A/N: Mulai dari chapter ini, saya bakal pake marga Rei yaa buat Temari dan Gaara~ sebenernya udah tau lama, cuma waktu itu masih agak ragu dan ngerasa udah terlanjur._.a akhirnya kuputuskan buat ngeganti aja deh~ haha /vlak
.
.
.
Disclaimer: All of the characters and NARUTO itself are Masashi Kishimoto's but the story is purely mine.
Warning: AU, plot rush, many undeteccable typo(s), OoC, menyalahi aturan, etc. Jauh dari kata sempurna ;)
Watashi no Otto wa Daredesuka?
私の夫は誰ですか.
Who is My Husband?
.
.
.
"Forehead, hari ini kau kenapa sih?" tanya Yamanaka Ino sembari menatap sahabatnya lekat-lekat. Hari ini, menurut Ino, Sakura cukup aneh. Dari datang ke sekolah sampai sekarang bel pulang sekolah ingin dibunyikan, sahabat perempuannya itu terus-terusan tersenyum. Padahal tak ada hal yang layak untuk disenyumi. Kenapa? Baik. Satu, hari ini sangat panas—dan sialnya, AC di kelas sedang sedikit bermasalah. Dua, hari ini ada dua ulangan mendadak dari empat pelajaran yang ada. Dan tiga, guru-guru mulai memberikan PR libur musim panas. See? Hari ini cukup suram.
Masih dengan senyuman terpatri di wajahnya, ia pun menjawab, "Hn? Aku tidak apa-apa ... hanya saja, mood-ku sedang baik, Buta."
Yamana Ino berdecak, "Dasar, Jidat."
Kriiiiiiiing!
Dan akhirnya, bunyi yang ditunggu-tunggu itu datang. Suara bel pulang sekolah berbunyi nyaring. Dengan segera, Sakura merapihkan barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam tas ransel. Sembari berjalan melewati koridor, Haruno Sakura tetap memamerkan senyum.
"Ne, Sakura," panggil Ino dengan suara yang cukup pelan.
Mendengar sahabatnya memanggilnya dengan nama, ia pun langsung menolehkan kepalanya menghadap Ino. "Hm?"
"Apa kau tahu? Dia menghubungiku."
"Dia? D-dia?! Yang benar? Dia yang itu?" kedua alis Sakura terangkat saking terkejutnya.
Perempuan secantik boneka barbie di sebelahnya memberikan satu anggukan singkat. "Hm, dia ... Shimura Sai."
Apakah ini bercanda? Nampaknya, semua sedang lancar-lancar saja. Ia sudah mengetahui identitas suaminya, dan sahabatnya kembali berhubungan dengan cinta pertamanya. Jadi, apa itu berarti ... dia juga bisa bercerita tentang Uchiha Sasuke? Mungkin, sekarang adalah waktu yang tepat untuk itu.
Sakura berdeham pelan, "Erm ... hei, Ino-buta, ada hal penting yang ingin kubicarakan denganmu. Maukah kau ke rumahku untuk membicarakannya?"
Dapat Sakura lihat perubahan air muka sahabatnya. "Apa itu sangat penting?"
"Hm! Sangat."
Tepat pada saat itu, orang yang seharian ini paling ingin ditemui oleh Haruno Sakura datang dan hendak menghampirinya.
"Itu Yang Mulia? Apa ia berjalan ke arah sini?" tanya Ino, menatap heran ke arah Sakura yang lagi-lagi kumat. Perempuan berambut permen kapas itu tersenyum manis—lagi, untuk entah ke berapa kalinya dalam satu hari ini.
Walaupun Uchiha Sasuke orang yang jarang menampilkan ekspresinya, tetapi Haruno Sakura cukup tahu arti di balik sorotan intens yang terpancar dari kedua bola mata onyx suaminya. Ini jelas ada yang salah. Pasti.
Kini, pemuda itu telah sampai di hadapannya. Ia mencengkram lengan Sakura. "Kita harus bicara," tuturnya pelan namun tetap tajam.
Tunggu dulu. Apa ia melakukan kesalahan? Labil sekali pemuda ini. Sepertinya baru kemarin dia berlaku begitu manis dan sekarang...?
Tanpa menunggu jawaban Sakura, Sasuke langsung menarik lengan gadis yang sudah ada dalam cengkramannya. Meninggalkan Yamanaka Ino yang masih berdiri termangu di tempat. Tanda tanya mulai bermunculan di dalam kepalanya dan berujung kepada sebuah pertanyaan; Apa serius hubungan mereka berdua hanya sebatas teman?
.
Sasuke membawanya ke atap sekolah mereka. Tidak ada orang di sini, karena sekarang sudah waktunya pulang sekolah. Angin musim panas menemani mereka yang masih belum buka suara. Hanya ada Sasuke yang menatapi Haruno Sakura yang keheranan lekat-lekat.
Gawat. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat sekarang, warna merah juga sudah mulai menjalari pipinya. Tak kuat akan sensasi aneh yang menghujani dirinya, Sakura mematahkan kontak mata mereka. Ia memutuskan untuk mencicit lebih dulu.
"S-Sasuke-kun? Apa yang ingin kau bicarakan?"
Sasuke mejulurkan tangannya ke depan, "Berikan ponselmu."
Kedua alis perempuan itu semakin mengerut, ia benar-benar tidak mengerti. Ragu-ragu, ia ambil ponselnya yang berada di dalam kantung rok sekolah. "Aku akan memberikan ini setelah kau menjelaskan kenapa kau menginginkan ponselku dan apa yang sebenarnya ingin kaubicarakan," ia berhenti sebentar, menggantungkan kalimatnya sebelum akhirnya bertutur dengan lirih, nyaris berbisik, "oshiete kudasai Sasuke-kun..."
Sasuke belum siap. Ia tak siap untuk menghapus senyuman yang terukir di bibir gadis itu beberapa hari ini. Entah kenapa, ia juga masih bingung. Ia bingung, kenapa juga ia berusaha sekeras mungkin untuk melindungi senyum gadis itu?
"Uchiha Sakura. Dengarkan aku," Sasuke menaruh kedua tangannya di atas bahu Sakura. Oniksnya menyelami emerald jernih di depannya dalam-dalam, "apapun yang terjadi, jangan menghubungi siapa pun, jangan temui Ibuku, dan jangan pergi ke Istana tanpa sepengetahuanku."
Hatinya berdesir saat mendengar cara suaminya memanggil namanya, cara kedua netra kelamnya menatapnya, dan caranya menuturkan kata. Tidak, ini bukan saatnya untuk itu. Sakura menggenggam tangan kanan Sasuke yang berada di bahunya. Tangan pria itu terasa ... dingin. Bahkan di cuaca yang panas begini.
"Sasuke-kun ... kau, tenangkan dirimu. Kau harus memberitahuku, apa yang sedang terjadi? Mungkin saja, aku bisa membantumu. Mungkin saja—"
"—Jangan. Terlalu beresiko," katanya tajam. Kemudian, tatapan matanya melembut, "setelah semuanya berakhir aku akan memberitahumu."
Perempuan manis itu hanya bisa menghela napas. Kalau sudah begini ia hanya bisa memercayai suaminya, 'kan? "Baik, kau harus berjanji. Kalau segalanya bertambah buruk, kau harus memberitahuku. Aku tidak akan ragu untuk membantumu, mengerti?"
"Hn."
"Kalau begitu, ini ponselku. Awas, jangan buka-buka yang lain lho! Sudah kuberi password—jadi, jangan macam-macam," katanya memperingatkan sembari menyerahkan ponselnya.
"Hn."
Sakura memukul kecil bahu pria tampan di hadapannya, "Kau ini bisanya 'hn' saja! Sudah, ayo antar aku pulang! Ini juga 'kan gara-gara kau aku ditinggal Ino-Buta..."
.
Perempuan berambut pirang kuncir empat hanya bisa mengurut-urut pelipisnya. Apa yang ia lakukan ini benar? Ia bahkan tak dapat berpikir dengan jernih. Berat badannya semakin turun seiring dengan hari demi hari yang dilewatinya satu paket dengan masalah-masalah yang tak bosan menghampirinya.
Sejujurnya, Temari tidak ingin menikahi Uchiha Sasuke. Pikiran untuk menikahi Yang Mulia Pangeran yang satu itu benar-benar jauh dari kepalanya—sebelum Ayahnya memaksakan kehendaknya. Sebelum ia mengetahui konsekuensi yang diterima olehnya kalau ia tidak menikahi pemuda itu. Demi Tuhan! Namanya akan dicoret dari silsilah keluarga kerajaan! Ini benar-benar konyol. Tidak hanya itu, gelar kebangsawanannya pun juga akan dicabut dan otomatis ia harus meninggalkan Istana. Kejam, ini tidak ada bedanya dengan diusir 'kan? Pengusiran secara halus.
Ini tidak seperti dirinya memilih untuk terlahir di sangkar emas begini. Kalau boleh memilih, dengan sangat senang hati ia akan memilih untuk menjadi orang biasa, commoner. Helaan napas keluar dari bibirnya—entah untuk keberapa kalinya. Ia memejamkan matanya, rahangnya bergemeletuk. Dia tak bisa diam begini saja. Dia harus memberitahukan hal ini kepada orang itu.
Sebuah suara mengembalikan Temari dari dunia buatannya.
"Ada apa?" tanya laki-laki itu sembari mendekat ke arah Temari dengan menenteng malas tas sekolahnya.
Jantungnya berdetak berkali-kali lipat lebih cepat dari biasanya. Ia menarik napas. "H-hei Shikamaru, sebenarnya aku..." Temari menggantungkan kalimatnya sejenak. Jujur saja, Temari tidak ingin kata-kata yang akan diucapkannya melukai orang yang dicintainya. Tapi ... tidak. Ia tidak boleh begini, bagaimanapun juga ia harus memercayai kekasihnya. Kekasihnya terkenal jenius 'kan? Mereka pasti bisa menemukan solusi. Pasti.
Setelah meyakini hatinya, ia menelan ludahnya. Dengan suara pelan—nyaris berbisik, ia bersuara, "Aku akan dinikahkan dengan orang lain."
Nara Shikamaru memalingkan wajahnya, mematahkan kontak mata mereka. "Mendokusai. Ulah Ayahmu demi kerajaan 'kan?"
Dengan menggigit bibirnya kuat-kuat, Temari hanya bisa menganggukkan kepalanya untuk merespon kekasihnya.
"Kalau sudah begini, tidak ada yang bisa dilakukan bukan?"
"Tidak! Pasti ada cara, aku memercayaimu—maka dari itu aku memberitahumu! Kita harus cepat, Shikamaru—sebelum ulangtahunku, sebelum—"
Puk
Shikamaru mendaratkan telapak tangannya, menepuk pelan kepala perempuan berambut blonde yang sedang panik dan berdiri di hadapannya.
"Hontou ni mendokusai. Tenangkan dirimu, aku akan berusaha."
.
Reaksi yang dapat diberikan oleh Haru—Uchiha Sakura saat ini adalah mengerutkan alis dan hidungnya dalam-dalam untuk adegan yang dilihatnya dari balkon kamarnya. Belum ada dua jam Sasuke mengantarnya pulang tadi—dan sekarang...? Ia mendapati ada sekitar lima orang berjas hitam berdiri di depan pagar rumahnya.
Tidak jauh dari sekumpulan orang itu berdiri, terdapat mobil hitam Toyota Century Royal terparkir dengan mencoloknya. Jadi, boleh 'kan kalau Sakura berasumsi bahwa sekumpulan orang-orang ini berasal dari Istana?
"Apapun yang terjadi, jangan menghubungi siapapun, jangan temui Ibuku, dan jangan pergi ke Istana tanpa sepengetahuanku."
Kemudian, terngiang di kepala Sakura ucapan Sasuke tadi siang. Matanya membulat, dengan gerakan kilat ia menuruni tangga dan menghampiri seorang maid yang hendak membukakan pintu untuk para bodyguard di depan. Sakura menahan lengan maid yang terkejut akibat perlakuan tiba-tiba majikannya.
"Ayame, apapun yang terjadi jangan bilang kalau aku ada di rumah." Setelah mengucapkan sebaris kalimat tadi, Sakura langsung kembali ke kamarnya, meninggalkan maid manis berambut cokelat yang keheranan. Tapi, since it's her master's request ... tak ada alasan untuk menolak 'kan?
Sekarang, yang perlu Sakura lakukan adalah menghubungi Hinata. Telepon genggamnya ada di tangan Sasuke, apa ia harus memakai telepon rumah? Ah, masa bodoh menggunakan apa yang penting ia bisa bertemu dengan Hinata secepatnya.
Namun secepatnya itu baru bisa terjadi setelah lima jam kemudian. Ternyata, para bodyguard tidak melepaskan Sakura begitu saja setelah Ayame bilang kalau Sakura tak ada di rumah. Malah, mereka bersikeras menunggu gadis berambut merah muda itu sampai pulang ke rumah. Sekarang sudah pukul sepuluh kurang tujuh menit.
Di sebuah kamar bernuansa pastel yang terletak di lantai atas, duduklah dua orang gadis manis yang rautnya saat ini tidak seayu wajah mereka. Mereka berdua sama-sama menekuk bibir mereka, alis mereka pun juga mengerut. Untunglah, Hyuuga Hinata dengan baik hatinya masih mau mengunjungi Sakura di jam malam seperti ini.
"Hinata-san," panggil Sakura memecah keheningan di malam yang sudah mulai larut.
Perempuan anggun berambut indigo yang dipanggil segera menggulirkan pandangan kedua netra amethyst-nya. "Etto, ada apa Sakura-san?"
"Tidak, tidak seharusnya kau bertanya. Aku yakin betul, kau sudah tahu. Hinata-san, sejujurnya aku ingin menunggu Sasuke-kun memberitahukannya padaku–tapi, aku sadar kalau aku sendiri tak bisa diam saja begini. Jadi, maukah kau ... memberitahukanku apa yang sedang terjadi di Istana?" Sakura memegang kedua tangan Hinata, tatapan memohon jelas tersirat dari emerald-nya. Ia memang sudah memutuskan akan memercayai Sasuke akan tetapi, percaya pada pemuda yang dicintainya bukan berarti diam saja seperti ini. Ia tak akan membiarkan Sasuke berjuang sendirian, ia akan berdiri di sebelahnya, menopangnya, dan melakukan tugasnya sebagai seorang istri—walaupun masih terbilang sangat muda untuk sekarang.
Di saat seperti ini ... apa yang harus Hinata lakukan? Jujur, ia sendiri merasa tertekan. Ia ingin membantu sahabatnya tapi di sisi lain ia juga tak bisa berbuat banyak. Hinata pun memejamkan matanya sejenak, kalau dipikir-pikir tak ada alasan lain 'kan untuk menyembunyikan soal itu? Tapi, kalau ia memberitahukan soal itu pada Sakura sekarang ... Hinata menduga-duga efek sampingnya. Haruno Sakura bisa saja terluka. Ragu-ragu, Hinata mulai membuka mulutnya—sedangkan Sakura menguatkan hatinya.
"S-sebenarnya ... saat ini semua orang di Istana sedang mengincarmu, Sakura-san," kedua amethyst-nya melarikan diri dari netra hijau Sakura yang menuntut penjelasan.
Tentu saja Sakura sudah tahu, perlakuan para bodyguard kerajaan tadi sudah cukup mewakili.
"Kenapa?"
Hinata menelan ludahnya takut-takut, "K-karena, Sasuke-kun akan dijodohkan dengan Putri dari Suna..."
Satu kalimat berisikan beberapa kata tersebut mampu membuat perempuan Haruno itu merasakan kosong seketika. Ia sendiri tak mengerti, perasaan apa yang sedang ia rasakan. Yang jelas, dadanya terasa berat, otaknya kosong, dan kedua matanya pun mulai terasa panas. Ia mulai membasahi tenggorokannya yang terasa amat sangat kering dengan saliva-nya. "L-lalu ... apa yang akan terjadi padaku, Hinata-san?"
Dengan satu gerakan cepat, Hinata merengkuh Sakura ke dalam pelukannya. "Bersiaplah pada kemungkinan terburuk yang akan terjadi, Sakura-san," cicitnya pelan.
"Lantas, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Sakura sembari mengusap air matanya.
"Sembunyi..." Hinata bertutur lirih, matanya yang menunjukkan sorot sedih menatap kosong lantai kamar Sakura. "k-kau harus bersembunyi, Sakura-san."
"Apa? Aku tak mungkin bisa—"
"—T-tapi, tidak ada cara lain, Sakura-san. Kalau orang-orang Istana sampai berhasil menemukanmu ... usaha Sasuke-kun akan sia-sia."
Haruskah ia benar-benar sembunyi...? Rumahnya bukan tempat yang aman lagi baginya untuk sekarang. Ditambah lagi, orangtuanya benar-benar memihak kepada keluarga kerajaan—cepat atau lambat ia pasti akan diserahkan ke Istana. Saking saja, saat ini kedua orangtuanya sedang tidak di rumah jadi Sakura masih aman.
Baik, mungkin bersembunyi (untuk sementara) adalah pilihan yang tepat. Sekarang pertanyaannya adalah: ke mana ia harus bersembunyi? Rumah Hinata ataupun Naruto benar-benar jauh dari pikirannya karena keluarga mereka sangat dekat dengan keluarga Istana.
"Yamanaka Ino..." tiba-tiba saja wajah sahabatnya terlintas dalam benaknya. Astaga! Pembicaraan penting mereka tertunda karena Sasuke tadi siang. Oke, lupakan iu dulu. Sakura berdeham pelan sebelum melanjutkan kalimatnya, "kurasa, kita bisa meminta bantuan pada Ino, Hinata-san."
Hinata menanggukkan kepalanya antusias. Tentu saja Yamanaka Ino adalah pilihan yang tepat kalau Si Pirang itu mau mengunci mulutnya. Kenapa? Tentu saja karena Ino jauh hubungannya dari keluarga Istana sehingga ia tak akan dicurigai. Ditambah lagi, orangtua Ino jarang berada di rumah sehingga itu akan memudahkan Sakura dalam urusan persembunyiannya nanti. Hinata menggenggam kedua tangan Sakura. "S-semoga masalahmu cepat selesai ya, Sakura-san ... aku akan terus membantumu sebisaku."
.
.
.
Sakura menatap kosong jendela kelasnya, memerhatikan kesibukan orang-orang di luar sana. Tangannya menopang dagu, guru biologi yang sedang bercuap di depan kelas diacuhkannya begitu saja. Saat ini dirinya benar-benar sedang digerayangi oleh perasaan galau yang parah.
Kenapa? Kenapa? Kenapa...? Hanya satu kata tanya itulah yang berada dalam kepalanya. Kenapa nasibnya harus begini? Baru saja ia dibuat bahagia dan sekarang...? Kenapa juga keluarga kerajaan berlaku sebegini kejam padanya? Dulu, mereka yang memintanya untuk menjadi istri dari Sasuke—dan sekarang mereka juga yang memisahkannya dari suaminya. Bagus, mereka yang memulai dan mereka juga yang mengakhiri.
Hatinya terasa sakit. Apakah suaminya juga merasakan perasaan yang sama? Sampai detik ini pun Sakura tak mengetahui bagaimana perasaan suaminya terhadapnya. Apakah perasaan Sakura terbalas? Apakah tidak? Tapi, kalau ternyata Sasuke tidak menyukainya ... kenapa pemuda itu mau repot-repot berusaha sebegininya demi mempertahankan hubungan mereka berdua? Tunggu, Sakura. Memangnya dia pernah bilang kalau dia sedang berusaha melakukan itu? Yang ia lakukan 'kan hanya memutuskan komunikasimu dengan Istana...
"—Jidat! SAKURA!" Suara cempreng Yamanaka Ino akhirnya berhasil menembus telinga Sakura yang dari tadi tanpa sadar tersumpal karena jiwanya keasyikan berkelana dalam dunia kecil yang dibuat sendiri oleh otaknya.
Sakura mengerutkan keningnya, ia menoleh ke arah sumber suara dengan wajah cengo. "Hm? Ada apa, Buta?" tanyanya polos tanpa dosa.
Sedangkan perempuan berambut pirang ini sudah greget dari tadi karena temannya yang dipanggil tidak menengok-nengok. Ia pun mengayunkan tas sekolahnya ke bahu Sakura sehingga berhasil menghasilkan bunyi 'bug' cukup keras yang direspon Sakura dengan pekikan kesakitan. "Masih tanya ada apa lagi! Aku sudah memanggilmu lebih dari lima kali! Apa sih yang kau pikirkan? Aku yakin, pasti bel pulang tadi tak kaudengar."
"Eh? Sudah bel? Yaampun!" Sekarang Sakura kelabakan sendiri, dengan tergesa-gesa ia mulai merapihkan barang-barangnya.
Sembari menatapi temannya yang sibuk, Ino bertanya, "Kau ini kenapa susah dihubungi sih dari kemarin? Ditelepon tak diangkat, e-mail tak kaubalas. Maumu apa hah?"
Sakura menenteng tasnya, seringai aneh muncul di wajahnya. "Yaampun, Buta! So sweet sekali kau mengkhawatirkanku begini..."
Ino tak menyangkal, memang benar ia mengkhawatirkan sahabatnya. Sahabat mana yang bisa tidak khawatir? Coba bayangkan, baru saja kemarin temanmu senyam-senyum tak jelas seharian dan di hari berikutnya ia malah menekuk bibirnya dan banyak melamun. Ditambah lagi, Haruno Sakura tak bisa dihubungi pula! Sungguh menyebalkan.
"Sakura, aku sedang tidak ada mood untuk bercanda tahu. Jadi, bisakah kau menjawab pertanyaanku?" Yamanaka menyilangkan kedua tangannya. Matanya menatap lekat Sakura; menuntut penjelasan.
Seulas senyum Sakura berikan pada sahabatnya. Sekarang lah saat yang tepat untuk membeberkan semua rahasianya. Toh, sebentar lagi 'kan mereka akan bercerai juga. "Oke, tapi tolong bawa aku ke rumahmu dulu, Ino."
.
"NANI?! JADI SELAMA INI KAU ITU..." saking terkejutnya Ino tak bisa melanjutkan teriakan histerisnya karena speechless. Ia memang sudah menduga kalau teman pink-nya ini ada sesuatu dengan Yang Mulia tapi ... menikah? Sungguh tak terpikirkan!
Sakura, gadis itu hanya memberikan seulas senyum pahitnya. Ia menundukkan kepalanya. Mulai membuka mulutnya sedangkan dadanya kembali terasa sesak, "Tak sampai setahun aku menikahinya kok, Pig. Lagipula, sebentarlagi juga kami akan bercerai," kini sang Haruno menggigit bibirnya yang mulai bergetar akibat menahan tangis. Ia telah menyadari perasannya terhadap Sasuke. "tasukete kudasai, Ino. Aku tak tahu harus bagaimana. Maafkan aku karena aku menyukainya, maaf telah mengkhianatimu," ia mengakhiri kalimatnya, perasaannya bercampur aduk antara lega dan sakit juga merasa bersalah.
Sorot aquamarrine milik Ino mengiba menatap sahabatnya yang nyaris polos belum pernah tahu apa itu pacaran tengah menangis sejadi-jadinya. Perempuan itu membiarkan sahabatnya mengeluarkan segala beban yang tertahan di hati sementara Ino sendiri mencoba memahami situasi Sakura.
"Tidak sampai setahun? Kenapa kau tak pernah cerita?" Gadis Yamanaka ini memulai sesi interview-nya lagi. Tentu saja, kasarnya sih ia merasa tak dapat diandalkan sebagai seorang sahabat.
Harus Sakura akui, dia salah sejak awal. "Maaf, pernikahan kami dirahasiakan. Waktu itu aku juga tidak tahu kalau aku menikahi Yang Mulia..." masih ingat prosesi upacara pernikahan super aneh bin ajaib seorang Haruno Sakura 'kan? Ia memang mendengar kata-kata yang diucapkan sang pendeta. Namun, karena terlalu gugup ia tak mendengar nama suaminya—yang sepertinya memang sengaja dipelankan—saat menikah beberapa waktu yang lalu.
"Setidaknya kau masih bisa memberitahuku soal pernikahanmu, aku tak mengetahui siapa suamimu pun tak apa." Fakta bahwa sahabatnya berlaku seenaknya dengan menanggung semuanya sendirian membuat Ino ikut merasa sedih. Pacaran saja belum pernah! Sahabatnya masih polos, people ....
Sakura masih berusaha mengkontrol napasnya, apakah pihak kerajaan mendokumentasikan pernikahan mereka? Sepertinya Ino harus pergi ke Istana Nakano dan melihat sendiri dokumentasi itu. Kalau memang pernikahannya diakui. "Tapi aku menikah dengan cara yang aneh, hiks ...."
Kening Ino mengernyit, detik selanjutnya Sakura kembali berkicau. Ino tak pernah tahu kalau di balik sikap cuek Sakura ia menyembunyikan begini banyaknya cerita. Sakura menanggung semuanya sendirian. Sakura mulai menceritakan awal dari semuanya.
"—Aku menikahinya tanpa tahu siapa dia, mereka memakaikanku penutup mata, Ino. Pernikahan macam apa ini? Mereka menyuruhku untuk menikah muda, setidaknya buat pernikahanku seperti pernikahan impian para gadis kek ..."
Gadis itu menarik napas, "Hiks, untung saja aku tidak menikahi om-om mesum atau kakek-kakek, Pig."
"Mereka mengatur sebuah pertemuan seperti blind date untukku dan suamiku, aku sudah sangat senang karena bisa bertemu dengannya tapi mereka membuatku benar-benar buta dengan memakaikanku penutup mata lagi, Pig! Huaaaa, aku lelah ..."
Ino menepuk-nepuk bahu Sakura yang sekarang terlihat rapuh. "Ini sudah berakhir, yang penting sekarang kau sudah mengetahui siapa suamimu 'kan?"
Sungguh kesalahan besar. Yamanaka Ino has cross the line, sebenarnya topik ini sedang menjadi topik tabu untuk Sakura. Bisa ditebak, selanjutnya isak tangis Sakura yang sebelumnya sudah mulai reda kembali menggila.
"Iya, aku mengetahuinya dan saat aku sudah menyukainya ... keluarga kerajaan malah memisahkan kami," akhir gadis mengusaikan penjelasannya.
"K-kenapa? Ada apa sih dengan keluarga kerajaan ini? Mereka benar-benar bertindak sesuka mereka! Mengapa aku merasa kau hanya dimanfaatkan?" Ino menyilangkan kedua tangannya di dada. Demi Tuhan, mereka tega memperlakukan Sakura seperti ini. Tak terbayang, bagaimana kalau Ino yang berada di posisi Sakura? Ia ingin memprotes sahabatnya, kenapa juga dia tidak menolak perjodohannya dulu? Ah, toh nasi sudah menjadi bubur, astaga.
Kasarnya sih mungkin begitu. Sejak awal, pernikahan tanpa dasar cinta ini dilakukan untuk menyenangkan hati Yang Mulia yang sedang sakit dulu. Sekarang Yang Mulia itu sudah tiada, Sakura sudah tak berguna lagi 'kan?
Padahal, sudah terlalu banyak yang Sakura korbankan untuk keluarga kerajaan. Yang pertama, statusnya. Status kepemilikan tak kasat mata telah mengikatnya dari dunia kebebasan para remaja. Kebebasan untuk berpacaran, berkencan, dan ikut andil saat hari valentine! Sepele tapi 'kan...
Lalu, kerajaan juga telah merenggut kebebasan Sakura. Walaupun Sakura belum diketahui oleh publik tapi dia harus tetap menjaga sikap dan tata krama. Mungkin supaya suatu saat kalau Sakura sudah diperkenalkan ke publik keluarga kerajaan tak akan menanggung malu. Lantas sekarang? Mereka ingin Sakura menceraikan suaminya, begitu? Bolehkah Haruno Sakura mengirim paket berisi dynamite ke Istana Nakano?
"Entahlah, Pig. Yang kudengar, mereka akan menjodohkan Sasuke-kun lagi. Dengan Putri dari Suna ..."
"Menjodohkannya lagi? Dan kau akan menjadi janda? Sakura kau belum pernah pacaran dan sudah harus menjadi janda, astaga," salahkan mulut ember Yamanaka. Dia hanya berusaha mengeluarkan pendapatnya, tidak salah bukan?
Omongan Yamanaka Ino soal janda rasanya menampar telak wajah Sakura. Ia baru sadar! Ini tidak elit, sama sekali! Perempuan ini melongo horor, "Astaga! Aku lupa kalau aku akan menjadi janda. INO, TOLONG AKU!"
"Pfft, temanku yang polos akan menjadi janda. Ahahahahaha!"
Sakura menekuk bibirnya, "Jahat," tuturnya pelan namun sarat akan rasa kesal.
Jam dinding kamarnya menarik manik Ino untuk melihatnya, tak terasa waktu sudah memasuki pukul 19.00. "Nah, sekarang sudah malam. Jangan membuat orangtuamu khawatir, Forehead. Pulanglah—"
"—Tidak. Tolong izinkan aku tinggal di sini untuk sementara waktu," interupsi Sakura memberikan tatapan memohonnya, "kalau aku sampai ditemukan oleh orang-orang istana itu ... aku bisa benar-benar bercerai dengan Sasuke-kun. Aku tak mau hal itu terjadi. Sekali lagi maaf karena mengkhianatimu, tapi aku juga terlanjur menyukainya," tutur Sakura penuh keyakinan. Ia menatap tegas sahabatnya.
"Kau boleh tinggal di sini selama yang kau mau, aku tak keberatan. Masalah Yang Mulia? Kau masih membahasnya?" nada suara sahabat pirang Sakura ini meninggi. Kini tatapan maut terpancar jelas dari mata aquamarrine-nya. Sakura hanya bisa memejamkan matanya saat tangan Ino berada tepat di depan dahinya.
Tak!
Suara yang dihasilkan oleh jari telunjuk Ino yang mendaratkan sentilan maut ke kening lebar Sakura membuatnya memekik kesakitan.
"Kau sendiri 'kan tahu, kalau aku hanya mengagumi Yang Mulia. Lagipula aku tak berniat menjadikannya pacar atau apapun itu apalagi sekarang dia sudah mau menjadi duda pffft," Ino menggantungkan kalimatnya sebentar, sengaja menggoda Sakura. " yang jelas, Sakura, kau berhutang padaku." Kedua mata Ino memicing, sebelum melanjutkan, "aku ingin berfoto dengan Yang Mulia, hihi."
"Beres, setelah masalahku selesai aku akan cepat-cepat membayar hutangku," ia bernapas lega, memberikan seulas senyum. Untung Ino adalah temannya, meskipun sering bertingkah menyebalkan tapi ada kalanya ia bisa diandalkan seperti ini.
"Omong-omong soal putri dari Suna, dulu 'kan sempat booming. Rumor tentang putri dari negara tetangga yang menuntut ilmu di Konoha untuk mempelajari budaya kita. Ingat tidak saat kita kelas 10 dulu? Bukankah putri itu Temari-senpai, ya?"
.
Uchiha Sasuke menatap malas perempuan pirang kuncir empat yang sedang duduk di hadapannya. Tidak, ia tak membencinya tapi hanya kesal. Kenapa harus dia sih? Dari berjuta-juta penduduk planet bumi yang bereniskelamin laki-laki. Ya, ya, ya. Pangeran yang satu ini paham betul, karena dari berjuta-juta penduduk bumi yang berjeniskelamin pria hanya dirinya lah yang terpilih. Iya, tahu kok. Karena dia adalah pangeran yang usianya paling memungkinkan untuk menikah.
"Kau serius ingin menikah denganku?" biasanya memulai percakapan bukanlah style Sasuke. Tapi ini mendesak, jadi pride-nya bisa diabaikan dulu.
"Hai, kau pikir aku punya pilihan?" Temari menyeruput teh hangat dari cangkirnya.
Tak punya pilihan, eh? Seharusnya Sasuke bisa mengerti posisi gadis ini. Ingat, dulu juga dia dipaksa untuk menikahi Sakura. Sejujura nysaat itu ia juga tidak suka waktu itu. Apa? Dulu? Bagaimana dengan sekarang? Well, hanya Kamisama dan dirinya lah yang tahu.
"Kau punya pacar, Nona," Sasuke kembali membalas.
"Dan kau punya istri," Temari menatap Sasuke, memberikan seulas senyum.
A-apa...? Bahkan perempuan ini pun telah mengetahuinya dan dia tetap berniat melanjutkan perjodohan ini? Dia pasti sudah kehilangan akal sehat. Dia punya pacar dan mengetahui kalau calon suaminya telah memiliki istri. Lagipula bukankah pernikahannya dan Sakura merupakan rahasia negara? Kenapa bisa Temari mengetahuinya?
"Kau sudah tahu dan tetap ingin melakukan perjodohan ini? Aku tak menyangka kalau kau tega menusuk temanmu dari belakang," balas Sasuke kembali. Satu sekolah juga tahu kalau mereka adalah senpai dan kouhai di ekskul memanah.
Perempuan yang hari ini menguncir empat rambutnya mengerutkan kening, "Menusuk temanku dari belakang? Apa maksudmu, Yang Mulia?" kini perempuan itu membenahi posisi duduknya, "Yang Mulia Permaisuri hanya memberitahuku soal kau yang telah memiliki seorang istri. Namun, beliau tak memberitahuku identitas istrimu."
Lantas apa maksud ibunya? Kenapa ibunya memberitahukan hal yang seharusnya dirahasiakan? Entahlah, mungkin saja ibunya punya rencana lain. Kalau begitu Sasuke hanya perlu melanjutkan rencana lain milik ibunya itu. "Orang yang telah menikah denganku itu termasuk teman dekatmu."
Jadi Yang Mulia Pangeran ini tidak menikahi orang yang sederajat dengannya? Well, ini jarang terjadi. Apakah Temari harus menebak istri dari calon suaminya? Untuk apa? Kemudian anak dari keluarga Rei ini menghela napas,"Sudahlah, Yang Mulia. Aku sudah pusing dengan semua ini. Tolong jangan tambah bebanku."
"Bagaimana kalau kubilang Haruno itu adalah istriku?" Uchiha Sasuke menatap lurus iris Temari, menampar perempuan itu pada kenyataan.
Temari menangkupkan kedua tangannya ke mulut. Haruno ... Sakura? Jangan bercanda! Bahkan Sakura terlalu baik untuk ia sakiti. Sakura adalah satu-satunya perempuan yang mengkhawatirkannya saat ia absen hampir satu minggu. Sakura adalah anak ekskul kyudo yang—Temari harus berhenti. "Sakura adalah...? A-aku tak bermaksud—"
"—Apa kau masih berniat untuk melanjutkan perjodohan ini?" interupsi Sasuke, pemuda itu menyilangkan kedua tangannya di dada.
Kini tekadnya mulai goyah. Sejak awal Temari memang belum menetapkan hatinya tapi masalahnya keberadaannya lah yang akan dikorbankan! Pengusiran halus akan diberlakukan padanya kalau ia tidak menikahi Sasuke. Ia juga tak bisa naik tahta! Lagi-lagi perempuan ini hanya dapat menghela napas. Lagi-lagi keraguan menyelimutinya. Memang sepertinya takdir tak merestui perjodohan ini. Sepertinya Kamisama sedang menggores tinta pada skenario untuk Temari yang masih belum mengetahui akan ke mana nasibnya berujung.
.
.
.
Sakura memasang kancing terakhir di bagian dada piyama yang sedang dipakai. Piyama berwarna pink dengan motif gingham. Tidak, piyama ini miliknya. Karena pembicaraannya dengan Hinata kemarin, jadilah ia membawa beberapa pakaian dan sejumlah uang yang lebih ke sekolah. Wah, terdengar seperti remaja nakal yang sedang kabur ya?
Sayangnya Sakura bukan remaja nakal. Ia hanyalah seorang remaja biasa yang tanpa sengaja terseret ke dalam ruang lingkup kerajaan sehingga predikat biasa miliknya berganti menjadi complicated. Ayolah, musim panas dan konflik yang memanas. Apa lagi? Tinggal tunggu saja kepala pink gadis itu meledak.
Perempuan yang sedang memandang refleksi dirinya di kaca menghela napas. Netra hijau yang kehilangan pendarnya menatap kosong cermin di hadapannya. "Kenapa Sasuke-kun belum menghubungiku ya?"
Tok! Tok!
Ketukan pelan pada pintu kamar memecah lamunan galaunya. "Hai, aku sudah selesai."
Yamanaka Ino memasuki kamarnya, tadi Sakura sedang mengganti baju jadi ia keluar sebentar sembari menyuruh pembantunya untuk menyiapkan makan malam. Kemudian gadis berambut pirang ini menyodorkan ponsel ke depan wajah sahabatnya.
"Tuh, Gaara-kun ada di depan rumahku. Katanya ingin bertemu denganmu," ucapnya sambil memperlihatkan e-mail-nya dengan Gaara dari keluarga Rei.
"Hah? Untuk apa?"
Sekarang Ino menyandarkan punggungnya, ia menyilangkan kedua tangannya, "Entahlah, yang pasti kau harus berhati-hati. Dia itu adiknya Temari-senpai. Bagaimana? Apa kau akan menemuinya?"
Mendadak saliva-nya terasa susah ditelan, seperti bertransformasi menjadi permen karet yang menggumpal di tenggorokan. Temari, Sasuke, kerajaan, istana, menikah, cerai, janda, persetan dengan semuanya. Jujur ia lelah, dan sekarang Gaara? Ragu-ragu Sakura menganggukkan kepalanya. Mari lihat apa yang akan laki-laki itu lakukan.
Apakah ia akan membantu keluarga kerajaan untuk memisahkannya dari Sasuke? Atau justru membantunya? Sakura tidak kenal dekat dengan laki-laki itu sehingga tak tahu benar maksud dan tujuannya. Gadis itu hanya mengenalnya lewat goukon dulu, dan sepertinya Gaara cukup terlihat baik di mata Sakura. Baru kemudian, laki-laki itu memunculkan dirinya kembali di pesta ulangtahun Sasuke. Sempat mengajaknya berdansa namun waktu itu Sasuke meraih tangannya lebih dulu. Dan sekarang?
Dengan modal nekad, ia mulai menuruni tangga menuju pintu rumah Ino. Ia mengganti sendal dalam ruangannya dengan sepatu sekolahnya. Satu-satunya alas kaki yang Sakura bawa. Lalu kepala merah mudanya melihat ke sekeliling dan menemukan pria berambut merah dengan pakaian kasualnya. Celana jeans hitam dipadukan kaus putih yang dilapisi oleh jaket abu-abu ber-hoodie yang terlihat nyaman ditambah dengan sneakers. Laki-laki itu sedang berdiri di bawah lampu penerangan jalan.
Seulas senyum Sakura berikan sebagai bentuk penghormatannya kepada Gaara, "Konbanwa Gaara-kun," sapanya singkat, ia mengangkat tangan kanannya yang sedikit dilambaikan.
Pemuda dengan tato 'ai' di kening itu mengangkat sudut kanan bibirnya sedikit. "Konbanwa," balasnya
"Mau masuk dulu? Ada apa Gaara-kun?" tawar Sakura mempersilakan Gaara bermaksud agar konversasi mereka lebih nyaman. Meskipun secara teknis ia mempersilahkan Gaara masuk ke rumah Ino, sih. Bukan itu intinya!
"Tak perlu, aku hanya sebentar. Jadi kau sedang dalam pelarian ya?" Gaara memperlihatkan senyum ammused-nya, terlihat tertarik.
Rupanya Gaara pun sudah mengetahui maksudnya berada di sini. "Ya, ini tempatku bersembunyi. Sementara, ini markasku."
"Apa kau yakin? Markas sementaramu ini tidak aman. Aku saja bisa menemukanmu, apalagi mereka," ia kembali berucap menambah sedikit ancaman dalam line-nya. Jade-nya memandang Sakura dengan tenang.
Sebenarnya, apa maksud Gaara? Apa dia akan menyeret Sakura sekarang juga untuk menemui pihak kerajaan dan menandatangani berkas perceraian begitu? Sakura sendiri heran, entah kepada siapa Gaara memihak. "Lalu? Kau akan memberitahukan pihak kerajaan soal keberadaanku?" ia merotasikan mata hijaunya. Kalau memang diperlukan Sakura tak akan segan untuk menantang Gaara asal ia juga bisa melindungi Sasuke.
Decak tawa terdengar dari pemuda itu, "Kau terlalu berpikiran negatif tentangku. Sebaliknya, aku akan membantumu."
Tanpa sadar Sakura menurunkan kedua alisnya membentuk sebuah kerutan. Ia hendak berkicau namun perlakuan Gaara lebih cepat dari pergerakan mulutnya. Sakura hanya bisa terpaku saat Gaara meletakkan kedua tangannya di atas bahu Sakura, menatapnya lekat.
Suara jangkrik dan suhu yang panas di malam yang masih nampak cerah menemani mereka yang masih terdiam. Detik berikutnya mata Sakura membulat, perempuan itu tanpa sadar membuka mulutnya terkejut saat Gaara kembali bersuara.
"Ikutlah ke Suna denganku. Aku menjamin keamananmu."
.
.
.
.
.
TBC
Words: 4.723
!Warning! Yang selanjutnya cuma berisi curhatan super panjang soal flamers dan ucapan terima kasihku juga balesan review tanpa akun ;) kalau digabung semuanya jadi 2,5 k+ maygad. Maaf xD yang nggak mau baca gak masalah ;) Jangan dilanjut atau di-scroll down, tehee.
.
Balesan review yang nggak ada akunnya ^O^~:
Ifaharra sasusaku: Waaa! Senang kamu kembali ;D kembali kasih, aku juga mengucapkan terima kasih karena sudah mau me-review xD kamu juga sempat menagih fic ini pas aku post fic lain kan? ;3 terima kasih banyak! Hmm, dia dijodohin lagi yaa takdir ;'v amvuni hayati m(_)m Maunya siapa? xD maaf update-nya siput. Sekali lagi terima kasih ya!
Lona: Sebelumnya terima kasih atas review-nya. Hmm, kalau seperti sinetron kenapa? Yang bikin fiksinya 'kan saya ;) kalau memang membosankan yaa itu 'kan opini masing-masing. Nggak perlu baca lagi juga nggak apa-apa ;) terima kasih ya atas review-nya dan telah menyempatkan waktunya untuk membaca fiksi membosankan nan sinetron milik saya XD
Anak Ayam: Hehehe._.V ini konflik terakhir, inget kan kalo fiksi ini genre-nya ada drama di samping romance loh ;;) dari sisi Sasuke memang belum terlihat ketegasannya, mungkin di chapter mendatang dia yang saya bikin lebih menderita xD /ditampol/ Hmm, seperti yang saya bilang soal genre ... kayak sinetron sedikit gapapa lah xD wkwk tapi menurut saya ngga kaya sinetron sih._. Ah entahlah, aku korban kdrama xD terima kasih ya atas review-nya! ;D
sachi: Maaf membuat sachi-san galau ;-; aku nggak sengaja ;-; yaampun sachi-san cenayang x')) kamu bisa merasakan kegalauan Sakura? Hebat! ;'D Iya, Danzo minta dilindes ;")) ampuni saya yaa saya siap di-shannaro Sakura ;') bohong deh. Cuma berencana kasih sedikit drama kok~ hihihi Fugaku sebagai kaisar ngga bisa membantah gitu aja. Demi negara lah, demi apa lah_-_ inget, para kunaichou itu cukup berpengaruh dalam mengendalikan istana~ ;) Gapapa panjang! Aku suka banget review yang panjang ;D terima kasih ya atas pujiannya! Terima kasih juga udah review ;))) salam kenal juga! ;33
bella: Waaah terima kasih! ;D ini sudah dilanjut ya x) maaf atas keterlambatannya~;333
gita zahra: Nggapapa ;)) aku seneng kamu mau memberikan pendapatmu~ kurang stuju sama plot-nya ya? Wah saya minta maaf m(_)m tapi saya nggak berniat untuk mengubah plot hehehe ;) tenang aja, saya juga kan SSL ;w; Cuma bumbu sedikit koook. Sasuke-nya gimana? Hahaha x) amiiin semoga jadi begitu wkwk /dilindes/ terima kasih ya atas review-nya! {}
p.w: Sudah jelas 'kan kenapa Temari? xD tentu aja biar Gaara bisa mengambil kesempatan! HAHAHAHAHAHAHA /dibakar/ Sorry update siput ;') terima kasih ya atas review-nya! ;D
uchiharuno: Waaa! Terima kasih ;D maaf deh saya ngga sengaja membuat kamu merasa gregetan xD syukur kalau ternyata perasaan greget itu tersalurkan di fic ini xD nggapapa, salam kenal ya ^^ terima kasih atas review-nya! ;333
Praditha Sari: Yap, saya bertele-tele. Nggak boleh? Memang sering kalau SasuSaku bersatu bakal ada orang ketiga. Lantas saya nggak boleh juga? ;) kan ini fiksi milik saya... Begitu ya? Romance yang paling ditunggu-tunggu pembaca? Hmm, Praditha Sari-san, saya yakin betul kamu pasti baca genre di fiksi ini bukan hanya sekedar romance ;) ada drama juga. Kalau isinya romance doang ya dari awal fiksi ini kubuat isinya fluffy-fluffy minim konflik lah-_- nyatanya engga 'kan? Saya masang genre drama bukan buat tempelan doang ;)) Kamu bener-bener baca fiksi saya ngga sih? Inget Gaara dan Sasori yang bikin Sasuke jealous? Saya rasa itu cukup mewakilkan. Bahkan di chapter ini ada orang keempat-_-)/ Nggak masalah ;) kalau para pembaca mau mundur itu 'kan kehendak mereka. Saya nggak pernah maksa buat baca fiksi saya lhoo ;)) anyway, terima kasih atas review-nya ya! Kenapa baru berkoar sekarang? Hihi giliran plot-nya ngga suka baru berkicau;)) terima kasih ya sudah meluangkan waktunya untuk membaca karya dari author payah seperti saya :***
Akari Chiwa: Giliran saya kasih cowok ketiga atau keempat kamu nggak protes-_- memang yang ditunggu romance tapi fiksi ini genre-nya bukan cuma romance. Ada drama. Cuma sedikit kok. Yaa kalau enek nggak usah baca lagi juga nggak apa-apa, kalau kamu sampe masuk rumah sakit gara-gara baca fiksi saya kan nggak elit banget ;') saya mengkhawatirkan kesehatanmu loh! :* terima kasih ya, semoga nggak sampe enek ;) btw, terima kasih atas review-nya! ;)
Guest (5/11/13): Nggak ada perkembangan? Yakin? ;( SasuSaku saling mengetahui identitas masing-masing itu masuk perkembangan looh~ Maaf aja saya nggak akan ngubah plot ;) kenapa baru memberi saran sekarang ;( coba dari lama, giliran plot-nya nggak suka bru ngomong. Jadi terlambat kan ;") btw, terima kasih atas review-nya! ;D
Makito Maru: Engga juga sih hihi, fiksi ini mengalir jadi ngga direncanakan dari jauh juga hahaha xD Sudah nggak menarik ya? Itu opini masing-masing. Kamu nggak mau melanjutkan baca fiksi ini saya juga nggak akan maksa hehe. Terima kasih ya sampai sekarang udah mau baca fiksi ini xD terima kasih juga atas review-nya! ;)
ML: Memangnya kalau udah nggak nyambung sama summary kenapa? Masih nyambung aja sih menurut saya. Ini nggak kayak saya bikin tiba-tiba karena Sasuke nggak terima atas perjodohannya sama Temari dia pindah ke planet dan dimensi lain kan? Intinya masih seputar mereka 'kan? ;))) terima kasih atas review-nya! :*
Sakura Uchiha: Duuh namanya pake pair otp saya ;) sayang kamu ngomongnya nggak seindah namamu hihi ;3 fiksi ini melayang di udara?! Sejak kapan punya sayap? :O hebaaaat. Tiba-tiba fiksi ini jatuh ke tong sampah? Yaampun kasihan banget kenapa? Sayapnya patah ya...? yaampun terima kasih atas review-nya! Hehe. Terima kasih juga telah menyempatkan waktunya untuk membaca fiksi yang sudah jatuh ke tong sampah ini :***
Azuka chan: Perencanaan yang salah ya? ;( kenapa baru muncul sekarang Azuka-san? Kenapa ngga pas adem ayem gitu kamu bisa memberitahukan perencanaan kamu di kotak review atau PM saya 'kan... yaa udah terlambat, saya nggak akan ngubah plot. Gimana kalau kamu buat fic sendiri dan menuangkan perencanaan yang benar dalam fiksi itu? ;) terima kasih atas review-nya! ;))
Akira Fly No Login: Hey pengen banget saya berharap dibilang bagus amazing luar biasa begitu? Kamu cenayang bisa tahu isi hati saya yang mengharapkan pujian dari kamu? Wkwkwk Akira-san saya ngga berharap pujian itu keluar dari kamu lho! Saya aja baru tahu penname kamu ;') ke mana aja kemaren-kemaren? Teehe. Terima kasih ya sudah menyempatkan waktunya untuk membaca fiksi dari saya yang sangat payah :**** terima kasih atas review-nya! ;)
Arika CHARRY: Kau juga mengecewakan hiks ;') kenapa baru ngomong sekarang hiks ;"| memangnya kamu pikir hidup manusia isinya bahagia doang? Engga 'kan? ;') enak banget kalo begitu aku juga mauu wkwk terima kasih atas review-nya!
Rama Sinta: Enggak, kata siapa? Sebentar lagi tamat kok ;)) baru juga chapter 9 gosh. Ini nggak kaya saya udah bikin 1000 chapter isinya PHP-in SasuSaku 'kan? Hihi iyalah SasuSaku harus banyak, merek main pair astogeh x'D terima kasih atas review-nya ya! ;)
haruchan: Jangan mewek haruchan-san ;'((( iyaa nggak adil yaaa ;-; yaampun Saku maafin saya ;') semoga kamu cepet bahagia ya sama Sasu hiks ;') tuh saya ikut nangis ;') wkwk Hahaha! Seperti yang kamu pikirkan, saya bikin kaya gitu kok x3 ending-nya segera hihi gabakal sampe 20 chapter kayaknya._.)vvv kayaknya yaa hahaha xD InsyaAllah. Terima kasih atas review-nya ya! ;333
selaladrews: Hai! Salam kenal juga! ;D Yaps, hanya inspirasi hihihi ;'3 berdoa aja ending-nya nggak akan sad muehehehe percaya aja saya juga 'kan SSL. Masa tega banget sama otp ;-; Iya kasihan banget T^^T jahat banget yaa si Danzo hiih gundulin aja hueee /plak/ maaf lelet ;') terima kasih atas review-nya ya! ;D
Jeffira Ridhany: Begitukah Jee? xD hahaha amvuni ;') serius gregetnya berasa? :O Hahhaha gue lagi pongo nggak ngerti maksud KILAT XDDDD makasih banyak review-nya ya Jee! :*
Nadeshiko: EEEH? Hontou desu ka? :O Seneng banget ;D yoroshiku^^ aaah nggapapa kok, kamu memberikan pendapat sekarang juga aku sudah seneng banget. Makasih, makasih, makasiiiih {} terima kasih juga atas review-nya yaa! ;D aku sampe speechless lho! ;3
ziwdays: ANAK EMAK! OwO nggapapaa terima kasih banyak yaa Diii ;") hahaha gaplokin lah laletnya sebelum masuk ke mulut kamu! Sebelum kamu mati karena lalet! Sebelum negara api menyerang! Sama aku juga tambah ngaco-_- hahaha maaf apdet siput ;') terima kasih banyak ya Di! Terima kasih juga atas review-nya :*
kazuran: Hahaha, abis namanya sama waktu itu xD sudah lupakan. Aku juga berharapnya mereka nggak cerai ;-; terima kasih atas review-nya ya! ;D
Rifdi Hayyisa: I-ini lanjutannya ... m-maaf ... maaf lama hueeeeee ;'( TERIMA KASIH BANYAK SUDAH MENUNGGU! Makasih juga atas review-nya ;3 Salam sayang jugaa~~ ;;;)))
shanaararah: Huaa! Terima kasih! ;33 haii, ganbarimasu '-')999 terima kasih atas review-nya yaa ;))
azoela uchiha: Eaa nih ;') nope aku menambah satu konflik terakhir biar sedikit greget hehehehe xD maaf lama ;') terima kasih atas review-nya ya ! ;D
jusss tomatt: Nasib Sakura yaa begini ;') Aku ngga kejam 'kan ;;www;; /digeplak/ terima kasih atas review-nya ya! ;D
Guest (19/2/14): Ini udah update ;;A;; maaf siput banget :( terima kasih atas review-nya ya! ;D
cherry girl: Jangan pasang sad face :( aku ikutan kaan maaf yaa bikin kamu sedih ;-; maaf apdetnya siput banget ;') terima kasih udah review! ;33
Guest (10/4/14): Haiii, aku bukan admin ;') ini lanjutannya yaa ;D maaf udah membuat kamu nunggu lama ;') terima kasih atsa review-nya! ;D
Sasusaku love: Serius? Terima kasih atas pujiannya ;D ini sudah lanjut, maaf lamaa ;') terima kasih sudah menunggu dan terima kasih juga atas review-nya! ;D
kurara chan: Ini sudah lanjut ya ;) sementara nasib Sakura begini ;') terus hubungan SasoSaku masih sebatas sahabat aj~~ ;D NaruHina ... hmm saling suka ngga yaaa xD nggapapa, kepo itu peduli wkwkwk terima kasih atas review-nya! ;D
katty: Ini udah update! Terima kasih atas review-nya! ;3
calonmuridkelasE: Berdoa ajaa ;') Aku ngga se-S itu HAHAHAHA XD TERIMA KASIH ATAS REVIEW-NYA YA! XDDDD
Guest (11/11/14): dessy-san ya? X) aku juga pengen begitu hiks ;'((( aku juga nggak relaaaa huhuhuhu ;'((( terima kasih atas review-nya ya! xD
Kin: Sekarang xD teehe /plak/ maaf lama banget D: belum jamuran kaan? :""""" terima kasih atas review-nya yaa! ;D
: Keren namanya bisa kosong._. Adanya Cuma link httpsmfanfictionnetmreviewphpstoryid8792144chapter8storytextid36417824 x'))kamu bukan makhluk astral kan ;')) /dor /dilindes/ maaf yaa lama ;-; terima kasih atas review-nya! ;D
namikaK'hits: Hai! Salam kenal juga! ;33 terima kasih, haha dia dijodohin tuntutan plot ;') siapa sih author-nya? Kempesin ajaa ;-; IYA AKU JUGA GAMAU DIA JADI DUDA: DUDA MUDA /PLAK/ yaps, dia harus sabar XD Semoga aja happyend tehee! xD sudah ya! Maaf terlambat. Terima kasih atas review-nya! ;3333
GAAAAH! CAPEK TAPI SENENG BANGET :*** untuk yang ada akunnya, aku akan kirim PM, insyaAllah hiks ;') Rima pelan-pelan yaa~ maaf kemaren yang ada akunnya ngga sempat dibales ;-; semoga aja yang sekarang bisa dibales~ tehee.
.
Rima's Cuap Space: Tehee. /kemudian Rima dikroyok/ Mohon maaf atas keterlambatan update. Nope, aku nggak akan beralasan. BTW, UDAH 2 TAHUN LEBIH NGGAK APDET! AKU KANGEN KALIAN! XDDD terima kasih banget untuk review-review yang masuk! OMG, I DONT EXPECT IT AT ALL! Bener-bener unexpected! Haha aku ngasih badai sedikit di chapter kemarin. Believe me, I'm not intending to torture our main character :( seriously, maksudku membuat adegan itu aku cuma pengen memberitahu sisi lain kerajaan yang terkenal wah ada pahitnya. Kita 'kan selama ini taunya soal wah doang ;") aku mengangkat sedikit dari keluarga kekaisaran Jepang yang aku tahu. Lagipula, ini (insyaallah) konflik terakhir yang mengantarkan ke ending.
Ini memang kubuat udah dari lama tapi lelet banget dilanjutinnya. Makanya kelihatan banget perubahan gaya bahasa aku di paragraf awal dan akhir-akhir haha xD udah gitu kayaknya terasa datar banget, kurang greget dan rush ya._. Maaf ngga sempat cek ulang lagii x"D Yaampun mood-ku memang lagi asdf :') Di chapter ini masih lebih menunjukkan Sakura, ya? Haha aku belum banyak menunjukkan dari sisi Sasuke dan istana~ biarkan sang heroine menyebar virus galau dulu ;'3 tehee.
Hmm, jujur banget fic ini sudah mendekati ending. Paling beberapa chapter lagi selesai! Makanya saya mohon dengan sangat tolong jangan patahkan semangat saya. Please banget untuk tidak mem-flame dengan menghujat saya. Katakan saya lebay dan alay, faktanya kalian-kalian yang mem-flame saya telah berhasil. Omedetou, kalian berhasil membuat saya tidak minat sama sekali untuk melanjutkan fiksi ini. 2 tahun lebih saya menggantung pembaca cerita saya yaampun, saya memang baper. Serius deh. Bayangkan, saya capek banget ngetik fiksi dengan susah-susah menguras otak ... kalian dengan enaknya rame-rame mana anon pula ngatain saya dan plot yang saya buat dengan frontal-_- kaget banget pas liat. Ingat kata 'The author would like to thank you for your continued support. Your review has been posted.' 'kan? Yap, setelah me-review pasti bakal menemukan tulisan itu dari situs FFN sendiri. Nah? Apa support itu kaya begitu? Namanya aja support, dukungan.
Bukan berarti saya tidak menerima kritikan dan hanya menerim support. Saya menerima kok dengan tangan terbuka kalau kalian memberi saran atau kritik dengan tata bahasa yang baik dan sopan. Nggak usah pake kata kasar segala. Memangnya saya pernah ketemu kamu? Atau menyakiti kamu di real? Kita saling kenal gitu? Kalian mem-flame saya karena plot yang saya buat tidak sesuai dengan keinginan kalian? Saya tekankan, fiksi ini punya saya. Terserah saya mau diapain. Kalau kalian nggak suka ya bisa 'kan buat fiksi sendiri? Dont mess up with mine. Maaf aja saya ngga akan mengubah plot yang sudah saya buat.
Oke, udah, udah x') maaf malah curhat dan kebawa emosi haha padahal sepele, saya aja yang berlebihan. Saya ucapkan terima kasih sama temen dari embrio saya humanism108 gak nyangka lo muncul di atas-flame-flame itu wkwk kayak ray of light gitu hahaha xD dan Jeffira Ridhanyyang akan segera pisah sama saya u,u ._. abaikan wkwk! Juga Kak sanny sakurai hirokiyang nagihin terus chapter 9 setiap ada kesempatan xD terus Oma emerallized onyxta! Makasih udah jadi tamengnya Rima wkwk ;') also ... kalian yang ngga bisa disebutin satu-satu namanya ;') yang nagihin di PM dan Twitter ayo muncul! X'D
Tentu aja sama kalian yang sudah men-support Rima lewat review, fave, follow, dan yang baca (termasuk siders). I don't know how to express my gratitude :*** untuk chapter selanjutnya bakal pelan-pelan dilanjut. Thanks for all the waiting! Waduh ini cuapannya berapa paragraf maygad-_- panjang banget! xD
Intinya, Rima minta maaf sebesar-besarnya untuk kalian yang kecewa sama fiksi saya. Tapi, saya juga mengucapkan terima kasih banyak. Saya juga masih belajar jadi masih perlu bimbingan dan masukan dalam bentuk apa pun itu tapi jangan kasar please ;) sekali lagi maaf kepanjangan. Mind to RnR, minna? Yang siders juga boleh mulai menampakkan diri ;) aku juga pengen kenal pembaca karyaku loh~~ ;333
Special thanks for reviewers chapter 8 ^^~:
kasih izumi, Mulberry Redblack, Hidan DukunGila, Naya Aditya, ichiro kenichi, Xiaooo, Ifaharra sasusaku, Silvermist Uchiha, Seijuroo Eisha, Lona, Aden L kazt, Anak Ayam, Shiro Miuna, Lin Narumi Rutherford, Amu B, E.S Hatake, MuFylin, Lhylia Kiryu, Nina317Elf, Edelwish, Chichoru Octobaa, PapuyuLezato, sachi, Seiya Kenshin, Kumada Chiyu, Ai Nekozawa Dark Angel, sora azura, sofi asat, Hotaru Keiko, Naomi Kanzaki, shawol21bangs, bella, gita zahra, Cherry Philein, Asterella Roxanne, Nakatsuki Kasuke, IisVadelova, p.w, Siapa-Saya, ainnur wulan, uchiharuno, Praditha Sari, Akari Chiwa, Guest (5/11/13), Makito Maru, ML, Sakura Uchiha, Azuka chan, Akira Fly No Login, Arika CHARRY, Rama Sinta, humanism108, haruchan, mitsuka sakurai, Akiko Mi Sakura, selaladrews, Arakafsya Uchiha, LeEdacHi aRdian Lau, Hatake Hime, Tsurugi De Lelouch, Jeffira Ridhany, Hanna Hoshiko, Nadeshiko, ziwdays, titaniaDL, Kyouka Hime, tummyuchiha, Anka-Chan, kazuran, Rifdi Hayyisa, kawaihana, Hikari 'HongRhii, yunianda ardina, YashiUchiHatake, Dhezthy UchihAruno, shanaararah, Risa 51217, Parinza ananda, azoela uchiha, jusss tomatt, Bluesweetpink, FatitaRH, Ariska, Guest (19/2/14), B Skypiea, Horyzza, Seven to the teen, cherry girl, Guest (10/4/14), Sasusaku love, Haruka Smile, Ryouta Kouyuki, sasusakulover47, reafuruya-chan, kurara chan, katty, calonmuridkelasE , Guest (11/10/14), hanikofukumitsu, mucharomah, SyahAruna, Kin, krystaljung13, httpsmfanfictionnetmreviewphpstoryid8792144chapter8storytextid36417824, Hezlin Cherry, Akane cherryblossoms, irieaihara27, Yuki Hime-com, Nurulita As Lita-san, namikaK'hits.
THANKIES ALL! :* Mohon maaf atas kesalahan penulisan nama ;)
Ckrg, 26 Mei 2015 21:28 PM
