Annyeong! Apa kabar semua?! Mian, ternyata ff ini lebih panjang dari yang aku duga..hehe. jadi akhirnya bahkan ampe chapter 9 ceritanya belum kelar juga.
Gomawo buat readers yang udah ngereview ff ini. Jangan segan2 untuk mengkritik n ngasi saran-asal jangan memaki aj..hehe selamat membaca! . ^_^/
Sungmin pov:
Aku benar2 bingung. Apa aku harus ikut wonnie oppa ke jepang? Aku sebenarnya benar2 muak dengan suasana di sekitarku sekarang, berada di korea sungguh teramat menyakitkan, semua yang ada di sini mengingatkanku pada kyu. Bagaimana tidak, sejak aku berada di tahun keduaku di senior high school, tepatnya 10-hampir 11 tahun yang lalu, hidupku aku habiskan untuk mencintai seorang cho kyuhyun. Aku sudah mencoba melupakannya berkali2-mencoba berganti2 pacar-semuanya demi mencari seorang namja yang bisa membuka pintu hatiku yang telah dikunci rapat oleh cho kyuhyun itu.
Apa ini adalah jawaban dari Tuhan-yang ingin menjauhkan aku dan bayi di dalam kandunganku dari namja bermarga cho itu? Apa semuanya akan lebih baik jika aku memulai dari awal bersama bayi yang akan aku lahirkan nanti-di jepang?
Aku menghela nafas. "aku... apa tidak apa2 kalau aku ikut wonnie oppa ke korea?" aku menatap ommaku tepat di bintik matanya. Aku perlu kekuatan darinya sekarang.
"omma akan meminta appa-mu untuk menghubungi donghae-jussi. Dan omma tentu saja akan menghubungi hyukjae-jumma." Omma beranjak dari kursinya menuju ruang keluarga yang bersebelahan dengan ruang makan-mengambil telpon dan mencoba menghubungi seseorang.
Wonnie oppa meremas jari2ku pelan, menatapku dengan lekat. Kehangatan mengalir dari jari2nya yang menggenggam jari2ku dan entah kenapa membuatku merasa tenang.
"ne yeobo...mian kalau aku belum bisa menceritakan masalah ini padamu. Segeralah pulang. Ne... sebelum uri baby berangkat ke jepang. Ne... jangan lupa untuk menghubungi donghae. Ini memang berat. Kau tidak akan menyangka. Kurasa minnie akan lama di sana. Iya, justru karena aku khawatir padanya dan bayinya makanya dia harus ke sana. Sudah jangan terlalu banyak tanya. Hubungi donghae dan cepatlah pulang, kau seharusnya ada di sini sekarang. Aish, aku sibuk mengurus minnie makanya lupa memberitahumu-aku bahkan lupa aku punya suami! Anni! Sebaiknya kau pulang, sebelum aku yang menyeretmu dari sana. Lusa? Bagus! Lebih cepat lebih baik. Jangan lupa hubungi donghae. Ne.. saranghae..." pendengaranku masih bisa menangkap sayup2 pembicaraan omma di telpon. Aku rasa dia sedang bicara dengan appa yang sudah dua bulan ini berada Amerika-tepatnya washington DC-mengurus pekerjaannya di sana.
Omma berjalan ke arahku dengan senyum yang mengembang.
"jadi appa tidak tau masalahku?" omma duduk di sampingku dan menggeleng.
"kau tau kan kalau dia sangat menyayangimu? Kalau dia tau keadaanmu, dia akan menyewa sebuah pesawat super jet untuk terbang ke korea-menemuimu. Di DC appamu sedang menghadapi masalah yang sangat besar-hubungan korea dan amerika sedang buruk sejak kejadian pemboman yang dilakukan oleh seorang mahasiswa yang diketahui berkewarganegaraan korea. Omma tidak mau appa-mu dianggap tidak menjalankan tugas kenegaraan dengan baik. Omma harap kau mengerti." Aku hanya mengangguk menanggapi kata2 omma. Omma benar, appa pasti akan sangat khawatir kalau tau bagaimana keadaanku kemarin-sebelum bertemu wonnie oppa.
"apa tidak apa2 omma menyuruh appa pulang sekarang? Bagaimana kalau pekerjaan appa jadi berantakan?" aku khawatir pekerjaan appa sebagai duta besar korea di amerika akan terganggu jika dia pulang ke korea sekarang-mengingat omma baru saja memaksa appa untuk pulang.
Wonnie oppa hanya diam menyimak pembicaraan kami sambil meremas2 jemariku yang ada dalam genggaman tangannya.
"anni...kau tenang saja. Masalahnya sudah selesai. Dua negara sudah meneken kontrak kerjasama antar negara yang baru kemarin-sekretarisnya sendiri yang melapor kan hal itu pada omma." Euhm, dasar lee jung soo, semuanya selalu dalam perhitunganmu, eoh? Aku tidak bisa membayangkan menjadi appa yang semua kegiatannya selalu dipantau secara langsung dan mendetail oleh orang sepeti lee jung soo-ommaku-sungguh sangat mengerikan.
.
.
.
incheon airport
Sungmin pov:
Jadi di sinilah kami sekarang, incheon airport. Appa sudah kembali dari Amerika beberapa hari yang lalu. Omma juga sudah menceritakan semua yang terjadi padaku pada appa-yang tentu saja membuat appa marah luar biasa dan langsung menghubungi seorang cho hangeng untuk minta penjelasan darinya secara langsung. Aku tidak tau apa yang terjadi setelah itu, yang jelas appa sedikit mendukung keluarga cho dan memintaku untuk mendengarkan penjelasan dari mulut kyu. Omma yang mendengar hal itu langsung menghakimi appa dan memaksa appa untuk bersumpah tidak memberitahukan pada keluarga cho tentang aku yang akan meninggalkan korea. Aku tau appa sedikit tidak rela melakukannya, tapi kalau seorang lee jung soo sudah menginginkan sesuatu-dia akan memastikan untuk mendapatkannya.
Selama seminggu ini aku sudah mengumpulkan segenap keberanian yang aku miliki untuk membulatkan tekadku berangkat ke jepang. Dan aku sudah mantap sekarang. Setidaknya aku tidak akan menangis.
Appa memandangku iba. Aku tau dia tidak rela melepas keberangkatanku-apalagi bersama seorang namja yang jelas2 bukan suamiku. Aku memeluk appa erat dan mengecup pipinya. Tak lupa aku menyematkan senyum termanis yang aku miliki di bibirku setelah melepas pelukanku di tubuhnya yang masih terlihat tegap itu.
"yak! Lee kangin! Jangan memasang ekspresi menyedihkan seperti itu! kau bisa membuat uri baby dan bayinya sedih." Omma memukul kepala appa-mudah2an tidak keras.
Appa menghela nafas dan mengelus kepalanya yang baru saja dipukul oleh omma. "mian yeobo..." hanya itu yang keluar dari bibirnya yang agak dipoutkan karena kesal.
"omma...jangan menyiksa appa terus...kalau begini aku tidak tega meninggalkan appa berdua dengan omma di korea." Aku menggantikan tangan yang mengelus kepalanya tadi dengan tanganku. "appo?" appa hanya melirik omma jahil dan menjulurkan lidahnya yang membuatku tertawa.
"siwon ssi.." tatapan appa berubah serius. "jujur saja, aku sebenarnya tidak rela melepaskan kepergian putriku bersama denganmu." Omma menyikut pinggang appa yang membuat appa sedikit meringis. "aku mohon bantuanmu untuk menjaga putriku."
"appa..." aku shock melihat appa yang membungkukkan tubuhnya ke arah wonnie oppa.
"mr. Lee. Anda tidak perlu melakukan itu." wonnie oppa membantu appa menegakkan tubuhnya kembali.
"yeobo ya... kenapa harus seperti itu. aku jadi terharu tau..." omma menghapus setetes air mata yang jatuh ke pipinya dan merangkul lengan appa.
Appa tersenyum melihat tingkah omma. Dan mengelus pipi omma dengan lembut. Merangkul omma dengan satu lengannya. Aku sedikit iri melihat mereka, di lubuk hatiku yang terdalam, aku sangat memimpikan kehidupan rumah tangga seperti yang mereka miliki-selalu mesra-bahkan sampai saat mereka akan memiliki cucu.
"hongki akan menjemputmu di bandara, arra? Kau masih ingat dengan wajah hongki kan? Jangan sampai kau diculik!" aku menggeleng dan tersenyum mendengar kata2 appa. Tentu saja aku masih ingat wajah lee hongki sepupuku, walau kami jarang bertemu, kami masih sering berhubungan lewat twitter dan facebook.
"mr. lee, sebenarnya aku bisa mengantar minnie ke rumah adik anda-jika anda tidak keberatan." Ada tatapan tidak rela darinya-yang harus berpisah denganku.
Aku mengangguk pelan. Aku juga sebenarnya tidak keberatan.
"anniya... aku dan keluargaku sudah banyak merepotkanmu siwon ssi..." appa adalah seseorang yang tidak suka berhutang budi.
"tapi mr. Lee, dengan begitu saya bisa mengetahui tempat tinggal minnie secara langsung. Saya... saya ingin menjaganya selama minnie berada di sana. Sedikit banyak, minnie adalah tanggung jawab saya-saya yang membawanya ke sana." Wonnie oppa masih menggunakan bahasa sopan saat bicara dengan orangtuaku-dia berusaha keras untuk menjaga semua kepercayaan yang telah diberikan oleh orangtuaku.
Appa menatap wonnie oppa langsung ke matanya, mencari apakah ada kebohongan di sana- aku mengikuti arah pandangan appa dan aku yakin hasil kami sama-wonnie oppa benar2 tulus.
"appa, aku rasa tidak ada salahnya, toh aku tetap akan tinggal di rumah donghae jussi.." aku mengapit lengan apa sambil mengayunkan tangan itu ke atas dan ke bawah-bermanja2 pada appa. Appa hanya geleng kepala dan mempoutkan bibirnya seperti anak kecil menanggapi sifat kekanak2kanku yang entah kenapa muncul saat ini.
"baiklah...appa akan menghubungi hongki dan memberitahunya agar dia tidak perlu menjemputmu." Appa menyerah. Hehe. "siwon ssi... aku percaya padamu. Aku mohon padamu untuk menjaga putriku satu2nya ini. Dan aku mohon jangan mengecewakannya." Aku tercengang mendengar kata2 appa. Aku merasa berada di hari pernikahanku dan appa sedang mengerahkan tanganku yang tadi dipegangnya kepada mempelai pria.
"yeobo, kau pikir anak kita akan menikah?!" omma ternyata satu pikiran denganku. "sudah sana, sebaiknya kalian cepat berangkat sebelum pesawatnya take off dan meninggalkan kalian. Omma sedikit mendorongku dan wonnie oppa ke arah pintu keberangkatan VIP di depan kami.
Aku sedikit geli melihatnya. Bagaimana mungkin pesawat itu bisa take off tanpa kami? Pesawat itu kan milik keluarga choi, tentu saja si pesawat-maksudku pilotnya- akan dengan rela membatalkan penerbangan atas permintaan namja di sebelahku ini-choi siwon.
Wonnie oppa tersenyum maklum menanggapi ulah omma. Dia lalu membungkuk ke arah orangtuaku-membawa tanganku ke dalam genggamannya-menuntunku menuju pesawat miliknya.
'wonie oppa... jeongmal gomawo ne... mianhae karena aku belum bisa memberikan hatiku padamu... kau adalah 'kakak' yang baik...' hanya itu yang bisa aku ucapkan padanya-dalam hati.
.
.
.
kediaman keluarga cho
Kyuhyun pov:
Sudah tiga bulan sejak kejadian itu dan aku masih belum bisa memaafkan diriku sendiri. Apalagi, akhir2 ini kesehatan omma memburuk, meski tidak mengalami serangan jantung tapi kondisi tubuhnya lemah-yang disebabkan stres dan kurang istirahat. Aku seringkali mendapati omma tidak mau menyentuh makanannya dan terkadang dia bahkan melamun dan menangis. Tapi itu belum sepenuhnya, yang lebih parahnya lagi dia memasang aksi mendiamkanku dan menganggapku seolah tidak ada.
Aku memutuskan kembali ke rumah ini, bukan karena aku ingin mendampingi ommaku yang sedang lemah-tapi itu memang membuatku khawatir. Hanya saja rumah itu-rumahku dan sungmin terasa kosong dan hampa tanpa keberadaan sungmin di sana. Berada di rumah itu mengingatkanku akan kenangan buruk yang telah mengacaukan hubungan kami.
Kalian mungkin membenciku. Aku bahkan benci dengan diriku sendiri. Aku sangat menyayangi sungmin. Tapi sayang berbeda dengan cinta. Sayang adalah rasa di mana kau tidak ingin melihat orang yang kau sayangi terluka, kau akan selalu berusaha melindunginya, tapi bukan berarti kau ingin menjadi orang yang selalu membuatnya bahagia-bukan berarti kau mendampinginya sepanjang hidupnya-kau akan rela membiarkan dia bersama orang lain asalkan dia bahagia. Sementara cinta lebih posesif. Ada rasa ingin memiliki di sana. Kau akan cemburu melihat orang yang kau cintai dalam pelukan orang lain-cemburu dia membagi perhatiannya pada orang lain. Kau akan rela melakukan apapun untuk orang itu asal dia bisa memandang ke arahmu-memperhatikanmu. Bahkan hal bodoh dan gila sekalipun akan kau lakukan jika itu demi cinta. Itu menurutku tentu saja. Kalian boleh beranggapan lain. Aku tidak peduli! Aku sendiri bahkan sudah menyalahi aturanku itu. aku bilang aku menyayangi sungmin-ya-dengan sepenuh hatiku-tapi aku menyakitinya, membuatnya menangis. Aku merasa mencintai seohyun, tapi aku sekarang berusaha melepas pelukannya-menjauh darinya-meninggalkannya. Apa yang sebenarnya terjadi padaku? Arrrgh. Aku menjambak rambutku dan menghempaskan tubuhku ke ranjang. Sampai sekarang aku tidak tau jawabannya.
.
.
Aku menghempaskan tubuhku yang pegal ke atas ranjang. Bahkan tanpa mengganti pakaian yang sudah kupakai sejak tadi pagi. Kulonggarkan dasiku lalu menerawang menatap langit2.
'aegya...bagaimana kabarmu eoh? Appa merindukanmu... jeongmal bogoshipo...'
Tes. Air mata jatuh ke pipiku. Aku sangat merindukan bayiku. Bayi yang kuharap masih dalam keadaan baik dan sehat dalam kandungan sungmin-semoga begitu Tuhan!. Ini sudah bulan kelima kandungan sungmin dan jujur aku khawatir, aku yakin bila dia membesarkan bayi kami, perutnya pasti sudah buncit sekarang. Aku ingin sekali berada di sampingnya sekarang-berada di samping bayi kami.
'mianhae minnie...aegya...' aku memejamkan mataku dan tertidur.
.
.
.
Cho Heechul pov:
Sebenarnya aku tidak tahan dengan sikapku sendiri. Aku juga tersiksa harus mendiamkan kyu selama ini. Bagaimanapun kyu-sebesar apapun kesalahan yang telah dia buat-dia tetaplah anakku, bayi mungil kesayanganku-dan kebahagiaannya adalah kekuatan bagiku. Tapi kali ini saja aku ingin memberi permata hatiku itu pelajaran, pelajaran yang akan dia ingat sepanjang hidupnya, mengingat karena kesalahannya itu aku kehilangan jejak keberadaan cucuku sendiri.
.flashback on.
" teukie, bagaimana keadaan minnie hari ini eoh? Apa kandungannya baik2 saja?" aku langsung menodong teukie sahabatku itu dengan berbagai pertanyaan ketika aku berhasil bertatap muka dengannya. "jangan bilang kau masih menghalangiku untuk bertemu dengannya..." aku memasang wajah sedih dan menghempaskan pantatku di sofa yang sama dengan teukie. "aku sangat khawatir... kau boleh melarang kyu, tapi aku mohon izinkan aku..." aku meraih lengannya mencoba meluluhkan hatinya.
Aku tau pasti watak teukie yang sangat keras kepala, karena aku juga punya watak yang sama dengannya. Tapi di umur kami yang sudah hampir setengah abad-apalagi mengingat persahabatan kami yang sudah berlangsung selama puluhan tahun, rasanya inilah saat yang tepat bagiku untuk bersikap tenang dan lebih dewasa menanggapi masalah antara kedua anak kami-yang tentu saja melibatkan keluarga besar kami.
"mian chullie, kau tidak bisa bertemu dengan putriku lagi." Ekspresinya dingin.
"waeyo? Minnie tidak apa2 kan?" teukie hanya menggeleng menanggapi pertanyaanku yang membuat aku semakin bingung. "lalu ada apa? Kemarin kau bilang minnie tidak bisa diganggu, sekarang kau bahkan dengan terang2an melarangku menemui putrimu!" intonasiku meninggi sejalan dengan emosiku yang mulai memuncak.
"aku sudah mengirim minnie ke tempat yang jauh...dan aku harap kalian tidak pernah menemukannya..." glek. Aku menelan salivaku dengan susah payah. Tenggorokanku tercekat mendengar kata2 teukie barusan.
"apa maksudmu...?" aku membulatkan kedua bola mataku.
"kau dengar sendiri kan... dan igo... tolong serahkan pada kyu, minnie juga sudah menandatanganinya." Aku meraih amplop coklat yang diulurkan teukie dan langsung membukanya.
"MWO?!"
.flashback end.
Minnie pergi. Dan aku tidak tau dia ke mana. Aku sudah mengerahkan seluruh tenagaku untuk menemukannya. Aku bahkan meminta bantuan yunho-adik suamiku-yang merupakan mafia paling disegani se korea-untuk mencari keberadaan sungmin. Tapi nihil. Aku belum bisa menemukan jejak apapun. Yunho bahkan memberikan informasi kalau nama sungmin tidak tercantum pada penerbangan atau bahkan keberangkatan kereta apapun waktu itu. jadi kemungkinan besar sungmin masih ada di korea kan, tapi di mana? sungguh rapi sekali lee jung soo, aku harus memberimu jempol atas keberhasilanmu menyembunyikan sungmin. Tapi aku, cho heechul, dan seorang cho tidak pernah mengenal kata menyerah.
.
.
.
Tokyo, kediaman keluarga lee
Sungmin pov:
Aku mengelus perutku yang sudah buncit itu dengan lembut sampai sebuah suara yang luar biasa merdu membuatku menoleh dan tersenyum.
"noona... ogenki desuka?" aku mencubit pipi hongki yang sudah memelukku dengan manja. "aitakatta..." katanya lagi sambil mengusap2 pipinya yang baru saja kucubit.
"nan gwenchana hong-chan.. nado bogoshippo." Aku yang terbiasa menggunakan bahasa korea menjawab pertanyaan hongki yang menggunakan bahasa jepang dengan bahasa korea. Eits. Bukan berarti aku tidak bisa berbahasa jepang. Aku bisa. Fasih malah.
"hehe." Hongki terkekeh mendengar jawabanku. "noona, omma tadi menyuruhku untuk mengingatkanmu konsultasi ke dokter kandungan." Wajah hongki berubah serius. "seharusnya noona pergi konsultasi seminggu yang lalu."dia membuang nafas pelan.
Aku mengatur mimikku dan memaksakan sebuah senyum padanya. "ne.. aku tidak lupa. Kau jangan terlalu khawatir. Aku baik2 saja-aku hanya belum sempat ke sana." Jawabanku memang sangat ganjil mengingat aku tidak melakukan apapun selama di jepang selain membantu hyukjae-jumma memasak dan merangkai bunga.
"apa kau mau aku atau omma menemanimu? Atau aku harus menelpon siwon hyung untuk mengantarmu ke sana? Selama ini dia yang selalu menemanimu ke dokter kan?"
Wonnie oppa? Aku sedang malas mendengar namanya sekarang. Kami sedang bertengkar. Anni-tepatnya aku yang sedang marah padanya. kalian ingin tau kenapa? Ini semua berawal dari satu minggu yang lalu-tepat saat di mana aku seharusnya berkonsultasi dengan dokter kandungan tempat biasa kami pergi.
.flashback.
"minnie chagi...bagaimana keadaanmu eoh? Bayimu? Apa dia baik2 saja?" aku hanya mengangguk. Kami sedang berada di sebuah restoran klasik ala jepang sekarang. Dia berniat mengantarku ke dokter setelah kami makan siang. "jadi apa kau sudah memikirkannya?" deg.
Padahal aku sudah berniat melupakannya. Yup, tepat seminggu yang lalu wonnie oppa melamarku. Dia mengatakan kalau dia ingin menikahiku-bahkan dia menggunakan alasan yang sangat tidak ingin aku dengar-dia tidak ingin melihat anak yang aku kandung lahir tanpa seorang ayah. Hey, anakku bukannya tidak mempunyai ayah, hanya saja ayahnya terlalu bodoh untuk menyadari keberadaan kami-itu saja.
"oppa..aku sudah bilang-aku tidak bisa..." aku mengatakannya dengan lembut agar tidak menyakiti hatinya.
"apa kau tidak bisa memberikanku kesempatan?" dia memandangku dengan tatapan memohon.
"oppa, kau tau sendiri, sampai saat ini kyu belum menandatangani surat cerai kami. Itu berarti kami belum resmi bercerai-mustahil bagiku untuk menikah denganmu. Lagipula, di hatiku-sampai saat ini-hanya ada kyu dan bagiku kau-oppa-kau adalah seorang kakak yang sangat aku sayangi-kakak tempat aku adikmu bersandar dan berlindung. Mianhae."
"tapi aku-"
"aku tau oppa. Mianhae. Aku mohon oppa mengerti. Aku yakin suatu saat nanti oppa akan menemukan yeoja yang jauh lebih baik dariku." Aku memotong pembicaraannya. Aku takut untuk mendengarkan kata2nya terlalu jauh-takut merasa berdosa kurasa.
"wae? WAEYO?!" siwon oppa mencengkeram pergelangan tanganku kuat yang membuatku meringis menahan sakit.
"oppa hentikan!" aku menyentak tanganku yang tertahan tadi sekuat tenaga yang membuat cengkeramannya terlepas. "aku rasa ada baiknya kita tidak bertemu untuk sementara waktu-menenangkan pikiran masing2." Aku berjalan cepat meninggalkannya. Sangat sulit, mengingat perutku yang sudah membuncit itu. hufh.
.flashback end.
"noona?" ah, aku lupa kalau aku sedang berbicara dengan hongki sekarang.
"kau mau mengantarku?" aku mengernyit2kan alis meminta persetujuannya.
Dia tertawa melihat wajahku yang tampak . "ne...tentu saja noona. Sekarang juga aku akan mengantarkan noona, jadi sebaiknya noona bersiap2, berdandanlah yang cantik oke? Aku ganti baju dulu." Dia langsung berjalan meninggalkanku.
"MWO?! Yak! Hong chan!" sekarang?!
.
.
.
tokyo, jalan menuju choi corporation
Siwon pov:
Sakit. Itulah yang aku rasakan sekarang. Seperti ada ribuan pisau yang menancap di jantungku. Aku menginjak pedal gas lebih dalam, mempercepat laju mobil audy putih kesayanganku itu. aku ingin melupakan semua sakit ini. Tuhan, apa sakit ini bisa hilang?
Aku memukul stir yang ada di depanku dan semakin menambah kecepatan mobilku tapi-
CKIIIITTTTT!
Aku menginjak rem sekuat tenaga ketika tiba2 saja seorang pejalan kaki melintas beberapa meter di depanku-berniat menyebrang. Untung saja rem mobilku berfungsi dengan berhenti tepat di depan orang-yang baru aku sadari seorang yeoja itu. tapi sayang bemperku tetap mendorong tubuhnya-membuat dia terjatuh.
Kubuka pintu mobilku dengan tergesa2-berniat mengecek keadaan yeoja yang baru saja aku tabrak itu.
Aku baru saja berniat membantunya berdiri ketika tanganku ditepis dengan kasar oleh yeoja itu. aku membulatkan mataku.
"kau ini tidak punya mata ya?!" dia langsung memakiku. "kau tidak lihat kalau lampunya sudah merah?!" dia menunjuk kasar ke arah lampu lalu lintas yang berada tidak jauh dari tempat kami berada sekarang.
"sumimasen." Aku meminta maaf dan membungkukkan tubuhku. Aku sadar aku memang salah.
"sudahlah!" dia berdiri dengan susah payah. Aku bisa melihat lutut dan sikunya yang berdarah karena membentur aspal. Darah yang merah sangat kontras di kulitnya yang seputih susu. "lain kali kau harus berhati2!" dia meraih tasnya yang tergeletak tidak jauh dari posisinya sekarang. Dia melangkah terseok2-pergi begitu saja meninggalkanku. Aneh!
.
.
.
seoul, kediaman keluarga cho
author pov:
kyuhyun keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang masih agak basah-hanya selembar handuk putih selutut yang membelit di pinggulnya. Ehem. *coba bayangin #. matanya tertuju ke arah amplop coklat yang telah diberikan ommanya sejak 3 bulan yang lalu. Sudah sekian lama, tapi dia tidak berniat sama sekali untuk menyentuhnya. Ada rasa bersalah-bahkan hanya dari menatap amplop itu dari luar. Dia tahu apa itu. itu adalah surat permohonan bercerai dari sungmin. Dan itu tentu saja membuatnya semakin tidak kuasa untuk membuka amplop itu. demi Tuhan, dia tidak berniat sama sekali untuk menceraikan sungmin, apalagi saat sungmin sedang mengandung anaknya.
Kenangan itu kembali berputar di kepalanya. Bagaimana sungmin dan ommanya mendapati dia dan seohyun yang sedang berciuman.
PRAAANG!
Kyuhyun melempar vas bunga kaca yang berada di pojok ruangan kamarnya. Beberapa tangkai bunga mawar kuning terlihat berserakan di lantai bersama dengan serpihan kaca dan air yang berasal dari vas yang telah dibanting oleh kyuhyun ke lantai itu.
Kalian pasti bertanya2 kenapa kyuhyun melakukan itu? seperti yang kalian tau, kyuhyun bukanlah namja yang tidak bisa mengontrol emosinya. Dia bahkan terbilang expert dalam hal itu, hanya saja dia merasa mawar2 itu sedang mengoloknya. What? Yup! Dia merasa bunga mawar kuning itu melambangkan dirinya. Mawar kuning yang berarti ketidaksetiaan-cemburu-bahkan patah hati sungguh terasa sangat cocok dengan apa yang terjadi pada kehidupannya. Dia yang tidak setia yang bahkan telah membuat sungmin cemburu dan terluka sekarang malah merasa hampa setelah ditinggalkan oleh sungmin-patah hati. Dan itu membuat kyuhyun muak melihat bunga itu. dia bahkan bertanya2 siapa yang dengan bodohnya menaruh bunga mawar kuning di kamarnya.
.
.
Cho heechul yang kebetulan melintas di depan kamar kyuhyun menghentikan langkahnya ketika mendengar bunyi sesuatu yang pecah dari arah kamar kyuhyun. Dia membuka pintu kamar kyuhyun tanpa permisi dan mendapati kyuhyun yang sedang duduk di tepi ranjang sedang meratapi sebuah vas bunga yang sudah menjadi serpihan2 di lantai dengan wajah dingin? Sementara serpihan kaca dan bunga mawar bertaburan di lantai.
"Yak! Cho kyuhyun! Apa yang sedang terjadi?!" suara heechul yang melengking berhasil membawa kyuhyun kembali ke dunia nyata.
"omma?" kyuhyun menatap heechul dengan bingung sementara heechul memutar bola matanya dengan tidak sabar-meminta penjelasan dari anak semata wayangnya itu. "aku..." kyuhyun sendiri agak shock melihat hasil dari apa yang telah dia perbuat barusan. Wajahnya memucat. Dia tidak menyangka bisa melakukan hal seperti itu.
Tes. Air mata jatuh dari pelupuk mata wanita separuh baya itu. dia duduk di samping kyuhyun dan membawa putranya itu ke dalam pelukannya. Memeluknya seerat mungkin. "mianhae...jangan seperti ini kyu...omma mohon..." kyuhyun yang sejak tadi diam mulai bereaksi-membalas pelukan ommanya.
"omma...aku sungguh menyesal..." kata2 lirih meluncur dari mulut kyuhyun. Baru kali ini dia bisa mengeluarkan kata2 yang sejak 'kejadian buruk' itu tersangkut di tenggorokannya. "omma...eottoke?eottokahjyo?" heechul memandang kyuhyun miris dan mengelus rambut anak satu2nya itu dengan lembut.
"kita akan menemukannya...ne...kita pasti menemukan mereka..." heechul bukan hanya ingin meyakinkan kyuhyun, tapi juga dirinya sendiri.
.
.
.
Tokyo, mirotic club
Author pov:
choi siwon melangkahkan kakinya memasuki sebuah club yang terbilang cukup mewah untuk ukuran sebuah club itu. dilihat dari penampakannya pastilah ini club yang ditujukan untuk para kalangan atas. Dia menghentikan langkahnya ketika melihat kursi kosong yang berada di depan meja bartender dan memilih untuk duduk di sana.
.
"aku sudah bilang kan kalau aku sedang menunggu kekasihku!" seorang yeoja yang berada tidak jauh dari tempat siwon duduk terlihat berusaha keras untuk menjauhkan diri dari seorang namja yang sejak tadi mengikutinya.
Siwon hanya melirik sekilas dan meminum wiski yang tadi dipesannya. Akhir2 ini memang adalah hari terberat dalam hidupnya. Sungmin mendiamkannya, dia menabrak seorang yeoja, dan puncaknya sebuah perusahaan besar baru saja membatalkan kontrak kerja dengan perusahaannya-yang membuat kupingnya harus panas mendengar ceramahan appanya dari telepon selama lebih dari satu jam.
"chagi...kau sudah di sini?" seorang yeoja berdiri di samping siwon sambil mengedipkan sebelah matanya dan menangkupkan kedua tangannya di depan dada-memohon, seorang namja mengekor di belakangnya-mengikutinya.
"mmmwo?" siwon sedikit tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi sekarang.
.
.
Siwon pov:
'apa yeoja ini sudah gila?' tunggu dulu, wajahnya terlihat tidak asing. Dia..
"kau?" aku menunjuk me arah wajahnya. Dia yeoja yang aku tabrak tadi pagi.
Aku tidak sempat melanjutkan kata2ku karena yeoja yang berada di sampingku itu sudah menutup mulutku dengan mulutnya, dengan kata lain dia menciumku. Aku membulatkan mataku masih dengan bibirku yang bersentuhan langsung dengan bibir lembutnya. Dia sedikit melumat bibirku sebelum melepaskannya.
"baby, mianhae... aku sudah bilang padanya kalau aku sudah punya pacar, tapi dia tidak percaya..."yeoja yang bahkan sampai sekarang belum aku ketahui namanya itu sudah mendudukkan dirinya di pangkuanku-memunggungiku. Dia bahkan membawa lenganku untuk memeluk pinggulnya.
Laki2 yang mengikutinya sejak tadi itu hanya mendengus kesal sebelum akhirnya meninggalkan kami.
"gomawo... kim kibum" dia turun dari pangkuanku dan mengulurkan tangannya. Aku hanya diam tanpa membalas uluran tangannya. "hei! Setidaknya kita satu sama kan? Kau berhutang padaku untuk tadi pagi dan sekarang kau membantuku. Kita impas." Ternyata dugaanku benar, dia yeoja yang aku tabrak tadi pagi.
Aku mengulurkan tanganku dengan agak ragu.
"jangan bilang kau marah karena aku merebut ciuman pertamamu!" kibum menunjuk mukaku dengan tatapan seorang polisi yang sedang menginterogasi tersangka.
"anniya! Tentu saja tidak!" aku mendengus kesal mengingat tuduhannya padaku. Aku memang belum pernah berciuman dengan minnie tapi sebelum mencintai minnie seperti ini aku juga pernah mempunyai kekasih dan melakukan 'this and that' dengan mantan kekasihku.
"siapa namamu?" yeoja ini agresif sekali.
"choi siwon." Aku hanya menjawab sekenanya.
"kau orang korea? Kebetulan sekali, aku juga orang korea-euhm-appaku orang korea-tapi itu artinya aku orang korea kan?hehe." dia menggaruk belakang kepalanya-salah tingkah.
.
Aku tidak menyangka bicara dengan yeoja yang sangat agresif ini bisa sangat menenangkan-tepatnya dia yang lebih banyak bicara sementara aku lebih memilih menjadi pendengar yang baik. Aku melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kananku. Pukul 2 pagi? Itu berarti kami-dia-sudah berbicara selama 3 jam penuh. Dan entah berapa botol whiski yang kami habiskan berdua. Benar2 gila, tapi ini sedikit membuatku merasa 'ringan'.
"jadi begitulah, banyak sekali pria yang mengincarku, aku harus menjaga diri dengan baik kalau aku tidak mau berakhir dengan diculik atau ." dia mempoutkan bibirnya yang membuat dia terlihat 'manis'. Mwo? Apa aku baru saja bilang manis. Aish. Tapi dia memang tidak jelek, sangat cantik malah. Tidak kalah cantik jika dibandingkan dengan minnie. Kulitnya putih seputih susu-sangat kontras jika dibandingkan dengan rambut sepinggangnya yang hitam legam sepekat langit malam tanpa bulan dan bintang. Hidungnya mancung. Bibirnya berwarna pink dan terlihat basah, yang tentu saja membuat setiap namja tergoda ingin mengecupnya. Paling tidak aku sudah merasakan manis bibir itu.
"oppa, aku rasa aku menyukaimu. Bagaimana kalau kita pacaran?" aku membelalakkan mataku mendengar pernyataannya.
Entah setan mana yang merasukinya. Dia mencium bibirku,dengan perlahan sambil mengelus lembut leherku. Aku berusaha mengangkat tubuhnya yang sudah duduk di pangkuanku-berhadapan-tapi dia berusaha keras untuk tetap memeluk leherku dan mejilati daerah belakang telingaku.
"ahhh,,,hentikaaaan..."akhirnya aku terangsang.
"anni...kita belum selesai, ini baru saja dimulai oppa..."
Dia kembali tersenyum seduktif. Dia mencium bibirku lagi. Aku masih diam saja dan menutup mata. Ciumannya lalu mulai turun ke leherku. Dia menjilat jakunku, menghisap2 leherku untuk meninggalkan tanda merah disana. Aku masih menutup mata walau sekali2 desahan2 kecil keluar dari bibirku.
Fuck! Ini semua sungguh menggoda. Aku menurunkan tubuhnya dengan paksa dan menyeretnya keluar dari club itu. membawanya ke hotel terdekat.
.
.
.
Tokyo, hospital
Sungmin pov:
Kehamilanku sudah memasuki bulan terakhir. Aku baru saja menyelesaikan konsultasi dengan dokter kandunganku dan mengatur tanggal operasi caesar yang akan aku lakukan. Yup, dokter bilang kondisiku terlalu lemah untuk melahirkan dengan normal-tapi untungnya bayiku dalam keadaan yang baik. Wonnie oppa menggenggam tanganku sambil menyusuri lorong rumah sakit. Kami sudah berbaikan dan entah kenapa wonnie oppa sedikit berbeda sejak kejadian itu. dia lebih dewasa dan tidak pernah mempertanyakan jawabanku tentang lamarannya lagi.
"oppa, apa kau sudah menemukan seseorang?" aku sedikit penasaran dengan tingkahnya yang berbeda itu, apa wonnie oppa sedang jatuh cinta?
Dia menghentikan langkahnya dan menatapku. "anni...waeyo?"
"oppa terlihat berbeda, lebih bahagia mungkin?" aku memandangnya dengan tatapan menyelidik.
Dia hanya menanggapi tuduhanku dengan senyum dan kembali menuntunku meninggalkan rumah sakit.
.
.
.
seoul, hospital
Kyuhyun pov:
Ini bulan terakhir kehamilan sungmin dan ini sungguh membuatku was2. Aku harap dia dan bayiku dalam keadaan baik2 saja. Aku memang tidak tau apa sungmin masih mengandung bayiku-atau dia sudah melahirkan bayiku secara prematur-atau mungkin bayi kami sudah berada di sisi Tuhan, tapi yang jelas perasaanku mengatakan kalau sebentar lagi aku akan menjadi seorang appa.
BRAK. Aku bisa mendengar pintu ruang kerjaku dibanting dengan kasar. Seohyun berdiri di depanku sambil melipat tangannya di bawah dada.
"sampai kapan kau akan mendiamkanku?! Ini sudah lebih dari setengah tahun! Lupakan dia! Kita bisa memulainya dari awal lagi kyu... dia sudah pergi meninggalkanmu! Bahkan mungkin dia sudah menggugurkan bayi kalian!"
BRAK. Kali ini suara berasal dari meja kerja yang aku pukul dengan tanganku. "jaga mulutmu seo joo hyun! Dia tidak pergi meninggalkanku, akulah yang menyakitinya! Dan jangan pernah bicara yang bukan2 tentang bayiku atau aku akan membuatmu tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun seumur hidupmu!" hatiku perih saat mengucap kata 'bayiku'. "sebaiknya kau keluar dari sini!" aku mengepalkan tanganku di meja untuk menjaga agar aku tidak bertindak lebih kasar lagi.
Seohyun berjalan keluar sambil menghentak2kan kakinya dengan kesal. Aku hanya menggeleng melihat kelakuannya. Sudah setengah tahun lebih aku berusaha mendiamkan dan menghindarinya tapi dia masih saja keras kepala.
Jujur saja, aku membenci tingkah lakunya itu. anni. Aku membenci semua yang ada pada dirinya. Semua yang ada pada dirinya mengingatkanku akan kejadian buruk yang menimpa kehidupan rumah tanggaku dan sungmin. Bukan hanya dia, aku bahkan benci pada diriku sendiri. Aku benci pada diriku yang selalu mengabaikan tatapan penuh cinta yang selalu ditujukan sungmin padaku. Aku benci pada diriku yang selalu mengagungkan rasa cintaku pada seohyun. Hey, aku bahkan belum pernah menyentuhnya dengan cinta!
Saat ini aku justru bertanya pada diriku sendiri-apa yang membuat aku terbelenggu oleh 'cintaku' pada seohyun. Bahkan kalau kubandingkan lagi, sungmin jauh lebih baik darinya dalam segala bidang. Mungkin secara fisik mereka punya kecantikan tersendiri. Seohyun terlihat ramping dengan tubuh yang tinggi semampai layaknya model. Rambut coklat karamel sepunggung membuatnya terlihat anggun. Wajahnya sempurna dengan dagu lancip dan hidung yang mancung, matanya sipit-layaknya gadis korea kebanyakan. Banyak namja yang ingin menjadi kekasihnya. Sungmin? Dia cantik, tapi bukan itu yang dominan. Dia sangat manis dan imut. Tubuhnya tidak setinggi seohyun, juga tidak seramping seohyun, dia lebih 'berisi'terutama di bagian tertentu-dada dan bokong. Pipinya chubbynya selalu merona, mata coklat caramelnya yang besar selalu terlihat bercahaya, bulu matanya yang lentik dan hidungnya yang mancung...euhm. paduan yang sempurna. Rambut hitam kecoklatan sebahunya yang terbilang pendek jika dibandingkan dengan rambut seohyun yang sering terlihat berantakan karena si empunya terlihat tidak memberi perawatan khusus padanya-apalagi mengingat rambut itusedikit bergelombang. Aku merindukannya. Sangat merindukannya.
'sungmin...sebenarnya kau di mana?'
TBC
Thanks banget karena udah ngikutin cerita ini ampe chapter 9. N ini tanggapan aku buat komen kalian yang udah ngereview di chapter 8.
PaboGirl : iya chingu, sungmin ikut siwon ke jepang. Sungmin ke sini buat ngelupain kyu. Niatnya sie begitu, tapi gk tau deh akhirnya. Hehe. Tenang aj, heechul gpp kok.
Guest : iya, ini juga dah lanjut. Jangan lupa baca ya...
Fariny : gimana? Apa kita masih perlu nyiksa kyu di chapter berikutnya?
Kyumin joyer : iya, sungmin dah ikut siwon and kyu juga udah menyesali apa yang udah dia buat. Tapi paling gak semua pembaca tau kalo dari awal kyu sebenerny gk niat buat nyakitin sungmin.
zaAra evilkyu : mian chingu, tapi aku harus bikin ming pergi ninggalin kyu.
Tapi kamu tenang aja, sungmin gk selingkuh kok m siwon.. yonghwa? Dia di london. N asal tau aja, aku gk pernh berniat sama sekali buat ending yang bahagia buat seo.
Dea : mian chingu, tapi aku gak merasa atau mungkin lupa kalo aku udah ngebunuh hangeng. Klo boleh tau di chapter mn? Sp tau aja aku salah, jadi bisa aku koreksi..
Guest : wah, aku gk nyangka lho, klo ada yg bs benci m karakter lee jung soo. Sebenarnya niatnya dia baik kok chingu.
Kyu sebenarnya gk niat kok ngelakuin hal kyk gt. Dia Cuma terjebak di waktu dan kondisi yg gk tepat aja..^^ mian kalo di chapter ini seo-nya masih ada, kan gk mgkn jg seo tiba2 ilang begitu aja. Aku juga punya harapan yg sama, kyu n ming bisa berakhir bahagia.
Guest : mian, tapi sungmin gk keguguran. Kehamilan sungmin udah 2 bulan lebih waktu dia naek pesawat, jadi selama ada persetujuan dokter ditambah pesawat yg ditumpangin bukan pesawat biasa alias pesawat mewah yang bisa aku pastiin dalam kondisi dan fasilitas yang sangat baik, n merupakan pesawat pribadi yg penumpangny gk perlu diperiksa2 segala, alhasil sungmin baek2 aj.
Sungmin gk sama kok m kyu, dia gak selingkuh, dia ikut siwon bukan bermaksud memulai hidup baru dengan siwon, dia Cuma ingin menjauhkan diri dari kyu. Sungmin juga dah minta cerai kok, cm kyu aja yg belum ngabulin. Sekali lagi aku tekanin, siwon gk ngebawa sungmin kabur, siwon emang punya tujuan sendiri bt pergi ke jepang n sungmin pgn memulai hidup baru di tempat yg jauh dari kyu. Masih rancu? Beda orang beda selera, klo mo yg real y bukan bc fiksi tp bc biografi. ^^
Guest : haha. Jangan terlalu dendam m kyu y chingu... aku updatenya gk lama kok, tenang aja.
Ajid kyumn : iya, sungmin mau ke jepang n memilih menetap di sana, gk tau ampe kapan,hehe
.136:boleh aja kok chingu naek pesawat, asal diizinin m dokter. Lagian mereka gk naek pesawat komersial alias naek pesawat pribadi, jd gk ada acara pemeriksaan penumpang . oh iya, gomawo udh ngasi semangat bt aku chingu n udah ngereview tiap chapter ff ini. Komen terus ya, Hwaiting! Hehe. Sekedar info, yonghwa di sini jung yonghwa-nya CN Blue, Salah satu group band fav aku selain FT. Island, coba aja dengerin lagunya, bagus lho.
Jang Seungna : iy mian kalo chapter lalu penuh dengan siwon dan jung soo. Bukan karena apa, sungmin kan emang lagi byk diem di chapter sebelumnya dan aku pikir akan lebih baek klo kt ngeliat jalan pikiran jung soo yang membuat dia ngambil sikap kyk gini pd akhrny, siwon sendr emg py posisi yg pntg dalam ff ini.
P.S. aku juga pengennya kyumin tetep bersatu. Semoga aja ne...
Prfvckgyu : haha. Kyu n min emang lagi pada galau di chapter lalu, jd mereka gk byk mikir chingu. Tp di chapter ini aku udah full2in kyumin, walau dominan ke min sie. Hehe
137Line : jangan benci m siwon chingu, siwon anak baek kok di sini. Jung soo juga baek kok, niatnya sie.. ke mana kangin? Ini di chapter ini udah ketauan kangin ke mn.
Dewi. : gomawo jg atas reviewny. Mian klo suka salah ngetik seo bis gk suka m dia, aplg wkt tau kyu bakal maen drama musikal m seo.
Aku sebenarny agak gk tega buat ngebuat kyu sengsara chingu. Apa kyu nya mati aja di ff ini? *plak. Dipukul m sparkyu... kabur...
Vitaminsparkyu1123: iya, min pergi ke jepang. Kyu jadi merana. Baca terus lanjutannya chingu..
Arisatae : iy, langsung aku tambahin kata genderswitch pas baca review kamu kok. ^^. Tenang, perasaan min belum n gk akan berubh m kyu.
Leeeunjae13 : iy chingu, sampe akhir aku gk akan bikin siwon m min kok, mgkn sama org laen.. *digampar m chingu.. hehe
Nurichan4 : iy, emg makin rumit chingu, aku aja ampe pusing gimana mo ngelanjutin ceritanya. Susah bgt buat nyelesaiin masalah yg udh kyu buat. Hiks.
Wonnie : gk tau kenapa komen kamu sebelum aku ngepost chapter 8 malah baru masuk pas aku udah ngepos chapter 8. Tapi gomawo ne atas semua reviewnya.
Love Kyumin 137 : iy chingu, semua udah terlambat n sungmin mutusin buat ikut wonnie oppa ke jepang. Eh eh eh, u know what, wonnie oppa py selingkuhan baru lho di chapter ini, kamu tau siapa...haha.
Chingu, jangn gt donk, aku gk bs diblg elf sejati, tp aku siwonest gt lho, disamping chocoball tentunya. Hehe. Masa chingu tega sie rebutan wonnie oppa m aku. Chingu m kyu aja ne... #ikutan nego. Kecuali kalo chingu bs bawain lee hongki bt aku.. #naek turunin alis sambil senyum2 gaje.
Abilhikmah : kita tunggu perjuangan kyu ne..
Kang Dong Jae : gomawo atas pujianny chingu. #bow. Aku emang lebih suka ngegunain point of view setiap pemain supaya readers lebih ngerti karakter dan perasaan masing2 pemain. Terkadang ada hal2 lucu yg dipikirin org yg gk mgkn diungkapin author secara mendetail, jadi carany y dengan org itu sendiri yg cerita (author memerankan org itu), gitu chingu. Tapi di chapter ini aku udh ngasi author pov kok. ^^
Gothiclolita89 : itu seo yg maksa nyium kyu chingu, tp yg namany namja, ssh bgt nolak klo dh dikasi yg gituan..hehe
Saraaaah : mian karena udah memisahkan kyumin chingu, kita doain aja mereka kembali bertemu ne...
Sekali lagi aku ucapin makasih sebesar2ny buat readers yg udah ngbaca n ngereview ff aku. Ikutin terus ceritanya ya..
