Glek

Hinata meminum satuseloki sake dalam sekali teguk. Sedetik kemudian, ia merasa gerah dan pening. Tanpa ia sadari wajahnya memerah.

"Sasu–hik–apa ini? Kenapa aku–hik–merasa panas?" Hinata yang merasa gerah mulai mengipasi dirinya dengan kedua tangannya.

Hinata lalu menatap agemononya. "Ini tampak enak sekali." Hinata menoleh pada Sasuke. Sasuke yang melihat Hinata bertindak tidak normal hanya menatap wanita itu dengan pandangan terkejut. Ia tidak menyangka bahwa sosok kaku Hyuuga dapat dipatahkan hanya karena satu seloki sake.

Hinata menunjuk Sasuke dengan tusuk agemono yang mana masih ada bekas gigitan Hinata di sana. "Sasuke-san~ kau mau ini? Ini enak, loh."

Di sisi lain suara cekikikan dari Paman pemilik yatai membuat dahi Sasuke berdenyut kesal. "Aku sudah punya, Hyuuga."

Sasuke mendorong Hinata pelan agar tak terlalu dekat dengannya. "Kau makanlah punyamu sendiri."

Hinata memanyunkan bibirnya kesal. Sasuke harus menahan hasratnya mati-matian karena bibir Hinata tampak lebih penuh, merah, dan seksi saat memanyunkan bibirnya.

"Mou. Sasuke-san. Makanlah ini, ya?" Hinata lagi-lagi merangsek maju mendekati Sasuke sambil mengacungkan tusuk agemono.

Suara tawa yang meledak terdengar di yatai. Sasuke semakin harus menahan emosinya saat suara tawa itu berasal dari paman pemilik yatai.

"Sudahlah Sasuke. Kau 'ladeni' saja ." Sasuke langsung menatap tajam pria tua tersebut.

Pria tua itu tersenyum jahil. "Aku pergi dulu. Silakan nikmati waktu kalian berdua. Sasuke jangan terlalu 'kasar'. Ingat ini bukan hotel."

"Paman!" seru Sasuke kesal. Pria yang merupakan kerabat dekat ayahnya langsung pergi sebelum ia mendapat amukan dari Sasuke.

Sasuke balas menatap Hinata yang masih menatapnya. "Ada apa Sasuke-san? Kau tak mau, ya?"

Raut wajah Hinata yang sedih membuat Sasuke sedikit iba. Pria itu hanya berdeham. "Habiskan saja punyamu." Sasuke langsung melanjutkan makan malamnya.

Hinata merengut. Sedetik kemudian wajahnya berseri-seri. "Ah! Aku tahu." Hinata melirik Sasuke gemas. "Ternyata kau orang yang seperti itu."

Sasuke mengabaikan ucapan Hinata. Ia hanya ingin menghabiskan makanannya dengan tenang. Namun, sepertinya harapannya pupus seketika ketika pundak Sasuke ditarik paksa menghadap ke arah Hinata.

Hinata masih duduk di kursinya. Hanya saja, tanpa Sasuke ketahui, wanita itu telah mendekatkan kursinya dengan kursi Sasuke sehingga paha mereka menempel satu sama lain dan hanya dibatasi oleh pakaian mereka.

Hinata meraba paha kanan Sasuke yang menempel pada paha kiri Hinata. Ia mengusap lembut kain yang menutupi paha pria itu. "Kau maunya jika aku suapi kan, Sasuke-kun?"

'Sial! Kenapa jadi seperti ini?!'umpat Sasuke kesal. Ia bahkan dapat merasakan napas hangat wanita itu di Hinata yang sayu, bibirnya yang memerah merona dan mengeluarkan kepulan uap, serta wajahnya yang memerah, sukses membuat celana Sasuke menggembung di satu titik.

Sasuke segera mendorong Hinata, namun entah kenapa kekuatan Hinata semakin bertambah. Dan Hinata mencengkeram pundak Sasuke. Ia sedikit berdiri dan mendekati Sasuke yang masih duduk, sambil menggerakkan tusuk agemononya. Pose Hinata seolah sedang menyuapi Sasuke.

"Aaa~"

Sasuke meneguk ludahnya. Wajahnya bahkan telah berhadapan dengan dada wanita muda itu. "Sial." Geram Sasuke. Sasuke mendorong lengan Hinata. Hinata pun terhuyung ke belakang.

Sasuke menarik tangan Hinata agar wanita itu tidak terjatuh, namun yang terjadi malah sebaliknya. Wanita itu jatuh ke pelukan Sasuke dengan pantatnya yang menduduki paha pria itu. Sasuke menggertakkan giginya kala merasakan gumpalan daging yang menekan lembut pahanya, menghantarkan rasa panas di paha pria muda itu.

"Sasuke-kun suka jika makan dengan pose seperti ini?" Hinata mengalungkan tangan kirinya pada leher Sasuke, membuat dadanya menempel erat pada dada bidang Sasuke.

Sasuke menunduk. Memakan agemono yang hendak disuapkan pada Sasuke. Sasuke menatap datar Hinata. "Sudah, kan?"

Hinata hanya menatap Sasuke. Ia menatap Sasuke tak berkedip. Saking dekatnya jarak mereka, Hinata dapat melihat pantulan wajahnya di kedua iris Sasuke. Perlahan namun pasti, Hinata merangkum wajah Sasuke dan mengelus lembut pipi pria itu.

"Kau tampan sekali, Sasuke-kun." Sasuke dapat mencium aroma sake yang menguar di napas wanita itu.

Kedua muda-mudi itu saling menatap. Menyelami keindahan iris masing-masing. Tanpa sadar, Sasuke menjepit kedua pipi Hinata. Ia semakin menundukkan kepalanya dan mendekatkan wajahnya pada Hinata. Iris jelaganya menatap lamat-lamat bibir Hinata yang merah merekah. Sasuke pindahkan kedua tangan Hinata agar mengalungkannya pada lehernya. Tangan kanan Sasuke menumpu punggung Hinata dan mendekatkannya pada tubuh atletiknya.

Sasuke terus mendekatkan wajahnya hingga tersisa beberapa senti. Hinata menatap iris jelaga Sasuke. Ia dapat merasakan jantungnya yang berdebar kencang.

"Ne, Sasuke." Sasuke berhenti. Menyisakan jarak 3 cm. Sasuke hanya menatap Hinata. Irisnya sudah berkabut dan ia ingin cepat-cepat menuntaskan kegiatannya.

Hinata melepas rangkulan tangan kanannya. Ia mengusap pipi Sasuke pelan. "Kenapa aku merasa sakit?"

Hinata menyentuh dada kiri bagian atasnya. Tepat di jantungnya. "Kenapa di sini terasa sakit sekali ketika bersamamu?"

Sasuke terus menatap Hinata. Hinata tetap melanjutkan ucapannya. "Bisakah aku bahagia bersamamu?"

Sasuke tertegun. Hasratnya yang terpendam hilang seketika karena ucapan Hinata. Sasuke mengulas senyum miris. Ia memeluk Hinata kemudian mencium dahi Hinata. "Ayo kita pulang."

Dan detik selanjutnya Sasuke menggendong Hinata dengan gaya bridal. Sasuke membawa tubuh Hinata ke dalam mobil dan mendudukkan wanita itu di samping kursi kemudi.

"Tunggu sebentar. Aku akan segera kembali." Sasuke langsung menutup pintu mobilnya.

Ia menghela napas kasar dan melepaskan jas kerjanya serta melonggarkan dasi, dan membuka tiga kancing teratas kemejanya. Ia mengeluarkan rokoknya dan menyulut api di ujung rokoknya. Ia menghembuskan napasnya.

Sasuke berjalan ke arah yatai. Dan ia menemukan pemiliknya sedang membereskan makanan yang tadi dinikmati Sasuke dan Hinata.

"Bungkus saja, Paman."

Pria tua itu mengangguk. Ia mengulas senyum hangat. "Aku tahu, Nak. Asal kau tahu, kau berhak untuk bahagia."

Sasuke menghembuskan napasnya. "Kebiasaan paman tetap tidak berubah."

Pria tua itu terkekeh. "Bukannya itu bagus?" Pria tua itu membalikkan badannya. Ia menatap Sasuke sambil melebarkan senyumannya.

"Asal kau tahu, permintaan terakhir Obito adalah kau menemukan kebahagiaanmu. Dan kuharap wanita muda itu adalah sumber kebahagiaanmu."

Sasuke terdiam tanpa ekspresi. Ia membuang puntung rokoknya. "Kau berubah paman. Kau terlalu banyak bicara."

Pria tua pemilik yatai itu terkekeh. "Mungkin karena Obito sedang memaksaku sekarang."

.

.

.

Hope andPrisoner © Yuki Ryota

Naruto © MasashiKishimoto

SasuHina

T

.

.

.

"Tidak, Bu! Tidaaaaaak!"

Wanita paruh baya itu semakin melebarkan irisnya. "Diam kau, Hikari! Ini hukuman untukmu karena tidak patuh pada peraturan Hyuuga!"

Hikari remaja menggeleng keras. "Jangan, Bu! Jangan ke ruangan itu! Jangan hukum aku! Aku janji tidak akan nakal! Jangan hukum aku, Bu!"

Wanita paruh baya yang merupakan ibu Hikari tetap menyeret Hikari menuju gudang. Hikari yang bertubuh mungil tidak bisa berbuat apa-apa. Ia terpaksa diseret oleh ibunya. Sesampainya di ruangan hukuman, Hikari disuruh mengangkat roknya setinggi lutut.

Hikari menangis sesenggukan. "Jangan, Bu. Jangan pukul aku..."

"Diam kau, anak manja! Ini semua karena kau tidak sempurna! Kau sangat buruk dan bahkan hampir tidak pantas menjadi Hyuuga. Terimalah hukumanmu!"

Hikari hanya bisa menggigit bibir, menahan sakit saat betisnya dipukul rotan kasar berkali-kali.

"Terimalah hukumanmu, Nak."

Plak

"Ini semua karena kau tidak sempurna!"

Plak

"Andai kau menjadi seorang Hyuuga yang sempurna, kau pasti tak merasakan hal ini!"

Plak

.

.

Hikari menatap punggung Hinata yang berjalan menjauhinya. "Maafkan ibu, Nak. Ini semua demi dirimu."

Air mata jatuh menuruni kedua pipinya. "Ibu tak ingin kau seperti ibu."

Hikari menutup mulutnya, menahan suara raungan kesedihannya agar tak terdengar orang lain. "Maafkan ibu, Nak."

.

.

.

Kriiiiiing

Hinata terbangun. Pertama kali yang ia rasakan adalah rasa pening di kepalanya. Ia melihat sekitar. Ia merasa asing. Ini bukan ruangannya, lalu dimana ia?

Ia melihat pakaiannya yang sudah tergantikan oleh gaun tidur tipis berwarna putih sepanjang lutut dengan model round neck dan lengan longgar ukuran ¾ yang transparan, sukses mengekspos lengannya. Melihat perubahan pakaian pada dirinya, membuat berbagai spekulasi negatif muncul dalam benaknya.

Pintu terbuka, menampakkan sesosok wanita berkucir satu yang menatapnya ramah. "Hai. Kau sudah bangun rupanya." Wanita muda itu menaruh nampan yang berisi makanan yang berkuah, segelas air putih, dan obat.

Hinata berdeham kala merasakan kerongkongannya yang kering. "Dimana aku?"

"Ah, sepertinya si Tengil itu belum menceritakannya padamu," gerutu wanita muda beriris perak itu. Sedetik kemudian, wanita itu tersenyum hangat dan mengulurkan tangannya.

"Kenalkan. Aku Uchiha Anko. Aku adalah saudara Sasuke. Dan sekarang kau sedang berada di rumahnya. Maaf jika kau tidak nyaman, aku yang mengganti bajumu."

Hinata menunduk hormat. "Maaf jika aku merepotkanmu."

Anko tersenyum hangat. "Tidak, kok. Tentu saja kau tidak merepotkan, tidak seperti orang itu." Wajah Anko mulai merengut tak suka.

"Apa orang itu Sasuke-san?"

Anko membantu Hinata untuk duduk dan memberikan nampan di kedua pahanya. "Tentu saja orang itu Sasu–tunggu, kau bilang apa tadi? San?"

Hinata mengangguk seraya mengambil sendok dan mencoba memakan hidangan yang disediakan wanita muda itu.

Melihat ketenangan di wajah Hinata, membuat Anko terperanjat. "Astaga! Jadi kalian tidak benar-benar pacaran?!"

Hinata menatap Anko dengan pandangan bingung. "Pacaran?"

"Apa hubunganmu dengan Sasuke? Apa lebih dari itu–"

Suara pintu terbuka. Kali ini menampakkan sosok wanita paruh baya. "Anko, jangan kau ganggu tamu kita seperti itu."

Wanita itu lalu menatap Hikari dengan pandangan hangat. "Hinata-chan, maaf mengganggu. Silakan lanjutkan makannya."

Hinata balas mengangguk sopan. "Terima kasih, Bi."

"Jangan memanggilku seperti itu. Panggil saja, ibu. Oh ya, jika kau mencari Sasuke, ia sedang berada di bukit belakang. Ikuti saja jalan setapak dari halaman menuju bukit. Kau akan menemukannya."

Hinata tersenyum tipis. "Terima kasih."

.

.

.

Hinata mengikuti instruksi dari wanita paruh baya yang ia kenal bernama Rin. Ia mengikuti jalan setapak yang tampak seperti satu-satunya jalan yang membelah lembah itu. Waktu masih menunjukkan waktu subuh. Dan udara masih terlalu dingin. Dan untuk itulah ia dipinjamkan jaket besar berwarna hitam. Ia tidak tahu siapa pemilik dari jaket itu. Ia hanya dapat menduga bahwa pemilik itu adalah Sasuke. Mengingat aroma khas pria itu tercium jelas di indranya.

Sampai akhirnya, di ujung lembah ia menemukan lapangan luas yang menanjak. Dan ia juga menemukan pria muda itu bersimpuh di samping nisan. Hinata berlari kecil agar dapat mencapai sosok yang sedang menyendiri itu.

Akhirnya ia sampai tepat di belakang punggung pria itu. Angin dingin berembus dan pria itu hanya mengenakan kemeja putih tipis. "Sa–"

"Apa kau tahu apa ini?"

Hinata hanya terdiam, ia hanya menatap Sasuke yang nadanya mulai bergetar. Dan tanpa menghiraukan apakah Hinata menjawab pertanyaannya atau tidak, Sasuke melanjutkan ucapannya.

"Ini adalah makam ayahku. Tepatnya ayah angkatku. Tempat pamanku beristirahat."

Hinata menempatkan diri bersimpuh di samping Sasuke setelah melakukan penghormatan kepada beliau yang merupakan orang terdekat Sasuke.

Sasuke menunduk, ia menatap sesajen yang ia berikan di depan makam ayah angkatnya. "Aku adalah orang lemah. Ayah kandungku membuangku. Dan hanya..."

Suara Sasuke terputus-putus seolah ia sedang menahan sesuatu. Hinata hanya menatap Sasuke datar, walau dalam hati ia bingung harus bagaimana menghibur pria itu. "Hanya beliau lah yang mau merawatku. Aku dididik, dirawat, dan dibesarkan olehnya."

Sasuke menarik napas berat. "Aku mencintainya lebih dari aku mencintai keluarga asliku. Ia selalu membelaku..."

Iris jelaganya menatap miris nisan yang tertulis nama ayah angkatnya. "Ia selalu membuatku kenyang walau ia sedang lapar."

Tanpa Hinata sadari, ia telah menyentuh lengan pria itu. Sedangkan Sasuke terus meracau akan kesedihannya. "Ia selalu membelikanku mainan walau ia tak punya uang untuk dirinya."

Air mata mulai jatuh di kedua mata Sasuke. Ia merasakan hatinya terasa berat. Ia menangis sesenggukan.

"Ia selalu mendahulukan urusanku dibanding urusan keluarganya."

Sasuke menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, berusaha meredam raungannya. "Dan ia selalu membelaku di hadapan semua Uchiha."

Hinata menatap Sasuke sendu. Ia mengusap perlahan pundak lebar pria itu. "Tenanglah."

"Kau tak mengerti, Hinata..."

Sasuke mulai meremas surainya frustrasi. "Dan orang yang paling kucintai di dunia ini pergi. Pergi dengan begitu cepat, meninggalkan diriku yang lemah ini."

"Dan lagi-lagi membuatku tak punya harapan dan kesepian."

Dengan gerakan yang tidak bisa diprediksi, Hinata memeluk Sasuke erat. Membuat pria itu bersandar pada pundak wanita itu. Hinata melepaskan jambakan Sasuke pada surainya sendiri dan mengalihkan tangannya untuk memeluk pinggang Hinata. Jari-jari lenting Hinata mengusap surai raven itu lembut, menghantarkan ketenangan di dalam gejolak emosi Sasuke.

Pelukan Sasuke kian mengerat, membuat tubuh mereka semakin menempel yang justru menghantarkan rasa hangat pada hawa dingin yang kian menusuk dan ketenangan di antara keduanya. Perlahan napas Sasuke mulai teratur, walau sesenggukan itu masih ada.

"Hinata... aku mencintainya. Aku sangat mencintai orang itu. Aku merasa begitu kesepian setelah orang itu pergi."

Sasuke semakin melesakkan wajahnya di perpotongan leher Hinata, berharap aroma tubuh wanita itu dapat menenangkannya. "Hinata... aku tak ingin berpisah dengannya. Aku belum sempat membalas kebaikannya."

Melihat reaksi Sasuke, Hinata mengeratkan pelukannya, ia tetap mengusap surai lembut Sasuke dan terkadang beralih ke punggungnya. "Hinata... aku merindukannya. Aku merindukan orang itu."

Perlahan, Sasuke melepaskan pelukannya. "Aku sangat merindukannya. Aku merindukan sosok yang seharusnya menjadi ayah kandungku."

Pria bermarga Uchiha itu menatap Hinata sambil menggenggam kedua tangan wanita itu. "Aku sangat merindukan Uchiha Obito."

.

.

.

Hinata kembali ke rumah Sasuke. Ia mengecek ponselnya dan ternyata ponselnya dipenuhi oleh panggilan tak terjawab dari ibunya. "Kenapa ibu menghubungiku?" Ada rasa tegang dan ketakutan yang melanda dirinya.

Sebuah tepukan pelan menyadarkan Hinata. Hinata mendongak dan menemukan sepasang mata yang menatapnya datar.

"Ada apa?"

Hinata menyembunyikan ponselnya. "Bukan masalah besar."

"Apa itu dari ibumu?"

Deg

Sasuke menyeringai. "Kau tak bisa menipuku, Hyuuga."

Sasuke mengusap puncak kepala Hinata. "Jika kau takut hubungi aku." Sasuke berbalik dan meninggalkan Hinata. "Cobalah hubungi ibumu. Aku yakin ia memiliki tujuan yang baik."

Sasuke menghentikan langkahnya saat membuka pintu. "Sebenci-bencinya kau pada ibumu. Jangan mengabaikan dia. Karena kau memiliki hubungan darah dengannya."

"Sasuke-san, lalu bagaimana denganmu? Bagaimana hubunganmu dengan aya–"

"Itu bukan urusanmu."

Blam

Pintu tertutup menyisakan keheningan di ruangan luas itu. Hinata menatap kembali ponselnya. Ia menekan dial. Nada sambung mulai terdengar.

Pik

"Nak?" suara sosok yang Hinata hubungi terdengar serak.

Hinata menggigit bibirnya pelan. "Ada apa, Bu?"

Suara tarikan napas lelah terdengar jelas. "Bisa kau temui ibu sebelum kau kerja?"

Hinata tersentak. Tidak biasanya ibunya bertingkah seperti itu. "Apa tidak apa-apa?"

"Ada yang ingin ibu sampaikan. Dan percayalah, hal itu lebih penting dibanding dengan pekerjaanmu, Nak."

.

.

.

Hinata memakai setelan kerjanya yang sudah dicuci bersih. Setelah mengenakan pakaian dan menyapukan makeup tipis, Hinata keluar dari kamar tamu rumah Uchiha dan berjalan menuju dapur. Di sana ia mendapati wanita paruh baya yang ia tahu bernama Rin sedang memasakpancake.

"Selamat pagi, Nyonya Uchiha."

"Ah, pagi."

Setelah sapaan itu, dapur minimalis tersebut langsung sepi. Hanya mesin-mesin yang digunakan ketika memasak.

Hinata merasa kaku dan tegang. Tidak biasanya ia merasa secanggung ini. Hinata berdeham. "Maaf jika saya tidak bisa membantu. Saya tidak bisa memasak."

Wanita paruh baya itu langsung berbalik. "Apa?! Benarkah itu?"

Hinata mengangguk canggung. Sedetik kemudian tangannya ditarik oleh wanita paruh baya tersebut. "Kenapa kau tidak bilang dari awal? Akan kuajarkan kau bagaimana caranya memasak."

Hinata mengangguk canggung. "Ah, iya, Nyonya."

Rin menyenggol lengan Hinata. "Santai saja. Panggil aku, Ibu."

Hinata menggigit bibirnya sejenak. "Ah, Ibu."

Rin tersenyum lebar. "Nah. Itu baru benar. Sekarang coba balikkan adonan ini."

Hinata mengambil sudip yang diberikan Rin dan mengikuti intuisinya. "Seperti ini?"

"Benar! Seperti itu!" Rin mulai membuat jus jeruk. "Kau harus sering-sering kemari. Akan kuajarkan semua resep yang kuketahui."

Wajah Hinata berseri-seri. "Terima kasih, Bu."

"Usiamu sudah cukup matang. Dan kau harus pandai-pandai memasak agar dapat memasakkan makanan untuk suamimu nanti."

Tanpa Hinata sadari wajahnya memerah. Ia mengangguk kikuk. "B-baik, Bu." Melihat kegugupan Hinata, wanita itu tertawa renyah.

Kedua wanita itu pun melanjutkan acara masak-memasak untuk sarapan. Mereka tak menyadari kehadiran sosok pria yang bersandar pada pintu dan mengamati kedua wanita itu saling berkolaborasi untuk menyiapkan sarapan hari itu. Ah tidak, lebih tepatnya iris jelaga pria itu hanya tertuju pada wanita muda yang memiliki gerakan kaku saat memasak.

Pria itu kemudian memasuki dapur yang merangkap sebagai ruang makan. Sambil menenteng koran dan jas kerjanya, ia mengambil salah satu tempat duduk dari 4 tempat duduk yang tersedia.

Pria yang bernama Sasuke itu membaca koran yang ia bawa. Namun irisnya tak henti-henti menatap Hinata. Bagaimana pinggul wanita itu bergerak, bagaimana ia tertawa, dan bagaimana ia tersenyum sopan, serta cara ia melakukan segala sesuatunya dengan anggun.

Sasuke menghela napas kasar. 'Kontrol dirimu, Sasuke!'

Trak

"Silakan diminum kopinya, Sasuke." Sasuke terpaku sejenak sebelum akhirnya ia memalingkan wajah. Apa yang sebenarnya ia lihat? Ia benar-benar terpukau dan nyaris menarik wanita itu ke pelukannya. Sungguh, apakah wanita itu sedang menguji kesabarannya kali ini? Senyuman yang ia lihat beberapa detik lalu adalah senyuman terindah yang pernah ia lihat selama ini.

Sasuke menggelengkan kepalanya. Berusaha kembali fokus. Sebuah tepukan mengenai pundaknya.

"Yo, Suke. Kau mau ngantor?"

Sasuke memutar mata, bosan. "Hm." Sasuke kembali membaca koran pagi hari.

Anko menggoyang-goyangkan pundak Sasuke lalu berbisik. "Bagaimana menurutmu pakaian yang ia kenakan tadi? Seksi, bukan?"

Sasuke berpikir sejenak, seingatnya ia hanya melihat Hinata mengenakan jaket besarnya. Sasuke mengabaikan pertanyaan Anko. "Terserah."

Anko berdecak sebal. "Sudah kuduga, kau pasti mengincar fisik wanita itu, kan?"

Sasuke menatap Anko kesal. "Diam kau." Lalu ia kembali membaca korannya.

Anko mengerucutkan bibirnya. "Dasar munafik."

"Terserah."

Sedetik kemudian, suara ceria mengisi dapur dan menghilangkan aura kesal di antara Uchiha bersaudara.

"Tadaaaaaa~ Sarapan sudah jadi." Rin berseru dengan semangat, lalu ia menghidangkan menu sarapan pagi itu.

Sasuke segera melipat korannya dan meletakkan di meja. Ia membantu ibu angkatnya menata sarapan.

Anko menatap kagum hidangan di depan matanya. "Wah, wah. Banyak sekali menunya, Bu."

Rin merangkul pundak Hinata yang juga ikut membantu Rin menghidangkan sarapan di atas meja. "Tentu saja. Karena ibu dibantu dengan wanita yang sangat cantik ini." Rin mengerling pada Sasuke.

Sasuke yang mengetahui maksud tujuan ibunya hanya memutar mata bosan. Ia lalu kembali duduk. Ia kembali duduk di samping Anko.

"Ankoooo, duduklah bersama ibu. Biar Hinata duduk bersama Suke." Mengetahui kode-kodean Rin, Anko langsung bergerak cepat dan duduk di samping Rin.

Sasuke menatap ibunya tajam, menggeram dalam hati. "Ibu..."

Rin seolah tidak mengetahui aura hitam Sasuke. Ia menatap Hinata dan tersenyum hangat. "Duduklah, Nak."

Hinata mengangguk sopan. "Baik, Bu." Ia lalu memposisikan dirinya duduk di samping Sasuke. Karena tempat duduk yang berdekatan, tanpa sadar paha keduanya bersentuhan.

"Ah, maaf."

"Hm." Dalam hati Sasuke berusaha mengalihkan pikirannya akan kejadian tadi malam. Ia lalu menatap Rin dan Anko yang menatapnya penuh arti.

Sasuke menghela napas. "Ayo sarapan."

.

.

.

Suasana mobil hitam Sasuke tanpak hening. Tidak ada niatan untuk membuka percakapan. Hinata yang menatap keluar jendela dan Sasuke yang fokus mengendarai. Sampai akhirnya Hinata yang jengah dengan berbagai spekulasinya memutuskan memecah keheningan di antara keduanya.

"Maaf jika aku menyinggungmu tadi."

Sasuke mendengus. "Apa sekarang Hyuuga hanya bisa minta maaf? Kau tak memiliki ekspresi selain meminta maaf?"

Rahang Hinata mengeras, ia mencengkram rok kerjanya. "Apa Uchiha seangkuh itu hingga tidak menerima maaf seseorang? Dan wajar jika seseorang meminta maaf jika melakukan kesalahan?"

Sasuke menatap Hinata sekilas. "Jika kau yang minta maaf tidak wajar."

Hinata menggertakkan giginya. Ia mengalihkan pandangannya. Ia menenangkan napasnya yang memburu karena menahan emosi.

Mobil perlahan berhenti saat lampu merah menyala. Sasuke mengusap surai Hinata lembut. Membuat empunya menoleh.

"Kau telah berubah Hinata. Pertahankan itu."

.

.

.

Hinata menarik napas pelan. Menenangkan degup jantungnya yang bergemuruh. Perlahan tapi pasti, ia mengetuk pintu CEO, tempat ibunya berada.

"Masuk." Hinata memasuki ruangan. Ia membungkuk hormat dan mengucapkan salam.

"Kemarilah, Hinata." Langkah kaki Hinata terasa berat dan kaku, keringat dingin mulai membasahi seluruh tubuhnya, debaran jantungnya yang menggila dapat ia dengar dengan jelas.

Sesampainya Hinata berada di meja Hikari, ia menatap ibunya datar. "Ada apa, Bu."

Hikari tersenyum tipis. "Tidak usah sekaku itu, Nak." Hikari lalu mengambil barang di laci mejanya.

Hinata diam, menunggu Hikari. Ia memperhatikan wajah Hikari. Ia menahan keterkejutannya kala melihat kantung mata dan jejak air mata di wajah wanita paruh baya itu.

Hikari menyodorkan amplop berbentuk persegi panjang ke arah Hinata. Hinata menerimanya dengan baik. "Bacalah."

Hinata membuka amplop itu, ia membaca cepat tulisan yang tertulis rapi di sana. Ia menatap ibunya dengan pandangan terkejut. "Apa maksud, Ibu?"

Hikari tersenyum tipis melihat keterkejutan Hinata. Ia beranjak dari kursinya dan berjalan ke arah Hinata yang tampak tak gentar di hadapannya.

"Kenapa Ibu menuliskan ini? Kenapa Ibu ingin menyerahkan posisi Ibu kepadaku, Kenapa–"

Hikari menyentuh pundak Hinata. "Ibu berhenti. Ibu akan menyerahkan segala aset Ibu kepadamu. Rawatlah itu dengan baik-baik, Nak."

"Kenapa Ibu melakukan ini? Kenapa?!" seru Hinata tidak terima. Ia merasa janggal dengan perbuatan Ibunya yang tiba-tiba. Ia merasakan firasat buruk.

Hikari mengusap surai Hinata lembut. "Ibu akan menebus dosa Ibu selama ini."

Iris keperakan Hikari berkilauan karena air mata yang ia tahan. "Ibu akan berhenti menjadi Ibumu."

Hinata membelalakkan matanya terkejut. "Apa maksud Ibu? Kenapa Ibu melakukan ini?!"

Air mata tumpah sudah. Hikari tak lagi bisa menahannya. "Maafkan Ibu, Nak. Maafkan Ibu selama ini. Maafkan Ibu yang tidak bisa menjadi Ibu yang baik."

Hikari menatap Hinata nanar. "Maafkan Ibu, Hinata."

Tanpa sadar air mata Hinata tumpah ruah. Ia merasakan dirinya kosong. Kilas balik masa lalu kembali menghantuinya. Sikap ibunya yang jauh berbeda dengan saat ini.

"Maafkan Ibu. Walau Ibu tahu sulit bagimu memaafkan Ibu."

Hinata teringat kembali tamparan, cambukan, dan cercaan ibunya kepadanya. Melihat Hinata yang menatapnya dengan pandangan kosong membuat Hikari semakin menangis. Rasa bersalah semakin menumpuk dalam hatinya.

Inikah yang ingin ia lihat? Rasa kosong seorang robot Hyuuga oleh darah dagingnya sendiri? Inikah yang ia banggakan? Seorang Hyuuga yang tidak memiliki emosi?

Memikirkan berbagai pertanyaan itu membuat Hikari sedih. Ia menangis tersedu-sedu melihat kekacauan pada anaknya. Hingga ia tak bisa lagi menumpu berat tubuhnya, ia jatuh merosot. Hikari tetap menangis sambil mencengkram kedua kaki Hinata.

"Maafkan Ibu, Nak. Maafkan segala kesalahan Ibu. Lakukanlah apa yang ingin kau lakukan pada Ibumu ini!"

Hikari menunduk, menatap lantai marmer yang dingin. Pikirannya sudah kacau. Ia hanya berharap ada secercah cahaya di hati Hinata untuk memaafkannya. "Maafkan Ibu, Nak..."

"Kenapa... kenapa Ibu melakukan itu semua padaku?"

Hikari mendongak, menatap Hinata yang merasa hampa. "Maafkan Ibu... Maafkan ibu..."

Hinata langsung berlutut, mengikuti ibunya. Ia mengguncang tubuh Hikari. "Kenapa ibu menyiksaku?! Kenapa ibu membuatku melakukan semua hal berat itu padaku?!"

Hikari memejamkan matanya, tak ingin melihat raut kesakitan Hinata. "Maafkan aku, Hinata... Maafkan ibu..."

Hinata menatap Hikari penuh emosi sambil terus mengguncang-guncangkan tubuh Hikari. "Kenapa ibu membuatku tidak memiliki emosi?! Kenapa bu?! Kenapa?!

Hikari mulai membuka matanya, ia mencengkram lengan Hinata. "Maaf... maafkan Ibu, Hinata. Kumohon... maafkan ibu."

Hinata mulai melonggarkan cengkramannya pada pundak Hikari. Ia menatap Hikari nanar. Sekujur tubuhnya terasa lemas. "Dan kenapa Ibu... Ibu mengambil masa mudaku?"

Hikari hanya menatap Hinata sambil terus menangis sesenggukan. Ia semakin menyadari bahwa semua perbuatannya adalah perbuatan yang buruk. "Kenapa Ibu..."

Hinata menggenggam tangan Hikari erat. "Kenapa Ibu tidak membiarkan aku memiliki teman?!"

Hinata kembali menangis, ia berusaha mengeluarkan unek-unek di dadanya. Ia menangis keras. "Aku tersiksa, Bu! Aku kesepian! Ibu tahu rasanya terluka tapi tak ada tempat bergantung?! Ibu menjauhkanku dari kebutuhan batinku! Membuatku tak punya teman dan emosi!"

Hikari menepuk pundak Hinata pelan. Ia menatap sedih anaknya yang sangat kacau dari segi mental. "Hinata..."

Hinata menatap ibunya penuh kebencian. "Dan membuatku tak bisa merasakan kasih sayang seorang Ibu!" Hinata memukul dadanya yang terasa sangat sakit.

Hinata menangis kencang, meraung-raung. Mengeluarkan semua beban di hatinya. Berusaha mengeluarkan rasa tangis yang ia pendam selama bertahun-tahun. Rasa ingin menangis tapi tertahan karena anggapan bahwa itu adalah hal yang percuma.

Sampai di suatu titik, Hinata menatap ibunya lagi. Ia menatapnya yakin dengan wajah yang kacau karena terlalu banyak menangis. "Aku... aku tak bisa memaafkanmu, Bu."

Deg

Dunia Hikari merasa hancur seketika. Ia menatap Hinata kosong. Ia menarik napas berat dan melepaskan cengkraman Hinata pada tangannya. "Tidak apa-apa, Nak. Ibu sudah me–"

"–Aku tak bisa..." Hinata mengusap wajahnya. Lalu ia kembali menatap Hikari datar. "Apapun alasannya, aku tak bisa memaafkanmu."

Hikari menunduk, ia menatap buku-buku jarinya. Ia sudah mengetahui kenyataannya, namun jauh dari lubuk hatinya, ia merasakan sakit yang luar biasa akibat penolakan Hinata.

Hinata menyentuh dagu Hikari, agar kedua mata mereka saling bertatapan. "Tapi, ibu tahu? Aku tak bisa menghapus predikatmu sebagai Ibuku."

Hinata mengulas senyum hangat. Ia menyentuh kedua pundak Hikari dengan kedua tangannya. "Bagaimanapun dirimu bertindak, kau tetap Ibuku."

Air mata kembali turun membasahi pipi Hikari. Terus mengalir tanpa henti. Sesekali diiringi dengan isakan lembut wanita paruh baya itu. "Hinata... izinkan ibu memelukmu. Izinkan ibu memberikan kasih sayang padamu."

Hikari melepaskan pegangan tangan Hinata pada kedua pundaknya kemudian meremas pelan tangan anaknya itu. "Izinkan ibu–"

Bruk

Hinata langsung menerjang ibunya. "Maaf jika aku bukan anak yang sempurna."

Hikari tersenyum tulus. Ia mengusap punggung Hinata. "Kau anak yang sempurna. Kau adalah anakku yang paling sempurna. Kau tak pernah mengecewakan ibu. Kau Hyuuga sejati yang sesungguhnya."

Keduanya saling menangis. Namun bukan tangisan kesedihan namun tangisan kerinduan. Kerinduan seorang anak yang tak bisa merasakan kasih sayang ibunya dan kerinduan seorang ibu yang tak bisa menyalurkan rasa kasih sayangnya pada anaknya.

"Nak, maafkan Ibu."

.

.

.

Hikari menggeret kopernya dan berjalan menuju mobil audi putihnya. Ia mengusap ingusnya kasar. Tangannya bergerak cepat untuk menghubungi seseorang.

"Batalkan pengintaian pada Sasuke Uchiha."

Setelahnya, Hikari segera memasuki mobilnya, ia mengusap wajahnya dan membuang ingusnya dengan tisu yang berada di mobil.

Ia memutuskan untuk mengambil pengobatan psikologis dan akan melakukan penebusan dosa di Kuil Hyuuga yang berada di puncak gunung Konoha, tempat dimana kediaman utama Hyuuga yang ditinggalkan berada.

Ia berniat untuk menebus dosanya agar ketika ia bertemu dengan Hinata dan keluarganya lagi, ia dapat melakukan berbagai hal bersama tanpa beban.

Sebelum Hikari menyalakan mesin mobilnya, ia kembali menyalakan ponselnya untuk memberi pesan pada seseorang.

From : Hikari Hyuuga

To : Sasuke Uchiha

Jagalah anakku selama aku tidak ada, bocah.

.

.

.

Hinata kembali bertemu dengan Sasuke yang menjemputnya. "Sasuke!" dengan gerakan cepat Hinata menuruni tangga teras perusahaannya. Ia segera menghampiri Sasuke. Wajahnya berseri-seri.

"Terima kasih. Terima kasih atas segalanya." Hinata membungkukkan badannya.

Hinata menggenggam kedua tangan Sasuke dan menggoyangkannya pelan. "Akhirnya aku dan ibuku berbaikan. Terima kasih, Sasuke."

Sasuke tersenyum tipis. "Tidak perlu berterima kasih. Aku hanya ingin menyelamatkan diriku yang lain." Ia melepaskan genggamannya pada Hinata, kemudian mengusap puncak kepala Hinata pelan.

Keduanya saling bertatapan. Tak ada niatan untuk melepaskan kontak mata atau membuka percakapan. Hanya bertatapan yang menghantarkan rasa nyaman keduanya.

Hingga akhirnya Sasuke yang akhirnya tersadar dari delusi indahnya. Ia berdeham, ia menggenggam tangan Hinata. "Aku akan mengajakmu makan malam."

Hinata menahan tangan Sasuke. "Kali ini aku yang traktir." Hinata tersenyum hangat pada Sasuke.

Sasuke merasakan kehangatan pada pancaran senyuman wanita itu. Ia tersenyum tipis melihat Hinata yang tampak sangat indah di matanya.

Deg

Namun, kehangatan dari senyuman itu pudar. Jantungnya yang berdenyut nyeri menghantarkan rasa sakit kala melihat senyuman indah Hinata. Karena tiba-tiba ia teringat bahwa tidak seharusnya ia bersama dengan Hinata. Tidak seharusnya ia membantu Hinata.

Dan tidak seharusnya ia dengan mudahnya terpesona pada wanita itu. Karena ia tahu, ia hanya akan membuat orang-orang di sekelilingnya merasa sakit, sedih, dan kecewa. Karena ia tahu bahwa Hinata akan kecewa jika terus bersamanya.

.

.

.

Hyuuga's Arc END

.

.

TBC

A/N

Finallyyyyy arc Hyuuga sudah selesai. Dan kini kita akan maju ke arc Uchiha, yey! Terima kasih telah mengikuti Hope and Prisoner hingga saat ini. Bentar lagi tamat kok~~ kabar gembiranya kemungkinan saya bakal update minimal 2-3 kali dalam sebulan. Jadi doakan tugas sekolah cepet kelar yaaa TT_TT

Oh ya, untuk yang UN, semangat yaaaa~~ Lulus Lolos 100% uhuuuy

Sekian dari saya, ciao!

Sebelum itu, baca dulu preview arc Uchiha~~

.

.

.

Arc Uchiha

.

"Kenapa Sasuke lama sekali?"

.

"Kenapa kau tak mau menjenguknya?! Ia juga anakmu!"

.

"Aku tidak akan menikahinya. Dan keputusanku mutlak."

.

"Permainan baru saja dimulai, Nak."

.

.

.