja itu. Namja yang dulu sangat dekat dengannya.

Jaejoong melirik Yoochun, namja cassanova itu hanya memandang si cantik dengan raut wajah bingungnya, kemudian namja cassanova itu tersenyum saat dia tersenyum pada Yoochun.

''Jae-ah,'' Sapa Yoochun sembari tersenyum, ''Aku senang melihatmu baik-baik saja.'' Lanjutnya dengan senyuman manis pada Jaejoong.

Jaejoong tersenyum canggung dan mengangguk. Dia tak tahu harus berbicara apa. Namja ini datang kembali ke kehidupannya.

Yoochun tersenyum miris saat Jaejoong tak menjawab basa-basinya. Yoochun hanya dia memperhatikan Jaejoong, membuat namja cantik itu risih dan menundukkan kepalanya.

''Lama tak bertemu setelah kau menolak ku enam tahun silam,'' Ujar Yoochun dengan senyum yang dipaksakannya.

Jaejoong terdiam membatu. Tak menyangka Yoochun akan mengatakan itu.

Yoochun, adalah sahabatnya sewaktu kuliah dulu. Memang, Yoochun pernah mengutarakan perasaannya padanya enam tahun silam, namun dia menolaknya. Dia tak mungkin menerima Yoochun karena pada dia tak menyukai Yoochun, dan pula, pada saat itu, dia masih berstatus kekasih Yunho dan sangat mencintai namja tampan itu.

Dia tak menceritakan pada Yunho jika dulu Yoochun sempat memintanya untuk menjadi kekasih namja cassanova itu. Yunho memang tak mengenal Yoochun dulu, dia hanya tahu nama namja cassanova itu darinya saat dia mengatakan bahwa Yoochun adalah sahabat terbaiknya.

''Jae-ah.. Aku dengar kau sudah menikah dengan Jung Yunho, kekasihmu semasa kuliah dulu? Chukkae,''

Jaejoong tersenyum dan mengangguk.

''Ne, gomawo, Yoochun-sshi.''

Namja cassanova itu tertawa renyah. Membuat namja cantik itu mengernyit bingung.

Hei, kenapa namja tampan itu tertawa? Memangnya ada yang lucu?, batin Jaejoong.

''Hahaha.. Kau lucu, Jae-ah. Kenapa kau memanggilku dengan embel-embel 'sshi', eoh? Kau terlalu canggung. Bukankah kita sahabat baik, eoh?'' Ucap Yoochun menepuk pelan bahu Jaejoong.

Jaejoong tersenyum lembut pada Yoochun.

Mereka berbicang cukup lama hingga tak terasa hari yang tadinya sore sudah berubah menjadi gelap.

''Jae, aku pulang dulu. Hari sudah petang. Kau mau ku antarkan pulang?'' Tawar Yoochun.

Jaejoong terlihat berpikir dan tak lama dia mengangguk.

''Boleh juga, sekalian kau makan malam di rumah ku saja.'' Ujar Jaejoong tersenyum simpul.

''Memangnya, Yunho-sshi tak akan memarahimu jika dia tahu kalau kau membawa seorang laki-laki pulang bersamamu?'' Tanya Yoochun dengan mimik wajah ragu.

''Ania.. Yunho mungkin akan pulang larut malam.'' Ujar Jaejoong.

Yoochun akhirnya mengangguk.

Jaejoong membuka pintu keluar gelato es krim itu dan melangkahkan kaki janjangnya menuju mobil Yoochun. Tak mengetahui jika di belakangnya, park Yoochun, laki-laki itu menyeringai padanya.

Sungguh hebat sekali aktingmu Park Yoochun. Bersikap seolah-olah kau tak mengenal suami dari namja cantik itu. Padahal suami dari namja cantik itu adalah sahabatmu? Sahabat yang sengaja kau dekati.

Sebenarnya, apa yang kau rencanakan?

Yoochun membukakan pintu mobil untuk Jaejoong. Dan kemudian dia membuka pintu mobil sebelah dan mulai mengemudikan mobilnya ke rumah Jaejoong dengan arahan dari namja cantik itu.

.

.

.

You're Not Alone

.

.

.

Yunho terdiam. Di depannya terlihat seorang yeoja yang tengah menundukkan kepalanya.

Yunho bingung harus berbicara apa. Lidahnya kelu, seolah ada lem yang mengikat mulutnya. Pengkhianatan ini, semakin dalam dan kebohongannya pada namja cantik itu semakin banyak.

Victoria, yeoja cantik itu hanya menunduk. Dia tak menyangka jika reaksi Yunho akan seperti ini. Dalam bayangannya, Yunho akan tersenyum bahagia saat dia memberitahukan pada namja tampan itu bahwa dia hamil. Tapi.. namja tampan itu hanya terdiam membisu. Mungkinkah dia merasa menyesal atas semua ini dan merasa pengkhianatannya semakin dalam pada sang istri.

Dia bingung, sebenarnya, dia korban atau penghancur rumah tangga orang lain? Tak seharusnya dia membiarkan benih-benih cinta pada namja tampan itu semakin mendalam. Seharusnya dia mengubur dalam-dalam perasaannya pada namja tampan itu dan tak akan menggalinya kembali.

Namun apa? Dia membiarkan rasa itu semakin berkembang. Terjatuh dalam lorong permainan yang diciptakannya bersama namja tampan itu.

Semakin dalam dia mencintai namja tampan itu, semakin dalam pula luka hatinya. Mencintai seseorang yang sudah beristri apa patut dibanggakan? Menjadi penghancur rumah tangga orang lain apa patut dibanggakan? Lalu, apa perasaan para kekasih gelap diluar sana sepertinya?

Well, walaupun dia memang bukan kekasih gelap namja itu.

Yunho membuka mulutnya, namun sedetik kemudian mengatupkan mulutnya lagi. Seperti orang linglung.

TAP TAP TAP

Terdengar suara langkah orang berjalan. Semakin mendekat pada mereka. Tak lama kemudian, suara pintu kamar Victoria terbuka, lalu terbuka, memunculkan sesosok yeoja hampir setengah abad dengan pandang yang sangat sulit diartikan.

Yeoja yang ternyata Nyonya Song itu berjalan mendekati Yunho dan Victoria. Kemudian, dia duduk di tepi ranjang bersama Victoria.

Yunho tersenyum gugup.

Apa yang harus dia lakukan sekarang?

''Kau kah yang bernama Jung Yunho itu?'' Suara Nyonya Song terdengar. Yunho mengangguk ragu. Sedang Victoria hanya menggigit bibir bawahnya.

''Kau tahu apa resiko terbesar yang nanti akan kau tanggung?'' Nyonya Song berbicara dengan nada tegas, ''Resiko terbesar yang akan kau tanggung karena kau melakukan ini semua.'' Lanjut yeoja setengah abad itu. memandang tajam pada Victoria dan Yunho.

Yunho terdiam. Benar, dia tak memikirkan sampai sejauh itu. namun, semuanya sudah terlanjur. Dia sudah terlanjur terlilit sulur pohon Ex yang sulit untuk dilepaskan. Terjebak dalam lorong yang gelap gulita tanpa ada jalan keluar.

''Mungkin jika istrimu tahu semua ini dan langsung meminta cerai darimu, itu hal yang wajar dan manusiawi. Tetapi, apakah kau mengerti perasaan istrimu nanti? Sebuah perasaan yang sukar untuk dikatakan saat mengetahui bahwa suaminya mempunyai seorang anak dari hasil sebuah pengkhianatan?'' Nyonya Song berkata pelan. Yeoja setengah abad itu kemudian terdiam.

Yunho termangu. Benar, istrinya akan lebih sakit darinya bila mengetahui semua ini. Bukankah rahasia ini akan tetap aman? Mana mungkin istrinya dapat mengetahui semua ini jika tak ada salah satu pihak yang terlibat yang memberitahukannya pada sang istri?

Dia harus menjaga rahasia besar ini.

.

.

You're Not Alone

.

.

Jaejoong terdiam. Yoochun telah pulang setengah jam yang lalu. Moonbin sedang menonton kartun. Dan dia, sedang menunggu sang suami pulang. Tak dipungkiri bahwa dia merasa resah. Takut terjadi apa-apa pada Yunho. Yunho pergi tak membawa ponselnya.

Tangannya menggenggam ponsel milik Yunho. Wallpaper ponsel itu setidaknya membuat hatinya sedikit lebih baik.

Wallpaper itu adalah foto darinya dan Yunho saat menikah hampir enam tahun yang lalu. Yunho mengenakan tuxedo berwarna putih yang membuatnya tampak semakin tampan. Dan dia mengenakan sebuah gaun berwarna putih gading yang simple namun elegan.

Jaejoong melirik jam dinding di ruang itu, sudah hampir jam sebelas. Dan ini sudah larut malam.

Ponsel Yunho bergetar. Menandakan sebuah pesan masuk. Jaejoong membaca pesan yang ternyata berasal dari Eomma Jung.

[From: Eomma

To: Yunho

Yunho-ya, Eomma besok akan mengunjungi kalian. Apakah kalian baik-baik saja? Apakah Moonbin baik-baik saja di sana?]

Jaejoong kemudian membalas pesan dari mertuanya.

[Kami baik-baik saja Eomma. Tak usah khawatir.]

Send

Jaejoong menatap ponsel itu ragu. Haruskah dia melihat inbox namja tampan itu? kenapa dia seperti tak mempercayai suaminya, padahal hampir enam tahun ini dia sangat mempercayai Yunho. Perasaannya semakin kalut.

Tangan Jaejoong bergetar membuka inbox milik suaminya. Ada pesan darinya, Eomma Jung, rekan bisnisnya, dan yang paling banyak adalah pesan dari Victoria.

Jaejoong menundukkan wajahnya.

Victoria, siapa itu Victoria? Bukankah Victoria adalah nama seorang perempuan? Kenapa Victoria selalu mengirim pesan pada suaminya. Kenapa nama itu semakin membuatnya takut? Takut jika nantinya wanita itu akan menyingkirkannya dari hati seorang Jung Yunho. Kenapa sampai dia bisa mempunyai pemikiran seperti itu? Entahlah, yang pasti dia tak pernah mempunyai pemikiran seperti ini dulu.

Dan…

Kenapa selalu Victoria?

Ada hubungan apa perempuan bernama Victoria itu dengan suaminya?

Apakah..

Jaejoong menggelengkan kepalanya. Dia tak boleh berpikiran negative. Mungkin saja Victoria adalah client Yunho.

Benar, hanya client saja. Tak lebih.

.

.

You're Not Alone

.

.

Jaejoong melangkahkan kakinya menapaki anak tangga menuju ke sebuah kamar. Menapaki setiap anak tangga dengan perasaan ragu.

Semalam, Yunho pulang jam dua dini hari dan dia tidak tahu kenapa Yunho sampai pulang sepagi itu. Saat dia hamil dulu, Yunho tak pernah pulang sepagi itu, bahkan kadang tidak pulang. Dulu, Yunho akan cepat menyelesaikan pekerjaannya demi menemuinya dan sang buah hati. Tetapi, Yunho sudah berubah sekarang. Mungkin memang perlakuan laki-laki itu padanya masih tetap baik, namun siapa yang bisa menebak hati seseorang?

Jaejoong sampai di depan pintu kamar mereka, kamarnya bersama Yunho. Membuka pintu kamar itu perlahan. Menampakkan sesosok laki-laki yang masih bergelung dalam selimut.

Jaejoong menghela napas pelan. Dia mendekati ranjang king size itu.

''Yun, bangun. Ini sudah hampir siang.'' Ujarnya dengan suara merdu. Yunho menggeliat tertahan. Dia menaikkan selimutnya dan menutupi seluruh badannya dengan selimut berwarna cokelat muda itu.

''Ini masih sangat pagi.'' Gumam laki-laki di balik selimut itu tidak jelas.

''Tentu tidak, jam biologisku tidak pernah menipu.''

Jaejoong menarik selimut yang menutupi tubuh Yunho, membiarkan udara pagi menebarkan dingin merasuki pori-pori kulit.

''Tapi belum ada matahari.''

Jaejoong membuka tirai jendela, menghadirkan cahaya pagi menyiram nyaris seluruh kamar. Namun, tidak ada bilah-bilah sinar matahari.

''Langit redup, awan mendung melapis matahari,'' Gumamnya manatap lurus langit berawan putih, ''Bukankah ini suasana pagi yang menyenangkan? Awal hari yang teduh, kau selalu suka cuaca seperti ini, ayo bangun.''

''Beri aku waktu sepuluh menit lagi. Pagi yang dingin seperti ini sungguh tepat untuk memperpanjang tidur.''

''Arraseo,'' Jaejoong mengalah, tak ingin berdebat.

Selalu begitu. Jaejoong adalah seorang istri baik hati yang mempunyai banyak persediaan kesabaran. Sejauh ini, tidak diperlukan perdebatan meruncing. Pertikaian panjang apalagi memperebutkan kemenangan dalam perjalanan kebersamaan mereka.

Di meja makan, seorang 'Ibu' melengkapi kesempurnaan pagi dengan sarapan pagi. Jaejoong hanya membuat sandwich dan segelas susu pagi ini. Dengan telaten namja cantik itu menyusun sandwich itu supaya tertata dengan rapi dan dapat membangkitkan selera makan Yunho dan juga Moonbin.

Sebuah pagi yang sempurna.

Tidakkah Yunho bisa menyangkal semua itu? Keberuntungannya memiliki istri seperti Jaejoong. Istri yang sabar dan telaten.

Yunho yang sudah bangun sepuluh menit kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, menggosok gigi, sekalian mandi.

Sesudah itu, dia melangkahkan kakinya menuju kamar di sebelah kamarnya. Kamar Moonbin, keponakannya.

Dibukanya pintu itu perlahan, melangkahkan kakinya mendekati seorang anak kecil yang masih terlelap dalam tidurnya, nyenyak tidurnya, barangkali sedang menjelejahi alam mimpi, melangkah dari satu daun ke lembar daun yang lain. Lembaran bulat daun teratai yang mengambang di air, memunculkan kecipak lembut pada setiap gerak.

Moonbin tertidur tenang. Dengan selimut tebal dan tangan mungilnya memeluk guling bergambar Winnie the Pooh. Penghangat ruangan telah diatur pada suhu yang tepat, mengondisikan kamar dengan hangat yang pas.

Yunho menatap sekeliling. Kamar itu khas kamar anak-anak. Dindingnya bercat pastel. Dari langit-langitnya, menjuntai hiasan berupa serangga yang lucu, seperti kupu-kupu, burung, dan kunang-kunang. Ada genta angin di sisi kusen jendela, berbentuk lonceng aneka warna. Dipannya kecil dari kayu pinus, dengan bilah-bilah kayu serupa pagar di kedua sisinya, penghalang agar anak tidak terjatuh. Ada lemari dengan beberapa lapis rak berisi aneka mainan, robot-robot, serta buku-buku.

Sesaat, napasny terhela. Bersama Jaejoong pernah dirancangnya kamar serupa ini dalam angan. Di masa awal-awal pernikahan mereka, malam-malam awal kebersamaan. Sering berisi perdebatan tentang rencana kamar itu. Tentang warna, pilihan hiasan, material perabot, bahkan motif karpet dan wallpaper. Kadang kala, perdebatan itu berupa diskusi yang menyenangkan, usul yang terlontar saling melengkapi dengan pas serupa kepingan puzzle yang berserak, lalu menemukan pasangannya. Itu bila hari sedang baik. Namun, lain hari, perdebatan nyaris seperti sebuah perbantahan jaksa dan pengacara di persidangan tanpa hakim. Lebih sering berupa debat kusir panjang tanpa argumentasi yang jelas.

CKLEKK

Yunho tersentak, mengarahkan pandangannya pada pintu yang terbuka. Sosok cantik itu berada di depan pintu itu. Hendak masuk ke dalam kamar Moonbin. Istrinya, Jaejoong, melangkahkan kakinya menuju ranjang mungil Moonbin.

''Kau sudah bangun rupanya.'' Suara merdu itu terdengar.

Yunho hanya mengangguk. Sungguh, kenapa dia bisa merasa secanggung ini pada Jaejoong. Apa karena mungkin dia menyadari bahwa pengkhianatannya semakin dalam pada namja cantik itu. Atau sekarang dia sudah tak mempunyai rasa lagi pada namja cantik yang sudah menemani harinya hampir enam tahun ini, dan digantikan oleh perempuan yang tiba-tiba hadir dalam hidupnya, perempuan yang akan menjadi Ibu dari anaknya kelak.

Benarkah seperti itu?

Yunho memandang istrinya yang tengah memandang lembut pada Moonbin. Dilihat saja Yunho sudah tahu bahwa istrinya memang menginginkan seorang anak. Bukan hanya dirinya saja.

Kehidupan rumah tangganya dulu bisa dikatakan sangat bahagia. Apalagi semenjak kehamilan Jaejoong, dia selalu menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat, agar bisa cepat pulang dan menemui sang istri juga buah hati mereka.

Tapi kini? Hanya dusta pengkhianatan yang bisa dia torehkan pada hati laki-laki berhati malaikat itu.

Jaejoong mengelus kening Moonbin pelan dan mengecupnya. Namja cantik itu sangat menyayangi Moonbin seperti dia menyayangi anak kandungnya sendiri.

''Apa yang sedang kau lakukan di sini?'' Suara merdu itu kembali terdengar. Menoleh dan menatap mata musang milik suaminya.

''Hanya memikirkan masa lalu kita.'' Jawab namja tampan itu.

Jaejooong terdiam. Dia tahu apa arti masa lalu untuk namja tampan itu. wajahnya memanas, pelupuk matanya bergetar, seakan ingin menumpahkan crystal bening yang sudah menggenang di pelupuk mata doe milik namja cantik itu. Tubuhnya bergetar pelan. Laki-laki cantik itu membalikkan badannya. Melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar itu. dia terhenti sesaat dan memejamkan matanya.

''Bangunkan Moonbin jam setengah sepuluh nanti.'' Ujarnya dengan suara bergetar menahan tangis. Kemudian melangkahkan kakinya keluar.

Yunho terdiam membisu. Bukankah dia baru saja melukai hati namja cantik itu? Apa yang harus dia lakukan?

Dia memandang sendu pada punggung Jaejoong yang sudah menjauh pergi. Tak ada yang bisa dia lakukan sekarang. Mungkin dengan Jaejoong membencinya, maka namja cantik itu tak akan terlalu sakit hati saat dia memberitahu pengkhianatannya suatu hari nanti. Atau mungkin, dia tak akan mengatakan pengkhianatannya itu? demi menjaga utuh rumah tangganya dengan Jaejoong yang telah dibinanya sejak lama?

Haruskah dia menghancurkan sumpah suci itu dengan sebuah pengkhianatan yang terkamuflase?

.

.

You're Not Alone

.

.

Victoria berjalan pelan menuju dokter kandungan langganannya. Sekarang, usia kehamilannya sudah menginjak usia empat bulan. Dan selama itu pula Yunho selalu memperhatikannya, ania, mungkin memperhatikan calon bayi yang berada dalam kandungannya.

Diakuinya bahwa dia merasa sangat senang sekaligus sedih. Senang karena dia bisa melihat Yunho yang selalu memberi perhatian lebih padanya. Namun juga sedih, karena, semakin anak ini tumbuh kemudian lahir, berarti dirinya dan Yunho sudah berakhir.

Victoria mengetuk pintu ruangan itu. Setelah mendapat sahutan, dia melangkahkan kakinya memasuki ruangan yang sudah rutin dia datangi seminggu sekali.

Victoria mendudukkan dirinya di kursi depan dokter muda itu.

''Kau mau memeriksakan kandunganmu, Victoria-sshi?'' Tanya dokter muda bertag 'Kim Junsu' itu dengan senyum manisnya.

Victoria mengangguk.

Junsu kemudian memeriksa kandungan Victoria.

''Kandunganmu sangat sehat. Tak ada yang perlu dikhawatirkan.'' Ujar Junsu setelah selesai memeriksa. Victoria menghela napas lega.

''Kau tak datang bersama dengan Yunho-sshi? Suamimu sibuk kah?'' Tanya dokter Kim. Victoria terdiam. Junsu tak tahu jika Yunho bukanlah suaminya, namun demi memperlancar kontrak, dia mengakui bahwa Jung Yunho adalah suaminya. Meskipun sebenarnya bukan. Dan mungkin tak akan pernah menjadi suaminya.

''Baiklah dokter Kim. Saya pamit dulu.'' Ujar Victoria membungkukkan badannya dan setelah itu dia melangkahkan kakinya keluar dengan perasaan yang sukar untuk diartikan.

Dia mengelus lembut perutnya. Perutnya sudah agak membuncit. Dia sudah terlanjur sangat menyayangi bayi ini. Dia tak rela jika harus menyerahkannya pada Yunho, walaupun itu memang point perjanjian mereka.

Haruskah dia mematuhi perintah Ibunya agar menyerahkan bayi ini jika sudah lahir seperti yang tertulis pada perjanjian, melupakan namja tampan itu, dan kembali pada kehidupan normalnya seperti dulu.

Lalu, bagaimana dengan perasaannya? Apakah perasaannya memang tak terbalas?

Haruskah dia mengatakan perasaannya pada Yunho?

Victoria mengeratkan jaketnya juga syal-nya. Musim dingin. Musim yang paling dibencinya. Musim yang mengingatkannya pada kejadian kelam dalam hidupnya. Saat dimana Ayahnya meninggalkannya bersama Ibunya demi perempuan lain. Dan pada musim dingin pula dia menghancurkan batin dan raga seseorang.

Victoria mengambil ponselnya dan mengetikkan sebuah pesan pendek pada laki-laki yang sudah mengontraknya.

[Anak kita baik-baik saja~]

Setelah itu, dia meletakkan kembali ponselnya ke dalam tas. Tujuannya sekarang ini adalah ke supermarket. Membeli susu untuk Ibu hamil yang sudah habis. Demi menjaga bayinya agar selalu sehat.

Dan dia akan memikirkan matang-matang. Haruskah dia merebut Yunho dari istrinya, ataukah dia dengan tulus tak akan mengganggu kehidupan Yunho setelah bayi ini lahir?

.

.

To Be Continued

.

.

Terimakasih yang sudah menunggu FF ini. Arigatou gozaimasu :)
Dan maaf untuk update-nya yang lama, saya sedang sibuk buat OSN. Mohon pengertiannya, terimakasih :)