Dating With The Dark
Oleh: (Santhy Agatha)
Copyright © April 2013 by (Santhy Agatha)
Christopher Agnelli as Kim Jongin
Andrea / Helena Alexander as DO Kyungsoo
Eric as Jung Yonghwa
Sharon as Song Minri (OC)
Romeo Marcuss as Kris Wu
Mr. Demiris as Suho
Richard as Ravi
Disclaimer: I'M NOT OWN THIS STORY!
THIS STORY FROM SANTHY AGATHA's NOVEL "Dating With The Dark"
Tidak ada yang dirubah kecuali nama cast dan beberapa nama tempat/kota/negara
Tidak merubah alur cerita!
.
.
.
DATING WITH THE DARK
(The Dark Partner Series #1)
.
.
Dan secepat dimulainya, secepat itu pula Jongin mengakhiri ciumannya, lelaki itu menjauhkan kepalanya, masih memeluk Kyungsoo, napas keduanya terengah-engah dan mata mereka saling membakar, kemudian, lelaki itu melepaskan Kyungsoo.
"Kita akan pergi dari sini segera," Gumamnya tenang. Kemudian melangkah ke arah pintu, "bersiap-siaplah Kyungsoo." Gumamnya sambil menutup pintu dan menguncinya dari luar.
Kyungsoo ditinggalkan seorang diri di dalam kamar yang terkunci itu dalam kebingungan...
Pergi? Kemana? Akankah Jongin membawanya ke sebuah tempat terpencil, tempat dimana dia bisa dibunuh dan jasadnya tidak akan bisa ditemukan oleh siapapun?
Pikiran itu membuatnya ngeri...
.
.
.
Jongin bersandar di pintu kamarnya yang besar, pintu tempat Kyungsoo terkurung di baliknya. Dia memejamkan matanya, merasakan bibirnya yang membara, dan meredakan gairahnya yang membuncah, merindukan sentuhan itu.
Hanya sebuah ciuman dan Jongin langsung tidak bisa mengendalikan tubuhnya sendiri.
"Kau menyekapnya di dalam kamarmu."
Sebuah suara yang sangat familiar, membuat Jongin menoleh.
Wanita itu berdiri di sana, dengan gaun merah yang menonjolkan lekuk tubuhnya, buah dadanya hampir tumpah di belahannya yang sangat rendah, rambutnya yang baru di highlight kemerahan tergerai menyala dengan indahnya. Penampilan perempuan itu tampak sangat berbeda ketika dia menjalankan tugasnya dan memaksanya tampil sedikit sederhana. Sekarang perempuan itu benar-benar siap, tidak sedang dalam tugas dan berusaha berdandan secantik mungkin, demi lelaki yang dipujanya: Kim Jongin.
Jongin menatap perempuan itu dan mengerutkan kening, dia merasakan hasrat yang mendalam, perempuan itu jelas-jelas berusaha menggoda dan merayunya, Jongin bisa menangkap pandangan memuja yang dalam, tergila-gila. Well...kebanyakan perempuan memang menatapnya seperti itu, tetapi perempuan ini berbeda, dia perempuan yang berbahaya. Jongin harus berhati-hati kepadanya,
"Kenapa kau datang kemari?" Jongin memilih untuk tidak menanggapi perkataan perempuan itu, tentang dia yang menempatkan Kyungsoo di kamarnya.
"Untuk menagih janjimu. Kau bilang kau akan mengajakku makan malam setelah kau berhasil menangkap Kyungsoo."
Jongin mengangkat alisnya, tentu saja dia tidak pernah berjanji semacam itu. Tetapi perempuan ini dengan tidak tahu malu, sengaja mengatakan kebohongan ini di depannya, menantangnya untuk Jongin berpikir untuk menolak mentah-mentah dan meninggalkan perempuan ini. Tetapi kemudian dia menelaah kembali, dia masih membutuhkan perempuan ini dan kesetiaan perempuan ini kepadanya masih diperlukan, lelaki itu lalu mengangkat bahunya dan tersenyum sinis,
"Kurasa kau akan mendapatkan apa yang engkau mau, Minri."
.
.
.
Bab 10
Minri yang sekarang berpenampilan berbeda dan tampak begitu seksi tersenyum puas,
"Dan kurasa aku pantas mendapatkannya, mengingat berbulan-bulan aku menyamar di kantor itu, berusaha menjadi sahabat dekat Kyungsoo."
"Kau memang mengerjakan tugasmu dengan baik." Tentu saja Jongin juga menyadap seluruh pembicaraan Minri dengan Kyungsoo, mengetahui bagaimana Minri berhasil menempatkan dirinya sebagai sahabat baik yang paling dipercaya oleh Kyungsoo, tempat perempuan itu menumpahkan segalanya. Hal itu membantu Jongin untuk mengetahui kondisi hati Kyungsoo dan juga perasaan Kyungsoo yang terdalam.
"Dan kau menempatkan Kyungsoo di kamarmu." Minri menatap tidak suka ke arah pintu itu, mengulang kembali komentarnya karena merasa sangat terganggu dengan kenyataan yang ada di depannya. Kamar Jongin adalah ruang pribadi yang tidak boleh dimasuki siapapun, tetapi Jongin malahan menempatkan Kyungsoo di kamarnya...seharusnya Minri yang berhak memasuki kamar itu! Tidur di atas ranjang Jongin, menghirup aroma khasnya dan menikmati pelukannya!
Jongin menatap perubahan ekspresi Minri dengan tatapan mata menilai, kemudian memutuskan untuk menghempaskan perasaan perempuan itu, sebelum angan Minri mulai melambung dan membahayakan mereka semua.
"Tempatnya memang ada di situ, Minri." Gumamnya penuh arti, membuat wajah Minri pucat pasi.
Tetapi dengan segera perempuan itu menutupi perasaannya, tersenyum manis seolah-olah tidak mendengarkan kalimat Jongin barusan, dia menggayutkan dirinya di lengan Jongin dengan manja dan bergumam menggoda,
"Aku ingin makan malam yang enak malam ini."
.
.
.
Ravi membawa nampan berat itu, makan malam Kyungsoo, dia melihat Kyungsoo masih duduk dengan tegang, di sofa. Dengan tenang pelayan tua itu meletakkan nampan di meja, di depan Kyungsoo,
"Anda sama sekali tidak berbaring dan beristirahat."
Kyungsoo menoleh dan menatap Ravi, pelayan tua ini memang sepertinya ditugaskan untuk mengawasi dan mengurusinya karena selain para pelayan perempuan yang bertugas membersihkan kamar dan pakaiannya, hanya pelayan tua inilah yang selalu membawakan makanan untuknya.
Kyungsoo mengawasi lelaki dengan gurat-gurat yang dalam di wajahnya, pertanda usia dan pengalaman hidupnya, lalu menghela napas panjang. Wajah lelaki ini tampak teduh, mengingatkannya kepada ayahnya, hingga mau tak mau ekspresi Kyungsoo melembut,
"Bagaimana aku bisa beristirahat kalau aku tidak tahu dan terus menerus cemas akan apa yang akan terjadi pada diriku nantinya?"
Ravi berdiri di sana, ragu, dia melirik nampan makanan yang penuh itu dan berpikir bahwa mungkin Kyungsoo juga tidak akan mau memakan makanan yang disediakan untuknya. Nampan-nampan yang kemarin dibawanya keluar, semuanya masih utuh, Kyungsoo hanya minum dan tidak menyentuh makanannya, sepertinya mogok makan adalah salah satu bentuk pemberontakan Kyungsoo sebagai protes atas perlakuan Jongin kepadanya. Kyungsoo harus makan, dia akan membutuhkan segala kekuatan yang bisa diperolehnya nanti.
"Anda harus memakan makanan anda nona Kyungsoo, anda akan membutuhkannya." Ravi meyuarakan pemikirannya, melihat Kyungsoo menghembuskan napas enggan, "Tuan Jongin tidak akan melukai anda selama anda tidak berbuat hal-hal nekat untuk melarikan diri."
"Aku tidak akan bisa melarikan diri dalam penjagaan seketat itu." Kyungsoo mencibirkan bibirnya, "Kenapa tuanmu menyekapku seperti ini? Jikalau memang aku adalah kegagalan dalam reputasi membunuhnya, kenapa dia tidak langsung membunuhku saja?"
Ravi tercenung mendengar pertanyaan Kyungsoo itu. Oh dia sungguh ingin menjawab. Jawaban itu sudah terkumpul di ujung bibirnya, menunggu untuk dimuntahkan. Tetapi tuan Jongin sudah memaksanya untuk bersumpah agar menutup mulutnya sampai waktunya tiba, dan Ravi tidak berani melanggar sumpahnya.
"Saya tidak bisa mengatakan apapun, yang pasti saya yakin anda akan baik-baik saja. Tuan Jongin akan memastikan anda baik-baik saja." Setelah mengucapkan kata-kata singkat itu, Ravi sedikit membungkukkan tubuhnya untuk berpamitan dan melangkah pergi.
.
.
.
Jongin mengajak Minri makan malam di sebuah restoran di pinggiran kota, ini merupakan restoran langganan Jongin dan merupakan pilihan yang tepat untuk mengajak Minri karena tempatnya yang cukup umum, sedikit ramai dan tidak ekslusif seperti ketika dia mengajak Kyungsoo makan malam dulu.
Minri duduk dengan gaun merahnya yang seksi, menikmati pandangan dan lirikan kagum dari beberapa orang yang melewati mereka, dia melirik ke arah Jongin dan merasa sebal karena lelaki itu memasang ekspresi datar, bahkan sama sekali tidak ada pujian dari Jongin tentang penampilan mempesonanya itu,
"Jadi apa rencanamu nanti?" Minri menyesap minuman yang dihidangkan pelayan sebagai pendamping makanan pembuka mereka. Dia menatap Jongin tajam mencoba melihat sepercik emosi, ses edikit apapun itu yang bisa menggambarkan perasaan l elaki itu, tetapi sepertinya percuma, Jongin tetap s aja tidak terbaca.
"Aku akan membawa Kyungsoo ke tempat yang tidak bisa terlacak."
"Kemana?" Minri sangat ingin tahu. Dia ingin ikut kemanapun Jongin akan membawa Kyungsoo, dia tidak boleh membiarkan sampai lelaki itu lepas dari genggamannya.
Tatapan Jongin menajam,
"Kau tidak perlu tahu."
"Tetapi aku selalu ada dari awal rencanamu, Jongin!" suara Minri meninggi, "Kau harusnya bisa mempercayaiku."
Jongin menatap Minri dan tercenung.
Mempercayai Minri? Meskipun memasang tampang datar seolah-olah tidak tahu, Jongin tahu bahwa Minri terobsesi kepadanya. Perempuan itu sudah tergila-gila kepadanya sejak lama, dihari ketika kakak Minri satu-satunya, keluarganya, meninggal karena sakit. Kakak Minri adalah salah satu pegawai dan sahabat Jongin ketika Minri dan kakaknya masih tinggal di Italia, karena itulah ketika kakak Minri meninggal dan Minri sebatang kara di dunia ini. Jongin menawarkan diri untuk menanggung Minri, menjadikannya pegawainya dan menganggap perempuan itu sebagai adiknya.
Sayangnya Minri memiliki kesimpulan berbeda, dia mengira Jongin begitu karena ada hati dengannya, perempuan itu lalu menumbuhkan khayalan cinta yang tinggi kepada Jongin dan berusaha menarik perhatian Jongin.
Yang sudah pasti percuma. Karena pada waktu itu, Jongin masih setia kepada perempuan yang pernah melingkarkan cincin emas di jari manisnya, perempuan yang dulu pernah menjadi isterinya. Isteri yang sangat dicintainya. Minri seharusnya sadar bahwa bagaimanapun dia berusaha, Jongin tidak akan pernah mengalihkan hati kepadanya.
Kemudian karena membutuhkan bantuan, Jongin terpaksa menggunakan Minri untuk mendekati Kyungsoo. Dengan bantuan kekuasaannya, Jongin yang mempunyai koneksi di bagian personalia, memasukkan Minri lebih dulu ke perusahaan itu, kemudian mengatur supaya Kyungsoo juga masuk ke perusahaan itu. Minri berperan sangat bagus menjadi sahabat Kyungsoo dan Kyungsoo sama sekali tidak curiga.
Meskipun sebenarnya Jongin sedikit mencemaskan keselamatan Kyungsoo ketika berada di dekat Minri, mengingat betapa terobsesinya Minri kepada dirinya.
Tetapi sekarang Jongin memutuskan bahwa mungkin tidak membutuhkan Minri lagi, keberadaannya apalagi bersama obsesinya mulai terasa mengganggu rencana Jongin. Siapa yang tahu apa yang akan dilakukan oleh Minri kepada Kyungsoo nantinya?
"Jadi kau akan membawa Kyungsoo kemana?" Minri tidak mau menyerah, menatap Jongin dengan tatapan mata penuh tekat. Dia akan mencari tahu bagaimanapun caranya, dan dia akan berusaha agar Jongin bersedia mengikutkannya dalam rencananya. Enak saja Kyungsoo akan pergi berduaan dengan Jongin tanpanya!
"Aku tidak bisa mengatakan padamu." Tiba-tiba Jongin menyipitkan mata, menatap Minri dengan tatapan mata mengancam, "Mungkin lebih baik kau tidak bertanya-tanya lagi."
Minri langsung tertegun. Hatinya terasa sakit. Kenapa Jongin bersikap begitu kasar kepadanya?
Apakah karena Kyungsoo?
Minri menggertakkan giginya, selama ini dia mengikuti rencana Jongin, mendekati Kyungsoo, berpura-pura menjadi sahabatnya, mengorek-ngorek informasi sekecil apapun dan memberikannya kepada Jongin, dan sekarang dia akan dibuang begitu saja?
Minri tidak akan membiarkan itu terjadi. Kalau dia tidak bisa memiliki Jongin. Maka tidak akan ada orang lain yang bisa!
.
.
.
"Kau akan membawanya besok?" Kris duduk di rumah Jongin dan mengerutkan keningnya,"Kenapa begitu cepat? Bukankah rencananya masih minggu depan?"
"Aku punya firasat buruk." Jongin teringat pada Minri dan instingnya mengatakan bahwa dia harus segera memindahkan Kyungsoo, dia sangat ahli membaca ekspresi wajah seseorang, dan instingnya mengatakan Minri merencanakan sesuatu yang buruk. Ditatapnya Kris dengan tatapan mata menyesal, "Aku menyusupkan orangku ke perusahaanmu."
Kris tampak tidak terkejut, "Hmm.. setelah Yonghwa agen pemerintah juga menyusup ke sana, aku tidak terkejut kalau kau menempatkan orangmu di sana. Kau sengaja memilih perusahaanku bukan sebagai tempat Kyungsoo bekerja?"
Jongin menganggukkan kepalanya, "Memang. Aku sengaja mengatur semuanya."
Kris terkekeh, "Padahal akan lebih mudah kalau kau menghubungiku duluan dan menceritakan semuanya, aku bisa mengatur semuanya untukmu."
"Tapi kau nanti akan dicurigai."
Kris menganggukkan kepalanya, sangat mengerti ak an pertimbangan Jongin, "Kalau kau akan berangk at malam ini, aku akan meminta jet pribadi keluarga stand by di bandara nanti malam, mereka akan mengantarmu ke bandara di pulau taipa, bandara terdekat dari pulau, kemudian kau bisa melanjutkan perjalanan ke pulau dengan speed boat."
Jongin mengerutkan keningnya, "Aku akan membawa beberapa pengawal dan pegawaiku ke sana."
"Oke, aku akan menyuruh mereka menyiapkan beberapa speed boad untuk mengangkut semuanya, kalau masalah pelayan, kau tidak perlu cemas. Rumah Paman Rafael penuh dengan pelayan yang setia."
"Apakah mereka bisa tutup mulut?" Jongin tidak suka jika ada pelayan yang bergosip. Gosip bisa membahayakan untuk seseorang yang berada di posisinya.
"Dijamin. Sebagian besar dari mereka adalah penduduk asli pulau itu, dan mereka menjadi pelayan turun temurun, beberapa di antaranya, ayah atau ibunya pernah menjadi pelayan di sana dan sudah pensiun, beberapa keluarganya merupakan pekerja perkebunan yang juga di miliki Rafael Alexander di sana. Mereka sangat setia kepada paman Rafael, dan karena kau tinggal di sana sebagai tamu dari Rafael Alexander, mereka akan setia kepadamu juga."
"Bagus. Terima kasih Kris, suatu saat aku akan membalas bantuanmu ini."
Kris menyandarkan tubuhnya di sofa dan terkekeh, "Kuharap sekarang kiita sudah impas Jongin." Jawabnya dalam canda.
.
.
.
Yonghwa dan teamnya sudah putus asa, mereka tidak bisa menemukan jejak Kyungsoo di manapun, "Sang Pembunuh" tampaknya sangat licin dan ahli menyembunyikan diri sehingga mereka tidak bisa melacak keberadaannya. Dalam ruangan itu, Yonghwa termenung dan meremas rambutnya frustrasi.
Alam bawah sadarnya bahkan sudah berpikir bahwa Kyungsoo sudah mati...dibunuh oleh "Sang Pembunuh" ya ng tak punya hati.
Marah atas pemikirannya itu, Yonghwa bangkit berdiri, meraih jaketnya dan mengenakannya, lalu melangkah ke luar. Dia butuh kopi, kalau tidak dia mungkin akan mati karena frustrasi. Dengan langkah panjang-panjang dia keluar dan melalui trotoar. Angin dingin langsung menerpa wajahnya, membawa uap air. Yonghwa mendongakkan kepalanya ke atas dan melihat langit yang gelap dan mendung.
Sebentar lagi hujan. Benaknya berkelana sambil melangkah memasuki cafe yang menjadi langganannya, Cafe itu terletak di ujung jalan yang banyak dilalui orang sehingga cukup ramai, meskipun sedikit ramai dan sesak, tetapi cafe itu menyediakan kopi yang sangat enak, aromanya harum dan kental dengan cream nabati yang sangat cocok ketika dipadukan.
Yonghwa memasuki cafe itu dan memilih tempat dudukn di ujung, dia memesan kopi yang selalu dipesannya, kopi robusta yang pekat, dengan cream tanpa gula. Setelah itu dia duduk dan menunggu.
"Hai Yonghwa."
Yonghwa langsung mendongakkan kepalanya, dan menatap sosok yang tiba-tiba saja duduk di depannya.
Dia mengangkat alisnya, "Hai Minri." Semula Yonghwa hampir tidak mengenali Minri karena potongan rambutnya baru dan di highlight merah, Minri tampak...berbeda. Dia berdandan dan berpenampilan seksi sangat berbeda dengan penampilannya di tempat kerja dulu.
"Tak kusangka akan menemukanmu di sini." Minri tersenyum manis, "Apakah kau tahu bahwa Kyungsoo menghilang dari kantor? Perusahaan bilang dia tugas ke luar kota, tetapi aku meragukannya, ponselnya tidak bisa dihubungi."
Perusahaan bilang Kyungsoo ke luar kota? Yonghwa langsung waspada, bukankah sudah jelas Kyungsoo hilang karena diculik oleh "Sang Pembunuh"? Kenapa perusahaan bisa menutup-nutupi hilangnya Kyungsoo?
Apakah ada orang dalam di perusahaan yang merupakan kaki tangan "Sang Pembunuh"?
"Mungkin saja Kyungsoo sedang bersenang-senang dengan salah satu pengawal Mr. Suho yang tampan itu."
"Apa?" Kali ini Yonghwa benar-benar fokus sepenuhnya pada Minri.
"Kau tidak tahu ya?" Minri masih tetap tersenyum manis, "Setelah kau pergi, Kyungsoo dekat dengan seorang lelaki yang ditemuinya tanpa sengaja pada suatu malam, dan sungguh suatu kebetulan lelaki itu adalah pengawal Mr. Suho, klien terpenting perusahaan kita, mereka bertemu lagi di salah satu meeting perusahaan, dan dari yang aku dengar mereka menjadi dekat." Minri mengedipkan matanya, "Menurutku Kyungsoo sedang menghabiskan waktu bersama kekasih barunya di sebuah tempat eksotis, dan karena lelaki itu pengawal Mr. Suho, bisa saja Mr. Suho memberikan bantuan pengaruhnya sehingga bisa membuat seolah-olah Kyungsoo sedang tugas keluar kota." Minri memutar bola matanya, "Abaikan kata-kataku, mungkin memang imaginasiku yang berlebihan...aku mungkin terlalu cemas karena Kyungsoo sama sekali tidak bisa dihubungi, aku ke rumahnya beberapa kali dan dia tidak ada." Wajah Minri tampak sedih.
Yonghwa menghela napas panjang, tiba-tiba saja ingin segera pergi dari tempat itu dan kembali ke kantornya, lalu menghubungi segala sesuatu yang berhubungan dengan Mr. Suho, Minri tanpa sadar mungkin telah memberikan petunjuk penting bagi Yonghwa, mungkin saja hal itu layak diselidiki, mungkin saja "Sang Pembunuh" ada hubungannya dengan Mr. Suho, dan mungkin saja lelaki misterius yang dikatakan sebagai pengawal Mr. Suho adalah "Sang Pembunuh" yang sebenarnya.
Dengan gelisah, Yonghwa menyesap kopinya, lalu setengah membanting gelasnya ke meja, "Maafkan aku Minri, aku harus pergi."
Dan kemudian tanpa menunggu jawaban Minri, Yonghwa meletakkan uang pembayaran di mejanya lalu bergegas pergi.
Sementara itu Minri menatap kepergian Yonghwa dengan senyum licik dikulum di bibirnya yang berlapiskan lipstick merah menyala.
Sekarang tinggal menunggu saja. Minri berharap Yonghwa segera menemukan Kyungsoo, sehingga perempuan itu tidak bisa dekat-dekat lagi dengan Jongin nya. Dia bisa saja memberitahu Yonghwa langsung, tetapi itu sama saja membuka penyamarannya sebagai kaki tangan Jongin, dan juga bisa membuat Jongin membencinya karena membuka mulut. Ini adalah cara terbaik. Minri tersenyum membayangkan kesempatan besar di depannya ketika Kyungsoo sudah terpisah dari Jongin.
.
.
...
To Be Continue~
.
.
Annyeong~ Taenoona imnida...jangan panggil author or admin.. just call me Taenoo ^^ karena aku bukan seorang author dan bukan seorang penulis. Hanya seseorang yg ingin berbagi sesuatu yg pernah dibaca /julurin lidah :p/
Aku ga tau novel ini ada di toko buku atau ngga -_- aku dapatnya dari wattpad dan facebooknya kak Santhy Agatha..coba aja cari di toko buku kalo novelnya ada, kalian bisa beli dan baca novel super keren ini :)
caranessso: kamu...makasih banyak udah review setiap chapter ff remake ini. hayo...blm review di part 8 :3
Kyung1225: aku gabisa fast update! gimana? /ikh, nyebelin :p/
Rahmah736: ngga lama kok, seminggu sekali biar kek macem drakor
Uchiha annie: duh! kamu ternyata sama ydg nya sama aku/eh apa?/
nnsoynnlooin: hey kamu! aku panggil Saeng gpp khan? krn aku lebih/ehem agak mendekati tua dr kamu/katakanlah aku seline sama Jongin & Sehun/emang bener :3 pffffttt/ kamu! selalu bikin rame kalo review! aha! aku suka kamu/gak ah..aku suka Jongin :p/ maksi yaaaa...udah repot-repot kasi review sepanjang jalan kenangan wkwk
kaisoodyo: gak..aku gamau fast, aku maunya slow!/ikh, Taenoo nyebelin :p/
NopwillineKaiSoo: kamu need more apah? disni udah ketebak khan siapa cewek yg cinta sama Jongin? /jelas aku lah haha -_-/
veronicayosiputri9: sudah..and i wait ur review so much too /lah/
XikaNish: Kai tahan apah? tahan banting? :D kamu ga sabar adegan apanyah? yah! ketahuan kamu demen bgt ydgan /haha -_-/
hnana: kembali kasih ^^ kamu review apa aja boleh..asalkan dg kata sopan. oke? :)
makasi semuanya /ketcjup Jongin/
#HappyKyungsooDay ^^ yeeeeaaayyy..bebebnya Jongin/? *gila gue* ulang tahun :D tambah tua niye :3/plak/ kena tamparan bibir Jongin kkk
Okedeh... makasih buat kalian semuaaaaa /ketcjup basaaahhh/yg dgn senang hati dan tanpa paksaan kasih review, follow, favorite ff remake ini :)
