Chapter 9
Normal pov
Pada hari berikutnya Shino berusaha untuk datang ke ruang klub seperti biasa, satu langkah lagi untuk masuk ke dalam dia mendengar suara dari dalam.
'Taichi-senpai dan Inaba-senpai, apa yang mereka lakukan?' seketika dia masuk Shino melihat Inaba ingin mencoba memeluknya "Taichi~~" Taichi hanya mencoba mencegahnya dengan memegang dahinya.
"Inaba-senpai?" Shino memanggilnya, Inaba langsung menoleh cepat dan memperlihatkan sedikit merah di pipinya.
"ehem! Kau melihatnya Shino?" tanya Inaba yang tiba – tiba berubah menjadi Inaba yang seperti biasanya.
"ah, iya.. itu maksudku, ettoo.." Shino berusaha mencari alasan untuk tidak mendapatkan pandangan mematikan dari senpainya.
"katakan dengan jelas!" seru Inaba sedikit memperlihatkan aura kesalnya itu.
"yes ma'am!" jawab Shino spontan berdiri tegak di hadapannya.
"osu, eh?" Chihiro tiba – tiba masuk dan langsung berhenti melihat Shino. Sama halnya dengan Shino dia langsung berwajah antara takut dan khawatir melihat Chihiro.
'dia di depanku, apa yang harus aku lakukan!? Melihat kejadian kemarin, aku sama sekali tidak bisa berbicara sepatah kata pun kepadanya. Tapi itu di kelas, kalau disini aku tidak mau membuat para senpai khawatir, aku harus mengatakan sesuatu, secepatnya! Tapi apa? Apa? Aku tidak tau~~' terlihat bintang berputar di atas kepala Shino memperlihatkan dia tidak bisa memikirkan kalimat yang harus dilontarkan. Sepintas ilham datang melalui telinga membuat Shino tau apa yang harus dikatakannya.
"Enjou-" belum menyelesaikan kalimatnya Shino langsung menempelkan jari telunjuknya di bibirnya.
"ha-hari ini cuacanya cerah yah~!" Shino mengacungkan jempol padanya.
"eh? I-iya"
"hemm! Itu betul sekali, maka dari itu kita harus mendapat udara segar, kau juga harus melakukannya Chihiro-kun!"
"Enjouji?" Chihiro sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakannya.
"kalau kau tidak mau, aku saja sendiri! Maka dari itu, selamat tinggal!" Shino langsung berlari ke luar dengan kecepatan tinggi.
"Enjouji!" Chihiro berusaha memanggilnya kembali.
"ada apa dengannya?" tanya Inaba, Taichi hanya menggeleng – gelengkan kepalanya.
"Enjouji.."
Di dalam toilet perempuan, Shino menyenderkan punggungnya ke dinding dan perlahan – lahan turun dan duduk, dia menarik kedua kakinya dan menunduk menghadap kedua lututnya.
"haaaaa~~ itu tadi memalukan sekali, tapi akhirnya aku bisa melarikan diri dari Chihiro juga" Shino menghela nafas dengan leganya dan kembali murung kembali.
"apa aku akan tetap seperti ini? Tidak bisa berbicara dengan Chihiro-kun lagi. Aku tidak mau.. Chihiro-kun suka dengan Yui-senpai, aku bisa melihatnya dari matanya yang sedih ketika Yui-senpai mengatakan kepada Aoki-senpai kalau dia mencintainya, sedangkan aku tidak mempunyai kesempatan apa – apa dengannya" Shino memejamkan matanya menahan air mata yang mulai ingin jatuh lagi.
"Enjouji-san"
"Kyaa!" Shino tersentak kaget dengan mata seseorang yang berada 3 cm dari wajahnya yang tidak lain adalah Fujishima Maiko dari kelas yang sama dengan Taichi.
"kau berada disini sendirian, apa yang kau lakukan? Masturbasi?"
"ti-tidak! Aku tidak melakukan apa – apa, ngomong – ngomong kau siapa?" Fujishima menghela nafas.
"sudah kuduga kau tidak akan mengingatku Enjouji-san" Shino memiringkan kepalanya.
"aku Fujishima Maiko, kau pasti mengenal si Dewa Cinta Fujishima Maiko" ujar Fujishima mengangkat kacamatanya.
"ah iya, kita pernah bertemu pas perekrutan anggota baru kan?" tanya Shino.
"itu betul sekali, akhirnya kau mengingatku, walaupun sebelumnya kita pernah bertemu berkali – kali" gumam Fujishima.
"ma-maafkan aku!"
"tidak apa – apa, kutanya sekali lagi.. apa yang kau lakukan disini?" Shino langsung murung kembali mengingat gumaman sebelumnya, Fujishima hanya diam dan menarik tangan kanan Shino.
"eh?"
"kita akan berbicara di tempat lain, bagaimana?" Fujishima mengedipkan matanya.
"tapi, tidak ada yang ingin aku bicarakan" Shino berusaha untuk mengelak.
"bicara apa kamu? Terlihat jelas kalau kau sedang dalam masalah, terutama masalah cinta" Shino langsung memerah mendengarnya.
"a-aku tidak-"
"sudahlah ikut saja" Shino akhirnya mengalah dan membiarkan Fujishima menarik lengannya membawanya ke suatu tempat.
In Club Room
"Shinmwo waneh? Glek.. apa yang aneh?" Iori bertanya dengan keadaan penuh dengan makanan di mulutnya, Inaba hanya sweatdrop dan menchop dahinya.
"setidaknya habiskan dulu makananmu itu, tadi dia tiba – tiba pergi meninggalkan ruang klub ketika Chihiro masuk ke dalam" ujar Inaba.
"itu artinya… hemm.. Chihi-kun apa yang kau lakukan kepada Shino-chan?" Iori memperlihatkan muka ero kepadanya, Chihiro langsung membelalak kaget dan mengangkat bukunya hampir menutup wajahnya.
"tidak ada apa – apa!" seru Chihiro melihat ke arah lain.
"hemm.. anehnya, nee Inaban? Apa harus kita interogasi saja pria ini?" Iori melirik Inaba dengan senyum khasnya.
"oh~ sepertinya menarik" mereka berdua memperlihatkan devilish smile kepada Chihiro yang sudah merinding hanya dengan melihatnya saja.
"hei hei kalian berdua hentikan" Taichi berusaha mencela mereka sampai pintu terbuka memperlihatkan Aoki dan Yui.
"apa yang kalian lakukan? Dan Inaba kenapa mukamu seram sekali?" Yui melihat Inaba yang masih dalam mode devil.
"ah tidak apa – apa, Chihiro sedikit mencurigakan jadi kami ingin menginterogasi dia, karena ingin mencari suasana menghiburkan, ya kan Iori?" Iori menganggukan kepalanya "itu kalian sebut hiburan?" balas Taichi di sampingnya.
"Kiriyama-senpai!"
"i-iya?" Chihiro langsung memegang lengannya dan memperlihatkan muka khawatirnya kepadanya.
"mau melatihku lagi? Hari ini aku senggang, apa Kiriyama-senpai juga?" tanya Chihiro dengan tergesa – gesa.
"hem iya hari ini aku tidak ada kerjaan, baiklah aku akan menemanimu lagi, kau duluan saja ke dojo, aku ingin melakukan sesuatu dulu" ujar Yui tersenyum.
"baiklah aku akan menunggumu" Chihiro mengambil tasnya dan langsung pergi meninggalkan mereka.
"tadi aku melihat Shino berlari sambil menunduk, apa kalian tau sesuatu?" tanya Yui.
"baru saja kami ingin menginterogasi Chihiro karena hal itu" ujar Inaba.
"ada apa yah? Mudah – mudahan tidak ada hubungan apa – apa dengan Mirai Koe" lanjut Iori.
"akhir – akhir ini, tidak ada yang mendengar Mirai Koe terlalu sering kan? sepertinya belum terjadi sesuatu yang fatal, kita hanya bisa menunggunya dan mengatasinya sebelum terjadi hal yang lebih parah lagi seperti kejadian Yui dan Aoki" ujar Inaba
"hem hanya hal biasa yang terdengar seperti suara para murid jika ingin mulai berbicara" lanjut Taichi.
"pokoknya lebih baik memberitahu jika mendengar sesuatu yang buruk, kalau begitu aku segera ke dojo saja, Chihiro menungguku, ugh!" Yui memegang kepalanya.
"Mirai Koe, kalian semua tolong diam" perintah Iori. Yui terus memejamkan matanya dan mulai mendengarnya.
[Kiriyama-san, aku.. aku..]
[Setidaknya aku ingin kau tidak jauh – jauh dariku, itu saja..]
"Chihiro.."
"kau mendengar suara Chihiro, apa yang dikatakannya?" Yui sedikit mengepal tangannya.
'siapa yang berbicara dengan Chihiro, itu bukan aku kan? pasti bukan.. dan yang pertama itu ditujukan padaku.. apa lanjutannya?'
"Yui!" Yui sadar dari lamunannya dan melihat Aoki yang terlihat khawatir kepadanya.
"Chihiro sepertinya menunggu lama, dari Mirai Koe yang kudengar hehe"
"ah benar juga, itu pasti.. sudahlah kau pergi saja kami semua akan melanjutkan pekerjaan kita sampai Shino kembali, Aoki kau diam disini kan?" tanya Inaba.
"ah, hem baiklah"
"tenanglah Aoki, aku tidak akan lama, seperti biasa kau akan menungguku di jam yang sama di gerbang kan?"
"tentu saja" seru Aoki tersenyum.
"kalau begitu aku duluan" Yui meninggalkan mereka kembali dalam jalannya itu dia terus memikirkannya.
'aku akan membuktikannya'
Fujishima & Shino Place
"silahkan duduk Enjouji-san" ujar Fujishima duduk di bangku taman yang terletak di halaman selatan sekolah.
"sebenarnya tidak ada yang harus aku katakan Fujishima-senpai, aku hanya khawatir akan sesuatu itu saja"
"kau bisa curhat denganku apa saja walaupun bukan urusan cinta Enjouji-san, sebisa mungkin aku pasti akan melapangkan dadamu" ujarnya sambil mengedipkan matanya, Shino tidak bisa mengelak lagi akhirnya dia pun ikut duduk.
"aku ingin meminta pendapatmu Fujishima-senpai" Fujishima hanya diam, Shino pun melanjutkan pembicaraannya.
"misalkan orang yang kau suka menyukai perempuan lain yang sudah mempunyai kekasih apa yang akan kau lakukan?"
"ternyata benar masalah cinta, hem.. kalau menurutku, aku akan membuat pria itu menjadi milikku!" seru Fujishima dengan semangatnya.
"eh! Apa itu tidak terlalu memaksa!?" tanya Shino tidak percaya.
"jika diteruskan maka akan berdampak ke perempuan yang bersangkutan, dan akan terjadi perselisihan di antara mereka bertiga. Jika kau menyukai seseorang dengan tulus maka perasaan apapun pasti akan tersampaikan" Shino melebarkan matanya karena kagum dengan jawaban Fujishima, dia pun mengepal tangannya dan menunduk.
"ngomong – ngomong ini tentangmu kan?" tanya Fujishima dengan santai.
"ehh! Ti-tidak kok, siapa yah.. ah aku harus ke ruang klub pasti mereka semua mencariku, sudah yah Fujishima-senpai, terima kasih atas sarannya!" Shino mengucapkan terima kasih sambil membungkuk kepadanya dan pergi meninggalkan Fujishima di belakang.
In Dojo
"HYAA!" Yui membalikkan badan Chihiro ke lantai dan itu mengakhiri latihan mereka.
"hari ini sampai disini saja, ah memang karate itu sangat menyenangkan" seru Yui sambil menstrecth tangannya ke atas.
"menyenangkan?" tanya Chihiro yang masih duduk.
"sejak SMP aku selalu bermimpi ingin menjadi pemain karate nasional" Yui ikut duduk bersamanya diiringi dengan heningnya suara.
"heh~ mimpimu sangat bagus Kiriyama-san, tapi kenapa kau masih saja di tingkat kota saja? bukankah seharusnya kau sudah jauh entah kemana" ujar Chihiro
"ketika SMP terjadi sesuatu yang membuatku harus berhenti karate"
"apa yang terjadi?" tanya Chihiro ingin mengetahui lebih dalam, tapi Yui menjadi diam dan wajahnya pun menjadi sedih, Chihiro hanya bingung, seketika Yui pun tersenyum kepadanya.
"rahasia" jawab singkat Yui.
"eh Kiriyama-"
"ekhh! sudah waktunya untuk Aoki menungguku di gerbang, aku harus segera mengganti bajuku, sudah dulu yah Chihiro besok kita ketemu lagi di ruang klub" Chihiro langsung diam begitu Yui menyebutkan nama Aoki di depannya. Yui meninggalkannya, dengan cepat Chihiro menarik tangannya dan menghentikannya, Yui menoleh tidak mengerti dan sedikit mengecilkan matanya.
"Chihiro?"
Shino berlari menuju ruang klub dan masuk dengan nafas terengah – engah.
"oh akhirnya kau datang juga Shino" ujar Inaba sambil memegang kertas di tangannya.
"Chihiro?" tanya Shino yang masih terengah – engah.
"Chihiro.. dia berlatih karate dengan Yui di dojo, ada apa Shino? Kau terlihat khawatir" tanya Inaba memiringkan kepalanya.
"souka! Di doujo yah, arigatou Inaba-senpai"
"e-eh tunggu Shino!?" Shino kembali berlari, tanpa memedulikan sekelilingnya, Inaba melihatnya keluar dan sedikit bingung.
"ada apa dengannya?" tanyanya, karena tidak begitu mempedulikannya Inaba kembali melanjutkan mengetiknya.
Sementara itu di saat yang sama Aoki menunggu lebih cepat di gerbang sekolah sambil melihat ke arah doujo menunggu kehadiran pacarnya yang keluar dari tempat tersebut.
"Chihiro.."
"Yui-san.. tidak.. Yui!" Yui sedikit membulatkan matanya mendengar panggilan terhadapnya. Apa yang dia lakukan? Seharusnya dia sudah pulang bersama Aoki jika tidak terjadi hal seperti ini. Yui mengingat apa yang dia dengar dari Mirai Koe, apa yang akan terjadi sebelum Mirai Koe tersebut terjadi, dia harus mengikuti alur ini.
"ada apa Chihiro? tiba – tiba kau serius sekali.." Chihiro mencengkram erat tangannya, dia menunduk dan mengeleng – gelengkan kepalanya dan menatap tajam Yui, di saat keheningan tanpa ada seseorang satu pun, Chihiro mengeluarkan suaranya.
"Kiriyama-san, aku.. aku.. aku menyukaimu!" Yui membulatkan matanya dan sontak melepaskan genggaman tangannya.
"apa yang kau katakan Chihiro!? apa kau sadar kalau perkataanmu bisa membawa masalah!?" Seru Yui sambil melihat ke arah gerbang melalui celah pintu yang terbuka sedikit dan bernafas lega karena perkataan Chihiro sama sekali tidak terdengar Aoki.
"apa kau masih memikirkan Aoki-san di saat seperti ini?"
"tentu saja, jika dia mendengar kau berkata seperti itu, kejadian dengan Taichi bisa terulang kembali! Dia bukan tipe pendiam seperti dugaanmu Chihiro!" Chihiro mencengkram erat tangannya sampai Yui tidak bisa berkutik.
"aku tidak peduli dengannya, aku hanya ingin mengatakan itu saja padamu Yui" sembari jari mengelus dagunya, Yui pun tidak tahan dan menepis tangannya.
"jangan menyentuhku seperti itu! Sebenarnya kau itu mau apa!?" Chihiro tidak bisa menahan kesalnya dan langsung saja memeluk Yui dengan erat dan memejamkan matanya.
"aku hanya ingin kau tidak jauh – jauh dariku! Itu saja.." Aoki seperti mendengar teriakan samar – samar dari arah dojo, dia melirik jamnya yang sudah melebihi 20 menit dari janjinya.
"kenapa lama sekali? Apa aku harus menghampirinya saja?" akhirnya Aoki pun berjalan menuju dojo. Yui yang sadar bahwa Aoki sudah menghampirinya dia pun berusaha mendorong Chihiro.
"lepaskan aku Chihiro! Aoki berjalan ke arah sini!" akhirnya Chihiro melepaskannya dan memegang pipinya dan dengan cepat bibirnya langsung menempel dengannya, Yui membulatkan matanya, dia sama sekali tidak bisa melepaskan diri karena cengkraman Chihiro yang benar – benar sangat kuat. Di saat bersamaan Aoki melihat Shino yang berlari menuju ke arah pintu dojo.
"Shino-chan?"
Shino langsung membuka pintunya dengan cepat dan melihat pemandangan yang seharusnya tidak dia lihat, dia menjatuhkan handphonenya yang sebelumnya dia pegang dan merasakan sakit yang amat sangat di dadanya, dia memegang dadanya dengan erat. Aoki yang sudah beberapa langkah lagi melihat sepintas apa yang terlihat di matanya itu, Yui sadar akan kehadiran Shino langsung mendorong Chihiro dan membulatkan matanya melihat Aoki yang sudah terlihat jelas di depannya, apa dia melihatnya? Apa yang harus aku lakukan? Itu yang di pikiran Yui, tapi yang pertama dia lakukan adalah..
"Shino, ini bukan seperti yang kau lihat aku bisa menjelaskan semuanya" seru Yui kepada Shino yang diam membatu di depannya.
"aku tau itu.. itu bukan salahmu Yui-senpai" Shino berjalan lambat menghampiri Chihiro yang hanya diam di tempat, dan tanpa sadar Shino
PLAAKK
"YANG SALAH ADALAH DIA!" tamparan keras di pipi kanannya membuat Chihiro sadar akan kelakukannya, Shino mengeluarkan air mata yang sudah turun deras di depannya membuat Yui benar – benar terkejut begitu pula dengan Chihiro, Shino kembali berlari melewati Aoki, Yui membulatkan matanya melihat Aoki yang menatapnya dengan sedih, Yui pun tidak kuat dan menunduk mengepal tangannya.
"kenapa kau masih disini Chihiro?"
"Yui.. aku tidak bermaksud untuk.."
"KAU MASIH MEMANGGILKU SEPERTI ITU! PERGI DARI HADAPANKU SEKARANG JUGA!" Chihiro pun mengambil tasnya dan langsung meninggalkannya dan otomatis melewati Aoki tanpa memandangnya sama sekali. Yui pun menyenderkan badannya ke dinding dan jatuh terduduk menunggu Aoki yang datang menghampirinya.
"Yui?" panggilnya. Yui menatapnya dengan wajahnya yang sudah pucat dia pun tersenyum kepadanya.
"kau melihatnya?" tanyanya dengan nada bergetar yang seperti sudah menahan tangis.
"hanya sepintas, tapi aku yakin aku jelas melihat kau dan Chihiro.." Yui langsung menutup mukanya dengan lututnya, dia sangat takut untuk melihat wajah Aoki, apa yang akan dikatakannya?
"kenapa kau menutup mukamu? Apa sekarang kau takut melihatku?" tanyanya dengan tegas.
"aku tidak bermaksud untuk melakukannya, aku.. aku.. aku hanya ingin memastikannya saja" ujarnya yang masih menutup mukanya.
"kenapa kau selalu saja seperti ini.. sudah kubilang untuk menceritakan semuanya kalau kita mendengar Mirai Koe, kenapa kau selalu ingin menyelesaikan ini semua sendirian? Aku tau kau tidak ingin bergantung dengan orang lain, tapi disini sudah ada orang yang bersedia untuk terus menolongmu Yui" Yui melihat Aoki yang hanya memberikan wajah datarnya.
"aku-aku.. aku hanya tidak ingin membuatmu dan semuanya khawatir! Aku.. aku" Yui tidak sadar kalau Aoki sudah memeluknya dengan pelan, Yui akhirnya menangis pelan.
"kau tidak marah?"
"kenapa aku harus marah padamu? Orang yang harus aku lampiaskan tidak ada disini, dan aku tau ini bukan salahmu Yui.. setelah mendengar pengakuanmu kemarin" Aoki lebih mempererat dekapannya.
"maafkan aku.. aku benar – benar minta maaf" Yui menangis lebih kencang di dekapan orang yang dia cintai itu. Di lain sisi Inaba, Taichi dan Iori sudah berkemas untuk pulang dan langsung di datangi oleh Shino yang bernafas terengah – engah dengan matanya yang merah.
"Shino, kau itu dari- he- hei! Kau habis menangis! Ada apa!?" Shino langsung melewatinya tanpa menjawab dan mengambil tasnya, dia mendapat genggaman dari seseorang.
"ada apa Shino-chan? Hari ini kau benar – benar berbeda! Ada apa denganmu!? Apa kau mendengar Mirai Koe?" tanya Iori dengan tampang khawatirnya, tanpa pikir panjang Shino langsung melepas tangannya dan kembali berjalan.
"Shino! Jika kau tidak menjawab, kau tidak boleh pergi dari sini, katakan! Apa yang terjadi!?" bentak Inaba dengan kesal.
"Enjouji.. kalau kau diam seperti itu, masalah apapun tidak akan selesai" ujar Taichi.
"jangan berbicara kalau senpai mengerti dengan perasaanku!" Shino langsung menepis tangan Inaba dan berlari meninggalkan mereka.
"Shino!" "Shino-chan!" "Enjouji!"
"pasti terjadi sesuatu ketika kita sama sekali tidak menyadarinya" gumam Inaba melihat Shino berlari tidak melihat sekelilingnya.
Shino berlari sekuat tenaga sampai ke batas nafasnya, dia pun akhirnya menyender ke dinding di sampingnya dan perlahan – lahan jatuh terduduk dan memegang terus dadanya.
"kenapa ini? Apa yang aku rasakan? Sakit.. rasanya sangat sakit Chihiro, kenapa kau melakukan hal seperti itu? Chihiro-kun bodoh" bayangan Chihiro yang terus saja membayangi pikiran Shino membuat air mata kembali jatuh dari pelipis matanya. Inaba hanya melihat Shino dari kejauhan dan mengecilkan matanya.
"Inaba, sedang apa kau? Ayo kita pulang" teriak Taichi.
"ah iya.. Shino.." gumamnya yang lalu meninggalkannya sendirian disana diterpa oleh angin musim dingin yang dapat membuat siapa saja menggigil karenanya, apa yang akan terjadi selanjutnya? mungkin waktu yang akan menentukan kapan dia akan memberitahu semuanya, pikir Inaba.
To Be Continue In Chapter 10
