Chapter 9: Honesty
Kini keberadaan Hinata dan Naruto berada di taman belakang Rumah sakit Konoha. Dibawah pohon yang rindang dengan suasana yang sejuk serta bunga bunga yang menghiasi keindahan taman itu.
Naruto duduk dibangku dan berhadapan dengan Hinata yang duduk di kursi rodanya. Lama mereka tidak begeming sampai suatu suara memecah keheningan dianatara mereka.
"Eeeuummmm Hinata?" tanya Naruto.
"Iya Narutokun." Jawab Hinata menengokkan kepalanya kearah Naruto.
"Begini sejak kapan kau berprofesi sebagai mafia?" Tanya Naruto to the poin membuat Hinata membulatkan matanya.
"Oh itu. Gomen Narutokun aku sudah membohongimu" ucap Hinata seraya menunduk.
"Tidak apa apa, kaukan sudah menyelamatkanku dari insiden penembakan itu dan kau juga telah mengatakan bahwa ini ada alasannya. Dan aku inginkan jawaban dari alasan yang waktu itu kau lontarkan" ujar Naruto terlihat tegas dan seraya menggenggam tangan putih Hinata.
"Baiklah aku akan jujur dan menceritakannya..."
Flashback ON
Suasana yang tegang kini tengah menyelimuti keluarga besar Hyuga. Dimana kini rumah mewah beserta isinya itu tengah diporak porandakan oleh beberapa pihak yang menyangkut perusahaan Hyuga.
Pasalnya keluarga Hyuga mempunyai sebuah perusahaan dan bekerja sama dengan beberapa orang yang menyimpan dana di perusahaan Hyuga tersebut.
Tapi dengan satu kesalahan yang dilakukan Hiasi mampu membuatnya terbalik. Hiasi tertipu dengan orang yang telah berjanji akan mengembangkan lebih lagi perusaannya. Namun apa yang diharapkan tidak pernah terjadi, Hiasi tertipu oleh orang yang mengiming imingkan hal tersebut.
"Pokonya kami ingin uang kami kembali"
"Balikan uang kami Hiasi"
"Kalo tidak kami akan menghancurkan semua rumahmu"
"Cepatlah Hiasi"
Ya begitulah kira kira ucapan yang mereka lontarkan untuk Hiasi.
Hinata yang waktu itu masih kelas 1 SMA tidak tahu harus berbuat apa. Dengan takutnya dia duduk di balik pintu kamarnya.
"Hiasi. Aku akan membantumu tapi berjanjilah kau dan keluargamu akan membantuku juga" ucap salah seorang pria berbadan cukup berisi memakai kacamata hitam dan setelan serba hitam. Menghampiri Hiasi.
Hiasi nampak berpikir pasalnya dia juga tahu bahwa orang ini adalah petinggi MAFIA. Dan tanpa pikir panjang memikirkan resiko yang akan terjadi Hiasi menerima bantuannya dan berjanji akan membantunya kembali.
Selang selama 1 minggu setelah kejadian itu kediaman Hiasi nampak dalam keadaan normal kembali. Dan pria yang waktu itu membantunya datang untuk membicarakan sesuatu.
Seketika Hiasi menyuruh ketiga anaknya untuk ikut bergabung.
"Hiasi kau masih ingatkan perkataanku waktu itu? Kau sudah berjanji bukan akan membantuku?" Ucapnya penuh dengan ketegasan.
"Iya aku masih ingat. Baiklah apa yang bisa saya bantu?" Tanya Hiasi terlihat penasaran.
"Begini, kau tahukan aku adalah petinggi mafia? Dan aku ingin kau dan ketiga anakmu ini membantuku dan anggota mafia lainnya untuk menjalankan operasi ini" ucapnya.
Seketika Neji Hinata dan Hanabi menengok ke arah ayahnya yang bersiap untuk memberikan jawabannya dan tanpa mereka bayangkan ayahnya menyanggupi tawaran itu.
"Baiklah saya menerimanya untuk balasan anda telah membantu saya. Tetapi tidak untuk dia 'Hiasi menunjuk Hanabi' dia masih kecil aku mohon hanya kami bertiga saja. Bagaimana?" Tanyanya pada petinggi mafia itu.
"Eeuummm baiklah saya setuju"
Bagaikan ada jarum yang menghujam hati Hinata setelah mendendengar kenyataan ayahnya itu. Bagaimana tidak ayahnya tega menyuruhnya dan kakaknya untuk menjadi seorang mafia? Melakukan tindak kejahatan? Sungguh kejam.
Setelah kepergian para mafia itu kini Hiasi membicarakan kembali kepada kedua anaknya yang akan menjadi mafia.
"Tou san tahu ini adalah keputusan yang sulit bagi kalian. Tapi tou san harap kalian bisa memakluminya, karena tanpa bantuannya kita tidak akan bisa mengembalikan perusahaan kita." Ujar Hiasi menjelaskan semuanya.
"Tapi tou san bagaimana dengan masa remajaku sekolahku?" Tanya Hinata penasaran.
"Kau bisa berhenti dulu dan mempelajari tentang kemafiaan ini" ucap Hiasi dengan tatapan dinginnya.
Hinata hanya bisa menghela nafas kala ayahnya sudah seperti ini. Sifat keras kepalanya tidak akan pernah bisa luluh walaupun oleh anaknya sendiri.
Hari demi hari bulan demi bulan bahkan sampai hampir dua tahun Hinata habiskan dengan kegiatannya sebagai mafia.
Namun Hinata tampak terpaksa melakukannya dan tidak membantu banyak dalam hal itu. Hinata ingin masa remajanya seperti orang lain bisa bebas melakukan apapun.
Setiap hari Hinata selalu saja menangis sehabis pulang dari tugasnya yang sangat melelahkan itu.
Flashback Off.
"Ya seperti itulah hidupku. Menyedihkan terikat oleh tugas yang sama sekali tidak aku inginkan. Apalagi ketika kaa san meninggal makin menyedihkan saja hidupku tanpa ada yang membantu keluh kesahku" ucap Hinata seraya menitikan air matanya dan tersenyum tanpa menoleh pada Naruto.
Naruto yang mendengar dan melihat kekasihnya seperti itu merasa terenyuh hatinya, merasa iba akan kesedihan yang dihadapi kekasihnya ini. Naruto ingin melihat kekasihnya bahagia tanpa ada yang harus menghalangi jalannya.
Dan dengan hati hati Naruto mengusap air mata yang terus saja mengalir di kedua pipi putih Hinata.
Hinata yang diperlakukan seperti itu terkejut melihat Naruto.
"Maafkan aku karna aku tidak tahu kalo kondisinya seperti ini. Aku berjanji akan membahagiakanmu selamanya Hinata. Dan akan membebaskanmu dari kegiatan itu. Sekarang sudah ya nangisnya" ucap Naruto masih menggenggam tangan Hinata dan menghapus air mata Hinata.
"A...arigato Na...narutokun aku percaya dengan janjimu. Mulai dari sekarang aku akan berhenti" ucapnya membalas tatapan Naruto.
Dalam suasana yang sangat hangat kedua insan itu tengah merasakan kebahagiaan mereka bersama tanpa pernah tahu apa yang akan terjadi nanti.
Tbc...
A/N
