Disclaimer: siapa aja boleee ~*ditabok ATLUS*

Summary: Acara kemping yang sudah lama ditunggu-tunggu akhirnya tiba! Well, mungkin tidak semuanya menunggu acara ini. Pairing in this chap: Yosuke x Chie. Slight Souji x Yukiko.


Persona 4 Fanfiction © AiNeko-chan

::

FRIENDSHIP & LOVE

::

CHAPTER 9

"Happy Camp?"


Atap Yasogami Highschool memang sering digunakan murid-murid untuk berkumpul untuk makan siang atau mengobrol saat jam istirahat, ataupun pulang sekolah. Begitu pula dengan hari ini, lima remaja terlihat sedang berkumpul disana, dan tentunya mereka adalah Souji,Yosuke, Chie, Yukiko, dan.. Kanji?

"Si-siang…" ucap Kanji dengan nada yang berbeda dari biasanya. Chie yang berdiri di depan lelaki berambut pirang muda(?) itu tertawa mendengarnya.

"Hei, ada angin apa tau-tau kau jadi sopan begini, Tatsumi-kun?" sindirnya dengan senyum di bibir. Kanji tertunduk malu,

"W-well, aku tidak tahu kalau kalian ternyata Senpai-ku.." katanya lagi. Semua yang mendengarnya tertawa.

"Akhirnya kau masuk sekolah juga. Aku senang akhirnya kau mau bergabung dengan kami.." sahut Souji dengan seulas senyum di wajahnya. Kanji hanya mengangguk kecil, menyembunyikan blush kecil di pipi yang terbentuk karena rasa malunya pada senpai-nya yang satu itu.

"Uhh..ya.. Ma yang menyuruhku mendapatkan teman.."

"Jadi kau menganggap kami teman? Terimakasih,Kanji-kun." kata Yukiko senang. Kanji lagi-lagi blush mendengar Senpai—juga teman masa kecilnya, memanggilnya dengan nama kecil.

Di antara mereka, mungkin Yosuke yang tampak paling tidak antusias dengan kedatangan Kanji. Ia mungkin tertawa, tapi tak lama kemudian, wajahnya merengut kembali, entah karena masalah apa.

"Hei, ngomong-ngomong, kudengar.. minggu depan akan diadakan school camp ya?" kata Chie yang entah kenapa juga segera mengganti topik yang sangat tidak nyambung dengan topik sebelumnya (swt). Yukiko yang mendengarnya mengangguk,

"Uh-huh. Aku tidak sabar menunggunya! Memasak di alam bebas pasti menyenangkan!" ucapnya senang. Mendengarnya, Souji sweatdrop. Ia ingat, beberapa bulan yang lalu ia sempat mencicipi masakan Yukiko yang diberikan padanya dan Yosuke, dan setelah memakannya—rasanya, sungguh… "Luar biasa" dan Souji bahkan tidak mengizinkan Yosuke memakannya karena tidak ingin sahabatnya itu tewas di tempat karena makanan tidak berbentuk itu.

"Uhh—memangnya, kita benar-benar HARUS memasak sendiri di acara kemping itu?" kata Souji pelan, mencoba tidak terlihat bahwa ia menyembunyikan keraguannya pada masakan Yukiko.

"Hm? Oya, kalian baru kali ini ikut school camp ya? Begitulah. Disana kita harus memasak makanan sendiri-sendiri dengan kelompok masing-masing! Kuharap kita sekelompok ya!" jawab Chie senang.

"Hei, Chie.. Bagaimana kalau sebelum acaranya diadakan kita ke Junes untuk membeli bahan-bahan masakan?" usul Yukiko, yang ditanggapi Chie dengan ungkapan setuju dan anggukan senang. Sementara Souji tidak berkata apa-apa, namun sedikit berharap tahun ini tidak diadakan acara-memasak-sendiri-sendiri seperti itu.


Murid-murid yang memakai seragam olahraga Yasogami berwarna biru tampak sibuk berkeliaran di sekitar gunung. Kebanyakan dari mereka tampak jalan dengan membungkuk, memunguti sesuatu di atas rumput hijau. Di punggung mereka terdapat keranjang bambu yang terisi berbagai macam barang—yang sudah tidak terpakai, seperti kaleng soda, plastik, kertas, dll.

Singkatnya, mereka sedang menjalankan tugas dalam kemping hari pertama itu—memunguti sampah di sekitar areal gunung.

"Awww, punggungku sakit! Akh, sampah ini tidak ada habis-habisnya!" , keluah Yosuke sambil merenggangkan tubuhnya. Setelah menguap sebentar, dia menengok kea rah Souji yang masih tampak sibuk memunguti setiap barang yang jatuh dan memasukkannya ke dalam keranjang, tidak peduli itu sampah atau bukan. Yosuke sempat sweatdropped saat melihat lelaki berambut abu-abu itu ikut memasukkan sebuah boneka kecil lucu yang kebetulan jatuh, dan samasekali tidak terlihat seperti sampah yang harus dibuang.

"Souji, kau..tidak lelah..?" tegur Yosuke kemudian sambil menepuk bahu sahabatnya. Souji menoleh ke arah Yosuke, dan tersenyum lembut sambil mengatakan sesuatu seperti, "Tentu saja" atau "Kau sendiri?"

"Heh, tentu saja, aku lelah lelah lelah lelah capek capek capeeeek sekali. Ah, kau bayangkan, kita sudah memunguti sampah selama lebih dari sejam! Apa guru-guru sinting itu mau menyiksa kita? Arrgghh, pinggangku sakiit!!" kata Yosuke sambil kembali merenggangkan tubuhnya, tanpa menyadari di belakangnya, King Moron menatapnya dengan death glare.

Souji tertawa kecil, "Yah.. Apa kau tidak pernah berpikir kalau sampah-sampah ini juga gara-gara kita? Kau sendiri suka buang sampah sembarangan di gunung kalau lagi kemping kan? Anggap saja ini balasannya." jawabnya tenang. Yosuke sedikit sweatdropped mengingat tahun lalu ia membuang semua bekas makanannya begitu saja ke gunung. Darimana Souji bisa tahu..?, pikirnya sesaat.

"Ugh…errr…p-pokoknya, setelah ini Amagi dan Satonaka akan membuatkan kita makanan kan? Hmm, mungkin anggap saja itu imbalan karena kita sudah bekerja keras hari ini ya? Aku sudah tidak sabar!" kata Yosuke kemudian sambil berusaha mengalihkan topik pembicaraan, tanpa menyadari Souji yang tampak sweatdropped mendengar kata-katanya.

"Mereka akan buat apa ya? Oh, yang paling gampang—mungkin kare! Aah, aku tidak berharap banyak dari masakan Satonaka, tapi—Amagi-san kan calon penerus penginapan! Masakan buatannya pasti tak kalah enak dengan koki disana! Aku jadi benar-benar tak sabar—eh? Eng? Kenapa dengan wajahmu, Souji?" katanya dengan tampang heran ketika melihat wajah pucat Souji.

"Eh..errr..sebaiknya, jangan terlalu berharap…" ucapnya pelan, mengingat sehari sebelum kemping, dia menemani kedua gadis itu belanja bahan makanan, dan—oh,apa yang mereka beli? Kecap, lada, manisan, kimchi, terong, coklat dan..mereka bilang ITU UNTUK MEMBUAT KARE?? Dan lagi, mereka BELUM PERNAH membuat kare sebelumnya. Oh, akan seperti apa rasa masakan yang mereka buat nanti? Souji tidak dapat membayangkannya…

Souji tidak sempat melihat wajah Yosuke yang tampak bingung dengan ucapan singkatnya tadi, karena sebuah perintah dari guru yang sepertinya Kepala Sekolah, memerintahkan mereka untuk kembali ke kelompok masing-masing.

Dan Souji hanya bisa 'berdoa menerima ajal' saat sang Kepala Sekolah juga memberitahukan bahwa saatnya makan siang, dengan kelompok masing-masing, sementara Yosuke yang berseru senang tanpa mengetahui 'nasib' yang akan menimpanya setelah ini.


Yosuke dan Souji duduk di deretan kursi kayu yang memang dipersiapkan untuk acara kemping Yasogami, sementara Chie dan Yukiko sibuk memasak bersama perwakilan kelompok lain.

Chie sibuk mengaduk-aduk panci berisi masakan—yang mereka sebut—kare, sementara Yukiko juga masih sibuk memotong-motong beberapa bahan yang belum dimasukkan.

"Ini pasti akan jadi enak! Tadi aku juga memasukkan cumi goreng dan bubuk cabai pemberian Okaasan-ku sebanyak-banyaknya. Semoga Seta-kun menyukainya! Eh—Hanamura juga deh." ucap Chie perlahan sambil menutup panci masakan-yang-mereka-sebut-kare tanpa menyadari bau aneh yang mulai tercium dari dalamnya. Yukiko hanya mengangguk seraya tersenyum setelah memasukkan bahan lain—sepertinya terong,dan..labu?

"Asalkan kita buat sepenuh hati,pasti hasilnya jadi enak dong! Dan Seta-kun juga pasti menyukai—Ng..?" ucapan Yukiko tampak terputus ketika hidungnya mencium bau yang tidak sedap—atau bisa dibilang sangat aneh dari dalam panci di depannya.

"Chi-chie.. Kok.. baunya begini ya? Coba kau buka pancinya!" kata Yukiko dengan firasat buruk. Chie yang mulai menyadari bau aneh itu, segera membuka panci berisi masakan-yang-mereka-sebut-kare itu, dan—

"Eeew!! Apa ini? Kenapa warna kuahnya jadi seperti ini..? Dan bau aneh apa ini?" seru Chie sambil menjauhkan wajahnya dari panci berisi makanan aneh itu. Kemudian ia menoleh ke arah Yukiko di sebelahnya dan sweatdropped.

"Ehh—err, kita benar-benar akan memberikan ini ke Seta-kun dan Hanamura-kun?" Yukiko melirik makanan aneh yang sekarang benar-benar tidak terlihat seperti kare lagi masih dengan sweatdropped. Chie menghela nafas dan menatap Yukiko lagi, sebelum mereka saling mengangguk satu sama lain dan menelan ludah, persiapan untuk menghadapi hal yang setelah ini akan mereka lakukan.

"Hei, itu mereka!" seru Yosuke antusias saat melihat Yukiko dan Chie datang sambil membawa dua piring berisi nasi dan—kare?

"Y-ya.. ini dia, kare penuh cinta dari kami! Di-dimakan ya?" ujar Yukiko kikuk, seraya meletakkan dua piring nasi dan suatu masakan kuah berwarna..ungu..(?) di atasnya. Yosuke mengernyitkan alis bingung, sementara Souji tetap terlihat tenang, walaupun dalam hatinya Ia benar-benar memohon agar tidak disuruh mencoba masakan itu terlebih dahulu.

"Kenapa warnanya seperti ini?" tanya Yosuke akhirnya. Yukiko dan Chie hanya diam, sambil menyenggol satu sama lain.

"Ah.. i-itu, kare jenis baru yang kupelajari dari koki di penginapanku. Ya—yaah, jangan pedulikan warnanya, coba cicipi dulu!" ucap Yukiko asal, namun sudah cukup untuk membuat wajah lelaki berambut coklat itu berseri-seri.

"Baiklaaah, akan kumakan! Yak, Itadakimaasu!" sahutnya sambil menyendok nasi dan masakan-yang-mereka-sebut-kare itu sepenuh-penuhnya, lalu dimasukkannya ke mulut dengan mulut selebar-lebarnya.

......hening beberapa saat. Keringat dingin mulai mengalir dari dahi kedua gadis yang sudah tahu apa yang akan terjadi setelah ini,

Wajah Yosuke berubah biru, ah—bahkan mungkin ungu, tangannya kaku, dan tak lama kemudian ia menyemburkan makanan yang baru dikunyahnya itu ke lantai seenaknya.

"HOEEEEK!! A-apa ini?! Ini samasekali bukan kare! Ini lebih seperti makanan basi yang didiamkan beberapa hari lalu ditambah bumbu seenaknya! APANYA YANG RESEP DARI KOKI??" katanya murka. Matanya melihat sekeliling, mencari air untuk menetralkan lidahnya yang terasa aneh, dan begitu menemukannya, langsung diteguknya segelas air itu dan dihabiskan tanpa sisa.

"Ehh—err, itu resep dari koki Yukiko, mungkin?" sahut Chie gelagapan dengan keringat dingin yang masih mengalir. Yukiko tertunduk mencibir, bingung mau mengatakan apa.

Souji hanya menghela nafas saat Yosuke sibuk memarahi Yukiko dan Chie, sambil sesekali memperhatikan sepiring kare (?) yang ada di depannya. Untung bukan aku yang pertama mencobanya...

"Kalian benar-benar tidak berbakat memasak! Aku menyesal satu kelompok dengan kalian!" –makian Yosuke masih berlanjut. Chie yang mendengarnya, merasa sedikit tersinggung.

"Apa?! Memangnya kau sendiri bisa? Kami kan baru pertama mencoba, jadi wajar kan kalau masih hancur hasilnya?" balasnya kesal.

"Aku kan laki-laki, tidak bisa masak juga tidak apa-apa! Kalian, perempuan, harusnya bisa melakukan pekerjaan rumah kan? Ah—Amagi-san mungkin masih bisa melakukan pekerjaan rumah saat membantu penginapannya, kalau kau—Satonaka? Aku tidak pernah melihatmu bekerja sebagai perempuan satukalipun!"

"A-aku pernah! Tidak usah sok tahu deh—Kau memangnya bisa melakukan pekerjaanmu sebagai laki-laki? Dasar konyol!!"

"Hah, aku hanya pernah melihatmu berkelahi, main dengan anak laki-laki, berlatih kungfu, menonton tontonan anak laki-laki, dan apalah itu! Yang pasti, kau selalu bertingkah seperti laki-laki! Dan kau tahu—aku tidak pernah melihatmu sebagai anak perempuan!!"

--PLAK!

Pertengkaran stupid lovebirds yang daritadi hanya diperhatikan saja oleh Yukiko dan Souji, diakhiri begitu saja oleh tamparan keras dari Chie ke wajah Yosuke.

Yukiko dan Souji tersentak, sementara Yosuke terkejut mendapati pipinya yang sekarang terasa panas akibat tamparan Chie.

"HEI, apa yang kau—" ucapan Yosuke yang berniat protes pada Chie, terhenti saat Ia melihat butiran air mata yang perlahan berjatuhan dari wajah gadis itu.

"—DASAR BODOH!!" serunya keras, sebelum Ia berlari cepat ke arah tenda perempuan secepat mungkin.

"..Chie, tunggu!" Yukiko melangkahkan kakinya untuk mengejar Chie, sementara Yosuke bengong, seolah tidak tahu apa salahnya yang menyebabkan Chie sampai menangis dan menamparnya keras tadi.

Souji menghela nafas dan menepuk pundak Yosuke pelan, "Kau tahu, gadis seperti Satonaka, jauh dalam hatinya juga, pasti ingin menjadi feminin seperti gadis pada umumnya. Kata-katamu yang menganggap dia bukan perempuan, pasti sangat menyakitinya." kata Souji pelan. Yosuke masih terdiam, menyadari kesalahannya. Selama bertengkar dengannya, Yosuke samasekali belum pernah melihat Chie menangis karena ejekannya, sampai sekarang ini. Apa kata-katanya memang begitu menyakitkan?

--dan lamunannya buyar saat Souji menegurnya. "Pergilah minta maaf, sekarang. Kalau dibiarkan dia bisa membencimu, kau tahu itu?"

Yosuke tersentak, namun Ia tetap terdiam. Sejujurnya, Ia merasa bersalah. Ia ingin secepatnya mengucapkan kata "maaf" untuk gadis yang diam-diam disukainya itu. Namun, mengingat Chie yang sampai saat ini tidak pernah melihat pada dirinya, melainkan pada Souji, Ia mengurungkan niatnya. Chie tidak akan menyukainya, dan mereka justru selalu bertengkar. Jika Chie membencinya dari sekarang, bukankah itu lebih baik daripada setelah ini tanpa sadar dia terus mengatakan hal yang menyakiti hati gadis itu?

"Tidak." bisik lelaki berambut oranye itu pelan. Souji sedikit terkejut. "Aku tidak mau mengemis-ngemis untuk minta maaf pada cewek barbar itu! Belum tentu juga dia mau memaafkanku kan? Sudahlah, aku mau kembali ke tenda dan makan snack yang kubawa untuk mengisi perut!" lanjutnya, lalu berjalan setengah berlari ke arah tenda para lelaki. Souji hanya geleng-geleng kepala melihatnya. "Ada apa dengannya?" bisik lelaki berambut abu-abu itu.


"Souji…"

"Hm? Kenapa, you?"

"..Tenda ini, dengan absennya Kagamine-san, harusnya cuma dihuni kita berdua kan?"

"Yah, kurasa begitu.."

"…kalau begitu… KENAPA ORANG INI BISA ADA DISINI??" teriak Yosuke keras sambil menunjuk KANJI yang terdiam dengan tampang bodoh di sebelah Souji. Souji hanya menghela nafas dan memegang telinganya yang berdenging akibat teriakan Yosuke tadi.

"Ssh, Yosuke-senpai, kalau kau teriak begitu, guru sial itu bisa menemukanku!" ucap Kanji setengah berbisik. Yosuke kembali cemberut.

"Cih, itu tidak masalah. Yang lebih penting, kutanya sekali lagi, kenapa kau bisa ada disini? Tenda siswa kelas 1 bukan disini, kau tahu?!" tanyanya lagi dengan nada kesal.

"Tidak, sebenarnya.. itu.. karena ada anak-anak brengsek di tendaku yang masih takut padaku, jadi yaa.. aku sedikit kehilangan kontrol." Kanji tertawa garing, "Dan sekarang aku tidak bisa kembali ke tenda karena guru-guru itu mencariku. Jadi... aku kesini deh.. ehehe." jelasnya dengan muka memelas. Tapi tentu saja semelas apapun muka Kanji, Yosuke tidak sedikit pun berbelas kasihan pada junior satunya itu ( contoh Senpai jahat)

"Ah, ya ya ya.. aku terima alasanmu. Tapi selain tenda kita, tenda lain juga ada kan? Kenapa kau harus datang kesini? Kalau King Moron itu datang dan menemukanmu disini, kita juga akan kena masalah, tau! Benar kan, Souji?!" Yosuke mengalihkan pandangannya ke Souji yang tampak sedikit mengantuk mendengar perdebatan dua orang di depannya itu.

"Hah? Umm.. well, asal dia tidak berisik sih, aku sebenarnya oke-oke saja." jawab Souji tenang, membuat Kanji berbinar-binar sedangkan Yosuke kebalikannya—bagaikan tersambar petir berkali-kali karena sahabatnya lebih memilih Kanji daripada dia.

"Yeah! Sudah kuduga Souji-senpai memang lebih mengerti aku daripada Yosuke-senpai!" sahutnya senang. Souji tertawa kecil, sementara Yosuke menggembungkan pipinya kesal.

"Tsk. Ya sudah kalau Souji bilang begitu, tapi—kau harus berjanji satu hal, Kanji." Yosuke akhirnya angkat bicara, walau dengan tampang bete.

"Hm? Apa itu?"

"Well.. Aku tau wajahku memang manis untuk ukuran seorang lelaki, dan Souji memang berwajah seksi, tapi jangan coba-coba 'menyerang' kami saat sedang tidur, oke?" ucapnya narsis. Sementara Souji ilfil karena dibilang seksi (walaupun dia setuju wajah Yosuke memang manis), wajah Kanji-yang-tadinya-terlihat-bodoh langsung berubah jadi penuh amarah setelah mendengar kata-kata Yosuke barusan.

"SUDAH KUBILANG AKU TIDAK AKAN MELAKUKAN HAL SEMACAM ITU!!" bentaknya.

"Well, kau tahu sebenarnya aku masih curiga padamu. Lagipula kau juga tidak menyangkal bahwa kau menaruh hati pada detektif kecil itu kan? Siapa namanya—? Ah, ya! Shirogane Naoto!" balas Yosuke dengan wajah ilfil.

Wajah Kanji (tanpa disadarinya) berubah merah saat Yosuke menyinggung nama lelaki kecil maskulin itu. Perasaannya pada Shirogane Naoto—memang lebih dari sekedar rasa penasaran karena dia begitu misterius. Perasaan itu.. lebih seperti.. cinta. (namun Ia mati-matian menyangkalnya, tentu saja)

"Err.. Tatsumi, kenapa wajahmu memerah?" sela Souji sweatdrop.

Kanji tersadar dari lamunannya dan melihat wajah kedua senpainya yang terlihat (sangat) ilfil, Ia memasang wajah galak kembali, tapi tetap saja tidak bisa menyembunyikan rona merah yang terlihat jelas di kedua pipinya.

"A-apa?! Tidak! Wajahku tidak memerah! Err—maksudku, mungkin memang memerah, ta-tapi, itu benar-benar bukan karena aku memikirkan Detektif manis itu! Bukan! Wajahku memerah karena nyamuk (?), dan—e-err, pokoknya, Yosuke-senpai! Apa senpai masih belum juga percaya kalau AKU BENAR-BENAR BUKAN HOMO?!" seru Kanji sambil bangkit dari posisi duduknya, diikuti dengan Yosuke yang juga berdiri, berhadapan dengan Kanji yang lebih tinggi darinya.

"Kau pikir, setelah melihat sikapmu yang tidak wajar pada Shirogane—Oh, bahkan kau sempat blush karena Souji juga—aku bisa percaya sepenuhnya kalau kau bukan homo?" serunya emosi.

"Seenaknya saja kau bicara begitu! Yosuke-senpai sendiri juga sering bersikap atau berbicara padanya seolah kalian sepasang kekasih atau pasangan baru menikah, kan? Memangnya itu namanya bukan sikap orang homo?!" bentak Kanji tidak mau kalah sambil menunjuk Souji yang terlihat mengangguk setuju dengan anggapan Kanji. (lah?)

Wajah Yosuke berubah merah saat Kanji berkata seperti itu ( *dihajar pembenci yaoi*) —ralat— Wajah Yosuke semakin terlihat geram saat Kanji berkata seperti itu.

"Hei! Itu kan wajar (?) karena kami sahabat! Kau dan Shirogane-san kan baru bertemu beberapa kali dan belum begitu dekat, tapi kau sudah menaruh hati padanya! Itu namanya jatuh cinta pada pandangan pertama kan?! Akui sajalah!" Yosuke makin nyolot.

"AKU TIDAK MENARUH HATI PADANYA!!! Lagipula Senpai—ugh!" Kanji sepertinya sudah kehabisan kata-kata untuk melawan Yosuke. Pandangannya beralih kepada Souji yang sedang main dengan nyamuk di pojokan saking bosannya (?).

"SENPAI! Jangan diam saja! Menurut Senpai bagaimana?! Aku bukan homo kan?! Senpai percaya aku tidak akan menyerang—atau melakukan apapun pada kalian di malam hari kan?!" ucapnya dengan mata membara.

"Hei! Jangan tertipu sikap sok memelasnya, Sou! Coba putuskan! Aku dan dia, siapa yang lebih kayak homo?!" sahut Yosuke dengan wajah yang tak kalah membara.

Souji bengong.

Sejak kapan persaingan diantara mereka berubah jadi persaingan-siapa-yang-lebih-homo-atau-semacamnya seperti ini?

"Senpai!!"

"Souji!!"

Souji mulai bingung. Sebetulnya dia juga tidak tahu harus mengatakan apa pada dua orang yang sepertinya sudah mulai gila (?) ini. Saat bibirnya mulai bergerak, ingin mengucapkan kata-kata asal yang terlintas di benaknya, tiba-tiba—

"Hei! Yang di dalam tenda 18! Hanamura dan Seta ya?! Kalian masih bangun ya?!" bentak sebuah suara serak yang terdengar dari luar, suara yang sangat familiar di telinga ketiganya.

"Gawat! Itu King Moron! He-hei, cepat matikan lampunya lalu pura-pura tidur!" perintah Yosuke setengah berbisik. Kanji yang berada paling dekat dengan satu-satunya penerangan di dalam tenda itu segera memadamkannya dengan panik. Saat sesosok guru tonggos menyibak kain yang berfungsi sebagai pintu di tenda itu, mereka sudah memasang posisi acak supaya terlihat seperti orang tidur, dengan Kanji yang menyembunyikan diri dengan selimut di pojok tenda.

Morooka terlihat tidak curiga. Tak lama kemudian, Ia menutup kembali pintu itu dan kembali berjaga di luar, sampai akhirnya langkah kakinya tidak terdengar lagi.

"Ugh. Kali ini kau beruntung, Tatsumi." bisik Yosuke pelan, tidak ingin suaranya terdengar oleh guru lain yang kemungkinan masih ada di sekitar tenda mereka. Kanji hanya membalas dengan deheman—kemudian dengkuran, yang menandakan lelaki berambut putih itu telah jatuh tertidur dan membuat Yosuke dan Souji sama-sama sweatdrop.


Chie menguap sementara tangannya masih memegang senter yang menyala terang di tengah kegelapan di sekitarnya. Kakinya menyusuri jalan setapak yang terus menanjak, menuju puncak bukit. Sementara di belakang, Yukiko mengikuti dengan langkah kecil.

"Chie.. mungkin.. sebaiknya kita kembali ke tenda.." bisik gadis itu pelan. Ia mulai melihat sekeliling. Gelap. Dengan pepohonan tinggi yang kadang menimbulkan suara seperti bisikan karena daun-daunnya bergesekan, suara angin yang terdengar mencekam, dan lolongan hewan-hewan hutan yang (dalam pikiran Yukiko) terdengar ganas.

"Ah, ayolah Yukiko! Kita sudah terlanjur sampai sini. Sebentar lagi puncak akan terlihat. Sayang kan kalau turun sekarang?" jawab Chie mantap. "Lagipula biarpun kembali ke tenda, kita tidak akan bisa tidur, kalau dengan dengkuran Hanako yang seperti itu.." lanjutnya dengan wajah ilfil, mengingat beberapa saat sebelumnya mereka berdua terbangun dari tidurnya karena suara dengkuran teman satu tenda mereka—Hanako, yang gendut dan rakus. Dengkurannya sangat dashyat, sampai awalnya Yukiko mengira ada beruang yang masuk ke dalam tenda mereka.

"Iya sih.. tapi, hutan ini terlihat… mengerikan." sahut Yukiko. Ia bergidik ngeri saat mendengar suara yang terdengar seperti lolongan anjing—atau serigala. Ia sempat berhenti di jalan beberapa kali, memastikan keadaan sekeliling aman-aman saja. Sementara, Chie dengan santainya tetap meneruskan jalannya sambil bersiul-siul kecil.

Mereka masih menjelajah hutan itu bersama, sampai senter yang dipegang Yukiko mulai kehilangan cahaya. Lampunya terus meredup, membuat gadis berambut hitam itu panik. "Eh? Kenapa ini?" –Ia mencoba menggoyang-goyangkan senter itu agar cahayanya kembali (cara yang didapatnya dari Otousan-nya yang memang rada aneh), namun sialnya, senter itu justru mati sepenuhnya.

Yukiko tentu saja makin panik. Sekarang sekelilingnya benar-benar gelap dan Ia tidak bisa melihat apapun kecuali daerah yang sedikit diterangi cahaya bulan. Ia memanggil-manggil Chie, namun tampaknya sahabatnya telah berjalan jauh di depannya sampai tidak mendengar, apalagi menjawab panggilannya.

Saat Ia mencoba berlari lurus ke depan, karena penglihatannya hanya bisa melihat sedikit jalan setapak, Ia justru berjalan terlalu ke samping, dan sialnya—menginjak tanah yang becek karena hujan. Tanah itu longsor ke bawah bersama rerumputan yang tumbuh di atasnya, dan tentu saja bersama tubuh Yukiko.

Yukiko terlalu lambat untuk menyadari bahwa tubuhnya tengah terperosok ke bawah—entah itu tebing atau cuma lubang atau semacamnya. Ia bahkan tidak sempat memegang batu untuk bergantung selama beberapa saat. Yukiko jatuh dengan mulus bersama longsoran tanah dan sedikit tumbuhan serta bebatuan.

Dan yang terdengar oleh Chie saat dia sudah hampir sampai puncak bukit, hanya suara teriakan melengking Yukiko yang terdengar jauh.

Chie tersentak. Ia berbalik, dan terkejut saat menyadari Yukiko sudah tidak ada di belakangnya. Wajahnya mulai berubah pucat, memaki kebodohannya yang bahkan tidak menyadari saat sahabatnya pergi dari sisinya. Ditambah teriakan barusan, Chie bisa membayangkan sesuatu yang buruk tengah terjadi pada Yukiko, dan tentu saja Ia menjadi sangat panik.

"Yukiko! Yukiko! Dimana kau?" seru Chie. Dia mulai menuruni bukit untuk mencari sosok berambut panjang dan berbando merah itu. Ia sudah mencari ke semak-semak, di balik pepohonan, dimanapun. Tapi sosok gadis itu tidak juga terlihat.

"Yukiko! Kumohon, jawablah aku!" Chie berteriak lebih keras. Matanya mulai berair. Jika sesuatu terjadi pada Yukiko, itu salahku! Aku yang memaksanya jalan-jalan ke bukit malam-malam begini, dan aku tidak menjaganya! Aku benar-benar.. bodoh! , Ia mulai terisak.

Namun Ia berhenti saat merasa sebuah tangan menepuk pundaknya dan suara desah nafas seseorang terdengar dekat dengan telinganya.

Itu tidak mungkin Yukiko.

Tangan orang itu besar dan cengkeramannya kuat. Tangan seorang lelaki. Lalu suara desah nafas yang tidak beraturan itu—Maniak?

Insting berkelahi Chie seketika bangkit. Ia berbalik dengan cepat dan mengangkat kakinya, mengarahkan tendangannya tepat ke muka sang maniak yang wajahnya tidak terlihat karena gelap.

Sampai suara yang familiar menghentikan gerakannya.

"T-tunggu, Satonaka! Ini aku!" ujar maniak—pria itu panik.

Chie terhenti, Ia menurunkan kakinya dan mengarahkan cahaya senter di tangannya ke muka orang tersebut. Dan sesuai dugaannya, orang itu adalah Yosuke Hanamura.


Sementara itu, di bawah bukit, seorang gadis berambut hitam panjang terjerembap di antara semak dan bebatuan, dengan pakaian yang kotor oleh tanah, rambut yang acak-acakan, dan wajah yang dipenuhi bercak-bercak lumpur. Gadis itu meringis, kaki dan sebagian tubuhnya terasa sangat sakit.

Ia memandang ke atas, sepertinya ia terperosok ke bagian bawah bukit cukup jauh. Ia bisa saja memanjat ke atas kembali, namun dengan kaki seperti itu sepertinya mustahil baginya untuk bergerak selama beberapa saat, apalagi memanjat.

Kemudian dilihatnya sekeliling, gelap. Kali ini benar-benar tidak terlihat apapun. Cahaya bulan terhalang oleh pepohonan yang lebih tinggi dari pepohonan yang dilihatnya di bagian atas bukit. Tanah di sekitarnya gelap, dan senternya sudah hilang entah kemana. (Walaupun ketemu, sepertinya senter itu juga tidak bisa lagi dipakai) Ia bahkan tidak tahu dimana Ia sekarang dan dimana sahabatnya berada. Hutan ini begitu luas, gelap, dan— mengerikan.

Ya, gelap.

Tapi apa itu? Ia melihat seberkas cahaya dari dalam hutan, perlahan-lahan mendekati dirinya.

Takut. Tentu saja dia takut. Bagaimana kalau itu hantu? Bagaimana kalau narapidana yang melarikan diri dan bersembunyi di hutan? Bagaimana kalau itu Morooka yang datang karena mendengar teriakan spontan-nya tadi? (Oh, dan dia berpikir bahkan hantu dan narapidana masih jauh lebih baik daripada King Moron yang sedang marah)

Saat cahaya itu makin mendekat dan membuat silau mata hitam gadis itu, Ia spontan menutup mata. Dan didengarnya suara yang tak asing lagi.

"Amagi-san! Kau tidak apa-apa?"

Suara Souji Seta.


Sejujurnya, Chie sempat senang saat mengetahui ada orang lain di sampingnya, walaupun orang itu adalah Yosuke Hanamura. (Setidaknya dia tidak sendiri) –Namun, saat mengingat kejadian sore tadi, dan fakta bahwa mereka masih bertengkar, wajahnya berubah kecut kembali.

"Apa yang kau lakukan disini?" ujarnya dingin.

"Err.. well, tadi aku dan Souji sedang iseng jalan-jalan di hutan karena tidak bisa tidur, lalu kami melihatmu dan Amagi-san—"

"Yukiko?! Kau melihatnya?!" Chie tergerak saat mendengar nama Yukiko disebut. Sementara Yosuke menghela nafas, sedikit kesal karena ucapannya dipotong, lalu kembali melanjutkan.

"Yah, aku dan Souji melihat kalian dari jauh. Lalu kami melihat Amagi-san terperosok jatuh ke bagian bawah hutan, dan kau terus saja berjalan tanpa menyadarinya. Jadi Souji pergi ke bawah untuk menolong Amagi-san, dan aku ke atas untuk— ehm, memastikan bahwa kau baik-baik saja." jelas Yosuke.

Chie menghela nafas lega. Begitu leganya sampai tidak menyadari fakta bahwa Souji dan Yukiko sedang berduaan di hutan sana. Hanya berdua. Yang ada dalam kepalanya hanya pikiran bahwa Yukiko selamat, dan dia aman bersama Souji, tentunya.


Sementara itu, Souji sedang menjelaskan pada Yukiko tentang bagaimana-dia-bisa-ada-disini-dan-apa-yang-dia-lakukan sebelum gadis itu sempat bertanya. Tangannya terlihat memeriksa kaki Yukiko yang tampak membengkak.

"Kau terkilir." vonisnya sambil tetap menyinari kaki putih gadis tersebut dengan senter yang dibawanya.

"Sepertinya begitu.." sahut Yukiko sambil meringis saat tangan Souji beberapa kali menyentuh kakinya yang terasa sangat nyut-nyutan.

Souji, tanpa banyak bicara, segera mengambil handuk kecil dari kantongnya (sebetulnya Yukiko sempat bingung kenapa handuk itu bisa muat di kantong seragam olahraga Yasogami yang tidak begitu besar, tapi ia memutuskan untuk tidak menyinggungnya) –dan merobeknya dengan gigi, menjadi uluran kain yang cukup panjang, lalu membalutnya seperti perban di sekitar pergelangan kaki Yukiko yang terkilir.

"Pertolongan pertama, pengganti perban." kata Souji,lagi-lagi sebelum Yukiko sempat bertanya. "Aku belajar dari ayahku. Ini akan membuatmu merasa lebih baik." jelasnya sambil tersenyum.

Pipi Yukiko merona. Pertama, karena Souji terlihat sangat keren dan bisa diandalkan. Kedua, karena Souji memegang kaki (hampir ke bagian paha) –nya. Entah kenapa itu membuatnya malu, sekaligus senang.

Setelah selesai membalut dan mengikat handuk kecil itu di bagian kaki Yukiko yang terkilir, Souji segera berdiri dan mengulurkan tangannya pada Yukiko yang masih terduduk.

"Ayo kita ke tempat Yosuke dan Satonaka. Sebentar lagi pagi dan kita harus kembali ke tenda masing-masing." katanya.

Yukiko mengangguk (sambil tetap berusaha menyembunyikan rona merah di pipinya) dan berdiri dengan menggunakan tangan Souji sebagai tumpuan. Lalu dengan disangga Souji, mereka berjalan perlahan menuju bagian atas bukit.


"Baiklah! Ayo kita susul mereka! Mereka ada di bawah kan?" seru Chie bersemangat sambil melangkahkan kakinya untuk turun bukit.

"Eh? T-tunggu! Kita kan sudah sampai atas, kenapa kita tidak langsung naik saja ke puncak bukit? Kau juga kesini karena ingin pergi sampai ke puncak, kan?" cegat Yosuke.

Chie mengernyitkan dahi, "Kenapa juga aku harus menuruti ajakanmu? Aku ingin cepat bertemu Yukiko karena aku khawatir! Jadi aku tidak pedulu dengan puncak atau apalah. Toh aku kesini juga Cuma karena iseng."

Yosuke terlihat gelisah. "Oh, ayolah! Sebentar lagi pagi! Malam ini kan—err.. Aaargh! Pokoknya sini, ikut saja!" Yosuke menarik tangan Chie dan mulai berlari kembali menuju puncak bukit.

"Agh! Hei, lepaskan tanganku! Kau mau apa sih?! Aku mau turun, bodoh!" protes Chie. Namun, Yosuke sepertinya tidak mendengarkan. Ia terlihat sangat terburu-buru. Chie ingin meronta, namun biarpun Yosuke tidak terlalu jago olahraga, dan Chie sangat jago kungfu, tetap saja Yosuke adalah laki-laki, dan dia perempuan. Faktanya, tenaga Yosuke memang lebih kuat daripadanya. Jadi, dia hanya mengikuti pasrah, bahkan saat Yosuke mempercepat larinya.

Kenapa dia terburu-buru sekali?

Dan sampailah mereka, di puncak bukit yang begitu lapang. Tanahnya ditumbuhi rerumputan dan ilalang yang cukup tinggi. Yosuke tidak berhenti sampai situ. Ia tetap menarik Chie sampai ke ujung bukit, di atas tebing yang sangat tinggi.

Chie sempat takut karena ketinggian itu, dan Ia masih mengeluarkan kata-kata protes untuk sang pelaku yang telah membawanya ke tempat mengerikan itu. Namun, hei, saat ia melihat ke bawah, ketakutannya berubah jadi kekaguman.

Di bawah tebing itu, terlihat hutan yang hanya terlihat seperti hamparan semak berwarna hijau. Bahkan perkemahan mereka terlihat sangat kecil. Tak jauh dari hutan, kota-kota yang diterangi oleh cahaya lampu terlihat sangat kecil dan indah.

Chie terpana melihat pemandangan itu. Sesaat ia teringat pengalamannya saat naik bianglala di taman hiburan bersama keluarganya. Saat itu, dia juga sangat mengagumi kota Yasoinaba dan sekitarnya yang terlihat sangat kecil dan indah dengan cahaya lampunya.

Namun, kali ini pemandangan itu terlihat lebih indah.

Tebing ini lebih tinggi daripada bianglala yang ada di Taman hiburan kecil itu. Ia mulai mencoba menerka dimana Yasoinaba. Lalu rumahnya, dan sekolahnya, seperti yang Ia lakukan saat masih kecil.

"Satonaka" panggilan Yosuke membuyarkannya dari alam pikiran. "Lihat ke atas."

Chie tidak banyak protes kali ini. Ia segera menengadahkan wajahnya ke atas, dan pemandangan yang Ia lihat menambah kekagumannya.

Di langit malam yang gelap, bintang-bintang yang bercahaya terang, bertebaran dengan indahnya. Rasi bintang terlihat dengan sangat jelas, tanpa dihalangi awan gelap atau semacamnya. (Ia biasa mengalami itu di Inaba)

Lalu, di antara bintang yang terlihat begitu kecil, sebuah bulan dengan bentuk bulat sempurna, bercahaya redup, namun tetap terlihat mengagumkan.

Oh iya, pikir Chie, Malam ini bulan purnama.

Chie kemudian memandang lelaki di sebelahnya dengan wajah jadi-ini-alasannya-kenapa-kau-begitu-terburu-buru. Yosuke menjawabnya dengan nyengir kuda.

"Bagaimana? Bagus kan? Terakhir kali aku kesini dengan keluargaku, aku juga sangat menyukai pemandangan ini. Sayangnya waktu itu bulannya belum bulat sepenuhnya. Jadi begitu aku tahu malam ini bulan purnama, aku ingin melihatnya—dan kalau bisa tidak sendirian." Jelasnya sambil melirik Chie.

"O-ooh.." gumam gadis itu. Tiba-tiba wajahnya berubah merah.

"Err…. tapi, Hanamura?"

"Ya?"

"..Sampai kapan kau mau memegang tanganku?"

"Hah?"

Wajah Yosuke seketika berubah semerah tomat saat menyadari sejak tadi Ia masih menggenggam tangan Chie. Dengan panik, Ia segera menarik tangannya dan menyembunyikannya di saku.

"M-maaf! Aku.. tidak sadar." Yosuke merasa wajahnya semakin memanas. Chie terkikik pelan.

"Tidak apa-apa deh. Habis, kau sudah menunjukkan pemandangan sekeren ini." Kata Chie. "Terima kasih ya, Hanamura!" bersamaan dengan itu, angin sepoi-sepoi menerpa wajah mereka, membuat rambut coklat gadis itu berkibar ke belakang, walaupun aslinya rambutnya tidak begitu panjang.

Yosuke salah tingkah. Dia tidak tahu harus mengatakan apa. Dalam pandangannya, Chie terlihat sangat.. manis, saat ini. Seandainya dia bisa, dia akan mendekap gadis itu dalam pelukannya sekarang juga.

"E-ehm." Suaranya memecah keheningan di antara mereka selama beberapa saat.

"Sebenarnya aku berencana ingin melihat ini bersama Souji, tapi karena sekarang kau yang ada disini.. well, anggap saja ini sebagai permintaan maafku untuk tadi siang ya. A-aku.. menyesal. Aku tidak bermaksud untuk menyakiti hatimu atau semacamnya. Err.. jadi, maafkan aku." akhirnya dia mengatakannya.

Chie sedikit terkejut saat seorang Yosuke Hanamura meminta maaf padanya. Namun, sesaat kemudian ia tersenyum, lalu tertawa kecil.

"Kuterima deh permintaan maafmu!" katanya. "Tapi, lain kali kau harus coba masakanku lagi, oke? Saat itu— kujamin rasanya akan lebih enak dari restoran manapun di Inaba! Dan akan kubuat kau tidak bisa mengejekku lagi!"

Yosuke sempat bengong mendengarnya, namun sesaat kemudian Ia (memberanikan diri) mengacak-acak pelan rambut coklat gadis tersebut. "Kalau begitu, akan kutunggu sampai saat itu tiba! Walaupun aku yakin akan memakan waktu bertahun-tahun.." , lalu Ia tertawa, memamerkan gigi-giginya, sekaligus mencoba menyembunyikan rona merah di wajahnya.

Chie memukul pelan tangan cowok tersebut sebelum ikut tertawa, sambil tetap menyaksikan panorama indah alam di sekitarnya. Saat itu, pandangannya terhadap Yosuke Hanamura mungkin sudah berubah.. sedikit.

Sementara dari jauh, dua pasang mata mengawasi mereka sambil tertawa pelan.

"Sepertinya mereka sudah kembali seperti semula, Amagi-san."

"Benar, Seta-kun."

"Sebaiknya kita turun duluan, jangan ganggu waktu mereka berdua."

"Uh-huh."

—Dan kedua sosok itu menjauh, menuruni bukit, meninggalkan pasangan stupid loverbirds yang (tampaknya) sudah berbaikan itu menikmati waktunya berdua.

Dan saat itu pula, salah satu dari mereka, untuk pertama kalinya benar-benar melupakan janjinya dengan sahabat terpentingnya.

::TBC::


(A/N)

HULAAAAAA~ AiNeko is baaaack from her hiatus! XD (ga ngomong2 kalo hiatus *plak*) dan akhirnya UAN, UAS, dan whateverelse sialan itu berhasil kuselesaikaaaaan WOOHOOOO!!! XDD *lari keliling rumah* (lebay)

Ehm, yak, pokoknya untuk memperingati berakhirnya ujian2 menyebalkan itu, inilah dia! Chapter 9~ *liat ke atas* WTF 12 HALAMAN. *sweatdrop* saya keterusan bikin ampe sebanyak ini, gomennasai~ *bungkuk* tapi semoga saja hasilnya bagus, saya sudah menambahkan beberapa adegan romantis sesuai janji semoga hasilnya memuaskan! XD

Sekali lagi, maaf karena update yang sangat lama. ;;A;; kemaren2 itu karena UAN brengsek dan urusan SMA yang super ribet, internet saya dicabut dan hanya bisa ol lewat hape ==;;, dan setelah lama ga buka fandom MegaTen Indonesia, sepertinya jumlah author yang dulu saya kenal jadi banyak yang hiatus? ;;___;; ditambah dengan kehancuran PLI (Persona Lover Indonesia) *well, udah di rebuilt ulang sih, tapi tetep aja, sobb..* rasanya "tempat" saya di dunia internet jadi makin berkurang.. *mojok*

Ehm, yak.. cukup dengan curhat. =w=;;

As I said in the summary, finally, saya mengedit fic ini dari awal sampai akhir :p tanya kenapa? Karena setelah baca-baca lagi, ternyata dulu gaya bahasa saya ancur sekali, ga merhatiin EYD, capital, dll, astaga saya benar-benar author gabakat.. *mojok*

Jadi, kalo ada orang yang dengan rajinnya membaca dari awal lagi, mungkin akan tahu apa bedanya XD ada beberapa adegan yang sedikit kuganti juga, tapi ga mempengaruhi jalan cerita utama kok :3 *siapayangnanyasih*


Ehm, yak, pokoknya itu.Review akan sangat dihargai!

Jadi.. pretty pwease? 0w0

*sok imut, dilempar*


PS: btw, saya mengaplot fic ini pukul 11.34, tanggal 6 Juni, sambil menunggu hasil nilai UN yang akan dipublikasikan tepat pukul 12.00 DX degdegkaaaaan aaaaaaaaaaaa minna, doakan saya lulus dengan nem yang bagus dan masuk sma yang saya inginkan yaaaaaaaaaa ;;w;; *dlempar*

Regards,

AiNeko aka Anna XD