Baehkyun memainkan kertas di tangannya, tiket pesawat atas nama dirinya. Kris tidak bermain-main ketika mengatakan tawarannya untuk kembali ke Hong Kong, terbukti dengan tiket yang baru saja sampai di tangannya beserta sebuah pesan singkat di ponselnya bahwa ia akan segera mendapatkan pekerjaan begitu sampai disana. Gadis itu menghembuskan nafas berat, sekarang tinggal keputusan pada dirinya. Sejujurnya ia tidak pernah memikirkan untuk kembali ke Hong Kong, ia bahkan tidak memikirkan apa yang harus dilakukannya setelah ini.

Baekhyun mengerti bahwa hal yang dilakukannya berdampak besar dalam hidupnya. Entah kehidupan seperti apa yang akan dijalaninya setelah ini - ia bertaruh terlalu besar terhadap hidupnya ketika memutuskan untuk menikahi Chanyeol - belum lagi mengenai keluarganya dan keluarga Chanyeol. Tidak satupun pihak keluarga mereka tahu apa yang terjadi. Bahkan dengan konyolnya ia dan Chanyeol masih berusaha menyembunyikannya ketika ulang tahun ayah Chanyeol tempo hari.

"Unnie" Kalau sudah begini, Luhan yang akan menjadi sasaran kegalauannya.

Luhan yang merasa dipanggil mengalihkan tatapannya dari televisi dan menatap Baekhyun yang juga menyandar di sofa disebelahnya.

"Apa?"

"Apa yang harus kulakukan?" Baekhyun menyadari matanya berkaca-kaca dan ia mengutuki hal itu. Setiap hal kecil sekarang mampu menggugah air matanya, ia terlalu sensitif. Padahal biasanya ia tidak secengeng ini.

Luhan ikut menghembuskan nafas. Pemandangan Baekhyun yang terlihat merana seperti ini bukan hal baru lagi. Terhitung sejak bermasalah dengan Chanyeol, raut ceria gadis itu seakan ditarik dari wajahnya. Jadi meskipun Baekhyun mencoba tersenyum lebar didepannya, mata lihai Luhan masih bisa melihat raut kesedihan itu. Belum lagi kantong hitam dibawah mata Baekhyun yang semakin hari terlihat semakin mengerikan.

"Ini hidupmu, Baek, jangan bertanya padaku. Tanyakan pada hatimu sendiri. Hal seperti ini bukan sesuatu yang bisa kuputuskan untukmu."

"Unnieee" Bibir Baekhyun mencebik dan air matanya semakin mengancam untuk menetes.

"Aku serius. Sadarilah, kau bisa mengambil keputusan besar ketika menikah. Seharusnya kau juga bisa mengambil keputusan lagi sekarang. Bertanggung jawablah atas keputusanmu dulu."

Baekhyun ingin membantah Luhan tapi ia tidak bisa menemukan bantahan apapun. Meskipun terdengar sedikit kejam, perkataan Luhan memang benar. Ia hanya terlalu takut mengambil keputusan, takut akan salah lagi. Ia mempertaruhkan hidupnya ketika memilih untuk bersama Chanyeol, berjudi dengan harapan bahwa ia akan memenangkan taruhannya. Namun ternyata ia kalah dan lihatlah sekarang betapa kacaunya ia karena kekalahan itu.

"Haaahh, kurasa aku benar-benar kacau" Baekhyun terkekeh mentertawakan dirinya sendiri.

Tawa itu pahit sehingga membuat Luhan bergerak memeluk Baekhyun. Ia mengelus punggung gadis itu, membuat tawa Baekhyun berhenti dan air matanya kembali menggenang.

"Kau bisa memutuskan yang terbaik untuk dirimu sendiri, Baekki. Aku tahu kau bisa."

Baekhyun mengangguk dalam pelukan Luhan sehingga air matanya akhirnya jatuh menetes di pipinya. Ia benci dirinya yang seperti ini, ia benci dirinya cengeng. Dan kebencian atas dirinya memberinya kekuatan untuk memutuskan pilihannya. Ia mengusap air matanya kasar.

"Unnie" Ia memanggil dan bergerak melepaskan diri dari pelukan Luhan hingga kedua gadis itu sekarang bertatapan.

"Aku sudah memutuskan."

"Ya?" Luhan tanpa sadar menahan nafasnya mengantisipasi keputusan Baekhyun.

"Hong Kong bukan tempat yang buruk, apalagi aku pernah tinggal disana. Aku tidak akan menyia-nyiakan tiket itu" Ia menatap tiket pesawat di meja didepannya.

Luhan menghembuskan nafasnya. Baekhyun memutuskan untuk pergi dan meskipun keputusan Baekhyun membuatnya sedih, ia mendukung keputusan gadis itu. Mungkin tetap tinggal disini lebih lama justru akan berdampak lebih buruk bagi Baekhyun.

"Baiklah. Kau melakukan hal yang benar" Ia mengusap-usap kedua lengan Baekhyun menunjukkan dukungannya. Sial, justru sekarang ia yang merasa ingin menangis.

Disisi lain Baekhyun justru tidak ingin menangis lagi. Membuat keputusan selalu menjadi hal paling sulit dan paling menyakitkan baginya, namun begitu ia memutuskan sesuatu Baekhyun tahu menjalaninya tidak akan sesulit itu lagi. Ia menyadari satu keputusan yang dibuatnya akan merubah lagi hidupnya. Namun kali ini tidak ada lagi gambling, karena tidak ada yang dipertaruhkannya. Ia hanya berusaha menyusun lagi hidupnya.

Mungkin bukan memulai dari awal, tidak akan pernah ada awal lagi. Ia tidak akan pernah melupakan apa yang terjadi di hidupnya. Tapi kembali ke tempat itu berarti kembali ke saat dimana tidak ada Chanyeol dalam hidupnya, hanya dalam hatinya. Namun kali ini berbeda, jika dulu Chanyeol adalah pangeran masa kecilnya, maka Chanyeol yang ada di hatinya saat ini adalah Chanyeol yang harus dilupakannya. Ia mengangguk membenarkan ucapan Luhan.

"Ada banyak hal yang harus kukerjakan sebelum aku pergi. Aku akan sibuk" Gadis itu tersenyum pada Luhan. Di otaknya tersusun beberapa urusan lagi yang harus dikerjakannya.

.

Hal pertama yang ada dalam daftar Baekhyun tentu saja orang tuanya. Dari semua urusan yang harus diselesaikannya, orang tuanya memiliki tantangan terberat karena ia tahu jika berhasil menghadapi orang tuanya ia akan bisa menghadapi semuanya.

Ia menghela nafas membulatkan hatinya sebelum melangkah masuk kedalam rumah dan mencari ibunya. Hanya dengan menatap rumahnya saja sudah membuatnya merasa sesak.

"Eomma" Baekhyun memanggil ibunya yang sedang mengurusi berbagai tanaman di halaman belakang rumah membuat sang ibu menoleh mendengar panggilannya. Kibum, ibu Baekhyun, membulatkan matanya menatap anak semata wayangnya itu. Ia segera melepaskan sarung tangan karetnya dan berlari menghambur menuju Baekhyun, menenggelamkan putrinya itu dalam pelukannya.

"Baekki-ya, eomma rindu padamu."

Baekhyun menangguk membalas ucapan ibunya. Ia menutup mulutnya rapat-rapat berusaha menahan tangis yang tiba-tiba ingin melesak keluar. Payah sekali, padahal ia sudah berniat untuk tidak menangis lagi, tapi baru di urusan pertamanya dengan sang ibu ia sudah mematahkan niatnya sendiri.

"Kau anak nakal, walaupun sudah menikah kau tetap harus mengunjungi orang tuamu!" Ibunya menepuk bahunya sedikit keras. Baekhyun mengangguk lagi.

"Untung saja aku tidak pergi mencarimu. Aku hampir gila karena merindukanmu!" Pukulan di bahunya sekali lagi dan pertahanan Baekhyun untuk tidak menangis akhirnya runtuh. Air matanya menetes satu per satu, lalu semakin deras dan akhirnya gadis itu terisak.

Kibum menyadari bahu Baekhyun bergetar dan isakan di belakang bahunya, "Omo. Waeyo Baekki-ya? Kau kenapa?" Ia melepaskan pelukannya dan mendorong tubuh Baekhyun menjauh dari tubuhnya agar bisa memperhatikan wajah gadis itu.

"Eommaaa" Baekhyun hanya bisa merengek memanggil ibunya dan kembali menerjang untuk memeluk wanita itu. Kibum yang tidak mengerti apa-apa memeluk menenangkan putrinya itu.

"Tenanglah, eomma disini. Ceritakan padaku, ada apa?" Ia kembali menarik tubuh Baekhyun menjauh, kali ini memegangi kedua sisi wajah Baekhyun dengan tangannya.

Baekhyun masih terisak dalam gengamman tangan ibunya.

"Byun Baekhyun!" Ibunya memanggil namanya, kali ini dengan nada tegas.

Baekhyun mengambil nafas panjang dan dalam untuk menenangkan dirinya lalu mengangguk. Ia membiarkan ibunya menarik tubuhnya kedalam rumah dan mendudukkannya di sofa, menunggu penjelasan atas sikapnya. Lalu Baekhyun mulai bercerita pada ibunya, memotong peran Kyungsoo dalam ceritanya tapi tetap pada intinya bahwa hubungannya dan Chanyeol tidak berjalan baik. Plus keinginannya untuk kembali ke Hong Kong.

Kibum menutup mulutnya menutupi rasa terkejutnya mendengar cerita Baekhyun. Selama ini Baekhyun sama sekali tidak mengeluh perihal rumah tangga padanya, jadi ia menganggap semuanya baik-baik saja. Matanya ikut berkaca-kaca melihat Baekhyun yang harus tersendat isakannya saat bercerita.

"Baekki, apa tidak ada cara lain? Selesaikan masalah kalian baik-baik, jangan pergi seperti ini" Kibum berusaha membujuk Baekhyun.

Baekhyun menggeleng, tidak ada cara lain untuknya. Ia sudah melakukan semua cara yang ia bisa, tapi tidak ada yang berubah. Ia tetap kalah.

"Eomma mohon. Kau ingin eomma dan appa berbicara dengan Chanyeol?"

Baekhyun menggeleng keras kepala, "Jika eomma ingin membantuku, bantu aku berbicara dengan appa."

Kibum mendesah, Baekhyun bukan anak yang sulit. Namun ia bisa berubah keras kepala. Jika itu hanya masalah antara putrinya dan Chanyeol, ia yakin bisa diselesaikan tanpa harus pindah ke luar negeri seperti yang akan dilakukan Baekhyun. Atau memang ada hal lain yang berusaha disembunyikan putrinya itu?

"Baekki, kau tidak menyembunyikan apapun dari eomma, kan?" Selidiknya menatap Baekhyun curiga.

Baekhyun tergagap, membuat ibunya semakin curiga, "Aku tidak menyembunyikan apapun."

Tapi Kibum tidak semudah itu dibohongi. Ia adalah ibu sekaligus orang yang membesarkan Baekhyun, ia mengenal anaknya dengan baik. "Kalau begitu kita akan menyelesaikannya. Tidak dengan cara pergi seperti yang kau rencanakan itu!" Putusnya tegas.

Diluar dugaannya, Baekhyun justru semakin terisak membuatnya merasa iba terhadap anaknya itu.

"Eomma, kumohon izinkan aku pergi" Baekhyun menggenggam tangan Kibum dengan tatapan mengiba. Kibum yang melihat ekspresi wajah Baekhyun merasakan denyut nyeri di dadanya. Apa yang sebenarnya terjadi hingga putrinya bersikap seperti ini?

"Baekki-ya, apa eomma dan appa melakukan kesalahan dengan menyuruhmu menikah dengan Chanyeol?"

Baekhyun tertegun mendengar pertanyaan ibunya. Apa memang kesalahan orang tuanya hal ini sampai terjadi padanya? Ia tidak berniat memikirkan jawabannya.

"Izinkan saja aku pergi eomma. Hanya itu yang kubutuhkan."

Dengan berat hati dan perasaan yang sama hancurnya dengan Baekhyun karena tidak tega melihat putrinya itu, Kibum akhirnya menganggukkan kepalanya.

.

Urusan kedua yang harus diselesaikan Baekhyun setelah menghadapi orang tuanya adalah urusan yang paling membuatnya enggan, tapi tetap saja ia harus melakukannya, setidaknya untuk terakhir kalinya.

Karena itulah ia berada di tempat ini sekarang, melihat anak-anak kecil yang sibuk bermain di taman didepannya. Ia sengaja memilih kursi taman sebagai tempat pertemuan karena tempat ini bisa membuatnya mengurangi rasa sesak yang dirasakannya.

Tidak lama menunggu, seseorang yang akan ditemuinya datang. Ia tidak perlu melihat untuk tahu, cukup dengan merasakan seseorang duduk dengan tenang tepat disebelahnya.

"Ada apa memanggilku?" Suara itu terdengar dingin seperti biasa dan Baekhyun bertanya-tanya dalam hati nada seperti apa yang akan dipakai gadis ini ketika berbicara dengan Chanyeol.

"Kyungsoo-ssi" Ia memulai. "Aku ingin mengatakan sesuatu padamu."

Kyungsoo bergerak tidak nyaman di tempatnya duduk. Posisinya yang berada di atas angin jika dibanding dengan Baekhyun pada kenyataannya tidak mampu membuat gadis itu tenang. Salahkan sikap Chanyeol yang berubah sejak Baekhyun pergi.

"Jika kau sudah memutuskan untuk pergi seharusnya kau benar-benar menghilang."

Baekhyun tersenyum tipis, berusaha untuk tidak terpancing dengan ucapan Kyungsoo. Tujuannya bertemu dengan gadis itu bukan untuk berbuat onar seperti sebelumnya.

"Kau bisa tenang. Aku benar-benar akan menghilang setelah ini."

Kyungsoo membulatkan matanya. Tidak biasanya Baekhyun semudah ini padanya. Ia ingat pertemuan mereka sebelum-sebelumnya yang selalu diisi dengan saling membalas satu sama lain.

"Karena itu kumohon jagalah Chanyeol dengan baik. Aku melepaskannya padamu, jadi jangan sia-siakan itu."

Lagi-lagi kalimat Baekhyun membuatnya terbelalak kaget. Ia tidak menyangka kalimat yang baru saja didengarnya keluar dari mulut Baekhyun.

"A-apa maksudmu?" Kyungsoo bertanya gugup. Ia masih terlalu curiga untuk percaya begitu aja dengan ucapan Baekhyun. Mungkin saja Baekhyun hanya mengejeknya.

Baekhyun mengangkat bahunya, "Tidak ada maksud apa-apa. Satu hal lagi, aku akan meminta maaf karena pernah menganggu hubunganmu dengan Chanyeol. Maafkan aku."

Kalimat itu terdengar ringan keluar dari mulut Baekhyun walapun pada kenyataannya kalimat itu sama sekali tidak ringan. Baekhyun harus mengumpulkan semua kekuatannya untuk bertemu dengan Kyungsoo dan melepaskan Chanyeol pada gadis itu. Kyungsoo-pun seperti itu, kalimat Baekhyun tidak membuatnya tenang, justru membuatnya merasa menjadi orang paling mengerikan di dunia.

"Nah, aku sudah selesai" Baekhyun beranjak berdiri lalu berlalu dari hadapan Kyungsoo begitu saja. Lagi-lagi ia harus menahan air matanya yang kembali menggenang. Karena itu ia cepat-cepat pergi sebelum air matanya kembali jatuh dan ia mempermalukan dirinya didepan Kyungsoo. Disisi lain Kyungsoo masih tetap terdiam lama setelah Baekhyun pergi. Ia tidak tahu apa yang dirasakannya.

.

Baekhyun membereskan urusan lainnya dengan cepat seiring semakin dekatnya tanggal yang tertera di tiket pesawatnya. Dan hari ini adalah saatnya untuk pergi. Luhan dan Tao sedari tadi memperhatikan Baekhyun yang sibuk dengan semua barang-barangnya. Kedua gadis itu memperhatikannya dengan wajah sedih yang ditunjukkan dengan jelas.

"Baek. . ."

"Aku tidak merubah pendapatku. Jawabanku tidak, Tao!" Baekhyun segera memotong bahkan sebelum Tao sempat mengatakan apapun.

"Kau jahat sekali!" Tao berdecak kesal dengan wajah yang dibuat sememelas mungkin.

"Mengantarku ke bandara hanya akan membuang air mataku lebih banyak. Jadi kumohon biarkan aku pergi sendiri. Lagipula Kris ge sudah menunggu disana."

"Kau benar-benar mengabaikan kami karena Kris?" Tao bertanya tidak percaya.

Baekhyun tersenyum kecil, "Apa kau cemburu?"

"Aaish, tidak!"

"Kalau begitu kemarilah, beri aku pelukan!" Baekhyun menghambur memeluk kedua sahabatnya erat. Lagi-lagi ia harus berusaha keras untuk tidak menangis.

"Apa kau yakin Baek?" Luhan bertanya setelah melepaskan pelukannya.

Baekhyun mengangguk, "Masih ada beberapa hal yang harus kulakukan, unnie."

Luhan mengangguk dan ketiga gadis itu kembali berpelukan. Setelahnya ia bergegas memasuki taxi yang sudah menunggunya. Pesawatnya masih beberapa jam lagi, namun masih ada hal yang harus dilakukannya sebelum pergi. Salah satu hal itu adalah kembali kesini, apartmentnya dan Chanyeol.

Ia membuka pintu apartment. Memperhatikan bahwa tempat itu terlihat lebih berantakan daripada saat ia meninggalkannya. Baekhyun menghela nafas lalu tersenyum kecil, Chanyeol memang tidak berbakat dalam hal mengurus barang-barang. Jadi dengan cepat dan sebisanya ia merapikan sekaligus merekam tempat itu dalam otaknya. Hal terakhir yang dilakukannya adalah meninggalkan sesuatu yang memang dibawanya tadi.

Setelah urusan di apartment selesai, ia melakukan satu hal lain yang selalu mengganjalnya. Keluarga Chanyeol. Ia tidak ingin pergi menghilang begitu saja dan menjadi menantu kurang ajar, namun berbicara dengan keluarga Chanyeol bukan hal mudah. Karena itu dipilihnya alternatif terbaik melalui Yixing, kakak iparnya. Setidaknya berbicara dengan Yixing tidak akan sesulit berbicara dengan orang tua Chanyeol. Karena itu waktu yang tersisa menunggu Kris di bandara digunakannya untuk menghubungi Yixing dan bercerita dengan wanita itu. Kali ini ia menceritakan semuanya tanpa menutupi apapun, memohon kepada Yixing untuk bisa memberi tahu orang tua Chanyeol dengan baik.

Setelah pembicaraan dengan Yixing selesai, Baekhyun menghela nafas lega. Bebannya jauh berkurang sekarang walaupun pada akhirnya ia harus tetap pergi.

Selamat tinggal. Berbahagialah, Chanyeol. . .

.

Chanyeol dan Kyungsoo baru saja akan memakan makan siang mereka ketika ponsel Chanyeol bergetar dan menahan suapan pria itu. Chanyol mengambil ponselnya dan menyergit heran mendapati nama kakak iparnya tertera di layar ponsel itu.

"Yeoboseyo"

"Chanyeol, kau dimana?"

Chanyeol semakin menyergit heran mendengar suara panik Yixing. "Aku sedang makan siang. Ada apa, noona?"

"Kau masih bisa makan siang dengan tenang? Dimana pikiranmu, Chanyeol?"

"Aku tidak mengerti. Noona bisa kau jelaskan saja padaku ada apa?"

"Kau tidak tahu? Baekhyun akan pergi Chanyeol-ah."

Chanyeol tersentak dan merasakan jantungnya berdegap sedikit lebih cepat. "Pergi? Pergi kemana maksudmu?"

"Hong Kong. Baekhyun pergi ke Hong Kong siang ini. Kau harus mengejarnya, Chanyeol!"

Wajah Chanyeol mendadak pias dan jantungnya berdegap semakin tidak menentu. Ia memutuskan sambungan telepon tanpa mengatakan apapun dan tangannya langsung meraih kunci mobil yang berada diatas meja.

"Ada apa oppa?" Chanyeol tersadar begitu mendengar suara Kyungsoo.

"Soo, maafkan aku. Aku harus pergi."

"Pergi kemana?"

Chanyeol berdecak tidak sabar dan tanpa menjawab pertanyaan Kyungsoo berjalan keluar dari restoran. Kyungsoo yang sedikit banyak sudah menebak apa yang terjadi ikut mendecak kesal dan berlari mengikuti Chanyeol. Ia segera mengikuti Chanyeol yang masuk kedalam mobil, membuahkan tatapan heran dari pria itu. Namun ia tidak peduli dan Chanyeol pun tidak peduli. Satu-satunya yang ada di otaknya saat ini adalah Baekhyun akan pergi dan ia harus mencegahnya. Apapun alasannya ia harus mencegah Baekhyun. Gadis itu tidak boleh pergi begitu saja.

Chanyeol memacu mobilnya cepat dan berlari kesetanan memutari bandara begitu sampai disana. Ia memeriksa setiap terminal keberangkatan dengan tujuan Hong Kong. Sepenuhnya lupa terhadap Kyungsoo yang ikut berlari mengikutinya. Namun setelah memutari semua terminal dan memperhatikan semua orang di bandara, ia tidak menemukan Baekhyun dimanapun. Kesal, Chanyeol mengusak rambutnya kasar lalu berjalan gontai keluar bandara.

Ia baru menyadari lagi keberadaan Kyungsoo saat gadis itu menunggunya di pintu keluar. Tatapan tajam Kyungsoo semakin memperparah benang kusut di otaknya. Ia tidak memiliki waktu untuk mengkhawatirkan gadis itu sekarang, otak dan perasaannya terlalu kacau.

"Aku akan mengantarmu pulang" Ia berkata pelan dan masuk kedalam mobil.

Kyungsoo mengikuti, "Aku tidak akan pulang!"

Chanyeol mendesah keras, "Kepalaku pusing, Soo. Aku butuh istirahat."

"Baiklah, aku akan menunggumu beristirahat" Ujar gadis itu keras kepala. Ia tidak akan melepaskan Chanyeol begitu saja untuk yang satu ini. Melihat kekasihnya berlari demi gadis lain sudah sangat menyakiti hatinya, namun ini bukan saatnya untuk merajuk manja. Chanyeol harus menjelaskan sesuatu padanya.

Sayangnya Chanyeol benar-benar tidak peduli dengan Kyungsoo saat ini. Yang ada di pikirannya adalah Baekhyun. Gadis itu tidak mungkin pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun. Baekhyun tidak akan melakukan itu padanya.

Ia mengabaikan Kyungsoo dan memacu mobilnya kembali ke apartment. Ia akan mengurus Kyungsoo nanti, tapi saat ini yang benar-benar ingin dilakukannya adalah menenangkan pikirannya. Ia tidak bisa berpikir dengan jernih.

Kyungsoo hanya menahan sakit hati melihat Chanyeol benar-benar mengabaikannya. Chanyeol diam di sepanjang perjalanan bahkan saat mereka sampai di apartment pria itu. Pria itu masuk ke kamarnya tanpa mengabaikannya sama sekali. Kyungsoo menghela nafas berat dan menjatuhkan tubuhnya ke sofa, merasakan hatinya yang berdenyut.

Chanyeol bukannya tidak menyadari sikap keterlaluannya pada Kyungsoo, namun ia tidak bisa memaksa dirinya untuk membagi perhatian pada Kyungsoo saat ini. Ia masuk ke kamarnya, berniat untuk sedikit beristirahat menenangkan pikirannya. Namun baru beberapa langkah mnuju ranjangnya Chanyeol menyadari sesuatu. Sebuah amplop besar terletak di meja kerjanya dan ia mengurungkan niatnya untuk segera berbaring. Didekatinya meja dan diraihnya amplop besar itu. Tubuhnya menegang mendapati cincin pernikahan Baekhyun terletak di atas amplop, perasaannya langsung meneriakkan peringatan.

Sedikit tergesa dibukanya amplop itu, mengeluarkan semua kertas-kertas yang ada didalamnya dan mulai membaca. Wajahnya benar-benar pucat pasi dan ia merasakan jantungnya seperti berhenti. Perasaannya benar. Surat-surat itu adalah surat perceraian yang dikirimkan Baekhyun untuknya.

Tubuhnya melemas saat itu juga dan ia harus menumpu sebelah tangannya pada meja kerja untuk menahan badannya. Demi Tuhan apa yang dilakukan Baekhyun padanya! Ia tidak tahan lagi!

Chanyeol kembali keluar dari kamar dan berjalan cepat melintasi apartment, membuat Kyungsoo yang duduk di sofa juga bergerak menahannya.

"Kau mau kemana lagi oppa?" Kyungsoo menahan lengan Chanyeol dan bertanya pelan. Ia terlalu lelah dengan drama yang dihadapinya hari ini.

"Mencari Baekhyun. Aku harus berbicara padanya."

Kyungsoo merasakan perih di hatinya sekali lagi sebelum kemarahan menguasainya. Ia ada disini, didepan Chanyeol dan yang ada di pikiran pria itu hanya Baekhyun.

"BAEKHYUN SUDAH PERGI! KAU TIDAK BISA BERTEMU DENGANNYA!"

Chanyeol termangu mendengar teriakan Kyungsoo, "Kau tahu? Apa kau tahu Baekhyun akan pergi?"

"Ya aku tahu. Sekarang berhenti memikirkannya, ia sudah pergi oppa!" Mata Kyungsoo berkaca-kaca namun tidak seperti biasanya, hal itu tidak berpengaruh lagi pada Chanyeol.

"KENAPA KAU TIDAK MEMBERITAHUKU? SEMUA ORANG MENGETAHUINYA KECUALI AKU! SIAL BAEKHYUN!" Giliran Chanyeol yang berteriak keras dan membuat Kyungsoo mengambil satu langkah mundur. Teriakan pria itu terlalu keras, melampiaskan semua yang berkecamuk dalam hatinya.

"Oppa kumohon, biarkan ia pergi" Setetes air mata Kyungsoo akhirnya menetes.

Chanyeol melihat air mata itu dan mengutuki dirinya yang menjadi penyebab jatuhnya air mata gadis itu. Namun diatas semuanya, ia masih tidak bisa mengumpulkan kewarasannya selain memikirkan Baekhyun. Gadis itu satu-satunya yang mendominasi otaknya.

"Maafkan aku, Soo" Sesalnya pahit dan mulai mengambil lagi langkahnya yang sempat berhenti.

"Berhenti, Park Chanyeol! Kau akan kehilanganku jika kau melangkah keluar pintu itu!" Kyungsoo mengancam, menggunakan pertahanan terakhirnya untuk menahan Chanyeol tetap berada disisinya.

Chanyeol berhenti dan berbalik menatap Kyungsoo, "Maafkan aku, Soo" ujarnya lirih lalu kembali berlari keluar dari apartment, meninggalkan Kyungsoo yang sekarang terisak-isak.

Hatinya perih mendengar isakan Kyungsoo, namun hatinya terasa hancur membayangkan Baekhyun pergi. Chanyeol menyadari ia meremehkan perasaannya selama ini. Berkali-kali kali menekankan pada dirinya sendiri bahwa yang dirasakannya pada Baekhyun hanya karena ia sudah terbiasa dengan gadis itu. Ia lupa bahwa 'terbiasa' bisa berarti sangat kuat. Terbiasa berarti kekosongan jika hal yang membuat terbiasa itu menghilang, terbiasa berarti kehilangan setengah dirinya saat hal itu juga menghilang. Dan ia merasakannya, kekosongan yang menyakitkan dan setengah dirinya yang terasa melayang karena Baekhyun meninggalkannya. Ia meremehkan arti gadis itu dan saat ia menyadarinya, ia terlambat.

Aku mencintaimu, Baekhyun. . .

TBC